Tiupan angin menerjang helaian surai hitam Keira yang tengah berdiri bersandar pada pagar atap gedung SMA Halstead. Ia menikati suasana sunyi yang menenangkan dan melepaskan penat sejenak setelah dilanda badai kehidupan. Ini hiburan sederhana setelah ia sibuk menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya yang berubah drastis. SMA Halstead sekolah elit yang berisikan anak-anak orang kaya, memaksanya menutup diri dengan banyak pergaulan di luar nalar murid-murid di sini. Kebanyakan dari mereka bermain kasta tentang keluarga siapa yang lebih kaya merekalah yang berkuasa. Perundungan ada di mana-mana, pelecehan sexu*l merajalela dan semua belum tentu mendapatkan keadilan jika menyuarakan kemalangan mereka. Uang berkuasa atas segalanya di sini.
Keira Kastari Khair terpaksa harus pindah ke sekolah tidak memanusiakan manusia karena paksaan Ayah. Keira baru saja pindah pada awal semester tahun ajaran ketiga. Sebelumnya ia tinggal di desa yang jauh dari perkotaan bersama Ibu.
Orang tua Keira bercerai 12 tahun lalu dan memaksanya memilih untuk tinggal dengan salah satu pihak. Kini Keira hanya memiliki Ayah sebagai orang tua tunggal karena Ibu telah meninggal dunia 3 bulan yang lalu. Padahal hubungannya dengan Ayah tidak pernah berjalan baik namun tuntutan untuk menyambung hidup dan biaya pendidikan yang mahal memaksanya untuk rela tinggal bersama lelaki itu. Lagi dan lagi ia harus menyesuaikan diri, meski hatinya menjerit lelah namun apalah daya.
Beruntung hatinya perlahan pulih dengan kesendirian ini walaupun hanya sementara. Ya, memang hanya bersifat sementara sih, sebelum si perundung Kiv datang, mereka telah membuat jani untuk bertemu di atap sekolah secara diam-diam. Mengapa?
"Ini," Kiv memberikan setumpuk kunci kepada Keira yang menerimanya secara ragu-ragu. "Itu kunci semua pintu yang ada di rumah, termasuk pintu belakang. Aku akan pulang larut malam hari ini karena ada urusan, sebaiknya kau cepatlah pulang kar__"
"__ Karena aku harus mengangkat telepon dari Ayahmu dan berbohong tentang keadaanmu yang sebenarnya." Keira langsung memotong kalimat Kiv dengan intonasi bosan. Bagaimana gadis berusia 17 tahun itu tidak bosan, sudah 2 bulan lebih Kiv selalu memintanya melakukan tugas yang sama. Mengangkat telepon dan berbohong.
"..... Ya," Jawab Kiv agak lambat.
Keira mendengus kesal. "Kalau hanya itu urusanmu berhentilah mengajakku bertemu disini," Lalu ia mengangkat kunci-kunci yang baru saja diberikan Kiv. "Kau pikir kunci-kunci tidak berguna ini bisa dijadikan alasanmu untuk bertemu seperti ini? Kau hanya membuat gosip tentang kita semakin terdengar, Kiv." Sinis Keira.
Ya, murid-murid mendapatkan gosip tentang mereka yang mengatakan kalau keduanya sedang menjalin hubungan asmara. Entah siapa orang pertama yang menyebarkan gosip tidak masuk akal tersebut namun yang jelas Keira merasa risih.
Kiv menanggapi perkataan Keira dengan seringai tipis yang lebih terkesan seperti merendahkan. "Lalu bagaimana dengan aksi sok pahlawanmu? Kau pikir jika aku tidak mengajakmu bertemu disini, gosip tentang kita akan lenyap? Berkacalah." Tukas Kiv yang berhasil membuat Keira meradang.
"Cepat katakan apa maksudmu memberiku semua kunci ini?"
"Aku memberikan semua kunci agar kau bisa masuk melalui pintu belakang. Aku tidak ingin ada murid yang melihatmu masuk ke rumahku melalui pintu depan dan berpikir yang tidak-tidak tentangku," Ucap Kiv lagi.
"Bodoh!" Keira menaikan intonasi suaranya. "Pintu gerbang rumah kita hanya ada satu! Mereka tetap bisa melihatku masuk ke rumah karena aku harus melewati pintu gerbang terlebih dahulu sebelum pintu masuk!"
"Aku tahu,"
"Lalu?"
"Ya, paling tidak mereka bisa berpikir kalau kau salah satu pelayan di rumahku." Ujar Kiv meledek Keira, menekankan kata 'pelayan' pada kalimatnya.
"Si*lan kau!"
"Jangan marah, nanti kau cepat tua."
Kiv melenggang pergi begitu saja tanpa memperdulikan tatapan kesal Keira akan perkataanya yang dirasa menyudutkan. Hati Keira berkecamuk menatap punggung Kiv yang segera menghilang. Ada rasa kesal dan sedih yang bersatu. Di tangannya kini ada kunci-kunci yang tak tahu untuk apa dan aksesorisnya yang lucu.
Keira menatap aksesoris berupa gantungan kunci bentuk boneka kelinci yang seharusnya berwarna putih bersih kalau saja tidak pudar. Tapi bagaimana bisa tidak memudar, kelinci ini telah menggantung disana selama lebih dari 10 tahun. Menjadi saksi bisu Keira akan kisahnya 10 tahun lalu, di mana ia masih merasakan kehangatan keluarga yang utuh untuk yang terakhir.
3 bulan sebelum kepindahan Keira ke kota..
Ia sedang memeluk dirinya sendiri, terduduk di pojok lantai kamarnya dan menghadap ke arah tembok. Tatapan matanya kosong, hanya meratapi dinding kamar yang telah usang tanpa arti apa-apa. Gadis itu berharap bahwa hari ini hanyalah mimpi buruk dan ia berharap akan segera terbangun dari mimpi tersebut, lalu bisa melihat kehidupannya yang masih sama seperti hari kemarin. Disaat Ibu masih menyapanya dengan senyuman hangat. Sayang ia tak pernah benar-benar terbangun, karena ini adalah kenyataan yang harus ia hadapi seorang diri.
Beberapa jam yang lalu, Ibu Keira telah pergi untuk selama-lamanya karena sakit jantung yang tidak pernah ia ketahui.
Ibu Keira bernama Namira Ayu, seorang Ibu tunggal yang harus bertahan hidup dengan berjualan kue basah di pasar demi memenuhi kebutuhan putri kesayangannya. Beruntungnya Keira tumbuh besar menjadi gadis pengertian yang tak suka akan kemewahan sehingga sangat membantu Namira untuk menyambung kehidupan mereka. Selain itu Keira juga gemar menoreh prestasi agar bisa mendapatkan beasiswa dengan maksud menekan biaya sekolah sampai seringan-ringannya. Keira berharap, kepintarannya akan membawa ia dan Namira keluar dari permasalahan ekonomi yang acap kali menghimpit hari mereka. Sekarang semua hanyalah mimpi indah yang tidak akan pernah terwujud. Ibunya sudah pergi untuk selama-lamanya bahkan sebelum Keira lulus sekolah menengah.
Tuhan pasti membencinya. Dari milyaran juta manusia yang hidup di muka bumi, mengapa harus Ibu yang diambil? Ia hanya memiliki Ibu dan rumah sederhana sebagai harta yang paling berharga di hidupnya.
"Jangan melamun terus, nanti kau kerasukan." Suara bariton anak laki-laki yang mengejutkan Keira, membuatnya menoleh ke belakang.
Di ambang pintu ia melihat, ada seorang anak laki-laki tinggi jangkung sedang menatapnya tanpa ekspresi. Kulit putih, hidung mancung dan bibir tebal yang terlihat tidak asing meski ia tak mengenalnya. Siapa dia?
"Hei, jaga bicaramu." Tak lama muncul laki-laki paruh baya yang sepertinya dikenali Keira. ".. Keira, apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah makan?" Katanya sambil mengulas senyum di wajah menua laki-laki tersebut.
Keira terdiam membisu masih dengan menatap kosong kedua anomali yang terasa asing meski familiar di matanya. Dalam benaknya Keira mengisi tanya, sedang apa mereka berdua ada di kamarnya? Siapapun mereka, ia merasa sangat terganggu.
Laki-laki paruh bayar itu kembali angkat suara. "Aku tahu kau marah padaku. Ini sudah kesekian tahun aku tidak lagi bersamamu, melihatmu dan menjalankan peranku sebagai seorang Ayah yang seharusnya. Tapi aku berjanji, mulai hari ini kita akan membangun kembali keluarga kita. Aku akan ada bersamamu sampai aku mati, Keira." Ia berkata seraya ingin mengusap pucuk kepala Keira, namun gadis itu menghindarinya.
Sekarang ia ingat, laki-laki ini adalah manusia pertama di muka bumi yang paling ia benci setengah m*ti. Laki-laki paling egois yang menggunakan kekuatan keluarganya yang berpengaruh untuk memisahkan Ibu, Keira dan adik laki-lakinya demi sebuah ego. Dia Ayah kandung Keira. Ayah yang rela menceraikan Ibu dan memaksanya pergi jauh bersama Keira dengan sejumlah ancaman yang sungguh-sungguh dilakukan. Seperti membakar rumah sewaan mereka berdua sampai tidak tersisa.
Keira menatap kosong wajah Ayah yang seperti tak memiliki urat malu, menemuinya setelah membuang ia dan Ibu selama 11 tahun. Apakah ada ego yang lain dalam diri Ayah hingga ia menebalkan muka dengan menemuinya?
"Biarkan saja dia, Ayah. Biarkan dia merasa sendirian sampai m*ti di tempat kecil dan sempit seperti ini," Ucap remaja laki-laki yang Keira sadari, seperti Ayah versi muda. Terlihat angkuh dan sangat kasar.
"Kau diamlah! Hari ini Ibumu yang meninggal dunia, tidakah kau sedikit bersedih?" Ayah menegur anak laki-laki tersebut, yang ternyata adik Keira.
"Tidak," Ucapnya, benar-benar tanpa menunjukan emosi apapun. Datar dan menjengkelkan untuk dilihat.
Ayah menghembuskan nafas kasar seraya berkata. "Astaga.."
Keira menyunggingkan sebelah ujung bibirnya ke atas sepintas lalu. Seperti inikah cara keluarga Ayah membesarkan adik laki-lakinya? Dahulu ketika perceraian itu terjadi tepat diusia Keira yang ke 6 tahun dan adiknya, 5 tahun. Ibu dan Ayah memperebutkan hak asuh anak namun Ayah hanya meminta adik Keira untuk tinggal bersamanya. Ayah dan keluarganya memperjuangkan hak asuh tersebut m*ti-m*tian sampai menggunakan cara paling haram sekalipun agar memenangkan hak asuh. Tentu saja, yang punya uang maka ia yang akan menang. Hal lumrah yang selalu terjadi di negeri berkembang, bukan?
Ia bersyukur tidak hidup lama di lingkungan keluarga Ayah setelah melihat tingkah laku adik laki-lakinya yang kurang bisa berempati pada duka oranglain.
"Keira, kau tinggal sendiri sekarang. Bagaimana jika kau tinggal kembali bersama Ayah? Aku janji kali ini, aku akan merawatmu dengan baik. Kita bangun kembali keluarga kita meski tidak akan seutuh dulu, tapi Ayah akan berusaha melindungi kalian berdua. Ayo nak," Ayah mengulurkan tangannya di hadapan Keira.
Butuh waktu setidaknya satu menit sebelum Keira menerima uluran tangan tersebut. Selain ucapannya yang ada benarnya juga. Keira memang sudah tidak memiliki siapapun kecuali Ayah dan adiknya, namun ia mempertimbangkan hal lain. Balas dendam. Ia ingin balas dendam dengan semua keluarga Ayah dengan menunjukkan kepada mereka, bagaimana Ibu mendidiknya dengan baik sedangkan mereka gagal. Melalui perbedaan sikap antara Keira dan adiknya, mereka akan tertunduk malu dan membungkam semua mulut sampah keluarga Ayah.