Kota Jimbara, pukul 8 malam.
Emily Badia sedang dalam perjalanan pulang dari kerja lembur yang panjang dan melelahkan ketika sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke ponselnya — panggilan dari kantor polisi.
"Halo, selamat malam. Apa ini Nona Badia?" Sang polisi yang menghubunginya bertanya.
"Iya, benar," jawab Emily.
Setelah mendengar jawaban konfirmasi, sang polisi melanjutkan, "Teman-teman Anda, Jaka Guntur dan Rosa Sinde telah kami tahan dengan tuduhan prostitusi. Keduanya bersikeras bahwa mereka berdua adalah pasangan kekasih dan bertemu di hotel untuk berkencan. Apakah Anda bisa datang ke kantor polisi dan memberikan kesaksian bahwa keduanya memang adalah pasangan, sehingga kami bisa melepaskan mereka berdua ...."
Berita dari polisi itu sangat mengejutkan Emily sehingga seluruh tubuhnya membeku di tempat, tak bisa bergerak. Benaknya berusaha menyusun kata-kata untuk menjawab permintaan petugas polisi yang menghubunginya, namun dia tak dapat berpikir tentang apa pun saat ini. Dengan pikiran kosong, dia menutup panggilan dari polisi itu dan kemudian naik taksi ke kantor polisi sebagaimana diminta.
Ketika dia sampai di kantor polisi, hanya dengan melihat sekilas saja, dia pun mengenali pria dan wanita yang saat ini duduk bersebelahan di ruang tunggu.
Si pria adalah pacar Emily, Jaka, sedangkan wanita yang duduk di sebelahnya adalah Rosa, teman Emily. Tak menyadari kehadiran Emily, mereka duduk bersandar satu sama lain seakan pasangan yang tengah dimabuk cinta.
Dengan tangan terkepal dan mata yang dipenuhi api kemarahan, Emily berjalan menghampiri keduanya. Setiap langkah yang diambilnya memang sulit, namun dia memilih untuk menghadapi kenyataan pahit itu dengan penuh keberanian.
Rosa adalah orang pertama yang melihat dan menyadari kehadiran Emily di kantor polisi itu. "Emi, maafkan aku ...." kata Rosa, dengan sorot mata memohon, menampilkan sebuah ekspresi palsu demi mendapatkan permintaan maaf dari Emily.
Mendengar perkataan Rosa, Jaka menoleh dan melihat pacarnya yang sedang berjalan menghampirinya. Terkejut dengan kehadiran Emily, Jaka dengan spontan mendorong Rosa menjauh dan berdiri dengan terburu-buru. 'Sebaiknya aku mengatakan sesuatu sebelum dia mengungkapkan kemarahannya,' pikirnya. "Hai, Emi," sapa Jaka dengan senyum yang canggung.
Dia merasa panik dan gugup, hingga kehilangan keberanian untuk menatap Emily secara langsung. Rasa malu membuatnya mati rasa, dan seketika kehilangan kata-kata untuk dia ucapkan kepada Emily.
"Lebih baik ceritakan semuanya kepada Emi, Jaka." Rosa memberi saran.
"Apa kamu gila? Berhentilah bicara! Jangan bercanda tentang hal semacam itu," ucap Jaka sambil memelototi Rosa, memperingatkannya agar tidak membicarakan lebih jauh tentang rahasia yang ada di antara mereka.
Dia kemudian kembali menatap Emily. "Emi, aku berjanji untuk menjelaskan semuanya kepadamu nanti, tapi untuk saat ini aku minta kamu dapat memberikan pernyataanmu kepada polisi bahwa kami tidak bersalah," pintanya kepada Emily, seakan yang dipintanya adalah hal biasa.
Jaka mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Emily, namun Emily menepisnya. Emily menatap Jaka dengan tatapan jijik dan berkata dengan dingin, "Kamu sebaiknya memiliki sebuah alasan yang bagus untuk ini semua."
Setelah melalui berbagai prosedur dan formalitas yang diperlukan, Jaka dan Rosa akhirnya dibebaskan, lalu mereka bertiga pergi meninggalkan kantor polisi.
Begitu mereka keluar dari kantor polisi, Emily tak bisa menahan emosinya lagi, dia berteriak penuh kemarahan, "Kamu benar-benar pria brengsek! Jaka, bagaimana kamu bisa begitu kejam padaku?"
"Tolong dengarkan aku dulu, Emi!" Jaka dengan ekspresi memohon mencoba untuk menggenggam tangan Emily, yang memberontak dan menarik tangannya seakan jijik dengannya.
"Aku tak ingin mendengar penjelasan apa pun darimu! Kepercayaanku padamu sudah habis setelah mengetahui bahwa kamu berselingkuh dengan temanku. "Aku penasaran, bagaimana perasaanmu ketika polisi menuduhmu tengah berkencan dengan pelacur? Andai saja aku mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi, aku tidak akan datang ke kantor polisi untuk mengeluarkan kalian." Emily berusaha menyeka air mata yang mengalir di pipinya, matanya merah dipenuhi dengan amarah dan rasa kecewa.
Membayangkan bagaimana mereka berdua meminta polisi menghubunginya dan memintanya membebaskan mereka, membuat Emily merasa mual. Jika tujuan mereka adalah untuk membuatnya merasa jijik, mereka jelas berhasil!
Merasa dipermalukan oleh kata-kata Emily, Jaka membentak dengan keras, "Ya, aku memang sudah tidur dengan Rosa. Terus kenapa?"
Mendengar pengakuannya, hati Emily hancur berkeping-keping, dan kepalanya terasa sangat pusing. Dia berusaha keras menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.
Jaka mencoba untuk mendekatinya dan membantunya, tetapi Emily malah mendorongnya menjauh, merasa jijik jika Jaka sampai menyentuh tubuhnya.
"Kalian pergilah! Menjauh dariku!"
Melihat reaksi dan perkataan Emily, Jaka merasa sakit hati. "Emi, aku akan melupakan wanita-wanita lain. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, hanya satu, dan itu kamu."
Kata-kata yang diucapkan Jaka memicu rasa cemburu di hati Rosa, namun dia berpura-pura tenang dan kemudian ikut mencoba membujuk Emily dengan suaranya yang lembut. "Apa yang Jaka katakan benar adanya, Emi. Kalian ditakdirkan untuk bersama, dan merupakan pasangan sempurna untuk satu sama lain. Aku tak akan pernah bisa merebut Jaka darimu .…"
"Diam kamu!" Emily dengan suara keras dan tegas menyela kalimat Rosa, dia menggertakkan giginya dengan marah dan berkata, "Kamu tidak memiliki hak untuk mengatakan apa pun, dasar pelacur tak tahu malu! Persahabatan di antara kita sudah selesai! Mulai sekarang kamu bukan lagi temanku."
"Tolong jangan lakukan itu padaku, Emi ...." Rosa berusaha memohon dengan nada sedih yang dibuat-buat. Hanya saja, matanya mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya
'Huh, jika bukan karena Jaka, aku tak akan mau berteman dengan wanita seperti Emily!' pikirnya. Kini dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, tak ada gunanya lagi baginya untuk terus berpura-pura.
"Emi, jangan membesar-besarkan masalah," kata Jaka dengan tak sabar. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu mencintaimu dan akan menikahimu. Apa lagi yang kamu inginkan?"
"Membesar-besarkan masalah? Selalu mencintaiku? Apakah yang kamu maksud adalah bebas tidur dengan wanita mana pun yang kamu mau, dan berbohong padaku setiap waktu? Maaf, tapi aku tidak menginginkan cinta semacam itu!"
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, masih belum cukup?"
"Itu sama sekali bukan cinta. Cinta membutuhkan kesetiaan. Dan kamu jelas-jelas tidak setia kepadaku!"
Mendengar perkataan Emily, Jaka tertawa terbahak-bahak. Baginya, perkataan Emily merupakan hal lucu dan naif. "Emi, aku adalah putra satu-satunya ayahku, yang merupakan pemimpin dari Keluarga Guntur. Tidak mungkin hanya ada satu wanita di sisiku, tak peduli apakah aku masih lajang atau pun sudah menikah. Apa kamu dapat memahami hal itu? Kamu sebaiknya menerima itu sebelum kita menikah. Lebih cepat kamu dapat menerima hal itu, lebih baik bagi hubungan kita."
"Tentu saja, posisi sebagai istriku hanya untuk dirimu. Wanita lain boleh datang dan pergi, namun posisimu sebagai istriku tak akan pernah berubah."
Jaka memikir bahwa semua kalimat yang baru saja diucapkannya akan terdengar romantis dan menawan, hingga membuat Emily terkesan dan berlari kembali ke pelukannya.
"Plak!" Emily memberi Jaka sebuah tamparan keras di wajahnya.
Wajah Jaka hingga tertoleh ke samping saking kerasnya tamparan Emily. Terlihat jelas di bawah sinar lampu penerangan jalan, tamparan itu meninggalkan sebuah bekas merah di wajahnya.
Terkejut dengan tamparan yang baru diperoleh tepat di wajahnya, dia terhuyung mundur. 'Berani sekali wanita ini menamparku?' pikirnya.
Rosa yang melihat kejadian itu, tercengang, dan tubuhnya kaku tak bergerak. Saat dia berhasil mengatasi keterkejutannya, dia berpura-pura khawatir dan menghampiri Jaka untuk memeriksa wajahnya, namun ditolak olehnya.
"Emily, ada apa denganmu?" Jaka berteriak marah, dan menatap Emily dengan rasa tidak percaya.
Terlahir di keluarga kaya raya dan berkuasa, Jaka belum pernah menerima sebuah pukulan pun dalam hidupnya.
Mengingat kembali setiap perkataan Jaka yang kejam dan tanpa penyesalan, emosi Emily juga terbakar, tubuhnya dipenuhi kemarahan. "Hingga saat ini, aku baru menyadari betapa sombong dan menyedihkan dirimu sebenarnya."
Berbagi suami dengan wanita-wanita lain? Bagaimana dia bahkan bisa membayangkan hal semacam itu?
Emily menatap Jaka dengan sedih, merasa seolah-olah dia tidak mengenal pria di depannya ini sama sekali.
"Jaka, kita putus. Hubungan di antara kita sudah selesai."
Emily hendak pergi, dia sudah lelah dan kehabisan tenaga, dan tak ingin terlibat dalam drama ini lebih lama lagi. Emily hendak pergi, dia sudah lelah dan kehabisan tenaga, dan tak ingin terlibat dalam drama ini lebih lama lagi. Sekarang hatinya dipenuhi dengan kebencian yang sangat mendalam dan dia sama sekali tak berniat mempertahankan hubungannya dengan Jaka, karena hal itu hanya akan mengacaukan kehidupannya.
"Aku tidak mau!" Jaka berteriak keras. Entah mengapa, rasa takut menghantamnya dan dia memiliki firasat bahwa dia akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan tak tergantikan dalam hidupnya.
Tepat ketika dia hendak mengejar Emily, Rosa menghampirinya dari belakang dan memeluknya dengan erat.
"Jaka, jangan tinggalkan aku sendirian di sini." Rosa melingkarkan tangannya di pinggang Jaka dengan terampil, mengelusnya dengan lembut dan berusaha membujuknya, "Emi terlalu marah untuk bisa diajak berbicara saat ini. Aku yakin dia tidak bermaksud seperti itu. Kamu harus memberinya waktu untuk menenangkan diri. Kamu adalah seorang pria yang hebat. Bagaimana mungkin dia akan meninggalkanmu?"
Akhirnya Jaka tenang karena bujukan Rosa.
Keluarga Guntur adalah sebuah keluarga bergengsi dengan sejarah sebagai sebuah keluarga kaya raya dan berkuasa selama berabad-abad dan merupakan sumber utama kekuatan politik di kota. Mereka dapat melakukan hampir segala yang mereka inginkan di kota ini. Jaka adalah putra satu-satunya dan merupakan pewaris ayahnya, hal itu menjadikan statusnya tak tertandingi di tengah masyarakat. Selain itu, dia juga dikaruniai dengan wajah yang tampan.
Bagaimana mungkin Emily bisa menemukan pria lain seperti dirinya? Akan lebih baik baginya untuk beristirahat beberapa hari, menenangkan diri dan mempertimbangkan kembali hubungan di antara mereka.
Sementara itu, Jaka berpikir Emily harus menyadari sebuah fakta bahwa meskipun dirinya sangat mencintai Emily, namun kesabaran yang dia miliki ada batasnya. Jika saja yang menamparnya tadi bukan Emily, dia pasti akan mematahkan tangan orang itu!
"Jaka, aku kedinginan." Sambil tersenyum manja, Rosa melanjutkan rayuannya kepada Jaka, berusaha membangkitkan binatang buas dalam diri pria itu. Suaranya menawarkan kelembutan dan godaan yang tak dapat ditolak oleh pria mana pun.
Jaka kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rosa dan berkata, "Oh, kalau begitu ayo masuk ke dalam mobil, aku akan membuatmu merasa hangat di sana."
Bagi Jaka, bercinta dengan seorang wanita dapat dia lakukan dengan sangat mudah, semudah membeli makanan di restoran.
Namun, sampai sekarang Emily masih menjadi satu-satunya wanita favoritnya. Meskipun sudah lama sekali Jaka ingin memilikinya, dia tetap berusaha menahan nafsunya, karena dia ingin menyimpan yang terbaik untuk dinikmati terakhir. Jaka ingin Emily menyerahkan diri secara sukarela, sebelum dia mengambil langkah inisiatif lebih dulu.
...
Selama tiga tahun mereka bersama, Emily selalu memberikan cintanya dengan tulus. Menyadari perselingkuhan pria yang dicintainya, serta pengkhianatan yang dilakukan sahabat terbaiknya di waktu bersamaan memberikan guncangan yang besar bagi Emily.
Masih dalam keadaan linglung karena kejadian itu, Emily pergi ke bar dan berusaha melupakan kesedihannya dengan menenggelamkan diri dalam alkohol.
Saat itu sudah pukul 2 dini hari. Ketika akhirnya Emily memutuskan untuk pulang, dia keluar dari bar sendirian, dalam kondisi sangat mabuk. Dia melepas sepatu hak tingginya, dan berjalan terhuyung-huyung ke tengah jalan raya.
Pancaran lampu yang sangat terang dari sebuah mobil, yang melaju dengan kencang ke arahnya, menarik perhatiannya. Emily membeku di tempatnya berdiri, dia kebingungan dan tak dapat berpikir jernih tentang apa yang harus dilakukannya. Dia terus berdiri di tengah jalan itu, tak berdaya, dan hanya bisa menyaksikan mobil Maybach hitam yang terus melaju kencang ke arahnya.
"Aduh——" Emily terjatuh, tepat saat mobil itu mendecit dan akhirnya berhasil berhenti di depannya.
Sementara di dalam mobil itu, sebagai akibat dari rem yang diinjak dengan mendadak, penumpang yang sedang beristirahat memejamkan matanya di kursi belakang, terlempar dari tempat duduknya. Dia membuka matanya, wajahnya dihiasi ekspresi penuh ketidaksenangan. Pria itu melirik dengan tajam ke arah sopirnya, Sardi, yang juga merupakan asisten pribadinya.
"Ada apa?"
"Tuan Guntur," jawab Sardi merasa panik, butiran-butiran keringat yang keluar di dahinya menujukkan kecemasannya. "Seseorang tiba-tiba muncul di depan mobil entah dari mana, karena itu saya menginjak rem dengan mendadak. Saya yakin saya tidak menabraknya. Orang itu pasti sedang mencoba memeras kita."
"Pergi dan lihatlah."
"Baik, Tuan Guntur."
Sardi kemudian segera keluar dari mobil dan memeriksa orang yang tadi dilihatnya di depan mobil. Hal pertama yang dapat dia lihat di bawah penerangan jalan, adalah seorang wanita cantik yang saat ini tergeletak tak sadar di depan mobil. Saat Sardi menghampirinya untuk memeriksa lebih dekat, bau alkohol yang kuat langsung tercium dari tubuh wanita itu. 'Wanita ini tak terlihat seperti pemeras,' pikirnya.
"Hei, Nona! Bangunlah!"
Sardi merasa terkejut ketika dia melihat wanita itu dengan lebih jelas dari dekat, karena ternyata dia mengenal wanita itu.
'Bukankah dia Emily Badia, pacar Tuan Jaka? Kenapa dia bisa berada dalam kondisi begitu mabuk di sini?' Sardi bertanya-tanya dalam hatinya.
Untungnya, dialah yang mengemudikan mobil itu. Jika pengemudinya adalah orang lain, dia mungkin sudah tertabrak!
Sardi tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan bosnya, maka dia bergegas ke mobil dan bertanya kepada atasannya itu. "Tuan Guntur, wanita yang saat ini terbaring tak sadarkan diri di depan mobil kita adalah Nona Emily Badia, pacar tuan muda Jaka. Dia tampaknya sudah dalam kondisi mabuk berat ...."
Mata Jacob Guntur terbuka lebar, terkejut dengan penjelasan Sardi. Dia masih dapat mengingat dengan baik, wanita yang pernah diajak Jaka ke rumah sebelumnya. Seorang wanita yang sangat cantik, dengan senyumnya yang manis. Tanpa merasa ragu, Jacob kemudian memberi perintah kepada Sardi, "Angkat dia ke dalam mobil."
Setelah mendapat perintah dari bosnya, Sardi segera mengangkat Emily dan membaringkannya di kursi penumpang di bagian belakang mobil.
Karena merasakan posisi berbaringnya di kursi penumpang yang tidak nyaman, kesadaran Emily perlahan mulai kembali. Bergumam tak jelas, dia membuka matanya dan menatap kosong pada pria yang duduk di sampingnya, yang saat itu sedang menekan-nekan dahinya. Merasa bingung, Emily pun bertanya, "Kamu siapa?"
Pria di sebelahnya menoleh dan menatapnya kosong, tak ada ekspresi di wajahnya.
Setelah berusaha melihatnya dengan lebih jelas, Emily melebarkan matanya karena dia akhirnya dapat mengenali pria itu. Emily pun tergagap, "Ja ... Jacob? Ternyata ... kamu!"
Jacob mengabaikan pertanyaannya dan memerintahkan Sardi untuk mengemudikan mobil langsung menuju rumah Jaka.
Mendengar nama Jaka diungkit lagi, sudah cukup untuk kembali menyalakan api amarah yang ada di dalam hati Emily. "Aku tidak ingin pergi ke rumahnya. Aku sudah putus dan tak memiliki hubungan apa pun lagi dengannya!"
"Putus?" Jacob bertanya dengan santai, berniat memastikan, ada sedikit rasa penasaran terkandung dalam kalimatnya.
"Ya, kami sudah putus," jawab Emily terisak. Air mata mengalir di pipinya begitu dia teringat kembali tentang semua kejadian yang dialaminya malam tadi. Sambil menangis, dia melanjutkan perkataannya, "Dia telah tidur dengan wanita lain .... Dan ditahan di kantor polisi karena dicurigai atas tuduhan prostitusi!"
Dia menceritakan semua kejadian itu dengan sangat rinci dan serius, hingga terdengar seakan dia adalah seorang siswi sekolah dasar yang sedang mengadu kepada gurunya.
Jacob menyipitkan matanya yang panjang dan sipit ketika mendengar kata-katanya. 'Prostitusi? Sepertinya Jaka sudah terlalu lama tidak mendapatkan pelajaran tentang kedisiplinan, ' pikirnya.
Namun faktanya, Jacob tak pernah menuntut terlalu banyak dari keponakannya itu, karena sesungguhnya dia tak memiliki hubungan darah dengan Jaka. Dia tak keberatan jika keponakannya itu sesekali bermain dengan wanita, selama dia tetap bisa menjaga nama baik keluarga Guntur, dan tidak menyeretnya dalam kasus memalukan semacam "prostitusi".
"Jacob, kamu harus memberinya pelajaran!"
Jacob tetap mengabaikan apa yang Emily ucapkan, meskipun Emily mengulanginya kembali dengan nada penuh kemarahan. Menyimpulkan bahwa Jacob tak mendengarkan apa pun yang dikatakannya, Emily kemudian mendekati Jacob. Dia mencengkeram kerah Jacob dan menariknya mendekat ke wajahnya. Emily kemudian berkata, "Apa kamu mendengarkan apa yang baru saja aku katakan?"
Jacob mengerutkan keningnya keheranan, dan kemudian merenggut tangan gadis itu untuk melepaskan kerah bajunya, mengakibatkan Emily kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan posisi wajah berada di dekat area kemaluan Jacob.
Tanpa Emily sadari, ketika dirinya bernapas, bau alkohol yang dikombinasikan dengan napasnya yang hangat, menyebar ke seluruh area pribadi Jacob, yang hanya terpisah oleh dua lapis kain tipis.
Berada dalam kondisi seperti itu, Jacob mengatur napasnya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu harus memberinya pelajaran!" Emily berkata dengan lembut dan manja, suaranya yang memikat membuat banyak pria ketagihan untuk mendengarnya.
"Aku harus memberimu pelajaran terlebih dahulu." Jacob mendorong kepala Emily agar menjauh, dan kemudian berbisik dengan suara serak, "Bangunlah!"
Beraninya wanita ini merayunya di dalam mobilnya sendiri? Apakah Emily sengaja melakukan ini semua?
"Jaka benar-benar pria berengsek! Dan kamu ... kamu sepertinya sama saja! Semua pria di dunia ini memang berengsek ...," ucap Emily. Dia tetap menyandarkan tubuhnya pada Jacob, enggan untuk duduk tegak sebagaimana diminta Jacob. Dia bertingkah seperti anak kecil yang keras kepala, nakal dan manja.
Jika berada dalam kondisi yang berbeda, Emily mungkin tak akan berani menatap Jacob seperti sekarang, dia pasti akan merasa takut dengan kekejaman pria di sampingnya ini. Akan tetapi, karena saat ini dia sedang dikuasai oleh pengaruh alkohol, maka dia menjadi sangat ceroboh dan memuntahkan apa pun yang melintas di benaknya, tanpa memikirkan konsekuensi yang akan menimpanya kelak.
"Jaka mengatakan padaku, bahwa aku harus mulai membiasakan diri dengan hubungan terlarangnya dengan wanita-wanita lain sejak sekarang. Persetan dengannya, sungguh pria bajingan yang tak tahu malu!" Emily mengutuk Jaka dengan penuh kemarahan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Jacob dan berkata penuh emosi, "Jangan-jangan kamu juga sama seperti dia! Kamu sendiri adalah seorang CEO, pasti banyak sekali wanita di sekelilingmu, begitu banyak hingga cukup untuk memenuhi sebuah stadion sepak bola, dan para wanita itu mengharapkan dirimu sepanjang waktu ...."
Jacob mulai kehilangan kesabarannya mendengarkan kicauan Emily, perlahan-lahan ekspresi tidak senang muncul di wajahnya. Dia akhirnya menyadari, betapa sulitnya menghadapi seorang wanita yang sedang mabuk berat. Jacob terus berusaha mendorongnya menjauh, namun Emily terus saja jatuh dan menempel kepadanya seperti permen karet yang lengket. Emily benar-benar kehilangan rasa malunya di hadapan Jacob.
Rupanya, kecerobohan Emily tidak berhenti di situ saja. Dia mengulurkan tangannya, dan meletakkannya di bahu Jacob. Dengan wajah yang dipenuhi senyum mengejek, Emily bertanya kepada pria itu, "Jacob, apa kamu memiliki masalah dengan kejantananmu? Hah?"
Sungguh sebuah pertanyaan yang menohok dan menyerang harga diri seorang pria. Emily seakan sedang mencoba mempermainkan harga diri Jacob sebagai seorang pria. Mendengar pertanyaan itu, Jacob tak lagi dapat menahan rasa amarah yang berusaha dia tekan sejak tadi.
Sedangkan Emily, tanpa merasa bersalah dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, kembali tersenyum dan menatap wajah Jacob. Mata indahnya seakan bisa menghipnotis, meskipun bengkak karena menangis, akan tetapi sedikit pun tidak mengurangi keindahannya, berkilauan seperti berlian di bawah sinar bulan. Bayangan Jacob menari-nari di iris matanya, membuat seolah-olah Jacob sungguh berharga baginya.
Ketika bibirnya yang merah dan seksi terbuka untuk bicara, mereka tampak seakan sedang memikat pria untuk segera menciumnya dengan penuh gairah.
Jacob teringat, bahwa bibir itulah yang menghembuskan napas penuh aroma alkohol, yang membuatnya terganggu di sekitar area pribadinya... Wanita ini sungguh seorang iblis penuh nafsu!
"Sialan, kamu benar-benar wanita ceroboh! Kamu yang merayuku terlebih dahulu, kamu sendiri yang mencari masalah denganku."
Jacob tak dapat menahan dirinya lebih lama lagi, dia memegang bagian belakang kepala Emily dan menariknya, agar wajah gadis itu mendekat pada wajahnya. Dia kemudian dengan penuh gairah menempelkan bibirnya ke bibir Emily, membuat kata-kata Emily tertahan oleh bibirnya.
"Eh ...." Semua racauan mabuk yang belum terucap oleh bibir Emily, tertelan oleh ciuman panas yang seakan tak pernah dapat terpuaskan.
Hasrat yang tak dapat terpuaskan menguasai Jacob. Ketika dia berniat untuk bertindak lebih jauh, suara Sardi yang saat itu sedang mengemudi, menyelanya.
"Tuan Guntur, kita sudah tiba di Vila Krian." Ini merupakan vila yang menjadi tempat tinggal Jaka, di mana dia tinggal sendiri sejak dirinya dianggap telah cukup dewasa.
Jacob menggigit kecil bibir Emily dan kemudian dengan lembut melepaskan ciumannya. "Putar balik mobilnya, kita pulang ke Kediaman Tiara Abadi." Jacob memberi perintah kepada Sardi, nada suaranya penuh dengan rasa tidak senang.
"Baik, Tuan Guntur!" Sardi tidak memiliki keberanian untuk mencuri lihat apa yang sedang terjadi di kursi belakang. Namun, sebagai seorang pria normal, dia dapat mengetahuinya hanya dengan mendengarkan suara-suara yang sampai di telinganya.
'Nona Badia adalah kekasih Tuan Jaka. Tapi bagaimana bisa Tuan Jacob ....' Sardi bertanya-tanya dalam benaknya.
Suara pasangan yang bermesraan di kursi belakang terus terdengar di telinganya. Saking berisiknya hingga dia berharap dirinya tuli dan tak mendengar apa yang sedang mereka lakukan saat itu.
Mobil yang dia kemudikan melaju kencang di jalanan. Tak lama kemudian mereka sampai di Kediaman Tiara Abadi.
Jacob membantu Emily yang masih dalam kondisi mabuk keluar dari mobil, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia memeluk tubuh Emily dengan lembut, membantunya menaiki tangga dan membawanya ke kamar tidur utama di rumah itu.
Emily sudah merasa sangat lelah saat itu, dengan pekerjaannya, dan semua kejadian yang baru saja menimpanya. Begitu melihat tempat tidur di depannya, dia merasa ingin bisa tertidur dengan segera. Tetapi Jacob, yang nafsu membaranya telah dibangkitkan oleh perbuatan Emily, mana mungkin melepaskannya begitu saja.
Setelah cinta satu malam mereka...
Sore hari berikutnya, Emily akhirnya terbangun dari tidurnya yang panjang dan nyenyak. Seluruh tubuhnya terasa sakit, seakan dia baru saja digilas oleh kereta api tadi malam.
Dia menebarkan pandangan ke sekelilingnya, melihat apakah ada orang lain yang bersamanya di ruangan itu, lalu menyadari bahwa dia hanya sendirian saja di atas ranjang. Dia berbaring di atas tempat tidur, melamun dengan pandangan kosong menatap ukiran indah di langit-langit kamar. Penggalan demi penggalan ingatan akan kejadian tadi malam perlahan berkumpul dalam benaknya, membuat susunan seakan teka-teki, membentuk gambaran dan urutan kejadian ....
Blar!
Mengingat kembali setiap kejadian yang terjadi semalam, mendadak Emily merasa ingin menangis. 'Aku ... sepertinya aku telah tidur dengan seorang pria tadi malam! Dan, pria itu ... pria itu adalah Jacob, paman Jaka! Oh, Tuhan!' Emily berusaha berpikir jernih, dalam keterkejutan yang menerpanya.
Tahun ini Jacob berusia 27 tahun. Meskipun tidak ada hubungan darah antara Jaka dengan pamannya, Jacob, akan tetapi selama ini Emily selalu menganggapnya dan menghormatinya sebagai paman Jaka dalam arti sesungguhnya. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi di antara mereka berdua?!
Saat ini, Emily hanya bisa menyesali keputusannya pergi ke bar tadi malam. Andai saja dia tidak semabuk itu, dia tak akan bertemu dengan Jacob, dan mereka tidak akan ....
Kejadian ini adalah akibat dari perbuatan bodohnya sendiri!
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara ketukan di pintu kamar, membuat Emily yang tengah tenggelam dalam lamunan terkejut, isi pikirannya sama kacaunya dengan debaran jantungnya.
'Apa yang harus aku perbuat sekarang? Bagaimana aku harus menghadapi pria itu?'
Sebelum Emily selesai berpikir, suara seorang pelayan wanita terdengar dari depan pintu, "Nona, apa Anda sudah bangun?"
Mendengar suara itu, Emily menghela napas lega. Setidaknya, bukan Jacob yang saat ini ada di depan pintu kamar. "Ya, aku sudah bangun, silakan masuk."
Ketika Emily duduk dengan tegak di atas ranjang, selimut yang menutupi tubuhnya luruh ke bawah, memperlihatkan jejak-jejak percintaan semalam, yang terlihat dengan jelas di atas kulitnya yang seputih salju.
Dan sudah sangat terlambat untuk mencegah pelayan itu masuk sekarang. Pelayan wanita itu masuk ke kamar, dan dapat melihat semua bekas percintaan itu di seluruh tubuh Emily. Dengan ekspresi samar yang tidak dapat dibaca oleh Emily, pelayan itu berkata, "Saya bawakan beberapa pakaian baru untuk Anda kenakan, Nona."
Emily mengerutkan keningnya karena rasa malu. Ketika dia hendak membuka mulut menolak pakaian yang diserahkan pelayan itu, dia melihat sekilas pakaiannya yang saat ini tercecer di lantai. Emily tersipu dan berkata dengan pelan, "Terima kasih!"
Emily berusaha mengembalikan ketenangannya, saat akhirnya dia bertanya, "Di mana Paman ... Tuan Guntur?"
"Tuan Guntur sudah berangkat ke kantor, Nona." Hati pelayan wanita itu dipenuhi rasa iri, karena Emily adalah wanita pertama yang dibawa oleh Jacob ke rumah ini. Dikuasai oleh rasa cemburunya, pelayan itu tidak menyampaikan pesan yang dititipkan oleh Jacob kepadanya untuk Emily.
Emily dapat merasakan sikap permusuhan dari pelayan itu, sehingga dia enggan untuk berbicara lebih lanjut dengannya. Segera setelah pelayan itu meninggalkan ruangan kamar tempatnya berada, Emily bergegas berpakaian dan memanggil taksi. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Kediaman Tiara Abadi sebelum Jacob kembali.
Tepat setelah taksi yang dinaiki Emily pergi, Jacob baru tiba kembali di Kediaman Tiara Abadi.
Dia merasa kecewa setelah menyadari bahwa kamarnya telah kosong, Emily sudah benar-benar pergi.
Setelah beberapa saat, Jacob kemudian menarik selimut yang masih memiliki sisa aroma Emily padanya. Dia melihat bekas tetesan darah di seprai putih di atas ranjang itu, bekasnya terlihat sangat jelas, menegaskan bahwa Jacob adalah pria pertama yang melakukannya dengan Emily.
Tatapannya beralih dari seprai itu, dan berbagai hal melintas di benaknya.
Sebagai seorang pria dewasa, Jacob seharusnya bisa bertahan dan menolak godaan Emily tadi malam. Akan tetapi, alih-alih melakukan itu semua, dia lebih memilih untuk bertindak berdasarkan instingnya.
Dia harus mengakui, bahwa Emily telah berhasil merayunya. Kontrol diri yang selama ini dia banggakan, telah runtuh di hadapan Emily. Rayuan gadis itu telah membangunkan seekor binatang buas dalam diri Jacob, yang telah tertidur untuk waktu yang lama. Tadi malam, ketika Jacob memeluk Emily, dia membiarkan dirinya kembali tenggelam, lagi dan lagi dalam keinginan untuk memenuhi hasratnya ....
Karena Emily-lah yang telah membangkitkan binatang itu dari dalam dirinya, maka tak mungkin dia akan membiarkan gadis itu pergi dan lari begitu saja.
...
Emily memutuskan untuk pulang ke apartemennya dan tidak pergi bekerja setelah dia meninggalkan Kediaman Tiara Abadi. Dia menelepon kantor tempatnya bekerja dan meminta cuti selama satu hari.
Setiba di apartemen miliknya, Emily beristirahat hingga keesokan harinya. Pagi hari itu, Emily terbangun, dan setelah menyiapkan dirinya, dia pun berangkat bekerja.
Melihat mobil Aston Martin milik Jaka yang terparkir di depan gerbang perusahaan tempatnya bekerja, Emily menyimpulkan bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat berat bagi dirinya.
Rosa dengan anggun melangkah keluar dari mobil Jaka, mengenakan sepatu hak tingginya, dengan gaya yang luar biasa dan senyum manis yang terpasang di wajahnya.
Ketika Jaka kemudian ikut melangkah keluar dari mobil, dia melihat Emily dan mengabaikannya. Jaka kemudian menarik Rosa untuk mendekat pada dirinya, dan memberikan sebuah ciuman panas yang penuh gairah ke bibir Rosa, tanpa memedulikan ada banyak orang di sekitarnya.
Rosa terengah-engah dan hampir kehabisan napas karena ciuman dari Jaka, dia tak menyangka Jaka akan melakukannya.
"Jaka, semua orang sedang melihat kita. Kamu jangan berbuat begitu ...." Rosa berkata dengan nada genit, tangannya mengusap lembut dada Jaka.
Jaka kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping Rosa dan berkata dengan menggoda, "Kamu benar-benar pandai merayu."
Emily melirik mereka berdua dengan jijik. Dia kemudian berjalan lurus memasuki gerbang, tanpa menoleh sama sekali ke belakang.
Jaka sengaja melakukan semua drama itu agar Emily melihatnya, demi memberinya sebuah peringatan. Sayangnya, Emily tidak memberikan reaksi seperti yang dia harapkan, dan terus berjalan dengan santai seperti tak terjadi apa pun. Melihat reaksi dingin Emily, Jaka tiba-tiba merasa sakit hati, bahkan marah.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang."
Jaka mendorong Rosa agar menjauh dengan lembut, dia kemudian menaiki mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Sejak kejadian malam itu hingga saat ini, tak terbersit sedikit pun rasa bersalah di benak Jaka akan apa yang telah dia lakukan. Mempertimbangkan status sosialnya, dia menganggap, bermain-main dengan wanita adalah hal yang lumrah dan wajar bagi dirinya. Lalu, apa masalahnya?
Emily adalah wanita yang sudah dia pilih untuk dia nikahi pada akhirnya, dan tidak ada yang dapat mengubah rencana itu. Itu adalah cinta terbaik yang dapat dia tawarkan kepada Emily.
Apa yang dia lakukan di depan Emily baru saja adalah demi kebaikan Emily sendiri. Jika kejadian seperti itu saja tidak bisa dia terima, bagaimana mungkin dia dapat menjadi seorang istri yang lembut dan pengertian bagi Jaka?
Sementara itu, di Perusahaan Hogan.
Emily memutuskan bahwa cara terbaik untuk mengatasi pengalaman traumatis yang dia alami adalah dengan fokus dan menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Namun dalam satu atau lain cara, ada saja yang mengganggu rencananya untuk dapat berjalan dengan baik.
"Hei, Rosa! Apa Tuan Jaka sudah memutuskan hubungannya dengan Emily? Lihat betapa tertekannya dia saat ini!"
"Apalagi menurutku, kamu dan Tuan Jaka jauh terlihat lebih cocok sebagai pasangan!"
"Aku sudah menduganya! Bagaimana mungkin tuan muda Jaka sanggup bertahan menghadapi wanita semacam dia? Rosa dan tuan muda Jaka lebih cocok untuk satu sama lain ...."
Mendengarkan komentar dan sanjungan dari rekan-rekan kerjanya, membuat ego Rosa meningkat dan membangkitkan kesombongannya. Berpura-pura tidak senang mendengar itu semua, dia menjawab, "Jangan membicarakan hal ini lagi! Aku dan Emily adalah teman baik. Aku tak mau menyakitinya ...."
"Apa kamu sudah selesai dengan semua kepalsuanmu?" ucap Emily sambil menatapnya dengan jijik, "Jika sudah, tolong berhentilah, aktingmu membuatku merasa jijik."
"Kenapa kamu tega berkata seperti itu padaku, Emily?" Rosa menggigit bibir bawahnya, dia tak mau menelan kata-kata Emily begitu saja.
Rekan kerja di sekitar Rosa tak ada bedanya, semuanya oportunis dan licik. Mereka melihat kesempatan dan melancarkan provokasinya, "Ya ampun! Coba lihat tingkah laku wanita ini! Kamu tak perlu berbicara dengan nada sopan kepadanya, Rosa! Dia pantas mendapatkan ini semua!"