Di hari ulang tahunku, tunanganku, Vano, merencanakan kejutan di tepi kolam renang.
Namun, bukannya pelukan hangat, ia justru mendorongku ke dalam air yang dingin.
Padahal ia tahu persis aku memiliki trauma mendalam dan tidak bisa berenang.
Saat aku berjuang mencari napas, ia malah tertawa puas sambil merangkul Melodi, mahasiswa magang yang ternyata selingkuhannya.
"Sialan, jangan sampai dia mati," gumamnya panik saat aku ditarik keluar, bukan karena mengkhawatirkanku, tapi takut akan reputasinya sendiri.
Ketika aku sadar di rumah sakit, ia dengan wajah tanpa dosa berbohong kepada semua orang bahwa aku terpeleset karena ceroboh.
Melihat wajah munafiknya, rasa cintaku seketika berubah menjadi kebencian yang membara.
Pria ini baru saja mencoba membunuhku demi wanita lain, dan aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.
Maka, saat ia mencoba memegang tanganku dengan sok peduli, aku menepisnya kasar dan menatapnya dengan tatapan kosong.
"Maaf, Anda siapa?" tanyaku dingin.
"Aku tidak mengenalmu. Aku hanya ingat kekasihku, Bahar Adijaya."
Mendengar nama musuh bebuyutannya disebut sebagai kekasihku, wajah Vano seketika pucat pasi.
Permainan balas dendamku baru saja dimulai.
Bab 1
Sekar Yuli POV:
Udara dingin menghantam paru-paruku. Air kolam renang yang dalam menelanku, menarikku ke dalam kegelapan yang sangat kukenal. Ini bukan perayaan ulang tahun biasa. Ini adalah tindakan kejam yang direncanakan.
Tubuhku meronta. Tanganku berusaha meraih apa pun, siapa pun. Tapi yang ada hanyalah biru yang tak berujung, dan suara tawa yang jauh dan terdistorsi. Tawa itu milik Vano. Mantan Vano-ku. Pria yang kucintai selama tiga tahun. Pria yang baru saja mendorongku ke kolam yang mengerikan ini.
Dia berdiri di tepi kolam, seringai bermain di bibirnya. Di sampingnya, Melodi, sang mahasiswi magang. Matanya, yang biasanya polos, kini berkilat dengan kepuasan yang dingin. Senyum tipis, penuh kemenangan, menyentuh bibirnya. Dia membuat gerakan, anggukan halus ke arah Vano. Vano membalasnya dengan kedipan mata.
Hatiku hancur berkeping-keping. Bukan hanya karena air. Tapi karena pengkhianatan yang mutlak. Aku tenggelam. Lagi.
Paru-paruku terasa terbakar. Penglihatanku memudar. Ingatan akan hari itu, bertahun-tahun lalu, ketika ombak menyeretku ke bawah, melintas di benakku. Ketakutan. Ketidakberdayaan. Itulah mengapa aku sangat membenci air. Vano tahu. Dia tahu itu dengan sangat baik.
Aku sudah memohon padanya, bukan? "Vano, jangan di atas kapal. Aku tidak nyaman dengan air."
Tapi dia hanya tertawa. "Sayang, ini ulang tahunmu. Kita harus merayakannya dengan gaya!" Dia suka pamer. Terutama ketika ada wajah-wajah baru.
Melodi adalah salah satunya. Dia bergabung dengan perusahaannya sebulan yang lalu. Muda. Terlihat polos. Rambutnya yang panjang dan gelap selalu tertata sempurna. Matanya, lebar dan tampak naif, selalu terlihat mencari Vano.
Aku menyadarinya. Cara Vano menatapnya. Cara dia mencari alasan untuk berbicara dengannya, menyentuh tangannya, bercanda dengannya. Aku mencoba mengabaikannya. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa itu hanya Vano yang seperti Vano. Dia memang playboy, tapi dia selalu kembali padaku. Dia bahkan pernah melamarku, memegang cincin berlian yang berkilauan seperti janji. Sebuah janji yang kini terasa seperti kebohongan.
Dia berkata, "Sekar, kamu adalah satu-satunya untukku. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Aku memercayainya. Seperti orang bodoh, aku memercayainya.
Sekarang, yang kulihat hanyalah Melodi, kepolosan palsunya yang larut menjadi senyum kejam. Dan Vano, Vano-ku, menanggapi Melodi dengan tatapan yang seharusnya hanya untukku.
Air memenuhi mulutku, menyengat hidungku. Tubuhku terasa berat. Aku tidak bisa melawan lagi. Ini dia. Tenggelam. Lagi.
Percikan air yang tiba-tiba. Lengan yang kuat melingkari pinggangku. Seseorang menarikku ke atas. Udara. Udara yang sangat berharga, membakar paru-paruku. Aku terbatuk, tersedak, tubuhku kejang-kejang.
"Sekar!" Sebuah suara, panik. Bukan suara Vano.
Aku sudah di dek. Orang-orang mengerumuniku. Wajah-wajah yang penuh kekhawatiran. Tapi wajah Vano berbeda. Itu pucat, ketakutan di matanya. Bukan ketakutan untukku, aku menyadari. Tapi ketakutan untuk dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi?" seseorang bertanya.
"Dia jatuh." Suara Vano tegang. Sebuah kebohongan.
Melodi memalingkan muka, senyumnya hilang, digantikan oleh ekspresi terkejut yang berpura-pura. Oh, dia sangat pandai berakting.
Penglihatanku memudar menjadi hitam. Hal terakhir yang kudengar adalah Vano bergumam, "Sialan, jangan sampai dia mati."
Aku terbangun karena bau antiseptik yang steril. Tenggorokanku sakit. Kepalaku berdenyut. Aku berada di ranjang rumah sakit.
Vano ada di sana, duduk di sampingku, tampak khawatir. Dia meraih tanganku.
Aku tersentak. Ingatan akan dorongannya, air dingin, senyum Melodi, gumaman paniknya... Semuanya membanjiri pikiranku.
"Sayang, kamu sudah sadar." Dia terdengar lega. Terlalu lega.
Dia menatapku, matanya penuh dengan apa yang dia ingin aku percayai sebagai kekhawatiran. Dia meremas tanganku.
Aku menarik tanganku menjauh. Tubuhku menegang, penolakan naluriah.
Dia mengerutkan kening. "Kenapa, Sayang? Aku Vano. Kekasihmu."
Mataku bertemu dengan matanya. Sebuah kesadaran yang dingin dan keras menghunjam dadaku. Pria ini, pria keji dan mengerikan ini, mencoba membunuhku. Dia tidak pantas mendapatkan kemarahanku. Dia tidak pantang mendapatkan apa pun. Sebuah ide, dingin dan cemerlang, berkelebat di benakku.
"Vano? Siapa itu Vano?" bisikku, suaraku serak. Mataku membelalak, berpura-pura bingung.
Dia tampak terpana. "Sekar? Kamu... kamu tidak ingat aku?"
Aku menggelengkan kepalaku perlahan, air mata menggenang di mataku. Bukan untuknya, tapi untuk kehidupan yang kutinggalkan. Dan untuk kehidupan yang akan kubangun.
"Aku... aku tidak tahu siapa kamu."
Wajahnya jatuh. Topeng kekhawatirannya retak.
"Aku hanya ingat... Bahar."
Vano Adisasmita POV:
"Bahar?" Suara itu keluar dari mulutku tanpa kusadari. Bahar Adijaya? Musuh bebuyutanku? Apa maksud Sekar dengan itu?
Sekar menatapku dengan mata kosong, seolah aku adalah orang asing. Ini pasti akal-akalannya. Dia pasti bercanda.
"Jangan bercanda, Sekar. Ini tidak lucu," kataku, mencoba menahan amarahku. "Aku Vano. Kekasihmu. Kita baru saja merayakan ulang tahunmu."
Tapi dia hanya menarik selimut lebih tinggi, ekspresi ketakutan yang samar muncul di matanya. Seolah-olah akulah yang paling menakutkan di ruangan ini. Perempuan licik ini. Dia pasti sedang mempermainkanku.
"Aku tidak tahu... Vano... aku tidak kenal siapa kamu," katanya lagi, suaranya bergetar. "Aku hanya ingat Bahar."
Rasa panas membakar dadaku. Bahar Adijaya. Nama itu seperti duri di tenggorokanku. Kenapa dia harus menyebut nama itu? Dia tahu aku membenci pria itu. Semua orang tahu itu. Bahar selalu menjadi bayang-bayang yang menyebalkan dalam hidupku. Lebih sukses, lebih dihormati, dan sekarang... dia mengambil Sekar dariku?
"Cukup!" bentakku, tanpa sadar tanganku mengepal. "Ini omong kosong. Kamu tidak bisa melakukan ini padaku."
Sekar menyusut di ranjang, matanya membelalak ketakutan. "Pergi! Aku tidak mengenalmu! Jangan mendekat!"
"Ini bukan lelucon, Sekar," kataku, mencoba meredakan suaraku, tapi amarahku terlalu besar. "Ini semua akal-akalanmu, kan? Untuk membuatku merasa bersalah? Kamu tahu aku tidak sengaja mendorongmu!"
Dia menggelengkan kepala, air mata mulai mengalir di pipinya. "Pergi! Pergi!"
Aku merasa seperti darah mendidih di nadiku. Aku tidak pernah suka ditolak, apalagi oleh Sekar, yang selalu begitu patuh dan mencintaiku. Dia adalah "milikku". Bagaimana dia bisa melupakan aku dan menyebut nama Bahar?
Dalam kemarahanku, aku tak sengaja menyenggol meja nakas di samping ranjang. Vas bunga di atasnya jatuh dan pecah berkeping-keping. Suara pecahan itu memenuhi ruangan yang hening. Sekar menjerit.
"Tolong! Pergi! Orang asing!" teriaknya, suaranya lemah tapi penuh kepanikan.
Detik berikutnya, pintu terbuka dan dua perawat serta seorang dokter masuk dengan tergesa-gesa.
"Ada apa ini?" tanya dokter, suaranya tegas.
"Dia... dia gila," kataku, menunjuk Sekar. "Dia berpura-pura amnesia. Dia bahkan tidak ingat aku."
Perawat dengan cepat mendekati Sekar, mencoba menenangkannya. Matanya menatapku dengan tatapan yang menghakimi.
"Tuan, tolong tenang," kata perawat itu, berdiri di antara aku dan Sekar. "Pasien baru sadar dan kondisinya masih sangat lemah. Anda harus pergi."
"Pergi? Aku kekasihnya!" seruku, merasa harga diriku diinjak-injak.
"Keluar sekarang, Tuan Vano. Atau saya akan panggil keamanan," kata dokter itu, menunjuk ke pintu.
Aku menatap Sekar sekali lagi. Dia meringkuk, gemetar, seolah aku monster. Sebuah kemarahan baru melonjak dalam diriku. Dia akan membayar untuk ini.
Aku berbalik dan membanting pintu, meninggalkan Sekar dan tim medis yang menatapku dengan jijik. Di luar ruangan, aku mondar-mandir, mencoba mencerna semua ini. Amnesia? Bahar? Omong kosong. Dia pasti mencoba membalas dendam padaku karena Melodi. Tapi kenapa Bahar?
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan Sekar.
"Dokter! Bagaimana keadaannya?" tanyaku, mencoba terdengar khawatir.
Dokter itu menatapku dengan dingin. "Nona Sekar mengalami trauma kepala ringan akibat benturan. Mungkin ada gangguan memori sementara."
"Gangguan memori? Sungguh?" Aku terkekeh sinis. "Dia menyebut nama Bahar Adijaya. Apakah itu juga bagian dari gangguannya?"
Dokter itu menghela napas. "Tuan Vano, saya mengerti ini sulit. Tapi memori adalah hal yang kompleks. Terkadang, trauma bisa menyebabkan pasien melupakan hal-hal yang berkaitan dengan insiden traumatis. Atau, terkadang, memori bisa memilih apa yang ingin diingat dan dilupakan. Saya sarankan Anda tidak memaksanya. Tekanan emosional bisa memperburuk kondisinya dan membuatnya melupakan Anda secara permanen."
"Melupakan aku secara permanen?" Aku tertawa, kali ini lebih keras. "Itu tidak mungkin. Sekar mencintaiku."
"Anda bisa percaya itu atau tidak," kata dokter itu, mengangkat bahu. "Yang jelas, jauhkan diri Anda darinya untuk sementara waktu. Jika Anda terus memaksanya, kami akan melarang Anda mengunjunginya."
Dia berbalik dan pergi, meninggalkan aku sendirian di koridor yang sepi. Aku tidak percaya ini. Sekar tidak mungkin melupakanku. Dan Bahar? Mengapa Bahar?
Aku memutuskan untuk tidak memedulikan peringatan dokter. Ini semua sandiwara. Aku harus membuatnya ingat. Aku harus membuatnya sadar bahwa dia hanya milikku.
Aku kembali ke pintu ruangan Sekar, membuka kenopnya tanpa mengetuk. Sekar menjerit lagi saat melihatku.
"Pergi! Pergi! Jangan sentuh aku!" teriaknya, matanya membelalak. Dia bahkan menggaruk lenganku saat aku mencoba mendekat.
Seorang perawat datang dan menarikku keluar lagi. "Sudah saya peringatkan, Tuan Adisasmita! Jika Anda terus mengganggu pasien, kami tidak punya pilihan selain memanggil polisi!"
"Omong kosong!" Aku marah. "Dia menggarukku! Lihat!"
Perawat itu menatap lenganku yang merah bekas cakaran. "Itu adalah reaksi alami pasien yang merasa terancam. Sekali lagi, dia mengalami amnesia selektif. Jangan memaksanya."
Dia menatapku dengan tajam. "Jika Anda terus membuatnya stres, dia mungkin akan melupakan Anda dan semua yang berhubungan dengan Anda selamanya. Apakah itu yang Anda inginkan?"
Aku terdiam. Melupakan aku selamanya? Tidak. Aku tidak menginginkan itu. Tapi ini semua salahnya! Dia yang memulai permainan ini!
Tepat saat aku ingin membantah, aku mendengar suara langkah kaki dari ujung koridor. Ayah dan Ibu Sekar datang, wajah mereka terlihat jelas khawatir.
"Vano? Apa yang terjadi? Bagaimana Sekar?" tanya Ayah Sekar, suaranya penuh kecemasan.
Aku mencoba mengatur napas, memasang wajah sedih. "Paman, Tante... Sekar... dia tidak mengingatku. Dia... dia amnesia." Aku menunjuk ke lenganku yang merah. "Dia bahkan menggarukku, dia pikir aku orang asing."
Wajah Ibu Sekar menjadi pucat. "Apa? Amnesia?"
Perawat itu mendekat ke orang tua Sekar dan mulai menjelaskan kondisinya. Aku bisa melihat kepanikan di mata mereka. Tapi kemudian, mereka menatapku dengan tatapan curiga.
"Vano, apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal?" tanya Ayah Sekar, suaranya rendah dan penuh bahaya.
Aku mencoba terlihat lugu. "Aku tidak tahu, Paman. Dia hanya terpeleset dan jatuh ke kolam."
"Terpeleset?" Ibu Sekar mendengus. "Sekar tidak pernah ceroboh. Apalagi di dekat air, dia sangat berhati-hati."
Aku menelan ludah. Ini tidak berjalan sesuai rencana.
Mereka bergegas masuk ke kamar Sekar. Aku mencoba menguping, tapi pintu tertutup rapat. Setelah beberapa saat, aku mendengar suara tangisan Ibu Sekar.
Ketika pintu terbuka lagi, Ayah Sekar keluar, menatapku dengan mata membara. "Vano, kami akan bicara nanti. Sekarang kami ingin bersama putri kami."
Sekar Yuli POV:
Aku melihat kelegaan di mata orang tuaku saat aku mengenali mereka. Itu adalah kelegaan yang tulus, berbeda jauh dengan kepura-puraan Vano.
"Ayah, Ibu," kataku, suaraku masih lemah. "Aku ingat kalian."
Ibuku memelukku erat, air mata membasahi bahuku. "Syukurlah, Nak. Syukurlah."
Ayahku menatap Vano dengan tatapan membunuh. "Kita akan selesaikan ini nanti," katanya kepada Vano, suaranya rendah dan penuh ancaman.
Vano, yang masih berdiri di koridor, tampak tidak nyaman. Bagus. Biarkan dia merasakan sedikit tekanan.
"Sekar, kenapa kau bisa jatuh ke kolam?" tanya Ayahku, suaranya lembut tapi ada nada urgensi di sana.
Aku melihat Vano di ambang pintu, wajahnya pucat. Ini adalah momenku. Aku menatap Ayahku, lalu sengaja melirik Vano, lalu kembali ke Ayah dengan ekspresi ketakutan yang sempurna.
"Dia..." suaraku bergetar, "dia ingin menyakitiku." Aku menunjuk ke arah Vano. "Aku tidak tahu siapa dia, tapi dia menakutkan. Aku... aku hanya ingat Bahar. Dia kekasihku, kan?"
Ekspresi Vano berubah dari pucat menjadi merah padam. Matanya memancarkan kemarahan yang membara. Dia menggeram, seolah siap menerkam.
"Ayah! Aku takut padanya!" teriakku, bersembunyi di balik Ayahku.
Ayahku melangkah maju, menghalangi pandanganku dari Vano. "Vano, keluar dari sini sekarang! Jangan pernah dekati putriku lagi!"
Vano menatapku, matanya dipenuhi campuran amarah, kebingungan, dan... sebersit ketakutan. Dia tidak bisa menerima ini. Aku tahu itu.
Ini baru permulaan.
Sekar Yuli POV:
Ayahku berdiri tegak, memblokir pandanganku dari Vano yang masih di ambang pintu. Suasana di ruangan itu tegang, dipenuhi dengan amarah yang membara dari Ayah, kekhawatiran Ibu, dan tentu saja, pura-pura ketakutanku.
"Kekasih?" Vano mendengus, suaranya terdengar seperti geraman. "Omong kosong apa ini, Sekar? Kau tahu siapa kekasihmu!"
Aku menggelengkan kepala, air mata menggenang lagi. Aku harus terlihat meyakinkan. "Aku... aku tidak tahu siapa pria ini, Ayah. Dia menakutkan!"
Ayahku berbalik ke arah Vano, wajahnya merah padam. "Kau dengar itu, Vano? Putriku takut padamu! Sekarang pergi! Atau kau akan berurusan denganku!"
Vano menatapku dengan mata menyala. Sebuah kilatan kebencian dan kebingungan melintas di sana. Dia tidak bisa mencerna bahwa aku, Sekar yang selalu patuh, bisa menolaknya seperti ini. Apalagi menyebut nama Bahar.
"Ini semua sandiwara, Paman!" Vano mencoba membela diri. "Dia hanya mencoba membalas dendam padaku! Dia tidak mungkin melupakan aku dan mengingat Bahar!"
"Keluar!" teriak Ayahku, menunjuk ke luar pintu. "Sekarang!"
Vano akhirnya mundur, tatapan terakhirnya dipenuhi ancaman yang tersembunyi. Dia membanting pintu begitu keras hingga dinding bergetar.
Ibuku masih memelukku erat. "Kita harus percaya pada dokter, Nak. Mungkin ini hanya sementara."
Aku mengangguk, menyandarkan kepalaku di bahunya. "Aku hanya ingat Bahar, Bu. Dia... dia yang selalu ada untukku, kan?"
Ayahku menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia tahu kedekatanku dengan Bahar adalah hal yang tabu, mengingat persaingan bisnis mereka. Tapi sekarang, dengan kondisiku yang "amnesia", dia tidak punya pilihan selain mengikuti permainanku.
Vano Adisasmita POV:
"Bahar Adijaya!" Aku menggeram, membanting tinjuku ke dinding koridor. Suara itu bergema, tapi tidak ada yang peduli. Semua orang di rumah sakit ini melihatku seperti orang gila.
Suster yang memperingatkanku tadi muncul lagi. "Tuan Vano, jika Anda terus membuat keributan, kami akan memanggil polisi. Pasien butuh ketenangan."
"Ketenangan?" desisku. "Dia menyebut nama musuh bebuyutanku dan kau ingin aku tenang?"
"Itu adalah gejala trauma kepala yang menyebabkan amnesia selektif," jawabnya datar. "Pasien melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan baginya, atau yang berhubungan dengan insiden traumatis. Dan saya ingatkan, jika Anda terus mengganggu, dia bisa saja melupakan Anda selamanya."
"Omong kosong!" Aku berbalik, berjalan menjauh. "Dia tidak akan pernah melupakan aku!"
Tapi kata-kata suster itu terus terngiang di kepalaku. Melupakanku selamanya. Itu tidak mungkin. Sekar mencintaiku. Dia selalu mencintaiku. Mungkin dia hanya shock. Atau mungkin dia memang... berpura-pura.
Aku mengeluarkan ponselku, mencari kontak Bahar Adijaya. Pria sombong itu. Dia pasti sudah tahu tentang ini dan menikmati penderitaanku. Aku akan menghajarnya jika dia berani mendekati Sekar.
Aku kembali ke rumah sakit beberapa jam kemudian, mencoba masuk ke kamar Sekar, tapi dihentikan oleh satpam. Orang tua Sekar pasti sudah memberitahu mereka untuk tidak mengizinkanku masuk.
Sial! Ini semua salah Sekar. Dia yang memulai permainan ini. Aku tidak akan membiarkannya menang.
Sekar Yuli POV:
Orang tuaku memutuskan untuk membiarkanku tinggal di rumah sakit selama beberapa hari untuk observasi. Dokter menjelaskan kepada mereka tentang "amnesia selektif"ku. Aku mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail yang bisa kugunakan untuk memperkuat sandiwaraku.
"Sekar, Nak," kata Ibuku suatu sore, saat kami berdua di kamar. "Apakah kau benar-benar tidak ingat Vano sama sekali?"
Aku menatapnya dengan mata kosong. "Aku tidak tahu siapa dia, Bu. Aku hanya merasa takut setiap kali melihatnya. Aku... aku hanya ingat Bahar Adijaya. Dia... dia pacarku, kan?"
Ibuku menghela napas. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto lama. Foto-fotoku bersama Vano. Aku melihatnya, wajahku di sana, tersenyum paksa di sampingnya. Aku harus menahan diri untuk tidak bereaksi.
"Ini Vano," kata Ibuku lembut. "Kalian sudah tiga tahun pacaran."
Aku menggelengkan kepala. "Tidak... ini bukan dia. Aku... aku tidak ingat." Aku menunjuk pada foto-fotoku bersama teman-teman, bersama orang tuaku. "Aku ingat mereka semua. Tapi pria itu... aku tidak ingat."
Ayahku masuk, wajahnya tampak lelah. "Baiklah, kita tidak akan memaksanya. Dokter bilang tekanan hanya akan memperburuk."
Aku tahu Ayahku sedang memikirkan hal lain. Perusahaan kami memiliki banyak proyek besar yang bergantung pada kerja sama dengan grup properti Vano. Jika aku "melupakan" Vano, kerja sama itu bisa terancam. Tapi dia tidak akan mengorbankan putrinya. Aku tahu itu.
Vano Adisasmita POV:
Aku merasa seperti orang bodoh. Sekar tidak mengingatku. Dan yang lebih buruk, dia mengingat Bahar.
Aku memutuskan untuk tidak memedulikan Sekar untuk sementara waktu. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku bisa bahagia tanpanya. Dan aku punya Melodi.
Aku menjemput Melodi dari kampusnya dengan mobil sport terbaruku. Mahasiswa-mahasiswa di sana menatap kami dengan iri. Melodi, seperti biasa, tampak anggun dan sederhana, tapi ada kilatan di matanya yang tidak bisa kulewatkan.
"Vano, apa kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya lembut. "Aku dengar tentang Sekar. Aku turut prihatin."
"Aku baik-baik saja," kataku, melambaikan tangan. "Dia hanya mencari perhatian. Amnesia? Omong kosong. Dia hanya ingin membalas dendam padaku."
Melodi mengangguk pelan, tapi aku melihat senyum tipis di bibirnya. Dia senang. Dia ingin Sekar menghilang dari hidupku.
"Apa kau tidak khawatir kalau dia benar-benar melupakanmu?" tanyanya, terdengar polos.
Aku tertawa. "Tidak akan. Sekar tidak akan pernah bisa melupakanku. Dia terlalu mencintaiku."
Aku membawanya ke pusat perbelanjaan paling mewah, membelikannya tas desainer, perhiasan, apa pun yang dia inginkan. Dia menolak beberapa barang, berkata, "Ini terlalu mahal, Vano. Aku tidak pantas mendapatkannya."
Tapi aku melihat matanya yang berbinar. Dia suka membuatku mengejarnya. Dia sangat pandai. Aku jadi semakin tertarik padanya. Dia tidak seperti Sekar, yang terlalu mudah didapatkan.
Malam itu, aku pergi ke bar dengan teman-temanku. Aku ingin melupakan semua masalah.
"Vano, kau terlalu cepat melupakan Sekar," kata salah satu temanku, Rio. "Kalian sudah lama bersama. Dan kondisi Sekar..."
"Cukup!" bentakku. "Dia yang memulainya! Dia yang berpura-pura amnesia dan menyebut nama si brengsek Bahar itu!"
"Tapi dia amnesia, Van. Dokter bilang begitu," kata Rio, mencoba menenangkanku.
"Bodoh!" Aku tertawa sinis. "Dia tidak akan pernah melupakan aku. Dia tidak akan pernah bisa hidup tanpaku. Dia hanya ingin menarik perhatianku, membuatku memohon padanya."
"Vano, hati-hati dengan ucapanmu," kata Rio, ekspresinya serius. "Sekar mungkin tidak selembut yang kau kira."
"Apa maksudmu?" desisku, merasa terhina. "Dia hanya wanita lemah yang terlalu mencintaiku. Dia tidak punya apa-apa tanpaku."
"Kau salah," kata Rio, menggelengkan kepala. "Kau tahu, Sekar itu memiliki koneksi bisnis yang kuat. Ayahnya..."
"Cukup!" Aku membentak lagi, memotongnya. "Aku tidak ingin mendengar nama Sekar lagi! Mari kita bersulang untuk Melodi! Kekasihku yang baru!"
Aku mengangkat gelasku, tapi saat itu, pintu bar terbuka. Dan di sana, berdiri di ambang pintu, adalah Sekar.
Dia tidak mengenakan gaun rumah sakit. Dia mengenakan gaun hitam sederhana yang pas di tubuhnya, rambutnya digerai, dan wajahnya dipulas riasan tipis. Dia tampak... berbeda. Lebih dingin. Lebih kuat.
Mataku membelalak. Apa yang dia lakukan di sini? Dia seharusnya di rumah sakit! Dia seharusnya amnesia!
Rio dan teman-temanku yang lain menatap Sekar dengan tak percaya.
"Sekar?" bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan.
Dia menatapku. Matanya tidak lagi kosong atau takut. Matanya dingin, tajam, dan penuh perhitungan. Tidak ada jejak ketakutan di sana. Sama sekali tidak.
Dia tidak datang untukku. Dia tidak datang untuk memohon padaku kembali.
Dia melangkah maju, melewati meja kami, melewati aku yang terpaku. Dia tidak melirikku sama sekali. Seolah aku tidak ada di sana.
Dia berjalan lurus ke arah... Bahar Adijaya, yang duduk di sudut bar, sendirian, dengan segelas wiski di tangannya.
Sekar tersenyum pada Bahar. Itu bukan senyum manis yang biasa dia berikan padaku. Itu adalah senyum yang penuh rahasia, penuh pemahaman.
Dia mendekati Bahar, tangannya terulur. Bahar berdiri, dan Sekar memeluknya erat.
"Bahar," bisiknya, suaranya cukup keras untuk kudengar. "Aku merindukanmu."
Dunia di sekitarku runtuh.
Vano Adisasmita POV:
Dunia di sekitarku runtuh. Aku melihat Sekar memeluk Bahar Adijaya. Bukan pelukan biasa. Itu adalah pelukan yang penuh keintiman, seolah mereka sudah saling mengenal seumur hidup. Kata-kata "Aku merindukanmu" bergema di telingaku, menusuk hatiku seperti belati es.
"Van... Vano?" Rio memanggil, suaranya penuh kebingungan.
Aku tidak bisa menjawab. Mataku terpaku pada Sekar. Dia menoleh ke arahku. Tidak ada senyum. Tidak ada emosi. Hanya tatapan dingin, seolah aku adalah debu di lantai. Dia melepaskan pelukan Bahar, tapi tangannya masih menggenggam erat lengan pria itu.
"Apa-apaan ini?" desisku, berdiri, membuat kursi di belakangku jatuh.
Sekar tidak bereaksi. Dia hanya menatapku. Tatapan itu. Itu adalah tatapan yang sama sekali tidak kukenal. Sekar yang kucintai tidak pernah menatapku seperti itu. Dia selalu menatapku dengan cinta, dengan kekaguman.
Bahar. Dia berdiri di sana, tinggi dan tenang, tangannya melingkari punggung Sekar, seolah dia pelindungnya. Dia menatapku dengan seringai tipis, penuh kemenangan, seolah berkata, Dia adalah milikku sekarang.
Darahku mendidih. "Sekar! Apa yang kau lakukan? Ini sandiwara, kan? Kau tidak bisa bersama pria itu!"
Sekar akhirnya membuka mulut, suaranya tenang, terlalu tenang. "Maaf, Tuan. Siapa Anda?"
Tuan? Dia memanggilku Tuan? Dia benar-benar gila!
"Ini aku, Vano! Kekasihmu!" Aku mencoba melangkah mendekat, tapi Bahar melangkah maju, menghalangiku.
"Dia bukan kekasihmu," kata Bahar, suaranya rendah dan mengancam. "Dia kekasihku."
"Omong kosong! Sekar, jangan dengarkan dia! Dia hanya memanfaatkan kondisimu!" Aku mencoba meraih tangan Sekar, tapi Bahar dengan cepat mendorong tanganku.
"Jangan sentuh dia," kata Bahar, matanya menyala.
Sekar menyusup di balik Bahar, bertingkah seperti seorang gadis yang ketakutan. Aktingnya sempurna. Dia memang seorang aktris hebat.
Tapi kemudian, Bahar menoleh ke arahku. "Aku sudah muak dengan permainanmu, Vano. Kau mendorongnya ke kolam. Kau beruntung dia selamat. Dan sekarang kau masih berani menemuinya?"
Wajahku memucat. Bagaimana dia tahu?
"Itu... itu tidak disengaja!" kataku, mencoba berbohong.
Bahar tertawa sinis. "Tidak disengaja? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu segalanya, Vano. Aku tahu semua kekejamanmu padanya."
"Kau... kau tidak punya hak!" kataku, merasa terpojok.
"Aku punya hak," kata Bahar, memeluk Sekar lebih erat. "Karena aku suaminya."
Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Suaminya? Tidak, tidak mungkin!
"Kau bohong! Sekar! Katakan padanya dia bohong!" Aku menatap Sekar, memohon padanya.
Sekar menatap Bahar, lalu tersenyum manis. "Dia tidak berbohong, sayang. Dia memang suamiku."
Dunia berhenti berputar. Sekar... dan Bahar? Mereka... menikah?
Rio dan teman-temanku menatapku dengan tatapan kasihan. Aku merasa semua mata di bar tertuju padaku. Aku merasa seperti orang tolol.
"Ini tidak mungkin," bisikku, mundur selangkah. "Ini tidak mungkin..."
Melodi. Dia tiba-tiba muncul di sampingku, tangannya meraih lenganku. "Vano, ayo kita pergi. Biarkan saja mereka."
Tapi aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa membiarkan Sekar bersama Bahar. Dia milikku. Dia selalu milikku.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu, Sekar? Kau lupa siapa aku? Aku Vano! Kekasihmu!" Aku berteriak lagi, suaraku pecah.
Bahar menatapku dengan tatapan menghina. "Dia tidak pernah melupakanmu, Vano," katanya. "Dia hanya tidak ingin mengingatmu."
Air mataku mulai mengalir. Vano Adisasmita, pewaris Adisasmita Group. Aku menangis di depan semua orang.
"Vano, ayo kita pergi," kata Melodi, menarikku. Dia terdengar tulus, tapi aku melihat kilatan kegembiraan di matanya. Dia senang. Dia senang melihatku hancur.
Aku menepis tangan Melodi. "Tidak! Aku tidak akan pergi! Sekar! Katakan padaku kau mencintaiku!"
Sekar tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatapku, matanya dingin seperti es.
"Oke, cukup sudah," kata Bahar, matanya menyala. "Kau sudah cukup membuat keributan. Pergi dari sini, Vano. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali."
Aku melihat sekeliling. Beberapa pengunjung bar sudah mengeluarkan ponsel mereka, merekam. Aku harus pergi. Tapi aku tidak bisa.
"Aku tidak akan menyerah, Sekar!" teriakku. "Kau akan kembali padaku! Kau akan melihat!"
Aku berbalik dan berlari keluar dari bar, meninggalkan Melodi dan teman-temanku yang terpana. Aku tidak tahu ke mana aku pergi, tapi aku harus menemukan cara untuk mendapatkan Sekar kembali. Dia adalah milikku.
Sekar Yuli POV:
Aku melihat Vano berlari keluar dari bar, wajahnya merah padam dan air mata membasahi pipinya. Rasa puas yang dingin menjalari hatiku. Ini baru permulaan.
Aku menoleh ke Bahar, yang masih memelukku. Dia menatapku dengan tatapan yang dalam, ada sedikit kebingungan di sana.
"Apakah itu terlalu jauh?" tanyaku pelan, hanya untuk Bahar yang bisa mendengar.
Bahar tersenyum tipis. "Mungkin. Tapi itu berhasil, kan?"
Aku melihat sekeliling. Beberapa pasang mata masih menatap kami, berbisik-bisik. Tentu saja. Pewaris Adisasmita Group baru saja dipermalukan di depan umum oleh mantan kekasihnya yang "amnesia" yang kini bersama musuh bebuyutannya. Ini akan menjadi berita utama besok pagi.
Aku melepaskan pelukan Bahar. Dia menatapku, ada sesuatu yang tidak bisa kuartikan di matanya. Aku tahu dia masih terkejut dengan semua ini.
"Terima kasih, Bahar," kataku, mencoba terdengar tulus. "Kau banyak membantuku."
"Tidak masalah, Sekar," jawabnya, suaranya tenang. "Kau tahu aku akan selalu membantumu."
Aku tahu. Dia memang selalu ada. Bahkan ketika aku terlalu dibutakan oleh cintaku pada Vano yang brengsek itu.
"Jadi... kita akan melanjutkan sandiwara ini?" tanyanya, ada sedikit nada ragu di suaranya.
Aku menatapnya, lalu tersenyum. Senyum yang sebenarnya kali ini. "Tentu saja. Ini baru permulaan."
Aku melihat ke arah pintu bar tempat Vano menghilang. Dia pantas mendapatkan lebih dari ini. Dia pantas kehilangan segalanya.
Vano Adisasmita POV:
Aku mengemudi tanpa tujuan, mesin mobil meraung, mencerminkan kemarahan di dadaku. Sekar... bersama Bahar? Menikah? Itu tidak mungkin! Dia mengenalku sejak lama. Bagaimana dia bisa begitu cepat melupakan aku dan menikahi pria itu?
Aku meraih ponselku, mencoba menelepon Sekar, tapi dia tidak menjawab. Aku mencoba menelepon Rio, Rio juga tidak menjawab. Semua orang pasti menertawakanku sekarang.
Aku melihat ke kaca spion, wajahku sendiri terlihat kacau. Rambutku berantakan, mataku merah. Aku tidak pernah terlihat seburuk ini.
Aku harus menemukan Sekar. Aku harus membuatnya ingat. Ini semua pasti akting. Dia hanya ingin membalasku. Tapi Bahar? Kenapa dia melibatkan Bahar?
Aku berhenti di pinggir jalan, memukul setir dengan frustrasi. Aku tidak bisa menerima ini. Sekar adalah milikku. Dia tidak bisa bersama Bahar.
Aku tahu Bahar selalu punya mata pada Sekar. Aku melihatnya setiap kali kami bertemu di acara perusahaan. Tatapan penuh hormat yang dia berikan pada Sekar, berbeda dengan tatapan mengejek yang dia berikan padaku. Aku selalu merasa inferior di depannya. Dan sekarang, dia mengambil Sekar dariku.
Ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya terjadi.
Aku kembali ke apartemenku, berharap Melodi ada di sana. Dia adalah satu-satunya yang bisa menenangkanku sekarang. Aku membutuhkan hiburan.
Pintu apartemenku terbuka. Melodi duduk di sofa, menonton televisi. Dia menoleh saat aku masuk, ekspresi khawatir yang sempurna di wajahnya.
"Vano? Kau baik-baik saja?" tanyanya, bergegas menghampiriku. "Kau terlihat... kacau."
Aku memeluknya erat, mencari kenyamanan. "Dia... dia bersama Bahar. Dia bilang dia menikah dengan Bahar."
Melodi membelai rambutku. "Aku tahu, sayang. Aku melihatnya. Itu pasti sangat menyakitkan."
"Dia berbohong, kan?" tanyaku, menatapnya. "Dia pasti berbohong."
Melodi tidak menjawab langsung. Dia hanya menatapku dengan mata lebar, seolah tidak tahu harus berkata apa.
"Vano, kau harus tenang," katanya. "Mungkin dia hanya mencoba membuatmu cemburu."
"Cemburu?" Aku mendengus. "Dia berhasil. Tapi aku tidak akan membiarkannya menang."
Aku menepis tangan Melodi. "Aku akan mendapatkan Sekar kembali. Tidak peduli apa pun."
Melodi menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada sedikit kekecewaan di sana, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap.
"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu, Vano," katanya.
Aku mengangguk. Setidaknya ada satu orang yang masih peduli padaku. Atau begitulah yang kupikir.
Sekar Yuli POV:
Beberapa hari berikutnya, media sosial meledak. Foto-fotoku bersama Bahar di bar, Vano yang terlihat kacau, semua berita tentang "amnesia selektif"ku dan pernikahanku dengan Bahar. Semuanya viral.
Aku membaca semua komentar. Beberapa orang bersimpati padaku, beberapa orang mengecam Vano, dan beberapa orang lain bertanya-tanya tentang Bahar.
"Kau sangat pandai berakting," kata Bahar, saat kami makan siang di restorannya. "Seluruh dunia percaya kau amnesia."
Aku tersenyum tipis. "Itu tujuannya, kan? Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan."
"Dan apa yang kau rasakan?" tanyanya, menatapku dengan serius.
Aku menatapnya. "Pengkhianatan. Sakit hati. Dan... keinginan untuk membalas dendam."
Bahar mengangguk. "Aku mengerti."
Aku melihat ke ponselku. Ada notifikasi dari Ayah. Dia mengirimkan pesan singkat. "Kerja bagus, Nak. Vano menghubungi Ayah. Dia terlihat sangat tertekan."
Sebuah senyum kecil muncul di bibirku. Ini baru akan seru.
"Vano tidak akan menyerah begitu saja," kata Bahar, seolah membaca pikiranku.
"Aku tahu," kataku. "Tapi aku juga tidak akan menyerah. Aku akan memastikan dia kehilangan segalanya. Seperti dia membuatku hampir kehilangan nyawaku."
Bahar meraih tanganku di atas meja. "Aku akan melindungimu, Sekar. Kau tidak sendirian."
Sentuhan tangannya terasa hangat dan menenangkan. Aku menatapnya. Dia memang tidak seperti Vano. Dia tulus. Dia peduli.
"Terima kasih," bisikku.
Kami menghabiskan makan siang dengan membahas strategi selanjutnya. Aku tahu Bahar adalah pria yang cerdas dan kuat. Dengan dia di sisiku, aku merasa tak terkalahkan.