"Saya terima nikah dan kawinnya Imelda Sri binti Hartanto dengan mas kawin sepuluh gram logam mulia dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!"
"Sah?"
"Saaaaaaaaaah!"
Gemuruh beberapa saksi dan juga beberapa orang dari kedua mempelai yang sedang di sahkan dalam ikatan suci pernikahan itu.
Walau hanya di hadiri oleh keluarga inti tetapi suara mereka memenuhi ruang tamu berukuran enam kali delapan meter rumah sederhana itu.
"Selamat ya!"
"Selamat ya!"
"Jeng, akhirnya jadi juga kita besanan," ucap seorang wanita kepada wanita lain dengan begitu sumringah setelah kata sah bergema. Keduanya berpelukan seperti teletubbies.
Sang mempelai wanita menadahkan tangan dengan wajah yang berbinar mengikuti ritual doa yang di pimpin oleh seorang pemuka agama yang hadir pada malam itu.
Dia mengucapkan kata 'amin' dengan begitu kencangnya di dalam hatinya. Berharap bahwa apa yang dia dapat hari ini akan kekal selamanya.
"Akulah pemenangnya," lanjutnya masih di dalam hati dengan kedua sudut bibir yang terangkat tipis.
Tak lama, dia mengikuti arahan dari para orang tua untuk mencium tangan sang pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Bukan pria yang baru di kenal sehari dua hari. Tapi, pria ini adalah mantan kekasihnya dua tahun yang lalu. Mereka menjalin kasih sejak mereka kuliah tapi harus berakhir setelah lima tahun berpacaran di karenakan ego masing-masing.
Sejak dua tahun lalu, Melda -panggilan akrab wanita itu- sudah mencoba menjalin hubungan dengan beberapa pria, tetapi hanya bertahan seumuran jagung bahkan ada yang hanya satu bulan di karenakan tidak ada yang seperti mantannya ini.
Setiap dia berkencan dengan gebetan ataupun pria yang sudah sah jadi pacarnya, dia selalu membandingkan perlakuan pria-pria itu dengan mantan terindahnya yang bernama Abian. Alhasil, selalu terjadi percekcokan dan akhirnya putus karena apa yang dia inginkan dalam hubungan itu tidak bisa ia dapatkan.
Dan malam ini, pria yang selalu ada di dalam pandangannya kini sudah sah menjadi suaminya. Pria itu adalah Abian Ardiansyah .
"Cium keningnya dengan penuh perasaan!" titah orang tua itu pada Abian tapi kalimat itu tidak masuk ke telinga Melda lagi karena euforia dalam hatinya yang begitu besar.
Deg!
Jantung Melda serasa copot karena terkejut ketika merasakan bibir dingin itu menyapa keningnya. Wanita itu mengepalkan tangannya dan memejamkan mata meresapi ciuman itu. Ada keinginan dalam hati, bahwa dia menginginkan bibir itu mendarat juga di bagian tubuhnya yang lain.
"Apakah rasanya masih sama?" batinnya seraya terkikik.
"Cepatlah acara ini berlalu, aku sudah sangat tidak sabar memeluk Abianku, menciumi seluruh tubuhnya dan menanggalkan pakaiannya. Sungguh pemandangan yang sangat aku rindukan ketika pakaian kami berserakan di lantai," jerit Melda dalam hati.
Agak laen emang pikirannya!
*****
Karena acara yang sakral ini sangat intim dan hanya di hadiri oleh keluarga inti saja, maka tidak banyak acara lain seperti adat istiadat.
Usai sungkem dan meminta doa restu pada orang tua kedua mempelai, mereka lalu makan bersama lalu berbincang-bincang sebentar.
"Apa aku bilang Jeng, dari awal kita kenal, aku sudah punya keyakinan bahwa kita memang akan menjadi keluarga," ucap seorang wanita bernama Lisna. Wanita itu adalah ibunda dari Melda.
Senyum cerah di sertai anggukan dua kali sebagai jawaban dari ibunda Abian yang bernama Romauli.
Dua wanita paruh bayah itu asyik dalam pembicaraan dengan berbagai topik sementara pasangan mereka tidak membahas soal pernikahan anak-anak mereka walaupun mereka duduk berdekatan. Bahkan ucapan selamat karena sudah menjadi besan pun tidak ada keluar dari mulut masing-masing.
Mereka malah terhanyut dalam topik yang di bicarakan oleh orang lain yang duduk bersama mereka.
Menikmati minuman zero alkohol dan berbatang-batang rokok seperti kereta api yang tidak punya rem.
Politik, pemerintahan hingga ke permasalahan para rakyat menjadi topik utama para pria itu. Tak secuil pun masalah pernikahan ini di bahas bahkan kapan acara resepsi sekaligus adat akan di laksanakan tidak menarik perhatian mereka.
Ada apa? Apakah orang tua laki-laki kedua mempelai tidak begitu mengharapkan pernikahan ini? Apakah mereka sekumpulan 'sutis' yang hanya bisa mengangguk pada apapun keputusan istri?
Sungguh ironis sekali!
*****
"Aku ngantuk!" ujar Melda sedikit manja dan sedikit sensual pada Abian.
Dia merangkulkan tangannya pada lengan Abian dan segera menjatuhkan kepalanya di lengan atas pria itu.
Abian meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Kamu dengar aku nggak sih, suami?" tanya Melda seraya menahan senyum ketika mengatakan 'suami'. Ada sesuatu perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan saat kata 'suami' meluncur dari mulutnya. Kata yang sudah lama dia impikan kini sudah sah untuk dia ucapkan setiap hari bahkan setiap detik pada pria pujaannya.
"Kalau ngantuk, pergi tidur, jangan lupa izin dulu sama orang tua!" ujar Abian cuek dan sangat dingin.
Selain mengucapkan ijab kobul dengan kalimat yang lumayan panjang, baru kalimat ini yang keluar dari mulutnya sejak acara ini di mulai.
Melda memanjangkan bibirnya dan membuat mimik wajahnya kesal-kesal manja.
"Temeniiiiiin!" ujarnya dengan rayuan seraya merapatkan pelukan di lengan Abian.
"Ck! Kamu kayak anak kecil aja. Masa mau tidur aja di temenin. Pergi aja sana. Itu kamar aku!"
"Tau!" jawab Melda semakin memanjangkan bibirnya.
"Aku tahu itu kamar kamu dan akan jadi kamar kita mulai malam ini. Aku bahkan tahu letak barang-barang disana karena dulu aku sering masuk ke sana bahkan aku tidur disana. Tapi, masa kamu tega nyuruh aku pergi sendirian kesana sekarang? Aku ini udah istri kamu loh! Ini malam pengantin kita loh, jangan lupa kan itu! Apa kata orang nanti kalau aku pergi sendirian kesana?"
Bara api di kepala Abian sudah mulai menyala setelah mendengar sebaris kalimat dari mulut Imelda. Bisakah dia berteriak sekarang bahwa menjadikan wanita mungil cantik yang bergelayut manja di lengannya ini menjadi seorang istri bukanlah keinginannya tapi karena terpaksa? Sangat terpaksa!
Bisakah dia menyadarkan wanita ini bahwa Melda sendirilah yang melemparkan dirinya untuk di jadikan istri?
"Kam--"
"Sttt! Jangan pasang wajah kayak gitu. Aku nggak suka!" potong Melda. Wanita itu langsung merubah raut wajahnya dalam sekejap. Tidak ada senyum manja-manja lagi.
Perang dingin antar pasangan baru itu mulai bergemuruh.
"Nggak usah munafik Abian, walaupun aku yang mendekati ibumu dan meminta untuk menikahkan aku denganmu, jika kamu tidak punya rasa terhadapku, kamu pasti bisa menolaknya dengan berbagai macam alasan," ujar Melda seraya menarik diri dari lengan Abian.
"Bilang saja, kamu juga merindukan aku, kan? Kamu juga menginginkan aku, kan? Jauh di lubuk hati kamu yang paling dalam, aku masih ada Abian. Jangan bilang nggak karena aku nggak akan percaya!" cecarnya seraya mengerlingkan mata ke arah suaminya itu. Dia juga mulai mengangkat kedua sudut bibirnya. Remeh!
Inilah sifat asli Imelda. Keras dan pemaksa juga manipulatif. Dalam dua detik raut wajahnya bisa berubah. Kadang, kata-kata yang keluar dari mulutnya juga sangat manis tetapi tajam melebihi tajamnya silet.
Lidahnya tidak pernah keseleo ketika mengucapkan hal-hal yang tidak ada menjadi ada. Sama seperti beberapa waktu sebelum hari ini, wanita itu sangat pandai berbicara kepada ibundanya Abian. Mengatakan bahwa mereka masih berhubungan walau sudah sering putus nyambung tapi cinta di antara mereka masih ada bahkan sangat kuat.
Ucapannya yang sangat manis dan pujian yang dia lontarkan pada orang tua Abian membuat wanita paruh baya itu luluh dan segera berbicara pada suami juga Abian bahkan sedikit memaksa dan hasil dari paksaan itu adalah apa yang terjadi malam ini. Pernikahan sakral yang intim kata Melda.
Sifat Melda yang keras dan pemaksa sering kali membuat wanita itu tanpa rasa takut memberikan ancaman secara halus demi memenangkan dirinya sendiri.
"Jangan menatapku seperti itu, kamu tahu aku, kan? Aku tidak bisa melepaskan apa yang aku mau, termasuk dirimu. Lagian..."
Wanita itu menggantung kalimatnya dan mulai bergelayut kembali di lengan Abian. Salah satu tangannya sengaja dia usapkan di paha Abian dengan gerakan lambat.
"Apa kamu nggak antusias untuk malam ini? Ini malam pengantin kita," ucapnya dengan sumringah.
Lalu tanpa rasa malu sama sekali, Melda mengangkat tubuhnya sedikit dan berbisik di telinga Abian dengan begitu sensualnya.
"Aku masih sama seperti dulu. Gurih dan sempit seperti kata kamu dulu."
"Haaaahhhh,"
"uhhh, ahhh, uhhh, ahhh,"
Terdengar hembusan nafas sensual dan desahan pelan yang semakin membakar gairah seorang pria.
Pria tetaplah pria. Jika di suguhi sesuatu yang bisa membangkitkan gairah, pasti akan segera lupa dengan kekesalan hati dan akan memenuhi keinginan untuk memuaskan diri.
Perang dingin antara dua mempelai tadi hanya berlangsung sebentar karena sekali lagi, Melda memenangkan peperangan malam ini setelah keduanya di suruh istirahat di kamar.
Tanpa segan, Melda langsung melepas kebaya sederhana yang dia gunakan saat akad. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Abian hanya dengan bra tanpa tali dan juga celana short warna hitam. Dengan leluasa, dia menarik kerah baju Abian dan mulai melepas jas di ikuti dengan kancing kemeja satu persatu.
Tidak ada perlawanan, karena pemandangan di depan Abian sungguh membuatnya bungkam dan tidak bisa mengalihkan wajahnya ke arah lain. Bahkan terdengar suara tegukan air liur sendiri membuat Melda tersenyum penuh kemenangan lagi.
"Semuanya milikmu, nikmatilah!" ujar Melda tadi seraya mendorong Abian ke kasur setelah berhasil melucuti kemejanya.
Wanita itu tidak segan menjadi pihak yang memulai dan mulai menyerang wajah Abian dengan bibirnya. Mengusap tubuh bagian atas Abian yang sudah polos dengan begitu pelan mengalirkan sensasi geli dan nagih. Tak lupa, sesekali bibirnya mengecupi bagian bagian yang sudah dia usap.
"Aku sudah memimpikan hal ini sejak lama!" ucapnya lalu membungkam mulut Abian dengan bibirnya.
Tak ada rasa malu untuk mendesah dan meraba bagian tubuh atas Abian hingga ke bagian bawah secara perlahan.
"Bau tubuhmu masih sama seperti dua tahun lalu," ucapnya setelah melepas serangan di bibir Abian membuat pria itu menganga merasa kehilangan karena sudah sempat membalas ciuman panas itu tadi.
Pria itu mendesah dan memejamkan mata ketika tangan Melda berhasil menelusup ke bagian inti tubuhnya dari balik celananya dan bibir wanita itu mendarat tepat di dadanya.
Melda tersenyum dengan bangganya karena sudah menguasai permainan. Dengan ganasnya wanita itu terus memancing bahkan dengan mudahnya membuat Abian mengangkat pinggangnya ketika Melda akan meloloskan celananya.
"Hmm, milikku! Apakah dia pernah menjelajah?" tanyanya seraya mengelus benda pusaka yang sudah siap tempur itu.
"Akhhh, like that!" gumam Abian merasa keenakan ketika dia di beri service yang bagus. Tidak munafik, Melda memang masih yang terbaik sampai saat ini.
"Answer me!" paksa Melda dan menghentikan gerakan tangannya.
Abian mengangkat kepala dan membuka matanya menatap protes pada Melda. "Apa?" tanyanya tak ingin di gantung dan kehilangan kesenangan.
"Apakah dia pernah menjelajah selama terpisah dariku?"
Abian melemparkan kepalanya lalu mengangguk.
"Sometimes, but only for fun."
"Bukan dengan pacar kamu?"
"Sesekali!"
"Bangsat! Nggak akan aku ampuni kamu!" geram Melda.
Wanita itu langsung beraksi dan melepas sendiri pakaian sisa di tubuhnya.
Melemparkannya entah kemana dan langsung menyerang Abian dengan bringas. Kepalanya panas ketika mendengar pengakuan Abian sementara dia, selama dua tahun berpisah dengan pria itu, tak sekalipun melakukan hubungan dengan pria lain karena sebelum sampai ke tahap panas-panasan, dia sudah berpisah karena tidak sesuai kemauannya.
"Malam ini, akan aku buat kamu melupakannya dan hanya menginginkan aku di sepanjang hidupmu!"
*****
Seorang wanita berbaring dengan tidak nyaman. Miring kiri miring kanan bahkan sesekali tengkurap tetapi tidak merasa tenang.
Apalagi sejak sore tadi, kekasihnya tidak bisa di hubungi padahal mereka sudah ada janji bertemu malam ini.
Gadis itu menghela dengan berat seraya meraba kasur singlenya dan menemukan ponselnya. Lalu melihat jam di layar dan membuka aplikasi hijau untuk kesekian kalinya. Memeriksa apakah pesan yang dia kirimkan sejak sore tadi sudah terkirim atau belum.
"Kamu kemana sih, Yang? Kok tumben-tumbenan nggak kirim pesan atau kasih kabar gitu. Aku khawatir tauuu!" ucapnya sendu dan sangat murung.
Gadis itu bernama Regina Angela yang sering di panggil Gina. Dia adalah kekasih Abian saat ini dan dia tidak tahu menahu bahwa kekasihnya itu sudah menikah malam ini bahkan saat ini sedang berbagi peluh dengan wanita lain yang sudah sah menjadi istrinya.
Beberapa hari yang lalu, Gina dan Abian sudah berjanji dengan teman-teman mereka untuk pergi bersama ke sebuah bukit dengan mengendarai motor. Mereka sudah merencanakan kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan disana. Bahkan Gina sudah membeli beberapa bungkus daging iris dan sosis untuk di panggang nanti ketika mereka sudah memasang tenda-tenda perkemahan di puncak bukit.
Namun, semua itu kini menjadi sia-sia sejak jam empat sore tadi dimana ponsel Abian tidak bisa di hubungi.
Gina jugalah yang meminta maaf pada teman-teman mereka dan mengatakan tidak bisa ikut karena ada urusan mendadak.
Dia menatap ransel besarnya yang berisi pakaian ganti miliknya dan milik Abian juga keperluan lain. Ada bungkusan plastik yang berisi cemilan dan minuman kaleng juga sementara daging iris dan sosis sudah dia masukkan ke dalam kulkas kecil yang tersedia di kamar kosnya.
"Padahal kita sudah merencanakan banyak hal malam ini tapi kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar begini? Haruskah aku ke rumahmu?" bisiknya seolah berbicara pada kekasihnya. Dia membuka folder di ponselnya dan melihat foto-foto mereka berdua.
Setahun lebih menjalin kasih dengan Abian, mereka lewati dengan penuh kemesraan. Abian pria romantis yang tidak over tapi sangat mengerti perempuan.
Karena kebaikan Abian selama ini dan keseriusannya, Gina bahkan rela memberikan apa saja pada kekasihnya itu termasuk melanggar prinsip no sex before married.
Gina mengusap layar ponselnya yang menampilkan foto keduanya yang terbaring di atas ranjang sebuah penginapan dengan hanya tertutup selimut sebatas leher. Mereka tersenyum kala itu karena sudah melewati malam panas untuk pertama kalinya.
"Padahal aku sudah siap untuk hal ini," ucapnya sedikit kecewa. Dia membayangkan bagaimana Abian berkeringat di atas tubuhnya sambil meracau kata cinta.
Gina terus menggulir layar ponsel hingga muncul satu video kenangan mereka. Video yang seharusnya tidak di simpan karena berbahaya jika sampai orang lain melihatnya.
"Abian!" desah Gina seraya meraba tubuhnya sendiri. Memejamkan mata sambil membayangkan Abian di sampingnya dan membasahi wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Aku kangen!" ujarnya lagi dan mulai intens meraba bagian-bagian sensitifnya. Memancing diri sendiri dengan bayangan Abian.
Gina mendesah sendirian di atas kasurnya dan menggoyangkan tubuhnya sendiri seolah sedang bermesraan dengan seseorang. Tak butuh waktu lama, dia sudah dalam keadaan polos dan menjepit diri sendiri sambil tangannya bergerilya di tubuh sendiri.
Mulutnya dengan lancar memanggil-manggil nama Abian hingga dia berteriak tertahan saat urat-urat kakinya hampir pecah karena menegang.
Tak lama, terdengar nafas teratur wanita itu. Dia tertidur hanya dengan balutan selimut tipis dan melupakan soal Abian yang tidak bisa di hubungi.
*****
Raut bahagia yang memancarkan sinar mentari pagi jelas-jelas terpampang nyata di wajah Melda pagi ini. Dia memberikan banyak senyum pada ibu mertuanya yang masih ada di rumah Abian.
"Bahagia sekali nampaknya!" ledek bu Roma sambil menyenggol lengan Melda pelan dengan bahunya.
"Jelas dong, Mama. Siapa Sih yang tidak bahagia di hari pertama sebagai istri. Mama juga pasti begitu waktu jadi pengantin baru dulu," jawab Melda santai.
Dua wanita yang sekarang sudah menjadi Mertua-Menantu itu bersama-sama menyiapkan sarapan untuk mereka sekeluarga.
"Jangan tunda-tunda, Mama udah nggak sabar gendong cucu," ujar bu Roma.
"Sip, Ma. Pastilah langsung di proses. Makanya Mama harus tetap sehat dan kuat, biar nanti nggak encok pas gendong cucu," canda Melda menanggapi.
Terdengar tawa keduanya dan bila ada yang melihat pasti iri karena kekompakan menantu dan mertua itu. Hal yang di inginkan banyak wanita muda tapi hanya sedikit yang bisa mendapatkannya.
Keduanya sibuk memasak sambil bercengkrama dan membicarakan banyak hal yang mereka harapkan di masa depan. Sementara itu, Abian di dalam kamar baru saja membuka matanya setelah merasa puas tertidur. Dia menatap dirinya sendiri yang polos di bawah selimut dan sedetik kemudian dia memejamkan mata sambil memaki diri sendiri yang melemah saat di suguhi rayuan oleh Melda.
Dia memejamkan mata dan sedikit menyesal karena sebelumnya, ketika dia tidak bisa menolak permintaan ibunya, dia sudah bertekad hanya akan menikahi Melda di atas kertas. Dia akan tetap menjaga jarak sampai wanita itu benar-benar menyerah dan memutuskan untuk pergi karena tidak tahan hidup dengan Abian yang mengabaikannya. Tapi, rencana yang sudah dia buat dengan penuh tekat ternyata belum sepenuhnya teguh karena dia kalah dan malah minta tambah saat Melda melakukan tugasnya sebagai istri di malam pertama mereka sah sebagai pasangan.
"Melda kurang ajaaaarrr!" geramnya seraya meninju bantal di sampingnya.
Dasar lelaki, dia yang tidak kuat perempuan yang di salahkan. Agak laen!
Abian menelungkupkan tubuhnya beberapa detik hingga tiba-tiba dia tersadar akan sesuatu.
"Gina!"
"Hufff!"
Gina mendesah setelah dia terbangun dan menyadari keadaannya sendiri. Ingatannya kembali ke kejadian tadi malam dan dia semakin mendesah lagi karena kecewa dan malu pada diri sendiri.
Apakah dia sebegitu rindunya bermesraan sampai sampai membayangkan hal romantis dan panas tadi malam? Memanasi diri sendiri dan membayangkan tangan Abian yang membelai tubuhnya.
"Memalukan sekali!" umpatnya pelan seraya meninju bantalnya beberapa kali hingga dia kelelahan dan menelungkupkan badannya beberapa saat dengan nafas yang tersengal.
Dia meraih ponselnya dan melihat tanda ceklis satu di room chatnya dengan Abian.
"Tidak bisa di biarkan, aku harus cek kesana," gumamnya seraya bergegas dari kasur dan berjalan langsung ke kamar mandi dengan keadaan telanjang.
Gina langsung membersihkan dirinya dan sudah bertekad akan mengunjungi Abian di rumahnya karena khawatir. Dalam pikirannya, mungkin saja Abian sakit karena lupa makan sampai-sampai ponselnya power off.
Sementara, pria yang sedang dia khawatirkan juga buru-buru ke kamar mandi dan membawa ponselnya yang satu lagi.
Tidak lupa dia silent ponsel dan mengunci pintu kamar mandi dari dalam untuk menghindari Melda tiba-tiba masuk.
Abian:
[Yang, sorry tadi malam nggak kabarin kamu. Ibuku lagi di rumah. Jadi aku nggak perhatikan ponsel yang lowbat]
Abian segera mengirim pesan dan tak sabar karena pesannya tidak langsung berubah centang biru.
Pria itu menekan tombol panggil karena khawatir Gina tidak mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Yang lebih di khawatirkan sekarang adalah, bagaimana jika Gina sedang dalam perjalanan ke rumahnya seperti biasanya ketika dia tidak bisa di hubungi.
"Yang, kamu dimana, sih? Jangan sampai kamu kesini," gumamnya seraya mondar mandir di dalam kamar mandi.
Kaki Abian sudah bergetar karena dia benar-benar takut Gina datang ke rumahnya. Tiga kali panggilan tidak terjawab menambah ketakutannya. Dia berharap pesan yang dia kirim di baca oleh Gina. Karena, Abian tahu, jika Gina sudah membacanya, kekasihnya itu akan langsung putar arah. Alasannya, Gina belum mau bertemu dengan keluarga Abian, siapapun itu. Baik adik perempuan, adik laki-laki bahkan paman dan bibi Abian yang tinggal di kota yang sama.
Bagi Gina, jika sudah bertemu keluarga, berarti sudah menuju jenjang pernikahan. Sementara, wanita itu masih ingin menikmati masa muda untuk tiga tahun lagi.
Sama halnya dengan Abian, Gina juga tidak pernah memperkenalkan Abian kepada keluarganya. Dan beruntung bagi keduanya, karena keluarga inti masing-masing tinggal di kota yang berbeda dengan mereka.
Abian:
[Yang, kamu dimana? Baca pesan aku]
Pria itu mendesah lega begitu pesannya tercentang biru dan tak lama, masuk panggilan video dari Gina.
"Pagi Yang!" sapa Abian dengan memelankan suaranya.
"Kamu lagi dimana? Kok buka baju?" tanya Gina melihat keadaan Abian.
"Lagi di kamar mandi, mau mandi. Kamu baru mandi?" tanya Abian balik melihat handuk yang bertengger membungkus kepala kekasihnya itu.
Gina mengangguk membalas. Lalu wanita itu meletakkan ponselnya di atas meja rias kecil di kamar kosnya dan mulai ritual merawat tubuhnya.
"Yang, belum pake baju?" tanya Abian menelan ludahnya sendiri begitu melihat paha Gina yang sedang di oles body care.
"Baru aja keluar kamar mandi karena dengar suara hape. Belum sempat pake baju. Kenapa?" tanya Gina dan dia iseng menaikkan sedikit handuknya hingga ke pangkal pahanya.
"Ibu kamu kapan datangnya?" tanyanya pura-pura tidak melihat penderitaan Abian di seberang sana.
"Kemarin sore. Datang tanpa bilang-bilang. Padahal aku udah semangat bangat berangkat ke bukit. Aku udah olah raga biar kuat hadapin kamu malamnya, eh, malah ambyar," ujar Abian dan menunjukkan raut sendu.
Gina hanya tersenyum polos menanggapi karena sudah tahu apa maksud dari kalimat kekasihnya itu.
Dia meneruskan kegiatannya, mengoles seluruh kaki dan tangannya lalu bagian leher turun hingga ke dadanya.
"Ibu kamu sampai kapan disini?" tanya Gina
"Kenapa? Udah kangen aku yah!" ledek Abian sambil menaik turunkan alisnya.
"Hmmm,"
Gina gadis polos yang sangat mencintai Abian tidak bisa berbasa-basi. Mengatakan sejujurnya apa yang tengah dia rasakan.
"Tadi malam aku gak bisa tidur karena nungguin chat kamu. Pengen rasanya aku kesana tapi udah kemalaman. Kamu kok bisa lupa sih ngabarin aku? Padahal aku udah packing buat ke bukit, udah beli cemilan dan beli itu," ujarnya merengek manja.
"Apa?" tanya Abian dengan wajah nakal.
"Iniiiii," kata Gina sambil meraih sesuatu dari saku tas di atas meja rias.
Bian tersenyum melihat kekasihnya itu. Benda keramat pesanannya ternyata di sediakan ternyata.
"Buka handuk kamu dikit, Yang!" pintanya memelas. Dia juga menurunkan arah kamera hingga sedikit mengintip area bawahnya.
"Pegang dia untukku!" titahnya lagi pada Gina begitu Gina membuka handuknya dan wanita itu mengikuti kemauan Abian.
"Angkat tinggi, Yang!" pinta Abian lagi.
Gina berdiri dan melepas handuknya hingga terjatuh dan dia berjalan ke arah tempat tidur. Membaringkan tubuhnya dalam keadaan polos dan menyorot dari kepala hingga kaki, menunjukkan pada Abian bahwasanya dia sangat indah membuat Abian menegang di ujung sana dan melakukan solo running.
Keduanya memuaskan diri masing-masing dengan erangan seolah-olah kedua kutup mereka saling bertemu.
"Tunggu aku hari ini, siang atau sore aku ke kost kamu dan bersiaplah!" ujar Abian dan di jawab dengan senyuman malu-malu oleh Gina.
"Cepatlah, aku udah tidak tahan lagi," ujar wanita itu sangat berani.
****
"Iya," jawab Abian cuek saat kalimat demi kalimat ibunya menyapa gendang telinganya.
Tangannya tak berhenti memainkan game di ponselnya sementara Melda duduk di sampingnya dengan tatapan tidak suka karena Abian begitu mengabaikan semua wejangan orang tuanya.
"Hape kamu, Beb. Turunin!" titah Melda sambil memukul pelan lengan Abian.
"Ck! Nanggung!" jawab pria itu seraya terus memainkan gamenya membuat sang ibu menggeleng karena hal ini sudah ribuan kali ia lihat bahkan mulutnya sudah berbuih menasehati putra sulungnya itu tetapi sampai hari ini masih sama juga.
"Nggak sopan, Beb!" ujar Melda dan langsung merampas ponsel itu. Menyembunyikan di dalam bajunya karena yakin Abian tidak akan menggeledah bagian dalam pakaiannya.
"Kalau orang tua lagi bicara, dengarkan dengan baik dan sopan lah sedikit. Kebiasaan kamu ini harus di rubah sedikit-sedikit. Ingat, kamu udah menikah dan mungkin akan punya anak sebentar lagi. Apa yang akan di tiru anak kamu dari papanya kalau kamu masih tetap seperti ini?"
Roma tersenyum bangga pada menantunya itu. Benar, harus ada yang bisa melawan kebiasaan Abian. Dan ternyata, menyetujui Melda menikah dengan Abian bukanlah keputusan yang salah.
Walau menggerutu, Abian tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melipat tangan di dada dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Sambil menatap ibunya dia bertanya, "Ibu sama Bapak kapan pulang?"
Puk
Satu pukulan kembali mendarat di lengan Abian dan kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.
"Kamu yah Beb, pertanyaan kamu kayak kamu mau usir Mama dan bapak aja. Emangnya kenapa kalau mereka tinggal disini? Kamu keberatan?"
"Bukan karena keberatan. Mereka kan belum pensiun. Masa cuti terus, nanti di kira makan gaji buta."
"Tap--"
"Hallah, alasan kamu Abian. Bilang aja kamu mau menikmati masa-masa pengantin baru," ledek ibunya sekaligus memotong ucapan Melda.
Sebenarnya, Melda hanya sedang akting. Dalam hati, dia juga sudah berharap agar kedua mertuanya pulang ke kota mereka sendiri.
Kan segan juga kalau masih ada orang tua. Mau mendesah keenakan pun harus di tahan-tahan. Mau raba-raba sedikit di segala penjuru rumah juga tidak bebas. Jangankan raba meraba, tiduran di paha Abian sambil nonton tivi kayaknya gak pas karena pasti mata orang tua langsung menajam di ikuti dengan wejangan yang menyangkut tata krama jaman purba kala.
"Besok Ibu dan bapak pulang. Udah izin satu hari bolos kerja," lanjut Roma.
Roma dan suaminya -Ilham adalah seorang pegawai negeri. Roma di kantor pemerintah sementara Ilham sebagai guru di sebuah sekolah dasar.
Keduanya memiliki tiga orang anak, Abian adalah yang pertama dan Daniel yang kedua di ikuti Lastri paling bungsu.
Daniel dan Lastri masih tinggal bersama kedua orang tua karena mereka bekerja di kota yang sama sebagai guru honor. Sementara Abian, dari selesai wisuda sudah memutuskan untuk tidak kembali ke kota asalnya dan mencari peruntungan di kota tempat ia kuliah.
Imelda Sri adalah seorang anak kuliahan yang sering lewat dari rumah Abian dulu. Sering saling pandang akhirnya membuat dua orang itu memutuskan untuk berkenalan dan semakin nyaman setiap harinya lalu memutuskan untuk mulai berpacaran.
Selama kuliah tiga tahunan dan bekerja setahun mereka melewati berbagai tantangan dalam hubungan percintaan. Ego masing-masing sangat kuat hingga membuat mereka memutuskan hubungan karena tidak ada yang mengalah.
Saat mereka masih berpacaran, Melda sudah bertemu beberapa kali dengan orang tua dan adik-adik Abian.
Kedua adiknya dulu tinggal bersama Abian karena sekolah di kota yang sama membuat orang tua Abian memutuskan untuk membeli rumah tempat tinggal anak-anaknya dan itulah yang di tinggali Abian sekarang.
Ketika bertemu dengan orang tua Abian, Melda adalah gadis ceria dan penyayang. Sangat piawai mengambil hati orang lain dan itulah yang membuat keluarga Abian sayang padanya dan berharap agar wanita itu yang menjadi menantunya.
Lama menunggu, ternyata Melda sendirilah yang datang pada ibunya Abian. Meminta restu karena Abian mulai berubah. Jika mereka sudah terikat, maka Melda berjanji akan mengubah Abian menjadi orang yang lebih baik lagi.