Bab 1

Kutatap langit senja saat matahari tenggelam. Warna kemilau sang surya, tak membuat hatiku bercahaya, tetap hitam dan meradang. Kusesap teh manis buatan Andin yang terasa pahit meski bergula. Sejenak aku berfikir, mengapa hidupku seperti ini. Sembilan tahun menikah, tetapi cinta itu belum juga hadir dalam hati. Selama ini, aku hanya melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami, hanya kewajiban materi saja. 

“Mas, kenapa sikapmu masih dingin seperti ini, sembilan tahun kita menikah, tetapi sikapmu tak berubah. Sebenci itukah terhadapku? Aku tahu kalau aku salah, tetapi apakah tidak ada kata maaf untukku?” ucap Andin yang tiba-tiba memelukku dari belakang. Meski sikapnya manis dan selalu menunjukkan keromantisan, tetapi aku tidak tertarik bahkan lebih tepatnya mati rasa. 

Teringat sembilan tahun lalu, di mana pernikahanku tinggal menghitung menit dengan pilihanku,  tiba-tiba Andin datang dan mengacaukan semua. Dia memfitnahku di hadapan keluarga besarku. Dia datang dan menangis serta membuat pengakuan bahwa dia hamil, dia juga mengatakan bahwa Hana, calon istriku yang akan aku nikahi telah menganiaya dan memukulnya. Saat itu dia datang dengan muka lebam, entah drama apa itu, yang jelas kedatangannya membuat seluruh keluargaku membatalkan pernikahanku dengan Hana.

Dari peristiwa itu, keluarga besarku memutuskan untuk menikahkanku dengan Andin. Aku tak kuasa menolak karena aku tak mau keluargaku mendapat malu akibat fitnah Andin. 

Andin adalah putri dari partner  keluarga kami yang memang dari pihak keluarga telah  menjodohkan kami berdua sejak kecil. Jika aku menolak,  Andin mengancam akan menyebarkan berita ke media massa. Aku tidak mau itu terjadi. Keluarga kami adalah keluarga terhormat dan terpandang. Keluarga Handoyo Sucipto Mangundirejo, pemilik hotel ternama di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. 

Setelah dua bulan menikah,  drama Andin terbongkar, ternyata dia tidak hamil, dan dia tidak dianiaya oleh Hana. Dia hanya bersandiwara agar pernikahanku dengan Hana batal sehingga dia menikah denganku meski bagaimanapun caranya. 

Saat itu aku tidak terima, aku meninggalkan rumah dan pergi mencari Hana, aku merasa sangat bersalah, kucari dia di kampungnya, di tempat kerjanya, ke teman-temannya tetapi tidak kutemukan. Sedih, hancur, sakit. ‘Dimana kamu Hana, aku mencintaimu, maafkan aku.’

Nasi telah menjadi bubur. Sampai detik ini, aku tidak tahu keberadaannya, bagaimana nasibnya, bagaimana keadaannya. Anggota keluarga tak ada yang memberitahu. Pernah suatu hari, aku mendapat informasi bahwa dia berada di Surabaya, aku mencarinya kesana, dan hasilnya nihil. 

Hampir tiap malam selalu terbayang masa-masa indah bersamanya. Dia seorang gadis yang baik, cantik, mandiri, lembut, dan cerdas. Hana Silvia Putri Agustin, di mana dirimu. 

************* 

Namaku Yusuf Muhammad Syamil, aku putra dari pemilik hotel besar di Jakarta dan memiliki hotel besar di beberapa kota besar lainnya. Setelah lulus kuliah, aku membantu Papa mengurus perusahaan. 

Papaku bekerja sama dengan Pak Wira dalam mengebangkan usaha, terutama bidang pendanaan. 

Pak Wira memiliki putri semata wayang. Namanya Andin Aryani Kasih. 

Suatu hari aku dikenalkan dengan putri tunggal Pak Wira. Andin anaknya baik, tetapi dominan. Dari cara bicara dan bergaul, selalu ingin menang sendiri. Penampilannya yang glamor dan boros membuat aku tak suka. Entah mengapa meski dia cantik, aku tak memiliki ketertarikan. Kami dijodohkan diam-diam. 

Menurut orang - orang wajahku sesuai dengan namaku, Yusuf. Tampan, berkharisma dan berwibawa. Dari kecil aku suka berolah raga sehingga badanku kekar dan segar.

Semenjak kuliah, banyak yang menyukaiku, tetapi hatiku sudah kutambatkan pada kekasihku, Hana. 

Hana gadis yang sederhana, dan smart. Wajahnya biasa, tetapi jika dipandang tidak membosankan. Kami satu kampus, satu angkatan, dan juga satu jurusan. Kami saling mencintai.

Hubungan kami diketahui oleh Papa dan Mama, Mereka tidak merestui kami karena aku telah dijodohkan dengan Andin. Setelah berbagai macam negosiasi akhirnya Papa dan Mama menyetujui hubungan kami.

Bab 2

________________________

Hampir tiap malam selalu terbayang masa-masa indah bersamanya. Dia seorang gadis yang baik, cantik, mandiri, lembut, dan cerdas. Hana Silvia Putri Agustin, di mana dirimu. 

**

“Mas! kenapa kamu diam? Mas! aku ingin menuntut hakku, hak sebagai seorang istri,” lanjut Andin merajuk. Aku masih bergeming. Biarlah aku dicap sebagai pria yang tidak normal, laki-laki bodoh atau apalah, tetapi ini nyata bahwa sembilan tahun menikah dengan Andin, aku belum pernah menyentuhnya, apalagi berhubungan badan dengannya. 

“Maafkan aku Andin.” Hanya itu jawabku setiap kali dia meminta. 

“Mas, mungkin ini untuk kesekian kalinya aku bersujud. Aku minta maaf atas peristiwa waktu itu, tetapi tolong berikan hakku, setelah itu akan kuturuti permintaanmu, aku ikhlas apabila ingin kamu ceraikan.”

Andin bersujud meminta dan memohon agar aku menggaulinya. 

“Sekali lagi maafkan aku.” 

Jawaban itu yang selalu kuberikan. Ada semburat kecewa di matanya, tetapi aku memang tidak bisa. 

**

Sepulang kerja, seperti biasa aku ke apartemen milikku yang tak jauh dari kantor. Rasanya enggan pulang, apalagi bertemu dengan Andin.

“Bro, bisa ke apartemenku sekarang?” tanyaku pada Hadi melalui sambungan telepon. Hadi adalah sohibku yang paling mengerti. Dia yang selalu menemaniku di saat aku terpuruk. 

“Oke, Bro, tunggu lima belas menit lagi,” jawabnya disebrang sana.

“Jangan lupa bawa minuman!”

“Enggak, Bro, sorry, gue dah tobat gak mau minum-minum lagi.”

“Dasar lo belagu, dikit aja!"

“Enggak!”

“Ya udah, terserah lo, dech.”

Lima belas menit kemudian, Hadi sampai di apartemen. Ia membawakan nasi goreng campur kesukaanku. Rasa lapar yang aku rasakan, membuatku tak tahan untuk langsung melahapnya.

"Hem, ini baru nasi goreng mantap," ucapku sambil mengunyah. 

“Bro, sudahlah, lupakan Hana! Hadapi kenyataan. Sekarang lo punya Andin, jalani aja pernikahan lo."

“Ngomong apa sih lo, lo gak tahu perasaan gue, kan. Sakit tau! sakit banget rasanya dihianati, difitnah, dan sekarang, orang yang memfitnahku harus hidup denganku, gak banget.”

"Iya. Gue ngerti, tapi kan--" 

Belum sempat Hadi melanjutkan ucapannyanya, tiba-tiba gawaiku berbunyi. 

Kriiing ....! kulihat panggilan masuk dari Andin, malas banget.

“Angkat, Bro!” ucap Hadi.

“Malas!"

“Jangan begitu, bro, kasihan dia, dah angkat saja, barangkali ada yang ingin disampaikan.”

Rasanya enggan untuk mengangkatnya, tetapi tidak enak sama Hadi. 

“Ya, ada apa, Ndin,” jawabku malas. 

“Mas, kamu ada di mana? Kamu pulang, kan? Aku dah masakin makanan kesukaanmu, ayo pulang, Mas! sayang nih gak ada yang makan.”

Suara Andin disebrang sana penuh harap. 

“Ya nanti, aku masih lembur,” jawabku sekenanya. 

“Aku tunggu ya, mas, udah ya, bye.”

Kututup gawaiku, aku menghela nafas dalam-dalam. Dasar cewek! 

“Dah sana pulang! kasihan dia menunggumu,” ucap Hadi. 

Aku diam dan masih menikmati nasi goreng campur. 

“Entar aja, masih menikmati nasi goreng. Eh kenapa sih elo ngebelain Andin melulu.”

“Ya bukan gitu sih, bro, Allah mempertemukan kita dengan pasangan kita itu pasti ada maksudnya, jodoh tidak akan tertukar, dan elo menikah dengan Andin karena dia memang jodoh elo, tetapi dengan jalan seperti itu, jalan yang tidak lo senangi.”

Ada benarnya juga apa yang Hadi ucapkan, tetapi butuh waktu, entah kapan aku bisa dan mampu menerimanya. 

“Elo kayak ustadz aja, sih.”

“Kalau ucapanku bener, kenapa gak lo ambil,” ucap Hadi sambil menepuk-nepuk pundakku. Sohibku yang satu ini memang memiliki pemikiran yang luas dan agamis, dia sering menasehatiku ketika aku sedang lemah. 

“Thanks bro, akan gue pikirkan.”

“Nah, begitu. Ini baru sobatku.”

**

Bab 3

Tepat tengah malam sampailah aku di rumah. Kulihat lampu di ruang tamu masih terang. Apakah Andin belum tidur? Apakah dia menunggu kepulanganku? Ah, bodoh amat dengan wanita itu.

Setelah memarkirkan mobil, kemudian aku masuk. Kulihat Andin tertidur di meja makan, drama apalagi yang dia lakukan, huft.

“Mas, sudah pulang? Aku menunggumu sejak tadi,” ucapnya sambil mengucek kedua matanya. Lalu dia mendekat dan mengambil tas kerjaku. Setelah itu, dia melangkah menuju kamar. Aku mengikutinya dari belakang. 

“Makan dulu yuk, Mas, kamu belum makan, kan?”

Sebenarnya malas, tapi entah mengapa kali ini aku tak keberatan dengan ajakannya. Setelah mengganti pakaian dengan kaos santai dan celana pendek, aku menuju ke meja makan. 

Dia mempersiapkan piring dan sendok serta menghindangkan makanan yang memang kesukaanku. Dengan lahapnya kumakan makanan yang dia hidangkan. 'Hmm, enak juga masakannya, apa benar ini masakan dia? Ah, ga percaya, dia itu anak mami, anak manja, mana bisa dia masak begini.'

“Gimana rasanya, Mas, enak gak? Ini hasil aku Googling lho. Beberapa kali coba memasak dan gagal, baru kali ini aku berhasil,” ucapnya sedikit manja. Oh ya, ini mas minumnya, pasti seret kan?” 

Aku meneguk minuman yang dia berikan langsung sampai habis.

“Itu juga minuman hasil kreasiku, Mas, enak kan Mas?”

Aku mengangguk karena memang rasanya enak, manisnya pas banget, ada rasa kopi campur moka. 

Setelah itu, aku merasa ngantuk, mungkin akibat rasa kenyang, duh, kenapa dadaku mendadak panas.

“Kenapa, Mas?" kata Andin. “Yuk kekamar, kamu pasti mengantuk!”

Andin membimbingku ke kamar dan merebahkanku.

Seperti biasa, dia selalu memancingku. Namun aku tidak pernah terpancing, entah kenapa kali ini dia begitu menggoda. Sial! Kenapa libidoku naik? Tidak! dia terus menggodaku, dasar! 

Akhirnya....

Skip.

**

Pagi tiba, badanku serasa berat, seperti barusaja dipukul-- Pegel. 'Kenapa badanku pegal semua? Kenapa ini.' Gubrak! Sial! Sial! Apa yang terjadi semalam, apakah-- Kulihat Andin tidur dengan pulasnya, badannya hanya terbungkus selimut. Aku terbelalak.

'Sial, sial, sial ah, gue gagal mempertahankan keperjakaanku.’ 

“Eh Mas, dah bangun?” sapa Andin sambil menggeliat. Wajahnya tampak ceria. ‘Apakah kejadian semalam membuatnya bahagia? Ah dasar wanita. Wait! kenapa semalam aku begitu bernafsu? Biasanya melihatnya saja aku sudah mual. Ah pusing mending gue mandi.'

Seusai mandi, Andin menyiapkan sarapan dan teh manis. Entah mengapa pagi ini aku tak bernafsu untuk sarapan.

“Aku langsung ke kantor ya, sorry gak sarapan,” ucapku sambil berjalan menuju garasi. Sedikitpun aku tak menoleh kearahnya, aku merasa gak selera. 

“Tunggu!” cegah Andin. Seketika itu aku menghentikan langkah dan menengok ke arahnya. “Mas, makasih, ya. Semalam kamu telah memberikan hakku, aku bahagia sekali,” ucapnya sambil tersenyum puas seolah-olah menang dalam kompetisi.

‘Semprul,  kenapa gue bodoh sekali sih sampai kecolongan gitu—khilaf—khilaf.’ Setelah mendengar ucapan Andin, aku langsung pergi, tak kuhiraukan ocehannya. 

Haha, bagaimana readers.. seru kan??

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED