Tati memandang sekeliling ruangan yang luas dengan rasa takjub. Ia masih sulit mempercayai bahwa hari ini adalah hari pertamanya bekerja di rumah mewah milik keluarga Bara dan Dina. Sebagai seorang pembantu usia 35 tahun yang baru saja kehilangan suami, pekerjaan ini menjadi penyelamat baginya. Dengan satu anak perempuan yang tinggal bersama sang nenek di kampung, Tati harus berjuang keras untuk memberikan kehidupan yang layak bagi buah hatinya.
"Sini, Tati. Aku perkenalkan padamu, ini Bara, suamiku," ujar Dina dengan senyum ramahnya.
Tati menundukkan kepala dan memberikan salam sopan. "Senang bertemu, Pak Bara," ucapnya pelan.
Bara tersenyum ramah. "Senang juga bertemu denganmu, Tati. Selamat datang di rumah kami. Semoga kamu bisa bekerja sama dengan baik."
Tati hanya mengangguk. Hatinya berdebar-debar saat Bara memandangnya dengan sorot mata tajam. Entah kenapa, Tati merasa ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu. Sesuatu yang membuat hatinya berdesir.
Hari-hari berikutnya, Tati menjalani rutinitasnya dengan penuh dedikasi. Ia membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan melakukan semua tugas rumah tangga dengan cermat. Setiap kali ia melihat Bara, hatinya berdegup lebih cepat. Begitu juga dengan Bara, yang kerap diam-diam memandang Tati dengan penuh kekaguman.
Suatu sore, ketika Dina sedang sibuk mengurus bisnisnya, Bara menyelinap masuk ke dapur tempat Tati sedang memasak. Mereka berdua terdiam sejenak, hingga akhirnya Bara memecah keheningan.
"Tati, aku ingin minta tolong padamu," ujarnya dengan suara lembut.
Tati menoleh, terkejut melihat Bara begitu dekat. "Apa yang bisa saya bantu, Pak Bara?"
Bara tersenyum. "Cukup panggil aku Bara, Tati. Tak perlu formalitas seperti itu di antara kita."
Tati mengangguk, merasa hatinya berbunga-bunga. "Baik, Pak... ehm, Bara. Ada apa?"
Bara menatap Tati dengan penuh keinginan. "Apakah kamu bisa membantuku memilih kain untuk sofa di ruang tamu? Aku tahu kamu memiliki selera yang bagus."
Tati setuju dengan senyum malu-malu. Mereka berdua pun duduk bersama di ruang tengah, memilih kain yang sesuai. Percakapan ringan pun mengalir, dan Tati semakin merasa nyaman di dekat Bara. Mereka tertawa bersama, menikmati waktu tanpa disadari bahwa keintiman yang mereka rasakan adalah cinta terlarang.
Sementara itu, Dina semakin sibuk dengan bisnisnya. Bara merasa kekosongan dalam rumah tangganya. Meskipun ia memiliki istri dan dua anak, tapi kehadiran Tati membuatnya merasa hidupnya semakin berwarna. Begitu juga dengan Tati, yang mulai terus merasa tergoda oleh pesona dan perhatian Bara.
***
Matahari baru saja terbit di ufuk timur ketika Tati keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai sehelai handuk yang melingkari tubuhnya. Dalam hati, ia merasa gugup namun juga percaya diri. Ia tahu Bara sering memandangnya dengan penuh nafsu, dan kali ini, Tati ingin memancingnya lebih jauh.
Di ruang makan, Bara duduk dengan sibuk membaca koran sambil menunggu sarapan. Tati sengaja melewati ruang makan dengan gerakan gemulai dari tubuh montoknya. Sehelai handuk yang menutupi tubuhnya seakan menjadi pemandangan yang tak bisa diabaikan. Bara menoleh, matanya memperhatikan setiap lekuk tubuh indah milik Tati tersebut.
"Tati, sarapan sudah hampir siap?" tanya Bara, mencoba menahan gejolak nafsunya sambil matanya melotot menatap tubuh montok sang pembantu belum lagi aroma wangi tubuh Tati yang baru saja selesai mandi membuat Bara makin terangsang jadinya.
Tati tersenyum manis. "Iya, Pak Bara. Saya akan segera menyiapkannya untuk Anda."
Bara menyibukkan diri dengan koran, berusaha mengalihkan pikirannya dari daya tarik tubuh molek Tati. Namun, tak bisa dipungkiri, nafsu dalam dirinya semakin sulit untuk ditekan.
Seiring berjalannya waktu, Tati semakin berani dalam permainannya. Setiap kesempatan, ia menyajikan tubuh dirinya dengan penuh intrik sehingga membuat Bara semakin terangsang. Mula-mula hanya dengan handuk, namun kemudian Tati bahkan berani berjalan di depan Bara dengan pakaian ketat yang semakin menggoda. Bara terus berusaha menahan diri, namun api nafsunya semakin membara.
Suatu hari, ketika Dina sedang pergi untuk bisnis yang cukup lama, Bara dan Tati berdua di rumah. Keadaan itu semakin memperbesar tekanan dalam diri Bara. Ia tak tahan lagi. Sesaat setelah Tati keluar dari kamar mandi, Bara menghampirinya dengan langkah mantap.
"Tati," desis Bara pelan di telinga Tati.
Tati terkejut dan menoleh. "Pak Bara, apa yang-"
Sebelum Tati sempat menyelesaikan kalimatnya, Bara telah mendekati Tati dengan langkah mantap, meraih pinggangnya dan mengecup bibir Tati dengan penuh gairah. Tati merespon dengan cumbuan yang sama bernafsu. Mereka terlibat dalam keintiman yang tak terkendali, membiarkan diri mereka tenggelam dalam kenikmatan yang saling mereka berikan.
"Tati," desis Bara di antara hembusan nafas.
Tati memandang Bara dengan mata yang dipenuhi oleh hasrat birahi. "Teruslah," bisiknya.
Tati terus menatap Bara dengan sorot mata penuh gairah. "Mari masuk ke kamarku," ajaknya, mengundang Bara untuk melanjutkan permainan gelap mereka. Bara pun digandeng oleh Tati menuju kamar Tati untuk mereka menuntaskan hasrat mereka yang telah tertahan beberapa hari belakangan.
Dalam kamar yang dipenuhi oleh gairah membara, Tati dan Bara terus melanjutkan pertemuan terlarang mereka. Setiap sentuhan dan belaian menjadi ekspresi dari hasrat yang selama ini terpendam.
Sesampainya di kamar Tati, keduanya pun perlahan melepas pakaian mereka satu sama lain, membiarkan hasrat mereka memimpin.
“Owhh...montok dan menggairahkan sekali tubuhmu, Tati!” ujar Bara sambil melotot matanya dan jakunnya bergerak turun naek menatap tubuh telanjang sang pembantu. Sementara Tati terperangah menatap tubuh tegap telanjang sang majikan dengan kontol tegangnya yang ngaceng dihadapannya.
“Wahhh...gede banget anumu Bara!” teriakan kecil tertahan tati sambil menutup mulutnya namun tak bisa lepas pandangannya menatap senjata andalan milik para pria dewasa itu.
Mereka pun langsung saling berpelukan dan berciuman dengan nafsu membara dan suara kecupan bibir mereka mulai menghiasi suasana kamar Tati saat itu.
“Ehmmpphh..Cuppp..Cuppp..Ehmmphh..Cupppp!” bibir keduanya saling melumat sedangkan kedua tangan mereka saling meraba tubuh telanjang lawan bercinta mereka. Jemari tangan Bara tak sabar meremas kedua bongkahan pantat milik Tati.
Sementara Tati meraba punggung sang majikan dan salah satu tangannya meraih batang kontol ngaceng Bara dengan meremas dan mengelus-elusnya sehingga keduanya saling merasakan nikmat dengan saling mencumbu seperti itu.
“Eshh...ahh.....ohhhh...ahhhh...ehmpphh...ahhhhh!” mulut keduanya terus saling mendesah dan melenguh. Tak berapa lama kemudian Bara pun telah merebahkan tubuh telanjang Tati di atas kasur.
“Brughhh..Ehmmphhh..Ceppp..Cuppp..ahhhh!” saat tubuh bugil Tati terhenyak ke kasur, bibir Bara langsung kembali melumat bibir Tati dan sang pembantu meresponnya dengan gairah yang setara dengan kedua tangan Tati meraba punggung dan pinggang milik sang majikan ganteng itu.
“Ehmmpphh..Cuppp..Cuppp..Ehmmphh..Cupppp..ohhh..eahh...!” suara desahan dari bibir Tati membuat Bara makin menggila mencumbu tubuh montok Tati.
Ciuman bibir Bara pun kini turun ke leher berjenjang sang pembantu.
“Ceppp..Ceppp..Cuppp..Ehmmphh...!”
“Eshh....ahhh...Baraaa...Ahhhh..ahhhhh!” bibir Tati terus mendesah sambil terus memeluk pundak dan leher Bara yang sedang sibuk menjamah lehernya itu.
Cumbuan Bara pun kini perlahan bergeser ke bawah menuju area buah dada ranum milik Tati.
“Slerrppp..Slurppp..Ceppp..Ehmmphhh...Cuppp...Ahhhh!” lidah dan mulut Bara semakin liar mencium area dua bukit kembar itu dan mengulum pentil buah dada montok milik Tati.
“Eshhh..ahh..ohhh..ahhhh..Baraa..ahhhh...eshh...ahhhhh!” Tati semakin belingsatan merasakan cumbuan panas dari bibir dan lidah sang majikan.
Saat malam itu, di dalam kamar Tati sedang dipenuhi oleh suara desahan dan bisikan cinta dari dua tubuh telanjang Bara dan Tati yang tenggelam dalam kenikmatan tak terbendung. Lalu saat pakaian telah berserakan di lantai, menyaksikan momen terlarang yang mereka alami. Namun, takdir memutuskan untuk memainkan peranannya.
Tanpa diduga, terdengar suara derap langkah dan suara tawa riang di luar kamar. Bara mengernyitkan kening, mendengar suara sang istri, Dina dan kedua anaknya, Arya dan Bella, pulang lebih awal dari rencana. Kamar yang semula penuh dengan keintiman kini berubah menjadi panggung kepanikan.
"Bara, apakah itu suara bu Dina dan anak-anak?" desis Tati panik dengan wajah penuh ketegangan.
Bara menggigit bibirnya, mencoba menahan kecemasan. "Itu pasti Dina dan anak-anak. Mereka tidak boleh tahu!"
Tanpa ragu, mereka berdua bergegas mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan di lantai. Pintu kamar terbuka dengan cemas, dan mereka berdua saling memandang, menahan getaran kecemasan yang terus berkobar.
"Bara, apa yang kita lakukan sekarang?" Tati berbisik dengan napas yang terengah-engah.
Bara meraih pakaian Tati dan membantunya mengenakannya dengan cekatan. "Kita harus rapih-rapih sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Jangan biarkan mereka tahu apa yang sedang kita lakukan."
Tati mengangguk setuju, merasa detak jantungnya semakin cepat. Mereka berdua melangkah keluar dari kamar dengan hati-hati, berusaha sekuat tenaga agar tak ada yang mencurigakan. Namun, suasana yang terbentuk tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Di pintu depan, Dina dan kedua anaknya terlihat gembira, membawa aroma makanan dari luar. Mereka tidak menyadari situasi genting yang tengah terjadi di dalam rumah mereka.
"Hai, sayang! Kami pulang lebih awal karena rindu," sapa Dina sambil memberikan senyuman manisnya kepada Bara.
Bara berusaha tersenyum meyakinkan. "Hai, sayang. Aku merindukanmu."
Tati mencoba menyamarkan ketegangan dengan tersenyum lebar. "Selamat pulang kembali, Bu Dina, Arya, dan Bella."
Dina menyeringai senang. "Terima kasih, Tati. Kami membawa makanan dari restoran favoritmu, Bara."
Bara dan Tati saling pandang, merasa cemas namun bersyukur bahwa Dina dan anak-anaknya masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah mereka.
Mereka semua duduk bersama di ruang makan, suasana yang tercipta pun terasa aneh. Bara berusaha memutar otak untuk menjaga kewajaran, sementara Tati terus berharap agar keberadaan mereka di dalam kamar tidak terbongkar.
Tiba-tiba, Arya yang duduk di samping Tati menarik lengan bajunya. "Mbak Tati, kenapa kalian terburu-buru tadi saat keluar dari kamar?"
Tati terkejut sejenak mendegar pertanyaan tiba-tiba dari Arya, namun kemudian tertawa canggung. "Oh, tidak ada, Nak. Ayahmu hanya sedang membantu angkat-angkat barang di kamarku tadi."
Dina sedikit mengangkat alisnya agak curiga. "Memangnya kenapa, Tati? Kamu butuh suasana baru di kamar?”
Bara dan Tati saling pandang, merasa kaget dengan respon Dina yang cenderung curiga dengan jawaban Tati dari pertanyaan Arya tadi. Untungnya Dina tak meneruskan kecurigaannya itu dan memilih untuk segera beristirahat di kamar setelah makan bersama selesai.
Malamnya, setelah Bara melihat Dina dan anak-anaknya telah tertidur, Bara dan Tati pun terduduk di sofa, merenungkan pada apa yang hampir terjadi. "Kita harus lebih hati-hati, Tati. Ini benar-benar hampir menjadi bencana," ujar Bara dengan serius.
Tati mengangguk, masih terkesan oleh insiden yang baru saja terjadi. "Kita tidak bisa terus begini. Kita harus menemukan cara untuk melanjutkan hubungan ini tanpa ketahuan."
Bara meraih tangan Tati, mencoba memberikan keberanian. "Kita akan mencari waktu yang tepat, Tati. Sampai saat itu, kita harus bisa menahan diri."
Tati tersenyum, sekaligus merasa lega bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan hubungan terlarang ini. Meski penuh risiko dan ketidakpastian, Bara dan Tati memutuskan untuk menjaga rahasia mereka dan menanti waktu yang tepat untuk kembali terjerumus dalam kenikmatan yang terlarang.
***
Pagi dinihari itu, cahaya keemasan mulai menyapu langit ketika Dina merasakan kegelisahan dalam hatinya. Sesuatu yang tidak biasa terjadi di dalam dirinya, keinginan dan hasrat yang begitu mendalam. Ia memandang Bara yang masih tertidur pulas di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, ia menggoda Bara dengan lembut.
"Bara," bisik Dina dengan suara yang menggoda.
Bara membuka matanya, masih setengah terlelap. "Ada apa, sayang?"
Dina tersenyum penuh keinginan. "Aku ingin kau menyentuhku, pagi ini."
Bara terkejut, namun ia merasakan getaran kegembiraan dalam dirinya. Dina jarang sekali mengajaknya bercinta duluan, jadi momen ini terasa spesial. Tanpa banyak bicara, mereka berdua pun langsung terlibat dalam keintiman yang dipenuhi oleh kehangatan dan nafsu birahi yang tinggi.
Bara dengan cepat melucuti pakaian Dina,s ang istri dan juga pakaiannya sehingga pagi dini hari yang dingin itu dua tubuh telanjang sedang mencari kehangatan di tengah cuaca yang dingin dengan bergumul panas di atas ranjang.
Suara desahan manja dari bibir Dina cukup terdengar di kamar itu, sementara Bara dengan suara dengusan kasarnya dengan penuh nafus menyetubuhi sang istri dengan begitu beringas dan itu membuat tubuh keduanya menyatu seolah tak ingin terpisah saat itu.
“Owhhh...ahhh..ahhh.terusss.Baraa...ahhh..ahhhh!” desahan Dina membuat Bara makin meningkatkan gerakan genjotannya pada tubuh sang sitri yang sedang ditindihnya.
“Plokkkk...plokkkk..ahhh...ahhhh....plokkkk....plokkkk..ahhh!” genjotan Bara cukup terdengar di kamar itu dan tanpa disadari oleh Bara serta Dina kalo ada yang bisa mendengar aktivitas bercinta mereka saat itu di luar kamar.
Sementara itu, Tati, pembantu setia mereka, terbangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan. Ia melewati pintu kamar Bara dan Dina dengan langkah ringan, tidak menyangka bahwa pagi ini akan menjadi saksi dari adegan yang tak seharusnya ia lihat.
Suara desahan dan lenguhan yang memenuhi suasana di sekitar kamar sang majikan membuat hati Tati berdebar. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar itu, mendengarkan dengan rasa cemburu yang sulit diungkapkan. Tati merasa kecewa dan tersakiti karena mengetahui keintiman antara majikannya dan sang istri. Hati Tati terasa hancur, namun ia tahu ia harus mengatasi perasaannya dengan segera.
Tati segera melanjutkan langkahnya menuju dapur, berusaha menyembunyikan rasa cemburunya. Ia mencoba menyusun pikiran dan menenangkan diri agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Namun, bayangan Bara dan Dina yang sedang bercinta masih membayangi setiap langkahnya.
Di dalam kamar, Bara dan Dina masih terus melanjutkan momen pergumulan mereka di atas ranjang mereka tanpa menyadari bahwa ada saksi yang tidak diinginkan di pagi itu. Kebersamaan mereka terasa mendalam, namun tak jauh dari situasi yang rumit. Setelah selesai, Dina mencium lembut bibir Bara.
"Terima kasih, sayang. Entah kenapa pagi ini Aku tiba-tia pengen banget, hihi!" ucap Dina sambil tersenyum nakal sekaligus menunjukkan kepuasannya setelah berhasil mendapatkan klimaksnya tadi.
Bara mengangguk, merasa campur aduk oleh berbagai perasaan. "Aku juga jadi pengen ngentot banget pas kamu bilang lagi pengen, heheh!"
Namun, di luar kamar, Tati mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan kekecewaannya. Ia merasa terabaikan dan hina oleh kejadian tadi. Saat Dina dan Bara keluar dari kamar, Tati berusaha menunjukkan senyuman dan kegembiraan palsu.
"Selamat pagi, Bu Dina, Pak Bara. Sarapan sudah hampir siap," ucap Tati dengan suara yang bergetar.
Dina tersenyum ceria, tidak menyadari rasa tidak nyaman yang dirasakan Tati. "Terima kasih, Tati. Kau luar biasa."
Bara juga mencoba tersenyum, tetapi matanya menatap Tati dengan perasaan yang rumit. "Ya, terima kasih, Tati."
Tati mengangguk, mencoba menyembunyikan rasa cemburunya yang dalam. Setiap percakapan dan senyuman yang terjadi di meja sarapan menjadi pahit bagi Tati. Ia merasa tersingkirkan, menjadi saksi dari kehidupan yang selalu ada, namun tidak pernah menjadi miliknya.
Saat sarapan berlangsung, suasana menjadi canggung. Tati mencoba untuk tidak terlihat terlalu terpengaruh, tetapi setiap pandangan dan senyuman Dina dan Bara membuatnya semakin terluka. Hati Tati berteriak untuk mengungkapkan perasaannya, namun ia tahu itu tidak mungkin dilakukan.
Hari-hari di rumah mewah itu terus berlalu, membawa dengan mereka perasaan yang rumit dan hubungan yang semakin terjalin di antara Tati dan Bara. Meskipun Dina masih sempat merasa agak curiga oleh insiden sebelumnya, namun Bara dan Tati tidak bisa menahan hasrat mereka untuk melanjutkan hubungan terlarang itu.
Suatu malam, ketika rumah sepi dan gelap, Bara menyelinap ke kamar Tati. Lampu malam yang lembut menyinari keintiman mereka yang tersembunyi dari pandangan yang tidak diinginkan.
"Tati sayang," bisik Bara dengan suara lembut.
Tati, yang sedang mulai terlelap di tempat tidur, menoleh ke arah Bara dengan mata penuh nafsu. "Apa ini tidak beresiko, Bara?"
Bara terus mendekat, meraih wajah Tati dengan penuh hasrat. "Kita harus terus melanjutkan ini, Tati. Kita tak bisa terus menerus menahan hasrat kita lagi."
Tati pun tersenyum menggoda, merasakan getaran keinginan yang sama. "Kita akan berhati-hati, Bara. Tak ada yang boleh tahu."
Keduanya pun kembali terlibat dalam keintiman yang tak terbendung, melupakan sementara dunia luar yang penuh dengan rahasia dan risiko. Mereka menyadari bahwa setiap pertemuan adalah permainan berbahaya, namun hasrat dan keinginan mereka melebihi segalanya.
Meski malam itu mereka tak bisa lama-lama bercinta, target mereka paling tidak bisa menuntaskan hawa nafsu birahi yang tak tertahankan. Dengan nafas terengah-engah, Bara segera memakai kembali semua pakaiannya yang berserak di lantai kamar Tati, sementara sang pembantu masih telanjang bulat terlentang di atas ranjang kamarnya.
Tati tersenyum puas menatap Bara yang sedang sibuk memakai pakaiannya kembali.
“Terima kasih, Bara!” meski gak lama, tapi tadi cukup bikin aku puas, besok-besok kita lakukan lagi yah!” ucap Tati sambil mengedipkan satu matanya pada Bara dan sang majikan pun membalasnya dengan memberikan kecupan mesra di bibir Tati.
“Ehmmpphh...ceppp..cuppp..cuuppp...ehmmpghh...! Pasti Tati sayang! Heheh!” balas Bara dengan wajah penuh hasrat. Bara pun segera keluar dari kamar tati dengan mengendap-endap malam itu untuk kembali masuk ke kamarnya dimana Dina saat itu sedang terlelap tidur.
***
Beberapa hari berlalu, Dina terlihat semakin terlibat dalam bisnisnya yang sedang berkembang. Sibuk dengan pertemuan dan perjalanan bisnis, Dina lagi-lagi menjadi kurang memperhatikan perubahan yang terjadi di rumahnya. Bara dan Tati terus menjalani hubungan terlarang mereka, mencuri-curi waktu di antara keterpisahan yang semakin jauh dengan Dina.
Suatu pagi, setelah Dina pergi urus bisninya dan anak-anaknya pergi ke sekolah, Bara dan Tati kembali bersatu di dalam rumah yang sunyi. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mengejar hasrat yang tak pernah pudar.
Tati, yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk tipis, melangkah mendekati Bara yang duduk di sofa. Bara meliriknya dengan mata penuh hasrat birahi.
"Tati, kau membuatku gila," ujar Bara sambil menggenggam tangan Tati.
Tati tersenyum, menarik Bara lebih dekat. "Dan kau membuat hatiku berdebar-debar, Bara."
Mereka pun lagi-lagi terlibat dalam keintiman yang semakin memanas, terlena oleh hasrat yang tak terbendung.
***
Pagi itu, sinar matahari yang lembut memasuki kamar Tati. Dina sudah berangkat ke tempat bisnisnya dan Arya pergi ke sekolah, meninggalkan rumah dalam keheningan. Hanya tinggal Bella, si bungsu, yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tanpa ragu, ia menuju ke arah kamar Tati untuk meminta Tati membikinkannya segelas air susu.
Pintu kamar yang kebetulan tak terkunci membuat Bella dengan mudah masuk ke dalam. Saat melihat Tati dan Bara yang sedang bergumul dan tubuh telanjang berada di kasur, Bella berkata dengan polosnya sambil kucek-kucek mata.
"Sedang apa Ayah dan mbak Tati, koq di kasur?" tanya Bella dengan matanya yang lucu.
Bara dan Tati pun terkejut lalu saling melihat satu sama lain, panik karena ketahuan oleh Bella. Mereka berdua coba menyusun ekspresi wajah yang terlihat santai, meski hati mereka berdua berdegup kencang.
"Oh, Bella, kita sedang bermain-main saja," ucap Bara dengan senyum yang terasa kaku.
Tati menambahi dengan tergagap, "Iya, Bella. Kita berdua hanya sedang bercanda di kasur. Kamu tahu kan, kadang-kadang orang dewasa juga suka bermain-main."
Bella membulatkan matanya, mencoba memahami alasan yang diberikan oleh Bara dan Tati. "Oh, seperti itu ya. Kenapa di kasur?"
Bara dan Tati saling pandang, mencari jawaban yang tepat. "Karena kasur ini nyaman, Bella. Kadang-kadang kita suka duduk-duduk di sini," ujar Tati dengan tersenyum.
Bella tampak masih penasaran. "Boleh aku ikutan bermain?"
Bara dan Tati melirik satu sama lain, kemudian kembali tersenyum. "Tentu saja boleh, Bella. Tapi kita harus diam-diam ya, jangan ceritakan ke Arya atau Mama," pinta Bara.
Bella mengangguk dengan polos. "Oke, Ayah."
Mereka berdua kemudian melanjutkan permainan yang telah terhenti akibat kehadiran Bella. Bara dan Tati berusaha memainkan peran dengan lebih hati-hati agar tidak terlihat mencurigakan. Namun, ketidaknyamanan menjadi terasa di kamar Tati itu.
Beberapa saat kemudian, Bella yang telah ikutan duduk di kasur menyadari sesuatu. "Eh, Ayah, Mbak Tati, tadi pintu kamar tidak dikunci ya?"
Bara dan Tati saling pandang dengan ekspresi terkejut. Mereka kelupaan mengunci pintu setelah Dina dan Arya pergi. Hatinya berdebar-debar ketika menyadari betapa besar potensi bahaya dari situasi ini.
Tati berusaha tersenyum sambil berkata, "Oh, itu hanya kelupaan kami. Kamu tidak boleh memberi tahu siapa pun, ya, Bella?"
Bella mengangguk penuh semangat. "Tentu saja, Tati. Rahasia kita, ya!"
Bara dan Tati saling pandang dengan rasa cemas yang tidak bisa mereka ungkapkan. Mereka tahu bahwa rahasia mereka semakin terancam dengan Bella yang mengetahui insiden di dalam kamar.
Beberapa jam kemudian, Dina dan Arya kembali ke rumah. Bella dengan riangnya menceritakan hari-harinya, namun diam tentang apa yang dilihatnya di kamar Tati. Bara dan Tati merasa lega, berharap bahwa kejadian itu tidak akan mencuat ke permukaan.
***
Malam itu, suasana rumah mewah milik Bara dan Dina dipenuhi ketegangan. Bara duduk di ruang tamu dengan ekspresi khawatir yang sulit untuk disembunyikan. Tati, yang berdiri di hadapannya, mencoba memberikan kabar yang tidak terduga.
"Bara, aku merasa mual-mual belakangan ini, dan gejala itu semakin sering muncul," ucap Tati dengan hati-hati.
Bara terdiam, matanya memancarkan rasa panik. "Apa maksudmu, Tati?"
Tati menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Aku pikir, Bara, mungkin aku hamil."
Bara melongo, tidak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya. "Hamil? Bagaimana ini bisa terjadi? Kita harus melakukan sesuatu!"
Tati mengangguk, "Saya tahu ini sulit, Bara. Saya pikir kita harus menyusun rencana agar saya bisa resign dari pekerjaan ini."
Bara berpikir sejenak, mencoba menemukan solusi. "Ya, kita perlu mengurus ini dengan hati-hati. Dina pasti akan curiga jika tiba-tiba kau resign tanpa alasan yang jelas."