Bab 1

Hari ini, Tuhan lagi-lagi kembali menunjukkan kuasanya melalui sesuatu yang indah dan menakjubkan yaitu fajar.

Pagi itu, ia tiba memberikan kehangatan pada hati yang terasa dingin.

Pagi itu, ia tiba menyelamatkan kehidupan ini dari kesunyian ketika malam tiba.

Hal itu pula yang terjadi di satu-satunya presidential suite room milik salah satu hotel berbintang di Ibu Kota.

Sepasang anak manusia yang semalam baru saja mengukir kisah dalam sebuah penyatuan penuh gairah, rupanya kini masih enggan untuk bertemu dengan sang fajar.

Masih enggan untuk sekedar menyapa, atau bertanya ‘ada hal penting apa hari ini yang patut untuk mereka perjuangkan?’

Namun jangan pernah ragukan kegigihan sang Fajar, ia selalu menepati janjinya untuk hadir setiap hari dan memberi sinar penuh harapan di mana pun kau berada, meski di celah tersempit pun, kau tetap akan ditemukan olehnya.

Bias sinar-sinar itu pula yang baru saja sukses melakukan tugasnya. Mengusik lelapnya seorang wanita yang betah bergelung di bawah selimut tebal.

Perlahan-lahan, manik mata wanita berparas cantik yang awalnya terpejam kini mulai terjaga. Bias sinar yang masuk melalui sela-sela tirai pada jendela sungguh mengganggu jangkauan pandangan netranya.

Netranya menelisik ke seluruh penjuru ruangan yang memberi kesan mewah dan asing dalam pandangan seorang Agnella Wibisono.

Nella, begitu sapaan gadis kini merasa sesuatu yang lain sedang terjadi pada tubuhnya.

Kepalanya rasanya sakit dan sangat berat meski hanya untuk ia gerakkan sedikit saja.

'Pasti karena semalam aku terlalu banyak meminum alkohol,' pikirnya.

Kelelahan? Ya, itu yang ia rasakan kini. Seperti tulang-tulang pada tubuhnya seakan hendak terlepas dari tempatnya.

“Apa yang terjadi padaku semalam?” gumamnya lirih dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

Rupanya, suara serak Nella yang terputus-putus lebih ampuh dibanding bias sinar sang fajar untuk mengusik lelapnya tidur seorang pria yang kini memeluk tubuh Nella dengan posesif.

Eunnghhh .....

Lenguhannya sontak membuat kesadaran Agnella kembali dengan sempurna.

Kini Nella tahu, apa yang menjadi sumber dari segala hal tak biasa yang ia alami pagi ini.

Semua yang ia rasakan adalah akibat dari pergumulan panas dan hebat, yang ia lakukan berkali-kali dalam waktu semalaman. Tujuan keduanya hanya satu, menggapai kenikmatan dunia yang telah lama tak dirasakannya.

Panik, takut, kecewa, marah, gelisah, semua perasaan itu kini bercampur aduk dalam benak wanita berusia 25 tahun itu.

Tak tahu harus bagaimana, air mata yang menggenangi netranya kini sudah luruh tanpa permisi.

Nella masih berusaha menjaga kewarasannya agar ia tak melakukan hal yang bisa saja merugikan dirinya.

Surai panjangnya yang sengaja ia beri warna brown gold menjadi sasaran kekecewaannya pada diri sendiri.

Ia acak-acak rambutnya sembari menangis. Mengigit bibir bawahnya dengan keras agar tak menimbulkan suara isakan.

Bahkan kini benda kenyal yang semalam terus saja mendapat dan memberi kepuasan itu kini telah mengeluarkan darah.

'Tidak!' Serunya dalam hati.

'Aku tidak boleh hancur lagi hanya karena kesalahan yang kulakukan semalam.' Batin Nella.

Ini hanya one night stand, dan sejatinya aku tak perlu terbebani bukan?

Perlahan-lahan, Nella memindahkan lengan kekar pria yang sejak semalam mendekapnya erat. Memberinya kehangatan juga kenyamanan setelah keduanya berhasil mencapai puncak berkali-kali.

Semua peristiwa semalam, pertempuran hebat yang terjadi di antara dirinya dengan pria yang tak ingin ia tatap wajahnya juga desahan-desahan yang keluar dari bibir merah muda miliknya terekam jelas diingatan Nella saat ini.

Namun semua itu tetap tak cukup untuk membuat Nella mengurungkan niatnya untuk mundur.

Ia sudah bertekad untuk pergi secepatnya dari tempat terkutuk itu. Kembali memulai hidupnya yang baru saja memulai babak baru.

'Tak akan kubiarkan apa yang terjadi malam ini mengacaukan semua yang telah kuusahakan selama ini.'

Begitu ia berhasil memindahkan lengan kekar sang pria, Nella segera beranjak dari tempat tidur. Memunguti sembari mengenakan kembali satu per satu pakainya yang berserakan di atas lantai yang beralaskan karpet tebal.

Sesekali Nella meringis saat merasa perih pada bagian inti tubuhnya. Tak perlu ia cari tahu alasannya, Nella hanya bisa menghela napas berat sambil melirik ke arah pria yang masih bergelung di bawah selimut tebal itu.

Terbersit niat Nella untuk menelisik wajah sang pria.

'Bagaimana yah kira-kira wajah pria yang semalam menggagahiku?' Tanya Agnella pada dirinya sendiri.

Namun segera ia gelengkan kepalanya.

'Lebih baik aku tahu siapa dia. Akan canggung jika suatu saat aku bertemu dengannya.' Batin Nella.

Gaun hitam mini tanpa lengan sudah kembali membalut tubuhnya. Stoking hitam sudah menutupi kaki jenjang dan pahanya yang putih dan mulus. Surai yang tadi sempat menjadi tempat pelampiasan amarahnya, kini sudah Nella rapikan seadanya saja.

Tinggal mencari di mana tas tangan yang ia gunakan semalam, sebelum wanita itu benar-benar siap untuk pergi.

Matanya menelisik kembali ke seluruh penjuru ruangan. Memindai sudut demi sudut hingga ia menemukan benda yang dicarinya berada di atas nakas samping tempat tidur.

Berjinjit-jinjit Nella mendekat. Entah apa tujuannya, mungkin Nella harap dengan begitu bisa mengurangi sedikit kemungkinan pria itu akan terjaga.

Tas tangan sudah dalam genggaman Nella, seharusnya ia langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Namun entah apa yang menyebabkan wanita itu nekat menoleh ke arah pria yang masih terlelap dengan damai.

Bruk ...

Tas dalam genggaman Nella terjatuh menimbulkan bunyi yang memancing gerakan dari sang pria.

Air mata Nella yang tadinya sudah mengering kini kembali menggenang. Bahkan lebih deras dari sebelumnya.

Dadanya sesak, bahkan napasnya kini seperti tercekat di tenggorokan.

Kedua tangan Nella, ia gunakan untukmenutup mulutnya. Berharap tak ada jeritan yang keluar dari sana.

Hantaman bayangan masa lalu yang kelam serasa tiba-tiba menimpa tubuhnya.

Kakinya lemas bagai jelly, hingga tubuh wanita itu luruh sepenuhnya dan kini ia hanya bisa duduk bersimpuh di atas karpet tebal tempat ia berpijak tadi.

Nella menangis dan menahan isakannya secara bersamaan. Berharap tangisan yang berasal dari lubuk hati terdalamnya ini mampu memutar kembali waktu hingga ia bisa menghindari kejadian semalam.

Menghindari pertemuan dengan seorang pria dari masa lalunya yang sangat ingin ia lupakan.

Getaran pada ponsel yang masih ada dalam tasnya, mengembalikan kesadaran Nella.

‘My Bee' tampak pada layar sebagai id pemanggil.

Melihat itu Nella lantas bangkit.

'Cukup sekali saja kau hancurkan hidupku. Sama sepertimu dahulu, kini aku yang akan pergi tanpa perlu peduli apa yang mungkin mau rasakan.'

Tertatih-tatih Nella berjalan menggapai pintu keluar dari kamar termewah hotel ini. Ia meringis menahan perih di bagian intinya.

Sementara rasa sakit lain, rasa sakit yang berkali-kali lipat sakitnya, kini menerpa hati Nella membuatnya tak sanggup untuk menahan desakan air mata dari sudut matanya.

Wanita itu seakan tuli dan buta, ia tak peduli dengan tatapan hina dan cibiran yang dilayangkan beberapa orang padanya.

Nella terus saja berjalan tertatih, berjalan secepat yang ia bisa. Tujuannya yaitu keluar dari bangunan megah hotel berbintang yang sarat dengan kemewahan di setiap sudutnya.

“Aku tak peduli. Aku sudah pernah menerima penghinaan yang lebih dari itu semua. Aku baru saja keluar dari lubang hitam yang sempat mengurungku. Aku tak ingin lagi kembali ke sana,” gumamnya penuh tekad.

Ponsel Nella kembali bergetar, sebab seseorang dengan nama kontak ‘My Bee’ lagi-lagi menghubunginya.

Nella menghela napas panjang, mengatur suaranya agar tak terdengar serak dan bisa saja menimbulkan kecurigaan dari si penelepon.

Setelah dirasa dirinya siap, Nella akhirnya menerima panggilan telepon tersebut.

“Halo, baby ......”

*****

Bab 2

Entah berapa lama lagi Nella bisa bertahan dalam kondisi seperti saat ini.

Ketika tubuhnya kini sudah mengigil, kulit di hampir sekujur tubuhnya telah memucat, bibir yang biasanya berwarna merah muda kini telah tampak keunguan, dan samar-samar terdengar bunyi gemeletuk dari gigi giginya yang bersentuhan.

Sudah lebih dari 1 jam wanita itu hanya duduk tanpa alas apa pun di lantai kamar mandi tanpa peduli dingin yang menyambut tubuhnya.

Rasanya lelah sekali, hingga berat tubuhnya pun tak dapat lagi ia topang.

Nella hanya bersandar di dinding kamar mandi yang berukuran kecil miliknya. Air matanya tak bisa diajak kerja sama untuk begitu saja melupakan apa yang telah terjadi pagi ini.

Kembali Nella memukul-mukul dadanya, berharap sesaknya itu bisa berkurang. Lalu lagi-lagi ia rutuki dirinya sendiri.

‘Bodoh! Bagaimana bisa kau kembali menyerahkan dirimu pada orang yang telah merenggutnya dulu!’ Gerutunya dalam hati.

Kembali terbayang di benaknya, 7 tahun lalu bagaimana ia dalam keadaan yang sama, di bawah kungkungan pria yang sama.

Yang berbeda, jika dulu ia terus meringis dan memohon ampun pada pria itu, tapi semalam ia teringat bagaimana dirinya begitu menikmati setiap sentuhan dari si pria.

“Arrghhh .... Tidak, tidak, tidak,” hanya kata itu yang terucap di bibir Nella dengan tangan yang menutup kedua telinganya.

Bukan hanya potongan-potongan adegan semalam yang kini terputar di benaknya, namun suara laknat miliknya kini samar-samar terdengar bagai alunan melodi yang jadi latar di film horor, sungguh menyeramkan.

Pancuran air dari shower terus mengguyur tubuh Nella. Meski telah basah kuyup serta menggigil hingga kini tubuh itu mulai kaku, tapi tak terbersit sedikit pun di benak Nella untuk mencegah atau menghentikan shower itu bekerja melakukan tugasnya, yaitu menyamarkan suara tangisannya.

Satu jam telah berlalu, tenaganya tak lagi sama seperti saat pertama kali dia duduk di tempatnya kini bersandar.

Ingin ia bangkit, menghentikan semua hal bodoh yang lagi-lagi ia lakukan, yaitu menyakiti dirinya sendiri.

Kini kedua netranya terasa semakin berat, sepertinya sepasang netra itu sudah cukup lelah menangis dan kini Ia butuh istirahat.

Perlahan-lahan sepasang netra cantik itu mulai terpejam bersama dengan hilangnya kesadaran Nella.

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang seulas senyum tipis sempat terukir di wajah cantik yang telah pucat itu ketika ia samar-samar mendengar suara pintu kamar mandinya dibuka dengan kasar lalu teriakan suara pria yang ia kenali.

Brakkk.

“Honey!” Teriak sang pria.

*****

Namanya Ozzi Alecander, seorang dokter spesialis bedah umum di salah satu rumah sakit swasta Classica Hospital, yang merupakan milik keluarganya.

Pria yang kini berusia 30 tahun itu, dengan panik segera menggendong tubuh sang kekasih, wanita pujaan hatinya selama 2 tahun terakhir.

Meski kini Ozzi, dokter muda bertalenta itu akhirnya ikut basah juga setelah terkena pancuran air dari shower namun ia tak peduli.

Yang dipedulikannya kini adalah keselamatan Sang Kekasih, wanita yang sangat ia sayangi. Satu-satunya wanita yang berhasil menggerakkan hatinya untuk mencintai.

Sepanjang jalan menuju mobilnya, banyak pasang mata yang mengawasi apa yang dilakukan pria tampan seperti Ozzi.

“Apa yang terjadi Mas?”

“Wah ... istrinya kenapa Mas?”

“Pingsan yah?”

“Tolongin dong, telepon ambulans.”

Komentar dari banyak orang yang berpapasan dengannya tak lagi dipedulikan Ozzi. Baginya yang terpenting kini hanyalah keselamatan sang kekasih.

Bergegas ia dudukkan Nella yang telah tak sadarkan diri di bangku penumpang tepat di sampingnya yang mengemudi.

Ozzi mencoba maklum dengan kebodohannya saat ini, sebagai seorang dokter harusnya Ia mengeringkan dulu tubuh Nella hingga wanita itu tak harus kedinginan lebih lama. Dan juga lekukan indah tubuh sang kekasih tak harus terpampang jelas seperti saat ini.

‘Dokter pun manusia biasa, bukan?’ begitu pembelaan Ozzi pada dirinya sendiri akibat kepanikan yang menimpanya hingga tak bisa berpikir jernih.

Tadi memang dirinya sungguh panik saat menemukan Nella dengan kondisi yang sudah tak sadarkan diri.

Terbayang di benaknya, kejadian sekitar hampir 3 tahun lalu, ketika ia pertama kali bertemu dengan sang pujaan hatinya.

Saat itu Ozzi yang diminta oleh sahabatnya Niko Kahill, untuk mengantar istrinya yang ingin mengunjungi adik iparnya.

Alessa yang kala itu tengah hamil muda tiba-tiba saja merasa rindu dengan sang adik. Saudara kembar dari Aletta itu, sepertinya ngidam hingga tak ingin lagi menunggu suaminya kembali dari luar kota.

Alessa dan Aletta, keduanya kembar identik, kakak dari Agnella. Berbeda dari kedua kakak kembarnya yang sangat menonjol di bidang akademik, Agnella wanita itu lebih suka seni terutama melukis.

Kelebihan lain yang pertama kali ditangkap oleh Ozzi saat pertama kali melihat Nella adalah kecantikan parasnya. Kecantikan alami yang tidak bisa disembunyikan, yang tetap terpancar dalam keadaan apa pun.

Ya, dalam keadaan apa pun ... sebab saat pertemuan pertamanya dengan Agnella, termasuk dalam kejadian tak terlupakan dalam hidup seorang Ozzi.

“Lu yakin alamatnya gak salah Sa?” tanya Ozzi kala itu, ketika mobilnya berhenti di depan sebuah panti rehabilitasi.

Alessa yang ditanyai hanya menggeleng sebagai jawaban lalu turun dari mobil Ozzi tanpa permisi.

“Untung lu lagi hamil muda, kalau enggak udah gue tinggal.”

Gerutu Ozzi pada Alessa, teman sejawat yang juga berstatus sebagai istri sahabatnya.

Bergegas Ozzi menyusul ibu hamil yang saat itu perutnya masih datar.

“Adik lu kerja di sini? Kok Niko gak pernah cerita yah,” gumam Ozzi.

Bukan hal yang sulit bagi Ozzi untuk menyamakan langkah kaki jenjangnya dengan langkah Alessa yang bertubuh mungil.

Namun meski langkah keduanya telah sejajar, tak ada jawaban dari Alessa hingga ia akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan.

Ceklek.

Alessa membuka pintu ruangan di hadapannya. Tampak seorang wanita cantik yang berdiri jauh di pojok ruangan.

Sepasang manik mata berwarna coklat milik Ozzi bahkan tak berkedip saat menatap wanita dengan wajah pucat yang tampak terkejut dengan kehadiran mereka.

“Nella ... Kak Lessa datang,” seru Alessa dengan riang.

‘Nella? Nama yang cantik secantik orangnya,' batin Ozzi.

Masih di tengah lamunan Ozzi mengagumi Agnella, tiba-tiba saja .....

Brrrruuugggggghh

Tubuh Nella luruh ke lantai, Alessa kembali menyerukan nama adiknya.

“Nella ...” teriaknya sembari berlari ke pojok ruangan tempat Nella berdiri sebelumnya.

Betapa terkejutnya Alessa ketika ia mendapati sang adik dengan lumuran darah yang berceceran di sekitarnya. Darah yang berasal dari pergelangan tangannya yang baru saja disayat oleh adiknya sendiri.

Semua yang terjadi kala itu menjadi awal bagi Ozzi untuk menjalin hubungan dengan Agnella, seorang wanita rapuh yang butuh seseorang untuk ia percaya dan bersedia menjadi pendukung setianya.

Dan selama 2 tahun terakhir, Ozzi berhasil menjadi orang itu di kehidupan Agnella.

Tin ....

Tin ....

Tin ....

Suara klakson mobil yang memekik telinga dari arah belakang sukses membawa kembali Ozzi dari lamunannya.

Kini hanya berjarak beberapa meter saja dan keduanya akan tiba di Classica Hospital.

Alessa dan suaminya Niko yang sudah mendapat pesan sebelumnya telah bersiap di unit pelayanan gawat darurat.

“Apa yang terjadi Zi? Kenapa adik gue bisa seperti ini?” cecar Alessa ketika berhasil memindahkan Agnella ke brankar rumah sakit.

Tak ada jawaban dari Ozzi membuat wanita yang berprofesi sebagai dokter anak itu geram.

“Lu nyakitin Nella? Kalian bertengkar?”

“Yang ... Sayang ... udah dong,” sela Niko memeluk erat sang istri.

“Kita doakan saja semoga Nella baik-baik saja,” ujar Niko menenangkan istirnya.

Tak lama setelah itu datanglah Aletta dan Marco. Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pengacara itu, tampak mempercepat langkahnya ketika melihat saudara kembarnya berada dalam pelukan suaminya di depan sebuah ruangan.

Sama seperti Alessa, raut wajah penuh kekhawatiran tampak jelas di wajah Aletta.

Kedua saudara kembar itu saling berpelukan, saling memberi dukungan, mendoakan keselamatan sang adik yang sangat mereka sayangi.

Tak butuh waktu lama hingga dokter yang memeriksa kondisi Nella mengabarkan jika wanita cantik itu baik-baik saja. Nella hanya kedinginan dan juga lemah sebab perutnya belum diisi apa pun sejak semalam.

****

“Kalian bertengkar?”

Lagi-lagi pertanyaan itu dilayangkan pada Ozzi, namun kini bukan bukan dari Alessa, melainkan dari Aletta saudari kembarnya.

Ozzi menjawab hanya dengan gelengan kepala. Sejujurnya pria tampan itu pun bingung, apa yang terjadi hingga kekasihnya sampai melakukan perbuatan nekat seperti tadi.

“Apa yang kamu sembunyikan honey? Apa ada yang sengaja kamu tutupi dariku?” gumam Ozzi lirih sambil terus membelai mesra surai Nella. Sejak tadi pria itu hanya duduk di tepi brankar Nella.

Tok ... Tok .... Tok ...

Seorang perawat masuk ke ruang rawat Nella.

“Dok, anda sudah ditunggu di ruang operasi,” ucapnya pada Ozzi.

“Ya, saya segera ke sana,” balasnya.

Menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, Ozzi berusaha menenangkan perasaannya.

Ia kecup punggung tangan wanita yang menjadi pemilik hatinya lalu beralih ke keningnya, sebelum akhirnya ia beranjak untuk menunaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter bedah.

Tanpa Ozzi atau siapa pun di ruangan itu sadari, Nella sudah sadar beberapa saat lalu.

Melihat bagaimana semua orang yang begitu khawatir membuatnya menyesali perbuatannya.

‘Bodoh!’ rutuknya dalam hati.

‘Tidak! Kali ini aku tak akan lari lagi. Masalah apa pun itu akan kuhadapi, demi mereka yang benar-benar menyayangiku.’

‘Pria itu ... dan yang terjadi semalam akan kuanggap tak pernah ada,' tekadnya dalam hati.

***

Bab 3

Tiga hari telah berlalu, kondisi kesehatan Nella sudah lebih baik dan ia akhirnya bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Pagi ini, Ozzi si dokter bedah tampan yang jadi pujaan banyak perawat dan pasiennya... dengan setia mengantarkan sang kekasih untuk bekerja.

“Honey... ini minum dulu vitaminnya,” ucap Ozzy.

Dengan patuh Nella membuka mulutnya agar Ozzy lebih mudah memasukkan pil kecil pahit yang tak ia sukai.

Tentu saja Ozzy tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Dengan sebuah kecupan di akhir adegan, mampu membuat suasana pagi itu seketika menjadi romantis bagi sepasang kekasih yang selalu tampak mesra di usia 2 tahun hubungan mereka.

“Honey, kumohon jaga kesehatanmu. Jangan memaksakan dirimu untuk bekerja terlalu keras,” ucap Ozzy sambil menatap dengan penuh cinta pada wanitanya.

Dari genggaman tangannya, Nella bisa tahu jika pria itu tak rela jika dirinya harus kembali bekerja hari ini.

Namun sebagai karyawan yang masih masuk dalam kategori karyawan baru, bolos bekerja selama 4 hari sudah sangat berlebihan bagi Nella.

Nella hanya mengangguk. Bukannya tak ingin membalas ucapan Ozzy, hanya saja Nella tahu jika ia menjawab maka pembahasan Ozzy akan semakin panjang.

“Honey, jangan lupa makan siang lalu-“ ucapan Ozzy harus terjeda, sebab Nella segera menyelanya.

“Lalu minum obatmu,” ucap Nella menirukan ucapan Ozzy yang 4 hari ini selalu menghiasi pagi, siang, dan malamnya.

Ozzy dibuat semakin gemas dengan sang kekasih yang semakin hari semakin berani menggodanya. Dicubitnya kedua pipi Nella, lalu ia tangkup dengan kedua tangannya.

Manik mata kedua muda mudi itu saling menatap. Nella bisa merasakan besarnya cinta Ozzy padanya, berbeda dengan Ozzy yang sejak 2 tahun lalu terus berharap bisa mendapatkan tatapan cinta yang tulus dari wanitanya.

Cup.

Kecupan kedua mendarat lagi di bibir yang telah dipoles dengan warna nude.

“Bee, kalau kamu cium aku terus bisa-bisa riasan aku berantakan nih,” rengek Nella.

Ozzy yang pada dasarnya sudah teramat bucin pada Nella malah menganggap rengekan sang kekasih adalah hal yang penting, yang harus ia abadikan.

Pria itu mengambil kesempatan untuk memotret Nella dengan menggunakan ponsel pintar berlogo salah satu jenis buah-buahan. Tepat ketika wanitanya sedang cemberut sembari membenarkan riasan di bibirnya yang telah dirusak oleh Ozzy.

Tak lupa si dokter tampan itu membagikan momen bahagia itu pada sosial media miliknya dengan caption yang romantis namun terkesan jenaka.

“Misi pagi ini gagal total. Misi merusak riasan kekasihku pagi ini gagal, akibatnya aku harus sabar melihat Bu-Aya di luar sana mengagumi kecantikannya. Kuatkan hambamu Ya Tuhan...”

Dan hanya menunggu beberapa saat setelah Ozzy menyelesaikan unggahannya, halaman sosial media milik pria itu kini sudah dibanjiri dengan ejekan dari sahabat dan teman-temannya.

Namun ada-ada saja tingkah pengguna dunia maya yang selalu membuat geram Ozzy ketika ia mengunggah foto sang kekasih, salah satunya adalah ketika ada salah satu akun yang mendoakan Ozzy untuk segera putus dengan Nella, sebab orang itu ingin menggantikan tempatnya.

Nella mengernyit melihat kekasihnya yang bersungut-sungut sambil memainkan gawainya.

“Ada apa bee?” tanya Nella.

Ozzy menunjukkan layar ponselnya pada Nella, membuat wanita itu menahan tawa. Sudah berulang kali ia katakan pada Ozzy untuk berhenti mengunggah foto yang hanya akan menjadi wadah bagi orang lain untuk menghina.

Tapi bagi Ozzy, mengunggah potret kemesraan dirinya dan Nella adalah salah satu cara untuk mengendurkan nyali para Bu Aya yang berkeliaran di luar sana.

Nella telah selesai dengan riasannya, di saat Ozzy masih sibuk membalas komentar netizen maha benar di sosial medianya.

Nella yang hendak berpamitan dengannya hanya bisa menghela napas melihat tingkah kekasihnya yang kini sibuk beradu argumen dengan orang yang tidak ia kenal di dunia maya.

Cup.

“Aku turun yah Bee,” pamitnya sebelum ia turun dari mobil Ozzy dan melangkah dengan anggun menuju perusahaan tempatnya bekerja.

Sebuah kecupan di pipinya menyadarkan pria itu jika baru saja ia telah menyia-nyiakan waktu berharganya bersama Nella.

Ozzy yang tertegun saat Nella mengecup pipinya baru tersadar ketika wanitanya sudah berjarak beberapa meter dari mobilnya.

Segera ia turunkan kaca jendela mobil, “Honey ... see you later,” serunya dari dalam mobil dengan senyum merekah, yang dibalas Nella hanya dengan lambaian tangan.

Interaksi pasangan bucin ini rupanya menjadi perhatian dari dua pasang mata yang sejak tadi menggeleng melihat tingkah wanita cantik yang keduanya klaim sebagai sahabatnya.

“Dorrr....”

Seru Nara dan Atala secara bersamaan dari belakang punggung Nella.

“Astaga ... Nara! Atala!” seru Nella tak kalah hebohnya.

“Kalian ngagetin aja deh ...” lanjutnya.

Sementara Nella masih mengelus dadanya, kedua sahabatnya itu malah semakin terbahak.

Ketiganya melangkah beriringan menuju sebuah gedung pencakar langit milik Zeno Group. Perusahaan konstruksi terbesar di 3 negara, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Beruntung kamu udah masuk kerja lagi hari ini Nel, kalau enggak aku jamin kamu bakal merugi,” celetuk Nara.

“Rugi? Memangnya hari ini ada pembagian bonus? Aku kan kerja belum sampai sebulan juga, jadi sepertinya tak mungkin untuk dapat bonus.”

Mendapat pertanyaan dari Nella, kedua sahabatnya itu malah membuat Nella makin bingung dengan jawaban berbeda dari keduanya.

Atala menjawab dengan gelengan kepala sedangkan Nara mengangguk dengan antusiasnya.

Nella lagi-lagi menghela napasnya, “Yang benar yang mana ini?” desak Nella yang mulai penasaran dengan bonus yang dimaksud kedua sahabatnya.

“Gak ada bonus apa pun Nel,” jawab Atala.

“Ada. Bonusnya bukan berbentuk uang Nel ... tapi dalam bentuk kemakmuran bagi batin,” jawab Nara menirukan seorang narator dalam drama.

“Pemilik perusahaan yang katanya tampannya kebangetan, sudah memutuskan untuk kembali ke kantor pusat di Indonesia,” lanjut Nara.

“Memang sebelumnya pemilik perusahaan itu di mana?” tanya Nella yang mulai penasaran dengan sosok yang dipuja puji oleh Nara.

Nara hanya mengedikkan bahunya, “Entahlah, mungkin di Malaysia atau bisa juga di Singapura.”

Nella mengangguk saja, ia pikir tak penting juga baginya untuk tahu lebih banyak hal mengenai pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

“Atau bisa juga, selama ini dia asik liburan di Hawai bersama para wanita-wanita seksi,” celetuk Nara tiba-tiba ketika ketiganya baru saja masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai 15 gedung itu.

Karena ucapan Nara barusan, suasana yang tadinya hening dan damai seketika menjadi menyeramkan.

Bagaimana tidak, jika yang berdiri di depan mereka adalah sosok wanita cantik dan seksi bernama Astrid. Sekertaris kesayangan pemilik perusahaan yang hanya bekerja saat sang pemilik gedung pencakar langit ini berada di Indonesia.

Sontak Nella dan Atala beralih menatap ke arah Nara.

Nella sudah memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sedang Atala mengedipkan matanya berkali-kali. Namun sayang Nara, si ratu gibah tak paham maksud kedua sahabatnya.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Nara yang tak paham dengan kode dari Nella dan Atala.

“Apa kalian tidak percaya keakuratan informasiku?”

“Hemm, lihat saja nanti ... jika si bos sudah mulai bekerja di sini kalian akan percaya saat melihat banyaknya wanita yang keluar masuk ruangan si Bos, dia itu terkenal pemain wanita,” lanjut Nara dengan yakin.

Nella dan Atala hanya bisa menepuk jidat masing-masing. Terlebih ketika Astrid berdeham dan menoleh sekilas, menatap tajam pada Nara.

Nara hanya bisa menelan salivanya, wajahnya berubah pucat, telapak tangannya yang menggenggam erat lengan Nella terasa sangat dingin, tak lupa peluh yang membanjiri dahinya.

Ting ....

Pintu lift terbuka, angka di layar kecil pada dinding lift tampak angka 15.

Ketiga karyawan yang masih terhitung baru bergabung di perusahaan Zeno Group keluar sembari menunduk, sebisa mungkin menghindari tatapan dari Astrid sang sekertaris kesayangan si bos.

“Hahhhh... akhirnya bebas juga,” ujar Nella ketika mereka telah duduk di meja kerja masing-masing.

“Sekarang kita memang bebas, tapi kalau Astrid melapor ke si Bos gimana?” ucap Atala yang sukses membuat Nara makin ketakutan.

Nella yang melihat tubuh Nara bergetar karena panik mencoba menenangkan sahabatnya.

“Gak akan, karyawan banyak kok ... Nona Astrid juga tidak tahu nama kita,” ucap Nella.

Baru saja kalimat Nella berakhir, namanya sudah dipanggil oleh seorang wanita.

“Agnella!” seru Bellanca.

Bellanca atau yang sering di sapa Nona Bella oleh para karyawan Zeno Group adalah manajer tim pemasaran, atau lebih tepatnya atas langsung Nella.

“Kamu dipanggil ke ruang Presdir!” titahnya.

“A-a-ku?”

“Iya kamu!” jawab Bella ketus.

“Memangnya siapa lagi yang bernama Agnella di sini? Karyawan baru tapi sudah berani bolos bekerja lebih dari 3 hari,” ujar Bella.

Nella hanya bisa menunduk pasrah, tak berani membantah ucapan sang manajer. Pasalnya apa yang diucapkannya memang benar.

Dengan langkah gontai, wanita cantik itu berjalan menyusuri koridor lantai 45 tempat ruangan Presiden Direktur berada.

‘Bagaimana jika aku dipecat? Padahal sudah susah payah aku mendapat pekerjaan ini. Satu-satunya perusahaan yang tak menolak seseorang dengan riwayat mantan pecandu sepertiku,' batin Nella.

Tak terasa kini ia sudah berdiri di depan ruang Presdir, Astrid menatap tak suka pada Nella.

“Kamu yang bernama Agnella?” tanyanya.

Agnella mengangguk.

“Cih ... kupikir kau lebih cantik dariku,” gumam Astrid lirih.

Pintu terbuka otomatis setelah Astrid menekan satu tombol di atas meja kerjanya.

“Masuk sana, awas saja kalau kamu mengecewakan Bos,” peringat Astrid.

Nella menarik napas panjang dan dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Begitu Ia melewati pintu, terdengar bunyi klik saat pintu kembali menutup otomatis.

Nella berjalan mendekati meja besar yang dibaliknya kini ada sosok pria dengan bahu yang tampak kokoh sedang bersandar di kursi singgasananya.

“Permisi Tuan, selamat pagi ...”

Hening, tak ada respon dari pria yang sedang memunggunginya.

“Saya Agnella Wibisono, apa Tuan memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya Nella.

Kursi berputar perlahan-lahan, lalu tampaklah wajah pria yang sangat tampan, tengah tersenyum menatap wanita yang kini mematung.

“Hai Agnella, lama tak berjumpa ...” sapanya dengan suara bariton.

Mendengar suara bariton itu menyebut namanya, membuat tubuh Nella bergetar hebat.

Refleks ia melangkah mundur saat pria tampan yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja, beranjak dari singgasananya dan melangkah ke arahnya.

“Atau ... haruskah aku katakan yang sebenarnya? Bagaimana kabarmu setelah malam kedua kita yang luar biasa?”

Pria itu terus saja memojokkan Nella baik dengan langkahnya maupun dengan ucapannya.

“Sebenarnya aku kecewa dan marah kamu pergi begitu saja ... tapi mengingat kesalahanku di masa lalu, aku coba mengerti. Sekarang skor kita sama,” lanjutnya tanpa rasa bersalah.

Air mata Nella kembali berlinang, ucapan pria ini sungguh membuatnya muak.

Namun ia lebih muak lagi pada dirinya yang hanya bisa meneteskan air mata tanpa sanggup membalas ucapan sang pria.

‘Dasar pria sialan! Semudah itu kau mengatakan skor kita sama, setelah separuh hidupku kau buat hancur!’ maki Nella dalam hatinya.

‘Eros Zeno, aku membencimu!’ geramnya.

Namun sayang semua umpatan dan makian itu hanya bisa ia utarakan dalam hati.

Tanpa sepatah kata pun Nella bergegas berlari menuju pintu dan pergi sejauh mungkin dari jangkauan Eros.

Pria dari masa lalu yang menjadi awal hancurnya hidup Nella, Pria yang paling ingin ia lupakan, pria yang 4 hari lalu kembali membawanya ke puncak nirwana.

Ternyata, dunia ini sangat sempit. Di saat Nella sudah merasa dunianya yang kelam mulai menampakkan cahaya, di saat yang sama sumber kegelapan itu kembali.

’Harus ke mana lagi aku berlari? ‘

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED