Di bawah langit senja yang mulai memerah, museum seni yang baru diresmikan terasa seperti mimpi yang memudar, dengan kerumunan pejabat dan tamu kerajaan yang mulai berpencar.
Udara musim semi masih hangat, membawa aroma bunga sakura yang mekar di taman sekitar, tapi hati Putri Daniella sudah gelisah, campuran antara kelelahan acara formal dan kegembiraan pesan dari Pangeran Felix.
Dia melangkah keluar dari gedung museum, rok lipitnya menari lembut ditiup angin, heels hitamnya mengetuk lantai marmer dengan irama tegas.
Erik sudah menunggu di samping Rolls-Royce beige, pintu belakang terbuka, wajahnya tetap tenang meski tahu hari pertama kerjanya ini penuh ujian.
"Kita pulang lewat katedral tadi ya," perintah Daniella saat masuk ke mobil, suaranya penuh otoritas tapi ada nada antusias yang tak bisa disembunyikan.
"Aku mau lihat mural di dinding sepanjang lorong itu."
Matanya berbinar mengingat lukisan-lukisan kuno yang tadi sekilas dilihatnya, seperti portal ke dunia dongeng yang jarang dia sentuh di balik tembok istana.
Erik menutup pintu dengan hati-hati, lalu duduk di kursi pengemudi. Melalui kaca spion, dia melihat wajah Daniella yang masih jutek tapi penuh rasa ingin tahu.
"Maaf, Tuan Putri," jawabnya pelan, suaranya lembut tapi tegas, seperti angin yang tak ingin menyakiti.
"Kita gak bisa pulang melewati jalan itu lagi. Khusus untuk berangkat saja. Karena nanti akan tembus ke arah jalan yang salah."
Putri Daniella mengerutkan dahi, matanya menyipit penuh kemarahan yang mendadak membara.
"Aku perintahkan kamu lewat situ, ya harus nurut!" geramnya, suaranya naik oktav, membuat udara di dalam mobil terasa lebih pengap.
Hatinya panas, bagaimana bisa sopir baru ini berani menentang? Dia terbiasa dengan ketaatan mutlak, bukan perdebatan.
"Tuan Putri, saya ini harus mengikuti aturan," jelas Erik, tangannya memegang kemudi dengan mantap, tapi hatinya mulai berdegup lebih kencang.
Dia tahu resikonya, tapi pelatihan dari Pangeran Gustav mengajarkannya untuk prioritaskan keselamatan dan aturan.
"Itu jalan darurat. Kita kan bisa pulang melewati jalan biasa, dengan waktu normal. Bukan sesuatu yang mendesak, tidak memburu waktu."
"Eh, berani kamu menentang perintahku?" bentak Daniella, wajahnya memerah seperti daun musim gugur yang jatuh.
"Kamu itu cuma sopir, pekerja rendahan, yang harus nurutin semua yang diperintahkan!"
Kata-katanya seperti cambuk, penuh rasa superioritas yang dia pelihara sejak kecil, tapi di balik itu ada sedikit ketakutan, takut kehilangan kendali atas dunia kecilnya.
"Maaf, Tuan Putri, tapi prosedur..." Erik belum selesai bicara, suaranya tetap tenang, tapi Daniella sudah menyela dengan tajam.
"Masa bodoh dengan prosedur! Hentikan mobil sekarang, aku mau turun saja!" teriaknya, melempar sarung tangan hitamnya ke arah Erik, mengenai bahu pria itu dengan lembut tapi penuh kemarahan.
Sarung tangan itu jatuh ke lantai mobil, simbol dari amarahnya yang meluap.
Erik menghela napas pelan, hatinya terasa berat, dia tak ingin memulai hari pertama dengan konflik, tapi dia juga tak bisa melanggar aturan yang bisa membahayakan mereka.
Dengan hati-hati, dia menepi di pinggir jalan yang ramai dengan lalu lintas sore hari, suara klakson kendaraan lain seperti latar belakang kekacauan hati mereka.
"Aku turun di sini atau kamu antar aku pulang lewat jalan tadi. Kamu pilih mana?" tantang Daniella, matanya menyala penuh tekad.
Erik menatapnya melalui kaca spion, melihat campuran antara kemarahan dan kerapuhan di mata gadis itu. Akhirnya, dengan suara yang lelah tapi patuh, dia mengalah.
"Baik, Tuan Putri, kita pulang lewat jalan tadi."
Hatinya berat, ini pelanggaran pertama, tapi dia tak ingin gadis itu benar-benar turun dan membahayakan diri.
"Heran, baru kali ini aku berdebat panjang sama sopir yang gak tahu diri, gak tahu posisinya siapa, membantah saja kerjanya," gerutu Daniella, suaranya masih meradang saat mobil kembali melaju.
"Benar-benar bikin dongkol. Awas aja nanti aku akan pertimbangkan posisimu sebagai sopirku. Tau!"
Dia menyandar di jok, tangannya memegang clutch dengan erat, hati campur antara kesal dan sedikit kemenangan kecil.
Erik hanya diam, fokus pada jalan, tapi pikirannya berputar, dia tahu ini ujian, dan dia harus sabar.
Mobil berhenti di gerbang rahasia di samping katedral tua, dinding batu kuno yang basah oleh hujan pagi masih mengkilap di bawah sinar senja.
Erik turun, membuka gembok dengan kunci khusus, angin sejuk menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan sejarah.
Setelah gerbang terbuka, dia kembali masuk dan melajukan mobil ke lorong sempit, mengunci gerbang dari dalam.
Cahaya redup dari lampu mobil menerangi mural-mural indah di dinding, kupu-kupu yang menari, bunga dahlia mekar, putri duyung yang misterius, dan taman bunga dengan warna-warni estetik yang seperti lukisan hidup.
Putri Daniella tiba-tiba berseru, "Berhenti di tengah jalan ini!" Matanya berbinar melihat mural itu lebih dekat, hati yang tadi panas mulai meleleh oleh keindahan.
Erik menepi, dan Daniella keluar, heelsnya mengetuk lantai lorong yang lembab. Dia mengambil ponsel, memotret gambar tembok itu, lalu selfie dengan senyum lebar yang jarang dia tunjukkan.
"Ini bagus kalau aku posting ke Instagramku," katanya pada diri sendiri, jarinya gesit mengedit foto.
Erik berdiri bersandar di mobil, mengawasinya dengan mata penuh perhatian, khawatir tapi juga kagum pada semangat gadis itu.
"Maaf, Tuan Putri," katanya pelan, mendekat sedikit. "Tolong jangan memposting lorong ini ke medsos. Ini lorong rahasia. Saya mohon kali ini, tolong saya. Jangan lakukan itu."
Daniella berbalik, wajahnya kembali memerah.
"Kamu gak berhak ngatur-ngatur aku! Aku lakukan apapun yang kusuka. Ngerti!" katanya berang, suaranya bergema di lorong sempit, membuat suasana terasa lebih tegang.
"Putri tahu ini tempat rahasia, harus tetap dijaga kerahasiaannya," jelas Erik dengan suara lembut, mencoba memberi pemahaman tanpa memaksa.
"Memposting ini ke Instagram akan membuat publik tahu. Bayangkan apa yang akan terjadi nantinya."
Hatinyaberdegup kencang, dia tak ingin kehilangan kepercayaan Pangeran Gustav, tapi lebih dari itu, dia khawatir keselamatan Putri Daniella.
Gadis itu diam sejenak, memandang foto di ponselnya, hati kecilnya mengakui kebenaran kata-kata itu. Akhirnya, dengan menghela napas kesal, dia menghapus postingan yang hampir dikirim.
"Baiklah," gumamnya dalam hati, menyimpan foto sebagai koleksi pribadi. Tapi semangatnya belum pudar; dia melihat undakan tangga di pinggir tembok, setinggi lima meter, yang menuju pembatas dinding.
"Aku mau naik ke sana, lihat apa di baliknya!"
Erik mendekat, suaranya penuh kekhawatiran.
"Tuan Putri, maaf. Saya mohon untuk tidak naik ke sana. Itu tangganya basah dan licin abis diguyur hujan tadi pagi. Sudah cukup untuk kali ini. Kita pulang saja."
Dia memegang tangan Daniella pelan, tapi gadis itu menepisnya dengan kasar, matanya menyala marah.
"Buka jasmu, bersihkan sisa air di tangga itu! Aku mau naik ke atas," perintahnya sewot, suaranya tinggi seperti perintah ratu kecil.
"Tapi, Tuan Putri..." Erik mencoba protes, hatinya berat melihat gadis itu nekat.
"Gak ada tapi-tapian! Segera laksanakan. Lap anak tangga itu sampai kering. Sekarang!" bentak Daniella, suaranya bergema lagi.
Erik menarik napas panjang, hatinya bergejolak antara kewajiban dan kekhawatiran.
Dia membuka jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang menempel di tubuh atletisnya, lalu mengelap tangga basah itu dengan teliti.
Setelah selesai, dia berdiri di atas, mengulurkan tangan.
"Turun kamu, aku bisa naik sendiri. Gak perlu dibantu," ketus Daniella.
"Tuan Putri, ini lumayan tinggi. Saya khawatir, jadi harus membantu untuk naik ke sana," katanya, suaranya penuh kepedulian tulus.
"Gak perlu, aku bisa sendiri! Cepat turun," bentaknya lagi.
Erik terpaksa turun, tapi masih was-was.
"Maaf, Tuan Putri, sebaiknya lepas high heelsnya dulu."
"Biarin saja, aku sudah terbiasa naik tangga pakai heels. Gak usah ngatur-ngatur. Minggir kamu!" katanya, mendorong Erik menjauh.
Putri Daniella naik pelan, langkahnya percaya diri, sampai ke atas.
Dari sana, dia melihat perumahan dan bangunan di balik dinding, angin sejuk menyapu rambutnya, membuatnya tersenyum gembira.
Dia memotret beberapa foto, hati berbunga seperti gadis biasa yang bebas. Erik di bawah terus mengawasi, jantungnya berdegup kencang, siap menangkap jika sesuatu terjadi.
Setelah puas, Putri Daniella turun perlahan. Erik mendekat, naik tangga untuk memegang tangannya.
"Gak perlu bantuin aku turun dan pegangin tanganku. Aku bisa sendiri. Minggir gak?" katanya kesal.
Erik turun lagi, tapi saat Daniella di anak tangga ketiga terakhir, kakinya terpeleset di permukaan licin.
"Aaa!" jeritnya, tubuhnya hampir jatuh. Erik sigap melompat, menangkapnya dalam pelukan kuatnya, tangannya merangkul pinggang gadis itu, menahan agar tak terjatuh ke tanah keras.
Jantung Erik berdegup kencang seperti genderang perang, nafasnya tersengal, aroma parfum Putri Daniella yang manis menyentuh hidungnya. Sesaat, mata mereka bertatapan, mata hijau Daniella penuh kejutan dan malu, mata Erik penuh kekhawatiran dan sesuatu yang lebih dalam.
"Lepasin! Aku bisa jalan sendiri," teriak Daniella, mendorong tubuh Erik dengan kasar, wajahnya memerah karena malu dan marah.
Tapi saat melangkah, kakinya nyeri hebat.
"Aduh, sakit!" jeritnya, hampir jatuh lagi.
Erik langsung merangkul pundaknya, memapahnya pelan ke mobil.
"Maaf, Tuan Putri," katanya, suaranya lembut penuh penyesalan. Dia membuka pintu belakang, membiarkan Daniella duduk menghadap keluar, kakinya di luar.
Dari kotak P3K di dashboard, Erik jongkok di depannya, mengangkat kaki kiri gadis itu pelan, melepas heelsnya, dan meletakkan di lutut pahanya.
Dia mengoles olive oil dengan lembut, jarinya menyentuh kulit halus Daniella, hati berdegup antara tugas dan perasaan aneh yang mulai tumbuh.
Daniella tak protes, membiarkan saja, meski hatinya campur antara sakit dan malu.
"Sakit banget tau, kakiku pasti terkilir. Ini semua gara-gara kamu. Dasar tolol, gak becus," katanya meringis, suaranya bergetar menahan nyeri.
"Maaf, Tuan Putri, bisa ditahan sedikit? Kakinya memang keseleo," kata Erik, suaranya penuh empati.
"Saya pernah belajar medis darurat serta terapi tulang, jadi tahu bagaimana mengatasi kondisi ini. Putri tak perlu khawatir. Tahan sedikit, agak sakit memang."
Dia memijat pergelangan kaki itu, menekan otot dengan ibu jari, membuat gerakan memutar kecil.
"Auu... aduh... sakit bodoh! Kamu mau nyakitin aku ya?" jerit Daniella, menahan sakit, kukunya mencengkram bahu Erik kuat-kuat, meninggalkan goresan merah di kulit pria itu.
Setelah selesai, Daniella menarik kakinya, menggeser tubuh ke jok. Erik menutup pintu, duduk di belakang kemudi, dan melajukan mobil kembali ke istana.
Putri Daniella masih merintih sepanjang jalan, mengeluh tanpa henti.
"Nanti setelah sampai di istana, Tuan Putri istirahat saja. Saya jamin, besok pagi sudah tidak sakit lagi. Pasti sembuh," sebut Erik, mencoba menenangkan.
"Seenaknya aja kamu ngomong gitu! Kakiku yang sakit. Kalau sampai minggu depan belum sembuh, bukan hanya aku pecat kamu jadi sopir, tapi kamu siap-siap mendekam di penjara karena telah membuatku terluka. Paham!" teriak Daniella, suaranya tinggi, hati panik memikirkan pertemuan dengan Pangeran Felix.
Erik melirik melalui kaca dashboard, matanya penuh kekhawatiran tulus.
"Gak usah lihat-lihat kamu! Dengar, ini hari pertamamu kerja, sekaligus hari terakhir. Aku pastikan kamu dipecat setelah ini, dan keluar dari istana. Aku gak mau lihat wajah kamu lagi," kesalnya, suaranya bergetar antara marah dan sakit.
Erik diam saja, hatinya berat tapi sabar.
"Bisa-bisanya Paman bilang sopir profesional, lulusan terbaik. Tapi baru tiga jam kerja sudah membuat aku celaka seperti ini. Tak bertanggung jawab banget," gerutu Daniella lagi.
Mereka tiba di istana saat matahari hampir terbenam, cahaya oranye menyinari gerbang megah. Daniella turun tanpa heels, nyeker, dipapah Erik yang hati-hati.
Beberapa staf perempuan berlari tergopoh-gopoh, mengambil alih, membawa Daniella ke kamarnya.
"Dengar semuanya, jangan sampai ada berita tersebar kakiku keseleo. Awas aja kalau sampai informasi ini keluar istana!" ancamnya, suaranya tegas meski wajahnya pucat.
Di kamarnya, Daniella berbaring, kakinya masih nyeri, tapi dia tolak tim medis. Dia langsung hubungi Pangeran Gustav, meminta pemecatan Erik.
Sementara itu, Erik kembali ke asrama staf di sayap istana, ruangan sederhana dengan aroma kayu dan mesin mobil.
Dia melepas kemeja dan dasi, mandi sore dengan air hangat yang tak bisa hilangkan lelah hatinya. Berdiri di depan cermin, tubuh tingginya 188 cm yang atletis terpantul, dia melihat goresan merah di bahu, bekas kuku Daniella.
Erik meraba goresan itu, lalu tersenyum penuh arti, mata teduhnya memancarkan ketenangan aneh.
Entah mengapa, meski terancam pemecatan atau penjara, hatinya tak gundah. Mungkin karena sentuhan itu, jeritan itu, membuatnya merasa lebih dekat dengan gadis keras kepala yang mulai menyentuh hatinya.
Di luar jendela, malam mulai turun, salju tipis mulai jatuh seperti harapan yang rapuh, tapi Erik tetap santai, siap menghadapi badai yang datang.
*******
Pagi itu, seusai dia istirahat dan tidur, setelah kakinya keseleo, Putri Daniella menggeliat di atas tempat tidurnya.
Waktu menunjukkan pukul 06.15 pagi. Meskipun sudah terbangun pagi sekali, tapi dia tidak berencana ke kampus. Karena dia pikir kakinya masih sakit.
Dia pun ogah-ogahan beranjak dari tempat tidurnya. Lulla menelpon menanyakan kabarnya, karena sejak kemarin pagi mereka belum sempat telponan atau bertukar kabar lewat pesan.
"Princess Ella, kamu gak kuliah hari ini?" tanya Lulla. "Gak, lagi sakit," jawabnya.
"Sakit! Sakit apa? Sejak kapan? Kok gak ngabarin?" tanya sahabatnya sejak sejak kecil itu.
"Kakiku sakit, gara-gara si sopir baru," sebutnya.
"Sopir baru? Princess punya sopir baru? Sejak kapan? Kok gak cerita pada kita?" katanya.
"Yah sejak kemarin. Tapi aku sudah suruh Paman Gustav pecat dia," sebut Putri Daniella.
"Aku ke sana ya, temani kamu. Tapi gak sama Julia. Dia ada tugas praktek hari ini," sebut Lulla.
"Ok deh, aku tunggu," katanya.
Putri Daniella lalu menarik selimutnya, bergeser pelan-pelan, duduk di tepi tempat tidur, menurunkan kakinya ke lantai, hendak berdiri.
Tapi, begitu dia berdiri, ajaib, kakinya tidak sakit lagi. Dia baik-baik saja saat melangkah dan berjalan.
"Hah!!, kok gak gak sakit lagi. Sembuh secepat ini?" teriaknya gak percaya. Dia bahkan bisa lompat serta berlarian kecil.
Dia lalu mandi, memakai dress motif kembang tanpa lengan, sarapan pagi, lalu duduk santai membaca majalah mode terbaru.
"Si sopir itu benar ya, pas bangun tidur pagi ini, semua rasa nyeri dan sakit karena keseleo kemarin sembuh," batinnya.
Tapi meski begitu, dia tetap gak akan biarin pria itu tetap jadi sopirnya. Tak berapa lama kemudian, Lulla datang.
"Mana kaki yang sakit?Apa sudah di rontsen. Gak ada yang retat atau patah kan?" tanya Lulla khawatir," tanya Lulla.
"Kaki kiri ini keseleo terpeleset dari tangga. Kemarin dokter bilang gak ada yang retak atau patah. Lagian Sudah sembuh juga kok," katanya, nyengir.
"Secepat itu? Baguslah berarti gak parah dan semoga baik-baik saja," harap Lulla.
"Emang kenapa ganti sopir? Mister Jannick udah gak kerja lagi, berhenti atau di rotasi?" tanya Lulla.
"Paman merotasinya, jadi sopir Bibi Maria," sebut Putri Daniella.
"Kalau sudah sembuh, ayo kita jalan-jalan ke aquarium, makan di restoran atau nonton pertandingan hoki," ajak Lulla.
"Ayok, mending kita ke jalan-jalan aja," katanya setuju ide itu.
Mereka berdua ke garasi mobil, bersiap ke luar istana. Namun, putri Daniella kaget, si sopir itu masih berdiri di mobil Dia lalu memprotes hal tersebut kepada Pangeran Gustav.
"Paman! Kenapa dia masih di sini, tetap jadi sopirku juga. Padahal aku sudah minta paman memberhentikan dia," mempertanyakan alasan paman belum memecat sopir itu.
"Deedee Sayang, paman mau tanya, apa dia yang minta kamu untuk lewati lorong rahasia itu? Apakah dia yang nyuruh kamu naik tangga? Apa dia gak nawaun kamu dan mau bantuin kamu saat turun tangga?? Apakah dia yang membiarkan kamu terpeleset sehingga kakimu keseleo. Semua itu salahmu sendiri kan? Bukan salah dia," bela pamannya.
"Dia yang lapor itu ke paman. Dia pasti membela dirinya sendiri kan, bilang ke paman semua itu salahku, gitukan?" kata Putri Daniella sebal.
"Dia gak membela dirinya sendiri, dia justru mengakui dia yang salah gak bisa jaga kamu. Dia minta maaf dan pasrah kalau akhirnya di pecat," ungkap pamannya.
"Iya emang dia yang salah kok," katanya Putri Daniella tetap pada pendiriannya.
"Saat kakimu keseleo, dia bantu memijat kakimu. Apa kamu lama sembuh sampai berhari-hari? Kamu sudah bisa jalan normal, tidak sakit lagi. Sudah sembuh kan," sebut Paman Gustav.
"Pokoknya aku gak suka dia tetap jadi sopirku. Please pecat dia!" katanya sembari memohon.
"Paman tidak akan memecatnya. Jadi sesuai kesepakatan kita. Biarkan dia kerja selama seminggu sebagai ujicoba," katanya.
Putri Daniella tidak bisa berkata-kata dan mencari alasan lagi.
Mau tidak mau dia harus menerima dan bersabar pria itu tetap jadi sopirnya, paling tidak selama seminggu.
Jadilah selama seminggu ini, Erik menjadi sopirnya, yang masih tak bisa diterimanya dengan ikhlas dan sepenuh hati.
Mengantarnya ke kampus, ke acara ulang bangsawan, ke peresmian taman, mengunjungi penderita kanker di rumah sakit, ke acara amal atau ke tempat lainnya.
Selama itu juga, dia hanya bicara dengan sopir itu saat memberi perintah saja, sisanya hanya duduk di jok belakang mobil, sibuk dengan ponselnya.
***
Putri Daniella Cecilia, selama ini dikenal sebagai putri kerajaan yang perfeksionis.
Karena sikapnya itu, Putri Daniella si perfeksionis, dianggap sedikit arogan dan sombong, meski dia punya sisi positif sering menyumbang untuk badan amal, pecinta anak kecil dan hewan.
Daniella menginginkan dan mempunyai standar tinggi dan sempurna dari dirinya sendiri, terhadap apa yang dia lakukan atau terhadap orang lain, berdasarkan standar tertentu yang terlalu tinggi.
Dia tak mau gagal dan melakukan semua hal, dia ingin selalu menyenangkan orang lain, takut ditolak dan dikritik.
Dia selalu merasa bangga, dan tak merasa puas, ingin selalu tampil sempurna di depan semua orang.
Dia merasa harus menjadi yang terbaik dari orang lain, merasa harus selalu menjadi yang nomor satu, butuh pengakuan dari orang lain jika dirinya memang sempurna.
Hal itu terbentuk karena saat masih kecil, orang-orang terdekatnya menilai dan menghargai dia berdasarkan pencapaian dan apa yang dia miliki.
Saat kecil dulu, orang sekitarnya, bahkan orang tuanya sering kali tidak menghargai usahanya sebagai anak, saat tidak memberikan hasil memuaskan.
Satu-satunya orang yang menghargai dia apa adanya, tanpa menuntut ini itu, tanpa membebaninya target berlebihan, hanya pamannya Gustav, adik kandung ayahnya.
Dia memiliki minat sangat besar di bidang fashion, seni dan sejarah.
Saat ini, gadis penyuka olahraga raga berkuda itu kuliah di salah satu dari lima universitas terkemuka, yang menjadi tempat kuliah para bangsawan.
Dia mengambil jurusan sejarah. Suatu hari nanti, dia ingin jadi sejarawan, peneliti sejarah atau penulis buku sejarah.
Putri Daniella anak ketiga Raja Henrik Wilhelm III, dua kakaknya, Pengeran Shawn Lucas, 28 tahun, sudah menikah dengan seorang model, Emilie Freya, punya seorang anak perempuan berusia 1,5 tahun.
Kakak perempuannya, Putri Dania Camilla, 25 tahun, sedang menjalin hubungan dengan atlet tennis nomor satu dunia, yang kini mendapat gelar kehormatan sebagai bangsawan karena prestasinya.
Putri Dania itu cantik, ramah, seorang filantropis dermawan, dicintai rakyatnya.
Putri Daniella mempunyai kekhawatiran, harus memiliki pencapaian yang lebih besar dibandingkan kedua kakaknya.
Itulah yang pada akhirnya membentuknya menjadi seorang yang perfeksionis.
Daniella memiliki banyak follower di Instagram lebih dari 2,3 juta pengikut, yang secara teratur selalu diperbaharuinya dan memposting kegiatannya.
Foto yang dipostingnya selalu fashionable, foto saat dia hadir di beberapa acara, selalu mendapat ratusan ribu bahkan jutaan like.
Karena itu, wajar saja jika beberapa waktu lalu, Putri Daniella tampak sangat dongkol saat membaca majalah khusus fashion dan gaya hidup edisi minggu ini, ditemani dua sahabatnya Julia dan Lulla.
Mereka bertiga sedang di kamar pribadi sang putri, yang didominasi warna putih gading dan abu-abu, duduk di atas tempat tidur mewah dan besar itu.
Gadis berambut pirang dan bermata hijau itu, selalu merasa percaya diri dengan penampilan dan rambutnya.
Sehingga dia tak pernah berkeinginan merubah atau mengganti warna rambutnya itu.
Selain fokus dengan kuliahnya, sebagai putri kerajaan, Daniella juga kerap menghadiri jamuan makan malam resmi, pembukaan suatu acara, menghadiri acara peresmian, dan menyambut kunjungan pejabat tinggi negara lain
Di istana, Putri Daniella dimanjakan dengan segudang fasilitas super mewah.
Lusinan pelayan selalu siap melayani dan menyediakan segala kebutuhannya.
Mulai dari membereskan kamar, menghidangkan makanan, hingga menyiapkan pakaian, semua dilakukan dengan sigap oleh staf istana yang bertugas melayani sang putri.
Tak hanya itu, dia juga punya glam team pribadi yang siap mempercantik penampilannya setiap hari, mulai dari riasan, tatanan rambut, dan busana, semua beres.
Maka tidaklah mengherankan, jika dia selalu tampil cantik dan prima setiap saat, tampil tanpa cela.
Publik selalu dibuat terpukau oleh pilihan busana Daniella yang kadang simpel, namun tetap memancarkan nuansa elegan.
Karena itu, dia tak habis pikir, editor majalah fashion dan gaya hidup yang cukup terkenal itu, selalu saja membuat ulasan jelek tentang gaya berbusananya.
Hanya dia seorang dari semua yang ada di istana dan para bangsawan di Skandinavia yang selalu mendapat ulasan negatif dari majalah itu.
Entah ada dendam apa editor majalah yang sering terlihat jutek saat bertemu dengannya tersebut, hingga seburuk itu menggambarkan penampilannya, di berbagai kesempatan. Bahkan gaya berpakaiannya saat ke kampuspun tak luput dari kritikan mereka.
Khusus untuk majalah edisi minggu ini, beberapa foto yang ditampilkan di sana, saat dia menghadiri acara badan amal untuk penderita kanker muda, menjadi bahan ejekan mereka.
Majalah itu menyorot, membahas khusus dan menzoom anting-anting berjenis stud yang classy nan elegan dengan taburan berlian yang semarak membuat tampilan anting tersebut semakin berkilauan.
Tapi di artikel majalah itu, justru membuat keterangan dan ulasan yang sungguh tak elok dibaca, menggambarkan dirinya sebagai sosok putri cantik yang muncul dari jaman es.
Gadis 19 tahun, putri bungsu Raja Henrik Wilhelm III dan Permaisuri, Ratu Sofia itu benar-benar tak bisa menahan gusar.
"Masak gara-gara anting berlian putih yang kupakai, dia bilang aku norak, terlihat kuno, seperti perempuan jaman purba, tak berkelas, aku dengan anting itu terlihat lebih tua dari usiaku. Kan lebay banget," protes Putri Daniella.
"Iya, emang lebay," sahut Julia.
"Ulasannya makin mengada-ngada dan gak ngotak aja sih akhir-akhir ini," katanya jengkel.
Padahal, hasil jepretan sejumlah fotografer serta paparazi di sejumlah media, situs online, media sosial, majalah, disambut positif oleh publik dan netizen yang memuji busana dan penampilannya yang anggun serta elegan.
Publik menilai tampilannya saat itu, dia begitu sempurna dengan terlihat feminin dan stylish, mengenakan gaun long sleeve fit-and-flare. karya desainer terkenal.
Daniella mengenakan gaun selutut, lengan panjang, leher yang terlihat, dan pinggang berikat, warna kream, memakai anting berjenis stud yang classy dengan taburan berlian, memakai high heels dan membawa tas.
"Gila ya, bisa-bisanya mereka membuat ulasan jelek seperti ini hanya gara-gara anting yang kupakai," gerutunya, melempar majalah yang dipegangnya ke lantai.
"Iya, tuh pasti kerjaan Mariela, editor majalah itu. Dia kan emang suka banget mencari-cari kekuranganmu, sering bikin ulasan negatif dalam hal gaya dan berbusanamu," sambung Lulla.
"Yang bikin aku tambah sebal, bisa-bisanya mereka menggandeng fotoku dengan foto gadis itu, membandingkan penampilanku dengannya," kesalnya.
"Aku gak ngerti sesempurna apa sih si Sabrina itu dibandingkan kamu. Seolah dia gadis paling sempurna di muka bumi ini, Tanpa cela apapun. Heran," sahut Julia.
"Iya, Aku juga gak ngerti standar cantik dan sempurna itu harus berambut hitam lurus, mata biru, pipi tirus kayak si Sabrina itu," kata Daniella gregetan.
"Iya, selalu saja mereka membandingkanmu dengan gadis itu. Apalagi sekarang Sabrina digosipkan sedang menjalin hubungan istimewa dengan putra mahkota, Pangeran Magnus Felix," sebut Julia lagi.
Sabrina Isabella, gadis cantik, pintar, psikolog, cucu Perdana Menteri Nordik, yang masih keturunan bangsawan, yang dirumorkan sebagai pacar rahasia pangeran Felix, putra Mahkota Kerajaan Nordik, pria yang disukai putri Daniella.
***