Bab 1

Hari Minggu di pagi hari yang lumayan dingin, membuat cowok yang bernama Ryan Pamungkas kini malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Dengan kasur lipat yang sempit berukuran 90x200 itu, ia berbaring dengan menggunakan selimutnya yang berwarna hitam. Tidurnya pulas sekali, sampai bunyi alarm pun tidak ia dengar. Bahkan bunyi telepon masuk dari pacarnya pun tidak juga diangkat.

“Tililit…tililit…!!” handphone Ryan berbunyi dan bergetar di samping tempat tidurnya. Sudah pukul 09.00 Ryan pun baru sadar, kalau pacarnya sudah menelepon hingga 10 kali. Pukul 07.00 5 kali, pukul 08.00 4 kali, dan terakhir pukul 09.00, yang membuatnya terbangun. Saat menelepon ke-10 kali, teleponnya tidak terangkat. Ryan pun bergegas untuk meneleponnya balik.

“Hallo, sayang,” ucap pacar Ryan, yang bernama Lala.

“Aduh, sayang, maaf ya, aku baru bangun,” ucap Ryan yang masih dengan suara seraknya, karena baru terbangun dari tidurnya.

“Iya, nggak papa, kok. Tapi kamu hari ini bisa nganterin aku kan, jalan-jalan ke mal?”

“Iya, pasti bisa dong, sayang.”

“Ya, udah, aku tunggu ya, di kosan aku, jam 10 an!”

“Oke.”

Ryan pun bergegas untuk pergi ke kamar mandi. Namun, saat itu kamar mandi sedang terisi oleh teman satu kontrakannya, Aldo.

Aldo dan Ryan adalah teman satu kuliahan di jurusan Tekhnik Sipil. Mereka memutuskan tinggal satu kontrakan sejak mereka saling mengenal di semester 1.

“Do, masih lama nggak?” teriak Ryan sambil menggedor pintu kamar mandi.

“Gue baru masuk, Yan!” teriak Aldo dari dalam kamar mandi. Dengan terpaksa Ryan pun menunggu Aldo yang sedang mandi, di depan ruang TV.

Tak terasa ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 09.30. Ia tidak sadar sudah menunggu Aldo selama itu. Ryan segera menuju kamar mandi dan menggedor pintunya lagi.

“Do, loe ngapain,sih? Main sabun?” sindir Ryan.

Tiba-tiba Aldo pun keluar dengan tampang rasa tidak bersalah. “Berisik!” katanya.

“Lama banget loe, Do!” gerutu Ryan. Saat Ryan masuk, tiba-tiba ia melihat cairan putih berceceran di lantai kamar mandi. “Astaga, Aldo…Aldo… saking jomblonya loe, ya!” gumam Ryan dan menghentakkan kakinya kesal. Segera ia mengguyur dengan air sampai tersiram bersih masuk ke lubang pembuangan air.

Aldo teman kuliahnya itu, memang sudah jomblo akut lama. Dia tidak pernah berpacaran sama sekali dalam hidupnya. Ia memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang, dan agak sedikit gemuk. Sebenarnya ia sudah cukup lama memendam perasaan dengan adik kelasnya, namun berada di fakultas dan jurusan yang berbeda darinya. Ia tidak berani mengungkapkannya, karena ia tahu diri.

Kemudian setelah Ryan membersihkannya , ia pun segera melucuti baju dan celananya dan menyiram air ke seluruh badannya untuk memulai mandi.

~~

Setelah Ryan selesai mandi, ia pun bergegas menyisir rambutnya dan melihat wajahnya di cermin. Ketika ia melihat dirinya sekarang, benar-benar membuatnya kecewa. Kenapa ia sekarang mempunyai begitu banyak jerawat di pipinya?

Dulu semasa SMA, dia adalah idola cewek-cewek di sekolah. Banyak cewek-cewek yang mengincarnya, bahkan menyatakan perasaan kepadanya. Namun setelah kuliah, wajahnya pun berubah pada saat menjelang semester 2. Wajahnya tiba-tiba dipenuhi dengan jerawat, sampai menimbulkan bekas jerawat di sebagian pipinya, membuatnya tidak setampan waktu ia SMA dulu.

Ia juga berpikir pacarnya, Alula Marisha, yang dipanggil Lala itu tidak menyukainya lagi, karena wajahnya sekarang tidak setampan dulu. Karena, dipikir-dipikir, setiap ia jalan dengan Ryan, ia selalu melirik cowok-cowok tampan di sekitarnya saat jalan dan mengomentarinya.

Lala adalah teman Ryan sewaktu SMA. Mereka berpacaran semenjak kelas XII sampai mereka semester 6 di kuliahan dan sama-sama mengambil jurusan Tekhnik Sipil di Universitas yang sama. Sudah 4 tahun mereka menjalin hubungan.

Sewaktu SMA, Lala lah yang menyatakan perasaan duluan kepadanya. Dari semua banyak cewek, di mata Ryan, ia adalah cewek yang cantik dan mempunyai kepribadian yang lembut. Maka dari itu, Ryan menerima menjadi pacarnya, karena Ryan pun menyukainya.

Tetapi, semenjak wajahnya berubah, Lala tidak seperti dulu. Walaupun Lala masih setia menjadi pacar dan sering jalan dengannya, sikap dan kepercayaan diri Lala saat berjalan dengannya berubah. Ia tidak lagi menggandeng tangan Ryan. Saat makan bersama pun, ia hanya melihat handphone. Sesekali ia kadang mencuri pandang cowok tampan yang berada disana. Apakah Lala akan setia sama gue dengan wajah gue yang seperti ini? Apa gue harus ke dokter kulit buat nanganin jerawat gue? Pikirnya.

Ryan pun pasrah dengan semua itu. Ia kadang memarahi Lala yang terkadang mengabaikannya waktu ia sedang berjalan bersama. Dan itu semua membuatnya over thingking sampai Ryan pernah cemburu saat Lala melakukan tugas dengan salah satu teman cowoknya di kampus. Ryan juga sering ribut dengan Lala karena masalah itu.

Untung Lala adalah cewek penyabar. Tetapi dalam benak Ryan tersimpan penyesalan, saat ia sering memarahi Lala. Ia takut kalau suatu saat, ia akan ditinggalkan oleh pacar yang disayanginya itu, karena sekarang Ryan menjadi sering over thinking.

Selesai dari berkaca di cermin, ia langsung mengambil kunci motor yang berada di laci belajarnya. Ia juga nggak lupa pamit sama teman satu kontrakannya tersebut, Aldo.

“Gue keluar dulu, Do, sama cewek gue!”

“Oke, take care Bro!” ucap Aldo dengan melambaikan tangan ke arah Ryan.

Ryan pun segera menancap gas motor gedenya yang ia parkir di halaman kontrakannya tersebut. Ia menyetir motornya dengan agak cepat, karena takut kalau pacar kesayangannya itu sudah menunggunya. Karena jam sudah menunjukkan pukul 09.55.

Ryan akhirnya sampai ke kos Lala. Lala tampak sudah siap dengan baju crop top berwarna putih yang hampir memperlihatkan pusarnya dan sebagian dadanya, serta jaket jeans berwarna biru denim untuk menutupi sebagian keseksian ceweknya tersebut. Ia juga tampak cantik dengan rambutnya yang digulung sedikit ke atas dengan sedikit menyisakan rambutnya ke depan di kanan dan kirinya. Lala juga tampil senatural mungkin. Ia tidak suka berdandan berlebihan seperti cewek-cewek pada umumnya. Ia hanya memakai lip balm, agar bibirnya tidak tampak kering. Itulah mengapa, Ryan suka terhadapnya.

Saat Ryan datang, Lala segera menghampirinya. Tidak salah lagi, kalau ceweknya tersebut on time dan tidak suka mengulur waktu.

“Yuk, jalan!” ujarnya sambil membonceng naik ke atas motor Ryan.

“Pegangan yang kenceng, ya!”

Ryan pun melaju dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin Lala ketakutan, jika ia menyetir motornya dengan cepat.

Seperti biasa, Lala bersikap aneh. Ia tidak lagi memeluknya saat berjalan di motor. Ia hanya memegang sedikit bajunya, supaya tidak terjatuh. Namun, Ryan tetap ingin berpikir positif, supaya mereka tidak ribut karena masalah sepele tersebut. Walaupun, dalam pikirannya, sangat ingin mengomel.

Bab 2

Sesampainya di mal, Lala langsung menuju ke stand toko baju yang ingin dibelinya itu. Ia berjalan cepat, tanpa menggandeng tangan Ryan atau merangkul lengannya.

Ryan menemaninya dengan sabar, saat Alula Marisha memilih-milih baju. Stand toko baju tersebut adalah produk import terkenal yang sedang diskon, sehingga Lala tidak mau ketinggalan dengan baju-baju bermerk yang didambakannya tersebut.

“Liat, sayang, bagus nggak di aku?” katanya sambil memperlihatkan atasan sweater berwarna coklat, dimana bajunya mempunyai lengan yang agak bergelembung, dengan pergelangan tangan yang mengerucut, serta di tengah kerahnya terdapat pita yang memberikan kesan imut.

“Heem, cocok kok, di kamu!” ulas Ryan tersenyum.

Lala pun segera mengambil baju yang dipilihnya itu dan meminta pelayan untuk membuatkan notanya.

“Terima kasih, ya, Kak!” katanya dan segera menuju ke kasir untuk membayar. Ryan pun merogoh dompetnya kala itu, untuk membayar baju yang dibeli Lala. Namun, Lala mencegahnya.”Ryan, nggak usah, biar aku aja yang bayar,” cegahnya sambil tersenyum ke arahnya.

“Sayang, aku bisa kok, beliin buat kamu,” ucap Ryan mendesak, namun Lala tidak menghiraukan pacarnya itu dan tetap membayar bajunya ke kasir.

“Sayang, aku tahu kok, kamu sedang nggak ada uang,” jawab Lala santai. Kan, kita statusnya masih anak kos, lagian itu baju juga masih tergolong mahal, walaupun harganya diskon.”

Ryan menggigit bibir bawahnya dan menurunkan pandangan matanya. Ia menggaruk-garuk lehernya dan menghela nafasnya pelan. Ia berpikir ingin sekali membuat senang pacarnya itu, tetapi karena keuangannya sangat terbatas dan memang lagi tanggal tua, jadi tidak bisa membelikannya.

“Ya, udah, aku traktir kamu makan, ya?” ucapnya sambil berpikir, apa yang ingin ia lakukan, supaya pacarnya itu senang.

“Traktir aku minum aja, nggak papa, kok!” jawab Lala santai, karena ia tahu keuangan Ryan seperti apa. Ryan mau tidak mau menuruti Lala, karena ia ingin membeli minuman saja.

Saat mereka sampai di stand minuman, Lala juga memilih minuman dengan harga termurah. Pacarnya, memang sepengertian itu. Makanya, Ryan tidak mau kehilangan dia. Ryan sebenarnya menyesal telah memarahinya terus menerus, karena cemburu masalah sepele. Lala adalah cewek cantik, makanya ia juga banyak disukai cowok-cowok di kampusnya. Kakak kelas pun beberapa ada yang naksir dia. Makanya, Ryan sampai over thingking begitu. Ditambah, wajahnya sekarang tidak setampan dulu dan Lala yang super ramah, welcome dengan pria yang dijumpainya.

Mereka duduk di bangku yang disediakan stand toko minuman tersebut. Seperti biasa, ceweknya itu diam dan hanya melihat-lihat orang-orang yang sedang berjalan. Tiba-tiba juga, ia berkomentar tentang cowok yang melewatinya.

“Ih, putih banget! Kok, bisa sih, ada cowok seputih itu?”

Ryan yang melihat Lala sedang mengomentari cowok yang melewatinya, langsung menegurnya. “Sayang, bisa nggak, kamu fokus sama aku aja?” ucap Ryan dengan tatapan cemburu.

“Enggak, aku…cuma komentar aja. Memang nggak boleh? Ya…kebetulan aja dia lewat. Semua orang juga aku liatin, kok. Nggak cuma cowok itu doang,” ucap Lala beralasan.

Ryan hanya terdiam. Tiba-tiba ia terfokus dengan belahan payudara Lala yang membuat Ryan ingin menjamahnya.

“Sayang, tutup nggak jaketnya!”

“Why?” ucap Lala sambil melihat-lihat ke bawah bajunya. Ryan hanya menghela nafas panjang dan segera menutup jaket jeans Lala dengan kancingnya, tetapi saat ia ingin mengancingkannya, tangan Lala menolak dan menyilangkannya ke bagian dadanya. “Gerah, sayang. Jangan dikancingin!”

Mau tidak mau Ryan cuma diam dan hanya bisa menyaksikan keindahan belahan payudara Lala yang montok itu. “ Kita ke kontrakan, yuk!” ajak Ryan dengan pikiran kotornya. Lala tahu apa yang dipikirkan pacarnya itu sekarang, ia pun menyetujuinya.

Lala dan Ryan memang sering berhubungan badan di kontrakan Ryan. Apalagi saat Ryan sedang marah, pasti Ryan meminta jatah untuknya. Dari seringnya berhubungan badan inilah, yang membuat Ryan berjanji akan menikahinya suatu saat nanti.

~~

Kontrakan tersebut sepi. Seperti biasa, Aldo menyimpan kunci kontrakan di dalam sepatu Ryan, yang Ryan taruh di loker sepatu. Ia pun tak sabar untuk segera membuka kunci kontrakannya.

Hasrat untuk menjamah tubuh pacarnya itu semakin menggelora. Mereka masuk ke dalam kamar Ryan. Dibantingnya tubuh pacarnya itu. Ia segera melepaskan baju dan celananya, serta segera melucuti baju pacar kesayangannya itu dengan sangat brutal. Mencium dan meremas payudara kekasihnya itu. Ia pun tak tahan untuk memasukkan pedangnya. Kekasihnya itu merintih keenakan.

Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan suara motor Aldo yang terparkir di halaman kontrakan. Namun, mereka tetap melanjutkan hubungan panas tersebut dan tak menghiraukannya.

Aldo masuk dan ia pun mendengar desahan dari kekasih Ryan tersebut. “Mulai dah, mereka berdua!” ucapnya dengan menggelengkan kepala. Aldo memang sering mendengar desahan suara kekasih Ryan tersebut. Desahannya memang membuat merinding bulu kuduknya, sehingga membuat pedang Aldo merasa tegang juga.

Selesai berhubungan, Ryan dan Lala terbaring. Mereka berkeringat kelelahan. Lala menyelimuti dirinya dengan selimut hitam milik Ryan, yang sering Ryan gunakan selama tidur. Ryan memeluk cewek kesayangannya tersebut dan mencium lehernya.

“Yang, menurut kamu, aku jelek nggak sekarang?” tanya Ryan.

“Kamu tetap manis kok, sayang,” ucap kekasihnya tersebut sambil mencium bibir Ryan yang memeluk dirinya dari belakang tersebut.

Walaupun pacarnya itu sebenarnya sudah tidak tahan dengan Ryan yang selalu memarahinya dan mencemburuinya tanpa sebab. Lala mungkin akan tetap setia, atau mungkin nggak?

~~

Lala dan Ryan segera memakai baju yang mereka tanggalkan tersebut. Lala lupa kalau hari ini ia ada jadwal pretest praktikum. Memang, asisten dosen tersebut menjadwalkan kelompok Lala untuk pretest hari Minggu jam 4 sore, dan Lala belum belajar sama sekali.

Saking enaknya, tak terasa mereka bermain sampai pukul 15.45. Buru-buru mereka keluar dari kamar. Aldo yang sedang menonton TV, menangkap mereka yang keluar bersamaan dari dalam kamar.

“Udah puas kalian?” sindir Aldo dengan cengengesan.

“Puas, dong! Daripada loe main pakai sabun!” ucap Aldo balas menyindir dengan tertawa puas. Aldo yang disindir, hampir melempar remote TV yang dipegangnya. Ryan pun menepuk pantatnya ke arah Aldo, tanda mengejek.

“Ayo, sayang, aku takut telat!” ucap Lala yang panik, karena ia pun belum belajar soal pretestnya. Ryan menancap gasnya dan segera mengantar pacarnya tersebut ke kampus.

Setelah sampai di kampus, tampak teman-teman sekelompok Lala sudah duduk lesehan di teras kampus untuk menunggu asisten dosen tersebut. Mereka juga terlihat sangat serius belajar untuk mempersiapkan pertanyaan dari asisten dosen.

“Good luck, sayang!” ucap Ryan memberi semangat.

“Makasih, sayang,” ucap Lala sambil melambaikan tangan ke pacarnya yang sudah mengantarnya tersebut.

“Sayang, jangan lupa kancingin jaketnya!” teriak Ryan yang mengetahui jaket Lala belum dikancingkan. Lala yang sudah berlari jauh mendengar teriakan pacarnya. Ia pun mengancingkannya dan segera menuju tempat ia akan pretest.

Dari kejauhan, Ryan terlihat sangat khawatir dan kesal, ketika ia mendapati asisten dosen tersebut adalah kakak kelas yang menyukai cewek kesayangannya. Ia mengamati gerak-gerik pacarnya dari kejauhan dan ia mendapati Lala yang tersenyum dan duduk di sebelahnya.

Ryan pun sangat jengkel dengan pemandangan tersebut. Ingin rasanya Ryan mengomel saat itu juga. Ryan segera memutar balik motornya dan menancap gas motornya dengan perasaan kesal.

Bab 3

Ify Elina, sebut saja Ify, mahasiswi semester 6 yang mengambil jurusan Farmasi di Universitas Palapa, Jakarta. Ify adalah sosok cewek yang polos, kalem, dan mempunyai wajah yang tidak cantik, namun manis.

Ify tinggal di kos yang berada tidak jauh dari kampus. Ia merupakan anak rantau yang berasal dari Jawa Tengah, Semarang. Ia selalu bangun pagi, karena tidak ingin melewatkan sarapannya. Ia ada jadwal kuliah pagi jam 07.00 dengan dosen Farmasi Fisika, pelajaran yang Ify benci selama kuliah di Farmasi.

Ify memang tidak suka pelajaran berhitung, namun ia selalu mengusahakan, agar ia bisa cumlaude saat lulus kuliah nanti. Bisa dibilang, Ify sangat ambisius dalam mencapai nilainya. Sesulit apapun dia memahaminya, ia akan terus belajar sampai ia paham. Bisa dibilang cewek ini sangat rajin. Walaupun ia tidak menyukai Farmasi Fisika, dalam pelajaran hafalan ia sangat jago.

Jam menunjukkan pukul 05.45, ia segera bangkit dari tempat tidurnya untuk mandi. Rambut panjang bergelombangnya yang sedikit berantakan, ia rapikan. Kemudian, tidak lupa ia merapikan kasurnya terlebih dahulu, karena ia tidak suka kamar yang berantakan.

Selesai ia mandi, ia mengajak teman satu kosnya, yang berada tepat di samping kamarnya untuk mencari sarapan pagi.

“Rina!Rin, Rina!” panggilnya sambil mengetuk pintu kamarnya. Namun, berkali-kali ia mengetuk, tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin masih tidur? Pikirnya. Terpaksa Ify jalan sendiri untuk mencari sarapan dengan berjalan kaki, karena warung nasi tidak jauh dari kosnya.

~~

“Udah hampir jam 07.00, nih!” Ify buru-buru mengikat rambut bergelombangnya ke belakang dan mengunci pintu kamar kosnya. Ia segera mengeluarkan motor maticnya dari garasi, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.55.

Ia pun mengendarai motornya tersebut menuju kampus dengan terburu-buru. Namun, pada saat sudah setengah jalan hampir memasuki kampus, tiba-tiba mesin motornya berhenti.

“Duh, motornya mati lagi! Gimana, nih!” ucapnya panik. “Udah mau masuk jam pelajaran lagi!”

Ia ingin menyela motor maticnya itu, namun ia tidak bisa mengangkat motornya dengan standar 2 kaki, karena lumayan berat.

Tiba-tiba dari kejauhan, Lala dan Ryan yang sedang berboncengan, melihat Ify berusaha untuk menyela mesin motor. Lala si cewek lemah lembut itu, simpati terhadapnya.

“Sayang, bantuin cewek itu, yuk! Kasihan!” ucapnya memohon kepada Ryan.

Ryan pun menurutinya. Ryan menepikan motornya ke arah motor Ify yang sedang mogok.

“Kak, biar aku bantu, sini!” ucap Ryan mendekatinya. Ify yang merasa ada bantuan seorang malaikat, langsung bahagia. Matanya yang tadinya suram, tiba-tiba cerah berbinar. “Ah, iyaya. Minta tolong, ya, Mas!” ucapnya dengan perasaan senang.

Ryan mengangkat motor Ify dengan 2 standar kaki dan segera menyela mesin motornya. Dengan 2 dorongan kaki saja, akhirnya mesin motor itu pun menyala. Ify yang terlihat senang langsung berterima kasih kepada mereka. “Wah, terima kasih ya, Mas, Mbak!”

Lala dan Ryan pun mengangguk senang. Dan mereka pun kembali menaiki motor.

~~

Ify benar-benar terlambat sekarang, gara-gara motornya yang mogok. Tetapi, untung aja ada batas toleransi dari dosennya 15 menit. Jadi, beruntung Ify memasuki ruangan jam 7 lewat 15 menit.

Ify memasuki ruangan dengan badan agak membungkuk dan untungnya teman akrab satu kelasnya, yang bernama Tika, menyediakan kursi kosong untuknya. Ia melambaikan tangannya untuk menduduki kursi kosong di samping tempat duduknya.

“Baik, ibu lanjut pelajarannya, ya.” ucap dosen Farmasi Fisika tersebut.

Tika, teman akrab Ify berbisik.” Fy, kamu kenapa sih, nggak biasanya telat?”

“Iya, tadi motor aku mogok di tengah jalan,” jawab Ify dengan mengerucutkan bibirnya.

“Terus, udah bisa, kan, motornya sekarang?” tanya Tika lagi. Ify pun mengangguk.

Jam pelajaran Farmasi Fisika pun udah usai, Ify dan Tika keluar dari ruangan sebentar untuk menghirup udara, karena mata kuliah pelajaran Kewarganegaraan akan dimulai sebentar lagi. Mereka duduk di bangku panjang yang berada di depan kelas.

“Aduh, padet banget jadwal kita hari ini. Mana aku laper banget lagi,” kata Tika mengeluh dengan memegang perutnya yang keroncongan. Ia terlihat lemas dan wajahnya tampak kurang bersemangat.

“Nih, aku ada wafer 1, buat kamu aja!” Ify mengeluarkan wafer yang berada di saku kantong bajunya dan memberikannya kepada Tika. “Makasih, ya,” kata Tika.

“Makanya dibiasain sarapan sebelum berangkat kuliah!” ucap Ify menasehati.

“Iyaya, soalnya tadi pagi tuh, nggak begitu laper,” ucap Tika beralasan. Ify menghela nafasnya pelan dan menggeleng kepalanya mendengar alasan Tika.

Tiba-tiba Ify melihat cowok dan cewek yang berada di seberang gedung fakultasnya, yang tidak lain adalah cowok dan cewek yang menolong motornya tadi yang mogok. Mereka, Ryan dan Lala ternyata berada di fakultas Tekhnik yang letak gedungnya berseberangan dengan gedung Farmasi.

Mereka tampak seperti membicarakan masalah serius. Ify menyipitkan kedua matanya melihat seksama ke arah mereka berdua.

“Ify, kamu lagi liat apa, sih?” Tika sambil menepuk paha Ify.

“E… nggak, nggak papa, kok,” ucap Ify memalingkan pandangannya dan menoleh ke arah Tika.

~~

Ryan menarik tangan Lala dan membawa Lala ke belakang gedung kampus Tekhnik.

“Kamu bisa nggak, sih, nggak usah deket-deket sama temen kamu itu? Dia itu cuma modus mau deketin kamu, tahu nggak?”

“Ryan, aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku sama dia cuma sebatas teman, nggak lebih! Dan aku cuma nanya tentang tugas kelas kita aja, kok.”

“Terus, kenapa kamu harus duduk mepet-mepet gitu berdua?”

“Ya… karena, aku… ,” belum Lala menyampaikan alasannya, Lala seperti mulai capek menjelaskan panjang lebar kepada Ryan yang possessive itu. Ia menangkup wajah dengan kedua tangannya, memegang salah satu sisi kepalanya dan menghela nafasnya cukup panjang. Ia bingung harus menjelaskan kepada Ryan, bagaimana lagi.

“Yan, aku pikir, kamu akhir-akhir ini sudah mulai possessive dan over thingking terhadap aku. Aku… lama-lama capek dengan sikap kamu yang seperti ini.” Lala menghela nafasnya lagi. Ia seperti mulai berpikir dan ingin mengatakan sesuatu yang serius.

“Aku... ingin… kita putus,” Lala menunduk dan mengatakannya dengan perasaan berat hati. Ia menahan rasa sedihnya sekarang. Ia mulai berbalik arah dan meninggalkan Ryan yang saat itu shock mendengar kata putus dari pacar kesayangannya itu. Mulut Ryan terbuka, mata Ryan membeliak dan berlinang. Ia tidak menyangka kalau hubungannya dengan Lala akan berakhir sampai disini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED