Tak seorang pun menyambut kedatangannya, semua orang ingin mengusirnya.
Wenny merasa konyol. Tatapannya yang dingin menatap wajah Landy, Hana dan Andy satu per satu. Kemudian, dia menarik lengannya dari telapak tangan Hendro dengan sekuat tenaga. Wenny mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum, "Baiklah, aku akan pergi."
‘Ingat, kalianlah yang mengusirku!’
Wenny berbalik dan pergi.
Namun, tak lama kemudian Wenny kembali dan menyelipkan sehelai rambutnya ke belakang telinganya. "Pak Hendro, tahukah kamu kenapa aku datang ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional hari ini?"
Hendro menatap wajahnya yang putih dan lembut, terlihat makin cantik.
Hendro tampak acuh tak acuh, jelas dia tidak tertarik untuk mengetahuinya. Suaranya terdengar dingin, "Wenny, kalau kamu terus menggangguku seperti ini, bakal membuatku kesal."
Wenny tiba-tiba melangkah maju dan tersenyum padanya, "Aku datang carikan dokter tradisional untukmu."
Wenny berkata sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkannya kepada Hendro, "Ini untukmu."
Hendro menunduk dan melihat sebuah kartu nama menguning yang tipis.
Pada kartu itu tertulis, [Seorang dokter tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang mengkhususkan diri dalam mengobati semua jenis impotensi, ejakulasi dini dan ketidaksuburan, membantumu mendapatkan kembali kegembiraan menjadi seorang pria.]
Nomor kontak: 138XXXX8888.
Wajah Hendro yang tenang tampak berubah, "..."
Wenny memasukkan kartu nama itu ke saku jasnya, "Hana sakit, begitu juga dengan Pak Hendro, kalian semua harus berobat."
Selesai berkata, Wenny berbalik dan pergi.
Tangan Hendro tiba-tiba mengepal. Dia mendapati bahwa wanita ini selalu punya cara untuk membuatnya marah!
Hana berkata, "Hendro, lupakan saja. Jangan peduli pada Wenny. Dia tidak pantas kita habiskan waktu untuknya."
Landy mengangguk, "Ya, kenapa Dewa C belum datang?"
Ketika menyebut Dewa C, semua orang menjadi gugup.
Dewa C adalah harapan Hana.
Hendro menunduk dan melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu yang disepakati telah lewat, tetapi Dewa C belum juga datang.
Pada saat ini, ada petugas medis yang masuk, "Pak Hendro."
Mata Hana, Andy dan Landy berbinar, "Apakah Dewa C sudah datang?"
Petugas medis memandang Hendro, "Pak Hendro, Dewa C sudah datang."
Apa?
Hendro memandang keluar, dia tidak melihat siapa pun, yang ada hanya sosok Wenny.
Wenny berbelok di sudut dan menghilang.
Hendro mengerutkan kening, "Aku tidak ketemu Dewa C."
Petugas medis, "Dewa C sudah datang dan pergi."
"Kenapa?" Raut wajah Hana, Andy dan Landy berubah drastis. "Kenapa Dewa C pergi? Dia belum menyelamatkan Hana."
Petugas medis meminta maaf, "Maaf, Dewa C tidak akan menyelamatkan Nona Hana lagi."
Wajah Hana yang menawan menjadi pucat, ‘Dewa C tidak mau menyelamatkannya!’
‘Kenapa?’
Kegembiraan tiba-tiba menghilang, semua orang tercengang.
Hana duduk lemas, "Kenapa Dewa C tidak menyelamatkanku? Kenapa?"
Andy dan Landy segera memeluk Hana dan menenangkannya dengan lembut, "Hana, sabar. Kita akan menemukan cara untuk mengundang Dewa C lagi. Kamu pasti akan sembuh."
Wajah Hendro tiba-tiba berubah murung, dia memandang koridor yang kosong dengan dingin dan berbahaya.
...
Wenny meninggalkan rumah sakit, seseorang memanggilnya, "Wenny."
Wenny berhenti sejenak, lalu berbalik.
Itu Landy.
Landy mengejarnya.
Landy menghampiri Wenny, "Wenny, ini untukmu."
Wenny menunduk dan melihat cek senilai empat puluh juta.
Landy, "Wenny, Pak Hendro tidak menyukaimu, jadi berhentilah mengganggu Pak Hendro dan segera kembalikan Pak Hendro pada adikmu. Kenapa kamu tidak bisa mengalah pada adikmu? Segera bercerai dengan Pak Hendro dan bawa uangnya kembali menjalani hidupmu di pedesaan."
Wenny merasa ironis. Kalau saja dia tidak melakukan tes DNA secara diam-diam terhadap Landy dan Hana, Wenny pasti menyangka bahwa Hana-lah anak kandungnya. Sayangnya, Hana bukan anak kandungnya.
Landy itu ibu tirinya Hana.
Namun, dia hanya peduli pada Hana, bukan putri kandungnya.
Wenny tahu kalau Landy tergila-gila pada Andy, sehingga dia pun mencintai Hana.
Wenny menatap Landy dan melengkungkan bibirnya. "Apakah posisi Nyonya Jamil hanya segitu harganya atau hanya aku yang layak harga segitu?"
Landy tertegun, lalu membantah, "Wenny, Ibu melakukan ini demi kamu. Tempat ini tidak cocok untukmu..."
‘Ibu?’
Sebutan yang asing ini membuat Wenny tersenyum, "Kamu sudah pernah mengantarku ke pedesaan, sekarang kamu ingin mengantarku untuk kedua kalinya. Kamu benaran ibu yang baik!"
Wenny tidak memandangnya lagi, dia masuk ke dalam taksi dan pergi.
...
Di dalam taksi.
Wenny duduk di kursi belakang. Dia mengeluarkan permen dari tasnya, lalu membuka bungkusan permen dan memasukkan permen itu ke dalam mulutnya.
Pak Tua memandang gadis itu melalui kaca spion. Gadis itu mengenakan gaun dan memiliki temperamen yang anggun, yang merupakan aura yang dipancarkan oleh orang yang kuat.
Namun, setelah mengamati dengan teliti, dia menemukan bahwa kulitnya putih, tubuhnya di balik gaun itu sangat kurus sehingga tampak sangat rapuh seolah-olah bisa patah kalau ditekuk sekali saja.
Pak tua itu juga punya putri seusianya, jadi dia tersenyum dan berkata, "Nona, kenapa kamu menyukai permen?"
Wenny mendongak, angin sepoi-sepoi dari jendela meniup rambutnya, dia tersenyum lembut, "Iya, makan permen tidak terasa pahit."
...
Landy tercengang di tempat, dia melihat Wenny masuk ke mobil dan pergi.
Pada saat ini, seseorang datang, "Bu Landy."
Landy menoleh dan melihat bahwa itu adalah Fendy Ongi, direktur Rumah Sakit Pengobatan Tradisional.
Landy segera melangkah maju, "Halo, Pak Fendy, kamu memiliki jaringan kontak terluas. Apakah ada cara untuk meminta Dewa C merawat Hana?"
Fendy, "Bu Landy, kebetulan aku kenal Dewa C dan bisa mengenalnya padamu."
Landy sangat senang, "Benarkah? Terima kasih, Pak Fendy."
Fendy memandang ke arah perginya Wenny, senyum jahatnya muncul di wajahnya, "Bu Landy, apakah itu putri sulungmu yang berasal dari pedesaan? Aku tak sangka putrimu begitu cantik. Aku kira baru saja melihat seorang dewi."
Senyuman di wajah Landy menghilang, ekspresi di wajahnya menjadi tenang dan acuh tak acuh.
Vila Keluarga Cladia.
Pada malam hari, Landy sedang duduk menunggu Andy di sofa ruang tamu mengenakan gaun tidur sutra.
Dia adalah wanita cantik jelita sejak muda. Nando sangat mencintainya dan memanjakannya. Kemudian, dia menikah lagi dengan Andy, yang mewarisi bisnis dan perusahaan Nando, membuat kariernya semakin besar. Landy menjadi seorang nyonya anggun. Dia sangat memperhatikan perawatan selama ini, sehingga masih tetap tampak pesona.
Saat ini, pintu villa dibuka oleh pembantu dan Andy pulang.
Landy langsung tersenyum senang, melangkah maju untuk menyambutnya dan melepaskan jasnya, "Sayang, kenapa kamu pulang begitu telat?"
Berbeda dengan Nando yang jujur dan membosankan, Andy tampan dan menawan sejak muda. Setelah menjadi bos perusahaan, dia menjadi lebih bergaya dan membuat Landy terpesona.
Andy, "Aku ada dinas malam ini."
Landy tiba-tiba mencium aroma parfum di jas Andy. Dia mengenal aroma parfum itu, parfum itu berasal dari sekretaris wanita yang baru saja direkrutnya.
Landy berkata dengan marah, "Sayang, kamu bersama sekretaris itu lagi?"
Andy mengerutkan kening dan berkata dengan kesal, "Landy, kenapa kamu begitu curiga lagi? Dewa C tidak mau merawat Hana, Hana sedang dalam suasana hati yang buruk. Kalau ada waktu, tolong hibur Hana! Aku lelah, aku mau naik untuk beristirahat!"
Andy ingin naik ke atas.
Landy tiba-tiba berkata, "Aku punya cara untuk mengundang Dewa C."
Andy berhenti sejenak dan segera berbalik. Dia merangkul bahu Landy dan berkata, "Landy, kamu hebat banget. Kamu tidak pernah mengecewakanku. Landy, kamu adalah sayangku."
Andy sangat pandai membujuk wanita, dia memuaskan Landy.
Landy bersandar dalam pelukan Andy dan menatapnya genit, "Aku punya syarat. Kamu harus pecat sekretarismu!"
Andy, "Tidak masalah, aku akan memecatnya besok."
Sambil berkata, Andy menggendong Landy.
Tubuh Landy menjadi lemas, matanya berbinar, "Bukankah kamu baru saja bilang sudah lelah?"
Gaun tidur Landy terbuka, memperlihatkan celana dalam renda yang seksi. Andy berkata dengan nakal, "Kamu terlihat sangat seksi, siapa yang bisa menolaknya?"
Landy memukulnya, "Kamu jahat banget..."
Andy tersenyum nakal, "Kamu menyukainya, bukan?"
...
Hari berikutnya.
Wenny menerima telepon dari Landy di apartemen.
Landy sangat ramah, "Wenny, waktu di rumah sakit itu salah Ibu. Ibu sudah siapkan hidangan kesukaanmu di atas meja. Pulanglah."
Fany yang ada di dapur menjulurkan kepalanya, "Wenny, jangan pergi. Dia jalangnya Andy, sudah tua masih juga memedulikan perasaan. Tidak ada harapan untuknya."
Wenny berkata dengan tenang, "Aku sibuk."
Dia ingin menutup telepon.
Namun, Landy berkata, "Wenny, saat kamu lahir, ayahmu mengubur sebotol arak untukmu dan mengeluarkannya saat kamu dewasa. Aku telah menggali arak tersebut, ayo pulang."
Kaki Wenny agak gemetar. Landy tahu bagaimana memanfaatkan titik lemahnya.
...
Wenny datang ke vila Keluarga Cladia. Andy dan Hana tidak ada di sana. Landy benaran siapkan hidangan mewah, ada juga sebotol arak di atas meja.
Tulisan [arak] ditulis oleh ayahnya, agak kaku. Ayah tidak berpendidikan tinggi, tetapi dia memulai bisnisnya sendiri. Tidak seperti Andy, yang saat itu sudah menjadi mahasiswa.
Wenny perlahan membelai tulisan tersebut. Dia juga memiliki masa kecil yang bahagia, ayahnya paling menyayangi Wenny.
Landy sedang dalam suasana hati yang baik hari ini, wajahnya penuh senyuman. Dia membuka botol arak dan menuangkan dua gelas, satu untuknya dan satu untuk Wenny.
"Wenny, ayo bersulang."
Wenny menatap Landy dan bertanya dengan dingin, "Kenapa ayahku meninggal saat itu?"
Pertanyaan ini membuat tangan Landy gemetar dan arak dalam gelas hampir tumpah.
Tatapan Landy sedikit mengelak, "Wenny, ayahmu meninggal karena... sakit. Kamu tidak akan mengerti kalau aku memberitahumu. Kamu bukan dokter!"
Wenny mencibir dan perlahan-lahan meminum arak tersebut. Dia pasti akan cari tahu bagaimana ayahnya meninggal.
Wenny meletakkan gelas kosongnya, "Aku masih ada urusan lain, aku pergi dulu."
Wenny ingin bangun dan pergi, tetapi Fendy muncul dan berjalan menghampirinya.
Wenny mengerutkan kening, "Siapa kamu?"
Fendy sudah setengah baya dan terlihat sangat anggun, tapi dia menatap Wenny dari atas sampai bawah sambil tersenyum cabul.
Landy meletakkan arak di tangannya, "Wenny, ini Pak Fendy dari Rumah Sakit Pengobatan Tradisional. Dia kenal Dewa C dan bisa meminta Dewa C untuk mengobati Hana."
Wenny memandang Fendy, ‘dia kenal Dewa C?’
Hiks.
Wenny tersenyum, "Lalu?"
Landy pun tidak berpura-pura ramah lagi, "Wenny, tidurlah dengan Pak Fendy sekali saja, maka Hana akan selamat."
Demi menyelamatkan Hana, ibunya malah memintanya untuk tidur dengan seorang pria?
Jadi ini sebabnya Landy memintanya pulang.
Wenny merasakan badannya menjadi lemas dan panas, sangat panas.
‘Ada yang salah.’
Wenny memandangi botol arak itu dan menyadari bahwa Landy telah memberinya obat dalam arak ayahnya.
Apa lagi yang tidak bisa dilakukan ibunya?
Mata Wenny perlahan memerah. Dia menatap Landy dengan penuh kekecewaan.
Wenny tidak tahu apa kesalahannya, kenapa dia tidak pernah dicintai?
Landy menghindari tatapannya dan berbalik menatap Fendy, "Pak Fendy, kuserahkan dia padamu."
Fendy menggosok tangannya dengan gembira, dia langsung bergegas ke Wenny, "Cantik, ayolah! Kamu begitu cantik, biar kulihat betapa genit dirimu di atas ranjang!"
Landy sudah pergi.
...
Begitu Landy pergi, Fendy jatuh pingsan di lantai.
Pipi Wenny terasa seperti terbakar, obat yang diberikan Landy sangat kuat.
Wenny mengulurkan tangan ke pinggangnya, mencoba mengambil jarum perak.
Namun, pinggangnya kosong. Gawat, jarum perak tertinggal di vila.
Wenny hanya bisa bergegas ke vila. Dia belum kembali sejak pindah dari sini.
Dia pergi ke kamar utama untuk mencari jarum perak, tetapi tidak menemukannya.
Mungkin sudah dibuang Mbak Nur saat berkemas.
Wenny tidak kuat minum. Sekarang efek dari arak mulai terasa. Dia merasa pusing. Kesadaran yang selama ini dia coba pertahankan juga ikut terpengaruh oleh panas yang menjalar di tubuhnya. ‘Ugh, panas sekali~’
Suara langkah kaki terdengar dari luar pintu, ada yang pulang.
‘Apa Hendro sudah pulang?’
Mata Wenny berbinar.
Hendro membuka pintu, tubuh seseorang jatuh lemas ke pelukannya.