Reyhan Dharmadi Say...
Aku pernah menyerah pada cinta pertamaku, tapi bukan berarti aku berhenti mencintainya. Aku pernah belajar berpaling darinya, tapi aku tidak pernah mampu untuk benar-benar bisa melupakannya.
Cintaku padanya tidak berujung.
Lantas pada titik mana aku harus berhenti?
Aku sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang, tanpa pernah menemukan jalan untuk pulang. Cintanya sudah membuatku tersesat. Kini, hatiku tidak memiliki tempat singgah lain.
Selain di hatinya....
***************************************
Katrina Kania Ifana Say...
Hidupku ambigu.
Senyumku palsu.
Maaf, aku hanya tidak siap menerima kenyataan, ketika Allah mentakdirkan kita hidup berdampingan, tanpa pernah membuat kita benar-benar bersatu.
Meski sulit, meski sakit, meski harus terbelit cinta yang pahit. Cinta ini terlalu rumit untuk kita mengerti dan pahami. Tapi percayalah, di penghujung waktu, akan selalu ada keajaiban yang abadi. Karena aku percaya cintamu sejati.
Bahagiamu, bahagiaku juga...
***************************************
Hardin Putra Surawijaya Say...
Awalnya, cinta bagiku hanya sebatas tatapan semu, maka hingga berhenti menatap cinta itu lenyap. Tapi segalanya berubah saat aku mengenalmu.
Duniaku seolah berhenti berputar. Cintaku padamu bermula dari hati. Kupikir kamu sama seperti angin, datang sebentar lalu pergi. Semilirnya membuat sejuk sesaat, tapi debunya membuat sesak. Tapi kini bagiku, kamu seperti udara yang kuhirup, bersamamu aku mampu melanjutkan hidup.
Kamu duniaku...
***************************************
Anggia Putri Surawijaya Say...
Cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan.
Tapi keadaan justru berpihak padaku. Saat takdir membuat diriku dengannya semakin dekat. Kesempatanku untuk bisa hidup bersamanya jelas sangat besar. Bahkan hanya tinggal sebatas menyeberang jalan saja. Tapi, saat aku kembali menengok ke belakang, aku sadar, raganya memang kumiliki. Tapi hatinya, tetap berada di belakang. Masa lalunya terlalu sulit untuk dia tinggalkan. Lantas, haruskah aku menyerah?
Aku hanya ingin bahagia, bersamanya...
"Alhamdulillah," ucap seorang laki-laki yang baru saja menginjakkan kakinya di stasiun Gubeng, Surabaya.
Seorang laki-laki berperawakan jangkung dengan berat badan ideal. Berkulit putih bersih. Beralis tebal, hidung mancung, tatapan matanya yang hangat, serta bibir tipisnya yang seimbang atas dan bawah.
Paras tampan itu sukses mencuri perhatian seluruh kaum hawa di sekelilingnya.
Reyhan menyadari kalau dirinya mulai menjadi pusat perhatian, tapi dia mencoba untuk tetap santai dan bersikap biasa saja.
Intinya, tetaplah bersikap ramah dan rendah hati pada siapapun orang yang kita temui, karena kita tidak pernah tahu kapan Allah Swt akan mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang mungkin jelmaan malaikat penolong dalam hidup kita.
Tetaplah berpikir positif selagi kita masih diberi kesempatan untuk berpikir. Sebab pikiran positif justru akan menghadirkan nilai-nilai positif, baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari lingkungan sekitar kita. Karena hal seperti itu sangat diperlukan untuk menjalin sosialisasi dengan berbagai macam orang yang kita temui di luar sana.
Apalagi bagi seorang pengembara macam Reyhan yang hidup sebatang kara. Mengembara ke Kota lain yang asing. Sebuah kota yang bahkan tak pernah dia kunjungi sebelumnya. Semua itu dia lakukan atas dasar modal tekat yang kuat.
Demi tercapainya satu tujuan, yaitu mencari seseorang.
Cinta pertamanya.
Reyhan tahu apa yang kini dia lakukan terdengar mustahil dan pastinya sangat sulit, namun Reyhan percaya, selagi kita berusaha dan berdoa, Allah Swt pasti menunjukkan jalan-Nya.
Reyhan melangkah sambil celingukan mencari pintu keluar stasiun Gubeng yang hari itu tampak ramai. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri secara bergantian.
Lelaki itu terdiam di salah satu sudut stasiun. Sekedar memastikan kembali bahwa kini dia benar-benar sudah berada di Surabaya dan ini bukanlah mimpi.
Aku datang Katrina. Aku pasti akan menemukanmu, seperti janjiku dulu...
Ujarnya dalam hati.
Lalu dia tersenyum. Memperlihatkan satu lekukan kecil yang muncul di pipi kirinya. Sungguh sempurna membungkus wajah tampan nan rupawannya. Sesuatu yang berbanding terbalik dengan penampilannya yang super duper sederhana.
Setelan kaos hitam yang dipadupadankan dengan flanel kotak-kotak serta celana jeans sobek berwarna senada yang terlihat pas melekat di tubuhnya.
Reyhan menaikkan sebelah tali tas ranselnya yang melorot sambil terus melangkah.
Waktu Dzuhur sudah hampir tiba, Reyhan harus bergegas.
Puji dan syukur terus Reyhan panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang sudah dengan sangat baik memberinya kemudahan dan kelancaran selama perjalanan hingga dia selamat sampai tujuan.
Selain ramah dan sopan, Reyhan termasuk seorang laki-laki yang taat beribadah. Meski, pengetahuan akan ilmu agamanya tidak cukup baik, tapi Reyhan tidak pernah lupa meninggalkan shalat lima waktu. Baginya, itu adalah bukti tanggung jawab dan rasa syukur atas segala nikmat yang telah di beri Allah Swt untuknya selama ini.
Berjuta tatapan sarat akan kekaguman terus saja tertuju pada Reyhan di sepanjang jalur Stasiun Gubeng yang dia lewati.
Gadis-gadis remaja berseragam sekolah bahkan tampak antusias memperhatikan sosok Reyhan yang mereka pikir adalah seorang aktor atau bintang film, saking tampannya sosok itu.
Bisik-bisik tetanggapun kian santer terdengar di telinga Reyhan.
"Artis yo Mas?"
"Ganteng banget, sumpah..."
Reyhan hanya tersenyum tipis. Dia memilih untuk cepat-cepat menghindar dan berlalu dari hadapan gadis-gadis remaja itu sebelum hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi.
Terkadang, memiliki wajah yang kelewat tampan itu justru seringkali membuat ruang geraknya terbatasi.
Reyhan mengernyitkan dahi, ketika sorot cahaya matahari menembus kornea matanya. Membuatnya silau.
Terik cahaya matahari yang membakar Kota Surabaya siang itu seolah tak memadamkan niat Reyhan untuk berpetualang mencari cinta pertamanya.
Bukankah dia sudah berjanji? Maka dia pun harus menepati.
Bukan karena terpaksa, tapi karena dia sudah benar-benar cinta.
Bagi Reyhan, tak ada satu alasan pun di muka bumi yang membuatnya semangat untuk melanjutkan hidup jika bukan karena dia.
Seorang wanita bernama Katrina Kania Ifana yang pernah menjadi bagian dari kisah kasih masa remajanya semasa SMA.
Reyhan memayungi matanya dengan sebelah tangannya dan berlari kecil ke arah luar stasiun. Hendak mencari warung makan di pinggir jalan untuk sekedar beristirahat dan menghilangkan dahaga serta mengisi perutnya yang keroncongan.
"Mas, pesan mie rebusnya ya, satu." Ucap Reyhan pada pelayan warteg yang dia kunjungi.
"Pake telor sama sayuran nggak?" tanya si pelayan warteg.
"Kalo pake telor harganya jadi berapa?"
"Sepuluh ribu,"
"Oh, nggak usah deh, Mas. Mie rebus biasa aja," tolak Reyhan, sopan. Kehidupannya di Surabaya baru saja dimulai. Perjalanannya masih sangat panjang. Jadi, dia harus pintar-pintar berhemat sampai dia bisa mendapatkan pekerjaan.
"Minumnya apa, Mas?" tanya si pelayan warteg lagi.
"Air putih aja, Mas."
Si pelayan warteg terlihat mencibir dalam hati, gayanya aja keren, tapi kantongnya cemen, huh!
"Orang Jakarta ya, Mas? Siapa namanya?" tanya seorang laki-laki lain pengunjung warteg itu. Dia mengajak berkenalan. Wajah Reyhan yang tampan nyatanya tidak hanya menarik perhatian wanita, tapi juga pria.
"Iya, Mas. Baru sampai. Saya Reyhan, Mas sendiri siapa?" Reyhan menerima jabatan tangan laki-laki di sampingnya.
"Saya Budiman, supir taksi di sini. Pantes, ketahuan dari logatnya, bukan orang Jawa. Sendirian aja?" tanya Budiman lagi.
"Iya, Mas. Kebetulan memang cuma hidup sendiri." Jawab Reyhan apa adanya, karena memang dia tidak memiliki sanak saudara lagi, baik di Jakarta maupun di Surabaya. Sedari kecil Reyhan hidup sendirian.
Reyhan adalah anak tunggal dan Ibunya sudah meninggal sejak Reyhan masih berusia tujuh tahun. Sementara Ayahnya, Reyhan tak pernah tahu apapun.
Siapa Ayahnya?
Dimana tempat tinggalnya?
Reyhan tak pernah tahu. Karena memang Ibunya sendiri tak pernah bercerita apapun mengenai sosok Ayah kandungnya tersebut.
Kehidupan masa kecil Reyhan bersama sang Ibu yang bisa dibilang jauh dari kata sempurna, membuat Reyhan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Segala penderitaan Ibunya di masa lalu, cukup menjadikan alasan kuat baginya untuk tidak lagi memusingkan di mana Ayah kandungnya kini berada. Baginya, laki-laki itu sudah mati.
Mati bersamaan dengan kepergian Ibunya yang tragis.
"Lah, terus jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya mau ngapain kalau nggak punya keluarga?" lanjut Budiman lagi.
Reyhan terdiam sesaat. Lalu dia mengeluarkan sebuah foto dari dalam tas ranselnya. Sebuah foto seorang wanita berseragam SMA.
"Mau cari perempuan yang ada di foto ini, Mas. Kira-kira, Mas pernah lihat dia?" tanyanya ragu.
Budiman mengambil lembar foto itu dimana di belakang foto itu tertulis sebuah tulisan tangan yang cukup rapi.
Katrina Kania Ifana in memorian.
My love...
Budiman tersenyum tipis. Dalam hati merasa lucu tapi juga salut.
Jauh-jauh datang dari Jakarta ke Surabaya cuma demi cewek. Nekat juga nih laki-laki. Pikir Budiman tak menyangka. Terkadang kekuatan cinta itu memang mampu mematahkan logika.
"Nggak sih. Saya nggak pernah lihat perempuan ini. Emang nggak ada alamat yang bisa dikunjungi? Kalau ada alamatnya bisa saya antar ke sana. Nanti saya kasih setengah harga," jawab Budiman.
Reyhan tersenyum simpul seraya memasukkan kembali foto itu, tapi tidak benar-benar dia masukkan melainkan hanya terselip di antara pinggiran jaring tas ranselnya.
"Nggak punya alamatnya Mas. Cuma ada fotonya aja," beritahu Reyhan apa adanya.
Budiman tampak mendesah. "Yah Mas, itu sih namanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, susah Mas. Kota Surabayakan luas,"
Lagi dan lagi Reyhan hanya membalasnya dengan senyuman. Mie rebus yang dia pesan sudah jadi. Reyhan melahapnya dengan cepat, sebab dia belum menunaikan Shalat Dzuhur.
"Mas-nya udah punya kerjaan di sini?" tanya Budiman lagi saat Reyhan sedang memakan mienya.
"Belum Mas. Saya baru lulus kuliah. Rencana mau cari kerja di sini juga," jawab Reyhan setelah menelan makanannya. Lalu dia melanjutkan makan kembali. Sementara Budiman hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari ber-oh.
"Masjid dekat sini di mana ya Mas?" tanya Reyhan kepada Mas Gondrong, si pelayan warteg setelah dia membayar makanannya.
"Dari sini Mas nyeberang, terus jalan aja lurus ke kiri, nanti ada minimarket, nah di samping minimarket ada tukang buah, terus samping tukang buah ada yang jualan es kelapa muda, terus..."
"Di ujung jalan Mas, masjidnya. Pas di pertigaan lampu merah. Ribet lu, Gondrong! Jelasin gitu aja pake muter-muter!" potong Budiman. Dia memelototi Gondrong si pelayan warteg yang memang terkadang suka tulalit.
"Oh, terima kasih Mas. Mari Mas, duluan semua," Reyhan keluar dari warteg itu dan mulai berjalan menuju Masjid. Dia mengikuti rute yang tadi di arahkan orang-orang di warteg itu. Lalu dia mulai menyeberang jalan.
Lalu lintas jalan raya di depan stasiun Surabaya Gubeng saat itu cukup lengang. Dan hal itu membuat beberapa pengguna jalan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Reyhan berjalan menyusuri trotoar pejalan kaki. Langkahnya kian ringan setelah perutnya terisi.
Jarak Reyhan dengan masjid yang dimaksud sebenarnya sudah dekat. Tinggal menyeberang jalan saja.
Sebuah Marsedes Benz hitam yang melaju cepat dari arah kanan tampak berusaha menyalip mobil di depannya. Posisi Reyhan yang kebetulan terhalang oleh angkot yang ingin di salip si Marcedez Benz hitam tadi, membuat tubuh Reyhan yang hendak melintasi jalan jadi tidak terlihat oleh si pengendara mobil mewah itu.
Kecelakaanpun tidak dapat terelakkan lagi.
Suara decitan ban mobil yang beradu dengan aspal jalanan diikuti suara keras dua benda yang saling bertubrukan sonta mengejutkan banyak orang di sekitar lokasi kejadian.
Tubuh Reyhan yang tertabrak langsung terpental hingga beberapa meter ke depan dan jatuh di tengah-tengah jalan raya yang beraspal.
Pemuda itu mengalami sejumlah luka-luka serius di sekujur tubuhnya. Bahkan kepalanya bocor dan mengeluarkan begitu banyak darah. Reyhan langsung tak sadarkan diri saat itu juga.
Beberapa warga yang geram pada si pengemudi Marsedes Benz itu, memaksa laki-laki itu turun dari dalam mobilnya untuk bertanggung jawab.
Laki-laki bersetelan kantor dengan tubuh tinggi dan tegap yang atletis terlihat keluar dari dalam mobilnya. Dia tidak terluka, tapi dia shock berat. Sementara mobilnya terlihat penyok di bagian depan setelah dia akhirnya membanting stir ke arah trotoar pejalan kaki dan menabrak tiang sebuah pohon pembatas jalan.
"Tolong bawa laki-laki ini ke mobil saya, Pak! Saya janji saya akan bertanggung jawab," ucapnya panik.
"Mas, siapa namanya? Saya butuh data-datanya Mas?" tegur seorang polisi yang kebetulan sedang berpatroli di sekitar TKP.
"Saya Hardin Pak. Hardin Putra Surawijaya," jawabnya masih dengan suara yang sedikit gemetar. Dia termasuk orang yang paling tidak bisa melihat darah. Perutnya mulai mual dan kepalanya sedikit pusing saat dia melihat kondisi laki-laki yang tadi ditabraknya.
"Nanti kita selesaikan kasus ini di kantor polisi setelah selesai dari rumah sakit, Pak Hardin," tegas polisi Patroli. Hardin mengangguk. Lalu langsung berlari ke dalam mobilnya dan membawa laki-laki bernama Reyhan itu ke rumah sakit terdekat.
Dia terus berdoa dalam hati semoga Allah Swt memberi keselamatan kepada laki-laki yang baru saja ditabraknya itu.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi seorang wanita bernama Katrina. Setelah dia baru saja menyampaikan maksud dan niatnya untuk menjadi seorang muallaf kepada sang Ibunda tercinta.
"Bunda?" Katrina bergumam lirih. Dia memegangi pipinya yang memanas. Tamparan itu sangat kuat. Bahkan kini dia mengecap rasa asin darah di sudut bibirnya. Katrina mulai menangis.
"Jadi ini balasan kamu, Trina?" Arini mendesis tajam diiringi sorot mata penuh amarah sebelum dia kembali melanjutkan kata-katanya.
"Jadi ini balasan kamu setelah Bunda mati-matian selama ini mengurus kamu sejak kecil? Bunda kerja pontang panting, banting tulang, mencari uang ke sana kemari, semuanya demi kamu, Trina! Supaya kamu bisa makan, bisa sekolah, bisa mendapat fasilitas layak untuk menunjang kebutuhan hidup kamu! Dan perlu kamu tahu, Bunda melakukan semua itu sendirian, Trina! SEN-DI-RIAN! Tapi apa balasannya sekarang? Dengan seenak jidat kamu bilang ingin pindah agama? Kamu mau jadi anak durhaka?" Arini berhasil mengungkapkan seluruh kekesalannya pada anak semata wayangnya yang dia anggap tidak tahu diri itu. Arini sangat kecewa pada Katrina. Hingga akhirnya air mata yang sedari tadi menggenang di kelopak matanya pun tumpah tanpa mampu lagi dia tahan.
"Bukankah itu hak setiap manusia berakal yang sudah baligh untuk bisa memilih keyakinan apa yang sesuai dengan hati kecilnya? Trina sudah memilih Islam sebagai tujuan hidup Trina. Sebagai pedoman hidup Katrina. Tolong, Bunda hargai keputusan, Trina," Katrina membalas tatapan Arini dengan tatapan yang sulit diartikan.
Katrina hanya merasa lelah.
Lelah dengan kehidupannya sendiri.
Lelah dengan sikap egois sang Bunda.
Tapi semenjak dia mengenal Islam dan mulai mempelajarinya, Katrina merasa semangatnya untuk hidup seperti muncul kembali. Padahal sebelumnya, dia sudah sangat putus asa.
"Trina bosan hidup di sini, kesepian, sendirian, karena selama ini Bunda selalu sibuk bekerja. Sementara Bunda sendiri selalu bersikap over protektif terhadap Trina. Hidup Trina seperti di penjara selama ini. Mau pergi kemana-mana saja susah. Mau ke sini di larang, ke situ di larang! Lalu apa salah jika sekarang Trina ingin memilih kehidupan Trina sendiri? Memilih agama Trina sendiri?" lanjut Katrina lagi. Dia hanya ingin Arini tahu apa yang telah dia rasakan selama ini.
Katrina marah pada Arini yang egois. Dia kecewa pada Arini yang tak pernah mau berterus terang tentang masalah apapun yang menyangkut kehidupan mereka, bahkan sampai pada masalah siapa sebenarnya Ayah kandung Katrina sendiri pun, hingga saat ini Katrina tidak pernah tahu. Karena setiap kali dia bertanya tentang siapa Ayahnya, Arini hanya diam seribu bahasa. Lalu jika Katrina terus menerus menanyakan hal yang sama dari waktu ke waktu, Arini justru marah dan memaki-maki Katrina dengan kalimat-kalimat sumpah serapah yang seharusnya tidak diucapkan seorang Ibu kepada anaknya. Oleh sebab itu, Katrina tidak pernah lagi berniat untuk bertanya atau pun membahas tentang Ayahnya kepada Arini.
Katrina hanya malas berdebat.
Tapi kali ini, Katrina sudah habis kesabaran. Dia sudah lelah diperlakukan seperti seorang tawanan di rumahnya sendiri. Dia ingin mencari kebebasannya sendiri. Memilih kehidupannya sendiri. Dan memilih agamanya sendiri, sesuai dengan apa yang dia yakini sebelumnya.
"Jangan bilang, kamu melakukan ini semua lagi-lagi karena Reyhan? Laki-laki rendah itu? Si pengamen jalanan itu?" Kalimat Arini kali ini terdengar begitu menyakitkan dan menusuk di telinga Katrina.
"Kak Reyhan tidak seburuk yang Bunda pikirkan! Dia laki-laki baik yang justru telah membuat hidup Katrina berubah. Semenjak mengenal dia, hidup Katrina jadi lebih berwarna, bahkan Katrina bisa merasakan hidup yang benar-benar hidup saat Katrina sedang bersama Kak Reyhan. Dia itu malaikat penyelamat dalam hidup Katrina yang penuh dengan kebohongan!"
PLAK!
Arini kembali melayangkan satu tamparan hebatnya di pipi Katrina. Dia benar-benar sudah naik pitam. Amarahnya sudah berada di puncak teratas.
"KALAU MEMANG BEGITU KENYATAANNYA, SEKARANG JUGA KAMU PERGI DARI RUMAH INI! SANA, CARI MALAIKATMU ITU! TAPI INGAT PESANKU, SETELAH KAMU MELANGKAHKAN KAKIMU KELUAR DARI RUMAH INI, MAKA SEJAK ITU JUGA PINTU RUMAH INI AKAN TERTUTUP SELAMANYA UNTUKMU!"
Katrina tercenung mendengar serentetan kalimat yang baru saja keluar dari mulut sang Ibunda.
Satu kalimat sarat makna yang cukup membuat Katrina mengerti hingga setelahnya, tanpa basa-basi lagi malam itu juga Katrina mengemasi sebagian barang-barangnya.
Dia benar-benar pergi.
Bahkan tanpa Arini mencegah kepergiannya.
Katrina sempat menoleh sekali lagi ke arah rumahnya sebelum dia benar-benar melangkah lebih jauh.
Rumah yang sudah dia tinggali selama kurang lebih lima tahun sejak sang Bunda memboyongnya pindah dari Jakarta ke Surabaya, hanya demi satu hal.
Yaitu, memisahkan dirinya dengan Reyhan.
Ya, Reyhan. Satu-satunya laki-laki yang begitu dia cintai selama ini. Reyhan kekasihnya semasa SMA.
Reyhan cinta pertamanya.
Maafkan aku Kak, aku harus pergi.
Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi...
Gumam batin Katrina.
Katrina melanjutkan langkahnya setelah dia berhasil menyeka air matanya yang tak kunjung mau berhenti.
Tekadnya untuk menjadi seorang muallaf sudah bulat. Bahkan Katrina sudah mulai tertarik pada Islam sejak Tuhan mempertemukannya dengan Reyhan. Hingga setelah perpisahan mereka sekitar lima tahun yang lalu, Katrina semakin tertarik pada Islam. Gadis itu berniat untuk mempelajarinya sendiri. Hanya saja, niatnya itu belum mampu terealisasikan sampai sekarang, karena ketakutannya pada sang Bunda.
Dan kini, Katrina mungkin masih perlu menahan keinginannya itu sampai dia berhasil mencari informasi tentang keluarga besar Arini di Bandung.
Dari sepengetahuannya, keluarga Arini di Bandung adalah sebuah keluarga Islam yang taat. Bahkan Kakek Katrina sendiri adalah seorang Ustadz yang cukup terpandang di sana.
Lantas, yang menjadi pertanyaan besar dalam benak Katrina saat ini adalah, hal apa yang sampai membuat sang Ibunda murtad?