Hujan mereda ketika Amara melangkah ke beranda rumah nomor 12 di Jalan Kaliurang. Lampu kuning temaram memantul di genangan air; aroma tanah basah tersisa seperti janji yang belum selesai. Rumah itu tampak lebih kecil dari bayangannya-catnya mengelupas, pagar bambu yang pernah rapi kini miring, dan sebuah mobil tua berkarat terparkir di halaman seperti sisa-sisa masa lalu yang tak mau pergi.
Ia menekan bel dengan satu jari, dan suaranya bergema di ruang tamu yang terasa kosong. Pintu dibuka oleh seorang perempuan paruh baya dengan rambut yang diikat longgar, matanya waspada namun tak kasar.
"Iya? Bisa bantu?" suara perempuan itu serak, setahuku punya cerita.
"Amara Widjaja," jawabnya, suaranya keluar lebih pendek dari yang ia rencanakan. "Saya-suratnya-Rendra?"
Perempuan itu menatap namanya di titik-titik wajahnya sejenak, lalu mengangguk. "Kau anak Haryo, ya? Masuk saja. Dia bilang mungkin kau akan datang."
Di dalam, rumah dipenuhi bau rempah dan kayu hangus. Ada rak kecil penuh piring, foto keluarga yang berbeda-beda, dan vas bunga plastik yang menggantung seperti kesopanan yang dipertahankan. Seorang laki-laki tua duduk di sofa-bukan Rendra, pikir Amara-melainkan tetangga yang tampak kaget melihat tamu.
"Rendra belum pulang," kata perempuan pemilik rumah sambil menuangkan teh ke cangkir. "Dia keluar tadi pagi, katanya urusan di kota. Ia bilang akan kembali malam ini. Kau mau tunggu? Atau-"
Amara menggenggam cangkir teh hangat sampai ucapannya melunak. "Berapa lama lagi kira-kira?"
Perempuan itu menggeleng. "Saya tak tahu. Dia suka tiba-tiba. Tapi kau boleh duduk dulu. Ceritanya panjang kalau kau mau tahu."
Amara memilih duduk. Di sudut rumah ada rak buku berdebu; sampul-sampul novel tua tampak akrab sekaligus asing. Ia meneguk teh-manisnya tidak sempurna-dan membiarkan tatapan turun ke jari-jarinya yang masih dingin. Menunggu terasa seperti berburu jawaban yang mungkin tak akan pernah ia dapatkan; tetapi ia memilih hadir karena sesuatu di dalamnya menolak berbohong pada dorongan yang datang dari hati.
"Dari mana dia muncul?" tanya Amara perlahan, bukan menuduh tapi mencari titik untuk memulai.
Perempuan itu menarik napas, lalu menaruh cangkirnya. "Orang ini, Rendra, pernah tinggalku dua puluh tahun lalu. Dia kembali dua bulan lalu-tiba-tiba. Katanya ingin menyelesaikan sesuatu yang dulu ia tinggalkan. Kau tahu, ia... ia bukan tipe yang mudah didekati. Banyak yang masih marah padanya."
Suara perempuan itu mengendur, menandakan ada lebih banyak yang tak terucap. Amara merasa detak jantungnya berbisik. Bagaimana mungkin seseorang yang meninggalkan hidup mereka membuat kembali yang sederhana bila tidak ada beban berat yang harus diurus?
Belum selesai pertanyaan itu memenuhi kepalanya ketika suara kamera mendekat-klik, lalu rendah. Seorang lelaki muda berjalan masuk membawa tas kamera besar menggantung di bahunya. Rambutnya sedikit acak, jaketnya basah. Ia tersenyum kecut ketika melihat Amara duduk di ruang tamu.
"Oh, maaf ganggu," katanya ringan, suaranya hangat seperti kopi pagi. "Aku Daffa-fotografer. Lagi proyek dokumentasi rumah-rumah tua di Kaliurang. Ibu bilang ada tamu, jadi aku mampir. Kupikir-" Ia menunduk sedikit, mengamati foto di tangannya. "Kau Amara Widjaja, ya? Aku lihat fotomu di surat-eh, maksudku, ibu bilang mungkin kau datang karena surat Rendra."
Amara terkejut namun juga, tanpa ia sadari, sedikit lega. Kehadiran Daffa memberi arah lain pada malam yang penuh kecemasan-sebuah wajah baru, bukan yang menuntut atau mendesak, hanya pengamat yang menawar secuil kenyamanan.
"Aku menunggu dia," kata Amara. "Tapi dia tak ada. Aku tidak tahu apa yang ia inginkan."
Daffa meletakkan tas kameranya di lantai seperti memberitahu dirinya sendiri bahwa ia akan tinggal sejenak. "Kadang orang kembali bukan untuk meminta maaf saja. Mereka kembali karena hal-hal yang tidak selesai: surat, utang, benda yang harus diambil. Atau mungkin cuma ingin tahu: apakah pada akhirnya dunia masih sama?" Ia mengangkat bahu. "Aku sendiri tak tahu. Tapi kalau kau mau, aku bisa bantu menunggu-atau aku bisa bilang kalau dia pulang nanti, aku catat."
Ada nada tulus di kata-katanya yang membuat Amara merasa sedikit lebih aman. Mungkin karena ia lelah menghadapi ketidakpastian sendirian, atau mungkin karena kehadiran Daffa mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang yang menekan. Ia tersenyum pendek. "Terima kasih. Aku suka suara kamera. Menenangkan."
Percakapan kecil itu membuka celah; sedikit demi sedikit, Daffa bertanya tentang kehidupannya di Jakarta, tentang pekerjaannya sebagai editor, tentang bagaimana ia berusaha menjaga jarak dari masa lalu. Amara, yang biasanya tertutup kepada orang asing, menemukan dirinya bercerita-bukan semua, hanya serpihan-tentang rasa marahnya ketika ayah menjadi batu karang di pantai yang dulu mereka geluti bersama.
Di luar, langit mulai terang; jam menunjukkan tengah malam lebih. Terdengar suara langkah kaki di pekarangan; pintu depan berdengung. Seorang pria berjaket basah berdiri di ambang pintu-bukan muda, bukan benar-benar tua. Wajahnya dikenali Amara seperti fragmentasi memori: ada kerutan, ada senyum yang mirip pada foto yang ia pegang malam sebelumnya-itu Rendra.
Amara berdiri dengan sendirinya, nadi berdebar lebih cepat dari seharusnya. Rendra menoleh, matanya menyapu ruang, menahan sesuatu yang tampak seperti penyesalan dan kelelahan.
"Amara," katanya, suaranya memecah keheningan dengan kentara. "Maaf membuatmu menunggu. Aku-terima kasih sudah datang."
Kata itu sederhana, tetapi berat. Amara menatapnya lama, menimbang apakah kata-kata selanjutnya akan menjadi pintu atau palu. Ia merasakan dunia menunggu jawaban dari bibirnya-jawaban yang akan menentukan apakah malam ini akan membuka luka atau menutup pintu yang selama ini setengah terbuka.
"Kenapa sekarang?" suaranya kering tetapi tegas. "Kenapa setelah semua ini kau datang lagi?"
Rendra menghela napas, menatap jari-jarinya sendiri seolah sedang mengumpulkan kata. "Ada hal yang harus kukatakan-kebenaran yang tak bisa kutulis di surat. Aku datang untuk menjelaskan, bukan untuk merobek hidup lagi. Aku paham kalau maaf bukan tiket untuk menghapus luka. Tapi aku harap-kau mau dengar."
Di sana, di ruang tamu rumah nomor 12, kain masa lalu mulai ditarik perlahan. Di antara suara teh, klik kamera, dan hujan yang merintik lagi di luar, Amara tahu satu hal: malam ini ia akan mendapatkan jawaban-atau menemui lebih banyak pertanyaan.
---
Suara hujan merambat perlahan di luar jendela saat Rendra duduk di seberang Amara. Ada jarak satu meja kopi di antara mereka-jarak yang sebetulnya tidak lebih jauh dari jarak yang pernah tercipta bertahun-tahun lalu. Jarak itu bukan soal tempat, tapi soal kepercayaan.
"Terima kasih sudah datang," ulang Rendra. Suaranya pelan, seolah takut memecahkan sesuatu yang rapuh di udara.
Amara tidak langsung menjawab. Ia butuh waktu untuk memastikan dirinya cukup stabil menghadapi percakapan ini. Nafasnya ditahan beberapa detik sebelum ia melepaskannya perlahan.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya akhirnya. "Kau kirim surat setelah bertahun-tahun. Kau membuat ayah resah. Kau membuat kami... kembali ke sesuatu yang harusnya sudah selesai."
Rendra menunduk. "Aku tahu. Dan itu salahku. Tapi aku tak bisa menghilang lagi tanpa memberitahu sesuatu sebelum semuanya terlambat."
"Terlewat apa?" Amara mendadak merasa dadanya mengencang.
Bukannya menjawab, Rendra merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah buku kecil-buku catatan dengan sampul kulit yang sudah retak. Ia meletakkannya di meja, mendorongnya ke arah Amara.
"Ini milik ibumu," katanya, matanya berkaca-kaca. "Aku menyimpannya. Dan aku... tidak berhak menyimpannya selama ini."
Amara menatap buku itu seakan benda tersebut bisa meledak. Ia menyentuhnya dengan ujung jarinya-dingin, berbeda dari kenangan tangan hangat ibunya yang dulu sering menggenggam tangannya ketika ia takut tidur sendiri. Buku ini terasa seperti hantu yang datang terlambat.
"Kenapa... ibuku memberikan ini padamu?" suara Amara melemah tanpa ia mau.
Rendra mengusap wajahnya. "Karena... hubungan kami tidak seperti yang kau kira."
Daffa, yang sebelumnya duduk jauh di sisi ruangan untuk tidak mengganggu, kini secara perlahan mematikan kamera yang masih tergantung di lehernya. Ia tidak ikut campur, tetapi kehadirannya memberi Amara kekuatan untuk tetap duduk tegak.
"Aku tidak mengerti," kata Amara.
"Sebelum kau lahir, aku dan ibumu..." Rendra berhenti. Memperbaiki posisi duduknya. "Kami saling mengenal dekat. Sangat dekat. Bahkan setelah ia menikah dengan Haryo. Bukan hubungan terlarang seperti yang kau pikirkan," ia buru-buru menambahkan, "tapi persahabatan yang intens. Dia percaya padaku untuk hal-hal yang tidak ia ceritakan pada ayahmu. Dia menulis semuanya di buku itu."
Amara merasakan lumpur ketidakpastian menelan kakinya. "Lalu kenapa kau pergi?"
"Terlalu banyak alasan," jawab Rendra dengan suara patah. "Tapi alasan terbesarnya... aku merasa aku mengganggu. Aku merasa keberadaanku membuat keluargamu tidak stabil. Dan ketika ibumu-" ia berhenti sebentar, mengatur nafas. "Ketika dia jatuh sakit, aku merasa aku harus menjauh agar keluargamu tidak tambah berat."
Keheningan merayap di antara mereka. Hanya suara hujan pelan yang menemani.
Setelah beberapa detik, Amara bertanya, "Kalau begitu kenapa kembali sekarang?"
Rendra terdiam lama. "Karena aku baru tahu satu hal," katanya akhirnya. "Hal yang seharusnya kau tahu sejak lama... dari ibumu sendiri."
Ia menunjuk buku catatan itu dengan dagu.
"Jawabannya ada di dalamnya. Semua alasan kepergianku. Semua alasan kenapa ibumu mempercayakan buku itu kepadaku. Semua tentang... yang sesungguhnya terjadi, Amara."
Jantung Amara terasa seperti meledak kecil di dadanya. Ia ingin membuka buku itu saat itu juga, tapi tangannya bergetar. Ada rasa takut yang menahan. Takut bahwa kebenaran yang ia cari sejak lama justru akan mengubah semua yang ia percayai.
Dalam keheningan itu, suara Daffa muncul-pelan, tidak memaksa.
"Kalau kau terlalu takut membukanya sekarang," katanya lembut, "kau tidak perlu memaksa diri. Kebenaran tidak lari, dan tidak akan hilang kalau kau memberi diri sedikit waktu."
Amara menoleh ke arah Daffa. Tatapannya stabil, tulus. Mata yang seolah bisa memahami apa yang ia rasakan tanpa harus bertanya terlalu banyak. Kehadiran Daffa terasa seperti lampu kecil yang menyala di ruangan yang gelap.
"Tidak," kata Amara akhirnya, menarik napas dalam. "Aku harus tahu sekarang. Aku sudah menunggu terlalu lama."
Ia membuka halaman pertama.
Tulisannya adalah tulisan ibunya-halus, miring sedikit, dengan tinta yang beberapa sudah pudar. Ada tanggal, ada kalimat, ada nama-nama yang ia kenali... dan beberapa yang tidak.
Rendra menggeser tubuhnya sedikit, menahan napas seperti ia sendiri tidak siap dengan apa yang mungkin terbuka dari halaman-halaman tua itu.
Amara membaca satu kalimat pertama, dan seluruh dunia seolah berhenti.
"Aku takut rahasia ini suatu hari ditemukan Amara... tapi lebih takut lagi jika ia tak pernah tahu kebenaran."
Amara menutup buku itu dengan cepat, matanya membesar. "Apa ini?" desisnya.
Rendra menatapnya seperti seseorang yang telah menahan beban selama puluhan tahun. Mata yang penuh sesal, tapi juga kelegaan kecil.
"Itulah," katanya pelan. "Alasan kenapa aku kembali."
Amara menatap buku itu seperti benda yang bisa mengubah siapa dirinya selama ini.
Dan dalam momen itu, ia tahu: hidupnya akan terbagi menjadi dua bagian-sebelum ia membuka buku itu, dan sesudahnya.
---