“Sayang, Mas berangkat dulu ya. Baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa segara kabari Mas.”
“Iya Mas, Mas juga hati-hati. Semangat kerjanya.” Nia meraih tangan suaminya itu lalu menyalaminya dengan takzim.
Arvan mengangguk, sekilas ia mendarat bibirnya di kening istri tercintanya itu.
Setalah itu Arvan pun berlalu menuju masuk ke dalam mobilnya.
Mobil tersebut pun mulai melaju meninggalkan rumah tersebut, Nia masih berdiri di teras rumahnya itu seraya memandangi mobil suaminya yang terus menjauh.
“Ya ampun aku lupa, hari inikan aku ada janji sama Dokter Sonya,” gumam Nia.
Segara wanita 29 tahun itu masuk ke dalam rumah, dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
Daniah atau biasanya di sapa Nia itu, sudah hampir delapan tahun menikah dengan Arvan, kehidupan rumah tangga mereka selama ini adem ayem, tak pernah ada masalah yang serius. Mereka saling melengkapi, hanya saja selama mereka menikah, sampai detik ini mereka belum dikaruniai seorang anak.
Berbagai upaya sudah mereka lakukan, konsultasi ke beberapa Dokter khusus kandungan. Namun, seperti Tuhan belum mempercayai mereka.
Jujur saja Nia merasa bukan wanita sempurna, menganggap jika dirinya itu cacat, tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya itu. Padahal selama ini Arvan tidak pernah mempersalahkan semua itu.
“Mas, bagaimana kalau selamanya aku tidak bisa memberi kamu anak?” tanya Nia kala itu, di saat Nia merasa bahwa dirinya berada di titik terendah. Mengingat, jaman sekarang, banyak laki-laki yang nekat. Nia hanya takut, takut jika memang selamanya ia tidak akan pernah bisa memberikan anak pada suaminya itu, walau pun Dokter tidak mengatakan bahwa dirinya itu mandul, hanya saja rahimnya itu lemah. Dan mengakibatkan Nia susah hamil. Bagiamana jika Arvan menikah lagi? Jika Nia benar-benar tidak bisa hamil.
“Bagaimana apanya sayang?” Saat itu Arvan menatap Nia penuh tanda tanya, ia tidak mengerti maksud pertanyaan istrinya itu.
“Mas, aku takut. Takut jika kamu berpaling dari aku. Karna aku tidak bisa memberikan kamu seorang anak,” jelas Nia. Nia saat itu tidak bisa menahan air matanya. Nia tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi.
Namun saat itu Arvan malah tertawa, lalu dia menarik Nia kedalam pelukannya, mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.
“Dengar sayang, sampai kapan pun aku tidak akan pernah berpaling dari kamu. Aku sangat mencintai kamu Nia. Untuk anak, aku tidak terlalu mempersoalkan hal itu, di kasih ya Alhamdulillah, tidak pun tidak apa-apa. Aku menikahi kamu bukan ingin punya anak sayang, tapi aku ingin hidup bersama kamu selamanya. Sudah jangan terlalu memikirkan hal itu, kita berserah saja pada yang Maha Kuasa, jika memang waktunya sudah tiba, semuanya pasti akan indah pada waktunya.” Arvan mendaratkan kecupan di kening istrinya.
“Terima kasih Mas. Aku juga sangat mencintai kamu, jangan pernah tinggalin aku ya Mas.” Nia mengeratkan pelukannya pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Nia tersadar dari lamunannya, mengingat moment-moment sedih dan bahagia bersama suaminya itu. Nia merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Arvan.
Dia sangat pengertian, penyayang, di mata Nia, Arvan adalah suami yang paling sempurna.
Nia menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada dihadapannya itu. Kini ia sudah terkenal sangat rapi dan cantik.
Hari ini Nia akan pergi ke Rumah Sakit, ia sudah membuat janji dengan Dokter Sonya. Dokter Sonya adalah Dokter spesialis kandungan. Sudah 3 bulan ini, Nia sering berkonsultasi dengan Dokter itu.
Memang Nia memang sudah berserah kepada sang pencinta, masalah dia yang sampai saat ini belum dikaruniai anak itu. Di setiap sujudnya Nia selalu berdoa dan meminta agar segara diberikan mahkluk kecil yang lucu itu. Tapi, bukankah berdoa saja tidak cukup, berdoa harus disertai dengan berusaha. Dan inilah bagaian usaha atau ikhtiar Nia. Melakukan konsultasi dengan Dokter Sonya.
Nia bergegas keluar dari rumah itu, ia menuju mobil. Sebelum melajukan mobilnya, Nia terlebih dahulu mengirimkan pesan pada Arvan—suaminya. Jika ia hari ini akan pergi ke Rumah Sakit menemui Dokter Sonya.
Usai mengirimkan pesan pada suaminya itu, Nia pun langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit, tanpa menunggu balasan pesannya dari Arvan. Karna Nia tahu, Arvan tidak pernah memegang ponsel jika di kantor. Yang terpenting Nia sudah mengabarinya, Nia rasa itu tidak masalah.
Nia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, butuh waktu sekitar satu jam sampai di tempat tujuan itu.
Sesampainya di sana, Nia langsung menuju ruangan Dokter Sonya.
“Siang Dok,” ucap Nia saat memasuki ruangan tersebut.
“Siang Bu Nia, silahkan duduk.” sahut Dokter Sonya dengan ramah.
Nia pun mengangguk, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan meja Dokter Sonya.
“Apa kabar Bu Nia?” lanjut Dokter Sonya.
“Baik Dok,” jawab Nia.
Setalah itu mereka pun berbincang mengenai kondisi Nia. Setalah banyak hal yang Dokter Sonya sampaikan dan Nia pun sudah memahaminya. Wanita itu pun berpamitan kepada Dokter Sonya.
“Baiklah kalau begitu saya permisi ya Dok,” pamit Nia.
“Iya Bu Nia, semoga ikhtiar Bu Nia selama ini membuahkan hasil.”
“Terima kasih, Dok. Mari...” Nia pun berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Senyuman Nia sekitar redup, lagi dan lagi, tidak ada perkembangan. Nia menghelai nafas beratnya. Kenapa sulit sekali? Melihat orang-orang diluar sana, mereka terlihat mudah mendapatkan malaikat kecil itu.
Nia pun memutuskan untuk langsung pulang, karna hari sudah mulai sore, perjalanan juga lumayan jauh, apa lagi di sore hari jalanan bisanya cukup ramai, tak jarang juga macet. Nia harus capat sampai rumah, sebelum suaminya pulang dari kantor.
Brugh!
“Maaf...” ucap seorang wanita yang baru saja menabrak tubuh Nia. Nia tidak menjawab, Nia malah menatap benda pipih yang tergelatak di bawah kakinya.
“Maaf, saya tidak sengaja Mbak,” ucap wanita itu lagi, tangannya terlihat mengambil ponselnya yang tergelatak di dekat kaki Nia.
“Mbak...” panggil wanita itu lagi.
“Eh iya Mbak,” sahut Nia.
“Maaf saya tadi gak sengaja, saya jalan buru-buru gak liat jalan, sampai-sampai saya menabrak Mbak.” sesal wanita itu.
“Tidak apa-apa Mbak. Lagian saya baik-baik aja kok. Oh iya ponsel Mbak-nya gak apa-apakan? Tadi jatuh cukup keras juga lho?” tanya Nia.
“Tidak Mbak,” jawab wanita itu, namun wajahnya terlihat gelisah, matanya masih menatap layar ponsel yang ada di tangannya.
“Mbak kenapa?” Entah kenapa Nia merasa penasaran dengan wanita yang berbalut hijab itu, apa lagi melihat wajahnya, sepertinya wanita itu sedang dalam masalah.
“Saya enggak apa-apa Mbak. Ini saya cuman mau telepon suami saya, tapi dari tadi gak diangkat-angkat.” jawabnya.
“Anak saya masuk rumah sakit, dia harus segara di operasi,” lanjut wanita itu.
“Astagfirullah... emangnya sakit apa Mbak anaknya kok sampe mau di operasi?” Entah mengapa Nia merasa sangat kesahihan pada wanita itu, apa lagi ia menceritakan kondisi anaknya.
“Usus buntu Mbak. Saya bingung,” keluhnya.
“Lho kok bingung Mbak? Kenapa tidak langsung di lakukan saja, kasian anaknya.”
“Iya saya juga maunya begitu. Tapi...” Wanita itu terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Tapi kenapa Mbak?”
“Dompet saya ketinggalan di rumah Mbak, sedangkan admistrasi harus segara dilakukan sekarang. Saya coba telepon suami saya, minta buat transfer uang untuk biayanya, tapi tidak diangkat-angkat. Kalau saya pulang dulu itu tidak mungkin, karna jarak ke rumah lumayan jauh, sedangkan di sini anak saya tidak ada yang menunggu,” jelas wanita itu.
“Ya sudah ayo kita ke pihak admistrasi Mbak, biar saya yang bayar,” agak Nia.
“Enggak Mbak, gak usah. Biar nanti saya tunggu suami saya saja,” tolaknya.
“Mbak! Mau sampai kapan? Kasian anaknya, tadi Mbak bilang sendirikan kalau Mbak telepon dia gak diangkat-angkat. Ayo Mbak.” Tanpa menunggu persetujuan,Nia langsung menarik tangan wanita itu.
“Tapi Mbak, Kitakan tidak saling mengenal. Aku tidak mau merepotkan Mbak,” protesnya mencoba mencegah Nia, namun Nia tidak menghiraukannya. Hingga akhirnya sampai di tempat administrasi.
Nia langsung melunasi biaya administrasi anak wanita itu.
“Mbak, terima kasih...” ujar wanita itu seraya menghambur memeluk Nia. Nia membalas pelukannya. Terdengar isakkan tangis dari wanita tersebut.
“Sama-sama Mbak. Kita sebagai manusia memang diwajibkan untuk saling menolong bukan?”
Lalu mereka pun melepaskan pelukannya.
Wanita itu terlihat menganggukkan kepalanya pelan, lalu tersenyum.
“Terima kasih banyak Mbak. Padahal kita gak saling kenal, tapi Mbak mau bantu saya. Oh iya saya janji akan segara membayar uang Mbak. Boleh saya minta nomer rekening sama nomer ponsel Mbak?”
“Boleh.” Nia pun memberikan nomer ponselnya serta nomer rekeningnya itu pada wanita tersebut.
“Sekali lagi terima kasih ya Mbak. Saya akan segara mengganti uang Mbak. Nanti saya akan hubungi Mbak secepatnya. Oh iya, kenalkan saya Ayu.” Wanita itu mengulurkan tangannya kepada Nia. Nia membalas uluran tangan wanita itu dengan senang hati.
“Saya Nia. Semoga operasi anak Mbak dilancarkan ya. Maaf saya gak bisa nemenin Mbak dan liat anak Mbak, soalnya saya harus cepat pulang, suami saya sudah menunggu saya di rumah,” ucap Nia berpamitan padanya.
“Iya Mbak, tidak apa-apa. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak untuk Mbak.”
“Iya Mbak, saya duluan ya.”
“Iya Mbak Nia, hati-hati ya.”
Nia pun segara berlalu dari sana, menuju mobilnya dan melajukan mobil meninggal Rumah Sakit tersebut.
Bab 2
Nia baru saja sampai di rumah. Dilihat keadaan rumah masih sepi, sepertinya Arvan—suaminya belum pulang. Nia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya itu. Sudah jam lima sore, kok tumben sekali suaminya itu belum pulang?
“Apa Mas Arvan terjebak macet ya?” gumam Nia.
Nia pun segera masuk ke dalam rumah. Ia langsung berlalu menuju kamar. Badannya terasa sangat lengket, Nia pun memutuskan untuk memberikan tubuhnya terlebih dahulu.
Setengah jam kemudian, Nia sudah selesai. Ia sudah berganti pakaian. Nia duduk di tepi ranjangnya itu, lalu mengambil ponselnya.
“Sayang maaf aku pulang telat, ada perkejaan mendadak, aku lembur dan kemungkinan pulang malam.”
Nia membaca pesan dari suaminya itu.
“Pantas saja belum pulang, ternyata ada lembur. Tumben sekali?” gumam Nia.
Nia pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur tersebut. Hari ini cukup lelah rasanya.
Tapi tiba-tiba saja Nia teringat dengan kejadian tadi siang, dimana wanita yang bernama Ayu itu tidak sengaja menabraknya.
Nia sempat melihat layar ponsel Ayu, memang Ayu saat itu tengah menelepon seseorang sepertinya. Dan yang membuat Nia penasaran adalah, kenapa Poto profil orang yang Ayu telepon itu seperti tidak asing bagi Nia.
“Kenapa Poto profilnya mirip sekali dengan Mas Arvan? Apa aku salah lihat? Atau hanya mirip saja?” gumam Ayu bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Tadi juga Mbak Ayu bilang dia lagi telepon suaminya. Ah tidak mungkin itu Mas Arvan! Aku pasti salah liat saja!” Nia mencoba menepis semua pikiran buruknya itu. Nia juga tidak mau bersu'udzon. Mungkin hanya mirip saja, dan tidak mungkin suaminya Ayu itu Arvan—suaminya.
Tidak mungkin! Nia kenal siapa Arvan. Selama menjalin rumah tangga dengan suaminya itu, Nia sama sekali tidak pernah mencium sikap Arvan yang mencurigakan atau bagaimana. Arvan laki-laki yang setia, tidak mungkin dia punya wanita lain di luar sana. Lagian Ayu sudah mempunyai anak pula, sudah besar pula anaknya, Nia tidak sempat melihat data anaknya Ayu itu sekilas, usianya saja sudah 10 tahun.
Nia menghelai napasnya, entah mengapa perasaan kini menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang tidak bisa Nia jelaskan.
Lalu sebuah pesan masuk kembali ke ponselnya itu.
Nomer baru, tidak ada Poto profilnya juga pula.
“Mbak Nia, ini aku Ayu. Mbak uangnya sudah saya ganti, saya sudah transfer sesuai nominal yang Mbak pinjamkan pada saya tadi. Terima kasih banyak ya Mbak, Alhamdulillah, operasi anak saya berjalan dengan lancar dan itu semua berkata Mbak, semoga kebaikan Mbak dibalas oleh yang maha kuasa.”
Nia membaca pesan tersebut. Teryata pesan tersebut dari Ayu, beberapa detik kemudian Nia mendapat notifikasi dari M-banking ada uang masuk, itu pasti dari Ayu.
“Terima kasih Mbak Ayu. Alhamdulillah kalau operasinya lancar, semoga anaknya cepat sembuh ya Mbak. Insyaallah besok kalau tidak sibuk saya akan berkunjung, saya mau lihat kondisi anak Mbak.”
“Saya benar-benar berterima kasih sekali sama Mbak Nia. Saya tunggu kedatangan Mbak Nia. Anak saya pasti senang.”
“Hehe, iya Mbak. Eh bagaimana suaminya sudah bisa dihubungi?”
“Alhamdulilah Mbak sudah. Suami saya juga sudah datang.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Mbak Nia save nomer saya ya. Saya mau berteman sama Mbak Nia, bolehkan?”
“Tentu saja Mbak, saya akan save nomer Mbak Ayu.”
“Terima kasih ya Mbak, kalau begitu saya mau nemenin anak saya lagi ya Mbak Nia. Karna suami saya gak bisa nemenin, dia masih ada kerjaan katanya.”
“Oh iya Mbak.”
Percakapan lewat pesan antara Nia dan Ayu pun terputus.
“Aneh banget suami Mbak Ayu itu! Masa anak lagi sakit habis dioperasi masih aja ngurusin kerjaan!” gumam Nia. Entah mengapa dia merasa kesal dengan suami teman barunya itu. Sepertinya menyia-nyiakan seorang anak, sikapnya sangat keterlaluan menurut Nia.
Nia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya pikiran buruk tadi yang memenuhi isi kepalanya itu, semua salah. Jika Arvan benar suaminya Ayu, Arvan tidak akan mungkin setega itu. Nia kenal siapa Arvan, tidak mungkin Arvan bersikap seperti itu.
Lagian tidak mungkin juga suaminya itu, suami Ayu juga!
Nia pun menyimpan nomer ponsel Ayu tersebut. Memberi nama kontak dengan nama wanita itu.
Namun usai menyimpannya, seketika Poto profil nomer kontak Ayu muncul. Nia membulat matanya, antar shock, tak percaya. Nia memandangi Poto tersebut dengan lekat, mengamati gambar di sana, dimana seorang laki-laki dan wanita di tengah-tengahnya ada seorang anak balita, mungkin anak balita itu anaknya ayu. Di Poto tersebut Ayu terlihat tersenyum bahagia, begitu juga laki-laki yang ada di samping Ayu.
“Mas Arvan? Apa benar ini Mas Arvan?” Nia seakan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Bagaimana bisa suaminya itu bersanding bersama Ayu dan anaknya di Poto itu?
Dan seperti Poto itu diambil sudah lama, karna anak Ayu masih bayi, seperti sedang syukur aqiqah anak tersebut. Tapi wajah laki-laki itu, suaminya Ayu itu, kenapa mirip sekali dengan Arvan—suaminya? Semuanya begitu mirip, tepatnya sama. Matanya, hidungnya bahkan senyumnya dan postur tubuhnya juga.
‘Ya Tuhan, apa maksudnya semuanya ini?’ batin Ayu.
Ayu yang merasa penasaran pun, ia mengirim pesan kembali pada Ayu.
“Mbak maaf, boleh saya tau siapa nama suami Mbak Ayu?”
Nia merasakan ada keraguan saat akan mengirim pesan tersebut pada Ayu. Tapi, Nia sangat ingin tahu. Mungkin nanti di sana Ayu akan bertanya-tanya kenapa dirinya menanyakan nama suaminya. Tapi ya sudahlah, Nia tidak bisa menahan keinginan tahuannya itu, dia juga ingin tahu kebenaran. Apa benar suaminya, suami Ayu juga.
Nia pun memutuskan untuk mengirimkan pesan tersebut pada wanita itu.
Beberapa saat kemudian Nia mendapat balasan pesan dari Ayu. Terlihat balasan pesan dari wanita itu dituliskan banyak tanda tanya.
“Ada apa ya Mbak? Kenapa emangnya?”
“Tidak apa-apa Mbak, saya cuman merasa tidak asing saja sama wajah suami Mbak Ayu itu. Maaf ya Mbak kalau saya lancang.”
Dusta Nia, membalas kembali pesan dari Ayu.
“Oh begitu. Nama suami saya Arvan, Mbak Nia. Kami sudah menikah selama sepuluh tahun.”
Deg!
Seketika detak jantung Nia teras berhenti berdetak, tangannya bergetar sampai ponselnya terjatuh. Tenggorokannya terasa tercekat. Nia tidak percaya bahwa suaminya ternyata mempunyai wanita lain.
Tiada angin tiada hujan, kenapa tiba-tiba badai menerpa rumah tangganya. Tidak ada sikap Arvan yang mencurigakan di mata Nia. Delapan tahun ini semuanya berjalan baik-baik saja, Nia tidak pernah mencium tingkah aneh dari suaminya itu.
Tapi kini, kanyataaannya harus Nia terima.
Bahwa ternyata dirinya adalah istri kedua.
Menghitung usai pernikahannya dengan Arvan, mereka baru delapan tahun membahtra rumah tangga, sedangkan Ayu berkata jika wanita itu sudah membahtra rumah tangga dengan suaminya selama sepuluhan tahun. Beda dua tahun dengan pernikahannya Nia.
“Kenapa kamu tega membohongiku selama itu Mas, bahkan sudah delapan tahun Mas. Apa aku memang sebodoh itu,” lirih Nia
Air mata kini sudah mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Apakah ini yang dinamakan Cinta dibalik Dusta?
Arvan memberikan cintanya pada Nia, seolah benar jika Nia adalah wanita satu-satunya. Tapi kenyataan? Semuanya hanya dusta, cintanya pada Nia hanya untuk menyembunyikan semua dusta yang sudah dilakukannya selama ini.
Harusakah Nia bertahan? Nia sangat mencintai Arvan, lantas bagaimana dia yang sudah lebih dahulu hidup bersama suaminya?
Cukup lama Nia termenung di temani dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir membasahi wajah cantiknya itu. Rasanya ia masih tidak percaya. Tapi semua kenyataan, Nia tidak bisa menyangkal itu semua.
Hingga akhirnya Nia pun terlelap dengan sisa-sisa air mata yang masih membasihi pelupuk matanya serta wajahnya.
***
“Mas, apa tidak bisa kamu menginap saja di Rumah sakit temani aku dan anak kita? Nadin baru saja selesai operasi Mas, dari tadi dia terus nanyain kamu!” pinta Ayu memohon pada suaminya itu.
“Aku tidak bisa! Aku masih banyak kerjaan. Besok aku akan kembali lagi ke sini.” tolaknya sambil bergegas dari ruangan rawat tersebut.
Ayu hanya menatap nanar punggung suaminya itu, laki-laki yang sudah membangun rumah tangga bersamanya selama 10 tahun. Namun waktu yang cukup lama tidak membuat suaminya kembali bersikap seperti sejak dulu kala.
Rumah tangga yang selama ini mereka jalankan terasa hambar, bahkan sangat menyakitkan bagi Ayu.
Sikap suaminya sangat dingin, seolah tidak pernah menganggap Ayu dan Nadin—putri mereka di kehidupan suaminya itu, sering kali membuat Ayu tersiksa. Ingin rasanya ia mengakhiri pernikahannya itu, namun rasa cintanya pada sang suami, teramat dalam.
Selama 10 tahun ini, Ayu terus berusaha membuat suaminya bersikap hangat seperti dulu, tapi nyatanya sampai detik ini tidak ada hasilnya. Bahkan segala cara sudah Ayu lakukan.
‘Andai saja aku bisa mengulang waktu, mungkin kamu tidak akan seperti ini Mas, andai saja kamu katakan, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus semua kesalahanku dan kamu bersikap seperti dulu lagi, di saat kita masih menjalankan ikatan cinta, masa-masa pacaran kita. Aku rindu kamu yang dulu Mas, kamu yang selalu ada untukku, kamu yang selalu mencintaiku, kamu yang menyayangiku. Aku memang bodoh Mas, aku bodoh, sudah membuat kesalahan besar yang membuat kamu kecewa padaku,’ batin Ayu menjerit.
Sakit? Tentu saja! Perih? Jangan di tanya!
10 tahun bukan waktu yang singkat, Ayu berharap suatu hari nanti ada secercah harapan untuknya, kembali menjadi orang yang sangat berarti dalam hidup suaminya itu. Walau pun entah sampai kapan Ayu harus menunggu waktu itu.
***
Arvan baru saja sampai di rumah, jarum jam sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam. Arvan bergegas memasuki rumahnya bersama Nia—istri tercintanya itu.
Keadaan rumah sudah terlihat sepi, bahkan lampu-lampu pun sudah di matikan.
Arvan memang selalu membawa kunci cadangan rumah, jadi jika ia pulang larut seperti ini, tidak akan menganggu sang penghuni rumah.
Arvan pun bergegas menaiki anak tangga ke lantai dua. Dimana kamar ia dan istrinya berasa.
Ceklek...
Arvan membuka pintu kamar tersebut, di lihatnya Nia sudah tertidur lelap di atas ranjang mereka.
Arvan langsung berjalan menghampiri istri tercintanya itu, ia membelai rambut Nia dengan penuh cinta, lalu mendaratkan kecupan di kening wanita itu.
Tidak ada pergerakan dari Nia, seperti ia memang sudah sangat terlelap.
Arvan pun langsung bergegas ke kamar mandi, untuk memberikan tubuhnya. Sebelum ia menyusul sang istrinya tidur.
Lima belas menit berlalu, Arvan terlihat sudah menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya itu, berganti pakaian. Lalu naik ke atas ranjang berbaring di samping istrinya itu.
Melingkarkan tangannya di pinggang Nia, yang membelakanginya itu, Arvan merasakan bau harum semerbak dari rambut Nia, harum yang begitu menyegerakan dan menenangkan. Membuat Arvan selalu nyaman di berada di dekat istrinya itu.
Perlahan Arvan pun mulai memejamkan matanya, tak lama kemudian Arvan pun menyusul istrinya, masuk ke dunia mimpi mereka masing-masing.
***
Pagi harinya...
Nia terbangun, ia melihat suaminya masih terlelap di sampingnya, dengan tangan yang melingkar di pinggang Nia.
Perlahan Nia menggeser tangan suaminya itu, lali berajak bangun.
Beberapa saat Nia menatap wajah teduh suaminya yang tengah terlelap itu. Rasanya Nia tak percaya jika Arvan selama ini berdusta. Apa memang karena Nia yang terlalu mencintai Arvan sehingga ia begitu percaya sepenuhnya pada suaminya itu?
Gak sadar air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya, Nia segara menyerkanya. Setalah itu ia pun berajak menuju kamar mandi.
‘Aku harus cari tau kebenarannya, benar atau tidaknya! Mungkin saja hanya mirip. Aku harus temui Mbak Ayu nanti, sekalian jenguk anaknya juga di Rumah sakit,’ batin Nia.
Setalah selesai dengan ritual mandinya, Nia pun segara berganti pakaian.
Sebelum Nia turun kebawah, untuk menyiapkan sarapan. Ia terlebih dahulu mempersiapkan semua perlengkapan Arvan ke kantor, seperti pakaian dan yang lainnya.
Arvan memang sangat tergantung pada Nia.
Bahkan dia tidak tahu letak celana dalamnya sendiri di dalam lemari. Karna selama ini Nia selalu melayaninya dengan baik.
Arvan tidak pernah memikirkan ia akan memakai baju apa, setiap hari Nia selalu menyiapkan semuanya. Arvan hanya tinggal memakai saja. Dan tentu saja apa pun pilihan Nia Arvan pasti akan menyukainya.
Setalah semua keperluan Arvan selesai di siapkan, ia pun bergegas keluar dari kamarnya itu menuju dapur.
Di sana terlihat sudah ada Bi Tati Asisten rumah tangganya, sudah lama Bi Tati kerja bersama Nia dan juga Arvan. Sehingga mereka sudah seperti keluarga.
“Eh Non, udah bangun,” sapanya saat melihat Nia sudah berada di sana.
Nia hanya mengangguk, lalu tersenyum. Ia mulai berkutat di sana, membuat sarapan untuk dirinya dan Arvan—suaminya.
“Non, habis nangis ya? Kok matanya sembab begitu?” lanjut Bi Tati, ia yang sedari tadi memperhatikan majikannya itu.
“Ah enggak kok Bi, masa sih? Emang mataku sembab ya?” kilah Nia, malah bertanya.
“Iya Non, keliatan banget itu. Si Non kaya habis nangis berat!” jawab Bu Tati. Mereka memang sangat akrab, jadi baik Bi Tati dan Nia mereka tidak pernah sungkan.
“Ah, ketahuan deh. Iya Bi, semalam aku nangis.” ucap Nia sambil terkekeh.
“Ya ampun Non, ada masalah apa? Sini cerita sama Bibi?”
“Aku gak apa-apa kok, Bi. Aku hanya sedang sedih aja, meratapi nasib.” Nia mencoba melebarkan senyumnya. Memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
“Sabar ya Non. Mungkin belum waktunya Gusti Allah ngasih si Non sama Tuan kepercayaan. Tetep berdoa dan ikhtiar Non, insaallah, usaha tidak akan menghianati hasil,” ujar Bibi. Nia hanya mengangguk, namun ia tidak bisa menahan tangisnya.
Bibi langsung merangkul Nia, membawa ke dalam pelukannya. Nia menumpahkan segala kerisauan hatinya, menangis di pelukan Bu Tati, pelukan wanita parubaya itu terasa sangat nyaman, pelukan Bi Tati lah yang selama ini menjadi gantinya ketika Nia sedang rindu kepada Ibunya yang ada di kampung.
Bi Tati yang mendengar isakkan tangis Nia, ia tak kuasa menahan air matanya. Bi Tati menyangka jika Nia bersedih dan menangis itu karna selama ini Nia memang sangat merindukan kehadiran malaikat kecil di dalam rahimnya. Karna biasanya Nia jika bersedih dan mengeluhkan karna hal itu.
Padahal tidak! Bukan itu. Yang membuat Nia sedih dan menangis saat ini bukan hal itu. Tapi, hal lain. Tidak mungkin Nia menceritakannya pada Bi Tati. Karna Nia sendiri pun belum tahu dengan jelas, benar atau tidaknya. Bahwa Nia selama ini adalah istri kedua Arvan—suaminya.
‘Ya Tuhan, apa memang selama ini engkau belum mempercayai memiliki malaikat kecil itu, karna hal ini. Apa artinya pernikahan ini sudah di ujung tanduk?’ batin Nia.