Bab 1

Semesta ini baginya adalah kutukkan. Dia mendengar dan mengabulkan harapan yang entah. Sementara keinginan yang benar-benar, tidak dikabulkan.

Apa perjanjianya di lauhul mahfuz.

Mungkinkah, dalam perjanjian itu, aku hanya mencintai orang sekali?

Lalu selesai?

Aku tidak melewati usia, saat semua berpusat pada diriku, mengalami semua remaja alami, nonton bioskop bersama, makan berdua dan sekedar keliling kota hanya untuk temu kangen. Aku tidak mengalami berteriak-teriak senang saat teman pria menyanyikan sebuah lagu untuk gadisnya. Tidak mengalami, ketika bukuku dipinjam lalu buku itu ditulis dengan penuh pesan. Betapa hambarnya hidup seperti itu.

Dunia berputar hanya dengan Arsenna sebagai pusatnya. Selalu ke bangku pinggir jalan, seolah dia selalu ke sana dan mengejutkan.

Seolah terkutuk dalam ketidakbahagiaan seorang gadis dengan mengabaikan semua kegembiraan remajaku. Begitulah semua itu terus berjalan! Menyedihkan.

***

Itu harusnya musim panas. Tetapi matahari sering kali tidak muncul. Suasana yang menakutkan, cuaca begitu dingin dan ... sepi.

Musim pandemi baru beberapa bulan tiba di negaranya. Dia muncul di depan rumah.

“Beberapa karyawan di ‘R’ kan.”

R kepanjangannya adalah rasionalisasi, kata yang lebih halus dari PHK.

“Aku masuk dalam daftar, meski tak punya kesalahan apa-apa.” lirih.

“Nggak bisa gitu dong, kok main R aja”

Ratih hanya menatap sedih.

“Andin nggak bisa seenaknya. Itu bukan perusahaan dia. Juga bukan perusahaan keluarga. Pliss, deh.” Laras setengah berteriak.

“Bukan Andin.” Ratih menggeleng.

Laras diam. Selalu merasa dilema, tak bisa berpura-pura membelanya, juga tak bisa mengenyahkan perasaan, bahwa dia juga menyayangi perempuan rapuh itu.

Dear Diary

Tidak banyak yang bisa kulakukan dalam masa pandemi, kecuali menjadi salah satu makhluk rebahan dengan semua denting suara piring dan desisan minyak dari penggorengan. Atau kacaunya suara rumpian tetangga yang berteriak-teriak dari rumah mereka. Ada rasa sedih, kehilangan rutinitas yang bisa membuatku bersemangat bangun dan menyiapkan segala sesuatu.

Dalam mimpi-mimpi buruk. Aku terus bermimpi masih menjadi bagian dari ruang kantor dan mendengar beberapa gosip. Memeriksa angka-angka dan deadline dari semua laporan harian dan mingguan. Masih bersemangat memberi catatan-catatan kecil dari setiap tanggal itu, mana yang sudah mendekati deadline dan mana yang tidak.

Melihat lipatan-lipatan rapi baju yang dijadwalkan setiap hari dari tanggal satu tanggal tiga puluh. Outfit yang mesti berbeda, rapi dan terencana.

Itu terulang lagi, sekali ini aku tak bisa kembali!

Aku menangis kadang-kadang, mimpi-mimpi buruk itu begitu menyesakkan. Apa aku terlalu serakah, karena menginginkan dua hal sekaligus.

Ah, Ars. Aku rindu, apa yang harus aku lakukan.

Laras menghentikan bacaannya, menatap wajah beku di depannya. Mungkin dia tak pernah mengira akan mati semuda itu, hidupnya akan panjang dan masih banyak kesempatan. Mungkin dia pikir, masih bisa menulis mimpi-mimpinya.

Namun, meninggal tetap saja hal yang paling misterius dan tak bisa dibantah!

Laras menatap wajah pucat yang dikelilingi alat medis dari kaca kecil depan ICU. Ah, rasanya rindu dengan mata coklat yang sering penuh cahaya. Penuh cinta yang tak terkatakan.

“Rasanya sangat tidak menyenangkan,” katanya sambil tertawa.

Setiap kali melihat cermin, Ratih merasa waktu telah begitu jauh berlalu. Dunia yang tua dan gersang.

Dia berbohong tentang semuanya. Menyembunyikan status dan perasaannya. Selalu berlari, dan tak jua menemukan tempat.

“Ras, apa rasanya mati?”

“Ras, pernah nggak kamu coba berbaring di bawah langit biru?”

“Ras, apa yang sedang dipikirkan Senna?”

Bab 2

Pada tahun itu, lima tahun lalu, saat asyik membenahi hidupnya yang sedikit berantakan. Dia pikir dunia juga tengah berlari kepadanya. Apakah itu waktunya, apa akhirnya dia menemukan, kemudian menjalani hidup normal sama seperti perempuan lainnya.

Laras menoleh ketika terdengar suara langkah kaki. Riza suaminya, menjemputnya untuk pulang. Laki-laki itu merasa tak perlu bertanya perkembangan Ratih. Wajah istrinya menjelaskan semuanya. Mereka lalu duduk di kursi yang di sediakan di situ.

“Bagaimana Raya.”

“Di rumah Mami.”

“Matamu sembab. Kau masih menangis.”

Laras tak menjawab.

“Apa Senna masih belum diketahui keberadaannya?”

Riza menggeleng.

“Tadi ....” Riza kelihatan ragu-ragu.

“Tadi apa?

“Rendy menghubungi Mas. Mobilnya sudah ditemukan. Keadaannya hancur!” Laras menutup mulutnya, mencegah jeritan keluar dari mulutnya.

Riza memandang istrinya dan menghela napas, seolah ada hal lain yang lebih mengejutkan daripada itu. Laras mengejarnya dengan tatapan yang sama. ‘Apa lagi?’

“Rem mobilnya blong.”

“Hah!” Mata Laras membulat.

“Ada yang sengaja membuatnya begitu.” Sambung Riza

Laras masih belum bisa mencerna, otaknya seperti blank sesaat.

“Pembunuhan!” Laras merasa dirinya hampir pingsan mendengar itu. Pembunuhan?

“Astaga. Ratih ....” tak ayal dia terjatuh lunglai, lemas seketika. Laras menangis lagi. Sesenggukkan.

“Bagaimana dengan Andin, Mas.” Riza tak sempat menjawab, seseorang mendekat. Jingga. Adiknya Ratih. Riza menggeleng, sebagai bertanda mencegah untuk bicara lagi.

“Kak Laras, Mas Riza.” Jingga menyapa “biar aku yang gantian menunggu di sini.” Laras bangun dari duduknya dan memeluk gadis itu.

“Yang tabah ya, Jingga. Kabarin Kakak kalau dia bangun.” Jingga hanya tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya Ratih ditinggal juga tak mengapa, ada perawat dan dokter yang selalu mengawasinya. Tetapi mereka ingin menjadi orang pertama mengetahui ketika Ratih sudah bangun. Mereka ingin Ratih tak merasa sendirian saat dia bangun.

Dalam perjalanan pulang, mereka berdua membisu. Hening begitu lama, Laras memejamkan mata, kelebatan beberapa bayangan menghantui benaknya.

Senna. Andini.

Ratih!

***

Sashi Andini.

Laras menatap wanita itu, yang dilihat darimana saja tetap anggun dan elegan. Tak ada satu pun dari tubuhnya menjadi sia-sia. Terlepas figur publik yang sekarang dicintai banyak orang, Laras mengakui wanita jawa keturunan bangsawan itu sempurna.

Jadi bagian mananya, wanita sempurna itu bisa dikalahkan oleh seorang Dayang Ratih. Bagian mananya dari perempuan itu, yang tidak bisa di lihat dengan baik oleh Senna.

“Andin.”

“Kita telah saling mengenal bukan?” Andini melepas kacamata hitamnya, bola matanya yang legam langsung menohok ke dalam mata Laras.

“Kau juga ingin menginterogasiku seperti polisi-polisi itu?” Andini tertawa. Berita kecelakaan Senna, suaminya sudah menyebar kemana-kemana, rumor Andini diselingkuhi juga mewarnai rumor itu. Tidak sedikit bullyan yang Ratih terima, tentu saja semua warga negara di negeri ini akan sangat senang hati membela Andini habis-habisan, sekaligus membully Ratih habis-habisan, apalagi mengetahui latar belakang Ratih yang biasa saja, makin semangat saja bullyannya.

“Aku heran, kenapa ya, wanita selingkuhan siapapun itu, tidak lebih cantik daripada sang istri sah.”

“Wanita tak tahu malu.”

“Cih mati saja.”

“Lakinya Sashi sih ganteng. Tapi sayang tukang selingkuh.”

“Kabarnya sang selingkuhan cinta pertama si laki sih.”

“Kemaruk, udah beruntung banget dapet wanita secantik Sashi, masih aja main belakang.”

“Pasti main dukun nih cewek.”

“Sebenarnya dia cantik juga sih, vibesnya mirip Desi Ratnasari jaman dulu, manis-manis gimana gitu.”

“Le mineral kali.”

“Hus, ga boleh sebut merk.”

...

Bab 3

Perempuan itu tengah membintangi drama yang tengah ditayangkan oleh sebuah platform layanan video. Drama yang juga banyak dibicarakan orang-orang berbagai sosial media.

“Bukan kah dunia ini sudah mati sejak awal. Tidak ada yang benar-benar hidup. Kita hanya palsu dalam peran masing-masing.” Andini tertawa “ada aktris yang benar-benar membunuh? Aku bisa memerankan itu lebih dari siapapun.”

Sashi Andini memerankan istri sempurna yang dikhianati begitu rupa oleh suaminya. Cerita sedang trend kalangan wanita dan ibu-ibu, apalagi saat publik mengetahui dalam kehidupan real-nya sang pemeran benar-benar dikhianati oleh suaminya.

Laras bergidik, menatap mata dingin milik wanita itu.

“Kau sakit jiwa.” Bagaimana bisa dia bicara tentang pembunuhan seolah sedang membicarakan kematian seekor semut. “Tetapi kau salah. Senna belum ditemukan.”

Andini tidak terkejut. Tentu saja dia sudah tahu tentang itu.

“Ratih, dia telah kehilangan bayinya. Juga tengah berada dalam ambang maut. Tadinya aku ingin menunjukkan itu agar kau sedikit menyesal. Tapi melihat sikapmu, aku ragu. Kau sakit jiwa. Melihat reaksimu, sepertinya kau lebih mungkin melakukan perayaan atas itu.” Laras tersenyum sinis. “Pertama kalinya aku merasa gembira, bahwa Senna lebih memilih Ratih.”

“Sampai saat ini, aku masih istri sah Senna, Larasati.”

“Jangan lupa Ratih juga istri Senna, meski mereka hanya menikah sirih.” Andini mengertakkan rahangnya. Gadis itu menarik napas lalu menghembusnya perlahan. Lalu tersenyum tipis. Berusaha terlihat elegan.

“Ohya, aku tak sudi merendahkan diriku menyentuh perempuan rendah sepertimu. Seperti dia.” Andini memasangkan kacamatanya lagi.

“Kami tak serendah itu. Kau pasti tahu persis, sebelum kau mengenalnya, kami telah saling mengenal sangat lama.”

“Sebelum kalian saling mengenal, kami telah dijodohkan.” Laras terdiam. Dia juga mengetahui itu.

Andini melangkah, meninggalkan Laras yang tak bisa lagi berkata-kata. Di luar wartawan banyak menunggu sang selebriti yang sedang naik daun itu.

“Oh ya, kalau saja kau lupa. Bukankah kau juga sakit jiwa?” Andin tersenyum setelah mengatakan itu. Laras memandang tak mengerti, tapi dia tak ingin memikirkannya.

Seorang perempuan lebih muda mengikutinya. Sashi Manggali, manager sekaligus adik perempuan Andini. Laras juga tahu, Manggali punya peranan besar meng-ekspos Ratih demikian rupa. Tentu saja demi memikirkan popularitas kakaknya, sang istri sempurna yang tersakiti.

Laras mengusap sudut matanya. Rendy, yang juga merupakan salah satu teman sekolahnya dulu, sekarang berkerja di kepolisian itu keluar dari sebuah ruangan. Laras segera mengejar dan mensejajari langkah Rendy.

“Kenapa Andin tidak ditangkap, Ren.”

Rendy menatap laras sejenak, dia hanya tersenyum dan terus melangkah. Mereka berhenti di pintu masuk, saat melihat kerumunan wartawan mengelilingi Andini dan adiknya.

“Dia benar-benar cantik.” Rendy menggeleng-geleng.

“Rendy!” tegur Laras tak suka.

“Bukan Andin. Alibinya sempurna.”

Laras tertawa, “kau percaya? Dia bisa menyuruh orang lain.”

“Mereka tidak lagi tinggal serumah. Andin bahkan tidak berkomunikasi lagi dengan Senna.”

“Lalu ...?” Rendy menunjuk seseorang dengan dagunya. Laras menoleh kearah yang ditunjuk Rendy. Siluet seorang wanita melangkah ke arah mereka, makin dekat dan kian terlihat jelas oleh retinanya.

“Diara ...?” Mata Laras terbelalak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED