Bab 1

Sudut pandang Fransiska:

Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun tidur tipis dan berenda, yang memperlihatkan seluruh punggungku. Gaun itu juga memperlihatkan hampir keseluruhan dari tubuhku dan benar-benar pendek, sampai hanya menutupi sebagian dari bokongku.

William Lusman yang berdiri di dekat jendela besar setinggi langit-langit langsung berbalik begitu mendengar kehadiranku. Dia mengenakan jubah mandi bergaris hitam dengan sabuk pinggang yang dililitkan di sekitar pinggangnya. Bagian atas jubahnya sedikit terbuka, memperlihatkan dadanya yang kuat dan tegap.

Begitu tatapannya jatuh padaku, matanya langsung berbinar.

Saat itu, aku tahu bahwa penampilanku ini berhasil membangkitkan minatnya.

Aku telah menikah dengan William selama tiga tahun, tapi selama itu juga kami tidak pernah saling menyentuh satu sama lain.

Aku tahu bahwa dia jatuh cinta dengan orang lain, jadi aku memutuskan untuk terbang ke Prancis tak lama setelah upacara pernikahan kami.

Namun beberapa hari yang lalu, Nenek William meneleponku dan memberi tahu bahwa sudah waktunya bagi Keluarga Lusman untuk menyambut kehadiran seorang anggota baru.

Tentu saja, aku tahu apa maksud ucapannya itu. Sejujurnya, aku tidak membenci gagasan memiliki anak dengan William. Bahkan sebenarnya, aku senang mendengar hal itu.

Inilah sebabnya mengapa aku memilih untuk kembali ke William setelah sekian lama. Aku selalu merindukannya selama tiga tahun terakhir.

Sambil meletakkan tangan di belakang, aku berjalan perlahan ke arah William. Kubiarkan pria itu menatapku begitu lekat dari kejauhan.

Perasaan terkejut yang terlihat di matanya sulit untuk diabaikan.

"Kemarilah," ucap William dengan suara serak.

Aku menggigit bibir bawahku, mendekatinya, lalu melingkarkan tanganku di lehernya.

Sementara William melingkarkan tangannya di pinggangku dan berbisik di telingaku, "Kamu sedang merayuku?"

Napas hangatnya yang berembus di telingaku membuatku merinding dan menggelitik kulit kepalaku.

"Apa berhasil?"

William menyipitkan mata ke arahku dan tiba-tiba tersenyum, "Apa ini yang kamu pelajari di Prancis selama beberapa tahun ini?"

"Kamu menyukainya?" Aku menatapnya penuh harap, dengan jantung yang mulai berpacu.

"Fransiska, kamu cantik," ucapnya dengan suara yang sangat ringan.

Kalimat pujiannya benar-benar mengejutkanku. Apa itu artinya dia juga memikirkanku selama aku pergi?

"William, ayo ..."

"Tapi aku menginginkan perceraian."

Kami berbicara pada saat yang bersamaan.

Saat itu juga, pikiranku menjadi kosong dan aku segera menelan sisa kalimatku.

Kalimat yang sudah berada di ujung lidahku, 'William, ayo kita punya anak ....'

Hanya ada satu hal dalam pikiranku sekarang: William ingin bercerai.

William lalu melepaskanku dan mundur dua langkah, sengaja menjaga jarak dariku, "Kesehatan Fera jauh lebih buruk dibanding sebelumnya. Aku takut dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jadi, aku ingin menikahinya."

Ternyata rumor mengenai dirinya dan Fera yang akan segera bertunangan itu benar.

Hanya angan-anganku bahwa media mengarang cerita.

"Setelah proses perceraian kita selesai, aku akan memberimu satu triliun rupiah sebagai kompensasi sesuai dengan kontrak kita." Nada suara William terdengar ringan, tapi begitu tegas. Sepertinya keputusannya sudah bulat dan sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk bernegosiasi.

Air mata yang panas dan pahit mulai mengalir dari mataku. Aku segera menundukkan kepala. Aku tidak ingin William melihat diriku yang selemah ini.

"Kamu baik-baik saja?"

Sambil menyeka wajah dengan tergesa-gesa, aku lalu menjawab, "Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sangat bahagia."

William bertanya dengan curiga, "Apa maksudmu?"

"Akhirnya aku punya alasan yang bagus untuk meninggalkanmu. Bukankah seharusnya aku bahagia?" ucapku bercanda. Karena khawatir dia tidak akan memercayaiku, aku segera memasang senyum lebar di wajahku yang berlinangan air mata.

Tiba-tiba wajah William menggelap, dan dia tersenyum dingin, "Wow! Aku tidak menyangka kamu akan bereaksi sesantai ini."

Aku pun tersenyum semakin lebar, "Kurasa itu adalah keputusan yang bagus."

Embusan angin dingin bertiup melalui jendela, mengangkat sedikit ujung gaunku.

Baru saat itulah aku menyadari bahwa aku masih mengenakan gaun tidur yang begitu terbuka dan terlihat sangat konyol.

Ironi itu terasa begitu pahit di mulutku.

Aku mengambil sebuah jubah mandi, memakainya, dan mengikatkan sabuk pinggang jubah itu dengan erat ke pinggangku. Aku menutup bagian atas tubuhku dan melipat tanganku di dada, berharap tindakan ini akan menghangatkan hatiku dari ucapan William yang begitu dingin.

"Jika kita bercerai, kamu bisa menikahi Fera dan aku bisa mengejar pria yang kucintai. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."

Mendengar ucapanku, William mengerutkan kening dan bertanya, "Sejak kapan kamu jatuh cinta dengan orang lain?"

Pertanyaan itu membuatku harus menelan gelombang rasa sakit yang baru. Aku menarik napas dan berusaha membuat nada suaraku terdengar santai, "Bertahun-tahun yang lalu."

Namun, hatiku berteriak pada William bahwa dialah satu-satunya pria yang pernah kucintai.

"Beri tahu aku siapa namanya."

Aku merasa aneh dengan keingintahuan William terhadap kekasih misteriusku, padahal dia baru saja memintaku untuk bercerai dengannya. Selain perasaan aneh itu, tentu saja aku juga panik karena tidak tahu harus menjawab apa padanya, dan otakku menolak untuk memikirkan satu nama palsu untuk kuberikan saat ini juga.

Namun, tiba-tiba ponselnya berdering, menyelamatkanku dari keingintahuannya atas pernyataan palsuku.

"Fera, ada apa?" jawab William sambil berjalan ke arah ruang ganti.

Ketika keluar, dia sudah mengenakan celana dan kemeja. Dia lalu mengambil jaket dan memakainya di depan cermin.

"Aku harus pergi. Fera membutuhkanku. Kita bicara lagi saat aku kembali."

Setelah mengatakan itu, dia pergi tanpa melihat ke belakang.

Jika sudah berhubungan dengan Fera, dia akan selalu siap siaga untuk datang kapan saja demi wanita itu.

Setelah beberapa saat William pergi, ponselku juga berdering. Aku menatap ke layar dan melihat sebuah nomor yang tidak dikenal.

"Halo, apa William bersamamu sekarang?" ucap sebuah suara manis di ujung panggilan, tapi suara itu justru membuatku merasa tidak nyaman. Aku bahkan bisa membayangkan senyum puas di wajah sang penelepon.

Meski kami tidak saling menghubungi selama bertahun-tahun, tapi aku masih tahu bahwa itu adalah suara Fera.

Aku mengatupkan bibirku dan tidak mengatakan apa pun.

"Di mana William? Dia sudah berjanji untuk datang dan menemaniku malam ini," desak Fera meski tak ada jawaban dariku. Suaranya begitu lembut, tapi terdengar tajam di telingaku. Begitu tajam seolah-olah seratus jarum sedang menusuk ke jantungku.

"Bukankah kamu baru saja meneleponnya?" bentakku, membiarkan suaraku mengungkapkan perasaan kesal.

"Ups, aku lupa."

Kemudian Fera tertawa terbahak-bahak, suara itu bagiku terdengar seperti suara jari-jari kuku yang sedang menggaruk papan tulis.

"Aku benar-benar minta maaf karena meminta suamimu untuk datang dan menemuiku di malam selarut ini."

"Ya, terserah. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"

"Yah, aku hanya ingin mengobrol denganmu dan bertanya apakah William sudah membicarakan soal perceraian."

Saat itu juga, aku mendengar suara William di ujung sambungan, "Fera, aku sudah di sini. Apa kamu baik-baik saja?"

Aku tidak pernah mendengar William berbicara padaku dengan suara yang begitu lembut. Mendengarnya berbicara seperti itu pada Fera membuat mataku pedih dengan air mata.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Fera menutup telepon.

Sementara, aku hanya bisa berguling-guling dengan gelisah di ranjang sepanjang malam.

Fera jelas-jelas meneleponku hanya untuk memprovokasi, tapi yang membuatku tidak bisa tidur bukanlah sikapnya yang angkuh dan busuk, melainkan ketidakpedulian William terhadapku.

Pria itu bahkan tidak meneleponku satu kali pun sepanjang malam.

Namun, aku paham apa alasannya. William sedang bersama Fera sekarang. Seharusnya aku tidak berharap dia akan memberikan perhatian padaku.

Karena hal itu, aku menghabiskan sepanjang malam dengan meratapi perasaan sakit di hatiku. Keesokan harinya, matahari segera menggantikan malam yang gelap.

Pagi itu, ada suara ketukan di pintuku.

Ketika membukanya, aku menemukan William yang sedang berdiri di luar. Dia tidak pulang tadi malam.

"Ayo kita temui Fera hari ini," ucapnya tegas.

Aku melihat ada lingkaran hitam di bawah matanya. Apa dia terjaga sepanjang malam karena bercinta dengan Fera-nya yang tersayang?

"Memangnya kamu ingin aku berbuat apa?" tanyaku datar.

"Jangan buat dia merasa bersalah. Katakan padanya bahwa kamu jatuh cinta dengan orang lain agar dia bisa tenang," jawabnya sambil berjalan mendekatiku dan menatapku dengan saksama.

"Oke."

William tampak terkejut. Sepertinya dia tidak menyangka bahwa aku akan setuju begitu saja.

"Oke. Kalau begitu bersiap-siaplah, aku akan menunggumu di bawah." Setelah mengatakan itu, William pergi.

Beberapa saat kemudian, ponselku berdering. Telepon itu berasal dari sahabatku, Susanna.

"Halo, Susanna."

"Gadis nakal, selamat datang kembali!"

"Terima kasih."

"Jadi, kali ini kamu akan tinggal atau kamu akan segera pergi lagi begitu ada kesempatan?"

"Untuk saat ini, aku akan tinggal."

"Sempurna! Datang dan bekerjalah di stasiun TV kami. Kamu adalah seorang profesional dalam bidang media, suaramu enak didengar, dan kamu juga enak dipandang. Itu adalah pekerjaan yang sangat cocok untukmu."

"Oke, aku akan mempertimbangkannya."

"Omong-omong, apa kamu sudah berbicara dengan William?" tanya Susanna ragu-ragu, suaranya tiba-tiba mengecil.

"Ya, sudah."

"Apa dia sudah memberitahumu mengenai pelacur yang dibawanya untuk menggantikanmu?"

"Ya, dia sudah memberitahuku."

"Cih! Si brengsek itu benar-benar tidak tahu malu! Dia memberitahumu begitu saja? Seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"

"Ya. Dia juga memintaku untuk menemui wanita itu hari ini."

"Apa? Kamu akan menemui wanita jalang yang mencuri suamimu itu? Aku yakin dia pasti mendesak William untuk menceraikanmu dan segera menikahinya. Sejujurnya, aku tidak habis pikir mengapa wanita itu masih berusaha keras, padahal Keluarga Lusman sudah menolaknya tiga tahun lalu. Apa yang membuatnya berpikir bahwa mereka akan berubah pikiran sekarang?" Susanna meraung geram dari ujung telepon.

"Semuanya sudah berakhir, Susanna," ucapku sambil memaksakan senyum.

"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah kamu masih mencintainya?"

Aku tidak menjawab. Tentu saja aku masih mencintai William. Aku selalu mencintainya selama bertahun-tahun.

"Fransiska?"

Suara khawatir Susanna menyadarkanku kembali, "Aku harus pergi. Aku akan berbicara denganmu nanti, oke?"

Bab 2

Sudut pandang Fransiska:

Dalam perjalanan menuju restoran, aku hanya diam, begitu juga dengan William, dia juga tidak mengatakan apa pun. Kami telah menikah selama tiga tahun, tapi kami bertingkah layaknya orang asing.

Dan sekarang, aku harus menemani suamiku untuk bertemu dengan tunangannya.

Sang sopir menepi di Rainbow Dream, sebuah restoran Michelin bintang tiga. Itu adalah restoran paling mewah di kota ini.

"Tuan Lusman, Nona Suryadi sudah menunggu Anda di lantai dua," ucap sang pelayan pada William. Tampaknya William adalah pelanggan tetap di sini.

Aku pun mengikutinya masuk ke dalam lift.

"Cobalah untuk terlihat bahagia saat bertemu Fera, oke? Jangan menampilkan ekspresi yang murung," ucap William dingin.

"Baiklah," jawabku yang langsung membuat sebuah senyum dan memasangnya di wajahku.

Segera, kami pun masuk ke sebuah ruang privat.

"Fransiska, lama tidak berjumpa."

Aku mengarahkan pandanganku pada Fera dan berusaha mati-matian menjaga wajahku agar tetap terlihat netral. Wanita itu masih terlihat sangat muda dan cantik. Wajah dan kulitnya sehalus porselen. Dia pasti menghabiskan banyak uang untuk merawat penampilan dan tubuhnya ini.

William pernah memberitahuku bahwa dia sebenarnya sedang sekarat, tapi aku jadi meragukan hal itu mengingat penampilannya saat ini yang terlihat lebih baik dibanding diriku.

"Ya, lama tidak berjumpa," balasku sambil memberinya sebuah senyuman yang setengah hati.

"Sudah tidak jet lag lagi? Bagaimana tidurmu semalam?" Senyum di wajahnya tampak tulus, seolah-olah dia bukan wanita yang sama yang memprovokasiku tadi malam.

"Aku tidur nyenyak, terima kasih sudah bertanya," jawabku.

Hidangan utama di pertemuan ini adalah steik. William sedang memotongkan steik Fera untuknya.

Kurasa aku tidak pernah melihat William bersikap begitu perhatian pada seseorang.

"William memberitahuku tadi malam bahwa kamu memiliki seorang kekasih."

"Ya. Dia seorang pelukis," jawabku yang langsung mengarang cerita.

Saat aku menjawab, aku sempat melihat tangan William sedikit gemetar.

"Apa kamu punya fotonya?"

Keingintahuan Fera membuatku tersadar dari tatapanku pada William. Aku meliriknya, tapi dia tidak menatapku.

"Tidak. Kami belum resmi berpacaran. Jadi, kurasa kurang pantas untuk memiliki fotonya di ponselku jika dia belum menjadi pacarku," jelasku sambil menundukkan kepala dan kembali fokus untuk memotong steik milikku.

"Kalau begitu, apa ada foto dirinya di akun Facebook-nya?" Fera tetap bersikeras.

"Mungkin. Sebentar aku carikan dulu." Sambil mengatakan hal itu, aku mengeluarkan ponsel dan memikirkan teman sekelas mana yang harus kupilih untuk dijadikan sebagai pria pengagum palsuku.

Fredi Tambuna adalah orang pertama yang muncul di kepalaku. Dia adalah salah satu teman baikku.

Aku membuka halaman Facebook-nya dan menemukan satu foto dirinya yang sedang berdiri di depan Menara Eiffel. Fredi memiliki rambut panjang dan wajah muda yang tampan. Dia tampak seperti seorang seniman, benar-benar berbeda dari William.

Kemudian, aku menyerahkan ponselku pada Fera.

"Dia terlihat seperti pria romantis dari Paris. Aku benar-benar bahagia untukmu. William, ternyata tipe Fransiska sangat berbanding terbalik darimu." Setelah mengatakan itu, Fera menunjukkan foto Fredi pada William.

William hanya melirik ke layar dan bergumam datar, "Yah, mereka serasi."

"Apa dia akan datang ke Amerika?" tanya Fera sambil mengembalikan ponselku.

"Saat ini dia masih di Eropa. Dia sedang mengadakan pameran seni di Lyons. Sebenarnya, dia memang mempertimbangkan untuk mengembangkan karir seninya di Amerika, jadi kemungkinan besar dia akan pindah ke sini," ucapku, membuat lebih banyak kebohongan.

"Apa kamu mencintainya?" desak Fera lebih lanjut.

Pertanyaan itu membuatku tertegun sejenak.

Setelah menenangkan diri, aku lalu menjawab, "Tentu saja." Aku mencoba yang terbaik untuk tetap tenang agar tidak mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.

"Baguslah! William, sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkan Fransiska. Mari kita doakan agar Fransiska dan pria spesialnya itu bahagia," kicau Fera sambil mengangkat gelasnya.

William juga mengangkat gelasnya, tapi wajahnya masih tampak datar tanpa emosi.

"Fransiska, kuharap kamu dan kekasihmu memiliki kehidupan yang indah," ucap Fera sambil tersenyum padaku, wajahnya penuh dengan ketulusan. Meski aku tidak menemukan celah dari kepura-puraannya itu, aku tahu bahwa di balik wajah malaikatnya itu terdapat sesosok monster jelek.

"Terima kasih. Aku juga berharap kamu dan William memiliki kehidupan yang indah."

Kemudian, kami semua menenggak isi gelas kami.

Ketika aku meletakkan gelas, tanganku gemetar. Perasaan mual langsung bergulir di perutku. Aku menelan perasaan mual itu dan berharap agar pertemuan ini segera selesai.

Aku tidak ingin menghabiskan satu menit pun di ruangan yang sama dengan Fera Suryadi yang penuh dengan kepura-puraan.

"Maaf, aku harus ke kamar kecil," gumamku, lalu aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar perlu ke kamar kecil. Aku hanya ingin keluar untuk mencari udara segar.

Ketika aku kembali, kulihat William sudah membantu Fera mengenakan mantel beludrunya.

"Fera sedang tidak enak badan. Aku akan mengantarnya pulang, setelah itu aku akan kembali untukmu ..."

"Tidak, tidak perlu. Tidak masalah. Aku bisa pulang sendiri."

Akhirnya, aku menyaksikan William dan Fera berjalan keluar dari restoran dengan lengannya yang merangkul bahu wanita itu. Tiba-tiba, otot-otot tegang di sekujur tubuhku langsung mengendur.

Bab 3

Sudut Pandang William:

Setelah mengantar Fera pulang, aku kembali ke kantor untuk mengurus beberapa masalah bisnis.

Di malam hari, aku menerima pesan dari Gunawan.

Pesan tersebut berbunyi, "William, apakah kamu ingin ikut dengan kami? Semua orang ada di sini."

Aku membalasnya, "Baik. Aku akan segera pergi ke sana."

Aku mengetik pesan sambil berjalan keluar dari kantor.

Gunawan adalah pemilik Bar Mint. Itu adalah salah satu bar yang paling terkenal di kota ini, dan malam ini bar tersebut tampak sungguh ramai oleh pengunjung. Begitu aku masuk, aku melihat ada Gunawan dan Antoni. Kami semua sudah berteman sejak kami masih kecil.

"Apakah kamu sudah bertemu dengan Fransiska?" tanya Gunawan begitu aku tiba di hadapannya.

"Iya," jawabku dan kemudian aku meminta bartender untuk menyajikan segelas wiski.

"Apakah kamu benar-benar telah menceraikannya?" Gunawan mendesak dan mendekatiku.

"Iya," jawabku dengan tidak sabar dan menyalakan sebatang rokok.

"Bisa-bisanya kamu, bro? Fransiska itu sudah seperti saudari kita. Kita bahkan tumbuh besar bersama. Kamu dan Fera jahat sekali padanya."

Aku menghembuskan asap rokok ke udara saat bartender tersebut meletakkan minumanku di depanku. Aku memutuskan untuk tidak menjawab Gunawan dan meminum wiskiku. Akan tetapi apa yang telah dikatakannya itu memang benar.

Sejujurnya, tadi malam aku gugup ketika berbicara dengan Fransiska mengenai perceraian. Sementara itu, dia hanya duduk di sana sepanjang waktu, terlihat begitu tenang dan juga kalem. Aku tidak tahu apakah tindakan itu membuatku kesal atau terkesan. Kami sudah tidak bertemu selama tiga tahun. Dia bukan lagi gadis kecil manis dengan emosi yang tampak jelas. Dia benar-benar telah tumbuh dewasa.

Aku agak kesal karena kembali bertemu dengannya yang berwatak seperti itu.

"Apakah dia setuju?" tanya Antoni dengan penasaran.

"Iya, dia setuju."

Sekarang aku sangat menyesali keputusanku untuk keluar dan bertemu teman-temanku ini. Aku hanya ingin minum dengan mereka, dan di sini mereka malah tidak henti- hentinya menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

"Jadi apakah kamu benar-benar akan menikahi Fera?"

"Iya."

"Apakah kamu serius? Apakah kamu benar-benar akan mengorbankan kebahagiaanmu hanya karena dia telah menyelamatkanmu?" Antoni langsung berubah menjadi sangat emosional ketika mendengar jawabanku tadi. Dia tidak sengaja menumpahkan anggurnya ke pakaianku.

"Sial!" Aku mengumpat dengan marah.

"Astaga. Maafkan aku, bro," Antoni langsung meminta maaf padaku.

Aku tidak mau terlihat berantakan begini saat duduk di sana, jadi aku pun pamit pulang untuk berganti pakaian. Aku segera meninggalkan bar itu dan memanggil layanan taksi. Aku sudah berencana untuk pulang, tapi begitu aku masuk ke dalam mobil, aku pun berhenti sejenak untuk berpikir.

Lalu sebagai gantinya, aku meminta sopir untuk mengantarku ke Jalan Garden.

Saat aku tiba di sana, rumah itu tampak terang benderang, dan aku bisa mendengar ledakan tawa yang datang dari jendela yang terbuka. Ada sebuah Mercedes yang tampak akrab terparkir di garasi.

Sepertinya Ibu dan Nenekku datang berkunjung.

Aku berjalan cepat menuju pintu, tapi sebelum aku bisa memasukkan kata sandi, seseorang telah membuka pintu itu dari dalam.

"Dari mana saja kamu? Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" Ibuku melangkah mendekatiku dan kemudian memarahiku.

"Aku tadi sedang rapat, Bu."

"Dan kenapa kamu malah bau alkohol? Apakah tadi kamu pergi minum-minum? Ya Tuhan, kamu tampak berantakan sekali. Sana pergi ganti baju." Ibu hanya mengernyitkan hidungnya dan menyuruhku masuk.

Aku masuk ke rumah dan melihat Nenek serta Fransiska sedang duduk di ruang tamu, berbicara dan tertawa. Di meja kopi terdapat buah-buahan dan bahkan pai apel.

"Hai, Nenek." Aku pergi untuk menyapa dan mengambil sepotong pai apel, tetapi Nenekku malah menampar tanganku.

"Jangan sentuh itu. Itu bukan untukmu. Itu untuk Fransiska."

"William, kamu kenapa? Ayo, pergi ganti baju bersih." Fransiska berdiri dan berjalan ke arahku.

"Kalian sudah lama menikah. Kenapa kamu masih memanggil William dengan nama depannya?" Nenek bertanya pada Fransiska dan kemudian menatapku dengan curiga.

"Apakah ada yang salah dengan caraku memanggilnya?" Fransiska langsung berhenti dan bertanya.

"Bukannya pasangan muda yang menikah seperti kalian biasanya menyebut pasangan mereka sayang atau cinta atau semacamnya?"

Sejenak Fransiska membeku dan tampak memutar otaknya. Dia lalu berdeham kecil. "Ayo, Sayang. Aku akan membantumu ganti baju."

Dia membantuku melepas jasku dan tersenyum dengan tulus.

"Ini baru benar," Nenek berseri-seri, nada suaranya dipenuhi dengan kepuasan.

Dia sangat mencintai Fransiska. Dalam beberapa tahun terakhir saat Fransiska masih di luar negeri, Nenek sering bertanya padaku tentangnya. Setiap kali aku hanya menjawabnya dengan cuek.

Tidak lama, Nenek memulai topik pembicaraan baru.

"William, aku sudah membuat janji dengan dokter untukmu minggu ini. Jangan minum sampai saat itu. Aku ingin kamu pergi untuk memeriksakan dirimu."

Aku kaget ketika mendengarnya.

"Tapi aku baru saja melakukan pemeriksaan fisik, Nek. Aku sehat sekali."

"Aku tidak mau kamu pergi melakukan pemeriksaan fisik lagi. Ini adalah pemeriksaan yang lebih khusus. Sudah beberapa tahun. Di mana cicit-cicitku? Dan menurutku ini bukan salahnya Fransiska. Ini adalah salahmu."

Fransiska mengerutkan bibirnya dan menatapku. Sebuah otot berkedut di rahangnya. Dia tampak seperti sedang berusaha agar tidak tertawa terbahak-bahak.

Sebelum aku bisa membela diri, ponselku pun berdering, dan aku menghela napas lega. Fransiska, yang memegang jaketku, mengeluarkan ponselku dari saku dan melihat nama penelepon di layar. Dari raut wajahnya yang langsung berubah, aku tahu bahwa panggilan itu pasti dari Fera.

"Apakah itu adalah panggilan dari wanita tersebut? Ah, benar-benar ya!" seru Ibuku.

Aku mengambil ponselku dari Fransiska dan menolak panggilan tersebut.

"Apakah itu Fera? William, kamu sekarang sudah menikah. Kenapa kamu masih berhubungan dengan wanita itu? Kamu harusnya setia dengan Fransiska. Dan apa-apaan itu foto Fera mengenakan gaun pengantin yang aku lihat di berita? Ada apa ini?" Nenek mengomel.

"Ini tidak seperti yang Nenek pikirkan."

"Terus kenapa kamu menolak teleponnya? Apakah ada sesuatu yang kalian ingin bicarakan dan tidak ingin kami dengar?"

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku bisa berbohong pada orang lain tapi tidak pada Nenekku. Beliau selalu bisa menembus kebohonganku.

Nenek tampak sangat marah hingga tubuhnya gemetar. Langsung saja Fransiska menuangkan segelas air untuknya.

"William akan menjawab pertanyaan dari Nenek dengan senang hati, tapi biarkan aku mengantarnya untuk berganti pakaian terlebih dahulu," kata Fransiska sambil mendorongku ke atas menuju kamar tidur.

"Ada beberapa kemeja putih di lemari ketiga."

Begitu Fransiska pergi untuk mengambilkanku kemeja bersih, aku melepas kemeja yang diwarnai oleh Antoni dengan anggurnya. Kemeja ini sudah rusak. Sialan. Lain kali aku tidak akan mengampuni Antoni.

Kemudian, aku merasakan keheningan yang gamblang di belakangku. Aku berbalik.

Fransiska berdiri di sana dan menatapku sambil membawa salah satu kemejaku di tangannya. Dia menunduk, berusaha untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?"

Dia tidak menjawab. Dia langsung menutup matanya dengan cepat. Aku berjalan ke arahnya.

Kali ini, aku bisa melihat lebih banyak sisi baru dirinya. Dia bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Tiga tahun terakhirnya di Prancis telah mengubahnya dari kuncup biasa menjadi sekuntum mawar yang indah.

Bulu matanya yang panjang bergetar. Bibirnya terkatup membentuk garis tipis seolah-olah dia sedang menekan sesuatu di benaknya. Setiap menit wajahnya berubah semakin merah.

Aku mengambil kemeja itu dari tangannya dan segera memakainya.

Setelah aku berganti baju bersih, kami kembali ke ruang tamu bersama.

"Aku tidak punya waktu bertahun-tahun lagi, William. Kenapa kamu tidak bisa hidup damai bersama Fransiska? Kenapa kamu selalu berusaha membuatku kesal, sih?" Nenek masih menyalahkanku.

"Lain kali kalau Nenek mau datang ke sini, Nenek bisa meneleponku dan aku akan langsung datang menjemput, oke?" Aku masih tidak tahu bagaimana harus menjawab beliau, jadi aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.

"Tidak, terima kasih. Kamu selalu sibuk sekali. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku hanya ingin melihat apa kamu memperlakukan istrimu dengan baik."

"Nenek, aku baik-baik saja," Fransiska menimpali.

"Baiklah kalau begitu. Omong-omong, jangan lupa besok itu pesta ulang tahun ke-60 Grup Lusman. William, aku berharap agar kamu membelikan Fransiska gaun malam yang indah untuk pesta ini. Aku ingin semua orang melihat betapa beruntungnya kamu mendapatkan seorang wanita seperti dirinya. Jangan sampai kamu membuatku sedih lagi, dengar tidak, anak muda?

"Tentu saja, Nenek."

Setelah beberapa lama mengobrol dengan Nenek dan Ibuku, akhirnya aku bisa meyakinkan mereka untuk pulang dan mengantar mereka keluar.

Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin aku bisa menyebutkan perceraian kepada mereka tanpa menimbulkan suatu kegemparan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED