Pov³ Author
Seorang gadis berjalan dengan penuh anggunnya ke arah kerumunan ramai. Semua anak rambutnya pada berterbangan dibawa angin pantai tempat berlangsungnya sebuah acara ulang tahun yang diselenggarakan keluarga Alexander.
Malam ini ulang tahunnya Joanna Alexander putri seorang pengusaha ternama di Indonesia, namanya Brandon Alexander dan Marina Alexander.
Usia putrinya sekarang sudah beranjak diangka 18 tahun, dia sangat terlihat cantik dan sangat mempesona. wajahnya yang manis, berkulit kuning Langsat, badannya yang tinggi semampai, dan rambutnya yang panjang tergerai berwarna kecoklatan.
Apalagi saat mengenakan gaun indah yang melekat ditubuhnya yang seksi, Joanna terlihat sangat elegan dan juga sangat mempesona. gaun tersebut rancangan yang berasal dari desainer ternama, yang ada di kota Semarang.
Siapa saja yang melihat ke arah Joanna, matanya tidak berkedip. Pandangan para tamu hanya tertuju padanya yang berjalan dengan gaya model internasional.
Senyumnya tidak Pernah pudar dari bibir mungilnya. Matanya yang berwarna kecoklatan dihiasi dengan bulu mata yang lentik dan lebat.
Joanna sedang mencari seseorang yang dekat dengannya, bola matanya kesana-kemari memindai mama dan papanya. sampai sekarang tidak juga dia menjumpai orang tuanya itu.
Joanna terus saja berjalan dengan langkah anggunnya menelusuri ramainya para undangan yang hadir diacara ulang tahunnya.
Maklum saja Brandon Alexander papanya Joanna, dan juga Marina Alexander mamanya Joanna, telah mengundang semua kerabat dekatnya dan juga teman bisnisnya untuk merayakan ulang tahun putrinya tahun ini.
Para tamu yang datang bukan dari golongan biasa melainkan dari kalangan kelas papan atas semua.
Brandon mengadakan acara pesta besar-besaran untuk putrinya yang tercinta, di sebuah pantai yang ada di kawasan yang sangat tragis, sehingga para tamu sangat leluasa untuk kesana-kemari.
Angin pantai bertiup dengan dinginnya sehingga menusuk ke tulang. Siapa saja yang berada di situ pasti akan tentram dan damai merasuk kalbunya.
Brandon menyuguhkan makanan dan tempat yang sangat waw sekali untuk para tamu undangannya, iya tidak main-main dalam mengeluarkan biaya yang jumlahnya cukup fantastis walaupun hanya untuk sebuah acara ulang tahun.
"Ma, Pa. Jo pikir kalian kemana, capek sejak tadi Jo cariin kalian?" ujar Joanna dengan melemparkan senyuman terbaiknya, pada tamu yang lagi bersama dengan papa dan mamanya.
"Ini putri kamu, sungguh cantik sekali?" puji Yudhoyono temannya Brandon.
"Sayang.. kenalkan ini teman bisnis Papa namanya, Om Yudhoyono!" Brandon memperkenalkan putrinya kepada sahabat sekaligus teman bisnisnya.
"Hai! Om. Aku Joanna," ujar Joanna dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Ada apa kamu mencari Papamu ini?" Brandon menanyai tujuan Joanna mencarinya.
"Eum, nanti saja Pa. Papa lanjut ngobrol dulu sama Om Yudhoyono!" Ucap Joanna dengan ramah.
"Enggak apa-apa kok kalo kalian ada kepentingan, saya bisa memakluminya juga," balas Yudhoyono dengan tak kalah ramah juga.
"Enggak apa-apa kok Om, hal yang tadi enggak terlalu penting sekali kok. Dilanjut aja, saya mau ke sana dulu!" Joanna segera berlalu, meninggalkan papanya dan juga Yudhoyono yang kembali membuka obrolan mereka.
"Happy birthday sayang.. maaf aku terlambat datang menemui kamu!" ujar Jacobs dengan rasa bersalah.
"Terima kasih, kamu sudah datang keacara ulang tahunku. Enggak apa-apa kok, yang penting kamu sudah ada di sini sekarang," ujar Joanna bergelayut manja dipergelangan tangannya sang kekasih.
"Ini untukmu.." Jacobs menyerahkan sebuket bunga lili dan juga sebuah kotak kado yang berukuran sedang.
Joanna sangat happy menerima pemberian dari sang kekasih. Lalu Joanna mencium aroma khas bunga lili yang menjadi candu untuknya.
"Terima kasih, atas kadonya," ungkap Joanna dengan senyum merekah untuk sang kekasih.
"Sama-sama sayang, untuk kamu apa sih yang tidak," balas Joanna dengan menampilkan senyum manisnya.
Mereka menuju ke tempat party, di sana sudah banyak para muda dan mudi yang sedang enjoy berbincang dengan sesama teman mereka.
"Jo, ini pacar Lo ya?" Salah satu temannya bertanya pada Joanna, Rihanna namanya.
Joanna mengangguk. "Iya. Kenalin ini pacarku, namanya Jacobs," jacobs, berkenalan dengan semua sahabat dan temannya Joanna.
Jacobs mengulurkan tangannya ke arah mereka satu persatu.
"Jacobs," ujar Jacobs pada sahabat dekat Joanna.
"Rihanna," jawab gadis berkulit putih itu, dengan senyuman yang mekar.
"Udah lah Jo, bawa pacar Lo ke tempat lain saja, jangan berlama-lama di sini, takut ada yang naksir lagi!" ujar Katty dengan gurauannya.
"Hehe.. siapa yang berani mendekati pacar gue, akan aku potong lehernya secara sadis," Joanna juga membalas gurauan Katty dengan candaannya tapi fakta di dalam benaknya.
Joanna membawa kekasihnya ke hadapan orang tuanya. Brandon dan Marina, dengan senang hati menyambut kedatangan sang kekasih putrinya itu.
Bagi mereka, jacobs sudah perfect untuk menjadi menantu idaman seperti yang mereka mau.
Dari segi kerja, segi keluarga dan juga segi apapun itu, mereka sudah sangat menyukai Jacobs sekaligus mendukung hubungan mereka.
"Ma, pa. Ini Jacobs sudah datang," ujar Joanna sama orang tuanya.
"Tante, Om," sapa Jacobs pada orang tua Joanna.
"Kapan sampainya? Ayo duduk dulu!" Marina menunjukkan sebuah meja yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Iya Om, enggak apa-apa. Jangan repot-repot segala," Ujar jacobs basa basi.
"Udah, enggak usah sungkan. Ayo!" Kini giliran Brandon yang mengajak calon menantunya ke meja sana.
"Kamu harus ikut juga dengan kami, biar bisa berbincang lebih hangat lagi!" ujar Brandon pada teman bisnisnya sekaligus sahabatnya.
Yudhoyono akhirnya ikut andil diantara mereka.
Mereka terlibat perbincangan yang sangat menyenangkan sekitar 15 menit lamanya.
"Jadi, Joanna mau kuliah di mana?" Yudhoyono bertanya.
"Belum tau lagi Om, mungkin di dalam negri atau di luar negri," jawab Joanna jujur.
Dia sendiri masih bingung mau kuliah di mana.
"Pilihlah university yang terbaik untuk dirimu sendiri, Papamu ini orang yang kaya raya, bukan orang yang enggak punya uang. Kalau boleh Om sarankan, di united kingdom saja, di sana ada keponakan Om nanti ada yang menjagamu di sana!" ujar Yudhoyono panjang lebar memberi saran darinya.
"Nanti aku pikirkan dulu Om, soalnya masih bingung mau ke university yang mana," jawab Joanna kemudian.
"Kalau kamu Nak Andrean, kerja apa masih kuliah?" Kini giliran Andrean yang diinterview sama Yudhoyono.
"Kalo aku, sudah kerja Om. Punya bisnis sendiri," jawab Andrean dengan ramah, sekaligus ada terselip sedikit kesombongan.
Marina dan juga Brandon hanya menyimak obrolan mereka, sekaligus tersenyum senang dengan sifat terbuka calon menantunya itu.
"Oeh, sudah punya bisnis sendiri, itu sangat bagus sekali untuk masa depan yang cerah. Semoga karirmu cerah kedepannya Jadi pebisnis itu ada naik turunnya, tidak semudah yang kita bayangkan," ujar Yudhoyono, dengan terkekeh.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Sedangkan Joanna dan Jacobs, berputar-putar ingin menyapa para tamu undangan yang hadir di acara ulang tahunnya.
"Hai, Joanna.. selamat ulang tahun ya!" sapa Adam dengan mengucapkan selamat ulang tahun pada Joanna.
"Hai, juga Adam, terima kasih atas kedatangannya ya," balas Joanna.
Jacobs yang melihat keakraban Adam dan Joanna, langsung membuang mukanya ke sembarangan arah.
Dari dulu dia sangat merasa cemburu kedekatan Joanna dan Adam. Namun dia pendam sendiri, tanpa memberitahukannya pada sang kekasih.
"Sayang.. kok kamu begitu sih sama Adam, dia itu sahabat aku loh? kami tidak memiliki hubungan spesial apapun kok, hanya sebatas sahabat saja," Joanna menegur kekasihnya itu saat Adam ingin berjabat tangan dengan jacobs saat tadi, namun jacobs menepis kuat tangan Adam.
"Aku itu cemburu tau enggak sama kamu. Masak di depanku kamu melayani ngobrol sama lelaki lain, kamu tidak menghormati aku sedikitpun," Jacobs berang dengan teguran kekasihnya.
Dia tidak terima kalau Joanna membela Adam didepannya.
Mereka berdua terjadi sedikit cek-cok saat tadi, sehingga Jacobs memutuskan untuk pergi dari pesta yang lagi semaraknya.
Joanna menangis dalam diam, dia berlari ke tepi pantai agar orang tuanya tidak mengendus pertengkaran yang terjadi diantara dia dan Jacobs.
Dalam gelapnya malam, Joanna terduduk sendirian ditepi pantai jauh dari bisingnya acara pestanya sendiri. Joanna duduk di atas pasir bibir pantai, gaun cantiknya sudah berbalur dengan pasir pantai.
Dia menangis sekuat-kuatnya, dengan menelungkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Seharusnya dia hari ini sedang happy ending bukan malah patah hati, karena ulah kekasihnya yang cemburuan tak ketulungan.
"Ini, ambillah!" Sebuah sapu tangan yang terulur dari tangan seorang pria yang tiba-tiba berdiri disisinya.
Joanna mendongak ke arah sipemilik sapu tangan itu.
"Kamu," Joanna tidak juga mengambil sapu tangan itu, dia membiarkan sapu tangan itu tetap di atas telapak tangan Adam.
"Jangan ditangisi, lelaki yang tidak mengerti kita, arti dia tidak ada kepercayaan dalam hubungan kalian," Adam melabuhkan duduknya disamping Joanna. Dia juga menghadap ke arah laut gelap yang terbentang luas.
"Kok kamu tahu, kalo aku di sini?" Joanna bertanya pada sahabatnya itu, lalu dia mengelap sisa air matanya yang membekas pada pipi putihnya.
"Aku tadi sempat melihat percekcokan antara kalian, lalu Jacobs pergi meninggalkan kamu sendiri, dan akhirnya kamu berlari mengarah ke sini. Aku enggak tega melihat sahabatku menangis, karena hatiku sesungguhnya juga ikut bersedih saat melihat sahabatku menangis," Adam menenangkan Joanna, bermacam cara dia lakukan untuk menghibur sahabatnya itu.
"Terima kasih ya, kamu udah menghiburku hari ini. Kamu memang sahabatku yang paling the best," Joanna berucap sembari tersenyum tulus.
"Udah, jangan dipikirkan lagi. Ayo, kita ke sana lagi, Mama dan Papamu pasti sedang mencari kamu!" Adam menarik tangan Joanna menuju ke tempat pesta yang sempat Joanna tinggalkan sebentar tadi.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam pesta.
"Loh, Nak Jacobs kemana, kok sekarang Nak Adam yang menemanimu?" Marina mengintrogasi Joanna karena merasa keanehan yang terjadi dengan putrinya itu.
"Eum, Jacobs udah pulang Ma, kami tadi sempat terjadi sedikit pertengkaran," ujar Joanna hati-hati takut mamanya itu syok dengan jawabannya.
"Terus, karena apa kalian bisa bertengkar?" Marina bertanya dengan lembut.
Marina sama sekali tidak syok dengan pemberitahuan Joanna, dia malah menenangkan putrinya itu biar tidak bersedih dimalam ulang tahunnya.
"Jacobs cemburu sama Adam, Ma. Aku udah jelasin sama dia, tetap saja enggak ada kepercayaan dalam dirinya," Joanna memeluk mamanya dengan erat.
Dengan memeluk mamanya dia akan merasa lebih tenang.
Saat Brandon ingin mendekat ke arah istri dan putrinya, dia melihat lagi saling berpelukan. Hati Brandon mengatakan, kalau Joanna pasti sedang mengalami hal yang membuatnya sedih.
"Apa yang terjadi Jo, mana Jacobs?" Kini giliran Brandon yang bertanya, setelah melihat air mata Joanna yang mengalir dari celah hidungnya.
"Sudah menangisnya ya, paling juga nanti dia udah baikan sendiri! Biarkan saja dulu dia begitu!" Marina tidak menjawab pertanyaan suaminya, melainkan memenangkan putrinya terdahulu.
Setelah Joanna tenang, baru Marina menjelaskan kepada Brandon soal Joanna menangis.
"Biasalah itu, anak muda memang begitu. Banyak dramanya," Brandon terkekeh dengan kejelasan dari sang istri.
"Papa kok malah menertawakan aku sih? Bukannya membujuk anaknya, malah mengejek!" Joanna kesel dengan tingkah papanya.
"Hehe.. habisnya, kalian ini seperti Tom and Jerry, setelah bertengkar nanti baikan lagi," setelah berucap seperti itu, Brandon buru-buru melangkah dari situ, takut putrinya bertambah marah terhadapnya.
"Ma, lihat Papa!" Joanna merengek pada Mamanya, terkadang sifat manjanya akan keluar dalam waktu tertentu, terkadang juga sifat keras kepalanya mengalahkan sifat manjanya.
Marina hanya menggelengkan kepalanya, begitu juga dengan Adam saat melihat tingkah manja sahabatnya itu.
Adam begitu terasa asing bila berkumpul dengan mereka. Walaupun dia sangat akrab dengan Joanna, tapi tidak dengan keluarga Alexander.
"Sayang.. ke sini dulu sebentar!" Brandon memanggil Joanna, melalui sebuah mikrofon.
Joanna yang mendengar suara papanya yang memanggilnya, segera menarik tangan mamanya untuk menuju ke sana.
Adam yang dikacangin hanya berdiri kaku, tanpa respon. Akhirnya dia mundur diri dari pesta itu.
"Kenapa Pa, kok panggil Joanna melalui mikrofon?" Joanna bertanya dengan kebingungan.
"Lihat ini, Papa punya hadiah untuk kamu!" Brandon menunjukkan sebuah benda besar yang beroda empat, disekelilingnya dihiasi dengan pita berwarna merah.
Joanna sangat senang saat melihat hadiah yang dia impikan selama ini akhirnya terwujud juga.
Dia menghambur kepelukan papanya.
Suara tepuk tangan sangat gemuruh dari para tamu undangan.
"Terima kasih ya Pa, aku sangat suka dengan hadiahnya," ujarnya dengan air mata.
"Sama-sama sayang, apa sih yang enggak Papa turuti buat kamu," Brandon membalas pelukan putrinya juga dengan erat.
"Ma, terima kasih ya, karena Mama dan Papa sangat menyayangi Joanna," ujarnya lagi terharu.
Marina dan suaminya menggenggam tangan Joanna dengan erat.
"Kamu happy kan? Jangan bersedih lagi! Papa dan Mama tidak mau melihat ada air mata di pipimu lagi," ujar Marina sambil mengelus pipinya Joanna.
"Iya, ma. Apa bila perlu, nanti aku akan meminta maaf sama Jacobs," ujar Joanna dengan mengukir senyuman.
"Iya. Minta maaf saja, pasti Nak Jacobs akan memaafkan mu, nantinya! Mama yakin itu," jawab Marina dengan mengelus bahu Joanna.
Joanna mengingat sesuatu tentang Adam yang tadi ada bersama dengannya.
"Kok aku bisa melupakannya sih?" Joanna mengumpat kesel dirinya sendiri.
Joanna segera pergi mencari Adam, namun tidak juga iya temui sudah lebih kurang 5 menit dia mencarinya.
Joanna memutuskan untuk tidak lanjut lagi mencari Adam. "Mungkin saja sudah pulang atau pergi kemana?" pikir Joanna.
Sudah beberapa jam berlangsungnya acara pesta ulang tahun Joanna.
Sehingga semua para tamu undangan yang hadir sudah pamit satu persatu, kini hanya tinggal keluarga besar Alexander yang masih sibuk berbincang sesama sendiri.
"Joanna, kenalkan ini tunangannya Silvia namanya marco!" ucap marina, memperkenalkan tunangan sepupu jauhnya pada putrinya.
"Iya, ma," jawab Joanna sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku Joanna," ucap Joanna pada Marco.
"Senang berkenalan dengan kamu," lanjut Marco.
Joanna hanya tersenyum simpul, dia hanya sekedar menghormati mamanya yang sudah memperkenalkannya dengan Marco.
Sebenarnya, dia malas untuk melayani lelaki lain, walaupun hanya sekedar mengobrol biasa saja. Hari ini saja sudah ada masalah dalam hubungannya, hanya karena Adam yang menyapa dirinya.
Dia tidak mau lagi menambah masalah karena dia sangat menyayangi kekasihnya itu. Jacobs cinta pertamanya, seandainya mereka mengakhiri hubungannya, Joanna akan susah untuk move on dari Jacobs.
Joanna kemudian memilih untuk menyendiri dulu. Hatinya sangat gelisah memikirkan hubungannya dengan Jacobs.
Joanna berniat ingin menghubungi Jacobs, dia ingin meminta maaf atas kesalahannya yang membuat Jacobs marah terhadapnya.
Tut.. Tut.. Tut..
Beberapa kali Joanna membuat panggilan, namun nihil juga. Jacobs tidak mengangkat panggilan dari Joanna.
Perasaan Joanna semakin tidak karuan, dia mondar-mandir di tempat, sambil menggigit jari tangannya karena panik yang melanda dirinya.
Setiap keadaan genting yang menghampirinya, Joanna pasti akan menggigit jari tangannya.
Kalau tidak dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dengan itu dia bisa sedikit lebih tenang walaupun masalahnya belum kelar.
Tanpa terasa, malam kian larut. Angin pantai yang dingin kian menusuk keseluruh tulang sipemilik tubuh kuning Langsat itu. Ombak saling menderu, menyambut Joanna yang sangat kedinginan. Joanna beberapa kali mengusap tubuhnya, supaya terasa hangat tidak kedinginan lagi.
"Jo, ayo kita pulang! Ngapain kamu di situ Nanti masuk angin, enggak baik untuk kesehatanmu?" ujar Marina, saat melihat putrinya yang lagi duduk sendirian disebuah kursi yang memanjang.
"Iya, Ma. Kita pulang sekarang," jawab Joanna. Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan segera berlalu meninggalkan pantai yang telah menemaninya saat tadi.
BERSAMBUNG..
Pov¹ Joanna
Sinar matahari menusuk mataku melalui celah jendela kaca. Aku yang terjaga dari tidur nyenyak aku, langsung mengucek mataku karena silaunya matahari.
Suara burung berkicau saling bersahut-sahutan, bertambah asrinya dipagi hari ini.
Beberapa kali aku menguap besar, dengan mulutku yang terbuka lebar.
Segera aku menutupnya dengan kedua telapak tanganku.
Rasa pegal diseluruh tubuhku sangat terasa, mungkin akibat kecapean semalaman berjalan kesana-kemari, dengan memakai sepatu hak tinggi.
Aku segera meraih benda berbentuk segi panjang di atas meja tidurku, dan betapa terkejutnya aku saat melihat angka yang tertera dilayar kaca handphoneku.
"Sshhhttt.." umpatku.
Aku segera bangun dari tempat tidurku, lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Segera aku menguyurkan tubuhku dengan air hangat yang berasal dari shower.
Lima belas menit kemudian, aku sudah siap dengan ritual mandi pagiku. Tubuhku juga sudah terasa enakan sedikit. Tidak pegal-pegal lagi seperti saat bangun dari tidur tadi.
Aku segera memilih baju untuk aku gunakan sekarang, aku menelisik satu persatu pakaianku kira-kira mana yang cocok untuk aku gunakannya.
Pilihanku jatuh pada celana jeans import dari Amerika, dan kaos oblong biru polos. Tidak lupa sedikit aksesoris di rambutku, dan juga jam tangan mahal hadiah dari sang kekasih.
Polesan makeup tipis juga tidak lupa, terus lip balm biar bibirku tidak mengering. Sekarang aku sudah siap dengan rapi dan tentunya juga terlihat berkelas.
Aku bukannya sombong ya say, tapi aku hanya sedikit nge-share sama kalian, kalau aku ingin berjumpa dengan Jacobs tentunya harus waw gitu.
"Pagi Ma, Pa," sesampainya aku ke bawah, aku segera menyapa orang tuaku yang sedang memakan sarapan mereka.
Kemudian, aku menarik sebuah kursi yang terletak di samping kiri papa.
"Mau kemana Jo, tumben pagi-pagi begini udah rapi?" Tanya mama.
"Biasa Ma, aku ingin berjumpa dengan Jacobs Aku ingi membahas masalah yang semalam," jawabku, sambil meneguk susu favoritku.
"Kenapa awal sekali, kenapa enggak nanti malam aja?" Mama bertanya lagi, dengan interogasinya.
"Hari ini, Jacobs ada hal yang harus dia uruskan ma. Jadi aku udah buat janji sama dia diwaktu jam pagi ketemunya," aku menjelaskan perinciannya sama mama.
"Oeh, begitu. Titip salam Mama pada Nak Jacobs ya!" Nyuruh mama.
"Iya, Ma. Nanti aku sampaikan salam Mama padanya," jawabku.
"Aku udah siap, kayaknya aku harus pergi sekarang," beritahuku sama mama dan papa.
"Da Papa, da Mama. Jo berangkat dulu," aku mencium tangan mereka. Setelah itu aku terus keluar meninggalkan mama dan papa yang masih berada di meja makan. Lalu aku melajukan kendaraan yang papa kasih sebagai hadiah ulang tahunku kemarin.
Handphoneku berbunyi, bertanda ada panggilan yang masuk. Segera aku menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, sayang.." ucapku.
"Iya, ini udah mau sampe kok. Paling lima menit lagi udah sampai," Jawabku.
"Da.. jumpa lagi di sana ya," Aku memutuskan sambungan telponku dengan Jacobs.
Aku membelok ke arah kiri jalan, menuju ke cafe Jetski. Cafe Jetski terkenal dengan pandangan laut yang sangat indah sekali, cafe Jetski ini masih berada di kawasan Jakarta Utara.
Aku akan berjumpa dengan Jacobs di sana. Jacobs sudah memesan meja pribadi cukup untuk kami berdua.
Tidak butuh waktu lebih lama lagi, aku sudah memasuki kawasan cafe Jetski.
Pengunjungnya terbilang cukup ramai, apalagi hari ini hari Minggu. Para suami ataupun pria yang belum menikah, akan membawa pasangan mereka ke tempat ini.
Cafe Jetski sangat terkesan kemewahannya, dan juga pandangan yang sangat menyejukkan mata.
Aku menghubungi Jacobs, sesampainya aku ke sana. Terlihat Jacobs melambaikan tangannya ke arahku yang masih berada di
area pintu masuk.
Aku yang melihat lambaiannya, langsung saja mendekat ke arah kekasihku itu yang lagi duduk tampan di ujung sana.
"Hai.. sayang. Udah lama nunggunya?" Aku membuka suara, untuk mencairkan suasana hati Jacobs.
Sangat terlihat dari wajahnya yang tidak bersahabat sama sekali, mungkin saja masih merajuk panjang padaku.
Aku segera menarik kursi, lalu melabuhkan dudukku di atas kursi yang terbuat dari jenis kayu jati, kursi ini sangat terlihat unik dan cantik dengan desainnya.
"Kok gitu sih, kamu enggak suka aku meminta kita ketemuan hari ini?" Ujarku dengan mengharapkan penjelasan darinya.
"Kau yang buat hal, kau pulak yang meminta aku untuk ketemuan. Cepat jelaskan apa mau mu, u sebentar lagi ada kegiatan yang harus aku selesaikan hari ini juga!" bentakan Jacobs sangat membuat ngilu dihatiku.
Aku melirik ke sembarang arah, aku malu bila ada yang memarahiku di depan orang banyak.
Syukur, pengunjung di sini sedikit berjarak dengan tempat duduk kami.
"Kamu masih marah sama aku, kan aku udah meminta maaf beberapa kali sama kamu, apa kamu belum juga bisa memaafkan aku?" Aku mencoba untuk bersabar menghadapi kemarahan Jacobs dan sering mengucapkan kata maaf padanya.
"Itu si Adam yang katamu itu best friend, kenapa kamu tak bersamanya?" Ujar Andrean tanpa melihat ke arahku sama sekali.
"Kamu masih bahas hal yang sama, Adam dan Adam? Dia itu sahabatku, tidak lebih dari itu," aku mencoba untuk menjelaskan lagi pada Jacobs yang masih terlihat kesal padaku.
"Kamu yang jalang sama dia, terus kamu korbankan perasaanku. Sedangkan kamu asik mengobrol dan bercanda sama dia, seperti semalam. Lalu aku ini kamu anggap apa?" Jacobs sedikit membesarkan nada suaranya, sedangkan aku menunduk malu dihadapannya.
Kata-kata jalangnya itu sangat menusuk jantungku. Sebegitukah dia membenciku, hanya karena aku dekat dengan sahabatku.
Aku menangis dalam tundukku, sesekali aku menghapus air mataku yang sudah tumpah sejak dari tadi.
"Sudahlah, enggak usah berpura-pura menangis, hanya untuk menarik perhatian dariku! Aku mau berjumpa denganmu hanya karena paksaan yang berterusan dari kamu." Ujarnya, yang membuat hatiku kembali merasakan sakit tapi tidak berdarah.
"Sebenarnya aku sudah muak dengan tingkahmu, sudah beberapa kali aku memperingati kamu, supaya kamu jangan dekat-dekat lagi sama si Adam itu. Namun peringatan dariku tidak kamu pedulikan, dan kamu masih saja mengulangi kesalahan itu," Andrean terus-menerus memojokkanku.
Es kelapa muda yang tadi Jacobs pesan, belum sama sekali tersentuh sedikitpun. Niat hati ingin meminta maaf, namun semua itu berubah suasana hatiku menjadi murung seketika.
Hanya pojokan yang aku dapatkan dari Jacobs saat bertemu.
"Aku benar-benar ingin kita baik-baik saja. Aku berjanji, akan menjauhi Adam demi kamu. Aku akan mengorbankan persahabatanku dengan Adam demi hubungan kita," aku mencoba untuk membujuknya lagi, aku enggak mau Jacobs memutuskan hubungan kami.
Kami sudah cukup lama membina hubungan ini. Sudah lebih 4 tahun lamanya kami berpacaran.
Aku enggak mau hubungan ini akan putus ditengah jalan. Enggak ada haluannya dan terhempas begitu saja.
Kami sudah berencana ingin kejenjang keseriusan. Kami akan bertunangan dulu, sambilan aku kuliah nanti.
Habis wisuda, kami akan berencana untuk menikah dengan menggelar pesta yang sangat mewah.
Aku enggak mau, impian itu sirna begitu saja.
"Kamu serius mau memutuskan persahabatan kamu demi aku?" Akhirnya, Jacobs berkata dengan nada lembut lagi, setelah aku mengatakan akan mengorbankan persahabatanku dengan Adam.
Aku mengangguk. "Iya, itu hanya demi kamu, demi cinta kita," aku berujar dengan mengukir senyumanku. Dari sinar mataku, aku mengisyaratkan ketulusan dalam ucapanku.
"Aku lega kalo kamu benar-benar akan menjauhi Adam demi aku," balas Jacobs kemudian dengan senyumnya.
Aku benar-benar sangat bahagia, bila dia sudah kembali lagi dalam hidupku.
"Kamu enggak akan meninggalkan aku kan, sayang, setelah aku mengorbankan persahabatanku dengan Adam" Aku bertanya lagi dengan berharap sebuah kepastian dalam hubungan kami.
"Kamu meragukan aku, Joanna?" Kata Jacobs sambil menatap lekat ke dalam bola mataku.
Aku menggeleng. " Aku tidak pernah meragukan-mu, aku tetap mempercayaimu dan hubungan kita," jawabku, dengan membalas tatap ke dalam matanya.
Kami saling tersenyum, akulah yang paling bahagia hari ini. Pandangan mata kami saling bertemu, senyuman manis itu tidak pernah lekang dibibir kami.
Bertambah lagi tiupan lembut angin laut yang menyapa tubuh kami.
"Mau pulang sekarang, atau mau menikmati angin laut disiang hari dulu?" Jacobs bertanya padaku sambil menggenggam tanganku.
"Katanya hari ini ada hal yang harus kamu selesaikan, lupa, atau bagaimana sih?" Ucapku mengingatkannya.
"Hehe itu semua, hanya alasanku saja sayang," jawabnya tanpa rasa bersalah.
Aku mencubitnya dengan sangat kuat. "Kamu ini ya, kebiasaan suka berbohong," ujarku, dengan wajah pura-pura merajuk.
"Janganlah ngambek sayang, aku minta maaf, karena telah membohongimu!" ujarnya dengan membujukku.
Aku tetap memasang wajah ngambek-ku. Enak saja setelah membohongiku dengan alasan sibuk sekarang ingin aku ramah padanya.
"Aku janji, enggak akan membohongimu lagi. Tapi.. kali ini, tolong maafin aku ya!" Dia bersimpuh di kakiku, dengan menggenggam kedua tanganku.
Aku tersipu malu dengan perlakuannya padaku, banyak mata yang melihat adegan yang dilakukan Jacobs terhadapku.
"Aku janji akan jujur padamu, tanpa berniat ingin membohongimu lagi. Aku tidak ingin kamu marah padaku," ujarnya dengan serius.
Aku melihat ke dalam mata lelaki yang di hadapanku ini, apakah ada kebohongan di sana. Beberapa kali aku menelisik ke dalam biji matanya, saat Jacobs berbicara, tetap saja aku tidak menemui apa yang aku inginkan.
"Janji itu harus ditepati sayang!" Ucapku, dengan serius.
"Iya, aku tidak mau kamu marah padaku, hanya karena aku membohongimu semalam," kemudian Jacobs memelukku dengan erat, aku juga membalas pelukannya dengan tak kalah erat.
Semua pengunjung yang ada di sini memberi tepukan yang gemuruh untuk kami berdua.
"Waw, cowok yang romantis." Aku sempat mendengar ucapan memuji dari salah satu pengunjung di sini.
Aku bangga memiliki pacar yang super romantis seperti Jacobs.
Jacobs ini keturunan Jerman, kulitnya yang putih kemerahan, tubuhnya yang tinggi, hidungnya juga mancung. Bertambah lagi rambutnya yang perang, tak mengurangi ketampanan Jacobs sedikitpun.
Dia mampu menggetarkan hatiku sampai ke ulu hatiku.
Cintaku padanya begitulah besar, jangan bertanya padaku segitu besarnya cintaku padanya, tentunya aku tak bisa menjawab itu semua. Karena aku tidak bisa mengukur rasa itu sebesar apel atau lainnya.
Kami menikmati semilir angin laut yang sejuk. Genggaman tangan kami tidak pernah lepas, aku bersandarkan diri pada dadanya, kami seperti pasangan kekasih pada umumnya.
Jam terus berputar, tanpa lelah sedikitpun. Kini sudah beranjak diangka satu siang, tanpa basa-basi-pun matahari sudah menegak di atas kepala.
Kami memesan beberapa menu andalan, yang terpopuler di cafe Jetski ini.
"Mau nambah lagi enggak, sayang?" Jacobs bertanya padaku.
"Enggak, Udah cukup ini. Perut aku udah enggak muat lagi," ujarku.
"Makan yang banyak juga enggak apa-apa, biar bertambah gendut!" Jacobs mencubit pipiku dengan gemes.
"Enak aja bilang aku gendut. Sexi begini kok dibilang gendut," aku membantahnya, aku tidak terima dengan omongannya.
"Iya, hehe.." Jacobs terkekeh dengan bantahanku.
Setelah makan siang, aku dan Jacobs meninggalkan cafe Jetski. Sesampainya di parkiran cafe Jetski, kami cipika-cipiki dulu sebelum berpisah. Karena kami membawa mobil yang berbeda.
"Da sayang.. hati-hati dijalan ya!" Ujar Jacobs padaku.
"Kamu juga ya, bye sayang!" balasku lagi.
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Jacobs, terus aku menekan pedal gas mobilku dan meninggalkan pekarangan cafe Jetski.
BERSAMBUNG.
Pov¹ Joanna
Kini hubunganku dengan Jacobs semakin membaik. Kami sudah seperti biasa lagi setelah pertemuan kami Minggu kemarin di cafe Jetski, kami bahkan sangat sering memberi kabar saat ini antara satu sama lain.
Aku benar menempati janjiku pada Jacobs untuk menjauhkan diri dari Adam. Beberapa kali Adam mencoba untuk menghubungiku dan juga mengirimkan pesan chat padaku, namun aku tidak menggubrisnya sama sekali.
Aku tidak mau hubunganku dengan Jacobs akan bermasalah lagi seperti yang sudah-sudah.
Malam ini, aku sangat merasa bosan. Sudah beberapa kali aku mencoba untuk menghubungi Jacobs, tetap juga tidak dijawab panggilan dariku.
"Mungkin saja dia sibuk, kali ya?" Aku berasumsi positif thinking terhadanya, mungkin saja Jacobs lagi sibuk seperti yang aku pikirkan.
Kali ini, aku mencoba untuk menghubungi Rihanna, mungkin saja dia tidak ada kegiatan apapun.
Sekali telpon dia tidak menjawab panggilanku, kedua kali telpon baru dia menjawab sambunganku.
"Hallo, Jo," ujarnya diseberang sana.
"Hallo juga Rihanna, Lo lagi di mana?" Aku bertanya padanya sambil rebahan.
"Eumm ahhh a-a-aku s-sibuk, nanti telpon lagi ya!" Rihanna langsung menutup panggilanku sepihak tanpa aba-aba lagi.
"Dasar mesum." Ujarku sambilan tersenyum sendiri. Bagi Rihanna hal berhubungan badan itu sudah lumrah baginya.
Walaupun aku masih Virgin, tapi aku tahu itu bentuk suara apa, aku geli sendiri bila harus mengingat desahan yang keluar dari mulut Rihanna saat tadi.
Mungkin dia keceplosan dalam mengeluarkan rasa kenikmatannya. Dan akhirnya grogi sendiri sampai ketahuan lagi mendesah keenakan.
Kemudian aku mencari kontak Katty, dia merupakan sahabat terbaikku.
Kalau dengan Rihanna hanya berteman seperti biasa, tidak terlalu akrab sekali, malahan Katty yang lebih akrab dengan Rihanna.
Tut..
Tut..
"Hallo, Jo," terdengar suara Katty yang menyapaku diseberang sana.
"Hallo juga Katty. Ngapain kamu, ganggu enggak gue telpon Lo?" Ujarku.
"Ya, enggaklah. Gue lagi enggak ngapain-ngapain kok. Kenapa memangnya?" Katty bertanya kembali.
"Aku bosan sendirian di rumah. Bokap dan Nyokap gue enggak tau kemana, Sinilah temani gue!" Ucapku dengan berharap Katty memenuhi keinginan aku.
"Oke, gue otw sekarang ke rumah elo," jawaban Katty, membuat mata aku berbinar seketika, akhirnya aku tidak sendirian lagi malam ini.
"Lo nginap di sini ya, bawa baju gantinya sekalian!" Perintahku.
"Iya deh, gue mau. Lagian Mama gue entah pergi kemana, kebiasaan kalo pergi enggak bilang-bilang sama gue," dari suara Katty, dia terlihat kesel dengan tingkah mamanya.
"Udah, mending Lo ke sini terus, kita happy-happy di sini," usulku.
"Oke, gue berangkat ke situ sekarang juga, gue mau siap-siap dulu ni," ucap Katty, kemudian akupun memutuskan sambungan telepon dengannya.
Selang lima belas menit, Katty sudah mengetuk pintu rumahku. Aku segera turun ke bawah untuk membuka pintu untuk sahabatku itu, Katty.
Aku mencapai gagang pintu dan benar saja, Katty sudah berdiri dihadapanku dengan senyum nyenyirnya.
"Sampaipun. Gue pikir Lo enggak akan datang ke sini," ucapku, lalu menariknya masuk ke dalam rumahku.
"Gue ini orangnya tepati janji, enggak kayak elo, sesekali suka ingkar janji sama gue," ucapnya dengan nada sewot.
"Hehe, sesekali enggak apa-apa. Yang pastinya itu jangan keseringan," balasku dengan kekehan kecil.
"Bye the way, rumah Lo kok sepi udah kayak kuburan aja?" Katty berucap sambil bercanda.
"Hussss ... ngomongnya kok ngelantur. Merinding bulu kuduk gue tau, enggak. Lo ngomongnya gitu sih?" Aku menakuti dia dengan memperkeruh suasana.
"Lari ..." Katty malah berlari naik ke atas ninggalin gue sendirian di sini.
"Tunggu! Dasar penakut, cemen banget sih Lo ..." ejekku, seraya mengikuti langkahnya dari arah belakang. Padahal aku juga terbilang penakut, sama seperti Katty.
Sesampainya di kamarku, sangat terlihat nafas Katty yang ngos-ngosan akibat berlari menaiki anak tangga dengan kecepatan turbo, sehingga aku juga ikut ngos-ngosan sama seperti Katty ulah mengejarnya.
"Emangnya bibik Lo pergi kemana, biasanya juga sibuk mondar-mandir di bawah?" Katty berucap dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Mending kita duduk dulu, daripada mati berdiri! Jantung gue enggak stabil ni, debarannya terlalu kuat," ucapku memberi instruksi padanya.
"Jawab dong pertanyaan gue, jangan Lo gantungin kayak hubungan gue sama doi!" Aku terkekeh dengan ucapan Katty. Memang sih, nasib Katty dalam kisah percintaannya yang kurang beruntung.
Perasaannya suka digantung terus, tanpa penjelasan yang jelas dari pacarnya.
"Bik Nani kalo malam dia pulang kerumahnya, sekarang enggak nginap lagi di sini, jadwalnya udah berubah. Kalo yang lain, memang udah diwajibkan pulang, kecuali pak supir dan satpam depan sana yang berjaga di gerbang," aku menjelaskan tentang pembantuku yang menjadi tumpuannya Katty.
"Kalau satpam sana Lo pecatpun enggak akan bisa peah, bukan Nyokap Bokap Lo yang gaji mereka," balas Katty kesel.
Aku hanya terkekeh kecil dengan mimik wajah Katty.
"Trus, kalo Lo lapar tengah malam, siapa yang masak buat Lo?" Ucapnya lagi.
"Ya masak sendirilah. Kalo tidak tinggal pesan di aplikasi pemesanan makanan, gampang kan. Hidup itu jangan dibuat pusing, kalo ada yang enak kenapa harus yang sulit," balasku sambil merebahkan diri di atas bantal buluku.
Kami menonton drama kesukaan kami, habis itu karaokean. Kami benar-benar membuat malam ini seperti party besar-besaran di kamarku.
Aku dan Katty hampir banyak kesamaan dalam hal faforit, ataupun yang kami tidak suka.
Bukan bearti karena kami ini sahabat dekat, tapi ... memang banyak kecocokan yang ada pada diri kami.
Aku menguap besar, jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa kami sudah hampir empat jam bersuka ria.
Aku melirik ke arah Katty, seketika aku terkekeh melihat Katty yang sudah molor. Begitu seriusnya aku menonton drama Korea setelah karoke tadi, sehingga Katty yang sudah tertidurpun aku tidak tau sama sekali.
Setelah mematikan Tv, aku juga ikut mengejar mimpi yang belum tercapai. Segera aku menarik selimutku dan terus memejamkan mata sampai lupa sesaat dengan kisah cintaku di dunia nyata.
****
"Berisik sekali sih?" Aku bergumam sendiri. Kepalaku yang berada di bawah bantal, masih sangat Terdengar dengan jelas suara alarm di handphoneku.
"Perasaan baru sebentar aku tertidur, dan sekarang harus bangun lagi." Mulutku merepet dengan mataku yang masih terpejam.
"Apaan sih Lo, pagi-pagi udah bernyanyi?" suara combrengan khas bangun tidurnya Katty, sangat tidak enak Terdengar didaun telingaku.
"Alarm sangat menggangu gendang telingaku, aku masih mengantuk berat ni. Malas untuk aku beranjak sekarang dari tempat ternyamanku," jawabku, dengan tanganku masih setia memeluk bantal guling kesayanganku.
"Memangnya udah jam berapa sih sekarang?" Katty bertanya, matanya masih terpejam.
"Biasanya aku setelan alarmnya jam sembilan pagi," jawabku jujur.
"Apa?" Jeritan Katty memekak gendang telingaku, aku yang merasa terganggu dengan jeritannya juga ikut terbangun sekalian.
"Kenapa sih elo, sakit gendang telingaku, tau engga?" Aku merasa kesel sekaligus terkejut dengan suaranya yang combrengan.
"Gue enggak biasanya bangun tidur kesiangan begini. Kalo di rumah gue udah diomelin sama Nyokap gue," jawab Katty dengan mimik wajahnya yang sangat serius.
"Haha, ini kan di rumah gue Kat, bukan di rumah elo. Jadi, enggak apa-apa kali, apalagi hari ini hari Minggu," ucapku dengan kekehan kecil. "Gimana sih elo itu, belum tua udah pelupa?" Sambungku lagi.
"Iya, aku tahu ini rumah elo. Yang jadi permasalahannya, aku tidak terbiasa bangun tidur setelat ini. Seketika tubuhku menjadi refleks tau enggak, untunglah jatungku kuat dari gantungannya," Katty masih sempat bercanda sebentar, padahal dia sendiri lagi syok berat, akibat senam jantung pagi-pagi.
KROK.. KROK.. KROK..
kami berdua saling berpandangan, lalu tertawa bersamaan. Saat mendengar keroncongan yang berasal dari perut Katty.
"Biasanya kalo di rumah jam segini aku udah sarapan pagi. Berbeda di rumah elo jam segini baru bangun tidur, apes bener aku pagi ini," ucapnya mendengus manja.
Aku mendelik ke arah Katty. " Jadi Lo enggak ikhlas ni kawanin tidur gue tadi malam?" Ucapku dengan cemberut.
"Bukan begitu maksud gue Jo, hanya saja aku kelaparan sekarang ini. Sedangkan di rumah elo, enggak ada persediaan makanan dijam segini, begitu," Katty memperjelaskan maksudnya tadi, supaya aku tidak salah paham.
"Iya, aku hanya pura-pura tadi ngambeknya hehe. Ayo, kita turun ke bawah cari makanan!" Ajakku, sambil terkekeh kecil.
"Memangnya Bibik Nani udah dateng?" Tanyanya.
"Biasanya udah, jam tujuh sarapannya juga udah tersedia di atas meja," jawabku.
Kami langsung turun ke bawah menuju meja makan. Benar saja, Bik Nani sudah menyediakan nasi goreng dan juga beberapa menu lain untuk santapan kami pagi ini.
Saat makan, kami bercerita tentang banyak hal. Kami juga lagi memilih tempat kuliah yang cocok untuk kami daftar.
"Gimana kalau kita kuliahnya di Amerika, disana pasti seru, atau enggak di Korea aja?" usul Katty.
"Gue masih bingung, mau kuliah di mana," Balasku.
"Ya elah, itu aja kok bingung. Secara 'kan Bokap dan Nyokap Lo banyak duitnya, jadi ... apa yang harus Lo pikirkan lagi?" Katty berujar dengan menepuk dahinya.
"Gue kepikiran sama Jacobs, kalau kami LDR-an pasti hubungan kami akan renggang. Sedangkan baru kemarin kami baikan lagi, setelah timbul permasalahan dengan kedekatan aku dengan Adam," curhatku.
"Maksud Lo gimana, kok Lo enggak pernah cerita sih sama gue? Tak Aci tau engga!" Katty sangat kepo dengan jalan ceritaku yang tak dia ketahui.
"Kan kemaren gue ulang tahun ni, Adam hadir diacara gue. Terjadilah suatu obrolan antara aku dan Adam ni. Nah, rupanya Jacobs enggak suka kalau gue terlalu akrab sama si Adam. Terus si Jacobs merajuk panjang sama gue, gitu ..." aku menceritakan semua perinciannya sama Katty. Dia hanya mengangguk sambil ber oh, iya saja.
"Jadi Lo sama Adam itu gimana perkembangannya, sedangkan dia itu sahabat dekat Lo juga? Dari masa kecil loh kalian kenal, masak Jacobs cemburu sama Adam?" Katty juga ikut mengomentari sedikit tentang Jacobs yang cemburuan.
"Jadi aku mengantungkan persahabatan aku dengan Adam. Ya, walaupun aku tidak bicara langsung sama si Adam, tapi dengan cara menjauhinya. Aku enggak mau kehilangan Jacobs, dia cinta mati gue, tau engga?" Ucapku, sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku.
"Bik ... Mama dan Papa kemana?" Tanyaku pada Bik Nani yang sedang membereskan dapur.
"Nyonya dan tuan sudah berangkat kerja Non," jawab Bik Nani.
"Oeh ..." hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Lo kayak anak kecil, enggak bisa jauh dari orang tuanya," ejek Katty.
"Ya iyalah. Secara kan gue anaknya mereka, bukan kayak elo anak tirinya. Kemanapun Nyokap Lo pergi tidak pernah dikasih tahu sama elo," ejekku balik.
"Kok Lo ngomongnya gitu sih say, aku jadi sedih tau engga? Bukan anak tirinya kali, aku itu lahir dari rahimnya. Cuma ya gitu deh, seperti enggak dianggap sama sekali. Tapi ... jangan salah, rekening gue tetap mengalir seperti biasanya," ujarnya sambil nyenyir.
"Gue serius ini nanyak sama elo, Lo itu sebenarnya sedih enggak sih dicuekin sama Mama Lo sendiri?" Tanyaku ingin tahu.
"Ya tentu sedih donk, secara kan aku ini masih punya perasaan bukan sebuah robot. Hanya saja saat aku bertanya sama Mamaku, dia hanya terdiam tanpa menjawab satu patah katapun," sangat terlihat kesedihan Katty diwajahnya saat dia bercerita tentang mamanya.
"Setelah Papaku angkat kakinya dari rumah, Mamaku berubah seratus persen. Dulu Mama ke gue enggak kayak gini. Sikapnya dan juga perhatiannya ke gue sangat manis sekali,
berbeda sekarang. Secara kan aku itu tidak tahu apa-apa, kenapa Mama dan Papaku berpisah. Tapi ... kenapa Mama mengorbankan aku sebagai pelampiasan sakit hatinya kepada Papa ya?" Ungkap Katty pilu.
"Jujur, gue sangat iri sama lo Jo. Kamu masih mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuamu. Sedangkan aku malah begini jadinya," Katty mengelap pelupuk matanya yang sudah berair dengan tisu.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin kok suatu hari nanti pasti Mama lo akan kembali menyayangi Lo lagi seperti dulu!" aku memberikan sepatah semangat pada sahabatku itu.
"Hehe, tapi aku tetap harus bersyukur. Walaupun Mamaku cuekin aku, tapi dia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Setiap jam setengah enam, Mama selalu mengetuk pintu kamarku,"
"Dalam dua menit aku belum bangun juga, dia akan menggedor pintu kamarku dengan begitu kuat. Mangkanya tadi pagi aku sangat terkejut saat kita bangun tidur sudah diangka sembilan. Seakan-akan aku tidur di kamarku, aku takut Mamaku memarahiku karena terlambat bangun," Katty menghela nafas panjang, dia nampaknya begitu tertekan sekali, namun tetap berusaha baik-baik saja.
Walaupun hidup dengan Mamanya sendiri, seolah-olah seperti tinggal bersama ibu tiri yang kejam.
"Jadi kalo Lo mau kuliah, dapat biaya dari mana? Sorry ya, bukannya aku bermaksud ingin merendahkan kemampuan Lo," tanyaku dengan hati-hati.
"Kalo soal biaya kuliah, itu tidak menjadi masalah. Mamaku udah pernah bilang kok, kalo aku mau lanjut kuliah tinggal bilang saja sama dia. Mau kuliah di mana, terserah sama gue, dia akan memberikan semua biaya kuliah gue sampai tuntas," jawabnya dengan tersenyum kecut.
"Yang terpenting, kamu jangan putus asa ya, ada aku kok yang selalu setia mendengarkan curhat Lo di setiap waktu!" ucapku, sambil menepuk bahu Katty.
"Terima kasih ya beb, Lo memang sahabat gue yang terbaik," aku menanggapi ucapannya Katty dengan sebuah senyuman.
"Sama-sama say, aku udah anggap Lo seperti saudaraku kok. Tenang saja aku akan bersedia mendengar curhat Lo, dalam situasi apapun itu!" kataku lagi.
Kemudian Katty pamit pulang, aku mengantarkan sahabatku itu hanya sampai di depan pintu rumahku.
Mobil Katty sudah mulai menghilang dari pandangan mataku, lalu aku masuk lagi ke dalam dan menuju ke kamarku yang ada di lantai atas.
Tiba di kamarku, aku baru ingat dengan gawaiku yang dari semalam aku abaikan. Setelah mengirim beberapa pesan chat pada sang kekasihku. Mungkin saja Jacobs sudah membalas pesanku, atau menghubungiku kembali.
Ternyata zonk, apa yang aku harapkan ternyata tidak ada. Aku sangat kecewa dengan Jacobs. "Apakah dia tidak merindukan aku seperti diriku merindukan dirinya?" Ungkapku dalam hati.
Hanya pesan Adam yang berjejeran masuk di aplikasi berwarna hijau itu. Tanpa berniat ingin membalas pesannya langsung aku menutup layar handphoneku.
Lalu aku melempar handphoneku ke atas kasur dengan perasaan yang kusut.
Lalu aku segera meraih handuk yang ada di tempat jemuran, kemudian segera aku membawanya ke kamar mandi.
Dua puluh menit berkutik dengan air mawar di dalam bathub, terus mengelap tubuhku sampai kering. Terus baru aku keluar dari kamar mandi dan langsung menggenakan setelan keseharianku di rumah.
Hari ini aku enggak ada kegiatan apapun, terkadang kebosanan melanda diriku. Biasanya kalau hari aktif sekolah kemaren banyak sekali teman kelas yang bisa diajak untuk mengobrol.
Karena aku ini bukan tipe yang sok terhadap teman yang lain. Bukan maksudku ingin memuji diriku sendiri, hanya saja apa yang aku katakan ini benar faktanya.
"Aku jadi rindu dengan suasana waktu sekolah SMAku dulu." Gumamku sendiri.
Baru satu bulan lulus dari SMA, sudah bikin rindu saja ini hati, memang sulit move on dari lingkungan yang ramah.
Sekarang aku lagi mencari universitas yang mana yang mau aku daftarin kuliah.
Sudah sekitar dua puluh menit aku berselancar di internet. Pilihanku jatuh pada universitas Harapan Pelita.
Universitas ini termasuk lima universitas terbaik yang ada di Indonesia.
Aku segera menelpon Katty, untuk memberitahukan universitas mana yang mau aku daftar.
"Hallo Kat ... Lo udah sampe belum ke rumah Lo?" Tanyaku basa-basi dulu sama dia, setelah panggilanku dijawabnya.
"Aku udah sampe ni. Kenapa?" Katty berbalik tanya padaku.
"Aku ingin beritahu Lo, kalau aku udah dapat universitas yang terbaik untuk kita daftar kuliah nanti," ucapku, sambil menyandarkan tubuhku di headboard.
"Universitas mana?" Tanyanya lagi.
"Universitas Harapan Pelita, kira-kira Lo mau enggak? Soalnya universitas itu termasuk kategori lima terbaik di Indonesia Lo," aku memberitahu Katty.
"Universitas itu kan yang ada di Tanggerang?" Ujarnya lagi.
"Yup, betul. Jadi Lo setuju enggak kita daftarin kuliah di sana?" Aku mengulangi lagi pertanyaan yang sama.
"Jurusan apa, yang mau Lo ambil?" Ucap Katty.
"Kedokteran, secara kan gue bercita-cita jadi Dokter. Kalau Lo?" Aku bertanya padanya jurusan apa yang mau digelutinya.
"Kan, Lo tau sendiri, cita-cita kita itu sama," jawabnya terkekeh.
"Kalo itu mah, aku tau. Mungkin saja keinginan Lo udah berubah haluan. Seperti cinta Lo yang enggak kesampaian," aku tertawa lepas.
"Lo jangan suka ngejek gue ya, nanti giliran Lo patah hati, nangisnya guling-guling. Baru tau Lo!" Katty berucap dengan kesel.
"Jadi, kesimpulan elo itu bagaimana sih? Mau enggak kuliah di sana?" Mulutku udah capek mengulang pertanyaan itu terus.
"Asal bersamamu, aku mau ke mana saja," jawaban Katty membuat aku terkekeh.
"Kayak Romeo dan Juliet kita berdua ya say, enggak akan terpisahkan. Yang terpenting satu cinta jangan kita bagi," ucapku bernada serius.
"Ya elah. Gini-gini gue enggak tega embat punya teman gue sendiri. Gue masih punya hati nurani, masih ada rasa perikemanusiaan," balas Katty.
"Seharusnya sih gitu, jangan sampe persahabatan kita bubar hanya gara-gara seorang cowok," sambungnya lagi.
"Betul itu. Kalau persahabatan yang tulus itu susah dicari, kalau cowok yang enggak setia, bisa terganti dengan yang lain," sambungku.
BERSAMBUNG..