Bab 1

"Ayah, sih! Dinda jadi telat!" seru Dinda tak terima kepada Ayahnya saat mereka di dalam mobil menuju sekolah baru Dinda di Malang. "Masak baru masuk sekolah udah telat aja!" gerutu Dinda tak terima dengan berulang kali melihat ke arah jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit.

"Hari senin, saatnya upacara. Tenang saja, pasti gak akan ketahuan kalau kamu panjat pagar samping," kata sang Ayah yang berusaha menenangkan gelisah dan gundahnya hati sang anak. Tapi Adinda tetap tak terima dengan sikap santai sang Ayah.

"Lagian mandi aja sampai setengah jam!" seru Adinda kesal. Adinda hanya tak pernah tahu kalau hal itu dilakukan oleh Bima karena ia merasa gugup bahwa hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai manager pengolahan di cabang perusahaannya sebelumnya.

Jika saja sang Ibunda Bima tak sakit dan membutuhkan banyak biaya pengobatan, maka Bima tak akan pernah bersedia menerima tawaran ini. Ia tak ingin mengingat sama sekali kenangan manis pahitnya di kota kelahiran mantan istrinya, Safira. Itu terlalu membuatnya terluka sangat.

Tak bisa dipungkiri bahwa alasannya masih sendiri hingga kini adalah karena ia tak yakin dengan hatinya yang masih diliputi oleh rasa bersalah kepada mantan istrinya, Safira.

"Ayah ngelamun?" tanya Dinda dengan menyenggol lengan Ayahnya gemas. Ayahnya serta merta menoleh ke arah Dinda dan kaget.

"Nggak!" seru Ayahnya.

"Lah kenapa di google maps bilang kalau sekolahku udah kelewat?" tanya Adinda dengan santai. Wajah Ayahnya seketika kaget dan langsung pucat, ia meraih ponsel sang anak dan mengecek maps di sana. Kemudian dengan senyum tipis yang terpaksa ia lakukan, ia memutar kemudi.

"Gak ada salahnya kita jalan-jalan dulu," kata sang Ayah. Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala sembari memukul jidatnya yang tak terasa pusing sama sekali.  Ia tak habis pikir dengan kelakuan Ayahnya.

Lima menit kemudian mereka tiba di sekolah Dinda yang baru. Sengaja mobil yang dikendarai oleh Ayahnya itu parkir agak jauh dari halaman sekolah. SMA Negeri 1 Lawang. Sekolah yang cukup terkenal di Malang.  Sekolah itu didirikan tahun 1980-an dengan nama pertama yakni SMPP (Sekolah Menengah Pertama Pembangunan).  Sekolah itu terletak di desa Sumber Waras, beberapa meter dari jalan raya dan jalur kereta api. Bagian depan sekolah itu terdapat kampung yang cukup padat, dan bagian belakan tempat di mana Dinda dan Ayahnya berada terdapat lapangan sepak bola yang cukup luas. Sore hari kemarin sang Ayah telah membawa Dinda mengunjungi sekolah itu dan bagi Dinda bangunan sekolah itu cukup bagus dan luas. Apalagi bagian perpustakaannya yang membuat Dinda membelalakkan mata karena kagum. Musholla sekolah juga masih dalam perbaikan renovasi yang signifikan.

"Jadi, aku harus masuk sekolah lewat mana?" tanya Dinda kepada sang Ayah yang juga bingung menatap sekolah itu. Ia mulai berpikir dan mengingat-ingat tour ringan yang dilakukannya dengan sang putri kemarin sore ke sekolah itu. "Ayah!" panggil Dinda kembali kepada sang Ayah yang langsung menoleh salah tingkah, saat sang Ayah memalingkan wajahnya kembali ia melihat dengan matanya ada satu siswa yang berjalan ke arah kanan,  menjauhi gerbang sekolah dengan sembunyi-sembunyi.

"Coba ikutin siswa itu!" pinta sang Ayah seraya menunjuk ke arah pemuda dengan tas hitam di punggungnya. "Sepertinya ia juga terlambat. Cepat!" perintah sang Ayah sekali lagi kepada putrinya yang menatapnya dengan tatapan jengah dan tak percaya sama sekali. "Cepat! Tunggu apa lagi?!" seru sang Ayah seraya mendorong sedikit badan putrinya agar segera keluar dari dalam mobil yang mereka tumpangi.

Dinda keluar dari dalam mobil dengan bibir yang manyun ke depan dan rasa enggan sama sekali. Seumur-umur ia berangkat ke sekolah, baru kali ini ia terlambat, dan itu bukan salahnya tapi salah sang Ayah yang terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Ia bahkan hanya menyambar satu buah roti panggang karena sang Ayah lupa ke tukang sayur dan nasi yang beliau masak tidak matang. Ayah lupa memencet tombol 'cook' pada magiccom milik mereka.

Dinda menghentakkan kaki dengan kesal ketika ia melihat sang Ayah sangat antusias menyuruhnya untuk segera masuk ke sekolah dengan menyusul pemuda yang telah hilang dalam pandangan mereka itu. Dinda menggerutu dan memanyunkan bibirnya kembali tapi ia akhirnya menuruti permintaan sang Ayah tersebut.  Dengan langkah kaki yang sedikit berlari itu, Dinda menuju arah di mana siswa tadi menghilang. Sampai di sana ia celingkukan ke arah kanan dan kiri mencari sosok pemuda tadi, tapi sejauh ia memandang, Dinda tak menemukan sama sekali siswa pria tadi.

Dinda kemudian memandang ke arah tembok beton yang cukup tinggi di hadapannya tersebut. Ia merasa ragu saat ini ketika pandangannya kembali melihat ke arah tembok di hadapannya. Ia memang sudah sangat biasa memanjat pohon saat berada di Bandung dulu, tapi masalahnya adalah kini yang ada di hadapannya,  tembok tinggi bukan ranting. Dinda mencari-cari sesuatu di sekitarnya untuk membantunya memanjat, tapi ia tak menemukan sesuatu sama sekali.  Ia akhirnya melompat-lompat untuk menengok ke arah dalam. Sejauh dari pandangan matanya ketika ia melompat-lompat, ia tak menemukan guru atau siswa lainnya di dalam sana. Ia merasa aman sejenak. Ia menengok lagi ke kanan dan kiri dan ia menemukan beberapa batu yang menurutnya akan muat jika ia menyusunnya lalu menaikinya kemudian.

Dinda mengangkat batu-batu itu ke dekat tembok dan menyusunnya sedemikian rupa hingga ia merasa tinggi batu itu cukup untuk membantunya melompati pagar tersebut. Dinda sedikit ragu ketika ia melihat tumpukan batu-batu tersebut yang tak simetris. Ia membayangkan dirinya jatuh dan tertimpa salah satu batu tersebut.

Nggak.

Nggak.

Aku gak boleh takut sama sekali.

Nggak papa.

Aku bakalan baik-baik saja!

Kata-kata itulah yang terus menerus dilontarkan Dinda dalam pikirannya. Dengan mengucapkan kata bismillah ia mulai memanjati batu hasil tumpukannya tersebut.  Tapi baru juga ia menaiki tumpukan batu itu, tubuhnya oleng ke kiri, ia kehilangan keseimbangan meski ia berusaha menggapai udara agar tak terjatuh ke belakang. Dinda pasrah ketika ia benar-benar tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.

Hup.

Tubuhnya ditangkap seseorang tepat ketika Dinda telah memejamkan matanya. Dinda membuka matanya kala ia merasa ada tangan yang menopang tubuhnya. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan wajah yang tampan sempurna itu memandang ke arahnya secara datar.

Pemuda itu memiliki mata berwarna coklat dipadukan dengan bulu mata yang lentik dan alis hitam legam yang lebat. Hidung pemuda itu sedikit mancung, bibirnya tipis tapi sedikit berwarna gelap dan Dinda bisa mencium aroma maskulin yang memabukkan dari napas segarnya itu.

Ya Tuhan kau telah mengabulkan salah satu impianku, yakni dengan membuatku jatuh di pelukan pemuda tampan. Jika ini mimpi aku tak ingin bangun, tapi jika ini nyata aku ingin segera bangun.

Bukk!

Agaknya doa Dinda langsung dikabulkan oleh sang Pencipta, tangan pemuda itu serta merta melepaskan tubuh Dinda begitu saja hingga gadis cantik itu terhempas ke tanah dengan posisi duduk.

Sialan!

Dinda mengumpat pelan. Ia mendongak ke atas dan memadang tajam ke arah pemuda berwajah ketus itu.

"Tadi gak usah nolongin kalau mau jatuhin juga," kata Dinda seraya membersihkan rok seragam sekolahnya dengan tangan kosongnya. Menepuk-nepuk roknya agar tanah dan debu yang menempel hilang.

"Enak aja. Gue gak nolongin lo. Lo aja yang ngehalangin jalan gue," jawab pemuda itu dengan ketus.  Pemuda itu berpawakan tinggi, mungkin tingginya sudah seratus tujuh puluh centi, terbukti dengan ia tak perlu lompat-lompat pagar mengamati ke dalam.

"Please bantuin gue masuk. Gue anak baru di sini," kata Adinda yang tak punya pilihan lain selain meminta tolong kepada pemuda tinggi tersebut.  Pemuda itu menoleh dan menatap Dinda dengan tatapan 'siapa lo?!'

"Ogah! Lagian anak baru pake telat segala!" seru pemuda itu.

"Anak lama juga telat."

"Kan senior!"

"Junior buat kesalahan juga ditoleransi sama senior seharusnya!" jawab Dinda tak mau kalah. Pemuda itu kembali memandang Dinda, kali ini wajahnya berekspresi, tapi bukan ekspresi persahabatan, melainkan kekesalan karena Dinda terus saja menjawab ucapannya.

"Emang lo bisa panjat? Panjat aja,"

"Kalau gue bisa, udah dari tadi gue masuk dan gak akan minta tolong ke lo."

"Masalahnya gue gak mau nolongin cewek bawel kayak lo," kata pemuda itu to the point. Dinda memicingkan matanya, ia heran sekali dengan makhluk tampan tak berperasaan seperti pemuda di hadapannya itu. Dinda meneliti baik-baik penampilan dan postur tubuh pemuda itu.

"Jadi lo cuma punya badan gede doank tapi gak guna?" ledek Dinda yang membuat pemuda itu menoleh lagi dan menatap Dinda dengan geram. "Ternyata, ckckckck," ujar Dinda lagi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai menyusun batu untuk ia pijak kembali.

Pemuda itu paling tak suka ada orang yang menghina kemampuannya, apalagi orang itu adalah perempuan. Dia tak terima sama sekali. Serta merta pemuda itu jongkok di samping Dinda yang kaget dan memandangnya bingung.

"Eh? Mau ngapain lo jongkok gitu? Mau ngintip, ya! Awas kalo mesum, gue teriak sekarang!" kata Adinda mengancam. Pemuda itu tersenyum remeh.

"Siapa juga yang tertarik sama cewek nilai B kayak lo! Gue ogah!" balas pemuda itu tak kalah sadis. Dinda melotot mendengarnya dan menatapnya sebal. "Buruan naik pundak gue sebelum gue berubah pikiran!" kata pemuda itu seraya menepuk bahunya, memperlihatkan keseriusannya menolong Dinda.

"Awas kalau sampai lo ngintip!  Gue sunat lo!" kata Dinda yang mengancam pemuda itu.

"Udah buruan jangan bawel atau lo gue tinggalin di sini!" ancam pemuda itu. Pemuda itu telah berjongkok dan Dinda yang merasa sudah tak punya waktu lebih lama lagi karena pasti upacara sekolah akan segera usai, menaikkan satu kaki kanannya di pundak kanan pemuda itu.  Pemuda itu meringis merasakan beban di pundak kanannya lalu di pundak kirinya. "Badan gak bersisi tapi berat." gumamnya.

"Apa?" tanya Dinda tak mendengar sama sekali apa yang digumamkan pemuda tersebut.

"Udah buruan!" seru pemuda itu tak sabar.  Dinda segera menaikkan badannya menuju atap beton dan mendorong tubuhnya lebih kuat hingga akhirnya ia berhasil melompat pagar beton tersebut. Sebuah senyum cantik terlukis di benaknya. Tak berselang lama pemuda arogan tadi juga sudah berdiri di sampingnya dan menatapnya jutek.

"Thanks, ya," kata Dinda tulus.  Tapi pemuda dingin itu tak menanggapi dan berjalan meninggalkan Dinda. Dinda mengikutinya tapi baru beberapa langkah pemuda itu berhenti dan Dinda menabrak tubuhnya.  "Awww! Rem blong ya, bos? Mendadak banget berhenti!" kata Dinda seraya mengelus-elus jidatnya yang tertabrak punggung pemuda itu.  Tak ada jawaban. Dinda menengok dan ia kaget mendapati beberapa guru ada di depan mereka.

Mati gue!

Bab 2

Ruang BK itu memanjang ke arah kanan. Sebelum Dinda dan pemuda yang ternyata bernama Mahesa itu berakhir di sana, ada beberapa siswa dan siswi yang juga berada di sana dan jumlahnya lumayan. Tanpa sadar Dinda tersenyum membuat Mahesa melirik ke arahnya heran.

"Ngapain cengar cengir kek orang kesetanan?" bisik Mahesa di telinga Dinda dengan sangat pelan.

"Gue seneng karena ternyata bukan hanya kita aja yang bakalan kena hukuman," kata Dinda bahagia dan tersenyum jahil.

Salah satu guru BK yang terlihat menyeramkan dengan kumis lebat dan janggut tipis itu sedang memberi nasehat panjang lebar ke arah para siswa dan siswi yang telat masuk kelas, termasuk Mahesa dan Dinda. Kalimat-kalimat yang sama yang diucapkan para guru pada umumnya.

Mau jadi apa kalian jika datang ke sekolah aja terlambat?

Kalian sudah duduk di bangku SMA.

Seharusnya kalian itu jadi contoh remaja-remaja teladan. Bukan remaja telatan!

Nasehat-nasehat seperti itulah yang terus dikatakan oleh Bapak guru BK yang bernama Pak Mukhlis. Ketika Pak Mukhlis melewati Mahesa, ia memandang pemuda itu sejenak dan berdehem ke arahnya seraya melirik ke arahnya dengan tatapan heran. Kemudian ia menghembuskan napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ketika Pak Mukhlis kembali berjalan dan berhenti tepat di depan Dinda, ia menatap Dinda yang sedang menundukkan kepalanya karena merasa takut. Ia memerhatikan Dinda dengan seksama dan dahinya berkerut, mungkin karena beliau merasa tak pernah melihat wajah Dinda di barisan ruangan BKnya

"Angkat wajahmu," katanya dengan tegas, ia harus memerhatikan wajahnya dengan seksama. Setelah Dinda mengangkat wajahnya, Pak Mukhlis semakin terkejut, apalagi bet sekolah yang dikenakan di seragam abu-abunya hanya bet depan saja. Tidak ada pengenal kelasnya. "Siapa kamu?" tanya Pak Mukhlis.

"Saya Adinda, Pak. Siswi baru pindahan dari Bandung," kata Adinda pelan.

"Siswi baru? Kelas berapa?"

"XI MIPA 2," jawab Adinda dengan menatap sekilas ke arah pak Mukhlis lalu wajahnya tertunduk kembali.

"Baru hari pertama dan udah lompat pagar?" tanya Pak Mukhlis dengan sedikit geram.

"Maaf, Pak," kata Dinda.

"Kalian semua gak dapat jatah istirahat! Yang perempuan bersihkan toilet perempuan dan yang laki-laki bersihkan toilet laki-laki," kata Pak Mukhlis memberi hukuman. "Sekarang bubar, masuk ke kelas!" kata Pak Mukhlis.

Para murid yang terkena masalah itu langsung berebut keluar ruang BK. Karena Adinda tak tahu di mana kelasnya, ia mengikuti Mahesa yang berjalan tergesa ke arah tangga. Mahesa cuek saja saat Dinda memanggil-manggil namanya. Sedangkan Dinda sibuk melihat ke sekeliling dan membaca tanda kelas di atas pintu saat ia sudah berada di lantai dua gedung sekolah itu.

"Tahu kelas gue, gak?" tanya Dinda, tapi Mahesa tak menyahut sama sekali. Dinda sedikit berlari mengejar Mahesa dan akhirnya berhasil menyamai langkah kaki pemuda itu.  "Lo kadang-kadang tuli, ya?" tanya Dinda dengan nada mengejek. Dinda tahu kelemahan Mahesa dengan cepat, agar lelaki itu memerhatikannya. Harus ada sedikit sentilan hinaan rupanya, pikir Dinda kala Mahesa memutuskan berhenti dan menatapnya jengah.

"Lo punya mata dan bisa baca, kan? Cari sendiri kenapa?!" kata Mahesa tak kalah ketus.

"Kan, lebih cepet tanya ke lo."

"Kenapa harus gue? Kenapa gak tanya yang lainnya tadi?" tanya Mahesa.

"Gue kenalnya cuma sama lo. Sama mereka nggak."

"Tapi gue gak kenal sama lo."

"Lo bisa baca nama gue di sini," tunjuk Dinda pada tanda nama yang berada di dada atas kanannya yang langsung bisa dibaca dengan jelas oleh Mahesa. Mahesa merasa sangat sebal. Gadis itu selalu saja bisa menjawabnya.

"Gak penting!" kata Mahesa seraya masuk ke kelas yang siswanya pada berisik dikarenakan gurunya belum datang. Dinda mengangkat wajahnya dan melihat plang tanda kelas di sana.  XI MIPA 2. Dinda tersenyum senang. Ketika ia melangkahkan kaki masuk, angin segar berhembus dan mengibarkan rambutnya. Langkah kakinya melambat. Beberapa siswa tanpa sengaja menoleh ke arahnya dan melihatnya yang sangat cantik berjalan seperti artis iklan shampo ke dalam kelas mereka. Satu siswa dari para siswa siswi di kelas itu menyuruh teman-temannya untuk diam menutup mulut dengan salah satu telunjuk diarahkan ke bibirnya.

"Sssstttttt!" kata pemuda itu yang langsung ditanggapi seluruh siswa kelas itu. Mereka semua memandang takjub ke arah Dinda yang kecantikannya sekelas Natasha Wilona atau Emma Watson.

Tak berselang lama, satu guru perempuan berkacamata memasuki kelas dan mendahului langkah Dinda lalu berhenti tepat di depan Dinda. Demi melihat pesona Dinda yang cantik itu, ia sampai melepas kacamatanya dan memerhatikan Dinda dengan seksama.

"Saya siswi baru, Bu," kata Dinda pada guru tersebut dengan senyuman khas yang menambah kesempurnaan parasnya.  Para siswa berdehem lembut dan terbuai dengan senyum Dinda, kecuali Mahesa yang terlihat malas. Ia merasa sial hari itu dan itu semua ia pikir karena Adinda.

"Oh, kamu yang pindahan dari Bandung itu?" tanya guru Fisika yang juga merangkap menjadi wali kelas XI MIPA 2. Dinda mengangguk membenarkan ucapan guru itu yang tersenyum melihat satu muridnya sangat cantik.  "Kau cantik sekali, sama persis seperti aku saat muda," kata guru tersebut narsis yang membuat Dinda menatap baik-baik ke arah gurunya dan beberapa siswa berseru dengan nada yang aneh. Seolah tak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakannya barusan. Ya, bagaimana para siswa di sana bisa percaya? Dinda memiliki bibir yang bagian bawahnya terdapat garis belahan, bentuknya pun mungul dan indah, tak seperti gurunya yang cenderung tebal. Kulit Dinda putih, gurunya sawo matang. Hidung Dinda macung sekali, tak seperti gurunya yang sedikit minimalis. Mata indah Dinda dengan bulu mata asli yang lentik itu berbanding terbalik dengan mata sipit gurunya dengan bulu mata yang lurus seperti kena rebonding. Dan masih banyak lagi perbedaan mencolok lainnya diantara keduanya.

"Yang cantik kayak Dinda ya,  Mamanya, Bu," kata salah seorang siswa yang langsung disambut gelak tawa siswa lainnya. Sang guru menatap kesal kepada muridnya, tapi ia tak bisa marah, bagaimanapun buruknya siswa kelas XI MIPA 2 di mata guru lainnya, tetap saja kelasnya paling menonjol kalau soal berkompetensi dan nilai pelajaran. Kelas itu hanya sering gaduh saat jam kosong pelajaran, membuat kelas lain sangat kesal.

"Kapan-kapan akan Ibu bawakan foto ibu pas masih muda," kata guru tersebut.

"Aku sudah punya foto Ibu. Ada di album Mamaku. Ibu sama Mamaku satu angkatan, loh. SMA 3 Malang, kan?" kata salah seorang siswi. 

"Sudah-sudah, ayo sekarang kamu kenalkan dirimu, Dinda," kata Bu Guru tersebut.

"Kenalkan, saya Adinda Adiswara," kata Dinda yang langsung membuat Mahesa mendongak kaget ke arahnya.  Namanya sama dengan namanya.

"Eh, kalen saudaraan? Kok nama kalian sama?" tanya Helen seraya menoleh ke belakang dimana Mahesa berada. Mahesa hanya mengedikkan bahu. "Tapi kalian gak ada mirip-mirpnya sama sekali kok. Dia putih, lo coklat eksotis. Nama kalian aja kale ya, yang mirip," imbuh Helen. Mahesa kembali mengedikkan bahu tanda ia tak peduli.  Mahesa memang selalu tak memedulikan sesuatu yang menurutnya tak penting. Sementara Dinda menceritakan hobi dan kegemarannya, Mahesa menyumpalkan earphone ke telinganya.

Salah seorang siswa angkat tangan kala Dinda masih membicarakan soal dirinya. Sang guru mempersilahkannya bertanya.

"Dinda, kamu udah punya pacar? Kriteria cowok kamu bagaimana?" tanya siswa itu yang langsung mendapatkan sorakan ramai dari teman-teman kelas Dinda yang lainnya. Dinda tertawa kecil melihat tingkah konyol teman-teman kelasnya.

"Gak ada kriteria khusus jadi pacar aku. Yang jelas harus satu," kata Adinda dengan senyum yang penuh arti.

"Dia harus bisa mencuri hatiku dan Ayahku," lanjutnya.

"Ah, gampang."

"Bagaimana kau bisa mencuri hatiku dan Ayahku?"

"Tenang saja, aku bisa mengatasinya," kata siswa itu dengan berani. Dinda hanya tertawa kecil seraya mengangguk mengerti, lalu ia meminta ijin kepada gurunya untuk duduk.

"Kamu duduk di ..." mata Bu Guru tersebut mencari-cari bangku kosong.

"Apa boleh di sana, bu?" tunjuk Dinda ke arah Mahesa yang menunduk karena sedang main game di ponselnya.

"Boleh," kata Bu Guru tersebut. Dinda tersenyum senang dan segera berjalan ke arah di mana Mahesa berada, kemudian dengan segera ia menghempaskan pantatnya begitu saja di bangku sebelah Mahesa. Sontak lelaki itu langsung menoleh dan kaget melihat keberatan Dinda yang dengan ajaibnya duduk di sebelahnya sembari tersenyum cantik ke arahnya. Mahesa tak membalas senyum itu. Lelaki itu benar-benar dingin seperti es di kutub utara.

"Lo duduk di sini sampai pelajaran bu Nurul selesai," kata Mahesa dingin.

"Ya emang, lo lupa, ya? Kita habis ini bersihkan kamar mandi," kata Dinda acuh tak acuh. Bu guru Nurul sudah memulai menerangkan pelajaran Fisika kala Dinda dan Mahesa masih berdebat hingga bu Nurul menoleh ke arah keduanya dan meminta mereka menyelesaikan soal di papan tulis. Dinda berdiri dari kursinya.

"Kalo lo pinter dan gak mau duduk sebelahan sama gue di sini, ayo kita cepat-cepatan nyelesaikan sepuluh soal di papan tulis.  Lo lima, gue juga lima," tantang Dinda.

"Sapa takut. Kalo lo kalah, gue mau lo pindah duduk sekarang juga, selesai kita maju ke depan."

"Boleh. Tapi kalo lo yang kalah, lo harus nemenin gue kemanapun selama sebulan. Gue perlu tahu Malang dan sekolah ini lebih jauh," kata Dinda. Jika benar ia bisa menang, maka ia akan mendapatkan jalan-jalan gratis ke Malang yang sudah terkenal dengan tempat wisatanya.

"Deal," jawab Mahesa.  Keduanya berdiri dan mengambil bulpoin untuk papan tulis di depan. Mereka berlomba-lomba memberi jawaban kepada sepuluh soal yang tertera. Terkadang Mahesa berhenti untuk membaca soalnya kembali saat ia merasakan sakit di bagian kepalanya yang peenah terluka.

"Saya sudah selsai, Bu," kata Dinda yang langsung membuat Mahesa diam seribu kata. Mahesa hanya kurang satu soal saja. Tapi Dinda sudah lebih dulu selesai, padahal soal yang dikerjakan oleh Dinda jauh lebih sulit dari yang Mahesa kerjakan.

"Ibu emang denger,  kamu juara olimpiade Fisika tahun lalu, kan?" kata Bu Nurul yang seketika membuat Mahesa memucat.

Mahesa salah estimasi.

Bab 3

"Lo curang!" tuduh Mahesa kepada Adinda selepas jam pertama pelajaran usai. Adinda sontak saja melotot heran mendengar tuduhan tak masuk akal itu.

"Kok lo ngatain gue curang sih?" kata Adinda tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Mahesa. Mahesa masih menatap Dinda dengan kesal, baru kali ini ia dikalahkan dalam pelajaran favoritnya, Fisika. Dan yang ngalahin dia cewek pula.

"Ya lo curang pokoknya! Lo pilih soal yang gampang!" kata Mahesa menyudutkan Dinda. Dinda tertawa sumbang mendengarnya.

"Entah itu soal gampang atau gak, gue menang dari lo dan lo gak bisa lari dari tanggung jawab gitu aja," kata Dinda.

"Lari dari tanggung jawab?" tanya pemuda berkaca mata yang terkenal cupu dan suka ikut campur. Seperti sekarang ini. Ia menatap Mahesa dan Dinda bergatian. "Lo hamilin Dinda?" tanyanya sedikit berteriak hingga teman-temannya yang membuat gaduh di kelas itu langsung berhenti dan menatap ke arah mereka bertiga yang duduk di belakang.

"Paan sih lo!" kata Mahesa kesal dengan mata mendelik.

"Lah barusan Dinda minta pertanggungjawaban dari lo! Itu berarti lo udah hamilin dia!" kata pemuda itu yang bernama Roni.

"Hah?"

"Masak?" lalu kelas itu seketika gaduh begitu saja, hingga akhirnya guru bahasa Indonesia, Pak Wirata datang.

"Ada apa ini rame-rame?" tanya Pak Wirata dengan nada keras yang lebih terkesan menghardik para penghuni kelas. Matanya yang tajam itu melihat dengan seksama ke arah murid-muridnya satu persatu yang kini diam bagai patung. Termasuk Mahesa dan juga Dinda.

"Anu, pak, Mahesa hamilin Dinda!" seru pemuda berkaca mata itu langsung ke Pak Wirata yang memandangnya dengan mata tajam hingga membuatnya menelan ludah dan mengatakan hal tak benar itu begitu saja.

"Kamu bilang apa?" tanya Pak Wirata berteriak yang langsung membuat semua siswa XI MIPA itu kaget bukan main, termasuk Mahesa dan Dinda.

"Lo ngompol, Jhon!" seru pemuda yang lain seraya memencet hidungnya dan menatap ke arah pemuda yang telah bicara tadi. Pemuda itu bernam Jhonny tapi sering disebut Jojon oleh teman-temannya lantaran ia penakut, suka bicara gak benar dan terbata-bata. Ketara sekali kalau wajah Jhonny sedang ketakutan saat Pak Wirata bertanya tadi. Bibirnya bahkan gemetaran.

"Ini kelas apa toilet sih! Hoek!" salah seorang siswi tak tahan dengan bau pesing dari Jhonny hingga ia berlari ke luar kelasnya dengan beberapa kali mual. Pak Wirata geleng-geleng kepala.

"Jhonny segera ke koperasi sekolah dan minta ganti celanamu! Tapi bersihkan kencingmu dulu!" perintah pak Wirata tegas.

Jhonny tergagap, ia segera bergerak "Ba- baik, pak," kata Jhonny akhirnya sembari berjalan keluar kelas. Mahesa dan Dinda saling pandang dengan tatapan melotot satu sama lain.

"Kenapa pandang-pandangan? Kalian benar punya hubungan dan kamu hamil?" tanya pak Wirata tiba-tiba yang langsung membuat kelas kembali rusuh karena ucapan pak Wirata tersebut. Semua teman Adinda dan Mahesa bersorak sorai kegirangan mendengar ucapan pak Wirata.

"Nggak benar, Pak," jawab Adinda dengan rasa kesal yang masih melingkupi dadanya. Jika saja Pak Wirata tahu bahwa Dinda bukannya pandang-pandangan ke Mahesa melainkan melotot sebal, tentu ia tak akan semalu ini. Hari ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke sekolah dan bertemu dengan Mahesa yang super duper menyebalkan.

Usai pelajaran Pak Wirata berakhir dan bel istirahat berbunyi, Dinda bangkit dari kursi tempat dudukny dengan sangat malas. Ia teringat akan hukuman yang diberikan oleh guru BK kepadanya dan Mahesa dan rasa malas membersihkan kamar mandi tentu menempel pada dirinya sangat lekat. Dinda menoleh ke arah Mahesa yang malah sibuk dan asyik sendiri dengan ponselnya tersebut.

"Kok lo malah nyantai? Kita kan mau bersihkan kamar mandi," kata Dinda mengingatkan. Tapi tak ada jawaban sama sekali dari bibir Mahesa, ia malah mengambil penutup matanya dan meletakkannya begitu saja di atas matanya yang terpejam.

"Ada yang namanya Adinda Adiswara?" tanya salah seorang tiba-tiba yang sudah masuk ke kelas Adinda. Pemuda tampan dengan seragam sekolah yang sama dengan yang lainnya itu celingukan ke sana ke mari hingga matanya berhenti pada Adinda yang sekarang membalas tatapannya datar. Ada rasa yang aneh yang entah mengapa tiba-tiba menjalar di dadanya kala pemuda itu saling berpandangan seperti ini dengan Adinda.

"Raditya ..." panggil seorang siswi dengan sebutan yang sangat manja. Raditya sedikit tersentak dan menoleh ke arahnya seraya menatap heran. "Ngapain kamu nyariin Dinda, kan ada aku di sini buat kamu," katanya lagi dengan nada yang membuat Dinda menaikkan satu alis matanya sembari menatap dengan heran. Gadis itu merangkul lengan Raditya dan Raditya terlihat risih.

"Gue di sini disuruh sama Pak Mukhlis," kata Raditya dingin seraya mencoba melepaskan diri dari perempuan yang merayunya.

"Ohhh ..." kata gadis itu kecentilan. "Tuh siswi yang lo cari," kata gasis itu dengan wajah dan dagunya yang menunjuk ke arahku.

"Dinda?" panggil Raditya ke arah Adinda. Yang dipanggil mengangguk ke arahnya. "Diminta pak Mukhlis datang ke toilet sama Mahesa," katanya lagi. Gadis disebelah Raditya tersenyum lebar mendengarnya.

"Ketahuan telat,ya?" tanya gadis di sebelah Raditya itu. Dinda tak menjawab, ia malah mengambil penutup kepala Mahesa dan menggoyang-goyangkan tubuh pria itu. Mahesa masih bergeming di tempatnya dan tak memedulikan sama sekali gugahan dari Adinda.

"Gue gak ngerti toilet yang mana, bangun!" kata Adinda.

"Gue anterin, Din," kata Raditya tiba-tiba yang membuat Dinda dan gadis manja di sebelah Raditya menoleh ke Raditya. Dinda heran, kenapa pemuda itu mau nganterin dia? Mereka saling ngomong aja enggak kok.

"Ayok, Hes!" kata Dinda masih berusaha untuk mengajak Mahesa ikut serta dengannya. Mahesa terpaksa membuka matanya dan melirik sebal ke arah Dinda yang tak menyerah sama sekali dalam usahanya mengajaknya ke toilet. Mahesa melirik sebentar ke arah Raditya yang entah mengapa bertahan di kelasnya dan menawarkan diri kepada Adinda untuk mengantarkannya.

Dinda kesal dengan Mahesa, ia pun menghentakkan kakinya dan berjalan lebih dulu. Mahesa kemudian bangkit lalu menyusul Dinda.

"Maaf kak, ngerepotin, tapi toilet yang mana, ya?" tanya Dinda sopan. Raditya terpaku melihat kecantikan Adinda, ia pikir dadanya berdebar itu kemungkinan karena Dinda yang sangat cantik.

"Toilet itu ya ada tulisannya toilet!" jawab Mahesa sewot. Dinda menoleh ke arahnya dengan menatap sebal sekali.

"Lo pikir gue gak bisa baca?" tanya Dinda kesal.

"Kalo nyadar bisa baca, tinggal nemuin aja apa susahnya! Dasar manja!" kata Mahesa seraya berjalan keluar dari kelasnya. Dinda melotot tak terima dengan hinaan yang dilontarkan Mahesa kepadanya itu. Ia pun buru-buru menyusul Mahesa dan tak menghiraukan tawaran Raditya yang berniat mengantarnya.

"Brukk!" Mahesa terjatuh setelah Dinda menendang kakinya dari belakang. Kejadian itu membuat para siswa siswi di sekitar mereka menoleh kaget ke Dinda dan Mahesa. Mahesa geram bukan main.

"Lo tuh ya!" Mahesa ingin marah tapi ketika ia melihat Pak Mukhlis mendekati mereka, ia tak jadi dan hanya memelototi Dinda yang dibalas Dinda berani

"Lo harus tanggung jawab jika gak mau gue sebut pengecut!" bisik Dinda mendekat ke arah Mahesa. Mahesa hanya menarik napas berat.

Duh gusti, kenapa gue bisa ketemu cewek jadi-jadian macam dia!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED