Bab 1

****

"San, kamu berani tidak?"

"Apa, Yo?"

"Pacari Si Kusuma. Kira-kira, kamu bisa nggak mencicipi gadis itu?"

"Jangan bercanda ah, bukan apa-apa sih, aku jadi takut kualat kalau nodai cewek sealim dia."

"Justru di situlah letak tantangannya. Ya, kamu bisa gombali dia dulu 'kan?"

"Hmmm, aku pikir dulu deh."

****

Aku tertegun mengingat semua kebodohan di masa lalu. Sudah sepuluh tahun berlalu, kisah itu masih membekas di pikiran ini. Apalagi setelah aku tahu, gadis yang dulu aku nodai kini menjadi tetanggaku. Kami memang belum sempat bertemu, aku hanya tidak sengaja melihat Kusuma di pekarangan rumahnya.

"Bang, besok aku mau periksa di Bidan Kusuma ya." Tiba-tiba Andin membuatku kaget.

"Bi ... Bidan Kusuma?"

"Iya, Bang. Bidan yang baru pindah seminggu yang lalu. Tetangga sebelah loh, Bang." Andin kembali menjelaskan.

Deg! Jantung ini langsung berdetak kencang. Haruskah aku bertemu kembali dengan Kusuma? Setelah apa yang aku lakukan padanya dulu. Wajahku jadi menegang, untung saja Andin sudah pergi. Perasaan bersalah dan gejolak cinta di masa lalu, kembali membuntutiku. Ya, waktu itu aku mulai mencintai Kusuma, setelah dia mengutarakan perasaannya, tetapi aku memutuskan begitu saja.

Tuhan ... Haruskah masalah ini kembali Engkau hadirkan? Aku sudah berusaha melupakan Kusuma, dan memulai hidup baru dengan Andin. Jangan uji aku dengan cobaan seberat ini.

***

Tiga bulan berlalu, aku masih belum berani menemani Andin, setiap dia meminta agar aku ikut dengannya. Aku selalu beralasan, bahwa jarak ke tempat periksa cuma lima langkah, jadi dia bisa sendiri ke sana. Lagi pula, kandungan Andin masih trimester kedua. Andin mencoba mengerti, walaupun sering cemberut.

"Bang, aku nggak mau tahu ya," ujar Andin cemberut.

"Apa, Sayang?"

"Masuk trimester tiga nanti, Abang harus temani aku."

"Iya, mudah-mudahan bisa."

"Harusnya kamu luangkan waktu dong, Bang."

"Iya, Sayang ... Iya."

Aku hanya bisa meyakinkan Andin, walaupun aku tidak tahu apakah aku bisa menepatinya. Untuk saat ini, yang penting Andin tidak cemberut lagi. Aku tidak mau membuatnya stres, bisa membahayakan kandungannya.

Sejauh ini, aku masih belum melihat suami dari Kusuma. Secara diam-diam, aku kadang mencoba mengintip dari balik gorden. Namun, semua itu tidak membuahkan hasil.

Apakah Kusuma belum menikah? Kadang timbul pertanyaan itu dalam benak ini. Sudah sekian bulan lamanya, aku tidak melihat suami ataupun anak dari Kusuma.

-----

Sore ini, aku di rumah sendirian. Andin baru tadi pagi aku antarkan ke rumah ibunya. Wanita berkulit putih itu memang manja, baginya sekali sebulan wajib nginap di rumah ibunya. Ya, sudahlah! Aku tidak mau terlalu membatasi geraknya.

Jam masih menunjukkan pukul 16.00, aku melangkah ke teras melihat cuaca langit sore ini. Langit terlihat sedikit mendung, mungkin akan turun hujan, aku kembali masuk dan mengunci pintu. Baru beberapa saat aku merebahkan tubuh, ketukan pintu membuatku terpaksa kembali ke ruang tamu.

"Assalamu'alaikum." Suara di luar sana terdengar tak asing.

"Wa'alaikumussalam." Aku membuka pintu, lalu terkejut ketika melihat siapa yang datang.

"Kusuma?"

"Ka ... Kamu?" Kusuma melotot dan ternganga. Dia hendak pergi, tetapi langsung aku tahan. Kutangkap pergelangan tangannya.

"Lepas, Bang! Apa yang kamu lakukan?" Kusuma mencoba berontak, tetapi entah kenapa aku justru menariknya ke dalam rumah. Tidak lupa aku mengunci pintu.

"Apa yang kamu lakukan!" Bibir Kusuma bergetar, tangannya berusaha meraih kenop pintu. Namun, segera aku tahan.

"Buka pintunya, Bang. Aku mau keluar," ucap Kusuma mulai menangis.

Aku masih diam, menatap wajahnya yang dibalut kerudung. Wajahnya membuat aku lupa diri, dia bak bidadari yang turun dari langit.

"Buka pintunya, atau aku berteriak!" ancam Kusuma dengan mata yang mulai basah.

"Teriaklah!" tantangku.

"To ...."

Byuuuuur! Hujan turun lebat menimpa atap rumah. Kusuma terlihat semakin ketakutan, memang jarak di antara kami hanya beberapa sentimeter saja.

"Kamu semakin cantik," ucapku memuji Kusuma.

"Sadarlah, Bang. Ini tidak semestinya," ucapnya membalikkan tubuh.

"Apakah kamu sudah menikah?"

"Kenapa kamu menanyakan itu?"

"Apakah kamu sudah menikah?"

"Menurut kamu?" Kusuma membalikkan tubuhnya menghadapku.

"Wanita secantik kamu, pasti banyak yang datang melamar."

"Setelah apa yang kamu lakukan dulu?" Kusuma menatap tajam.

"Itu ... Bukankah kamu juga membiarkannya?"

Aku maju selangkah, mengikis jarak.

"Kamu mau apa, Bang?" Kusuma langsung siaga.

"Menurutmu? Jika kita ulangi kenangan itu, bagaimana?"

"Jangan macam-macam, Bang. Tolong, buka pintunya!"

"Baiklah, tetapi setelah aku menciummu."

Kusuma semakin melotot, aku menjadi semakin ingin mencium pipinya. Perlahan aku dekatkan wajah ini ke wajahnya. Tangan Kusuma langsung menahan tubuhku agar tidak menempel dengan tubuhnya. Kekuatannya tidak mengalahkan keinginan di hati ini. Kedua tanganku membatas tubuh Kusuma, agar tidak bisa kemana-mana. Kusuma memejamkan matanya, bahkan tidak ada sepatah kata pun, yang keluar dari bibirnya.

Apakah dia menginginkannya? Atau semuanya hanya bukti ketidakberdayaannya?

Aku masih menikmati momen menatap wajah cantiknya. Napas yang mulai memburu ini, terus berembus menerpa wajahnya.

-------

Bab 2

*****

Dengan jarak yang sangat dekat ini, aku bahkan bisa melihat bulu-bulu halus di pipi Kusuma. Ingin rasanya aku menyentuh pipi itu, tetapi aku urungkan niat. Aku menjadi taktega melihat ketakutan Kusuma. Mundur beberapa langkah, membiarkannya bebas.

"Pergilah, Dik." Sengaja aku membelakangi Kusuma, sehingga aku takdapat melihat ekspresinya.

"Kenapa?" Suara serak Kusuma kembali membuatku ingin menatapnya. Aku kembali membalikkan tubuh.

Wajah Kusuma sudah basah disiram air matanya. Dadanya naik turun, kedua tangannya mengepal kuat. Mungkinkah dia ingin menyerang 'ku? Entahlah. Mencoba untuk menetralkan rasa, aku jatuhkan tubuh di kursi berlapis busa.

"Pulanglah!" Sekali lagi aku memerintahkan Kusuma untuk segera pergi.

"Sekarang apa, Bang? Aku tak ubah seperti sampah 'kan? Aku paham, istrimu wanita yang cantik dan menawan. Apalah aku jika dibandingkan dengannya. Aku hanyalah sepah yang sudah kamu buang. Kenapa, Bang?!" Kusuma teriak nggak jelas, pintu menjadi sasaran emosinya.

Bugh! Bugh! Bugh! Kusuma meninju pintu keras itu, dengan kedua kepalan tangannya yang lemah. Aku yakin, sekarang dia merasakan sakit di seluruh jari tangannya.

"Maafkan aku, Dik. Waktu itu, aku terlalu pengecut, sehingga hanya bisa lari dari tanggung jawab."

"Heh, lalu sekarang? Bukankah sama saja, Bang? Kamu masih pengecut takada ubahnya."

"Apa maksudmu?"

"Sudahlah, nikmati saja kehidupan barumu. Biarkan aku seperti ini sampai ajal menjemput."

Kusuma menyeka air matanya dengan kasar, segera dia buka pintu, sementara di luar hujan masih turun lebat. Aku berdiri menyusulnya ke pintu.

"Tunggu, Dik."

Kusuma menahan langkahnya, berdiri mematung di ambang pintu. Aku segera berlari ke belakang, kembali ke depan membawakannya payung.

"Pakailah! Hujan terlalu lebat, nanti kamu sakit dan menggigil seperti waktu itu."

"Hujan deras yang turun saat ini, tidaklah seberapa jika dibandingkan penderitaanku selama ini. Air hujan takakan membuat aku menggigil lagi, bahkan hatiku sudah bersalju. Mungkin, beberapa tahun lagi akan berubah jadi bongkahan es." Kusuma segera melangkah, menerobos hujan dan mengabaikan payung di tanganku.

Di teras, aku tatap kepergian Kusuma, sampai dia hilang di gerbang, berbelok menuju rumahnya. Aku menjatuhkan diri di kursi yang ada di teras. Menatap ribuan hujan yang menggenangi halaman. Pot-pot kesayangan Andin terisi penuh oleh air. Wanitaku itu memang suka merawat bunga. Aku yakin dia akan marah, jika pot itu tak segera aku selamatkan.

Huft! Kubuang napas secara kasar, menoleh ke samping kanan, menatap perkarangan rumah Kusuma. Dari teras ini, aku dapat melihat dengan jelas asrinya perkarangan itu. Rumah kami hanya dibatasi pagar yang terbuat dari beton. Namun, tingginya tidak mencapai satu meter. Aku juga tidak mengerti, kenapa pemilik rumah ini membuat demikian. Ya, rumah ini kami beli ketika sudah jadi, bahkan sudah ditempati oleh beberapa keluarga.

Tatapanku beralih pada bunga yang ada di pot. Aku membayangkan jika bunga itu hidup, memiliki indra perasa, mungkin bunga itu sudah menggigil kedinginan. Semua itu mengingatkan aku pada kisah silam. Peristiwa malam itu, di mana aku menodai Kusuma merenggut kesuciannya.

*****

Flashback

Sore menjelang magrib, langit tampak mendung. Aku berpikir akan turun hujan, sementara perjalanan kami masih separuhnya lagi. Aku dan Kusuma berada di motor yang sama. Kusuma terlihat anteng berada di belakangku. Sesekali tawanya terdengar merdu. Gadis yang terlihat pendiam di sekolah, ternyata begitu menyenangkan. Kusuma rela menjemput aku ke kost-an, bahkan dia juga rela menungguku bila agak terlambat pulang. Memang, jurusan kami berbeda. Aku mengambil jurusan Otomotif, sementara Kusuma mengambil jurusan Perkantoran.

Kutambah kecepatan laju motor, agar bisa sampai sebelum gelap. Namun, di tengah perjalanan yang agak sepi, hujan turun sangat lebat.

"Kus, kita berteduh dulu ya."

"Ih, Abang. Jangan panggil Kus gitu. Aku nggak suka." Kusuma menepuk pundakku.

"Maaf, Dik. Kita berteduh dulu yuk!"

"Nggaaak maaauuu, Bang. Aku pengen menikmati hujan seperti ini. Selama ini, Ibu selalu melarangku hujan-hujanan."

"Nanti sakit, Dik. Kita berhenti di warung itu saja," aku menunjuk warung yang ada di pinggir jalan. Sementara pakaian yang kami kenakan sudah basah diguyur hujan, yang datang tiba-tiba.

"Ya, sudah. Kalau Abang maksa."

Aku segera menghentikan motor memasuki perkarangan di pinggir warung. Kulihat Kusuma sudah basah kuyup, bahkan pakaian yang dia kenakan menempel ketat di tubuhnya.

"Kita tunggu hujan reda dulu ya, Dik. Kayaknya hujan seperti ini awet." Aku melangkah ke emperan warung. Lumayan nyaman, emperan itu cukup luas terbuat dari bambu yang disusun rapi.

Aku memilih duduk agak jauh dari Kusuma, sementara dia duduk menjuntaikan kakinya. Udara yang bertiup membuat dingin semakin terasa. Bahkan gigi ini beradu satu dengan yang lainnya. Kulirik Kusuma, tampaknya dia mulai menggigil, mengusap kedua lengannya.

"Dik, kamu baik-baik saja?" Aku bertanya merasa cemas, takut terjadi apa-apa pada Kusuma. Pertanyaanku hanya dia jawab dengan anggukan kepala.

Aku berusaha berpikir positif, mudah-mudahan Kusuma baik-baik saja. Mata ini mulai mengantuk, aku sampai menguap beberapa kali. Tas ransel yang sudah kuyup aku letakkan di emperan. Lalu, aku rebahkan tubuh, memunggungi Kusuma, meringkuk memeluk kedua lutut. Beberapa saat kemudian aku pun benar-benar terlelap.

Aku terbangun ketika merasakan jemari yang begitu dingin menepuk pipi ini. Aku terkejut ketika melihat Kusuma sudah berada di dekatku. Dia duduk memeluk kedua lututnya, aku dapat mendengar gemertuk giginya menahan dingin.

"Bang, aku ...."

"Kamu kedinginan, Dik?" Aku kembali panik, sementara hujan belum juga reda.

"Iya, Bang. Rasanya aliran darahku mulai berhenti mengalir."

"Jangan bicara seperti itu. Tidak apa-apakah jika aku peluk kamu?" Aku mencoba meminta persetujuan Kusuma, karena selama kami pacaran aku tidak pernah memeluknya. Aku berusaha menjaga image-nya.

Tak ada jawaban dari Kusuma, sehingga aku pun tidak berani memeluk tubuhnya. Kuraih tangannya, dia diam saja, segera aku usap-asap telapak tangannya dengan gerakan cepat. Berharap dengan begitu, ada kehangatan yang menjalar ke setiap pembuluh darahnya.

Beberapa saat berlalu, Kusuma masih kedinginan. Aku coba mengambil ponsel dari tas, untunglah ponselku masih menyala. Menghidupkan senternya, alangkah terkejutnya aku ketika melihat sepasang bibir tipis Kusuma mulai membiru.

"Dik, kamu baik-baik saja, 'kan?"

Kusuma menggeleng, aku jadi teringat ucapannya di motor tadi. Mungkinkah dia punya semacam penyakit langka? Sehingga tidak bisa sedikit pun kehujanan? Tanpa berpikir lebih panjang lagi, aku tarik tubuh Kusuma dalam dekapan. Senter ponsel kembali aku matikan, paling tidak ada sedikit kehangatan dari pelukan ini.

Pacuan jantung ini perlahan menjadi cepat. Ada getaran halus ketika tubuh Kusuma menempel erat di dada ini. Masih mencoba untuk menahan gejolak rasa yang tidak wajar ini. Namun, entah setan dari mana membuatku ingin berbuat lebih. Apalagi suasana jalanan terlihat sepi, sementara hujan masih belum reda.

Tanganku bergerak menyentuh pipi Kusuma yang terasa seperti bongkahan es. Kuraba pipinya yang halus itu, sensasi kehangatan mulai menjalar di tubuh ini. Kusuma masih diam aku perlakukan seperti itu. Dalam kegelapan, aku mencoba untuk melepaskan dekapanku. Membiarkan tubuh Kusuma terlentang di depanku. Aku mendekatkan wajah ini ke wajah Kusuma, dengan bantuan jari tangan ini, aku meraba bibir Kusuma dalam kegelapan. Kusuma masih diam, apakah dia sudah tidur? Aku takbisa menahan diri lagi. Segera 'ku kecup lembut bibir Kusuma. Bibirnya yang dingin, membuat gairahku menjadi memuncak. Kecupan itu berganti dengan hisapan lembut.

Tiba-tiba, Kusuma menahan wajahku, dia segera duduk, sehingga ciuman kami terlepas.

Napas yang memburu membuat aku menjadi malu. Akankah Kusuma memarahiku? Jikapun iya, aku siap menerima konsekuensinya.

"Apa yang kamu lakukan, Bang?"

"Maafkan aku, Dik. Kamu marah?"

"Aku takut ayah marah, Bang."

"Maafkan aku, Dik."

"Hmmm."

Kusuma kembali merebahkan tubuhnya. Namun, kali ini dia tidur miring membelakangiku. Kembali aku nyalakan senter ponsel. Lewat cahaya terang itu, dapat aku lihat lekukan pinggul Kusuma. Aku menelan ludah, keinginan seperti tadi kembali menyergap pikiran dan hati. Sensasi ciuman tadi dapat aku rasakan lagi. Tidak bisa lagi aku berpikiran jernih. Sebagai laki-laki tujuh belas tahun, aku sudah mengalami mimpi basah. Sekarang keinginan untuk merasakan yang sesungguhnya semakin mendesakku.

Aku tarik pinggul Kusuma, lalu menaiki tubuhnya. Samar-samar aku melihat Kusuma melebarkan matanya. "Aku mencintaimu, Dik." Aku sibak kerudungnya, lalu membenamkan wajah ini di lehernya. Kuhirup kuat kulit leher nan lembut itu. Tanganku semakin takbisa dikendalikan lagi. Satu persatu kancing baju Kusuma aku lepaskan. Suasana yang mendukung membuatku lupa diri, mungkin begitu juga dengan Kusuma. Desahan halus mulai terdengar dari bibirnya, ketika aku mulai menyentuh bagian tubuh intimnya. Di bawah terpaan angin sisa hujan aku renggut kesucian Kusuma, dan melepaskan keperjakaanku.

Malam itu, aku benar-benar merasakan kenikmatan surga dunia, seperti yang sering aku dengar dari teman-teman sekelasku. Jika sebelumnya aku hanya bisa mendengar saja, kini aku sudah merasakannya.

****

"San, kok belum berangkat?" tanya Ibu kost yang lewat di depan teras.

"Ini lagi menunggu teman, Bu."

"Teman atau teman?"

"Ya teman, Bu."

"Ya sudah, San. Pintu kamarmu jangan lupa dikunci."

"Baik, Bu."

Sepertinya Kusuma marah karena kejadian kemarin, bahkan nomornya tidak bisa dihubungi. Aku yakin dia akan langsung memutuskan hubungan kami. Setelah mengunci pintu aku melangkah ke luar kost-an, menuju jalan raya. Terpaksa aku berangkat naik angkot lagi. Namun, ketika aku sampai di jalan sempit menuju jalan besar, aku melihat Kusuma dengan kepala yang tertunduk. Bergegas aku menghampirinya.

"Dik, kok nomor kamu nggak bisa dihubungi?"

"Eh, anu ... Bang. Ponselku rusak." Wajah Kusuma terlihat memerah. Lalu, tangannya terulur memberikan kunci motor padaku.

"Semoga ponselmu segera membaik," ucapku mengambil kunci dan segera meraih stang motor.

Dalam perjalanan menuju sekolah, kami jadi banyak diam dan canggung. Aku berharap Kusuma tidak memandangku sebagai laki-laki berengsek, begitu juga sebaliknya. Aku mengendarai motor dengan jantung yang berdebar-debar, kejadian kemarin malam seakan kembali hadir di pelupuk mata.

"Bang ...."

"Iya."

"Apakah aku wanita yang buruk?"

Degh! Apa yang aku takutkan terjadi juga, Kusuma menanyakan hal yang sensitif seperti itu.

"Apakah aku laki-laki yang buruk?" Gleg, aku menelan saliva.

"Aku tahu, Bang. Sejak aku menerima cinta Abang, aku selalu merasa bersalah. Namun, aku juga tidak memungkiri setiap saat wajah Abang yang rupawan itu membuatku mabuk."

"Maksudnya?"

"Kata guru ngajiku, perempuan yang termudah-mudahan pacaran. Maka sesungguhnya dia sudah mengotori kesuciannya."

"Lalu kenapa kamu terima ungkapan cintaku, Dik?"

"Itu ... Itu karena aku memang sudah lama menyukai Abang."

Apa yang dibicarakan Kusuma benar adanya, bahkan nenek selalu mengingatkan aku. Jangan coba-coba pacari anak perawan orang. Namun, semua nasehat nenek aku abaikan saja, semua gara-gara tawaran menggiurkan dari Syahyono. Walaupun begitu, aku benar-benar sudah menyukai Kusuma, bukan semata karena ambisius dengan hadiah yang diberikan Syahyono.

"Tapi aku yakin, Bang. Abang tidak akan meninggalkan aku, setelah yang kemarin malam. Aku berharap hubungan kita tetap merekat, sampai Abang siap menikahiku."

"Ya, aku janji, Dik. Aku akan menikahimu ketika aku sudah mampu. Soal yang kemarin, maafkan aku ya, Dik."

"Aku yang salah kok, Bang. Harusnya aku mencegah Abang. Tetapi ...."

"Maafkan aku, Dik."

*****

Ponselku yang berdering menyadarkan aku dari ingatan silam. Aku langsung berlari menuju kamar, ternyata Andin yang menelepon, segera aku angkat.

"Halo, Mas. Eh, Bang. Aku mau nanya, Bidan Kusuma tadi ke rumah?"

Aku terkejut mendengar pertanyaan Andin. Apakah Kusuma mengadukan semuanya? Jika iya, mampuslah aku.

"Hmm, iya, Sayang. Ada apa memangnya?"

"Loh, kok malah nanya sih, Bang? Memangnya Bidan Kusuma tadi ngapain ke rumah?"

Degh! Tenggorokan ini terasa tersekat. Tidak! Aku tidak mau terjebak oleh pertanyaan Andin. Bisa-bisa tamat riwayatku, dipenjarakan oleh ayah mertua.

"Beliau cuma datang menanyaimu," ucapku berbohong.

"Hehehehe, itulah, Bang. Aku lupa kalau ada janji dengan Bidan Kusuma." Di ujung sana Andin tertawa, sementara aku di sini hampir panik. Aku pikir, Kusuma mengadu pada istriku.

"Tuh, harusnya kamu ingat dong, Sayang."

"Iya ... Iya, Bang. Aku sudah hubungi beliau tadi. Meminta maaf atas kelupaan ini, beliau sudah memaklumi kok. Bidan Kusuma baik banget ya, Bang."

"Hmm, iya. Udah ya, Sayang. Aku mau mandi dulu."

"Iya, Bang." Andin langsung memutuskan panggilan.

Akhirnya aku bernapas lega, untung saja Kusuma tidak mengadukan apa yang sempat terjadi. Nasib baik masih berpihak padaku.

------

Bab 3

******

Beberapa tahun lalu, di ruangan OSIS ....

Usai rapat OSIS, Syahyono kembali menahan langkahku. Teman-teman yang lain sudah meninggalkan ruangan OSIS. Hanya tinggal aku dan Syahyono.

"Gimana, San? Udah final?" Syahyono memainkan alisnya. Aku masih bingung kemana arah pembicaraannya.

"Apanya, Yo?"

"Is, ketos kok lola. Aku yakin anak-anak milih kamu cuma modal tampang doang." Yono terlihat kesal, remaja berdarah campuran Jawa-Sumatera itu terlihat kesal. Bukan Yono namanya kalau tidak emosian dan suka merendahkan orang lain.

"Kalau ngomong yang bener," ucapku hendak beranjak keluar.

"Eh, eh, San. Mau kemana?"

"Ke kelas."

"Aku tahu kamu hanya orang kismin, San. Berdarah Medan, tetapi pengecut."

"Maksud kamu apa?"

"Saban hari kan aku tawari kamu. Semua itu nggak cuma-cuma kok. Kalau Kusuma mau menjadi pacarmu. Setiap bulan aku kasih kamu uang sampai kita tamat. Kalau Kusuma menolakmu juga, maka kamu harus mau kerjakan seluruh tugas sekolahku. Gimana, San?"

Dari pembicaraan Yono, aku dapat menyimpulkan bahwa dia ditolak oleh Kusuma. Namun, aku heran kenapa dia malah menyuruhku untuk menjadikan gadis itu pacar. Aku memang belum terlalu kenal dengan Kusuma, yang aku tahu dia juara umum di jurusan Perkantoran. Ya, aku hanya mengenalnya sebatas itu. Aku terlalu sibuk untuk memperhatikan para wanita di sekolah. Selain agar prestasiku tidak menurun, setiap hari aku juga disibukkan oleh kerja sampingan. Meskipun begitu, sebagai orang miskin seperti yang dikatakan Yono, aku cukup tertarik dengan tawaran itu.

"Berapa duit?"

"Hehehe, jadi kamu mau terima tantangan itu?" Yono tampak senang sekali. Aku mengangguk sebagai bukti bahwa aku menyetujui semuanya.

"Nah, gitu dong. Tampang oke, badan juga oke, masa jomblo. Malu, Bro."

"Banyak bacot. Duitnya berapa?"

"Dua ratus sebulan, gimana?"

"Halah, ogah ah, Yo."

"Aku naikin deh jadi empat ratus gimana?"

"Kurang, Yo. Kamu kan tahu, misal aku diterima, sudah pasti butuh dana lebih untuk beli pulsa dan lain-lain."

"Iya juga sih, belum lagi kalau ngajak gituan. Ya sudah, lima ratus deh. Deal?"

"Deal!" Kami saling berjabat tangan, sebagai tanda saling setuju.

Aku kembali ke kelas, sengaja mengambil jalan memutar ke kelas dua belas Administrasi Perkantoran. Di jurusan Perkantoran, aku mengenal seorang teman cewek. Dia adalah salah satu anggota OSIS, tentu saja aku bisa minta bantuan pada Siti.

Rasa gugup dan gengsi berusaha aku hempaskan. Ah, terlihat murahan, hanya karena uang aku justru menambah kesibukan baru nantinya. Sejauh yang aku dengar dari teman-teman yang sudah mahir pacaran. Si cowok juga harus meluangkan banyak waktu, hanya untuk membuat pacarnya nyaman. Sementara aku, belum pernah demikian. Apalagi aku hanya dibesarkan oleh nenek seorang. Ayahku pergi setelah menceraikan Ibu, sementara Ibu ikut minggat dari rumah. Hal itu juga yang membuat nenek memilih kembali ke Padang, meninggalkan kakek di tanah Medan. Keluarga yang hancur, bukan?

Sesampainya di teras kelas AP¹, beberapa perempuan sengaja keluar, termasuk Siti. Gadis itu menghampiriku, membuat aku menjadi salah tingkah. Apakah aku langsung to the point saja?

"Eh, tumben ketos kemari. Perasaan baru selesai rapat deh." Siti duduk tak jauh dariku.

"Hehe. Ada urusan pribadi, Ti. Kamu mau kan bantu aku?"

"Untuk ketos apa sih yang enggak. Bantu apa, San?"

"Hmm, kamu punya nomor Kusuma?" Tanpa panjang lebar, aku langsung menanyakan nomor kontak Kusuma.

"Uhum, ternyata selera kamu cewek seperti itu, San?"

"Loh, memangnya kenapa? Dia wanita yang cerdas 'kan?"

"Iya, sih. Sebentar ya, aku izin ke orangnya dulu."

"Jangan, Ti. Nanti biar aku yang minta izin langsung."

Siti tertawa ngakak, secepat mungkin dia menutup mulutnya.

"Iya, tenang saja. Nanti aku kirim ya, aku masuk dulu." Siti berlalu dari hadapanku. Terpaksa aku harus menunggu sampai Siti memberikan kontak Kusuma. Setidaknya, aku masih ada waktu untuk mempersiapkan mental.

*****

Sudah seminggu aku di rumah sendirian. Hari ini Andin akan kembali ke rumah ini. Aku sudah rindu kepadanya, entah kenapa jika dia ke rumah ibunya, pasti jarang berkomunikasi denganku. Mungkin, dia tidak ingin ada yang mengusik waktu dengan keluarganya.

Sudah seminggu juga, aku tidak pernah lagi melihat Kusuma duduk di teras rumahnya. Aku rasa kejadian waktu itu membuatnya trauma dan sangat tak nyaman.

"Baaaaang, aku pulang." Itu suara Andin. Aku segera menyusulnya ke luar.

Andin terlihat semakin cantik dengan daster selutut yang dia kenakan. Aku sampai tak berkedip melihat penampilan. Cantik sekali!

"Makasih ya, Bang. Abang sudah urus bunga-bungaku." Andin mendekat lalu mencubit pipi ini. Perutnya yang mulai membesar itu langsung aku elus. Kami pun masuk ke rumah.

"Sayang, kamu pulang kok nggak kasih kabar?"

"Loh, memangnya kenapa, Bang?"

"Enggak sih, lain kali kalau mau pulang kasih kabar dulu. Jangan pulang mendadak seperti ini."

Andin langsung cemberut, dia masuk kamar begitu saja. Aku ikuti dia ke kamar, wanita berpipi tembem itu asik dengan ponselnya. Kadang-kadang, aku merasa ada yang aneh dengan Andin. Sebenarnya dia mencintaiku atau tidak sih?

"Sayaaaaang, aku ngomong sama kamu loh."

"Iya, ngomong aja, Bang. Aku dengar kok."

"Bisa nggak, Yank. Kalau udah di rumah tinggalkan ponsel dulu?"

"Mau Abang apa sih? Aku jadi sedih nih. Harusnya Abang bisa ngertiin aku. Sesekali bisa kan jangan ganggu aku."

Eh, kok tiba-tiba Andin bicara seperti itu? Perasaan selama kami menikah aku tidak pernah berbuat yang macam-macam. Aku tidak pernah memaksanya, dan tidak pernah terlalu mengatur, mengekang, dan lainnya. Lalu, kenapa dia berkata demikian?

"Sebenarnya aku hanya rindu, Dek. Kamu pergi seminggu, selama itu juga aku menahan rindu. Aku berharap untuk ke depannya kamu bisa mengurangi kebiasaan itu."

Aku terus terang dengan perasaan ini. Andin hanya diam tanpa melepaskan ponselnya. Kami sudah menikah selama dua tahun, sejak Andin hamil sikapnya jadi berubah drastis. Ya, aku berpikir mungkin itu bawaan hamil. Namun, jika begitu terus aku jadi tak tahan juga.

Aku memilih untuk menenangkan diri di luar. Seperti biasa, aku akan menikmati waktu senja tiba, sampai malam menjelang. Baru sebentar aku duduk, ponselku berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.

+6289978781213:

Kasihan sekali kamu!

Satu pesan dari nomor yang tidak dikenal. Siapa ini? Maksudnya apa mengirimkan pesan seperti itu?

Me:

Salah sambung!!!!!!!

+6289978781213:

Bukan! Pesan ini memang untuk kamu. Kesepian? Aku bisa mengisi hari-harimu.

Me:

Kamu siapa?

+6289978781213:

Lihatlah ke sekitarmu. Aku di sini.

Aku melirik ke arah rumah Kusuma. Namun, hasilnya nihil tidak ada siapa-siapa di sana. Pintu rumah Kusuma tertutup dengan rapat.

Kenapa aku berpikir nomor iseng ini Kusuma? Mungkinkah aku masih ....

"Bang, kamu lagi ngapain?" Tiba-tiba Andin muncul di ambang pintu.

"Nggak ada, Dek. Kamu butuh bantuan?"

"Pinjam aku hp kamu, Bang."

"Untuk apa?"

"Sebentar," Andin langsung merampas ponselku. Itu sudah kebiasaannya, seakan tidak menghargai aku sebagai suaminya.

Aku hanya bisa bersabar dengan sifat manjanya itu. Memang, Andin adalah anak orang kaya. Aku menikahinya, setelah bekerja di bengkel milik ayahnya. Sekarang bengkel itu aku yang kelola. Ayah mertua memang terlihat keras, tetapi tidak aku pungkiri ia sudah banyak berbuat baik padaku. Hingga pada akhirnya aku tak mampu menolak permintaannya, agar menikahi Andin.

Semua itu adalah alasan kenapa aku memutuskan hubungan dengan Kusuma. Ah! Ternyata aku hanyalah laki-laki yang pengecut. Betul seperti yang dikatakan Syahyono dulu, aku laki-laki berdarah Medan, tetapi sangat penakut dan pengecut. Konsekuensinya, aku sampai mengorbankan Kusuma, meninggalkannya, pergi hanya meninggalkan satu pesan, tanpa berani untuk menemuinya.

****

Flashback

Kematian nenek membuatku terpaksa memutuskan kembali ke tanah kelahiranku. Rencana kuliah pun aku tinggalkan begitu saja. Aku berpikir untuk kerja saja, agar bisa punya modal, merintis usaha, lalu segera menikahi Kusuma.

Di bawah langit cerah yang dihiasi bulan dan bintang. Aku pamit pada Kusuma. Kami duduk di kursi santai di depan rumah Kusuma. Berkat bantuan uang yang diberikan Yono, aku bisa membeli motor second. Cukup membantu juga, dengan begitu Kusuma tidak repot-repot lagi menjemputku.

"Abang mau bicara apa?"

"Dik, aku mau kembali ke Medan."

"Abang nggak jadi kuliah?"

"Mungkin lebih baik aku mencari kerja, Dik."

"Kenapa harus ke Medan? Kenapa Abang tidak kerja di bengkel waktu itu."

"Gajinya terlalu kecil, Dik. Aku mau kerja di bengkel yang besar. Agar bisa menghidupi kita kelak."

"Kenapa tidak kerja di sini saja, Bang? Atau Abang cuma ingin lari dariku?" Mata Kusuma mulai berembun.

"Bukan, Dik. Di sini tidak ada siapa-siapa lagi. Nenek sudah meninggal, kalau aku kembali ke Medan, mungkin aku masih bisa bertemu Ibu."

"Lalu aku ini apa, Bang?"

"Kamu pacarku, wanita yang akan menjadi ibu untuk anak kita kelak."

"Apakah Abang pikir hubungan jarak jauh bisa diandalkan?"

"Kita fokus ke karir dulu, Dik. Kamu capai cita-citamu. Lalu, aku capai cita-citaku."

"Sebatas itu hubungan selama ini, Bang? Sudah setahun lebih kita pacaran. Kamu tega meninggalkan aku." Air mata Kusuma mengalir membasahi pipinya. Aku jadi serba salah, apakah harus memeluknya untuk membuatnya tenang. Namun, aku takut kami mengulang dosa waktu itu.

"Dik, aku janji akan datang melihatmu ke Padang. Bagaimanapun caranya, akan aku usahakan."

"Benarkah, Bang? Kamu janji? Apakah kamu siap berkunjung sekali tiga bulan?" Kusuma menatapku lekat.

"Iya, Dik. Akan aku usahakan."

"Aku takut nggak kuat, Bang." Kusuma menenggelamkan wajahnya di telapak tangan.

"Nggak kuat menahan rindu?"

"Tentu saja, apakah Abang tak akan rindu padaku?"

"Tentu saja, Dik. Tetapi aku sudah janji padamu. Ya sudah, hapus air matamu, Dik. Nanti cantik wajahmu luntur."

"Abang berangkat kapan?"

"Mungkin besok siang, Dik."

"Secepat itu?"

"Iya, Dik. Lebih cepat lebih baik. Sudah malam, aku pulang dulu ya. Sabar ya, Sayang." Aku segera berdiri, lalu mengusap pucuk kepala Kusuma yang ditutupi kerudung sebatas dadanya.

"Abang ...." Kusuma menangkap tanganku ikut berdiri, sebelah tanganku dia genggam kuat.

"Ada apa, Dik?"

"Aku kangen." Kusuma menunduk lalu membawa tanganku ke pipinya.

Aku berpikir mungkinkah Kusuma ingin aku melakukan itu lagi? Setelah sekian lama kami berusaha menjaga batas-batasnya. Dada ini menjadi berdebar-debar, kutatap wajah Kusuma lekat, pantulan cahaya rembulan yang samar, tidak menjadi penghalang melihat wajah cantiknya. Apalagi lampu teras rumah Kusuma begitu terang.

Kusuma melepas genggaman tangannya di pergelanganku. Dia biarkan aku mengontrol gerakan tangan di pipinya. Kuusap lembut setiap inci kulit wajahnya yang halus. Kusuma memejamkan matanya, seakan meresapi sensasi dari setiap sentuhanku.

Aku melangkah lebih dekat, membingkai wajah Kusuma dengan kedua tanganku. Mata Kusuma terbuka, kedua tangannya menyentuh lenganku. Kami saling menatap dengan perasaan masing-masing.

"Bang, aku sendirian di rumah. Ayah dan Ibu sedang pergi, akan kembali besok siang."

Ucapan Kusuma seperti benteng kokoh yang sudah roboh. Seakan-akan isyarat bahwa dia mengizinkan aku masuk. Namun, aku masih mengutamakan logika untuk tidak mengulang dosa itu.

"Jangan, Dik. Sudah malam, aku harus pulang." Aku mencoba menghindar, karena memang malam semakin larut, jarak rumah Kusuma ke rumah mendiang nenek memakan waktu satu jam perjalanan. Aku tidak mau kemalaman di jalan.

"Kenapa Abang tidak tidur di sini saja?"

Aku terkejut mendengar penuturan Kusuma. Apakah dia sudah hilang akal? Menginap di rumahnya? Tentu saja akan membuat celah itu semakin besar.

"Aku takut, Dik." Aku lepaskan wajah Kusuma, kembali duduk di kursi.

"Jika Abang takut, lalu kenapa dulu melakukan itu?"

"Kenapa kamu bahas itu lagi, Dik? Apakah kamu ingin kita mengulang dosa itu? Kamu senang aku menjadi laki-laki yang berengsek?" Aku bicara penuh penekanan.

Kusuma menunduk dalam-dalam, isakannya kembali terdengar. Aku jadi merasa bersalah sudah membuatnya bersedih.

"Maafkan aku, Dik."

"Gelas yang retak tidak akan pernah kembali utuh, Bang. Abang sudah meretakkan gelas itu." Kusuma kembali menangis.

"Aku memang sudah merusakmu, Dik. Karena itulah aku ingin memperbaiki semuanya. Sabar ya, Dik. Aku janji akan menghalalkanmu."

"Jadi, kamu tidak mau nginap di sini, Bang? Aku kesepian, ayah dan ibu tidak pernah mengerti perasaanku. Sejak Abang menjadi pacarku, hidupku jadi lebih berwarna."

"Jangan menangis lagi." Kuusap wajah Kusuma yang sudah basah oleh air mata. Sebelum pergi, aku kecup keningnya beberapa saat, lalu melangkah meninggalkannya, tanpa berani menoleh ke belakang.

Di perjalanan, kepalaku menjadi pusing. Merasa menyesal sudah menolak tawaran Kusuma. Ah, sudahlah! Aku jadikan rindu yang tertahan ini, menjadi motivasi agar lebih keras lagi menggapai cita-cita.

****

"Bang, ini siapa?" Andin kembali membawa ponselku di tangannya.

"Nggak tahu."

"Jangan-jangan, itu selingkuhanmu, Bang?" Andin langsung menuduh tanpa bukti.

"Aku nggak selingkuh, Dek."

"Lalu ini apa?!" Andin menunjukkan satu pesan panjang dari nomor yang masuk tadi.

Aku melotot, melebarkan mata, tetapi aku jujur tidak mengenal nomor itu. Selama ini pun aku tidak pernah bermain api di luar sana.

"Kamu mau ngeles gimana lagi, Bang?" Suara Andin mulai meninggi. Aku terpaksa menuntunnya masuk ke rumah. Tidak enak jika sampai didengar Kusuma.

"Lepaskan aku, Bang. Jelaskan semua ini, tega ya kamu. Aku ini sedang hamil anak kamu, Bang. Tega-teganya kamu selingkuhi aku." Andin memukul dada ini. Aku biarkan dia puas melampiaskan amarahnya itu.

"Dek, kalau aku selingkuh mana mungkin aku mau meminjamkan ponselku padamu. Coba pikir pakai logika."

Andin berhenti memukul, dia mendongak menatapku dengan matanya yang basah.

"Kamu nggak bohong, Bang?"

"Aku berkata jujur."

"Maafkan aku," Andin memeluk tubuh ini. Aku pun membalas pelukannya.

"Awas saja kalau kamu selingkuh, Bang. Aku sunat kamu sekali lagi."

Aku terkekeh mendengar ancaman Andin. Jika dia menyunatku sekali lagi. Lalu bagaimana aku bisa memberikan nafkah batin untuknya. Istriku belum juga bersikap dewasa.

Aku kembali menatap pesan itu. Timbul pertanyaan besar. Siapakah dibalik nomor ini?

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED