Apa kabar kematian?
Akhirnya kau datang menjemput wanita yang paling kucinta.
Jaga dia dan antarkan pada tempat muara keindahan bernama SURGA.
-Yasmin Azalea-
Tubuh Yasmin yang lemah bergetar hebat saat jasad wanita yang paling dicintai tertutup tanah perlahan-lahan. Tanah merah yang akan menjadi tempat tidur ibunya mulai malam ini. Tidak ada lagi ranjang yang empuk, apalagi bantal yang siap menopang kepala. Kini hanya tanah dan beberapa lapis kafan yang akan menyelimutinya.
Di atas gundukan tanah merah gadis berusia dua puluh satu tahun itu bersimpuh, menumpahkan sesak yang sejak semalam menggelayuti. Tidak dipedulikan orang-orang yang mencoba menenangkannya, juga tak dihiraukan lagi pakaian putih yang melekat di tubuh basah dan penuh noda dari tanah pemakaman. Orang-orang yang mengiringi kepergian wanita terhormat itu memandang iba. Setelah ditutup doa oleh seorang ustaz, mereka pergi satu per satu meninggalkannya, ayah dan beberapa orang yang merupakan keluarga Nisrina.
Gadis malang dengan rambut tertutup sehelai kain, masih memeluk erat nisan sang ibu. Air mata mengalir deras mengingat hari-harinya akan berbeda mulai hari itu. Tak ada lagi wanita yang akan menyisir rambut hitamnya atau menciumi berkali-kali tatkala ia enggan bangun dari tidur. Tidak ada lagi yang akan memarahinya saat makan malam sambil bermain handphone. Juga tak akan ada lagi yang mengantar dan menunggunya pulang. Ia kehilangan sosok yang sangat berharga. Sosok yang selalu memeluk setiap ia bersedih.
Tak bisa lagi ia membayangkan hari-hari tanpanya. Tak sanggup lagi ia membayangkan kesepian yang akan memeluknya erat mulai hari ini. Meski ia tahu masih ada ayah yang akan menemani dan berbagi kesah seperti biasa tapi tetap saja semua tak lagi sama.
Bundanya berpulang setelah lima bulan berjuang melawan kanker ovarium yang selama ini menggerogoti. Segala upaya dilakukan untuk mengobati sang bunda bahkan sampai terbang ke negara tetangga yang memiliki fasilitas dan tenaga medis terbaik. Namun, semua sudah ketentuan dari Sang Pencipta bahwa Ia lebih menyayangi makhluk-Nya.
Laki-laki yang memiliki nasib yang sama dengan Yasmin, memeluk erat. Tangannya membelai lembut pucuk kepala yang tertutup kerudung. Kecupannya ia daratkan pada kepala Yasmin dan akhirnya gadis itu menumpahkan semua tangis dan kesedihan dalam dekap hangat pelukan seorang ayah.
Langit masih menjatuhkan tetes-tetes air pada tanah yang selalu menerimanya dengan bahagia. Ayah dan anak itu akhirnya beranjak meninggalkan gundukan tanah yang penuh akan bunga tujuh rupa. Langkahnya pelan tak rela pergi meninggalkan jasad sang ibu yang terbujur kaku seorang diri.
Seorang wanita dengan pakaian serba hitam memandang sinis pada mereka dari dalam sebuah mobil. Ia turun dan menghampiri dua orang itu dengan tangis yang telah ia persiapkan sebelumnya.
“Bayu, aku turut berduka cita atas kematian Nisrina ya,” ucapnya dengan wajah sedih sambil mengelus bahu Yasmin.
“Iya, terima kasih sudah hadir. Tolong maafkan semua kesalahan istri saya,” ujar Bayu tegar.
Bayu membawa Yasmin pergi meninggalkan area pemakaman setelah berpamitan pada wanita bernama Clara. Selepas Bayu pergi, Clara tersenyum kecut pada nisan bertuliskan Nisrina binti Rendra Jayakusuma. Tatapan penuh benci ia layangkan pada tempat peristirahatan terakhir sahabatnya itu.
Yasmin memandang kosong pada jalanan yang dilalui dari jendela mobil. Membawanya kembali pada rumah yang kini kehilangan sang matahari. Memorinya memutar kembali kebersamaan dengan ibunya kala berada di dalam mobil ketika hujan turun. Mereka akan menggambar dan menulis di jendela yang terdapat uap air atau bunda akan menyanyikan lagu kesukaannya dan ayah akan mengikuti. Air mata yang sempat berhenti kini mengalir kembali. Dalam setiap sudut mobil itu, terdapat kenangan indah dengan wanita yang melahirkannya. Gadis bermata bulat itu tak tahu apakah nanti dapat melewati hari-hari tanpa wanita cantik penerang hidupnya, jika saat ini saja ia sudah sangat merindu.
Isak tangis Yasmin menjadi musik pengiring perjalanan kembali pulang. Bayu hanya mampu menatap pilu sang putri yang mulai memanggil-manggil nama ibunya. Sama dengan Yasmin, air mata yang sejak tadi berusaha untuk ditahan pun akhirnya lolos, karena merasakan pedihnya sebuah kepergian. Dengan gamang ia harus melalui hari-hari untuk melanjutkan hidup meski hatinya tertinggal bersama jasad sang istri.
Deretan karangan bunga berbaris rapi sepanjang jalan menuju kediamannya. Sebuah ucapan berbelasungkawa yang ditujukan padanya dari orang-orang yang mengenal mereka. Beberapa anak buah Bayu masih ada di sekitar rumah. Beberapa bertakzia dan beberapa yang lain sibuk membantu merapikan rumah yang sejak sore kemarin dipenuhi banyak pelayat.
Tiba di sebuah bangunan megah nan mewah, dengan pagar besi warna hitam yang berdiri kokoh melindungi privasi si empunya rumah. Dua buah pilar tinggi berwarna putih menjulang, menopang rumah yang gagah berdiri memberikan kesan bahwa pemiliknya adalah seseorang yang kuat lagi bijak. Baik Yasmin maupun Bayu, keduanya tidak ada yang beranjak dari dalam mobil. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil Bayu dan membuyarkan lamunan mereka. Bayu segera membuka pintu dan bergegas keluar ketika melihat Boby, asisten pribadinya yang mengetuk kaca itu. Mereka segera terlibat percakapan masalah pekerjaan.
Yasmin segera beranjak ke dalam rumah tapi kakinya tiba-tiba berhenti saat mendengar percakapan ayahnya. Matanya reflek memandang arah yang ditunjuk Boby. Seorang perempuan berjilbab paruh baya memandang ke arah mereka. Ia segera pergi ketika keberadaannya diketahui. Menurut keterangan Boby yang disampaikan kepada ayahnya, wanita itu sejak semalam telah berada di sana. Ia hanya memandang dan tidak melakukan apa-apa.
Bayu merasa sangat familiar dengan wajah itu. Ia lalu meminta Boby untuk membawa wanita itu jika ia berada di sana lagi. Namun sayang wanita itu tidak pernah muncul lagi setelah hari kematian Nisrina.
Yang tersulit itu bukan melepaskan kepergian
tetapi menjalani kehidupan setelah ditinggal pergi.
_Bayu Laksamana_
Yasmin masih enggan beranjak dari kamar yang didominasi warna hijau. Mulai dari cat dinding, tirai jendela, karpet dan seprai semua bernuansa warna daun. Kamar gadis cantik itu terletak di lantai dua rumah megah yang terlihat sepi. Meskipun pada hari biasa rumah itu juga sepi tetapi saat ini kesepian yang mendalam benar-benar menyelubungi, setelah sebelumnya kehilangan kehangatan.
Putri tunggal Bayu dan Nisrina itu tidak keluar kamar semenjak hari pemakaman. Hampir tiga minggu, ia tidak pernah lagi mengelilingi setiap sudut rumah. Bayang-bayang sang ibu seolah selalu ada di sana, menimbulkan rindu yang semakin lama semakin membuncah. Tubuh lemah itu bergelung selimut, menghabiskan malam dengan air mata sambil mendekap potret wanita muda yang menggendong seorang balita. Mata bulat yang biasa berbinar cerah, kini redup dan sembab dengan lingkaran hitam di bawahnya. Ia hampir selalu melewatkan tidur malamnya hanya untuk menangis dan menikmati rekaman video disetiap momen bersama sang malaikat tanpa sayap, lalu akan tertidur menjelang pagi.
Seorang asisten rumah tangga mengantarkan makanan setiap waktu makan tiba, tetapi hanya sedikit yang disentuh. Selera makannya menghilang, seperti rasa kantuk yang jarang datang. Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya diantar oleh seorang asisten rumah tangga. Menu sarapan favoritnya yang dibuat oleh Nisrina. Seketika rasa ingin menikmati makanan itu hadir. Sebuah sendok berbahan perak yang tergeletak di atas lap makan, ia ambil dan mulai menciduk sedikit nasi. Lalu di arahkan ke dalam mulut yang bibirnya tampak pucat. Ia melumat nasi itu dengan perlahan. Gadis yang berpenampilan berantakan itu menghujani makanan yang telah diletakkan kembali di atas nakas dengan pandangan kosong, berniat menyentuhnya kembali.
Seseorang berdiri di ambang pintu menatap gadis itu dengan tatapan sendu. Kakinya bergerak menghampiri tubuh yang kini terlihat kurus dan tak terawat. Pada pucuk kepala gadis itu ia hadiahi sebuah kecupan rindu, hingga akhirnya tatapan mereka saling beradu.
“Kenapa nggak dimakan nasi gorengnya?” tanya Bayu seraya duduk di sebelah Yasmin. Namun hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Makan, ya. Ayah suapi." Yasmin masih memberinya tatapan kosong.
“Sayang, kita semua di sini bersedih tapi jangan jadikan kesedihan itu untuk menyakiti diri sendiri. Ayah yakin Bunda nggak mau lihat putri cantiknya seperti zombi," hibur ayah.
Jika Yasmin yang biasanya akan merajuk disebut zombi kali ini hanya dijawab dengan air mata yang tiba-tiba mengalir deras. Isaknya membuat Bayu merasa bersalah. Segera ia membawa gadis bermata bulat ke dalam pelukannya, dihujani dengan ciuman sayang kepala gadis yang tampak kacau.
“Yasmin kangen Bunda," bisiknya dan ia menangis kembali pada dada bidang sang ayah.
Bayu memejamkan mata, mengerti apa yang dirasakan sang anak. Karena ia juga merasakan hal yang sama. Laki-laki yang bulan lalu genap berusia lima puluh satu tahun itu mencoba bersikap tegar. Ia akan berusaha agar putrinya memiliki kehidupan yang normal kembali meski tanpa kehadiran sang ibu. Meskipun hal itu tidaklah mudah untuk mencapainya apalagi kehilangan itu belum lama terjadi. Ia memberi waktu agar putrinya bisa menerima kepahitan yang terjadi tetapi juga tidak ingin gadis berambut panjang melebihi bahu itu menyakiti dirinya sendiri dengan mengurung dalam kamar.
“Ayah tahu, kita semua rindu Bunda. Namun kita semua harus kuat, harus bisa menerima semua ini, Sayang.”
“Yasmin makan dulu sekarang, nanti kita pergi mengunjungi Bunda. Gimana?” rayu Bayu. Ia menunggu jawaban sang anak yang masih terdiam. Akhirnya Yasmin pun mengangguk dan mulai memakan nasi goreng dengan disuapi sang ayah.
Semilir angin di area pemakaman memainkan kain yang menutupi kepala. Rambutnya mulai menari-nari karena kerudung itu telah luruh hingga ke bahu. Tanah merah di sana masih basah karena hujan semalam. Tangan Yasmin menyentuh nisan sang ibu setelah menabur bunga. Ia mulai berbicara menumpahkan rasa, seperti sang ibu ada di hadapan.
Bayu hanya menatap putrinya dengan penuh harap. Setelah ini semoga Yasmin bisa lebih ikhlas melepas kepergian wanita yang mereka cintai. Menjalani hari-hari dengan senyuman dan biarkan waktu yang bekerja mengobati sakitnya kehilangan. Karena yang tersulit itu bukan melepaskan kepergian tetapi menjalani kehidupan setelah ditinggalkan.
Laki-laki berjenggot tipis dengan kumis yang tumbuhnya mulai tak terawat itu, menghentikan mobil di depan sebuah kafe dengan logo lingkaran hijau dan seorang siren di tengahnya. Bayu mengajak Yasmin turun dari mobil, meski awalnya menolak tapi akhirnya mengikuti langkah sang ayah juga. Mereka duduk di sofa yang menghadap ke dinding kaca. Di depan dinding tersebut banyak terdapat bunga-bunga indah yang sedang bermekaran. Yasmin sangat senang memandang bunga yang sedang mekar. Baginya seperti melihat gairah kehidupan baru pada si bunga.
Segelas matcha latte dengan sepotong cheese cake terhidang di hadapan Yasmin. Bayu tersenyum hangat dan meminta Yasmin menikmati makanan kesukaannya. Dia sendiri telah menyesap kopi espresso yang harumnya membuat siapa saja yang mencium tergoda untuk mencoba. Sesekali ia melempar guyonan meski garing tetapi pada akhirnya lengkung bulan sabit pun terbit di wajah yang menyimpan rindu. Hanya sebentar tapi hal itu membuatnya bahagia. Bayu berjanji akan berusaha mengukir senyum di wajah cantik gadis yang mirip dengan istrinya itu dan memberikan semua cinta yang ia punya.
Selepas mengajak Yasmin menikmati kudapan kesukaannya, Bayu membawa gadis penyuka warna hijau itu ke sebuah salon kecantikan. Tempat biasa Yasmin dan Nisrina memanjakan diri. Ia meminta putrinya melakukan perawatan agar terlihat segar kembali. Pria berhidung mancung memutuskan membaca sebuah buku di sela waktu menunggu. Hampir tiga jam ia menunggu sang putri selesai, tak ada raut kebosanan yang menghiasi wajahnya. Justru kepuasaan yang menyapa hati ketika buah cintanya dengan Nisrina tampil dengan lebih baik.
Tidak sampai di sana saja Bayu menghibur sang anak. Ia mengajak Yasmin memasuki sebuah mall terbesar di Jakarta. Berkeliling menuruti apa yang ingin dibeli gadis yang kini terlihat lebih cantik. Namun Yasmin hanya menggeleng ketika ia menunjukkan barang-barang bermerk yang berbaris di etalase setiap toko.
Yasmin menghentikan langkah kaki di depan toko buku. Pandangannya tertuju pada deretan buku-buku best seller yang di pajang di dekat pintu masuk. Ia masuk dan mulai menyusuri deretan rak yang berisi buku-buku terlaris. Matanya berbinar dengan senyum menghiasi wajah ketika menemukan buku yang selama ini ia cari. Sejenak ia melupakan kesedihan yang mendera.
Bayu seolah dibuat lupa jika sang anak adalah pecinta buku sama seperti istrinya. Tas dan baju branded yang ia berikan tak ada artinya jika di sandingkan dengan sebuah buku. Saat usia Yasmin menginjak tiga tahu, gadis kecilnya itu sudah pandai membaca. Tak heran jika kini Yasmin betah duduk berlama-lama di depan buku-buku kedokterannya. Hal itu dapat membantu Yasmin dalam mengobati hati yang dirundung kesedihan.
“Yuk, Yah. Kita pulang,” ajak Yasmin pada sang ayah yang sedang membaca sebuah dokumen dari layar telepon pintarnya.
“Sudah beli bukunya?” tanya Bayu seraya melihat tiga buah tas belanja yang Yasmin bawa penuh buku.
“Sudah.” Yasmin memberi senyum manisnya pada laki-laki yang seharian ini bersusah payah menghiburnya.
Bayu membalas senyumanan itu dan bergerak mengacak rambut hitamnya lembut. Ia berniat membawakan belanjaan yang terlihat berat, tetapi dengan halus Yasmin menolak.
“Kita nonton yuk?” tanya Bayu ketika tiba di depan lift yang akan membawa mereka turun.
“Gak usah deh, Yah. Pengin baca buku-buku ini di rumah. Kita pulang aja ya?”
Bayu hanya mengangguk dan merangkul bahu putri kecil yang manja itu. Sejujurnya ia pun sangat lelah karena beberapa hari ini kurang tidur. Namun demi melihat senyum di wajah Yasmin terbit, ia menahan semuanya.
Kamu adalah alasanku untuk bangkit
dan melawan sakitnya kehilangan.
_Yasmin Azalea_
Yasmin menyusuri taman bunga yang ada di halaman belakang melalui balkon kamarnya di lantai dua. Taman bunga yang dipenuhi dengan berbagai jenis anggrek, membuat siapa pun betah berlama-lama di sana. Ditambah ada sebuah gazebo di tengahnya. Tempat favorit gadis itu untuk membaca novel sambil bersantai di atas tumpukan bantal-bantal yang empuk.
Gadis bermata bulat dengan kacamata minus yang bertengger cantik di hidungnya, kini sudah bisa menata hati. Ia berusaha mengikhlaskan kepergian sang ibu dan terlihat lebih tenang. Aktivitas kesehariannya pun sudah ia jalani dengan normal seminggu ini. Perkuliahan yang hampir satu bulan ia tinggalkan, sudah mulai diikuti kembali.
Tiba-tiba timbul keinginan untuk merawat taman bunga peninggalan ibunya. Ditemani seorang tukang kebun, Yasmin memangkas bunga mawar yang layu dan menyiram dengan air secukupnya. Matanya menelisik deretan bunga anggrek yang menempel di dinding. Ada sekitar 20 lebih jenis anggrek di taman itu. Hasil koleksi sang ibu yang merupakan pecinta Anggrek. Dari semua jenis anggrek yang ada ia sangat menyukai yang berwarna ungu dengan kelopak bunga yang sangat cantik dan unik. Nisrina menyebutnya Anggrek Callus Vanda.
Kegiatan itu terhenti ketika seorang asisten rumah tangga yang biasa dipanggil Mbok Sum datang dengan tergopoh-gopoh dan wajah yang menegang.
“Non. Bapak, Non,” teriaknya cemas dari jarak yang cukup jauh dari tempat Yasmin berada.
“Kenapa Mbok?” tanya Yasmin penasaran karena tak cukup jelas mendengar panggilan Mbok Sum.
“Tadi Mas Boby ... telepon. Katanya Bapak masuk rumah sakit,” ucapnya dengan napas tersengal-sengal.
Yasmin yang mendengar kabar tersebut segera melempar gembor yang sedang ia gunakan untuk menyiram tanaman. Bergegas ia berlari ke dalam rumah. Mbok Sum yang melihat anak majikannya panik segera menyusul di belakang. Yasmin menjeadi sangat cerobo saat mendengar hal buruk yang menimpa satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. Tujuannya kini hanya bertemu ayahnya yang tiga hari lalu masih baik-baik saja saat berpamitan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Gadis itu hanya memakai celana jin dan kaus pendek berbalut cardigan, ia berhenti sejenak di depan gedung rumah sakit. Ada ketakutan yang tiba-tiba menghampiri saat berdiri di hadapan gedung yang penuh banyak orang sakit. Di sana, dulu ibunya mengembuskan napas terakhir. Ia hanya mampu meneriakkan nama sang ibu di lorong rumah sakit seperti orang gila.
Peristiwa yang telah berlalu hampir dua bulan lamanya tiba-tiba kembali berputar dengan jelas di otaknya. Air mata yang ia tahan akhirnya lolos membasahi pipi merah tanpa make up yang belakangan tampak lebih tirus. Dikuatkan langkah kakinya untuk menemui laki-laki yang menjadi alasan untuk bangkit dan melawan sakitnya kehilangan.
Berjalan menaiki sebuah lift dan menyusuri lorong-lorong panjang rumah sakit bertaraf internsional itu, seperti sebuah de javu yang datang pada mimpi panjangnya. Namun sayang itu bukan de javu seperti perkiraannya. Perjalanan di rumah sakit itu nyata hanya yang ia temui yang berbeda.
Yasmin membuka pintu ruangan VIP tempat ayahnya dirawat setelah menghapus air mata yang sesekali masih keluar dari ujung matanya. Seorang asisten pribadi yang tadi mengabari kondisi Bayu berdiri di samping ranjang pasien. Ia menatap dengan tatapan rindu juga cemas laki-laki yang kini terbaring dengan mata terpejam. Rambutnya mulai memutih dengan beberapa kerutan menghiasi wajah. Meski begitu, gurat ketampanan masih terlihat jelas. Ya, ayahnya memang laki-laki idaman para wanita pada masanya.
“Ayah kenapa, Mas?” tanya Yasmin pada Boby asisten pribadi sang ayah lirih. Ia takut jika akan membangunkannya. Pandangan mata dari bola mata yang bulat tidak sedikit pun lepas dari pria tua yang tertidur dengan napas teratur.
“Kata dokter, Bapak kelelahan. Selama di Solo, Bapak terus bekerja dan kurang istirahat. Beliau ingin menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin karena ingin pulang dan menemani Mbak Yasmin,” jelas laki-laki yang berusia tiga puluh tahun itu dengan wajah tenang.
Yasmin mengembuskan napas pelan. Ada sebuah penyesalan yang menyelinap ke dalam hatinya. Ia sempat merengek tak ingin ditinggal pergi saat CEO perusahaan transportasi itu berpamitan. Sejujurnya ia takut jika harus berjauhan dari sang ayah meski di rumah ada beberapa asisten rumah tangga yang menemani. Namun ia juga tak ingin jika ayahnya bekerja terlalu keras hanya untuk menuruti keinginannya.
Yasmin memandang Boby yang berpakaian rapi dan lengkap dengan jasnya duduk di ujung sofa sambil memainkan gawainya.
“Mas Boby nggak pulang?” tanya Yasmin sambil duduk di sisi sofa lainnya.
“Nggak, Mbak. Saya di sini saja nungguin Bapak.” Ia tersenyum canggung pada putri atasannya itu.
“Pulang aja, Mas. Istirahat di rumah. Saya yang jagain Ayah.”
“Tapi, Mbak ....” Laki-laki itu tetap keras kepala berada di sana.
“Udah pulang aja. Nanti kalau ada apa-apa saya telepon Mas.” Yasmin menarik Boby untuk segera bangkit dan mendorongnya yang enggan meninggalkan ruangan itu.
“Tapi Mbak, saya disuruh Bapak jaga di sini.” Boby menahan pintu yang akan ditutup Yasmin.
“Saya suruh pulang ya pulang, Mas. Saya apa Mas Boby sih anak Pak Bayu?” tanya Yasmin seraya memandangnya sinis.
“Mbak Yasmin,” jawab Baby kikuk.
“Jelas, 'kan? Ya sudah, pulang sana.” Yasmin menutup pintu dan membiarkan Boby menggerutu di luar.
Boby mendengkus kesal mendapat perlakuan seperti itu dari anak majikannya tetapi di satu sisi ia bersyukur karena dapat mengistirahatkan tubuh yang lelah. Meski Yasmin sering bersikap sembrono padanya tapi ia tahu gadis beriris mata cokelat itu sangat baik dan pengertian.
“Apa-apaan Mas Boby bersikap begitu. Padahal dikasih waktu buat istirahat, bukannya senang malah keras kepala. Protektif banget jadi asisten kayak sama pacar, eh.” Yasmin menutup mulutnya sambil tertawa lirih. Dilihatnya sang ayah masih tertidur pulas. Aman, ayah masih tidur.
"Pacar siapa?” tanya laki-laki yang sejak tadi memejamkan mata.
Yasmin yang hendak duduk terperanjat mendengar suara ayahnya tersebut. Dihampiri laki-laki yang kini pura-pura tidur itu.
“Jadi dari tadi Ayah nggak tidur?” tanya Yasmin melihat ayahnya sudah tersenyum lebar.
“Gimana mau tidur, kamu sama Boby tawuran di sini.” Bayu tersenyum dan mengusap rambut anak perempuannya dengan tangan yang bebas dari selang infus.
“Siapa juga yang tawuran. Aku cuma nyuruh Mas Boby pulang. Kasihan kan dia di sini nungguin Ayah padahal kemarin habis dari Solo juga.”
Bayu senang melihat anaknya sudah kembali ceria seperti dulu. Netranya menatap lekat gadis yang membiarkan rambut hitamnya tergerai. Mata bulat itu sedikit sembab dengan hidung memerah.
“Yasmin habis nangis?” tanya Bayu penuh selidik.
Yasmin terdiam mendengar pertanyaan Bayu. Ia mungkin bisa menyembunyikan tangisnya tapi mata sembab dan hidung memerah efek dari menangis sulit untuk disembunyikan.
“Gimana Yasmin nggak nangis dengar Ayah sakit. Makanya kalau enggak mau lihat Yasmin nangis, Ayah jangan sakit,” jawab Yasmin galak seraya berlalu menuju sofa panjang yang tak jauh dari ranjang.
Seketika tawa Bayu pecah mendengar jawaban dari putrinya. Kali ini dia benar-benar yakin jika gadis yang sedang merajuk di ujung sofa sana adalah anaknya yang telah kembali ke sifat asli. Yasmin yang ceria, sembrono dan galak.
“Oke, ayah nggak akan sakit lagi. Peluk dulu dong. Ayah kan kangen.”
Yasmin melangkah mendekat ke tepi ranjang Bayu. Lalu memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang ayahnya. Rasa tenang menjalar ke seluruh tubuh. Ia rindu pelukan dan wangi menenangkan dari laki-laki yang mencintainya setulus hati.