"Aku tak pernah menyangka, setelah empat puluh tahun, kebenaran bisa terungkap dari tablet cucuku."
Niat hati ingin mengunduh lagu anak-anak di tablet baru cucu, jari saya malah tak sengaja membuka folder bernama "Proyek Riset".
Isinya bukan dokumen kerja, melainkan ribuan foto mesra suami saya dengan sahabat karib saya sendiri, Wulandari, di berbagai negara selama empat puluh tahun terakhir.
Ternyata, "perjalanan dinas" suami saya selama ini hanyalah kedok untuk bulan madu abadi mereka, sementara saya di rumah menjadi babu gratisan.
Yang lebih menghancurkan hati, saya menemukan video anak kandung saya, Rizal, sedang tertawa lepas membantu Wulandari mengangkat lukisan berat.
Padahal seminggu lalu, dia menolak membantu saya menggeser lemari dengan alasan "saraf kejepit".
Di video itu, Rizal mencium pipi pelakor itu dan berbisik, "Mama yang seharusnya."
Dunia saya runtuh seketika.
Rupanya, karena Wulandari mandul, mereka bersekongkol menjadikan saya "inkubator" hidup untuk melahirkan keturunan bagi keluarga terpandang suami saya.
Saya hanyalah wanita desa polos yang dimanfaatkan, tidak dicintai, dan diam-diam dihina oleh suami dan anak sendiri.
Mereka pikir saya akan diam demi reputasi dan takut hidup miskin?
Salah besar.
Hari itu juga, saya mengemasi barang, menuntut cerai, dan menguras harta gono-gini yang menjadi hak saya.
Saya pergi ke Bali, menjadi penenun sukses yang dipuja ribuan orang.
Dan ketika mereka datang mengemis di kaki saya setelah hancur lebur dan kehilangan segalanya, saya hanya tersenyum dingin dan menutup pintu selamanya.
Bab 1
SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:
Tablet baru cucu saya, Rara, berkedip di tangan saya. Layarnya menyala, memuntahkan rentetan gambar yang merenggut napas saya. Ini tablet barunya, saya hanya ingin mengunduh beberapa lagu anak-anak untuknya. Jari saya tidak sengaja menyentuh ikon galeri.
Saya melihat sebuah folder. Namanya "Proyek Riset".
Teguh, suami saya, sering bepergian untuk "riset budaya". Selalu begitu. Saya selalu percaya padanya.
Saya membuka folder itu.
Gambar pertama adalah Teguh, tertawa bebas. Di sampingnya, Wulandari. Sahabat karib saya. Mereka berdua dalam pakaian santai, di sebuah pantai. Air laut yang biru berkilauan di belakang mereka, matahari terbenam mewarnai langit dengan jingga dan ungu.
Jantung saya berdegup kencang. Bukan, tidak mungkin. Ini pasti hanya kebetulan. Mungkin mereka bertemu di acara riset yang sama.
Saya menggeser ke gambar berikutnya. Mereka berdua lagi, kali ini di sebuah restoran mewah. Wulandari memegang tangan Teguh, tersenyum genit. Teguh membalas senyumnya, tatapannya penuh gairah. Tatapan yang tidak pernah saya lihat lagi selama bertahun-tahun.
Tangan saya mulai gemetar. Gambar-gambar itu terus bergulir. Setiap gambar lebih menyakitkan dari yang sebelumnya. Mereka berpelukan di depan piramida Mesir. Mereka berciuman di bawah Menara Eiffel. Mereka berpegangan tangan di jalanan Tokyo, di pasar Marrakech, di tepi Grand Canyon.
Ini bukan riset. Ini adalah perjalanan cinta.
Selama empat puluh tahun.
Saya melihat tanggal pada setiap foto. Itu adalah tanggal-tanggal yang sama saat Teguh bilang dia sedang "perjalanan dinas". Perjalanan yang selalu dia habiskan untuk "riset budaya" yang penting. Saya selalu menyiapkan kopernya, memastikan semua keperluannya terpenuhi.
Saya menyiapkan pakaiannya, membungkus camilan favoritnya, bahkan menuliskan daftar obat-obatan jika dia sakit. Saya menganggap itu adalah tugas seorang istri.
Selama empat puluh tahun, saya telah hidup dalam kebohongan.
Bukan hanya Teguh. Wulandari. Sahabat karib saya. Orang yang selalu saya percaya. Orang yang selalu saya ajak berbagi cerita tentang Teguh, tentang anak kami, Rizal. Dia selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan nasihat.
Betapa bodohnya saya.
Napas saya tercekat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-paru saya.
Lalu saya melihat sebuah video. Itu adalah video pendek, diambil di sebuah galeri seni. Wulandari sedang menata patung, tertawa lepas. Rizal, anak saya, ada di sana. Dia membantu Wulandari memindahkan sebuah lukisan besar.
"Aduh, Mama Wulan ini maunya apa lagi sih?" Rizal menggerutu, tapi ada senyum di bibirnya. "Capek banget ini pinggang Rizal."
Wulandari tertawa, lalu menepuk punggung Rizal. "Astaga, anak bungsu Mama ini manja sekali. Kan demi seni, Sayang."
"Iya, iya, deh. Tapi pinggangku ini kan lagi sakit saraf kejepit, Ma." Rizal pura-pura mengerang kesakitan.
Saya ingat. Baru minggu lalu. Saya meminta Rizal membantu saya menggeser lemari dapur yang berat. Saya ingin membersihkan bagian bawahnya.
"Ma, Rizal ini lagi sakit pinggang parah," katanya waktu itu. "Saraf kejepit, katanya dokter. Enggak bisa angkat berat-berat. Nanti makin parah."
Saya percaya padanya. Saya bahkan memijat punggungnya, membuatkan ramuan herbal untuknya.
Dan sekarang, dia mengangkat lukisan besar itu sendirian, sambil tertawa-tawa. Dia memanggil Wulandari "Mama".
"Mama yang seharusnya," Rizal berbisik dalam video itu, mencium pipi Wulandari.
Dunia saya runtuh.
Saya tidak bisa lagi bernapas. Rasa sakit itu begitu tajam, seolah ribuan pisau menusuk jantung saya. Lutut saya lemas. Saya jatuh terduduk di kursi ruang tamu. Tablet itu jatuh dari tangan saya, layarnya menghadap ke atas, memancarkan cahaya dingin ke wajah saya.
Air mata, yang sudah lama saya tahan, kini mengalir deras. Mengalir tanpa henti.
Saya memejamkan mata, tapi gambar-gambar itu masih menari-nari di kepala saya. Teguh dan Wulandari. Rizal dan Wulandari. Selama ini, saya hanya boneka.
Saya hanya seorang wanita desa polos yang mereka pakai untuk melahirkan keturunan.
Saya ingat masa muda saya. Bakat saya menenun. Bagaimana Teguh, yang waktu itu masih menjadi kekasih Wulandari, datang ke desa saya dengan janji-janji manis. Dia bilang akan membawa saya ke kota, memberikan saya kehidupan yang lebih baik.
Wulandari waktu itu menjadi sahabat saya. Dia selalu terlihat begitu ramah, begitu perhatian. Dia bilang, "Siti, kamu itu baik hati sekali. Teguh pasti akan bahagia denganmu."
Ternyata, itu semua adalah bagian dari rencana mereka. Wulandari mandul. Keluarga Teguh membutuhkan keturunan. Saya, seorang gadis desa yang polos, sempurna untuk peran itu.
Hanya untuk melahirkan anak. Hanya untuk mengurus rumah tangga.
"Halo, Bi Sumi?" Suara saya bergetar saat saya menelepon bibi saya di desa.
"Siti? Ada apa? Suara kamu kenapa?" Bi Sumi terdengar cemas.
Saya mencoba menenangkan diri. "Enggak, enggak apa-apa, Bi. Cuma... kangen aja."
"Kangen? Kamu ini, Siti. Biasanya kamu enggak pernah telepon kalau enggak ada perlu penting."
"Bi, ingat Wulandari? Teman saya dulu?"
"Wulandari? Oh, tentu saja. Perempuan kota yang cantik itu. Yang waktu itu menjodohkan kamu dengan Teguh, kan?"
"Iya, Bi," suara saya nyaris tak terdengar.
"Kenapa? Kalian masih berteman baik?"
"Bi, waktu itu, apa Bibik tahu kenapa Teguh tiba-tiba mau sama saya? Padahal dia sudah pacaran sama Wulandari bertahun-tahun."
Ada hening di ujung telepon.
"Bibik mendengar desas-desus, Siti," kata Bi Sumi pelan. "Tapi Bibik enggak mau bilang sama kamu. Takut kamu sedih."
"Sekarang Bibik bisa cerita, Bi," kata saya. "Saya sudah tahu semuanya."
Bi Sumi menghela napas panjang. "Waktu itu, Wulandari divonis mandul, Siti. Keluarga Teguh yang terpandang itu enggak bisa menerima menantu yang enggak bisa kasih keturunan. Mereka bilang, Teguh harus punya anak."
"Jadi... Wulandari dan Teguh merencanakan ini semua?"
"Itu yang Bibik dengar, Nak. Wulandari yang mendekatimu, mengatakan bahwa kamu adalah wanita yang baik, yang pantas untuk Teguh. Dan Teguh... ya, dia menuruti saja. Dia bilang dia terpaksa demi keluarganya."
Terpaksa. Demi keluarganya. Keluarga yang dia bangun dengan saya, tapi hatinya selalu untuk Wulandari.
"Siti? Kamu masih di sana?"
"Iya, Bi. Aku masih di sini." Suara saya hampa.
Pantas saja. Teguh selalu pulang malam. Selalu dingin. Selalu sibuk dengan "risetnya". Saya selalu menganggap itu adalah beban seorang suami yang bekerja keras. Saya selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, ibu yang sempurna.
Tapi saya tidak pernah menjadi istrinya. Hanya sebuah alat. Sebuah inkubator.
Saya melihat tablet itu lagi. Teguh. Wulandari. Mereka tersenyum bahagia. Mereka berciuman. Mereka berpelukan. Mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai.
Dan saya? Saya terkurung di rumah ini, memasak makanan kesukaan mereka, membersihkan kotoran mereka, memanjakan anak mereka yang ternyata lebih mencintai wanita lain.
Saya tertawa hambar. Rasanya sakit sekali. Lebih sakit dari apapun yang pernah saya rasakan. Ini bukan hanya pengkhianatan. Ini adalah penghinaan.
Saya menghapus air mata dengan punggung tangan. Air mata asin yang tidak berarti apa-apa bagi mereka.
Telepon saya berdering lagi. Nama Rara muncul di layar.
"Nenek! Nenek, Rara mau Rawon Nenek yang enak itu!" suara cicitan Rara terdengar di telinga saya. "Nenek buat ya? Sekarang Rara lapar!"
Rawon. Makanan kesukaan cucu saya. Makanan yang selalu saya buatkan dengan penuh cinta. Makanan yang seolah menjadi satu-satunya alasan saya ada di rumah ini.
Saya tidak menjawab. Saya hanya menatap kosong ke dinding. Lalu, dengan gerakan lambat, saya menekan tombol merah. Memutus panggilan itu.
Cukup.
SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:
Panggilan Rara terputus begitu saja. Saya tak sanggup bicara. Apa yang bisa saya katakan? Bahwa neneknya, yang selama ini dicintainya, baru saja menemukan bahwa hidupnya adalah sebuah kebohongan besar?
Saya meletakkan ponsel di meja. Jantung saya masih berdegup kencang, tapi anehnya, ada ketenangan yang mulai menyelinap masuk. Ketenangan yang dingin.
Saya membuka fitur media sosial di tablet itu lagi. Saya ketik nama Teguh Amin. Profilnya muncul. Foto profilnya adalah dia dan Wulandari, sedang berpose di depan sebuah pameran seni. Teguh tersenyum karismatik, Wulandari elegan dan modis. Komentar-komentar di bawahnya memuji mereka sebagai "pasangan budayawan yang inspiratif".
Pasangan.
Saya melihat lebih banyak foto. Wulandari, kurator seni yang berpendidikan tinggi, selalu tampil sempurna di samping Teguh. Mereka menghadiri seminar, pameran, acara-acara elite. Mereka selalu terlihat serasi, seolah memang ditakdirkan bersama.
Mereka bahkan memiliki akun bersama, "Teguh Wulandari Official".
Saya menggeser lagi. Ada foto Teguh dan Wulandari makan malam bersama Rizal. Rizal tersenyum lebar, memeluk Wulandari. "Mama Wulan selalu yang terbaik!" tulis Rizal dalam keterangan foto itu. "Ibuku yang seharusnya."
Kalimat itu, "Ibuku yang seharusnya", terasa seperti palu godam yang menghantam dada saya.
Jadi, selama ini, Rizal menganggap Wulandari sebagai ibunya? Lalu saya ini apa?
Saya ingat sakit pinggang Rizal. Saya ingat bagaimana dia menolak membantu saya menggeser lemari tua itu. Tapi dia bisa mengangkat sebuah lukisan besar untuk Wulandari, sambil tersenyum bahagia.
Rasa mual memenuhi perut saya.
Air mata kembali menetes. Kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena amarah. Amarah yang membakar.
Empat puluh tahun. Empat puluh tahun saya habiskan untuk melayani mereka.
Setiap pagi, saya bangun sebelum subuh. Menyiapkan sarapan Teguh: Gudeg kesukaannya, dengan nangka muda yang saya masak semalaman. Untuk Rizal, nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. Untuk Rara, bubur ayam dengan suwiran ayam kampung.
Setelah itu, saya membersihkan rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju. Saya menyetrika pakaian Teguh dan Rizal, memastikan semuanya rapi dan sempurna.
Siang hari, saya memasak makan siang. Sore, menyiapkan camilan. Malam, memasak makan malam lagi. Lalu memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi.
"Ma, kemeja batikku yang biru di mana?"
"Nek, Rara mau susu cokelat!"
"Siti, nanti malam ada tamu, tolong siapkan hidangan spesial."
Saya seperti robot. Berputar tanpa henti. Tidak pernah ada keluhan. Tidak pernah ada kata lelah. Saya menganggap ini semua adalah bukti cinta saya pada keluarga.
Tapi untuk apa? Untuk siapa?
Saya mengingat kembali semua pengorbanan saya. Bakat menenun saya, yang dulu sangat saya banggakan, harus terkubur dalam-dalam. Teguh bilang, perempuan baik tidak perlu bekerja. Cukup di rumah, mengurus suami dan anak.
Saya mengikuti kata-katanya. Saya percaya padanya.
Saya tidak pernah membeli baju baru untuk diri sendiri. Uang jatah bulanan selalu saya simpan, atau saya belikan keperluan rumah. Anak-anak dan cucu adalah prioritas utama.
Saya tidak pernah pergi ke salon, tidak pernah punya waktu untuk membaca buku, apalagi sekadar duduk santai menikmati secangkir teh.
Saya hanyalah Siti Pribadi, ibu rumah tangga. Yang 'pribadi' saya sendiri, sudah lama hilang.
Saya menekan dada saya. Sakitnya luar biasa. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Ada kekuatan yang tumbuh dari rasa sakit itu.
Saya sudah cukup.
Saya tidak akan lagi menjadi Siti yang lama.
Saya bangkit dari kursi. Kaki saya masih sedikit goyah, tapi saya memaksakan diri untuk berdiri tegak.
Saya mengambil kunci motor tua saya yang sudah lama tidak terpakai. Saya memakai jilbab sederhana. Lalu saya keluar dari rumah.
Tujuan pertama saya adalah toko kain. Saya masuk, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya membeli sehelai kain batik sutra yang indah. Warnanya hijau zamrud, dengan motif bunga-bunga. Harganya mahal. Saya tidak peduli.
"Ini untuk saya," kata saya pada diri sendiri.
Kemudian saya pergi ke warung makan padang. Saya memesan rendang, ayam pop, sayur nangka, dan segelas es teh manis. Saya duduk sendirian di sudut, menikmati setiap suapan. Saya membiarkan rasa pedas dan gurih itu mengisi mulut saya.
Ini adalah makanan pertama yang saya nikmati sepenuhnya, tanpa memikirkan apa yang akan saya masak nanti, atau apakah ada yang akan protes dengan rasanya.
Saya melihat sekeliling. Orang-orang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada yang mengenal saya di sini. Tidak ada yang akan menghakimi saya.
Saya merasa lega. Merasa bebas.
"Saya tidak akan lagi menjadi juru masak pribadi mereka," bisik saya pada diri sendiri. "Saya tidak akan lagi menjadi pembantu gratis mereka."
Saya pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan, tapi tekad yang membara.
Malam harinya, Teguh pulang. Dia melemparkan tas kerjanya ke sofa.
"Siti, aku lapar. Gudeg hari ini mana?" tanyanya tanpa menoleh ke arah saya.
Saya sedang duduk di sofa ruang tamu, menonton berita di televisi. Saya tidak menjawab.
"Siti?" Teguh mengulang, kini menoleh. Alisnya berkerut. "Kamu tidak dengar?"
Saya menoleh ke arahnya. Tatapan saya datar. "Aku dengar."
"Lalu kenapa Gudegku belum ada?" Suaranya mulai meninggi. "Apa kamu lupa aku pulang malam hari ini?"
"Aku tidak membuat Gudeg," kata saya tanpa ekspresi.
Teguh terdiam. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, kemudian marah. "Apa katamu? Jangan bercanda, Siti."
"Aku tidak bercanda, Teguh."
"Kamu kenapa? Sakit?" Teguh mendekat, menatap saya dengan tatapan meremehkan. "Jangan-jangan sudah mulai pikun."
"Aku tidak pikun," saya membalas, suara saya tetap tenang. "Dan aku tidak sakit. Aku hanya tidak memasak."
"Kamu gila ya?" Teguh tertawa sinis. "Sejak kapan kamu tidak memasak? Ini rumah tangga siapa, Siti? Kamu ini istriku."
"Mungkin aku sudah gila," kata saya. "Atau mungkin aku baru sadar dari kegilaan."
Teguh menatap saya tajam, seolah sedang menganalisis saya. "Ada apa denganmu? Apa ini salah satu akal-akalanmu lagi agar aku lebih memperhatikanmu?"
"Tidak," jawab saya. "Tidak ada akal-akalan. Aku hanya ingin... mengakhiri ini."
Teguh mengangkat alisnya. "Mengakhiri apa?"
Pintu depan terbuka. Rizal dan Kartika masuk, wajah mereka tampak lelah.
"Ayah, Ibu," sapa Rizal. "Ada apa ini? Kok tegang sekali?"
SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:
Rizal dan Kartika masuk, mata mereka menyapu wajah datar saya dan kemarahan Teguh. Tegang, memang. Itu saja belum seberapa.
"Ada apa, Nak?" Teguh menjawab, suaranya sedikit melunak. "Ibumu ini aneh hari ini. Tidak mau memasak untukku."
Rizal mengerutkan kening. "Ibu tidak masak? Kenapa?"
Saat itu juga, Rara, cucu saya, berlari masuk. Dia baru pulang dari les. Wajahnya cemberut.
"Nenek! Kata Mama, Nenek tidak buat Rawon!" Rara menatap saya dengan mata berkaca-kaca. "Rara lapar, Nenek. Janji mau buat Rawon enak!"
Saya menatap Rara. Hati saya sedikit teriris melihat matanya. Tapi tekad saya lebih kuat.
"Hari ini Nenek tidak buat Rawon, Sayang," kata saya pelan.
Rara langsung menangis kencang. Ia menghentakkan kakinya. "Nenek jahat! Nenek janji! Nenek bohong!"
Kartika segera memeluk Rara, menenangkannya. "Sabar, Sayang. Nanti Mama pesankan makanan dari luar, ya?"
Rizal menatap saya dengan tatapan tidak percaya. "Ibu! Kenapa begini? Rara kan lapar! Anak kecil tidak boleh dibiarkan lapar!"
"Dia bisa makan makanan dari luar," jawab saya datar. "Seperti kalian."
"Apa-apaan ini, Bu?" Rizal mendekat, suaranya mulai meninggi. "Sejak kapan Ibu jadi malas begini? Setiap hari kan Ibu memang di rumah saja. Apa susahnya masak?"
Saya mendongak, menatap mata anak saya. "Di rumah saja? Menurutmu aku tidak melakukan apa-apa?"
Rizal tertawa hambar. "Ya memangnya Ibu melakukan apa? Mengurus rumah, itu kan memang tugas Ibu. Lagipula, Ibu kan tidak bekerja. Tidak punya gelar, tidak punya karir seperti Mama Wulan."
Kata-kata itu menusuk, tapi anehnya, tidak sesakit yang saya bayangkan. Saya sudah tahu betapa rendahnya dia memandang saya.
"Jadi, karena aku tidak punya gelar seperti Wulandari, aku harus menjadi pembantu seumur hidupku?" tanya saya, suara saya masih tenang.
Rizal terdiam. Dia memalingkan muka, menghindari tatapan saya.
"Ingat, Rizal?" kata saya. "Dulu, waktu kamu masih kecil. Kamu sakit, demam tinggi. Semalaman aku tidak tidur, mengompres dahimu, menyanyikan lagu nina bobo. Kamu bilang, 'Mama, nanti kalau Rizal sudah besar, Rizal akan jaga Mama. Rizal tidak akan biarkan Mama sedih'."
Rizal masih diam, tapi saya melihat bahunya sedikit menegang.
"Dulu, waktu kamu mau masuk universitas ternama, aku menjual perhiasan satu-satunya pemberian almarhum Ibu saya, agar kamu bisa membayar uang pangkal. Kamu bilang, 'Mama, pengorbanan Mama tidak akan sia-sia. Rizal akan buat Mama bangga'."
Saya menatapnya, air mata mulai menggenang di mata saya. "Dan sekarang, kamu bilang aku tidak melakukan apa-apa? Kamu lebih mengagumi Wulandari yang 'berkelas' daripada ibumu sendiri?"
"Bu, itu kan sudah lama!" Rizal akhirnya bersuara, nada suaranya defensif. "Lagipula, Mama Wulan memang wanita hebat. Ibu kan hanya... ibu rumah tangga biasa."
Kata "biasa" itu, diucapkan dengan nada meremehkan, adalah tetesan terakhir.
Air mata saya menetes. Bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kekecewaan yang mendalam.
"Baiklah, Rizal," kata saya, suara saya serak. "Jika memang aku hanya 'ibu rumah tangga biasa' yang tidak dihargai, maka aku tidak akan lagi melakukan tugas ini."
"Apa maksud Ibu?" Teguh menyela, suaranya mengandung ancaman.
"Aku ingin cerai," kata saya, menatap langsung ke mata Teguh. "Aku ingin mengakhiri pernikahan ini."
Seketika, ruangan menjadi hening. Rizal terperangah. Kartika menatap saya dengan mata lebar. Teguh... wajahnya memucat.
"Cerai?" kata Teguh, suaranya bergetar. "Siti, kamu sudah gila?"
"Mungkin," jawab saya. "Atau mungkin aku baru saja menemukan kewarasanku."
"Kamu tidak bisa melakukan ini!" Teguh melangkah maju, mendekati saya. "Apa kata orang nanti? Reputasiku akan hancur! Aku seorang budayawan, dosen senior!"
"Reputasi?" Saya tertawa hambar. "Apa artinya reputasi bagimu, Teguh, jika yang kamu bangun hanyalah kebohongan?"
"Jaga bicaramu, Siti!" Teguh menggeram. "Kamu pikir kamu siapa? Hanya wanita desa yang tidak tahu apa-apa!"
"Dan kamu pikir kamu siapa, Teguh?" saya membalas, suara saya kini lebih kuat. "Seorang suami yang setia? Seorang pria yang jujur?"
"Bu, jangan begini!" Rizal maju, mencoba menengahi. "Ibu jangan mengada-ada! Ibu pasti sedang depresi. Mama Wulan akan sedih jika Ibu begini."
"Wulandari?" Saya menertawakan nama itu. "Dia akan sedih? Oh, kurasa dia justru akan senang. Impiannya terwujud, bukan?"
"Siti, diam!" Teguh berteriak.
"Aku tidak akan diam!" Saya bangkit dari sofa, berdiri tepat di hadapan mereka. "Aku sudah terlalu lama diam! Empat puluh tahun aku diam, Teguh! Empat puluh tahun aku hidup dalam kebohongan yang kalian rancang bersama!"
Rizal dan Teguh saling pandang, raut kebingungan dan ketakutan terlihat jelas di wajah mereka. Kartika hanya diam, menunduk.
"Aku tahu semuanya," kata saya, suara saya mendalam. "Aku tahu tentang kamu dan Wulandari. Aku tahu tentang 'riset'-mu yang sebenarnya adalah bulan madu setiap tahun. Aku tahu tentang anakku yang lebih menganggap Wulandari sebagai ibunya. Aku tahu tentang rencana kalian, karena Wulandari mandul, kalian menjadikanku ibu pengganti!"
Teguh terhuyung mundur. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Rizal menatap saya, matanya membelalak ketakutan.
"Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu?" Teguh tergagap.
"Itu tidak penting lagi," jawab saya. "Yang penting adalah, aku tidak akan lagi menjadi bagian dari sandiwara busuk ini."
"Kamu... kamu akan miskin, Siti!" Teguh berteriak, mencoba mengancam. "Kamu akan terlantar sendirian! Kamu tidak punya apa-apa!"
Saya menatapnya, ada senyum tipis di bibir saya. "Mungkin. Tapi setidaknya aku akan bebas. Bebas dari kebohongan kalian. Bebas dari kalian semua."
"Ibu, jangan! Ibu tidak boleh cerai!" Rizal memohon, kini suaranya terdengar panik. "Kami minta maaf, Bu. Kami salah. Pulanglah, Bu."
"Tidak," kata saya tegas. "Ini sudah selesai."
"Siti, dengarkan aku!" Teguh mencoba meraih tangan saya, tapi saya menariknya. "Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari perceraian ini! Semua harta adalah milikku!"
"Aku tidak butuh hartamu," jawab saya, menatap matanya. "Aku hanya butuh kebebasan. Dan aku akan menjaga rahasia kalian, asalkan kalian lepaskan aku."
Teguh menatap saya, matanya penuh perhitungan. Reputasinya. Itu yang paling dia khawatirkan.
"Ibu, jangan begini, Bu..." Rizal masih mencoba membujuk.
Saya menoleh ke arah Rizal. "Rizal, kamu sudah dewasa. Kamu sudah punya istrimu sendiri. Uruslah rumah tanggamu sendiri. Jangan lagi bergantung pada ibumu yang 'biasa' ini."
"Siti!" Teguh berteriak, suaranya penuh amarah. "Kamu akan menyesal! Kamu akan melihat bagaimana hidupmu tanpa kami!"
"Aku tidak akan menyesal," kata saya, menatap mereka satu per satu. "Mulai sekarang, aku akan hidup untuk diriku sendiri."