Bab 1

Cinta tak bersyarat kadang berubah menjadi rantai yang menjebak, terutama ketika dilandasi kontrak tanpa hati.

Aruna Larasati menyerahkan segalanya—impian, masa muda, dan kasih sayang—untuk menyelamatkan keluarganya, berharap cinta bisa mengubah segalanya.

Namun, dunia itu kejam. Gavin Nugraha, pria yang dia "nikahi", hanya melihatnya sebagai bayangan.

Elvira Suprianto, cinta pertama yang kembali, mengambil segala yang dia miliki, bahkan perhatian anak yang dia besarkan dengan sepenuh hati.

Lima tahun di dalam perjanjian yang dingin, di mana setiap pengorbanan diabaikan, setiap harapan hancur.

Sampai pada hari dia memutuskan untuk bebas—tetapi apakah kebebasan itu datang dengan harga yang dia mampu bayar?

Di tengah cinta, pengkhianatan, dan impian yang tercuri, Aruna harus memilih: tetap bertahan dalam bayangan, atau bangkit dan merebut hidupnya kembali.

Bab 1

Aruna POV:

"Aku ingin membatalkan kontrak ini," kataku, suaraku datar, tak berekspresi. Itu bukan permintaan. Itu adalah pernyataan.

Gavin Nugraha mengangkat alisnya, tatapan dinginnya menyapu wajahku. Dia selalu seperti itu. Dingin dan jauh. "Apa yang kau bicarakan, Aruna? Kau tahu kita tidak bisa."

Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mataku. "Mengapa tidak? Bukankah sudah jelas ini hanya kesepakatan bisnis sejak awal? Kita bukan suami-istri sungguhan. Kita hanya dua orang yang terikat oleh perjanjian."

Dia menyeringai, senyum sinis yang selalu membuatku merasa kecil. "Dan bagaimana dengan Arkana? Dia memanggilmu 'Mama'. Kau pikir dia akan mengerti?"

"Arkana adalah bagian dari kontrak itu," jawabku, tanpa ragu. "Dia adalah anak yang kubesarkan, ya. Tapi dia bukan anakku. Dan sekarang, dia sudah punya 'Mama' baru, bukan?"

Elvira Suprianto. Nama itu seperti duri di tenggorokanku. Cinta pertama Gavin yang kembali. Wanita yang dulu meninggalkannya, tapi kini disambut dengan tangan terbuka. Gavin dan Arkana begitu cepat berpaling dariku. Setiap senyum, setiap sentuhan, setiap kata-kata manis yang dulu Gavin berikan padaku kini ia berikan pada Elvira. Aku dulu berpikir aku bisa mengisi kekosongan di hatinya. Aku dulu berpikir cinta tak bersyaratku bisa mengubah segalanya. Tapi aku salah. Aku selalu salah.

Aku ingat semua pengorbananku. Mimpi-mimpi yang kukubur dalam-dalam untuk menjadi pewangi, untuk memiliki karir yang cemerlang. Aku mengabdikan diri pada rumah ini, pada Gavin, dan pada Arkana. Aku mencintai Arkana seperti anakku sendiri, mengajarinya berjalan, membaca, menemaninya saat demam tinggi. Tapi semua itu dibalas dengan ketidakpedulian. Ketidakpedulian Gavin dan bahkan anak yang kubesarkan dengan sepenuh hati.

Gavin menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan. Kontrak ini akan berakhir seminggu lagi. Setelah itu, kau bebas."

"Bagus," balasku, meraih pulpen dan menandatangani dokumen yang sudah tersedia di meja. Tanda tanganku tak bergetar sama sekali. Ini adalah pembebasanku.

Aku bangkit dari kursi, tanpa menoleh lagi padanya, dan berjalan keluar dari ruangan itu. Langkahku terasa ringan, seolah beban berton-ton telah terangkat dari bahuku. Aku menuruni tangga, jantungku berdebar kencang, bukan karena sakit, tapi karena kebebasan yang terasa nyata. Aku mengabaikan tatapan para pelayan yang kebingungan melihatku dengan tas tangan di tangan. Aku membuka pintu utama, merasakan angin sore menerpa wajahku.

Saat mobilku melaju, aku melihat ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari media sosial. Sebuah foto yang diunggah oleh Elvira. Di sana, Elvira berdiri di samping Gavin dan Arkana, senyumnya merekah, tangannya melingkar mesra di pinggang Gavin. Arkana, putra Gavin, anak yang kucintai seperti darah dagingku sendiri, tersenyum lebar sambil memegang tangan Elvira.

Dan yang paling menyakitkan adalah, Elvira mengenakan gaun yang kubeli khusus untuk acara ulang tahun Arkana. Gaun yang seharusnya kupakai. Gaun yang kubayangkan akan membuatku merasa seperti bagian dari keluarga mereka. Gaun itu pas di tubuh Elvira, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang sempurna.

Mereka ada di pesta ulang tahun Arkana. Pesta yang seharusnya kuatur, pesta yang kudekorasi dengan tangan sendiri, dengan tema kesukaan Arkana. Tapi kini, Elvira yang berdiri di sana, menggantikan posisiku. Gavin menatap Elvira dengan tatapan memuja, tatapan yang tak pernah kuterima selama lima tahun pernikahan kami. Arkana tertawa riang, memanggil Elvira "Tante Elvira yang glamor."

Ini bukan pertama kalinya. Insiden mainan robot itu masih terasa nyeri. Aku mengantre lima jam demi membelikan robot edisi terbatas untuk ulang tahun Arkana. Tapi Elvira datang membawa drone terbaru. Arkana dengan kasar melempar robot pemberianku dan berteriak, "Hadiah Mama Aruna norak! Aku lebih suka hadiah Tante Elvira!" Gavin diam saja, tidak membelaku. Aku merasa hancur.

Lalu insiden alergi Arkana. Gavin tahu Arkana memiliki asma akut dan alergi bulu binatang. Tapi Elvira, dengan senyum manisnya, membawa kucing Persia lucu untuk Arkana bermain. Ketika aku melarang, Gavin malah menatapku tajam. "Jangan terlalu kaku, Aruna! Elvira cuma ingin Arkana senang. Kamu cemburu saja." Malamnya, Arkana sesak napas. Tapi Gavin dan Elvira malah pergi makan malam, meninggalkanku sendirian merawat Arkana di UGD. Aku merasa seperti mayat hidup.

Melihat mereka bertiga, aku merasa seperti orang asing yang mengintip ke dalam kehidupan orang lain. Lima tahun. Lima tahun aku hidup dalam bayangan ini. Segalanya bermula dari kebangkrutan ayahku. Bisnisnya hancur karena penipuan, meninggalkan kami terlilit utang yang tak terbayarkan. Di saat yang sama, Gavin Nugraha, pewaris tunggal Nugraha Group, sedang hancur. Elvira, cinta pertamanya, meninggalkannya demi karier model internasional yang lebih menjanjikan. Gavin yang dingin dan arogan berubah menjadi pemabuk, menghancurkan diri sendiri. Citranya berantakan di mata kakeknya yang konservatif, mengancam posisinya sebagai CEO.

Kakek Nugraha, seorang pria tua yang cerdik, melihatku. Seorang mahasiswa kimia berbakat dengan indra penciuman yang tajam, yang terpaksa berhenti kuliah karena masalah keuangan keluarga. Aku adalah pilihan yang sempurna. Lembut, patuh, dan putus asa.

"Menikahlah dengan Gavin," kata Kakek Nugraha. "Jadilah ibu sambung yang sempurna bagi Arkana. Bantu Gavin mengamankan posisinya. Sebagai imbalannya, semua utang ayahmu akan terbayar, dan keluargamu akan aman."

Aku tak punya pilihan. Ayahku, yang selalu kucintai, membutuhkan operasi mahal yang tak mampu kami biayai. Aku mengubur impianku menjadi seorang pembuat parfum. Aku menyetujui kontrak itu, lima tahun. Lima tahun untuk mengabdikan diri pada keluarga ini.

Gavin pada awalnya acuh tak acuh. Dia melihatku sebagai formalitas, sebuah bayangan yang mengisi kekosongan tempat Elvira pernah berada. Kami menikah secara sederhana, tanpa perayaan, tanpa cinta. Dia tidak pernah memintaku untuk mendaftarkan pernikahan kami secara resmi, dan aku, karena kesedihan dan kebodohan, tidak pernah mendesaknya. Aku hanya ingin memenuhi kontrak, menyelamatkan keluargaku.

Arkana, yang ibunya meninggal saat melahirkan, awalnya sangat dekat denganku. Aku membesarkannya sejak bayi, melimpahinya dengan kasih sayang yang tulus. Aku mengajarinya segala hal, dari cara memegang sendok hingga cara membaca cerita pengantar tidur. Dia memanggilku 'Mama' dengan suara riang, dan setiap kali ia melakukannya, hatiku terasa hangat. Aku jatuh cinta padanya, pada Gavin, pada gagasan tentang keluarga ini.

Tapi itu semua adalah fantasi. Gavin selalu menganggap keberadaanku di rumah adalah hal yang wajar dan "sudah semestinya." Dia terjebak dalam nostalgia masa lalu dengan Elvira, buta terhadap ketulusan yang ada di depan matanya. Dia tidak pernah melihatku. Dia hanya melihat bayangan Elvira.

Malam itu, di dalam mobil yang melaju di jalan tol yang basah kuyup karena hujan deras, aku duduk di belakang, di antara Gavin dan Elvira. Arkana duduk di pangkuan Elvira. Sebuah truk tiba-tiba memotong jalur. Gavin membanting setir. Ban mobil selip.

"Aaaarrrgh!" teriak Elvira, memeluk Arkana erat.

Mobil kami menabrak pembatas jalan. Dinding baja itu menembus sisi penumpang, tepat di tempatku duduk. Aku merasakan benturan keras, tubuhku terhempas, kepalaku membentur jendela. Kaca pecah berhamburan.

"Gavin!" teriak Elvira histeris. "Arkana!"

Gavin, dalam kepanikannya, secara naluriah menarik Elvira dan Arkana keluar dari mobil. Dia berhasil mengeluarkan mereka berdua, yang hanya menderita luka lecet ringan. Aku terjepit di dalam, rasa sakit mencengkeramku. Darah hangat mengalir di wajahku.

"Gavin!" panggilku lemah.

Gavin berbalik. Matanya bertemu dengan mataku, penuh dengan keraguan. Mobil mulai berasap tebal, percikan api terlihat di bagian depan. Dia hanya berdiri di sana, menatapku. Keraguan itu, ketidakpastian itu, terukir jelas di wajahnya. Dia harus memilih. Dan dia sudah memilih.

Dengan sisa tenaga terakhirku, aku melepaskan sabuk pengaman yang terjepit, mendorong pintu yang bengkok dengan kedua kaki. Aku berhasil merangkak keluar, sesaat sebelum mobil itu meledak. Ledakan itu begitu keras, tubuhku terlempar beberapa meter. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan di kepalaku, di sekujur tubuhku. Pandanganku buram. Gavin, Elvira, dan Arkana berdiri di kejauhan, menatapku. Tidak ada yang datang menghampiri.

Aku selamat dari maut, tapi hatiku mati. Aku tahu, kontrak ini tak lagi berarti. Di rumah sakit, Gavin sibuk menenangkan Elvira yang histeris karena "syok." Tidak ada yang menjengukku. Tidak ada yang bertanya keadaanku. Aku hanya sendirian. Saat aku diizinkan pulang, aku meninggalkan cincin kontrak itu dan surat cerai di meja nakas. Aku pergi tanpa pamit. Aku menghilang ke luar negeri.

Aku menghubungi teman lamaku, seorang pengacara. Dia membantuku mengurus semuanya. Aku tidak ingin apa-apa dari keluarga Nugraha. Tidak ada uang, tidak ada properti. Hanya kebebasan. Aku ingin memulai hidup baru.

Dua tahun telah berlalu sejak hari itu. Dua tahun aku mengubur diriku dalam dunia wewangian, mengasah bakatku yang sempat terkubur. Aku muncul kembali sebagai "The Alchemist," pencipta parfum misterius yang paling dicari di Eropa. Aku bukan lagi Aruna Larasati yang rapuh dan penuh harapan. Aku adalah Mystique.

"Aruna tahu apa yang dia lakukan," gumamku pada diriku sendiri, menatap foto Elvira dan Gavin di ponselku. "Dia tidak akan kembali lagi."

Aku membuang ponselku ke kursi penumpang. Aku tak lagi peduli dengan mereka. Aku tak lagi butuh validasi dari pria yang pernah menyia-nyiakanku. Aku sudah terbang bebas.

"Aruna! Aruna!"

Suara Gavin memecah keheningan di dalam mobil. Aku mengabaikannya. Suara itu, aku sudah muak mendengarnya. Dia tak pantas lagi memanggil namaku.

"Aruna! Kau dengar aku? Jangan coba-coba membatalkan kontrak ini!" Gavin berteriak, suaranya dipenuhi amarah yang tidak beralasan.

Aku tetap diam. Tidak ada gunanya berdebat. Kata-kataku tidak akan pernah sampai padanya.

"Kau tidak bisa begitu saja pergi! Ingat Arkana! Dia membutuhkanmu!"

Aku tersenyum miris. "Dia tidak membutuhkanku. Dia punya Elvira, bukan?"

Gavin terdiam. Aku tahu kata-kataku menusuknya. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku sudah terlalu lama disakiti.

"Aruna, ini tidak lucu! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. "Kau tidak punya hak untuk menahanku. Kontrak ini sudah berakhir. Kita bukan apa-apa lagi."

Aku keluar dari mobil, meninggalkan Gavin yang masih berteriak. Malam ini adalah malam terakhirku di rumah ini. Besok, aku akan terbang bebas. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku.

Aku menatap rembulan yang bersinar di langit malam. Besok, hidupku akan berubah. Aku akan menjadi wanita yang kuat, mandiri, dan tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menyakitiku.

"Aku ingin membatalkan kontrak ini," kataku, suaraku datar, tak berekspresi.

Itu bukan permintaan. Itu adalah pernyataan.

Gavin Nugraha mengangkat alisnya, tatapan dinginnya menyapu wajahku.

Dia selalu seperti itu. Dingin dan jauh.

"Apa yang kau bicarakan, Aruna? Kau tahu kita tidak bisa."

Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mataku.

"Mengapa tidak? Bukankah sudah jelas ini hanya kesepakatan bisnis sejak awal? Kita bukan suami-istri sungguhan. Kita hanya dua orang yang terikat oleh perjanjian."

Dia menyeringai, senyum sinis yang selalu membuatku merasa kecil.

"Dan bagaimana dengan Arkana? Dia memanggilmu 'Mama'. Kau pikir dia akan mengerti?"

"Arkana adalah bagian dari kontrak itu," jawabku, tanpa ragu.

"Dia adalah anak yang kubesarkan, ya. Tapi dia bukan anakku. Dan sekarang, dia sudah punya 'Mama' baru, bukan?"

Elvira Suprianto. Nama itu seperti duri di tenggorokanku.

Cinta pertama Gavin yang kembali. Wanita yang dulu meninggalkannya, tapi kini disambut dengan tangan terbuka.

Gavin dan Arkana begitu cepat berpaling dariku. Setiap senyum, setiap sentuhan, setiap kata-kata manis yang dulu Gavin berikan padaku kini ia berikan pada Elvira.

Aku dulu berpikir aku bisa mengisi kekosongan di hatinya. Aku dulu berpikir cinta tak bersyaratku bisa mengubah segalanya.

Tapi aku salah. Aku selalu salah.

Aku ingat semua pengorbananku. Mimpi-mimpi yang kukubur dalam-dalam untuk menjadi pewangi, untuk memiliki karir yang cemerlang.

Aku mengabdikan diri pada rumah ini, pada Gavin, dan pada Arkana. Aku mencintai Arkana seperti anakku sendiri, mengajarinya berjalan, membaca, menemaninya saat demam tinggi.

Tapi semua itu dibalas dengan ketidakpedulian. Ketidakpedulian Gavin dan bahkan anak yang kubesarkan dengan sepenuh hati.

Gavin menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan. Kontrak ini akan berakhir seminggu lagi. Setelah itu, kau bebas."

"Bagus," balasku, meraih pulpen dan menandatangani dokumen yang sudah tersedia di meja.

Tanda tanganku tak bergetar sama sekali. Ini adalah pembebasanku.

Aku bangkit dari kursi, tanpa menoleh lagi padanya, dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Langkahku terasa ringan, seolah beban berton-ton telah terangkat dari bahuku. Aku menuruni tangga, jantungku berdebar kencang, bukan karena sakit, tapi karena kebebasan yang terasa nyata.

Aku mengabaikan tatapan para pelayan yang kebingungan melihatku dengan tas tangan di tangan. Aku membuka pintu utama, merasakan angin sore menerpa wajahku.

Saat mobilku melaju, aku melihat ponselku bergetar.

Sebuah notifikasi dari media sosial. Sebuah foto yang diunggah oleh Elvira.

Di sana, Elvira berdiri di samping Gavin dan Arkana, senyumnya merekah, tangannya melingkar mesra di pinggang Gavin.

Arkana, putra Gavin, anak yang kucintai seperti darah dagingku sendiri, tersenyum lebar sambil memegang tangan Elvira.

Dan yang paling menyakitkan adalah, Elvira mengenakan gaun yang kubeli khusus untuk acara ulang tahun Arkana.

Gaun yang seharusnya kupakai. Gaun yang kubayangkan akan membuatku merasa seperti bagian dari keluarga mereka.

Gaun itu pas di tubuh Elvira, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang sempurna.

Mereka ada di pesta ulang tahun Arkana. Pesta yang seharusnya kuatur, pesta yang kudekorasi dengan tangan sendiri, dengan tema kesukaan Arkana.

Tapi kini, Elvira yang berdiri di sana, menggantikan posisiku. Gavin menatap Elvira dengan tatapan memuja, tatapan yang tak pernah kuterima selama lima tahun pernikahan kami. Arkana tertawa riang, memanggil Elvira "Tante Elvira yang glamor."

Ini bukan pertama kalinya. Insiden mainan robot itu masih terasa nyeri.

Aku mengantre lima jam demi membelikan robot edisi terbatas untuk ulang tahun Arkana. Tapi Elvira datang membawa drone terbaru.

Arkana dengan kasar melempar robot pemberianku dan berteriak, "Hadiah Mama Aruna norak! Aku lebih suka hadiah Tante Elvira!"

Gavin diam saja, tidak membelaku. Aku merasa hancur.

Lalu insiden alergi Arkana. Gavin tahu Arkana memiliki asma akut dan alergi bulu binatang.

Tapi Elvira, dengan senyum manisnya, membawa kucing Persia lucu untuk Arkana bermain.

Ketika aku melarang, Gavin malah menatapku tajam. "Jangan terlalu kaku, Aruna! Elvira cuma ingin Arkana senang. Kamu cemburu saja."

Malamnya, Arkana sesak napas. Tapi Gavin dan Elvira malah pergi makan malam, meninggalkanku sendirian merawat Arkana di UGD.

Aku merasa seperti mayat hidup.

Melihat mereka bertiga, aku merasa seperti orang asing yang mengintip ke dalam kehidupan orang lain.

Lima tahun. Lima tahun aku hidup dalam bayangan ini.

Segalanya bermula dari kebangkrutan ayahku. Bisnisnya hancur karena penipuan, meninggalkan kami terlilit utang yang tak terbayarkan.

Di saat yang sama, Gavin Nugraha, pewaris tunggal Nugraha Group, sedang hancur.

Elvira, cinta pertamanya, meninggalkannya demi karier model internasional yang lebih menjanjikan.

Gavin yang dingin dan arogan berubah menjadi pemabuk, menghancurkan diri sendiri. Citranya berantakan di mata kakeknya yang konservatif, mengancam posisinya sebagai CEO.

Kakek Nugraha, seorang pria tua yang cerdik, melihatku.

Seorang mahasiswa kimia berbakat dengan indra penciuman yang tajam, yang terpaksa berhenti kuliah karena masalah keuangan keluarga. Aku adalah pilihan yang sempurna. Lembut, patuh, dan putus asa.

"Menikahlah dengan Gavin," kata Kakek Nugraha. "Jadilah ibu sambung yang sempurna bagi Arkana. Bantu Gavin mengamankan posisinya. Sebagai imbalannya, semua utang ayahmu akan terbayar, dan keluargamu akan aman."

Aku tak punya pilihan. Ayahku, yang selalu kucintai, membutuhkan operasi mahal yang tak mampu kami biayai.

Aku mengubur impianku menjadi seorang pembuat parfum. Aku menyetujui kontrak itu, lima tahun.

Lima tahun untuk mengabdikan diri pada keluarga ini.

Gavin pada awalnya acuh tak acuh. Dia melihatku sebagai formalitas, sebuah bayangan yang mengisi kekosongan tempat Elvira pernah berada.

Kami menikah secara sederhana, tanpa perayaan, tanpa cinta.

Dia tidak pernah memintaku untuk mendaftarkan pernikahan kami secara resmi, dan aku, karena kesedihan dan kebodohan, tidak pernah mendesaknya.

Aku hanya ingin memenuhi kontrak, menyelamatkan keluargaku.

Arkana, yang ibunya meninggal saat melahirkan, awalnya sangat dekat denganku.

Aku membesarkannya sejak bayi, melimpahinya dengan kasih sayang yang tulus.

Aku mengajarinya segala hal, dari cara memegang sendok hingga cara membaca cerita pengantar tidur.

Dia memanggilku 'Mama' dengan suara riang, dan setiap kali ia melakukannya, hatiku terasa hangat.

Aku jatuh cinta padanya, pada Gavin, pada gagasan tentang keluarga ini.

Tapi itu semua adalah fantasi. Gavin selalu menganggap keberadaanku di rumah adalah hal yang wajar dan "sudah semestinya."

Dia terjebak dalam nostalgia masa lalu dengan Elvira, buta terhadap ketulusan yang ada di depan matanya.

Dia tidak pernah melihatku. Dia hanya melihat bayangan Elvira.

Malam itu, dalam perjalanan pulang dari acara keluarga, mobil yang dikendarai Gavin melaju di jalan tol yang basah kuyup karena hujan deras.

Aku duduk di belakang, di antara Gavin dan Elvira. Arkana duduk di pangkuan Elvira.

Sebuah truk tiba-tiba memotong jalur. Gavin membanting setir. Ban mobil selip.

"Aaaarrrgh!" teriak Elvira, memeluk Arkana erat.

Mobil kami menabrak pembatas jalan. Dinding baja itu menembus sisi penumpang, tepat di tempatku duduk.

Aku merasakan benturan keras, tubuhku terhempas, kepalaku membentur jendela. Kaca pecah berhamburan.

"Gavin!" teriak Elvira histeris. "Arkana!"

Gavin, dalam kepanikannya, secara naluriah menarik Elvira dan Arkana keluar dari mobil.

Dia berhasil mengeluarkan mereka berdua, yang hanya menderita luka lecet ringan. Aku terjepit di dalam, rasa sakit mencengkeramku.

Darah hangat mengalir di wajahku.

"Gavin!" panggilku lemah.

Gavin berbalik. Matanya bertemu dengan mataku, penuh dengan keraguan.

Mobil mulai berasap tebal, percikan api terlihat di bagian depan. Dia hanya berdiri di sana, menatapku.

Keraguan itu, ketidakpastian itu, terukir jelas di wajahnya. Dia harus memilih.

Dan dia sudah memilih.

Dengan sisa tenaga terakhirku, aku melepaskan sabuk pengaman yang terjepit, mendorong pintu yang bengkok dengan kedua kaki.

Aku berhasil merangkak keluar, sesaat sebelum mobil itu meledak.

Ledakan itu begitu keras, tubuhku terlempar beberapa meter. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan di kepalaku, di sekujur tubuhku.

Pandanganku buram. Gavin, Elvira, dan Arkana berdiri di kejauhan, menatapku.

Tidak ada yang datang menghampiri.

Aku selamat dari maut, tapi hatiku mati. Aku tahu, kontrak ini tak lagi berarti.

Di rumah sakit, Gavin sibuk menenangkan Elvira yang histeris karena "syok."

Tidak ada yang menjengukku. Tidak ada yang bertanya keadaanku. Aku hanya sendirian.

Saat aku diizinkan pulang, aku meninggalkan cincin kontrak itu dan surat cerai di meja nakas.

Aku pergi tanpa pamit. Aku menghilang ke luar negeri.

Aku menghubungi teman lamaku, seorang pengacara. Dia membantuku mengurus semuanya.

Aku tidak ingin apa-apa dari keluarga Nugraha. Tidak ada uang, tidak ada properti. Hanya kebebasan.

Aku ingin memulai hidup baru.

Dua tahun telah berlalu sejak hari itu. Dua tahun aku mengubur diriku dalam dunia wewangian, mengasah bakatku yang sempat terkubur.

Aku muncul kembali sebagai "The Alchemist," pencipta parfum misterius yang paling dicari di Eropa. Aku bukan lagi Aruna Larasati yang rapuh dan penuh harapan.

Aku adalah Mystique.

"Aruna tahu apa yang dia lakukan," gumamku pada diriku sendiri, menatap foto Elvira dan Gavin di ponselku. "Dia tidak akan kembali lagi."

Aku membuang ponselku ke kursi penumpang. Aku tak lagi peduli dengan mereka.

Aku tak lagi butuh validasi dari pria yang pernah menyia-nyiakanku.

Aku sudah terbang bebas, dan tak akan ada lagi ikatan yang bisa menarikku kembali.

Bab 2

Aruna POV:

Elvira melangkah anggun ke arahku, senyumnya yang biasa kini berubah menjadi seringai penuh kemenangan.

"Maaf, Aruna. Aku tidak tahu ini tempat parkirmu," katanya, suaranya manis seperti madu tapi tatapannya tajam. "Aku hanya ingin Arkana senang."

Sebelum aku sempat menjawab, Gavin sudah menyela. "Aruna sudah tahu. Dia tidak akan keberatan."

Matanya menyiratkan peringatan, sebuah pesan yang jelas: Jangan membuat masalah.

Arkana, yang duduk di kursi belakang mobil Elvira, menjulurkan kepalanya.

"Tante Elvira tidak salah, Mama Aruna. Mama selalu membosankan. Tante Elvira lebih seru!"

Kata-kata itu menghantamku seperti bongkahan es. Membosankan? Anak yang kubesarkan dengan sepenuh hati memanggilku membosankan?

Aku memejamkan mata sesaat, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk. Aku ingat bagaimana aku menghabiskan berjam-jam bermain dengannya, membaca buku cerita, dan membuatkan makanan kesukaannya.

Aku adalah orang yang menemaninya saat demam, yang mengajarinya membaca. Sekarang, semua itu menguap begitu saja.

Gavin menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin ia menyadari betapa dalam kata-kata Arkana melukaiku.

"Elvira akan menginap di sini malam ini," kata Gavin, nadanya memerintah. "Kamarnya di lantai atas, di samping kamar Arkana."

Jantungku berdebar kencang. Elvira akan menginap?

"Papa, ini bagus! Tante Elvira bisa membacakan cerita pengantar tidur untukku!" Arkana berseru riang.

"Tentu saja, sayang," Elvira membelai rambut Arkana. "Tante akan membacakan cerita terlucu untukmu."

Gavin tiba-tiba tampak linglung, seolah baru menyadari bahwa dia belum memberitahuku tentang ini.

"Elvira hanya akan menginap sementara, sampai dia menemukan apartemennya sendiri," jelas Gavin, mencoba terdengar meyakinkan. "Dia butuh tempat untuk tinggal."

"Aku tidak masalah," kataku, suaraku terdengar jauh dan asing di telingaku sendiri.

Aku tidak masalah. Tidak ada yang masalah lagi bagiku. Aku hanya ingin semua ini berakhir.

Gavin menatapku lagi, kali ini dengan ekspresi tak percaya. Dia mungkin mengharapkan teriakan, atau setidaknya air mata.

Tapi aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan.

"Oh, Gavin, aku bisa menginap di hotel saja. Aku tidak ingin merepotkan Aruna," Elvira berkata, dengan nada pura-pura bersalah.

"Tidak perlu," Arkana menyela, "Tante Elvira adalah temanku! Papa, Tante Elvira lebih baik daripada Mama Aruna. Mama Aruna tidak pernah mengerti apa yang aku mau."

"Arkana!" Gavin membentaknya. Itu adalah pertama kalinya dia membentak Arkana di depan Elvira.

Arkana hanya cemberut. "Tapi itu benar, Papa! Tante Elvira tahu apa yang kusuka."

"Dia benar, Gavin," Elvira tersenyum penuh arti padaku. "Aku rasa Arkana juga tahu siapa yang lebih cocok di rumah ini."

Gavin menghela napas. "Sudahlah. Elvira, ayo masuk. Arkana, bawa Tante Elvira ke kamarmu."

Mereka bertiga masuk ke dalam, meninggalkanku sendirian di depan pintu.

"Aruna," Gavin berbalik. "Tolong ambilkan tas Elvira dari bagasi."

Aku menatapnya. Mataku kosong. Aku tidak ingin melakukan ini. Menjadi pelayan untuk wanita yang menggantikanku? Itu terlalu menyakitkan.

"Aku tidak enak badan," kataku, suaraku serak.

Gavin terkejut. Dia tidak pernah mendengarku menolak permintaannya.

"Ada apa denganmu?" tanyanya, ada sedikit nada khawatir di suaranya. "Kau terlihat sangat pucat."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya. Dia pasti melihat sesuatu di mataku, semacam kepasrahan yang membuatnya mengerutkan kening.

"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk mengambilnya," katanya, nadanya sedikit melunak. "Tapi kau harus ikut masuk."

Aku tidak punya pilihan. Aku mengangguk pelan.

Aku mengambil tas Elvira dan membawanya ke dalam. Arkana berlari menghampiri Elvira, tangannya memegang sebuah kotak kecil berwarna biru.

"Tante Elvira, ini untukmu! Hadiah dari Arkana!" serunya, matanya berbinar.

Elvira mengambil kotak itu, terkejut. "Oh, Arkana, ini apa?"

"Buka saja!"

Elvira membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati kecil.

Aku kenal kalung itu. Itu adalah kalung yang kubelikan untuk Arkana saat dia mulai sekolah. Kutuliskan namanya di belakang liontin, sebuah pengingat bahwa aku akan selalu bersamanya. Kuberikan padanya sebagai jimat keberuntungan, agar dia selalu merasa kuat dan percaya diri.

"Ini... ini cantik sekali, Arkana," Elvira berkata, tapi matanya melirikku sekilas.

Aku merasakan jantungku mencelos. Kalung itu. Itu adalah simbol ikatan kami. Tapi sekarang, itu ada di tangan Elvira.

"Mama Aruna yang memberikannya padaku," kata Arkana. "Tapi aku tidak menyukainya. Jadi aku memberikannya padamu. Tante Elvira pasti lebih menyukainya."

Rasa sakit itu begitu dalam, tak terlukiskan. Kalung itu adalah harapanku, keberanianku, cinta tak bersyaratku.

Aku menatap Arkana. Anak yang kubesarkan, yang kuberi semua cintaku, dengan mudahnya membuang hadiah dariku pada wanita lain.

Gavin menatapku, matanya dipenuhi rasa bersalah. Tapi sudah terlambat.

"Arkana, itu tidak sopan," Gavin menegur, suaranya rendah. "Kalung itu pemberian Mama Aruna."

"Tapi aku tidak mau! Ini norak! Tante Elvira lebih cantik, jadi dia harus punya kalung yang cantik."

"Tidak apa-apa, Gavin," kataku, suaraku datar. "Arkana benar. Dia tidak menyukainya. Itu bukan apa-apa."

Aku berbalik dan berjalan menuju kamarku. Aku tidak ingin melihat mereka lagi.

Gavin menatapku, matanya dipenuhi kebingungan. Dia tidak mengerti. Dia tidak akan pernah mengerti.

Aku menutup pintu kamarku. Aku bersandar di pintu, air mata mengalir membasahi pipiku.

Seminggu lagi. Hanya seminggu lagi.

Aku hanya perlu bertahan seminggu lagi, dan semua ini akan berakhir.

Aku akan bebas. Bebas dari rasa sakit ini.

Bab 3

Aruna POV:

Aku terbangun di pagi hari, ranjang di sampingku dingin dan kosong.

Itu sudah menjadi kebiasaan. Kami selalu tidur terpisah.

Gavin tidak pernah benar-benar menerimaku sebagai istrinya, dan aku juga menghormati ruang pribadinya.

Setelah bersiap-siap, aku pergi ke kantor temanku.

Dia adalah seorang pengacara, dan dia adalah satu-satunya orang yang tahu seluruh ceritaku.

"Aruna, kau yakin ingin melakukan ini?" tanyanya, matanya dipenuhi kekhawatiran.

"Aku sudah memikirkannya baik-baik," kataku. "Aku tidak punya pilihan lain."

"Ini semua karena kontrak itu, kan?"

Aku mengangguk.

Dia menghela napas lega. "Syukurlah. Aku khawatir kau benar-benar mencintainya."

Dia telah melihat semua berita tentang Gavin dan Elvira. Dia tahu betapa sakitnya aku.

"Untuk apa kau datang ke sini?" tanyanya. "Kau ingin surat cerai?"

Aku tersenyum miris. "Kami tidak pernah menikah secara resmi."

Dia terkejut. "Apa? Lalu apa yang kau lakukan selama lima tahun ini?"

"Aku hanya memenuhi kontrak," kataku. "Sekarang, aku ingin dokumen untuk melepaskan hak asuh Arkana."

Temanku terdiam. Matanya membelalak tak percaya.

"Kau... kau ingin melepaskan hak asuh Arkana? Tapi kau sangat mencintainya!"

Aku merasakan kesedihan yang mendalam di hatiku. Tapi ini adalah satu-satunya jalan keluar.

"Aku tidak ingin dia melihatku sebagai orang asing yang tak berguna," kataku. "Dia sudah punya Elvira. Dia memanggil Elvira 'Tante Elvira yang glamor'. Aku hanya ibu sambung yang membosankan."

"Tapi, Aruna..."

"Tolong, siapkan saja dokumennya," kataku, memotong perkataannya. Mataku menatap tajam, menahan air mata agar tidak jatuh.

Dia mengangguk. Dia tahu aku tidak akan mengubah pikiranku.

Beberapa menit kemudian, dia menyerahkan dokumen kepadaku. Tangan kananku gemetar saat menerima map itu. Ini adalah akhir dari segalanya.

Aku bangkit dari kursi. "Terima kasih," kataku, suaraku serak.

"Aruna!" dia memanggilku. "Apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti mencintai dirimu sendiri."

Aku berhenti sejenak, lalu berbalik dan tersenyum padanya. Senyum tipis yang menyembunyikan ribuan luka.

"Aku akan baik-baik saja," kataku.

Aku kembali ke rumah. Saat aku tiba, sudah pagi.

Ruang tamu sepi. Sarapan yang kubuat masih ada di meja makan, sudah dingin.

Tidak ada yang menyentuhnya.

Aku reheated sarapan itu, lalu naik ke atas untuk membangunkan Gavin dan Arkana.

Aturan Gavin adalah: jangan pernah masuk ke kamarnya tanpa mengetuk. Dia sangat menghargai privasinya.

Aku mengetuk pintu kamar Gavin. Pintu itu langsung terbuka.

Elvira berdiri di sana, meregangkan tubuhnya. Dia mengenakan kemeja putih Gavin, yang terlalu besar untuknya.

Melihatku, dia tersenyum. "Oh, Aruna. Kau sudah bangun?"

Aku merasa darahku mengering. Elvira di kamar Gavin?

"Aku hanya... aku hanya ingin tahu mengapa kau mengetuk kamar Gavin," katanya, mencoba menutupi kegugupannya. "Aku tidak enak badan semalam. Gavin hanya membantuku."

Wajahku pucat pasi. Aku tidak bisa berkata-kata.

"Ada apa?" Suara Gavin terdengar dari dalam kamar.

Aku menoleh. Gavin keluar dari kamar, mengenakan celana tidur. Dia tidak memakai baju.

Di lehernya, ada bekas ciuman merah keunguan.

Aku tersenyum miris. Lima tahun kami menikah, dan dia hampir tidak pernah menyentuhku. Aku pikir dia tidak tertarik pada hal-hal semacam itu.

Tapi aku salah. Dia hanya tidak tertarik padaku.

Gavin melihatku, lalu menatap Elvira. Dia tahu aku melihatnya, bekas ciuman itu.

Wajahnya memerah. Dia buru-buru menutupi lehernya dengan tangan.

"Aruna, ini tidak seperti yang kau pikirkan," katanya. "Elvira hanya... dia hanya masuk angin."

Elvira mengangguk, menyunggingkan senyum palsu. "Ya, aku hanya masuk angin. Gavin membantuku mencari obat."

Aku hanya menatap mereka. Aku tidak mengatakan apa-apa.

"Kau tidak perlu berpikir yang macam-macam," Gavin menambahkan, suaranya terdengar kasar.

Aku tertawa, tawa yang tidak sampai ke hatiku.

Mereka bahkan tidak bisa berbohong dengan sinkron. Elvira bilang dia tidak enak badan, Gavin bilang dia bantu cari obat. Tapi bekas ciuman itu, itu tidak bisa berbohong.

"Sarapan sudah siap," kataku, suaraku datar. Aku berbalik dan menuruni tangga.

Aku tidak peduli lagi. Gavin adalah urusannya sendiri. Kontrak ini akan segera berakhir.

Saat mereka bertiga turun, Arkana menatap sarapan di meja.

"Ini apa, Ma?" tanyanya, ekspresi jijik di wajahnya. "Ini membosankan. Aku mau pancake!"

"Arkana, jangan seperti itu," Gavin menegur. "Sarapan itu dibuat oleh Mama Aruna."

"Tapi aku tidak mau! Aku mau pancake atau sereal!"

Gavin biasanya tidak terlalu memanjakan Arkana. Dia akan membentak Arkana jika dia bersikap seperti itu.

Tapi kali ini, Elvira menyela.

"Oh, Gavin, mungkin Aruna bisa membuatkan pancake untuk Arkana? Aku dengar pancake buatan Aruna sangat enak."

Gavin menatapku. "Aruna, bisakah kau membuatkan pancake untuk Arkana?"

Aku menatapnya, lalu ke Arkana, lalu ke Elvira.

Tidak ada yang bertanya padaku. Tidak ada yang peduli perasaanku.

"Aku tidak bisa," kataku.

Aku terus makan sarapanku, mengabaikan tatapan mereka.

"Aku tidak bisa makan pancake. Sarapan ini kubuat sendiri. Jika kalian tidak mau, buang saja."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED