Bab 1

Awan yang berarak di langit mulai berubah sedikit temaram. Redup senja mulai terasa menusuk. Tampak, seakan sebentar lagi buliran-buliran serupa jarum raksasa akan segera meluruh ke tempatku sedang bersimpuh.

Ayyash...

Maafkan Mama baru datang mengunjungimu setelah tahun demi tahun bergulir pilu. Maafkan Mama yang datang sendirian, karena Adik-adikmu masih terlalu kecil dibawa kemari, Nak.

Mama yakin, sekarang Ayyash sedang berbahagia di syurga bersama keempat saudaramu yang lain. Titip salam Mama, Nak, pada keempat Saudaramu itu yang bahkan belum sempat Mama beri nama.

Buliran bening dari langit kalah cepat dengan buliran bening dari netraku yang sejak tadi semakin deras menganak sungai.

Meski alam semakin gelap, aku tak hendak bangkit dari sini. Biarkanlah, biarkan hujan yang menghapus air mata yang terus saja bergulir. Wajah yang bersimbah ini pasti akan mengering, tetapi darah yang masih menetes di dalam sana, tak pernah benar-benar membeku.

Ayyash ..., Mungkin Ayah sering kemari ya? Maafkan Mama yang tidak mampu mempertahankan kebersamaan ini setelah kamu dan keempat Saudaramu tak bisa kami dekap.

Ayah pergi, Nak, karena tidak ada satu pun dari kalian yang menemani Mama di bumi.

Kilat menyambar kian menggelegar. Seolah tahu scene seperti apa yang ingin diabadikannya dalam kehidupan. Dulu, aku pernah begitu takut pada suara dentumannya. Namun, sekian tahun yang lalu aku pun pernah menantangnya hanya untuk mempertahankan rumah tangga.

Mungkin takdir baik memang bukan milikku, pada sambaran petir tanpa gelayut mendung, dia tetap memilih pergi. Meninggalkanku dengan luka yang masih menganga.

Ayyash, Mama pulang ya, Nak! Adik kecilmu di rumah pasti takut jika hujan begini. Entah kapan Mama dan Ayah bisa mengunjungimu bersama.

Tak perlu mengusap muka, karena badanku memang sudah terlanjur kuyub. Perlahan aku mulai meninggalkan pusara Ayyash, putra ketigaku yang lahir sebelas tahun silam tanpa sempat kudengar tangisnya.

Adakah yang lebih berdarah dari ini? Suami memilih pergi hanya karena kelima anak kami menjadi pilihan Allah untuk tak pernah melihat dunia.

Bab 2

Siapa di sini yang lulusan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah?" Suara Dosen matrikulasi mata kuliah Bahasa Arab menggema di ruangan kelas pertamaku sebagai mahasiswa.

Matrikulasi adalah nama program belajar khusus Bahasa Arab dan Bahasa Inggris untuk Mahasiswa Baru, yang berlangsung selama dua bulan sebelum masuk ke semester pertama. Program ini wajib diikuti semua mahasiswa baru tanpa terkecuali, dan nantinya nilai dari perkuliahan di program ini juga akan masuk dalam kartu hasil studi di semester satu.

"Baik, bagi yang lulusan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah, tolong untuk tetap di ruangan ini!" seru sang Dosen kembali setelah beberapa dari kami mengangkat tangan menjawab pertanyaan beliau di awal tadi.

"Untuk yang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Kejuruan dan yang sejenisnya, mari ikut saya, kita belajar di ruangan yang lain!" ajak Bapak Dosen Bahasa Arab ini lagi.

Aku segera bangkit, mengikuti Dosen tersebut yang telah lebih dahulu keluar dari ruangan. Tentu saja aku tidak sendiri, Ada sekitar lima belas mahasiswa yang sama sepertiku. Kami melangkah ke luar kelas, menuju kelas lainnya yang tidak terlalu jauh juga dari kelas semula.

***

"Maaf, aku tidak membawa buku untuk mencatat. Boleh aku meminta selembar kertas?"

Sebuah suara dari sisi kanan mengagetkanku yang sedang serius memperhatikan penjelasan tentang 'kata ganti' dalam Bahasa Arab.

Kutarik selembar kertas dari binder book dan menyerahkan kepada si empunya suara tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.

"Terima kasih," ucapnya pelan, yang hanya kubalas dengan anggukan.

***

"Maaf, boleh aku meminta kertas lagi? Hari ini aku juga tidak membawa buku catatan."

Suara itu lagi. Ini sudah hari kelima program matrikulasi berjalan, dan dia masih saja meminta kertas sejak hari pertama.

Bukan pelit atau tak ingin berbagi. Tetapi, ini sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa ia menghadiri kuliah namun selalu tidak membawa perlengkapan.

"Ini!" Selembar kertas kusodorkan ke hadapannya. Kali ini aku berpaling ke arahnya. Ia cengengesan, seolah tahu jika aku kesal. "Kalau ke sawah itu harus bawa cangkul," ketusku.

"Aku ke sawah hanya untuk menjaga burung Pipit agar tidak menggangu padi," ucapnya sambil terkekeh.

"Enggak lucu!" Mataku mendelik yang justru menambah suara kekehannya terlihat sangat senang.

"Siapa namamu? Sudah lima hari kamu memberikanku kertas, tetapi aku belum tahu namamu." Si Tukang minta kertas kembali bersuara.

"Penting?" Aku semakin sewot karena kuliah sedang berlangsung tetapi dia terus mengganggu mengajak bicara.

"Ya, pentinglah, supaya besok saat aku akan meminta kertas lagi aku tahu harus panggil kamu siapa."

"Alia." Aku memilih menjawab sajalah, supaya dia diam. Eh, ternyata aku salah. Dia semakin menjadi-jadi. Pertanyaannya beruntun dan panjang sampai tingkat kesalku mencapai ubun-ubun.

"Kamu bisa diam, tidak?" Volume suaraku naik setingkat ditambah dengan mata yang melotot.

"Oke-oke." Terlihat ia mengangguk sambil mengulum senyum.

"Aku Azwar."

Tak kugubris lagi si tukang minta kertas (Begitulah aku menyebutnya selama lima hari ini) yang baru saja memperkenalkan namanya.

***

“Sadaqallahul'adzim ...”

“Maha benar Allah dengan segala Firman-nya.”

Sungguh kali ini aku terpana. Dia, yang selama dua bulan ini menggangguku dengan permintaan kertas hampir setiap hari, hingga mengerjakan tugas bersama, sering ke kantin bersama ternyata memiliki suara yang sangat merdu dan juga kefasihan membaca Al-Qur’an yang menakjubkan.

Berulang kali aku berdecak kagum tak menyangka. Tidak salah, dia diminta untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an pada acara penutupan matrikulasi ini.

Saat ia turun dari panggung setelah selesai membaca Al-Qur’an, ada satu hal lagi yang baru kusadari, ternyata dia tampan juga. Kulit putihnya bersih serta hidung yang tinggi ditambah tatapan mata yang lembut.

Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang, ya? Selama dua bulan kami bersama aku ke mana saja? Aku menertawakan diri sendiri dalam hati.

***

Meski tercatat sebagai mahasiswa di jurusan yang sama tenyata saat perkuliahan semester pertama dimulai, aku dan Azwar berbeda kelas. Namun, walau tidak seruangan, ia tetap sering berkunjung ke kelasku. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari menanyakan jadwal sampai kadang hanya untuk pinjam pulpen.

"Alia, aku ingin bicara," seru Azwar mencegat jalanku saat akan keluar dari gerbang Kampus.

"Apa?" Aku menghentikan langkah, menunggunya menyusul.

"Tapi tidak di sini Alia." Suara Azwar pelan, dengan sorot mata seakan mengajakku duduk di bawah pohon akasia besar yang tumbuh di bagian belakang kelas-kelas ruang belajar yang berjejer. Di sana -di bawah pohon akasia itu- terdapat sebuah batu besar yang enak dijadikan tempat bersantai.

Aku kemudian mengikuti langkah Azwar. Penasaran dengan apa yang akan disampaikannya. Sudah enam bulan kami bersahabat, lebih tepatnya menjadi teman dekat, baru kali ini Azwar mengajak bicara berdua seserius ini. Itu artinya hal yang akan disampaikannya adalah sesuatu yang penting.

"Alia, sebelumnya aku ingin minta maaf." Kata pertama yang meluncur dari bibir Azwar setelah kami naik ke atas batu besar ini.

Aku heran, setahuku Azwar tidak melakukan kesalahan apa pun padaku. "Memangnya kamu salah apa?" tanyaku menyelidik.

"Apa pun yang akan aku sampaikan, aku harap tidak akan merubah kedekatan kita, Alia." Azwar berhenti. Aku menunggu.

"Aku suka sama kamu. Aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman. Boleh Alia?" Ada nada pengharapan dalam suaranya yang terdengar bergetar di telingaku.

Aku terhenyak untuk beberapa saat. "Ini maksudnya kamu nembak aku?" Kutatap manik matanya, mencari keseriusan, bahwa ini bukan bercanda. Akan malu nantinya jika aku menjawab serius, ternyata dia hanya bercanda untuk mengerjaiku.

Azwar mengangguk mantap. "Kamu mau ‘kan?"

Aku bingung. Harus jawab apa? pesona wajahnya memang luar biasa, tetapi aku belum punya rasa yang lebih kepadanya selain perasaan seorang teman.

Azwar laki-laki baik. Selama menjadi temannya, aku selalu melihat kelembutan dalam tutur katanya, sopan dan santun dalam sikapnya. Senang membantu dan sangat setia pada teman-temannya. Tidak ada cela dalam dirinya, tetapi tetap saja rasa tidak bisa dipaksa bukan?

Bab 3

Perlahan aku beringsut turun dari batu yang sedang kami duduki. "Tunggu Alia!" Azwar menarik tanganku yang hendak melangkah.

"Mau ke mana?" Ia bertanya setelah melepaskan tangannya dari lenganku.

"Pulang yuk!" ajakku sambil tersenyum agar ia tahu aku memang mau pulang bukan menghindarinya karena pernyataan barusan.

"Loh, yang tadi belum dijawab." Azwar masih bersikukuh menunggu jawaban. Ia tersenyum mengucapkan hal itu, tetapi pandangan matanya ke arah lain. Mungkin dia malu. Lucu jadinya.

"Azwar, ini persoalan hati. Aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang. Perlu dipikirkan matang-matang. Beri sedikit waktu, ya?!" ucapku lembut tetapi tegas agar dia mengerti urusan yang satu ini bukanlah persoalan main-main.

"Apakah waktu enam bulanan ini tidak cukup bagimu untuk mengenalku, Alia?" Dia masih menuntut jawaban saat ini juga.

"Bukan masalah enam bulan atau enam tahun atau pun enam jam Azwar. Tetapi, sekali aku menjawab 'iya' maka aku ingin bersamamu untuk enam puluh tahun kedepan atau bahkan jika mungkin untuk enam ratus tahun lamanya." Kembali kusunggingkan senyum meyakinkan Azwar agar ia tidak lagi mendesak.

***

Kami duduk berhadapan di dalam angkot yang membawa kami pulang. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami pulang bersama dengan angkutan umum. Sering malah, tetapi baru kali ini aku memperhatikan wajahnya dengan seksama.

Ia duduk tenang dengan mata melihat jalanan di luar sana. Sesekali tatapan kami beradu saat ia juga ikutan mencuri pandang ke arahku, yang kemudian secepatnya ia alihkan lagi ke luar jendela angkot. Aku yakin, Azwar tahu jika sedari tadi mataku terus menatapnya dalam diam.

Saat dia terlebih dahulu turun dari angkot untuk kemudian naik angkot lainnya dengan jalur menuju rumahnya, mataku tetap mengawasinya sampai angkot yang membawaku kembali bergerak setelah juga menurunkan beberapa penumpang lainnya.

Apakah aku harus menerima dia? batinku mulai menerawang. Secara fisik dia lumayan, bahkan mungkin bisa dikatakan di atas rata-rata jika saja penampilan cupunya itu diubah. Sikapnya pun pasti membuat banyak orang tua mendambakannya menjadi menantu. Lalu, apa lagi yang kurang?

Cinta? Ah, dia bisa hadir sendiri seiring sering bersama bukan? Hati milik kita, bukan kita yang dimiliki oleh hati, jadi kurasa hati akan mudah ditaklukkan.

Baiklah, diterima saja, suara hati mulai sepakat. Eh, jangan dulu. buat dia berjuang sedikit lagi. Ego mulai ikut-ikutan bersuara membantah hati.

***

Seminggu berlalu, hampir setiap hari Azwar mempertanyakan jawaban untuk pernyataan cintanya. Perlahan tapi pasti aku pun mulai menyukainya. Tetapi, tetap saja aku memilih mengulur waktu. Setidaknya aku ingin melihat sedikit lagi keseriusannya.

"Alia ....!" Terdengar suara teriakan dari belakang saat aku hendak menuju kantin. Hari ini jadwal kelasku di jam pertama, aku belum sempat sarapan sebelum masuk kelas pagi tadi. Sekarang perutku lapar bukan main.

Saat berpaling ke balakang mencari tahu siapa yang telah berteriak mencegat langkahku, aku melihat Azwar berlari tergopoh menuju ke arahku.

"Aku dapat beasiswa," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.

"Alhamdulillah, Selamat ya!"

Aku kembali melanjutkan langkah menuju kantin. Azwar ikut berjalan beriringan.

"Kamu tidak masuk kelas?" Setahuku ia ada jadwal kuliah di jam kedua ini.

"Enggak." Ia menggeleng.

"Dosennya berhalangan hadir," ucapnya tersenyum senang.

Memang hal yang paling membuat mahasiswa bahagia adalah dosen yang berhalangan untuk datang mengajar. Meski dari rumah buru-buru supaya tidak terlambat masuk kelas, tetapi begitu tiba di kampus mendengar dosennya tidak masuk, seharusnya kesal karena sudah capek-capek berjibaku agar cepat sampai, tetapi justru kegirangan yang terasa. Begitulah mahasiswa.

"Alia, ini!" Azwar menyodorkan amplop warna coklat panjang ke arahku.

"Apa ini?" Kuhentikan suapan makanan ke mulut, dan menatapnya sambil menautkan alis meminta penjelasan.

"Nafkah pertama untukmu," jawabnya cengengesan.

"uuhhuukk ... uuhuuk ... "

Aku tersedak. Secepat kilat aku meneguk minuman yang disodorkan Azwar, meminimalisir batuk tersedak dan sekaligus juga agar tidak menjadi tontonan banyak pasang mata di kantin ini.

"Kamu kalau makan pelan-pelan!" Azwar kembali menyerahkan tisu.

"Ini uang beasiswa yang kamu ceritakan tadi?" tanyaku setelah reda keterkejutan tersebut.

Azwar mengangguk. "Buatmu semuanya," katanya lagi kembali mendorong amplop yang masih tergeletak di atas meja lebih mendekat ke arahku.

Aku tahu, Azwar juga bukan anak orang kaya. Sama sepertiku, kami berasal dari keluarga yang sederhana saja. Tidak kekurangan, juga tidak terlalu berlebihan.

"Seharusnya uang ini untuk biaya kuliah, bukan untukku." Aku mendorong kembali amplop itu ke arahnya.

"Aku bukan istrimu, tidak ada kewajibanmu untuk menafkahiku," ucapku tegas.

"Dan, perlu kamu tahu Azwar, orang tuaku masih sanggup memberikan uang jajan dan membiayai hidupku." Kali ini suaraku terdengar sedikit ketus. Pertanda, jika aku kurang suka dengan cara dia ini.

"Alia, maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu dengan pemberian ini. Aku hanya ingin membuktikan padamu, bahwa aku serius ingin menjadikanmu calon istri," ujar Azwar pelan dan terdengar sendu seperti merasa bersalah.

"Tapi, bukan begini caranya ... "

"Harus bagaimana lagi, Alia? Sudah hampir dua minggu aku menunggu kesediaanmu." Azwar cepat memotong kalimatku yang belum selesai.

"Aku bukan perempuan matre yang bisa kamu sogok dengan uang." Meski pelan, tetapi nada suaraku terdengar geram.

"Tidak pernah sekali pun terlintas di benakku bahwa kamu perempuan matre. Justru karena itulah, aku semakin yakin memilihmu untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak." Azwar masih terus saja mendesakku agar memasukkan amplop itu ke dalam tas.

"Baiklah, aku terima kamu. Tapi, berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku apa pun yang terjadi nanti dalam hidup kita di masa depan!" ucapku dengan ketegasan yang pasti dipahami Azwar.

Seketika ia berdiri dari duduknya. Dengan senyum lebar, ia mengangguk kuat. "Aku berjanji Alia." Tegas suaranya, dengan sorot mata yang sangat meyakinkan.

"Ayo kita belanja!" Aku ikutan bangkit dan melangkah keluar kantin. Semua uang ini akan aku pergunakan untuk merubah penampilan dia yang cupu itu. Lihat saja, sebentar lagi Azwar akan kuubah menjadi lelaki paling tampan di fakultas ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED