"Bagus Lo pakai pakaian kurang bahan gitu? Mau caper sama siapa, hah?" gertak Zero menatap tajam.
"Ehm, ini Aurora yang dandanin gue," cicit Pamela menundukkan kepalanya.
"Lain kali kalau adek gue ngajarin aneh-aneh Lo harus nolak! Gue nggak suka lihat Lo jadi pusat perhatian cowok-cowok!"
"I—iya, Zero."
Zero melepaskan Hoodie warna abu-abunya, lalu melempar ke wajah Pamela.
*
*
*
"Gue udah pernah bilang, Pamela. Jangan dekat-dekat sama cowok lain!" tegas Zero.
"Dia anaknya langganan toko kue mama, gue cuma ngasih kembalian soalnya kemarin mamanya keburu-buru pergi," jawab Pamela mencoba menjelaskan.
"Nggak usah banyak alasan! Lo bisa kan tinggal transfer aja nggak usah pakai ketemuan begitu!" sergah Zero.
"Lo kenapa sih? Kita ini cuma temen, gue mau sama siapapun juga bukan urusan Lo," balas Pamela uang muka merasa jengah.
"Oh ... Sudah berani melawan rupanya," gumam Zero menyeringai, tanpa basa-basi langsung menarik tengkuk Pamela dan membungkam mulut gadis itu secara paksa.
"Hemph ..."
Semakin Pamela memberontak membuat Zero semakin brutal. Pada akhirnya Pamela hanya bisa pasrah dan menangis.
"Nggak usah cengeng, baru gue cium belum yang lebih," cibir Zero tersenyum puas.
"Lo jahat, Zero! Kita ini cuma sebatas teman tapi sikap Lo selalu seenaknya sendiri sama gue!" bentak Pamela memukul dada Zero.
"Teriak sekali lagi! Gue cium Lo sampai pingsan!"
Untuk yang kesekian kalinya, Pamela tak berani melawan dan terus mengalah sekalipun tidak bersalah.
*
*
*
"Zero, gue cinta sama Lo," ucap Pamela malu-malu.
"Gue nggak cinta sama Lo, sebaiknya Lo lupain gue!" tolak Zero dengan ekspresi datar.
Harga diri Pamela merasa terluka, padahal sebagai perempuan dia sudah merendahkan diri untuk mengakui perasaannya.
"Lalu selama ini bagi Lo gue ini apa? Sebatas teman tidak akan pernah ciuman bibir, Zero! Dan sikap Lo yang tidak dekat dengan gadis manapun kecuali gue, membuat gue salah paham," tangis Pamela tak memikirkan rasa malunya lagi.
"Anggap saja gue cowok brengsek!" jawab Zero tanpa menatap mata Pamela.
"Lo jahat, Zero. gue benci Lo!" tangis Pamela.
*
*
*
Lima tahun kemudian
Pagi ini Zero baru menginjakkan kaki di tanah air setelah lima tahun lamanya kuliah di Belanda dan masuk club' sepak bola di sana.
Menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Zero sejak kecil, dan menjadi sebuah kebanggan tersendiri akhirnya bisa dipanggil oleh pelatih untuk membela Timnas Indonesia. Yang lebih membahagiakan lagi karena dia bisa satu tim dengan teman masa kecilnya, Aldert Sander.
Sepulang dari pertemuan bersama pelatih dan seluruh tim diapun diajak oleh Sander untuk ngopi bersama.
"Enaknya kemana?" tanya Sander.
"Terserah Lo saja yang lebih paham daerah sini," jawab Zero.
"Baiklah, kalau gitu kita mampir ke cafe milik Tirta saja. Di sana tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi dessert milik calon istrinya sangat enak," saran Sander antusias.
"Tirta? Ketua OSIS di SMA kita dulu ya?"
"Iya."
"Wah, sudah mau menikah rupanya," gumam Zero.
"Tujuan akhir dari seorang lelaki setelah sukses ya menikah bukan?" canda Sander.
Zero terdiam, menikah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bukan karena dia tidak yakin bisa menafkahi istri dan anak-anak, tapi dia memiliki rasa trauma tersendiri takut jika tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik dan pada akhirnya membuat istri dan anak-anaknya menderita.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Sander belok ke sebuah cafe yang besar. Dimana cafe tersebut sangat ramai didatangi anak-anak muda.
Saat keduanya masuk, langsung mendapat sambutan dari teman mereka—Tirta.
"Hallo, Zero. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin tampan dan gagah saja?" sapa Tirta.
Zero membalas pelukan temannya sambil tersenyum simpul.
"Ayo ngobrol ke lantai dua saja, lebih enak ngobrol di rooftop!" saran Tirta.
“Oke,” jawab Zero.
"Kalian mau pesan apa? Khusus kalian gue gratisin sampai puas!" timpal Tirta.
“Kopi dan dessert seperti biasa,” jawab Sander.
“Gue samain aja,” timpal Zero.
"Oke, gue bilang ke pelayan dulu. Kalian berdua naiklah duluan!" balas Tirta.
"Sip!" balas Sander sambil mengajak Zero untuk menaiki tangga.
Malam ini terasa begitu syahdu, saat Zero berdiri di pembatas dia bisa lihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Hal yang tidak berubah dari Jakarta adalah kemacetan.
"Kok malah berdiri di sini?" tanya Sander yang ikutan berdiri di sisinya.
"Nggak papa, gue cuma ingin melihat suasana malam," jawab Zero.
"Hati aman?" canda Sander.
"Maksudnya apa?"
"Ya rindu pacar mungkin, yang di Belanda."
Zero tersenyum smirk, lalu menatap Sander.
"Gue nggak punya pacar."
"What, Serius Lo? Cowok seganteng dan sekeren Lo masa jomblo?" pekik Sander tak percaya.
"Nggak percaya ya sudah."
"Ternyata Lo masih sama seperti dulu, dingin. Makanya gak ada cewek yang berani deketin Lo," cibir Sander.
"Emangnya Lo sudah punya?" tanya Zero balik.
"Pacar sih enggak, tapi kalau tunangan ada. Percuma juga gue pacaran, toh pada akhirnya gue bakal dijodohin," jawab Sander.
"Sama perempuan Indonesia apa Belanda?" tanya Zero penasaran.
"Belanda. Aslinya gue suka perempuan Indonesia, seperti adik Lo itu," keluh Sander.
"Aurora maksudnya? Dia sudah menikah!" tegas Zero.
"Iya gue tahu, tapi dulu gue naksir sama adik Lo itu gue sungguhan Loh. Sayangnya gue harus mundur sebelum gue berjuang, karena dia sudah ditandain," balas Sander pura-pura mewek.
Zero hanya tertawa, temannya yang blasteran Indonesia-Belanda dengan rambut blonde itu memang selalu lucu.
"Kalian lagi bahas apa kok asyik sekali?" sapa Tirta yang baru datang bersama dua pelayan lain membawakan pesanan.
"Ini, membahas pacar. Masa Zero yang gantengnya nggak ngotak ini masih jomblo," jawab Sander.
Zero memutar bolanya malas, memilih untuk duduk dan menikmati kopi panasnya.
"Nggak usah khawatir tentang Zero, selain tampan dia juga anak konglomerat. Kalau hanya cuma ingin memiliki pacar mah tinggal tunjuk saja," ujar Tirta terkekeh.
"Oh iya, Lo katanya mau menikah. Apakah masih dengan Hani? Sekertaris OSIS itu?" sela Zero.
“Bukan, gue sama Hani udah lama putus ya. Gue udah pacaran satu tahun sama teman kuliah. Ini dessert dari toko kuenya," jawab Tirta.
"Dia karyawan Lo?" tanya Zero penasaran.
"Bukan, dia punya toko kue sendiri. Tapi karena enak makanya gue ambil dari sana," balas Tirta.
Sebenarnya sudah lama Zero tidak memakan dessert, setiap jenis kue membuat dia teringat akan sesuatu. Tetapi dengan menghargai temannya, Zero pun mulai menikmati hidangan di depannya.
Deg!
Seketika Zero mematung—Dejavu. Rasa dessert yang barusan membawanya dalam sebuah kenangan.
"Zero, Lo kenapa?" sela Sander yang heran melihat sikap Zero.
Zero langsung tersentak. Yah, tidak mungkin! Dimana-mana yang namanya dessert rasanya seperti itu.
"Enak nggak?" tanya Tirta.
"Enak," jawab Zero sekenanya. Setelah itu tidak mau memakannya lagi.
"Tirta, kenalin ke kita dong calon istri Lo!" pinta Sander.
"Lain kali saja, dia lagi sibuk merawat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tirta.
"Oalah, oke."
"Eh, sebentar lagi ada reunian di SMA kita loh. Kalian berdua ikut kan?" tanya Tirta.
"Nggak tahu, gue sama Zero tiga Minggu lagi harus mengikuti pelatihan yang ketat untuk pertandingan nanti," jawab Sander.
"Acara reunian seminggu lagi kok, ayolah kalian berdua ikut biar seru!" bujuk Tirta.
"Gue ngikut Sander ajalah, kalau dia datang ya gue datang," jawab Zero.
"Gue juga mikir gitu, kalau Zero datang ya gue datang. Kalau dia enggak, yang gue enggak," balas Sander.
"Njir, kalian jadi kaya pasangan hombreng yang kemana-mana harus berduaan," ejek Tirta.
Seketika mata Zero dan Sander melotot, mereka tidak terima dengan tuduhan itu.
"Gue cuma bercanda, yaelah," balas Tirta tertawa ngakak.
"Candaan Lo nggak asyik, kalau orang lain dengar dikira beneran," sinis Sander. “ kan kasihan Zero nanti jadi nggak laku, kalau gue mah udah ada tunangan,” timpalnya.
"Iya—maaf. Gitu aja ngambek ih," balas Tirta lagi.
Tiba-tiba datang dua orang perempuan, salah satunya terasa familiar bagi Zero.
"Hani, Lo Hani kan?" sapa Zero memastikan.
"Iya, eh Lo Zero kan?" balas Hani.
Zero hanya tersenyum simpul. Penampilan temannya itu berubah sebab dulu masih natural tanpa make up.
"Lo ngapain ke sini?" Tanya Tirta dengan wajah bingung.
"Ya ampun, kalau sama pelanggan yang baik dong," sindir Sander.
"Tuh Sander aja tahu, masa pemilik Cafe malah mau ngusir pelanggannya," jawab Hani langsung mengajak temannya duduk satu meja dengan mereka.
Zero dan Sander biasa saja, karena memang Hani adalah teman semasa SMA. Sedangkan Tirta yang menjadi mantan Hani malah nampak tidak nyaman.
"Oh iya kenalin, ini sepupu gue namanya Cantika," sela Hani ramah.
"Hay, gue Sander," balas Sander.
"Zero," jawab Zero datar.
"Kalian berdua masuk timnas ya? Duh hebat sekali kalian," balas Hani.
"Makanya besok pas pertandingan kalian semua nonton," jawab Sander.
"Pasti itu, iya kan Tirta?" sela Hani melirik ke Tirta.
"Hm," jawab Tirta berubah masam.
Setelah itu perbincangan didominasi oleh Sander dan Hani, sementara Zero dan yang lainnya hanya mendengarkan cerita mereka.
Pukul sepuluh malam, barulah mereka berpamitan pulang. Zero, diantarkan oleh Sander sebab dia tadi tidak membawa kendaraan sendiri karena dijemput olehnya.
“Sander …"
"Hm?"
"Lo ngerasa aneh nggak sih sama Tirta?" tanya Zero.
"Aneh kenapa?" tanya Sander fokus nyetir.
"Dia kaya nggak nyaman setelah ada Hani, dan terlihat juga kalau Hani masih ngejar dia."
"Dih, sejak kapan Lo memperhatikan orang lain?" cibir Sander.
"Lo benar, mau Tirta selingkuh dengan Hani juga bukan urusan gue," jawab
"Bagus Lo pakai pakaian kurang bahan gitu? Mau caper sama siapa, hah?" gertak Zero menatap tajam.
"Ehm, ini Aurora yang dandanin gue," cicit Pamela menundukkan kepalanya.
"Lain kali kalau adek gue ngajarin aneh-aneh Lo harus nolak! Gue nggak suka lihat Lo jadi pusat perhatian cowok-cowok!"
"I—iya, Zero."
Zero melepaskan Hoodie warna abu-abunya, lalu melempar ke wajah Pamela.
*
*
*
"Gue udah pernah bilang, Pamela. Jangan dekat-dekat sama cowok lain!" tegas Zero.
"Dia anaknya langganan toko kue mama, gue cuma ngasih kembalian soalnya kemarin mamanya keburu-buru pergi," jawab Pamela mencoba menjelaskan.
"Nggak usah banyak alasan! Lo bisa kan tinggal transfer aja nggak usah pakai ketemuan begitu!" sergah Zero.
"Lo kenapa sih? Kita ini cuma temen, gue mau sama siapapun juga bukan urusan Lo," balas Pamela uang muka merasa jengah.
"Oh ... Sudah berani melawan rupanya," gumam Zero menyeringai, tanpa basa-basi langsung menarik tengkuk Pamela dan membungkam mulut gadis itu secara paksa.
"Hemph ..."
Semakin Pamela memberontak membuat Zero semakin brutal. Pada akhirnya Pamela hanya bisa pasrah dan menangis.
"Nggak usah cengeng, baru gue cium belum yang lebih," cibir Zero tersenyum puas.
"Lo jahat, Zero! Kita ini cuma sebatas teman tapi sikap Lo selalu seenaknya sendiri sama gue!" bentak Pamela memukul dada Zero.
"Teriak sekali lagi! Gue cium Lo sampai pingsan!"
Untuk yang kesekian kalinya, Pamela tak berani melawan dan terus mengalah sekalipun tidak bersalah.
*
*
*
"Zero, gue cinta sama Lo," ucap Pamela malu-malu.
"Gue nggak cinta sama Lo, sebaiknya Lo lupain gue!" tolak Zero dengan ekspresi datar.
Harga diri Pamela merasa terluka, padahal sebagai perempuan dia sudah merendahkan diri untuk mengakui perasaannya.
"Lalu selama ini bagi Lo gue ini apa? Sebatas teman tidak akan pernah ciuman bibir, Zero! Dan sikap Lo yang tidak dekat dengan gadis manapun kecuali gue, membuat gue salah paham," tangis Pamela tak memikirkan rasa malunya lagi.
"Anggap saja gue cowok brengsek!" jawab Zero tanpa menatap mata Pamela.
"Lo jahat, Zero. gue benci Lo!" tangis Pamela.
*
*
*
Lima tahun kemudian
Pagi ini Zero baru menginjakkan kaki di tanah air setelah lima tahun lamanya kuliah di Belanda dan masuk club' sepak bola di sana.
Menjadi pemain sepak bola adalah cita-cita Zero sejak kecil, dan menjadi sebuah kebanggan tersendiri akhirnya bisa dipanggil oleh pelatih untuk membela Timnas Indonesia. Yang lebih membahagiakan lagi karena dia bisa satu tim dengan teman masa kecilnya, Aldert Sander.
Sepulang dari pertemuan bersama pelatih dan seluruh tim diapun diajak oleh Sander untuk ngopi bersama.
"Enaknya kemana?" tanya Sander.
"Terserah Lo saja yang lebih paham daerah sini," jawab Zero.
"Baiklah, kalau gitu kita mampir ke cafe milik Tirta saja. Di sana tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi dessert milik calon istrinya sangat enak," saran Sander antusias.
"Tirta? Ketua OSIS di SMA kita dulu ya?"
"Iya."
"Wah, sudah mau menikah rupanya," gumam Zero.
"Tujuan akhir dari seorang lelaki setelah sukses ya menikah bukan?" canda Sander.
Zero terdiam, menikah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bukan karena dia tidak yakin bisa menafkahi istri dan anak-anak, tapi dia memiliki rasa trauma tersendiri takut jika tidak bisa menjadi sosok ayah yang baik dan pada akhirnya membuat istri dan anak-anaknya menderita.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Sander belok ke sebuah cafe yang besar. Dimana cafe tersebut sangat ramai didatangi anak-anak muda.
Saat keduanya masuk, langsung mendapat sambutan dari teman mereka—Tirta.
"Hallo, Zero. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin tampan dan gagah saja?" sapa Tirta.
Zero membalas pelukan temannya sambil tersenyum simpul.
"Ayo ngobrol ke lantai dua saja, lebih enak ngobrol di rooftop!" saran Tirta.
“Oke,” jawab Zero.
"Kalian mau pesan apa? Khusus kalian gue gratisin sampai puas!" timpal Tirta.
“Kopi dan dessert seperti biasa,” jawab Sander.
“Gue samain aja,” timpal Zero.
"Oke, gue bilang ke pelayan dulu. Kalian berdua naiklah duluan!" balas Tirta.
"Sip!" balas Sander sambil mengajak Zero untuk menaiki tangga.
Malam ini terasa begitu syahdu, saat Zero berdiri di pembatas dia bisa lihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Hal yang tidak berubah dari Jakarta adalah kemacetan.
"Kok malah berdiri di sini?" tanya Sander yang ikutan berdiri di sisinya.
"Nggak papa, gue cuma ingin melihat suasana malam," jawab Zero.
"Hati aman?" canda Sander.
"Maksudnya apa?"
"Ya rindu pacar mungkin, yang di Belanda."
Zero tersenyum smirk, lalu menatap Sander.
"Gue nggak punya pacar."
"What, Serius Lo? Cowok seganteng dan sekeren Lo masa jomblo?" pekik Sander tak percaya.
"Nggak percaya ya sudah."
"Ternyata Lo masih sama seperti dulu, dingin. Makanya gak ada cewek yang berani deketin Lo," cibir Sander.
"Emangnya Lo sudah punya?" tanya Zero balik.
"Pacar sih enggak, tapi kalau tunangan ada. Percuma juga gue pacaran, toh pada akhirnya gue bakal dijodohin," jawab Sander.
"Sama perempuan Indonesia apa Belanda?" tanya Zero penasaran.
"Belanda. Aslinya gue suka perempuan Indonesia, seperti adik Lo itu," keluh Sander.
"Aurora maksudnya? Dia sudah menikah!" tegas Zero.
"Iya gue tahu, tapi dulu gue naksir sama adik Lo itu gue sungguhan Loh. Sayangnya gue harus mundur sebelum gue berjuang, karena dia sudah ditandain," balas Sander pura-pura mewek.
Zero hanya tertawa, temannya yang blasteran Indonesia-Belanda dengan rambut blonde itu memang selalu lucu.
"Kalian lagi bahas apa kok asyik sekali?" sapa Tirta yang baru datang bersama dua pelayan lain membawakan pesanan.
"Ini, membahas pacar. Masa Zero yang gantengnya nggak ngotak ini masih jomblo," jawab Sander.
Zero memutar bolanya malas, memilih untuk duduk dan menikmati kopi panasnya.
"Nggak usah khawatir tentang Zero, selain tampan dia juga anak konglomerat. Kalau hanya cuma ingin memiliki pacar mah tinggal tunjuk saja," ujar Tirta terkekeh.
"Oh iya, Lo katanya mau menikah. Apakah masih dengan Hani? Sekertaris OSIS itu?" sela Zero.
“Bukan, gue sama Hani udah lama putus ya. Gue udah pacaran satu tahun sama teman kuliah. Ini dessert dari toko kuenya," jawab Tirta.
"Dia karyawan Lo?" tanya Zero penasaran.
"Bukan, dia punya toko kue sendiri. Tapi karena enak makanya gue ambil dari sana," balas Tirta.
Sebenarnya sudah lama Zero tidak memakan dessert, setiap jenis kue membuat dia teringat akan sesuatu. Tetapi dengan menghargai temannya, Zero pun mulai menikmati hidangan di depannya.
Deg!
Seketika Zero mematung—Dejavu. Rasa dessert yang barusan membawanya dalam sebuah kenangan.
"Zero, Lo kenapa?" sela Sander yang heran melihat sikap Zero.
Zero langsung tersentak. Yah, tidak mungkin! Dimana-mana yang namanya dessert rasanya seperti itu.
"Enak nggak?" tanya Tirta.
"Enak," jawab Zero sekenanya. Setelah itu tidak mau memakannya lagi.
"Tirta, kenalin ke kita dong calon istri Lo!" pinta Sander.
"Lain kali saja, dia lagi sibuk merawat mamanya yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tirta.
"Oalah, oke."
"Eh, sebentar lagi ada reunian di SMA kita loh. Kalian berdua ikut kan?" tanya Tirta.
"Nggak tahu, gue sama Zero tiga Minggu lagi harus mengikuti pelatihan yang ketat untuk pertandingan nanti," jawab Sander.
"Acara reunian seminggu lagi kok, ayolah kalian berdua ikut biar seru!" bujuk Tirta.
"Gue ngikut Sander ajalah, kalau dia datang ya gue datang," jawab Zero.
"Gue juga mikir gitu, kalau Zero datang ya gue datang. Kalau dia enggak, yang gue enggak," balas Sander.
"Njir, kalian jadi kaya pasangan hombreng yang kemana-mana harus berduaan," ejek Tirta.
Seketika mata Zero dan Sander melotot, mereka tidak terima dengan tuduhan itu.
"Gue cuma bercanda, yaelah," balas Tirta tertawa ngakak.
"Candaan Lo nggak asyik, kalau orang lain dengar dikira beneran," sinis Sander. “ kan kasihan Zero nanti jadi nggak laku, kalau gue mah udah ada tunangan,” timpalnya.
"Iya—maaf. Gitu aja ngambek ih," balas Tirta lagi.
Tiba-tiba datang dua orang perempuan, salah satunya terasa familiar bagi Zero.
"Hani, Lo Hani kan?" sapa Zero memastikan.
"Iya, eh Lo Zero kan?" balas Hani.
Zero hanya tersenyum simpul. Penampilan temannya itu berubah sebab dulu masih natural tanpa make up.
"Lo ngapain ke sini?" Tanya Tirta dengan wajah bingung.
"Ya ampun, kalau sama pelanggan yang baik dong," sindir Sander.
"Tuh Sander aja tahu, masa pemilik Cafe malah mau ngusir pelanggannya," jawab Hani langsung mengajak temannya duduk satu meja dengan mereka.
Zero dan Sander biasa saja, karena memang Hani adalah teman semasa SMA. Sedangkan Tirta yang menjadi mantan Hani malah nampak tidak nyaman.
"Oh iya kenalin, ini sepupu gue namanya Cantika," sela Hani ramah.
"Hay, gue Sander," balas Sander.
"Zero," jawab Zero datar.
"Kalian berdua masuk timnas ya? Duh hebat sekali kalian," balas Hani.
"Makanya besok pas pertandingan kalian semua nonton," jawab Sander.
"Pasti itu, iya kan Tirta?" sela Hani melirik ke Tirta.
"Hm," jawab Tirta berubah masam.
Setelah itu perbincangan didominasi oleh Sander dan Hani, sementara Zero dan yang lainnya hanya mendengarkan cerita mereka.
Pukul sepuluh malam, barulah mereka berpamitan pulang. Zero, diantarkan oleh Sander sebab dia tadi tidak membawa kendaraan sendiri karena dijemput olehnya.
“Sander …"
"Hm?"
"Lo ngerasa aneh nggak sih sama Tirta?" tanya Zero.
"Aneh kenapa?" tanya Sander fokus nyetir.
"Dia kaya nggak nyaman setelah ada Hani, dan terlihat juga kalau Hani masih ngejar dia."
"Dih, sejak kapan Lo memperhatikan orang lain?" cibir Sander.
"Lo benar, mau Tirta selingkuh dengan Hani juga bukan urusan gue," jawab
Di sebuah kamar rawat inap rumah sakit, ada seorang gadis yang tengah menjaga mamanya. Dia tidak bisa tidur, takut jika sewaktu-waktu mamanya bangun dan kehausan.
Sambil bermain ponsel, sesekali bibirnya tersenyum kala membalas pesan dari kekasihnya—Tirta.
Gadis itu adalah Pamela, sejak kecil terbiasa kerja keras membantu mamanya yang memiliki usaha toko kue kecil. Dan sekarang dia sudah memiliki banyak toko cabang. Kue miliknya sangat terkenal, semua berkat temannya semasa SMA yang menjadi selebgram dan gencar mempromosikan tokonya.
Pamela tidak pernah melupakan sahabat baiknya yang sangat cantik itu, hingga kini mereka berdua masih berteman sekalipun temannya telah menikah.
Sampai tiba-tiba senyum di bibirnya memudar kala Tirta mengirimkan sebuah foto yang sedang bertemu dengan teman-temannya. Bahkan tangannya gemetar hingga ponselnya terjatuh, untung saja tidak rusak.
Dia … Telah kembali. Ternyata Kak Zero adalah teman SMA Tirta?
Tanpa terasa, tiba-tiba air matanya tumpah. Dadanya sesak dan hatinya berdenyut nyeri. Lima tahun, waktu yang cukup lama tapi nyatanya tidak bisa membuat Pamela bisa melupakan semuanya. Benci … Marah … Tapi, juga terselip rindu.
Jangan bodoh, Pamela. Dia tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mengukir luka untukmu. Kamu, tidak ada arti apa-apa baginya. Kenapa kamu masih saja menangisinya? Kamu sudah memiliki Tirta yang mencintaimu dengan tulus. Zero—hanya masa lalu. Kenangan yang tidak perlu diingat lagi.
Pamela merutuki dirinya sendiri dan segera menghapus foto itu, dia sangat membenci mata elang Zero yang tidak pernah berubah, selalu tajam seakan-akan menelanjanginya kala menatapnya.
“Nak, kamu belum tidur? Kenapa menangis?” tanya Hasna yang terbangun dari tidurnya.
“Mama, aku tidak apa-apa. Cuma sedih saja kalau Mama tidak segera sembuh. Aku cuma punya Mama saja di dunia ini,” jawab Pamela lembut.
“Sini sayang, ayo tidur sama Mama. Ranjangnya muat untuk kita berdua. Sejak kamu remaja sudah tidak mau lagi mama kelonin,” bujuk Hasna.
“Iya, Ma,” jawab Pamela patuh.
Dalam pelukan mamanya, tangis Pamela malah semakin tumpah.
“Nak, Mama tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Ayo cerita sama Mama, beritahu Mama semua yang sedang kamu rasakan?” pinta Hasna penuh kasih.
“Tidak apa-apa kok, Ma,” jawab Pamela mencoba untuk tersenyum.
“Mama ini adalah orang yang melahirkan dan membesarkanmu, apa yang kamu rasakan mama juga bisa merasakannya. Ayo, ceritakan sama mama siapa tahu mama bisa memberi saran agar hatimu bisa menjadi lebih tenang,” bujuk Hasna lagi.
Pamela memang bukan tipe gadis yang mudah curhat tentang masalah pribadinya, termasuk dengan sahabat sendiri. Makanya Aurora sebagai adiknya Zero tidak tahu apa-apa.
“Ma … Dia pulang, entah kenapa aku takut, sedih, dan sakit,” cicit Pamela rasanya cukup lega mengatakan semua itu.
“Zero ya? Apa kamu masih mencintainya?”
“Aku tidak mau mencintainya, Ma. Dia jahat,” tangis Pamela lagi.
“Apa dia pernah melakukan sesuatu padamu sampai membuat kamu seperti ini, Nak?” tanya Hasna khawatir.
“Aku menganggap dia sebagai teman masa kecil, dan aku menghormatinya sebagai kakak dari sahabat aku. Tapi dia … selalu semena-mena padaku, Ma. Kadang perhatian, kadang cuek, kadang posesif melarang ini dan itu. Kadang juga marah-marah saat aku dekat dengan lelaki lain. Dia juga pernah—menciumku,” jawab Pamela malu sekaligus kesal.
“Apa dia juga begitu pada gadis lain?” tanya Hasna syok karena baru tahu masalah itu.
“Tidak, Ma. Dia lelaki dingin yang tidak bisa tersentuh oleh siapapun. Dia tidak memiliki teman dekat perempuan. Bahkan dengan teman lelaki juga pilih-pilih dan hanya punya satu dua saja. Dia introvert yang tidak mau membuka mulut kalau tidak disapa duluan,” jawab Pamela apa adanya.
“Berarti, dia mencintaimu,” balas Hasna merasa lega.
“Awalnya aku mengira begitu, Ma. Tapi— ia tidak pernah mencintaiku. Dia lelaki yang tidak memiliki perasaan. Mama ingat saat kenaikan kelas 3 SMA? Saat liburan aku menginap di rumah Kak Zero. Dia—kembali menciumku secara paksa, Ma. Saat itu aku meminta penjelasan, kenapa dia melakukan itu? Karena seseorang tidak akan memperlakukan hal itu pada seorang teman. Tapi—”
“Tapi apa?” tanya Hasna ikut tegang.
“Dia tidak menjawab apapun, Ma. Dia hanya diam. Padahal aku sudah merendahkan diriku sendiri sebagai perempuan menyatakan cinta duluan. Setelah itu dia pergi ke Belanda tanpa sepatah kata. Selama lima tahun ini dia juga tidak mengabariku sama sekali. Dia lelaki brengsek, sudah mencuri ciuman pertamaku!" tangis Pamela sampai sesenggukan.
“Iya, Nak. Anggap saja dia lelaki brengsek dan jangan ingat-ingat Zero lagi jika hanya membuat kamu sedih. Apalagi sekarang kamu sudah punya Tirta. Dia lelaki baik,” bujuk Hasna mengelus kepala putrinya.
“Iya, Ma. Tirta sangat baik. Makanya aku dulu menerimanya. Tapi barusan Tirta mengirimkan foto yang sedang ngobrol dengan kedua temannya. Ternyata salah satu temannya itu ada Kak Zero, Ma. Aku takut, aku tidak mau bertemu dengan dia lagi, Ma,” rengek Pamela.
“Dunia ini sempit, Nak. Apalagi Zero kakaknya Aurora. Dan Zero juga teman dari kekasihmu. Pasti ada kemungkinan kalian akan bertemu lagi. Mama sarankan, tunjukkan padanya kalau kamu bukan Pamela yang dulu. Kamu sudah tidak lemah dan cengeng seperti dulu. Kamu sudah bisa move on dan hidup bahagia dengan Tirta. Apalagi lima tahun telah berlalu, pastinya dia juga sudah punya gadis lain,” bujuk Hasna menyemangati putrinya.
“Mama benar, apalagi Kak Zero sangat tampan dan dia anak konglomerat. Rasanya mustahil kalau dia tidak punya kekasih, yang mengajar-ngejar dia pasti banyak,” gumam Pamela.
Hasna tersenyum sambil mengelus kepala Pamela, memberikan kekuatan kasih sayang seorang ibu.
“Sudah merasa baikan bukan? Tidak sedih lagi?” tanya Hasna.
“Iya, Ma. Terima kasih,” jawab Pamela.
“Sama-sama, Sayang. Lain kali kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Cerita sama Mama okey? Ayo sekarang kita tidur,” bujuk Hasna.
“Iya, Ma.”
Pamela segera memeluk mamanya, seperti saat dirinya masih kecil yang selalu tidur seperti itu. Secara perlahan, Pamela mulai terpejam.
"Pamela, gue sudah pernah bilang kalau Lo jangan dekat dengan lelaki lain! Tapi Lo malah bersama teman gue sendiri?” tegas Zero dengan tatapan tajam.
“Ke-kenapa gue tidak boleh? Kita berdua tidak ada hubungan apa-apa!” jawab Pamela mencoba untuk memberanikan diri.
“Siapa bilang? Lo—milik gue!”
“Tidak, gue milik gue sendiri! Apalagi dulu Lo yang ninggalin gue tanpa sepatah kata! Dan Lima tahun, Lo nggak ngabarin gue sama sekali. Jadi hak gue mau mencintai siapapun,” sergah Pamela.
“Mencintai siapapun? Woah, ternyata Pamela kecil gue udah punya nyali ya sekarang?” cibir Zero dengan tatapan mengejek.
“Pergi, gue benci sama Lo!” teriak Pamela.
“Oh iya? Kira-kira kalau gue hamilin Lo, Tirta masih mau sama Lo nggak ya?” ancam Zero dengan senyuman smirk.
“Tidak! Gue tidak sudi Lo sentuh!” bentak Pamela.
“Tapi gue mau, gimana dong?” balas Zero menaikkan sebelah alisnya.
“Pergi … Pergi!”
Tiba-tiba Pamela terbangun dari tidurnya, keningnya berkeringat dingin dan jantungnya berdetak kencang. Ternyata semua itu adalah—Mimpi.
“Ya ampun, kenapa bisa mimpi seperti ini? Bahkan dalam mimpi saja Kak Zero masih saja menakutkan.”
Pamela mencoba mengecek ponsel, sudah pukul dua dini hari. Dia yang ingin tidur tidak bisa pun mencoba mengirim pesan. Untungnya Tirta belum tidur, lelaki itu langsung menelponnya. Begitulah Tirta, lelaki yang selalu menjaga perasannya berbanding terbalik dari Zero.
Di sebuah kamar rawat inap rumah sakit, ada seorang gadis yang tengah menjaga mamanya. Dia tidak bisa tidur, takut jika sewaktu-waktu mamanya bangun dan kehausan.
Sambil bermain ponsel, sesekali bibirnya tersenyum kala membalas pesan dari kekasihnya—Tirta.
Gadis itu adalah Pamela, sejak kecil terbiasa kerja keras membantu mamanya yang memiliki usaha toko kue kecil. Dan sekarang dia sudah memiliki banyak toko cabang. Kue miliknya sangat terkenal, semua berkat temannya semasa SMA yang menjadi selebgram dan gencar mempromosikan tokonya.
Pamela tidak pernah melupakan sahabat baiknya yang sangat cantik itu, hingga kini mereka berdua masih berteman sekalipun temannya telah menikah.
Sampai tiba-tiba senyum di bibirnya memudar kala Tirta mengirimkan sebuah foto yang sedang bertemu dengan teman-temannya. Bahkan tangannya gemetar hingga ponselnya terjatuh, untung saja tidak rusak.
Dia … Telah kembali. Ternyata Kak Zero adalah teman SMA Tirta?
Tanpa terasa, tiba-tiba air matanya tumpah. Dadanya sesak dan hatinya berdenyut nyeri. Lima tahun, waktu yang cukup lama tapi nyatanya tidak bisa membuat Pamela bisa melupakan semuanya. Benci … Marah … Tapi, juga terselip rindu.
Jangan bodoh, Pamela. Dia tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mengukir luka untukmu. Kamu, tidak ada arti apa-apa baginya. Kenapa kamu masih saja menangisinya? Kamu sudah memiliki Tirta yang mencintaimu dengan tulus. Zero—hanya masa lalu. Kenangan yang tidak perlu diingat lagi.
Pamela merutuki dirinya sendiri dan segera menghapus foto itu, dia sangat membenci mata elang Zero yang tidak pernah berubah, selalu tajam seakan-akan menelanjanginya kala menatapnya.
“Nak, kamu belum tidur? Kenapa menangis?” tanya Hasna yang terbangun dari tidurnya.
“Mama, aku tidak apa-apa. Cuma sedih saja kalau Mama tidak segera sembuh. Aku cuma punya Mama saja di dunia ini,” jawab Pamela lembut.
“Sini sayang, ayo tidur sama Mama. Ranjangnya muat untuk kita berdua. Sejak kamu remaja sudah tidak mau lagi mama kelonin,” bujuk Hasna.
“Iya, Ma,” jawab Pamela patuh.
Dalam pelukan mamanya, tangis Pamela malah semakin tumpah.
“Nak, Mama tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Ayo cerita sama Mama, beritahu Mama semua yang sedang kamu rasakan?” pinta Hasna penuh kasih.
“Tidak apa-apa kok, Ma,” jawab Pamela mencoba untuk tersenyum.
“Mama ini adalah orang yang melahirkan dan membesarkanmu, apa yang kamu rasakan mama juga bisa merasakannya. Ayo, ceritakan sama mama siapa tahu mama bisa memberi saran agar hatimu bisa menjadi lebih tenang,” bujuk Hasna lagi.
Pamela memang bukan tipe gadis yang mudah curhat tentang masalah pribadinya, termasuk dengan sahabat sendiri. Makanya Aurora sebagai adiknya Zero tidak tahu apa-apa.
“Ma … Dia pulang, entah kenapa aku takut, sedih, dan sakit,” cicit Pamela rasanya cukup lega mengatakan semua itu.
“Zero ya? Apa kamu masih mencintainya?”
“Aku tidak mau mencintainya, Ma. Dia jahat,” tangis Pamela lagi.
“Apa dia pernah melakukan sesuatu padamu sampai membuat kamu seperti ini, Nak?” tanya Hasna khawatir.
“Aku menganggap dia sebagai teman masa kecil, dan aku menghormatinya sebagai kakak dari sahabat aku. Tapi dia … selalu semena-mena padaku, Ma. Kadang perhatian, kadang cuek, kadang posesif melarang ini dan itu. Kadang juga marah-marah saat aku dekat dengan lelaki lain. Dia juga pernah—menciumku,” jawab Pamela malu sekaligus kesal.
“Apa dia juga begitu pada gadis lain?” tanya Hasna syok karena baru tahu masalah itu.
“Tidak, Ma. Dia lelaki dingin yang tidak bisa tersentuh oleh siapapun. Dia tidak memiliki teman dekat perempuan. Bahkan dengan teman lelaki juga pilih-pilih dan hanya punya satu dua saja. Dia introvert yang tidak mau membuka mulut kalau tidak disapa duluan,” jawab Pamela apa adanya.
“Berarti, dia mencintaimu,” balas Hasna merasa lega.
“Awalnya aku mengira begitu, Ma. Tapi— ia tidak pernah mencintaiku. Dia lelaki yang tidak memiliki perasaan. Mama ingat saat kenaikan kelas 3 SMA? Saat liburan aku menginap di rumah Kak Zero. Dia—kembali menciumku secara paksa, Ma. Saat itu aku meminta penjelasan, kenapa dia melakukan itu? Karena seseorang tidak akan memperlakukan hal itu pada seorang teman. Tapi—”
“Tapi apa?” tanya Hasna ikut tegang.
“Dia tidak menjawab apapun, Ma. Dia hanya diam. Padahal aku sudah merendahkan diriku sendiri sebagai perempuan menyatakan cinta duluan. Setelah itu dia pergi ke Belanda tanpa sepatah kata. Selama lima tahun ini dia juga tidak mengabariku sama sekali. Dia lelaki brengsek, sudah mencuri ciuman pertamaku!" tangis Pamela sampai sesenggukan.
“Iya, Nak. Anggap saja dia lelaki brengsek dan jangan ingat-ingat Zero lagi jika hanya membuat kamu sedih. Apalagi sekarang kamu sudah punya Tirta. Dia lelaki baik,” bujuk Hasna mengelus kepala putrinya.
“Iya, Ma. Tirta sangat baik. Makanya aku dulu menerimanya. Tapi barusan Tirta mengirimkan foto yang sedang ngobrol dengan kedua temannya. Ternyata salah satu temannya itu ada Kak Zero, Ma. Aku takut, aku tidak mau bertemu dengan dia lagi, Ma,” rengek Pamela.
“Dunia ini sempit, Nak. Apalagi Zero kakaknya Aurora. Dan Zero juga teman dari kekasihmu. Pasti ada kemungkinan kalian akan bertemu lagi. Mama sarankan, tunjukkan padanya kalau kamu bukan Pamela yang dulu. Kamu sudah tidak lemah dan cengeng seperti dulu. Kamu sudah bisa move on dan hidup bahagia dengan Tirta. Apalagi lima tahun telah berlalu, pastinya dia juga sudah punya gadis lain,” bujuk Hasna menyemangati putrinya.
“Mama benar, apalagi Kak Zero sangat tampan dan dia anak konglomerat. Rasanya mustahil kalau dia tidak punya kekasih, yang mengajar-ngejar dia pasti banyak,” gumam Pamela.
Hasna tersenyum sambil mengelus kepala Pamela, memberikan kekuatan kasih sayang seorang ibu.
“Sudah merasa baikan bukan? Tidak sedih lagi?” tanya Hasna.
“Iya, Ma. Terima kasih,” jawab Pamela.
“Sama-sama, Sayang. Lain kali kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Cerita sama Mama okey? Ayo sekarang kita tidur,” bujuk Hasna.
“Iya, Ma.”
Pamela segera memeluk mamanya, seperti saat dirinya masih kecil yang selalu tidur seperti itu. Secara perlahan, Pamela mulai terpejam.
"Pamela, gue sudah pernah bilang kalau Lo jangan dekat dengan lelaki lain! Tapi Lo malah bersama teman gue sendiri?” tegas Zero dengan tatapan tajam.
“Ke-kenapa gue tidak boleh? Kita berdua tidak ada hubungan apa-apa!” jawab Pamela mencoba untuk memberanikan diri.
“Siapa bilang? Lo—milik gue!”
“Tidak, gue milik gue sendiri! Apalagi dulu Lo yang ninggalin gue tanpa sepatah kata! Dan Lima tahun, Lo nggak ngabarin gue sama sekali. Jadi hak gue mau mencintai siapapun,” sergah Pamela.
“Mencintai siapapun? Woah, ternyata Pamela kecil gue udah punya nyali ya sekarang?” cibir Zero dengan tatapan mengejek.
“Pergi, gue benci sama Lo!” teriak Pamela.
“Oh iya? Kira-kira kalau gue hamilin Lo, Tirta masih mau sama Lo nggak ya?” ancam Zero dengan senyuman smirk.
“Tidak! Gue tidak sudi Lo sentuh!” bentak Pamela.
“Tapi gue mau, gimana dong?” balas Zero menaikkan sebelah alisnya.
“Pergi … Pergi!”
Tiba-tiba Pamela terbangun dari tidurnya, keningnya berkeringat dingin dan jantungnya berdetak kencang. Ternyata semua itu adalah—Mimpi.
“Ya ampun, kenapa bisa mimpi seperti ini? Bahkan dalam mimpi saja Kak Zero masih saja menakutkan.”
Pamela mencoba mengecek ponsel, sudah pukul dua dini hari. Dia yang ingin tidur tidak bisa pun mencoba mengirim pesan. Untungnya Tirta belum tidur, lelaki itu langsung menelponnya. Begitulah Tirta, lelaki yang selalu menjaga perasannya berbanding terbalik dari Zero.
Pagi ini Zero berniat untuk memuaskan diri tidur sebelum latihan sepak bolanya dimulai. Dia ingin menghemat tenaganya sebab dia tahu pelatih timnas memiliki metode pelatihan yang keras.
Sampai tiba-tiba dari luar kamar dia mendengar tangisan anak kecil sembari pintunya digedor-gedor.
“Kak Zero! Buka pintunya!”
Mau tak mau Zero memaksakan diri membuka matanya, dia berjalan malas-malasan dan membukakan pintu lalu menundukkan kepalanya untuk menatap siapa yang sudah mengusiknya pagi-pagi ini.
“Evelyn Emma … ada apa?” tanya Zero pada gadis cilik berusia 4,5 tahun itu.
“Kak Vicenzo menghabiskan donat aku yang rasa strawberry!” adu Evelyn sambil nangis.
“Jangan nangis, tinggal suruh Kak Vicenzo membelikan yang baru,” bujuk Zero.
“Nggak mau, pengennya sama Kak Zero saja,” rengek Evelyn.
Dulu ada Aurora—adik pertamanya yang begitu manja dan suka merecokinya. Setelah Aurora menikah dan ikut suaminya muncul satu lagi versi kemasan sachet yang tak kalah manjanya.
Tak lama kemudian Vicenzo muncul, tertawa lirih seolah tidak berdosa.
“Lo yang bikin ulah, kenapa jadinya gue yang harus tanggung jawab?” sengit Zero menatap tajam pada adik lelakinya.
“Gue udah nawarin, tapi dianya nggak mau. Pengennya sama Kak Zero katanya,” jawab Vicenzo dengan santainya.
“Yasudah, Kak Zero mandi dan siap-siap dulu. Evelyn tunggu di luar ya?” bujuk Zero mengalah.
“Hore!” teriak gadis cilik itu sangat bahagia. Lalu saat bertatapan dengan Vicenzo langsung menjulurkan lidahnya. “Kak Vicenzo jelek!”
“Nyenyenyenyenye,” balas Vicenzo tak mau kalah.
Zero hanya menarik napas melihat tingkah kedua adiknya. Apalagi Vicenzo yang saat ini sudah kelas 3 SMA tapi setiap dekat dengan Evelyn tidak ada sikap dewasa sama sekali.
Zero pun bergegas untuk mandi, setelah siap diapun segera keluar dari kamar dan menemui keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan.
“Pagi semua,” sapa Zero.
“Pagi."
“Kok sudah rapi, mau kemana?” sela Syadeva.
“Nganterin Evelyn beli donat, Dad,” jawab Zero datar.
Sontak Syadeva langsung melirik ke putra ketiganya, memberikan lirikan yang tajam.” Kamu pasti isengin adik kamu lagi ya? Udah besar beli sendiri kalau pengen, kaya nggak punya duit aja!” tegur Syadeva, pasalnya hal seperti ini terjadi hampir tiap hari.
“Hehe … maaf,” cicit Vicenzo terkekeh gemas menatap adik perempuannya.
“Nggak mau maafin, Kak Vicenzo jahat!” sergah Evelyn memalingkan wajahnya.
“Cih, yakin ngatain Kak Vicenzo jahat? Padahal siang ini rencananya mau ngajakin ke Timezone. Tapi kayaknya nggak jadi deh,” goda Vicenzo.
“Ah mau—sama Kak Aurora juga kan?” pekik Evelyn langsung berubah drastis sikapnya.
“Hm.”
“Kok Hem? Iya tidak?”sela Evelyn manja.
“Iya, Cantik,” balas Vicenzo gemas sekali.
“Kak Zero ikut, ya?” bujuk Evelyn pada Zero.
“Tidak, Kak Zero nggak suka ke tempat begituan. Nanti beli donatnya sekalian sama Kak Aurora dan Kak Vicenzo saja ya?” sela Zero.
Evelyn nampak berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Dan Zero tersenyum lega, saat ini lelaki itu memang tengah malas untuk kemana-mana dan lebih ingin memilih istirahat total.
“Zero, bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?” sapa Zeta.
“Lumayan, Mom,” jawab Zero.
“Oh iya, kamu ingat dengan teman masa kecil kamu? Pamela—katanya mamanya sakit. Mama belum jenguk dia, apa kamu mau ikut?” tanya Zeta.
Deg!
Pamela …
Setelah 5 tahun berlalu, akhirnya dia mendengar satu nama keramat itu disebut. Yang mendengar adalah telinga, tapi yang bereaksi adalah dadanya—bergemuruh hebat.
“Zero, ditanya kok malah bengong?” sela Zeta.
“Iya, Mom. Emh, tapi kenapa tidak berangkat bareng Aurora saja?” tanya Zero balik.
“Kemarin dia sudah bersama suaminya.”
“Oh oke”
Bagaimanapun juga dia memiliki hutang budi pada Hasna. Tetangga baik yang pernah memberinya makan kala kelaparan. Jika mengingat semua itu, ada perasaan sesal juga, akan kesalahannya di masa lalu.
Usai sarapan pagi, nampak Evelyn Emma yang sudah menarik-narik Vicenzo untuk segera berangkat ke Timezone. Sementara Syadeva yang terburu-buru mau ada rapat pagi. Sekalipun Zero selama ini kuliah di Belanda, tapi setiap hari orang rumah selalu video call dan enam bulan sekali liburan ke sana. Itulah kenapa, Zero tidak merasa asing dan tetap dekat dengan adik-adiknya.
***
Zero merasa sedikit enggan untuk bertemu dengan Pamela, tapi dia juga merasa rindu dan penasaran kira-kira bagaimana kabar sahabat kecilnya itu.
Tetapi sesampainya di sana, Zero malah syok dengan adanya Tirta yang nampak begitu dekat Hasna.
“Selamat pagi, bagaimana kabarnya, apakah sudah baikan?” sapa Zeta ramah sambil meletakkan bingkisan oleh-oleh ke meja.
“Selamat pagi, wah mommy nya Aurora ya? Sudah mulai baikan, sore ini sudah diizinkan untuk pulang,” balas Hasna, tapi beberapa saat kemudian mata Hasna melirik ke arah Zero.
“Pagi, Tante. Semoga lekas sembuh,” timpal Zero canggung.
“Iya, terima kasih. Kamu—Nak Zero?”
“Iya, Tante,” jawab Zero yang masih ngelag, apalagi dengan adanya Tirta di sini. Karena setahu dia Pamela tidak punya saudara lain.
“Zero, gue nggak nyangka Lo bisa kenal dengan Tante Hasna,” sapa Tirta ramah.
“I—iya, gue dulu saat kecil tetangga sebelah rumah dengan Tante Hasna,” jawab Zero.
“Wah, jadi Lo kenal dengan calon istri gue dong? Dunia ini sempit sekali!” pekik Tirta yang seperti petir yang menyambar ke telinga Zero.
Tiba-tiba Pamela yang baru membelikan makanan sangat syok dengan kehadiran Zero, saking kagetnya sampai bungkusan yang dipegangnya jatuh.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” ucap Tirta langsung melesat menunduk, mengecek kaki Pamela lalu mengambil bungkusan makanan tersebut.
“Ti—tidak apa-apa,” jawab Pamela gemetar ketakutan.
Zero hanya menatap pemandangan itu, gadis mungil yang dulu lugu dan polos kini nampak semakin dewasa dan tambah cantik.
“Pamela, mari sini sapa Mommy nya Aurora dan Zero—teman kecil kamu,” timpal Hasna.
“Hallo, Tante Zeta. Terima kasih sudah repot-repot kemari menjenguk Mama,” sapa Pamela.
“Tidak repot, sebenarnya kemarin mau ke sini bareng Aurora tapi ada urusan mendadak jadi tertunda,” jawab Zeta yang memang sudah mengenal baik Pamela.
“Kak Zero—apa kabar?” sapa Pamela tak berani menatap mata elang lelaki itu.
“Baik,” jawab Zero yang jauh lebih bisa mengontrol ekspresinya, bersikap tenang.
Pamela … rupanya calon istri Tirta ya.
Seharusnya Zero bahagia dengan kabar ini, bukankah itu yang dulu dia inginkan? Melihat Pamela bahagia dengan lelaki lain? Tetapi—melihat fakta itu justru membuat perasannya memburuk.
Zero mengira dirinya sudah sembuh dari penyakit mentalnya, karena selama di Belanda dia sudah tidak bersikap impulsif. Tapi saat ini, begitu melihat tangan Tirta yang merangkul pinggang Pamela pikiran untuk mengukung dan membuat Pamela menangis di bawah kendalinya muncul kembali.
“Sayang, kamu kok nggak pernah bilang kalau kenal dengan Zero? Dia ini teman aku saat SMA loh,” sela Tirta memecah keheningan.
“Aku tidak tahu kalau kalian berteman, apalagi Kak Zero lulus SMA langsung ke Belanda dan kami tidak pernah berkomunikasi lagi,” jawab Pamela memaksakan diri untuk tersenyum.
“Oalah, tadinya niat aku mau ngenalin kamu ke teman aku saat acara reunian di SMA aku. Eh, ternyata kamu sudah kenal duluan malahan,” balas Tirta terkekeh.
Pamela menundukkan kepalanya, sementara Zero memasang wajah datarnya.
Situasi macam apa ini?
Pagi ini Zero berniat untuk memuaskan diri tidur sebelum latihan sepak bolanya dimulai. Dia ingin menghemat tenaganya sebab dia tahu pelatih timnas memiliki metode pelatihan yang keras.
Sampai tiba-tiba dari luar kamar dia mendengar tangisan anak kecil sembari pintunya digedor-gedor.
“Kak Zero! Buka pintunya!”
Mau tak mau Zero memaksakan diri membuka matanya, dia berjalan malas-malasan dan membukakan pintu lalu menundukkan kepalanya untuk menatap siapa yang sudah mengusiknya pagi-pagi ini.
“Evelyn Emma … ada apa?” tanya Zero pada gadis cilik berusia 4,5 tahun itu.
“Kak Vicenzo menghabiskan donat aku yang rasa strawberry!” adu Evelyn sambil nangis.
“Jangan nangis, tinggal suruh Kak Vicenzo membelikan yang baru,” bujuk Zero.
“Nggak mau, pengennya sama Kak Zero saja,” rengek Evelyn.
Dulu ada Aurora—adik pertamanya yang begitu manja dan suka merecokinya. Setelah Aurora menikah dan ikut suaminya muncul satu lagi versi kemasan sachet yang tak kalah manjanya.
Tak lama kemudian Vicenzo muncul, tertawa lirih seolah tidak berdosa.
“Lo yang bikin ulah, kenapa jadinya gue yang harus tanggung jawab?” sengit Zero menatap tajam pada adik lelakinya.
“Gue udah nawarin, tapi dianya nggak mau. Pengennya sama Kak Zero katanya,” jawab Vicenzo dengan santainya.
“Yasudah, Kak Zero mandi dan siap-siap dulu. Evelyn tunggu di luar ya?” bujuk Zero mengalah.
“Hore!” teriak gadis cilik itu sangat bahagia. Lalu saat bertatapan dengan Vicenzo langsung menjulurkan lidahnya. “Kak Vicenzo jelek!”
“Nyenyenyenyenye,” balas Vicenzo tak mau kalah.
Zero hanya menarik napas melihat tingkah kedua adiknya. Apalagi Vicenzo yang saat ini sudah kelas 3 SMA tapi setiap dekat dengan Evelyn tidak ada sikap dewasa sama sekali.
Zero pun bergegas untuk mandi, setelah siap diapun segera keluar dari kamar dan menemui keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan.
“Pagi semua,” sapa Zero.
“Pagi."
“Kok sudah rapi, mau kemana?” sela Syadeva.
“Nganterin Evelyn beli donat, Dad,” jawab Zero datar.
Sontak Syadeva langsung melirik ke putra ketiganya, memberikan lirikan yang tajam.” Kamu pasti isengin adik kamu lagi ya? Udah besar beli sendiri kalau pengen, kaya nggak punya duit aja!” tegur Syadeva, pasalnya hal seperti ini terjadi hampir tiap hari.
“Hehe … maaf,” cicit Vicenzo terkekeh gemas menatap adik perempuannya.
“Nggak mau maafin, Kak Vicenzo jahat!” sergah Evelyn memalingkan wajahnya.
“Cih, yakin ngatain Kak Vicenzo jahat? Padahal siang ini rencananya mau ngajakin ke Timezone. Tapi kayaknya nggak jadi deh,” goda Vicenzo.
“Ah mau—sama Kak Aurora juga kan?” pekik Evelyn langsung berubah drastis sikapnya.
“Hm.”
“Kok Hem? Iya tidak?”sela Evelyn manja.
“Iya, Cantik,” balas Vicenzo gemas sekali.
“Kak Zero ikut, ya?” bujuk Evelyn pada Zero.
“Tidak, Kak Zero nggak suka ke tempat begituan. Nanti beli donatnya sekalian sama Kak Aurora dan Kak Vicenzo saja ya?” sela Zero.
Evelyn nampak berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Dan Zero tersenyum lega, saat ini lelaki itu memang tengah malas untuk kemana-mana dan lebih ingin memilih istirahat total.
“Zero, bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?” sapa Zeta.
“Lumayan, Mom,” jawab Zero.
“Oh iya, kamu ingat dengan teman masa kecil kamu? Pamela—katanya mamanya sakit. Mama belum jenguk dia, apa kamu mau ikut?” tanya Zeta.
Deg!
Pamela …
Setelah 5 tahun berlalu, akhirnya dia mendengar satu nama keramat itu disebut. Yang mendengar adalah telinga, tapi yang bereaksi adalah dadanya—bergemuruh hebat.
“Zero, ditanya kok malah bengong?” sela Zeta.
“Iya, Mom. Emh, tapi kenapa tidak berangkat bareng Aurora saja?” tanya Zero balik.
“Kemarin dia sudah bersama suaminya.”
“Oh oke”
Bagaimanapun juga dia memiliki hutang budi pada Hasna. Tetangga baik yang pernah memberinya makan kala kelaparan. Jika mengingat semua itu, ada perasaan sesal juga, akan kesalahannya di masa lalu.
Usai sarapan pagi, nampak Evelyn Emma yang sudah menarik-narik Vicenzo untuk segera berangkat ke Timezone. Sementara Syadeva yang terburu-buru mau ada rapat pagi. Sekalipun Zero selama ini kuliah di Belanda, tapi setiap hari orang rumah selalu video call dan enam bulan sekali liburan ke sana. Itulah kenapa, Zero tidak merasa asing dan tetap dekat dengan adik-adiknya.
***
Zero merasa sedikit enggan untuk bertemu dengan Pamela, tapi dia juga merasa rindu dan penasaran kira-kira bagaimana kabar sahabat kecilnya itu.
Tetapi sesampainya di sana, Zero malah syok dengan adanya Tirta yang nampak begitu dekat Hasna.
“Selamat pagi, bagaimana kabarnya, apakah sudah baikan?” sapa Zeta ramah sambil meletakkan bingkisan oleh-oleh ke meja.
“Selamat pagi, wah mommy nya Aurora ya? Sudah mulai baikan, sore ini sudah diizinkan untuk pulang,” balas Hasna, tapi beberapa saat kemudian mata Hasna melirik ke arah Zero.
“Pagi, Tante. Semoga lekas sembuh,” timpal Zero canggung.
“Iya, terima kasih. Kamu—Nak Zero?”
“Iya, Tante,” jawab Zero yang masih ngelag, apalagi dengan adanya Tirta di sini. Karena setahu dia Pamela tidak punya saudara lain.
“Zero, gue nggak nyangka Lo bisa kenal dengan Tante Hasna,” sapa Tirta ramah.
“I—iya, gue dulu saat kecil tetangga sebelah rumah dengan Tante Hasna,” jawab Zero.
“Wah, jadi Lo kenal dengan calon istri gue dong? Dunia ini sempit sekali!” pekik Tirta yang seperti petir yang menyambar ke telinga Zero.
Tiba-tiba Pamela yang baru membelikan makanan sangat syok dengan kehadiran Zero, saking kagetnya sampai bungkusan yang dipegangnya jatuh.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” ucap Tirta langsung melesat menunduk, mengecek kaki Pamela lalu mengambil bungkusan makanan tersebut.
“Ti—tidak apa-apa,” jawab Pamela gemetar ketakutan.
Zero hanya menatap pemandangan itu, gadis mungil yang dulu lugu dan polos kini nampak semakin dewasa dan tambah cantik.
“Pamela, mari sini sapa Mommy nya Aurora dan Zero—teman kecil kamu,” timpal Hasna.
“Hallo, Tante Zeta. Terima kasih sudah repot-repot kemari menjenguk Mama,” sapa Pamela.
“Tidak repot, sebenarnya kemarin mau ke sini bareng Aurora tapi ada urusan mendadak jadi tertunda,” jawab Zeta yang memang sudah mengenal baik Pamela.
“Kak Zero—apa kabar?” sapa Pamela tak berani menatap mata elang lelaki itu.
“Baik,” jawab Zero yang jauh lebih bisa mengontrol ekspresinya, bersikap tenang.
Pamela … rupanya calon istri Tirta ya.
Seharusnya Zero bahagia dengan kabar ini, bukankah itu yang dulu dia inginkan? Melihat Pamela bahagia dengan lelaki lain? Tetapi—melihat fakta itu justru membuat perasannya memburuk.
Zero mengira dirinya sudah sembuh dari penyakit mentalnya, karena selama di Belanda dia sudah tidak bersikap impulsif. Tapi saat ini, begitu melihat tangan Tirta yang merangkul pinggang Pamela pikiran untuk mengukung dan membuat Pamela menangis di bawah kendalinya muncul kembali.
“Sayang, kamu kok nggak pernah bilang kalau kenal dengan Zero? Dia ini teman aku saat SMA loh,” sela Tirta memecah keheningan.
“Aku tidak tahu kalau kalian berteman, apalagi Kak Zero lulus SMA langsung ke Belanda dan kami tidak pernah berkomunikasi lagi,” jawab Pamela memaksakan diri untuk tersenyum.
“Oalah, tadinya niat aku mau ngenalin kamu ke teman aku saat acara reunian di SMA aku. Eh, ternyata kamu sudah kenal duluan malahan,” balas Tirta terkekeh.
Pamela menundukkan kepalanya, sementara Zero memasang wajah datarnya.
Situasi macam apa ini?