SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:
Panggilan Rara terputus begitu saja. Saya tak sanggup bicara. Apa yang bisa saya katakan? Bahwa neneknya, yang selama ini dicintainya, baru saja menemukan bahwa hidupnya adalah sebuah kebohongan besar?
Saya meletakkan ponsel di meja. Jantung saya masih berdegup kencang, tapi anehnya, ada ketenangan yang mulai menyelinap masuk. Ketenangan yang dingin.
Saya membuka fitur media sosial di tablet itu lagi. Saya ketik nama Teguh Amin. Profilnya muncul. Foto profilnya adalah dia dan Wulandari, sedang berpose di depan sebuah pameran seni. Teguh tersenyum karismatik, Wulandari elegan dan modis. Komentar-komentar di bawahnya memuji mereka sebagai "pasangan budayawan yang inspiratif".
Pasangan.
Saya melihat lebih banyak foto. Wulandari, kurator seni yang berpendidikan tinggi, selalu tampil sempurna di samping Teguh. Mereka menghadiri seminar, pameran, acara-acara elite. Mereka selalu terlihat serasi, seolah memang ditakdirkan bersama.
Mereka bahkan memiliki akun bersama, "Teguh Wulandari Official".
Saya menggeser lagi. Ada foto Teguh dan Wulandari makan malam bersama Rizal. Rizal tersenyum lebar, memeluk Wulandari. "Mama Wulan selalu yang terbaik!" tulis Rizal dalam keterangan foto itu. "Ibuku yang seharusnya."
Kalimat itu, "Ibuku yang seharusnya", terasa seperti palu godam yang menghantam dada saya.
Jadi, selama ini, Rizal menganggap Wulandari sebagai ibunya? Lalu saya ini apa?
Saya ingat sakit pinggang Rizal. Saya ingat bagaimana dia menolak membantu saya menggeser lemari tua itu. Tapi dia bisa mengangkat sebuah lukisan besar untuk Wulandari, sambil tersenyum bahagia.
Rasa mual memenuhi perut saya.
Air mata kembali menetes. Kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena amarah. Amarah yang membakar.
Empat puluh tahun. Empat puluh tahun saya habiskan untuk melayani mereka.
Setiap pagi, saya bangun sebelum subuh. Menyiapkan sarapan Teguh: Gudeg kesukaannya, dengan nangka muda yang saya masak semalaman. Untuk Rizal, nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. Untuk Rara, bubur ayam dengan suwiran ayam kampung.
Setelah itu, saya membersihkan rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju. Saya menyetrika pakaian Teguh dan Rizal, memastikan semuanya rapi dan sempurna.
Siang hari, saya memasak makan siang. Sore, menyiapkan camilan. Malam, memasak makan malam lagi. Lalu memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi.
"Ma, kemeja batikku yang biru di mana?"
"Nek, Rara mau susu cokelat!"
"Siti, nanti malam ada tamu, tolong siapkan hidangan spesial."
Saya seperti robot. Berputar tanpa henti. Tidak pernah ada keluhan. Tidak pernah ada kata lelah. Saya menganggap ini semua adalah bukti cinta saya pada keluarga.
Tapi untuk apa? Untuk siapa?
Saya mengingat kembali semua pengorbanan saya. Bakat menenun saya, yang dulu sangat saya banggakan, harus terkubur dalam-dalam. Teguh bilang, perempuan baik tidak perlu bekerja. Cukup di rumah, mengurus suami dan anak.
Saya mengikuti kata-katanya. Saya percaya padanya.
Saya tidak pernah membeli baju baru untuk diri sendiri. Uang jatah bulanan selalu saya simpan, atau saya belikan keperluan rumah. Anak-anak dan cucu adalah prioritas utama.
Saya tidak pernah pergi ke salon, tidak pernah punya waktu untuk membaca buku, apalagi sekadar duduk santai menikmati secangkir teh.
Saya hanyalah Siti Pribadi, ibu rumah tangga. Yang 'pribadi' saya sendiri, sudah lama hilang.
Saya menekan dada saya. Sakitnya luar biasa. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Ada kekuatan yang tumbuh dari rasa sakit itu.
Saya sudah cukup.
Saya tidak akan lagi menjadi Siti yang lama.
Saya bangkit dari kursi. Kaki saya masih sedikit goyah, tapi saya memaksakan diri untuk berdiri tegak.
Saya mengambil kunci motor tua saya yang sudah lama tidak terpakai. Saya memakai jilbab sederhana. Lalu saya keluar dari rumah.
Tujuan pertama saya adalah toko kain. Saya masuk, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya membeli sehelai kain batik sutra yang indah. Warnanya hijau zamrud, dengan motif bunga-bunga. Harganya mahal. Saya tidak peduli.
"Ini untuk saya," kata saya pada diri sendiri.
Kemudian saya pergi ke warung makan padang. Saya memesan rendang, ayam pop, sayur nangka, dan segelas es teh manis. Saya duduk sendirian di sudut, menikmati setiap suapan. Saya membiarkan rasa pedas dan gurih itu mengisi mulut saya.
Ini adalah makanan pertama yang saya nikmati sepenuhnya, tanpa memikirkan apa yang akan saya masak nanti, atau apakah ada yang akan protes dengan rasanya.
Saya melihat sekeliling. Orang-orang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada yang mengenal saya di sini. Tidak ada yang akan menghakimi saya.
Saya merasa lega. Merasa bebas.
"Saya tidak akan lagi menjadi juru masak pribadi mereka," bisik saya pada diri sendiri. "Saya tidak akan lagi menjadi pembantu gratis mereka."
Saya pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan, tapi tekad yang membara.
Malam harinya, Teguh pulang. Dia melemparkan tas kerjanya ke sofa.
"Siti, aku lapar. Gudeg hari ini mana?" tanyanya tanpa menoleh ke arah saya.
Saya sedang duduk di sofa ruang tamu, menonton berita di televisi. Saya tidak menjawab.
"Siti?" Teguh mengulang, kini menoleh. Alisnya berkerut. "Kamu tidak dengar?"
Saya menoleh ke arahnya. Tatapan saya datar. "Aku dengar."
"Lalu kenapa Gudegku belum ada?" Suaranya mulai meninggi. "Apa kamu lupa aku pulang malam hari ini?"
"Aku tidak membuat Gudeg," kata saya tanpa ekspresi.
Teguh terdiam. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, kemudian marah. "Apa katamu? Jangan bercanda, Siti."
"Aku tidak bercanda, Teguh."
"Kamu kenapa? Sakit?" Teguh mendekat, menatap saya dengan tatapan meremehkan. "Jangan-jangan sudah mulai pikun."
"Aku tidak pikun," saya membalas, suara saya tetap tenang. "Dan aku tidak sakit. Aku hanya tidak memasak."
"Kamu gila ya?" Teguh tertawa sinis. "Sejak kapan kamu tidak memasak? Ini rumah tangga siapa, Siti? Kamu ini istriku."
"Mungkin aku sudah gila," kata saya. "Atau mungkin aku baru sadar dari kegilaan."
Teguh menatap saya tajam, seolah sedang menganalisis saya. "Ada apa denganmu? Apa ini salah satu akal-akalanmu lagi agar aku lebih memperhatikanmu?"
"Tidak," jawab saya. "Tidak ada akal-akalan. Aku hanya ingin... mengakhiri ini."
Teguh mengangkat alisnya. "Mengakhiri apa?"
Pintu depan terbuka. Rizal dan Kartika masuk, wajah mereka tampak lelah.
"Ayah, Ibu," sapa Rizal. "Ada apa ini? Kok tegang sekali?"
SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:
Rizal dan Kartika masuk, mata mereka menyapu wajah datar saya dan kemarahan Teguh. Tegang, memang. Itu saja belum seberapa.
"Ada apa, Nak?" Teguh menjawab, suaranya sedikit melunak. "Ibumu ini aneh hari ini. Tidak mau memasak untukku."
Rizal mengerutkan kening. "Ibu tidak masak? Kenapa?"
Saat itu juga, Rara, cucu saya, berlari masuk. Dia baru pulang dari les. Wajahnya cemberut.
"Nenek! Kata Mama, Nenek tidak buat Rawon!" Rara menatap saya dengan mata berkaca-kaca. "Rara lapar, Nenek. Janji mau buat Rawon enak!"
Saya menatap Rara. Hati saya sedikit teriris melihat matanya. Tapi tekad saya lebih kuat.
"Hari ini Nenek tidak buat Rawon, Sayang," kata saya pelan.
Rara langsung menangis kencang. Ia menghentakkan kakinya. "Nenek jahat! Nenek janji! Nenek bohong!"
Kartika segera memeluk Rara, menenangkannya. "Sabar, Sayang. Nanti Mama pesankan makanan dari luar, ya?"
Rizal menatap saya dengan tatapan tidak percaya. "Ibu! Kenapa begini? Rara kan lapar! Anak kecil tidak boleh dibiarkan lapar!"
"Dia bisa makan makanan dari luar," jawab saya datar. "Seperti kalian."
"Apa-apaan ini, Bu?" Rizal mendekat, suaranya mulai meninggi. "Sejak kapan Ibu jadi malas begini? Setiap hari kan Ibu memang di rumah saja. Apa susahnya masak?"
Saya mendongak, menatap mata anak saya. "Di rumah saja? Menurutmu aku tidak melakukan apa-apa?"
Rizal tertawa hambar. "Ya memangnya Ibu melakukan apa? Mengurus rumah, itu kan memang tugas Ibu. Lagipula, Ibu kan tidak bekerja. Tidak punya gelar, tidak punya karir seperti Mama Wulan."
Kata-kata itu menusuk, tapi anehnya, tidak sesakit yang saya bayangkan. Saya sudah tahu betapa rendahnya dia memandang saya.
"Jadi, karena aku tidak punya gelar seperti Wulandari, aku harus menjadi pembantu seumur hidupku?" tanya saya, suara saya masih tenang.
Rizal terdiam. Dia memalingkan muka, menghindari tatapan saya.
"Ingat, Rizal?" kata saya. "Dulu, waktu kamu masih kecil. Kamu sakit, demam tinggi. Semalaman aku tidak tidur, mengompres dahimu, menyanyikan lagu nina bobo. Kamu bilang, 'Mama, nanti kalau Rizal sudah besar, Rizal akan jaga Mama. Rizal tidak akan biarkan Mama sedih'."
Rizal masih diam, tapi saya melihat bahunya sedikit menegang.
"Dulu, waktu kamu mau masuk universitas ternama, aku menjual perhiasan satu-satunya pemberian almarhum Ibu saya, agar kamu bisa membayar uang pangkal. Kamu bilang, 'Mama, pengorbanan Mama tidak akan sia-sia. Rizal akan buat Mama bangga'."
Saya menatapnya, air mata mulai menggenang di mata saya. "Dan sekarang, kamu bilang aku tidak melakukan apa-apa? Kamu lebih mengagumi Wulandari yang 'berkelas' daripada ibumu sendiri?"
"Bu, itu kan sudah lama!" Rizal akhirnya bersuara, nada suaranya defensif. "Lagipula, Mama Wulan memang wanita hebat. Ibu kan hanya... ibu rumah tangga biasa."
Kata "biasa" itu, diucapkan dengan nada meremehkan, adalah tetesan terakhir.
Air mata saya menetes. Bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kekecewaan yang mendalam.
"Baiklah, Rizal," kata saya, suara saya serak. "Jika memang aku hanya 'ibu rumah tangga biasa' yang tidak dihargai, maka aku tidak akan lagi melakukan tugas ini."
"Apa maksud Ibu?" Teguh menyela, suaranya mengandung ancaman.
"Aku ingin cerai," kata saya, menatap langsung ke mata Teguh. "Aku ingin mengakhiri pernikahan ini."
Seketika, ruangan menjadi hening. Rizal terperangah. Kartika menatap saya dengan mata lebar. Teguh... wajahnya memucat.
"Cerai?" kata Teguh, suaranya bergetar. "Siti, kamu sudah gila?"
"Mungkin," jawab saya. "Atau mungkin aku baru saja menemukan kewarasanku."
"Kamu tidak bisa melakukan ini!" Teguh melangkah maju, mendekati saya. "Apa kata orang nanti? Reputasiku akan hancur! Aku seorang budayawan, dosen senior!"
"Reputasi?" Saya tertawa hambar. "Apa artinya reputasi bagimu, Teguh, jika yang kamu bangun hanyalah kebohongan?"
"Jaga bicaramu, Siti!" Teguh menggeram. "Kamu pikir kamu siapa? Hanya wanita desa yang tidak tahu apa-apa!"
"Dan kamu pikir kamu siapa, Teguh?" saya membalas, suara saya kini lebih kuat. "Seorang suami yang setia? Seorang pria yang jujur?"
"Bu, jangan begini!" Rizal maju, mencoba menengahi. "Ibu jangan mengada-ada! Ibu pasti sedang depresi. Mama Wulan akan sedih jika Ibu begini."
"Wulandari?" Saya menertawakan nama itu. "Dia akan sedih? Oh, kurasa dia justru akan senang. Impiannya terwujud, bukan?"
"Siti, diam!" Teguh berteriak.
"Aku tidak akan diam!" Saya bangkit dari sofa, berdiri tepat di hadapan mereka. "Aku sudah terlalu lama diam! Empat puluh tahun aku diam, Teguh! Empat puluh tahun aku hidup dalam kebohongan yang kalian rancang bersama!"
Rizal dan Teguh saling pandang, raut kebingungan dan ketakutan terlihat jelas di wajah mereka. Kartika hanya diam, menunduk.
"Aku tahu semuanya," kata saya, suara saya mendalam. "Aku tahu tentang kamu dan Wulandari. Aku tahu tentang 'riset'-mu yang sebenarnya adalah bulan madu setiap tahun. Aku tahu tentang anakku yang lebih menganggap Wulandari sebagai ibunya. Aku tahu tentang rencana kalian, karena Wulandari mandul, kalian menjadikanku ibu pengganti!"
Teguh terhuyung mundur. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Rizal menatap saya, matanya membelalak ketakutan.
"Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu?" Teguh tergagap.
"Itu tidak penting lagi," jawab saya. "Yang penting adalah, aku tidak akan lagi menjadi bagian dari sandiwara busuk ini."
"Kamu... kamu akan miskin, Siti!" Teguh berteriak, mencoba mengancam. "Kamu akan terlantar sendirian! Kamu tidak punya apa-apa!"
Saya menatapnya, ada senyum tipis di bibir saya. "Mungkin. Tapi setidaknya aku akan bebas. Bebas dari kebohongan kalian. Bebas dari kalian semua."
"Ibu, jangan! Ibu tidak boleh cerai!" Rizal memohon, kini suaranya terdengar panik. "Kami minta maaf, Bu. Kami salah. Pulanglah, Bu."
"Tidak," kata saya tegas. "Ini sudah selesai."
"Siti, dengarkan aku!" Teguh mencoba meraih tangan saya, tapi saya menariknya. "Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari perceraian ini! Semua harta adalah milikku!"
"Aku tidak butuh hartamu," jawab saya, menatap matanya. "Aku hanya butuh kebebasan. Dan aku akan menjaga rahasia kalian, asalkan kalian lepaskan aku."
Teguh menatap saya, matanya penuh perhitungan. Reputasinya. Itu yang paling dia khawatirkan.
"Ibu, jangan begini, Bu..." Rizal masih mencoba membujuk.
Saya menoleh ke arah Rizal. "Rizal, kamu sudah dewasa. Kamu sudah punya istrimu sendiri. Uruslah rumah tanggamu sendiri. Jangan lagi bergantung pada ibumu yang 'biasa' ini."
"Siti!" Teguh berteriak, suaranya penuh amarah. "Kamu akan menyesal! Kamu akan melihat bagaimana hidupmu tanpa kami!"
"Aku tidak akan menyesal," kata saya, menatap mereka satu per satu. "Mulai sekarang, aku akan hidup untuk diriku sendiri."