Alya duduk di kursi kayu yang dingin, di samping ranjang rumah sakit tempat ibunya terbaring lemah. Seperti setiap pagi, dia menatap wajah Kartika dengan penuh harap, meskipun harapan itu sudah hampir menjadi legenda. Wajah ibunya kini memancarkan keteduhan yang berbeda; kulitnya yang dulu cerah kini tampak pucat, dan mata yang dulu tajam kini tampak kosong, seolah setiap tetes energi telah disedot dari tubuhnya. Alya menyentuh tangan ibunya yang kurus, seakan ingin mengalirkan kehangatan dan kehidupan melalui genggaman itu.
"Ma, lihat, aku membawa bunga favoritmu," Alya berusaha tersenyum, menunjukkan seikat bunga matahari yang baru saja dibeli di pasar. Bunga itu berwarna cerah, seolah menantang kesuraman ruangan itu. Namun, senyum Alya terpaksa, seperti selalu. Kartika membuka matanya perlahan, dan meskipun matanya hanya sejenak berkedip, Alya merasa seolah dunia berhenti sejenak.
"Ma... aku di sini," bisik Alya, suaranya bergetar seperti daun yang ditiup angin. "Kita akan melalui ini bersama. Aku janji, Ma."
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Alya. Seorang perawat muda dengan jas putih, wajahnya cerah dan penuh perhatian, masuk membawa troli berisi peralatan medis. Alya menatapnya sejenak, seolah berharap dari wajah perawat itu, ada sebuah jawaban. Namun, perawat itu hanya melambaikan tangan dengan senyum kecil sebelum pergi tanpa berkata apa-apa.
Pandangannya kembali ke ibunya yang terbaring, dan ia merasakan sebuah sakit yang tak terungkapkan-rasa bersalah yang menghimpit dada, membuatnya sulit bernapas. Sudah sebulan lebih sejak dokter mengungkapkan diagnosa itu, dan setiap hari, Alya merasakan beban yang semakin berat. Kartika membutuhkan transplantasi organ yang biayanya luar biasa mahal. Tidak hanya itu, donor yang cocok untuknya pun sangat langka. Alya yang bekerja di sebuah kafe kecil di sudut kota, dengan gaji pas-pasan dan hutang yang menumpuk, tahu betul bahwa dia tak punya apa-apa untuk menyelamatkan ibunya.
Setiap kali melihat Kartika menatapnya dengan mata penuh harap, Alya merasa seperti harus menanggung semua kesalahan di dunia ini. Ia tak pernah membayangkan bahwa sebuah hari seperti ini bisa datang. Di benaknya, ibunya selalu menjadi wanita yang penuh semangat, penuh kasih, sosok yang tak pernah sekalipun mengeluh tentang hidup yang keras. Kartika, seorang ibu tunggal yang telah membesarkan Alya sendirian, selalu menjadi pahlawan dalam hidupnya. Kini, Alya hanya bisa duduk dan menangis diam-diam, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depan ibunya.
"Kana..." suara Kartika, meskipun lemah, berhasil menggetarkan hati Alya. Ia menunduk, mendekatkan telinga.
"Apa yang, Ma?"
Kartika menggenggam tangan Alya dengan tenaga yang tersisa. Meskipun kelembutan jari-jarinya semakin hilang, setiap genggaman terasa seperti pesan yang tak ingin dia lupakan. "Jangan... jangan takut. Kau... kuat."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar, dan seorang pria dengan jas hitam masuk dengan ekspresi serius. Niko, seorang pengusaha muda yang memiliki segalanya, kecuali mungkin kebahagiaan sejati. Wajahnya yang tampan itu seperti terbuat dari batu, namun ada sesuatu di matanya-sesuatu yang membuat Alya terkejut. Ia berdiri di sana, di ambang pintu, seolah tengah mempertimbangkan sesuatu.
Alya menatapnya dengan curiga, namun juga dengan rasa ingin tahu yang tak bisa dia pungkiri. Niko, pria yang hanya pernah dia dengar namanya di berita atau di lobi rumah sakit tempat ibunya dirawat, kini berdiri di hadapannya, seolah membawa dunia di bahunya.
"Kana, aku datang untuk bicara," katanya, suaranya serak, penuh tekanan.
"Untuk apa, Niko?" Alya menjawab dengan nada yang lebih tajam dari yang ia maksudkan. Dia tahu ini mungkin tidak adil, tapi hatinya sudah terlampau terluka untuk bersikap lembut.
Niko menghela napas, seolah mencoba menenangkan dirinya. "Aku tahu situasi ibu kamu. Aku bisa membantu. Tapi ada syaratnya."
Alya terdiam. Jantungnya berdetak begitu keras, hampir mengalahkan suara di sekelilingnya. Dia menatap pria itu, mencoba membaca ekspresi di wajahnya, mencoba mencari tahu apa yang ada di balik kata-katanya. "Syarat apa?"
Niko melangkah lebih dekat, hanya satu langkah lagi, dan jarak di antara mereka semakin sempit. "Aku ingin kamu menjadi ibu pengganti untuk anak yang akan aku dan istriku miliki."
Alya terbelalak, seolah sebuah petir menyambar tubuhnya. Kata-kata itu menari di udara, seolah ingin menembus kulitnya, menjalar ke dalam otaknya, memaksanya mencerna kenyataan yang begitu sulit diterima. "Ibu pengganti? Untuk anak... untuk kalian?" Suaranya gemetar, hampir tak terdengar.
"Ya, dengan kompensasi yang cukup besar, lebih dari cukup untuk menyelamatkan ibu kamu," jawab Niko, menatapnya dengan mata yang tajam, seolah ingin menilai reaksi Alya.
Alya merasa pusing, seakan bumi di bawah kakinya bergoyang. Dia menatap ibunya, yang kini memandangnya dengan mata penuh pertanyaan. Ingin rasanya Alya berteriak, mengatakan bahwa semua ini gila, bahwa hidup tidak seharusnya diputarbalikkan seperti ini. Namun, di dalam hatinya, ada seberkas harapan yang berdebar, takut, namun juga mendesak.
"Ini... ini satu-satunya cara, bukan?" Alya berkata, suaranya hampir hanya berupa bisikan.
Niko mengangguk, bibirnya sedikit tersenyum, namun matanya tak turut tersenyum. "Kamu tak perlu menjawab sekarang. Tapi ingat, ini bukan hanya untukmu, ini juga untuk ibumu. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
Ketika Niko keluar dari ruangan, Alya hanya bisa menatap kosong ke arah pintu yang tertutup rapat. Di luar sana, hidup terus berjalan, dan dalam sekejap, hidupnya berubah selamanya.
Pagi itu, Alya duduk di beranda rumah sakit yang ramai, di antara deretan bangku logam dan pepohonan kecil yang tumbuh dengan gigih, seperti mencoba bertahan hidup di tempat yang tak pernah benar-benar mereka miliki. Udara pagi yang segar berbaur dengan bau antiseptik dan riuh rendah suara pengunjung yang hilir-mudik. Alya menatap langit yang masih kelabu, seolah mencoba mencari jawaban di antara awan yang bergerak perlahan. Semua yang baru saja terjadi masih terpatri dalam pikirannya, seperti sebuah mimpi buruk yang tak bisa diabaikan.
Sejak Niko mengunjungi rumah sakit kemarin, pikirannya dipenuhi oleh perasaan yang bercampur aduk-kekhawatiran, harapan, kebingungan, dan juga rasa bersalah. Dia mengingat setiap kata yang diucapkan Niko, yang seolah-olah mengalir dalam darahnya, membekas di dalam jiwa. "Aku bisa membantu," kata pria itu, suaranya serak namun penuh makna. Tapi bagaimana bisa Alya, yang sudah merasakan betapa sulitnya hidup dengan kekurangan, menerima tawaran yang terdengar seperti jalan keluar dari cerita yang salah?
Suara pintu kaca yang terbuka menarik perhatian Alya. Seorang pria dengan jas hitam melangkah masuk ke area tempat duduk, ekspresinya serius, dan mata yang tajam seolah bisa menembus rahasia terdalam Alya. Niko. Pria yang tampaknya memiliki segala sesuatu, kecuali mungkin kebahagiaan sejati, berdiri di hadapannya, membawa sebuah aura kekuasaan yang sulit disangkal.
Alya memandangnya dengan ragu, napasnya terputus-putus. "Kau datang lagi, Niko?" suaranya sedikit lebih tegas dari yang ia maksudkan, tapi hatinya sedang berkecamuk, mencari pegangan di tengah badai perasaannya.
"Maaf kalau aku mengganggu. Tapi aku perlu tahu keputusanmu, Alya," jawab Niko, suara lembutnya mengandung urgensi yang sulit disembunyikan. Ia duduk di kursi di hadapan Alya, dan ada jarak di antara mereka, jarak yang tak bisa diisi meskipun mereka duduk begitu dekat.
"Keputusan?" Alya mendesah, menundukkan kepala. Hatinya seperti tercekik. Seperti ada yang menekan dadanya hingga sesak. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Niko. Ibu aku... dia... dia sudah hampir kehilangan segalanya, dan aku merasa seperti satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menerima tawaranmu ini."
Niko menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Kau tak sendirian, Alya. Aku tahu ini sulit. Tapi lihatlah, ibumu sudah berjuang begitu keras. Ini bukan hanya tentang uang, ini tentang kesempatan untuk membuatnya hidup."
Alya mengangkat wajahnya, matanya basah. "Tapi apa yang akan terjadi padaku? Aku... aku bukan hanya ibu pengganti. Aku juga manusia, Niko. Aku punya rasa, punya hati. Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan."
Mata Niko melembut, ada sedikit penyesalan di sana. "Aku tahu. Dan aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa apa yang aku minta darimu tidak mudah. Tapi aku... aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tidak ingin kau merasakan kehilangan itu lagi."
Tiba-tiba, Alya merasakan getaran di ponselnya. Ia mengangkat tangan, melihat pesan singkat dari dokter. Matanya membulat saat membaca kalimat yang membuat darahnya terasa membeku: "Kondisi ibu Anda memburuk. Segera datang ke ruang perawatan."
Tanpa pikir panjang, Alya bangkit berdiri. Niko segera berdiri mengikuti langkahnya, tatapan penuh kekhawatiran. "Alya, tunggu-"
"Tidak, aku harus pergi," ucapnya dengan suara yang hampir seperti bisikan. Kakinya terasa lemas, namun dia memaksa dirinya untuk berjalan. Rasa takut yang mendalam menguasai tubuhnya, meresap ke dalam tiap urat nadi. Ibu. Dia tidak bisa membayangkan kehilangan ibunya sekarang.
Ruangan perawatan penuh dengan kesunyian yang mencekam. Kartika terbaring di ranjang, matanya terpejam, dan pernapasannya terdengar lemah, seolah setiap helaan nafas adalah usaha terakhir untuk tetap bertahan. Alya duduk di sampingnya, meremas tangan ibunya dengan lembut, seolah berharap dapat mengalirkan tenaga, kasih sayang, dan harapan melalui sentuhan itu.
"Ibu, aku di sini, aku tidak akan pergi. Aku janji. Jangan tinggalkan aku, Ma..." Alya berkata, suaranya terputus-putus, penuh dengan air mata yang mengalir tanpa bisa dikendalikan.
Tiba-tiba, mata Kartika terpejam rapat, dan seulas senyum kecil muncul di bibirnya. Seperti ingin menyampaikan pesan terakhir, ia meremas tangan Alya sekali lagi sebelum akhirnya, dalam hembusan nafas yang sangat pelan, matanya terpejam untuk terakhir kalinya.
Waktu seakan berhenti. Dunia di sekitar Alya menjadi sepi, hanya ada dirinya dan kenangan tentang ibunya yang tinggal di dalam hati. Kepergian Kartika meninggalkan kekosongan yang tak bisa diisi dengan apa pun. Dan dalam kebisuan itu, Alya merasakan sebuah kebenaran pahit-bahwa setiap pilihan yang diambilnya akan melukis takdirnya sendiri, baik itu dalam kebahagiaan atau dalam penyesalan yang tak termaafkan.
Alya duduk di kursi kayu yang sama, namun kini ruangan itu terasa lebih sepi, lebih hening dari sebelumnya. Wajahnya pucat, matanya bengkak akibat menangis semalaman tanpa henti. Tangan kanannya menggenggam sepotong kain yang dulu dipakai ibunya, sisa aroma parfum bunga melati yang masih menempel di sana, seolah mengingatkannya pada hari-hari penuh kasih sayang dan tawa yang kini hanya tinggal kenangan.
Alya merasa seolah-olah dirinya sudah tak memiliki apa-apa lagi. Ibunya, satu-satunya yang pernah dia miliki, kini telah pergi, meninggalkan kesepian yang menggigit jiwanya. Seperti sebuah badai yang merobohkan segalanya dalam sekejap, kehilangan itu menorehkan luka yang tak mungkin sembuh.
Di dalam kepedihan itu, Alya merasakan sebuah ketegangan yang aneh, sebuah suara di dalam dirinya yang mulai berbisik. Suara itu menyuruhnya untuk melawan, untuk bertahan, dan untuk mencari cara. Tapi dari mana ia harus memulai? Tanpa ibu, tanpa harapan, tanpa arah. Kehilangan itu, meskipun nyeri, meninggalkan sesuatu yang lain-kekosongan yang membuatnya terjaga di malam hari, dengan hanya ditemani suara angin yang berdesir di luar jendela.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka perlahan, dan Niko masuk dengan langkah hati-hati, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam. Alya menatapnya, seolah baru menyadari kehadirannya. Wajah Niko penuh dengan ekspresi yang sulit dibaca-ada rasa empati, ada penyesalan, dan di antara semuanya, ada sesuatu yang lebih dalam yang Alya tidak bisa mengabaikan.
"Alya," Niko menyebut namanya dengan lembut, seolah takut suara itu bisa membangunkannya dari mimpi buruk ini. "Aku minta maaf... atas apa yang terjadi."
Alya menoleh, matanya yang sembab menatap pria itu dengan kebingungan. "Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya, Niko?" suaranya terdengar lemah, seperti angin yang membisikkan kesedihan. "Apa kau tahu betapa kosongnya hidup ini ketika orang yang paling kau cintai pergi?"
Niko terdiam sejenak, wajahnya dipenuhi dengan rasa sesal yang mendalam. "Aku tidak tahu, Alya. Aku tidak tahu apa yang kau rasakan. Tapi aku tahu bagaimana rasanya berdiri di sisi tempat tidur seseorang yang hampir mati, menunggu keajaiban yang mungkin tak datang. Aku tahu bagaimana rasanya memandang mata orang yang kita cintai dan merasa tidak berdaya."
Kata-kata itu menghantam Alya, membuat dadanya sesak. Niko berdiri di sana, di tengah ruangan yang tak pernah lebih sepi dari ini, dan Alya tahu bahwa di balik semua kekayaannya, di balik segala kekuasaan dan kekuatan, pria ini juga manusia yang memiliki kesakitan dan kehilangan.
"Apa yang kau inginkan, Niko?" Alya berkata, suara suaranya semakin lemah, hampir tak terdengar. "Kenapa kau datang kemari?"
"Alya, aku datang bukan hanya untuk membicarakan tawaran itu," jawab Niko, mendekat dan duduk di kursi di sebelah Alya. "Aku datang karena aku tahu kau membutuhkan seseorang di sampingmu. Dan aku... aku ingin menjadi orang itu."
Alya mendongak, mata mereka bertemu dalam keheningan yang begitu dalam. Ada sesuatu di mata Niko, sesuatu yang membuat jantung Alya berdegup lebih cepat. Tapi di sisi lain, ada keraguan yang membayangi pikirannya. "Kau tidak bisa menebus rasa sakitku, Niko. Tidak dengan uang, tidak dengan tawaran, dan tidak dengan perhatianmu."
Niko mengangguk, mengakui kebenaran itu. "Aku tidak bisa. Aku tahu aku tidak bisa. Tapi mungkin aku bisa membantu. Mungkin aku bisa memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan materi. Aku ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang benar-benar sendirian, Alya. Bahkan di saat-saat terkelam sekalipun."
Sebuah air mata jatuh dari mata Alya, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak tahu apakah itu air mata kesedihan atau air mata kelegaan, tetapi yang pasti, ada sesuatu di dalam hatinya yang mulai meleleh, seolah dinding kebekuan yang menahannya perlahan retak.
"Apakah ini semua hanya tentang uang bagimu?" Alya bertanya, suara bergetar, mencoba menemukan ketulusan dalam kata-kata pria itu.
"Tidak, Alya. Ini tentang kesempatan untuk memperbaiki sesuatu. Ini tentang memberi kesempatan pada orang lain untuk hidup, dan mungkin juga, untuk menemukan makna di tengah segala kekacauan," jawab Niko, suaranya kini semakin dalam, penuh makna.
Di saat itu, Alya merasa seolah seluruh dunia berhenti bergerak. Suasana di sekitar mereka tampak meliputi mereka dalam keheningan yang penuh dengan pengertian. Ia tahu, apa pun yang terjadi selanjutnya, hidupnya tak akan pernah sama. Di dalam kesedihan yang begitu menyakitkan, sebuah benih harapan muncul, rapuh namun nyata. Perasaan itu-yang menyadarkan Alya bahwa mungkin, hanya mungkin, ada cara untuk melanjutkan hidup, meski harus berjalan di jalan yang penuh dengan pertarungan batin.
Alya menatap Niko, menilai setiap kata dan ekspresi yang terukir di wajahnya. Di mata pria itu, dia melihat lebih dari sekadar rasa bersalah. Dia melihat sebuah janji, mungkin janji yang belum sepenuhnya dia pahami, tetapi cukup untuk memberinya sedikit keyakinan.
"Jika aku menerima tawaranmu, Niko... itu berarti aku harus mengubah hidupku sepenuhnya. Aku harus memikirkan kembali siapa aku, dan apa yang aku inginkan. Apakah kau siap dengan konsekuensinya?"
Niko menghela napas, lalu mengangguk dengan tegas. "Aku siap, Alya. Aku hanya ingin kau tahu, aku di sini, bukan hanya sebagai orang yang ingin membantumu, tapi sebagai seseorang yang ingin berdiri di sampingmu, kapan pun kau membutuhkannya."
Alya terdiam, merasakan berat kata-kata itu. Dan di dalam dirinya, di tengah kebingungan, ada sebuah kilasan baru-sebuah harapan, yang meskipun rapuh, kini mulai tumbuh di hati yang hancur.