Bab 1

Jam pelajaran terakhir selalu terasa lebih panjang dari biasanya. Alya menatap papan tulis, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Suara guru matematika seperti hanya jadi latar belakang musik monoton. Begitu bel tanda pulang berbunyi, semua siswa langsung berhamburan keluar kelas.

Namun tidak bagi Alya. Ia selalu punya kebiasaan singgah ke perpustakaan sebelum pulang. Bukan karena ia rajin, lebih tepatnya karena ia suka tempat sepi, jauh dari hiruk pikuk kelas dan keramaian teman-teman yang hobi bergosip.

"Seperti biasa, sendirian lagi," gumam Alya sambil menuruni tangga menuju ruang perpustakaan di lantai satu.

Ruang itu lengang. Hanya ada suara kipas angin tua yang berderit pelan di sudut ruangan. Aroma khas kertas lama langsung menyambutnya. Ia berjalan menyusuri rak, mencari novel remaja yang kemarin sempat ia baca.

Saat tangannya menyentuh buku tebal bersampul biru, ia melihat sesuatu jatuh dari sela-sela rak. Sebuah buku kecil bersampul hitam.

"Diary?" Alya memungutnya dengan ragu. Sampulnya polos, tanpa nama, tanpa label. Hanya ada goresan tinta samar di pojok kanan "If you dare to read, don't tell anyone".

Alya menelan ludah. Ia menoleh sekeliling perpustakaan kosong. Rasa penasaran perlahan mengalahkan keraguannya. Ia membuka halaman pertama. Tulisan tangan itu rapi, tetapi penuh emosi.

"Aku benci harus terlihat sempurna di depan semua orang. Mereka pikir aku kuat, dingin, tak tersentuh. Padahal, kalau mereka tahu siapa aku sebenarnya, mungkin semua akan berubah..."

Alya mengerutkan kening. Kata-kata itu begitu jujur, seolah penulisnya sedang berteriak dalam diam. Ia membalik halaman berikutnya.

"Ada satu hal yang tidak boleh ada yang tahu. Jika sampai bocor, habislah aku."

Jantung Alya berdegup kencang. Semakin ia baca, semakin ia merasa bahwa pemilik diary ini bukan sembarangan orang. Hingga ia sampai pada sebuah kalimat yang membuatnya hampir menjatuhkan buku itu.

"Mereka selalu menyebutku, Arka."

Alya terpaku. Arka? Siswa paling populer di sekolah? Cowok yang dingin, ganteng dan selalu jadi pusat perhatian? Diary ini... milik Arka?

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seseorang masuk ke perpustakaan. Alya buru-buru menutup diary itu dan menyelipkannya ke dalam tasnya.

Dan ketika ia menoleh, matanya langsung membelalak.

Arka berdiri di ambang pintu, dengan tatapan dingin yang langsung membuat Alya membeku.

Alya merasakan tenggorokannya tercekat. Tangannya spontan meremas tali tas tempat ia menyembunyikan diary hitam itu.

Arka berjalan masuk perlahan, langkahnya tenang tapi auranya membuat udara perpustakaan mendadak dingin. Tatapan matanya tajam, seakan bisa menembus isi kepala siapa pun yang berani menatap balik.

"Kamu masih di sini?" Suaranya dalam, datar, tapi membuat jantung Alya berdebar tak karuan.

Alya buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan buku di rak. "E... e-eh, cuma mau balikin buku, kok."

Dia hanya diam cuek. Lalu berjalan melewati Alya, tapi matanya sekilas melirik ke meja yang kosong. Alya bisa merasakan sesuatu, seolah cowok itu sedang mencari sesuatu.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Alya. Jangan sampai ketahuan. Jangan sampai dia tahu aku yang nemu.

"Lihat sesuatu di sini?" Arka tiba-tiba berhenti tepat di depan rak yang barusan Alya datangi.

Alya menelan ludah. "Nggak... nggak ada, kok."

Arka menatapnya lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, Alya berani menatap balik, dan detik itu juga ia merasa terjebak dalam tatapan mata yang gelap, penuh rahasia.

Cowok itu kemudian mendesah pelan, seolah kecewa. "Kalau kamu nemuin sesuatu, lebih baik balikin. Karena ada hal yang... nggak seharusnya dibaca orang lain."

Alya hampir tersedak. Kata-kata itu terdengar seperti ancaman yang samar.

Arka kemudian berbalik, berjalan pelan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.

"Hati-hati sama apa yang kamu simpan. Kadang, beban itu lebih berat dari yang kamu kira."

Pintu ditutup. Sunyi kembali.

Alya berdiri terpaku. Jantungnya berdentum keras, bukan hanya karena hampir ketahuan, tapi juga karena perasaan aneh yang muncul. Entah kenapa, ada sisi lain dari Arka yang baru ia lihat tadi sisi rapuh yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.

Ia membuka tas, menatap diary hitam yang diam membisu di dalam sana.

Satu hal yang pasti, hidup Alya tidak akan lagi tenang setelah hari ini.

**

Pagi di sekolah terasa biasa saja. Suara riuh murid-murid, dentingan bel masuk, dan antrean di depan kantin sudah jadi pemandangan rutin. Tapi buat Alya, hari itu sama sekali tidak biasa.

Setiap kali ia membuka tas, perasaan gelisah langsung menyergap. Diary hitam itu masih tersimpan rapi di sana, seakan berdenyut hidup dan berbisik di telinganya, "ayo baca aku... baca aku."

"Alyaaa!" Suara keras memecah lamunannya. Intan, sahabatnya, sudah berdiri di depan meja dengan dua roti bakar di tangan.

"Ngapain bengong? Nih, gue beliin."

Alya tersenyum kaku. "Hehe... makasih."

Tapi bahkan ketika Intan asyik bercerita tentang cowok kelas sebelah yang lagi nembak gebetan di kantin, pikiran Alya tak bisa lepas dari diary itu. Ia biarkan sahabatnya ngomong sendiri.

Harusnya aku balikin ke Arka. Tapi... gimana caranya? Masa tiba-tiba aku datengin dia terus bilang 'ini diary kamu'? Bisa mati kutu aku.

Bel pelajaran berbunyi. Guru sejarah masuk. Semua murid bersiap, kecuali Alya yang sibuk menahan degup jantung. Ia melirik sekilas ke bangku belakang kelas tempat Arka duduk.

Cowok itu seperti biasa, bersandar dengan wajah dingin, seolah dunia di sekitarnya tak penting. Namun, untuk sesaat, Alya merasa tatapan Arka bergerak sekilas ke arahnya. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuatnya panik.

Dia tahu? Jangan-jangan dia curiga sama aku...

Sepanjang jam pelajaran, pikiran Alya tidak tenang. Sampai akhirnya, saat istirahat, ia memutuskan membuka sedikit isi diary itu di toilet perempuan yang kosong.

Halaman ketiga belas.

Tulisan itu membuat darahnya berdesir.

"Aku harus menyembunyikan sisi ini dari semua orang. Mereka hanya tahu Arka yang dingin, populer, tak tersentuh. Tapi kalau mereka tahu apa yang kulakukan setiap malam... aku pasti malu."

Alya terperangah.

Apa maksudnya? Apa yang dia lakukan setiap malam?

Pintu toilet tiba-tiba berderit. Seseorang masuk. Alya buru-buru menutup diary itu.

"Eh, Alya?" Suara lembut itu membuatnya langsung menegang.

Ia mendongak.

Angel, ketua OSIS, ia menatapnya sambil tersenyum.

"Ngapain bengong di sini sendirian?"

Alya mati kutu.

Tangannya refleks menyembunyikan diary ke balik seragam.

"Alya ngapain disini?" Angel mengulang pertanyaannya, kali ini sambil merapikan rambut panjangnya di depan cermin toilet.

Alya menegakkan tubuh. "E... nggak, cuma lagi... istirahat." Ia memaksa tersenyum, meski jantungnya seperti mau meloncat keluar.

Angel menoleh, matanya yang jernih menatap Alya cukup lama. "Kamu keliatan aneh. Ada yang kamu sembunyiin, ya?"

"Ha? Nggak kok!" Alya cepat-cepat mengibaskan tangan. Ia lalu bergegas keluar, nyaris menabrak pintu.

Begitu sampai di kelas, napas Alya masih tersengal. Ia menyentuh tasnya, di dalamnya diary hitam itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Kalau Angel atau orang lain tahu aku nemuin ini, habis aku.

Hari itu berjalan lambat. Alya tidak bisa fokus mendengar guru, tidak bisa tertawa saat Intan bercanda, bahkan tidak bisa makan siang dengan tenang. Semuanya terasa kacau.

Sampai akhirnya, setelah jam pelajaran selesai, ia nekat membuka lagi halaman berikutnya dari diary itu.

"Aku tidak bisa berhenti. Setiap malam, aku selalu kembali ke tempat itu. Hanya di sana aku merasa jadi diriku sendiri. Tapi... jika ada yang tahu aku melakukan hal ini, reputasiku selesai."

Alya menggigit bibir. Tempat itu? Malam-malam? Apa maksudnya?

Ia hendak menutup diary ketika suara yang amat dikenalnya membuat tubuhnya membeku.

"Seru banget, sampai senyum-senyum sendiri gitu?"

Alya menoleh. Arka berdiri di samping mejanya, dengan ekspresi datar yang justru semakin membuatnya menakutkan. Beberapa anak di kelas melirik penasaran.

Alya buru-buru menyembunyikan diary ke balik buku paket. "Nggak... nggak ada, kok!"

Arka menunduk sedikit, matanya menatap tajam tepat ke arah tas Alya.

"Kalau kamu nemuin sesuatu yang bukan milikmu," katanya pelan, tapi cukup jelas untuk membuat Alya merinding, "kadang lebih baik jangan pernah dibuka."

Senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang entah kenapa terasa seperti peringatan.

Lalu ia pergi begitu saja, meninggalkan Alya dengan napas tersengal dan pikiran berantakan.

Alya menatap tasnya. Diary hitam itu seolah hidup, bergetar di sana.

Satu hal kini ia tahu: Arka mencurigainya.

Dan lebih buruknya lagi, ia tidak bisa menahan diri untuk terus membaca.

**

Suasana kelas pagi itu lebih riuh dari biasanya. Murid-murid berkumpul berkelompok, berbisik-bisik dengan ekspresi penuh antusias. Alya baru saja duduk ketika Intan langsung menyeret kursinya mendekat.

"Al, lo udah denger gosipnya belum?" Bisiknya dengan mata berbinar.

Alya menggeleng, masih mengeluarkan buku dari tas. "Gosip apa lagi, Tan?"

Intan menunduk, suaranya dipelankan. "Katanya... ada yang liat Arka keluar malam. Sendirian. Di sekitar taman kota."

Alya spontan menoleh. Jantungnya berdegup. Taman kota? Jangan-jangan itu yang dimaksud di diary...

"Terus?" Tanyanya cepat.

"Terus ya... aneh banget. Katanya Arka duduk sendirian di bangku taman sambil bawa gitar. Nyanyi sendiri, gitu. Lo bayangin deh Arka yang dingin itu ternyata suka main musik."

Intan cekikikan, lalu menambahkan, "Eh, jangan bilang-bilang siapa-siapa ya. Katanya kalau gosip ini sampai nyebar, bisa bahaya."

Alya terdiam. Tangannya meremas ujung bukunya.

Jadi... itu rahasianya? Selama ini Arka pura-pura cuek, populer, dingin, tapi sebenarnya diam-diam suka musik?

Namun, ada sesuatu yang masih janggal. Tulisan di diary terasa lebih berat, lebih kelam. "Setiap malam... reputasi selesai kalau ketahuan..." Rasanya itu bukan cuma soal main gitar diam-diam.

Bel masuk berbunyi. Semua murid kembali ke bangku masing-masing. Guru mulai mengajar. Tapi buat Alya, kata-kata Intan terus bergema di kepala.

Saat pelajaran usai, tanpa sadar dia melirik ke belakang. Arka menutup bukunya dengan santai, memasukkan ke dalam tas, lalu berdiri. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Arka tidak berkata apa-apa, hanya menyunggingkan senyum tipis yang sulit ditebak.

Alya tahu, entah bagaimana caranya, malam ini ia tidak akan bisa menahan rasa penasarannya lagi. Pengen banget melihat cowok itu di Taman Kota.

*****

Bab 2

Malam itu, kamar Alya gelap kecuali cahaya meja belajar yang remang. Suara jangkrik terdengar dari luar jendela, seakan ikut menyembunyikan rahasia yang ia pegang.

Tangannya gemetar ketika menarik diary hitam itu dari dalam tas. Sampulnya dingin, seolah menyimpan energi asing. Alya membuka halaman yang belum sempat ia baca.

Tulisan Arka rapi, tapi kata-katanya seperti berbisik penuh tekanan.

"Aku benci semua sorotan ini. Semua orang menganggap sempurna, padahal aku nggak bisa jadi diriku sendiri. Di siang hari aku jadi Arka yang mereka mau. Tapi di malam hari... aku bebas. Malam hari adalah satu-satunya tempatku bernapas."

Alya menggigit bibir. Jadi benar, Arka punya sisi lain. Ia membalik halaman berikutnya.

"Aku tahu nggak boleh ketahuan. Sekali saja ada yang melihatku di tempat itu, semua selesai. Mereka akan lihat betapa lemahnya aku. Mereka akan tahu aku bukan Arka yang dingin dan kuat. Aku hanya seorang pengecut yang bersembunyi di balik basket."

Alya menahan napas. Jadi gosip Intan soal gitar itu... benar. Tapi kenapa Arka menulisnya seolah itu rahasia yang begitu besar? Apa sekadar main gitar bisa menghancurkan reputasinya?

Ia melanjutkan membaca.

"Aku akan ke sana lagi. Taman kota, bangku ketiga dekat air mancur. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa bernapas sebelum semuanya benar-benar mengekangku."

Mata Alya membelalak. Tangannya bergetar memegang diary itu.

Bangku ketiga. Air mancur.

Ya Tuhan... aku bahkan tahu persis tempatnya sekarang.

Alya menutup diary dengan cepat, seakan takut ada yang mendengar isi rahasia itu. Jantungnya berdentum keras.

Satu sisi dirinya berteriak agar ia segera mengembalikan diary ini ke Arka. Tapi sisi lain, yang didorong rasa penasaran, ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Arka di malam hari.

Dan tanpa sadar, Alya sudah membuat keputusan. Besok malam... ia akan pergi ke taman kota itu.

**

Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu jalan di sekitar taman kota memantulkan cahaya kekuningan, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Alya menarik jaketnya rapat-rapat, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

Ia berdiri di balik pohon, menatap sosok yang sudah ia ikuti sejak tadi.

Cowok itu berjalan santai, seolah taman kota memang rumahnya sendiri. Tidak ada teman, tidak ada geng penggemar yang biasanya mengelilinginya di sekolah. Hanya dirinya dan sebuah gitar yang ia sandarkan di bahunya.

Alya menahan napas ketika Arka berhenti di bangku ketiga dekat air mancur, persis seperti yang tertulis di diary. Ia duduk, meletakkan tas, lalu mengeluarkan gitarnya.

Suasana sepi. Hanya suara gemericik air mancur yang terdengar. Lalu... senar gitar itu mulai dipetik.

Alya membelalakkan mata. Nada-nada yang keluar lembut, sendu, penuh emosi. Jauh berbeda dari sosok Arka yang dingin di sekolah. Cowok itu menunduk, matanya terpejam dan untuk pertama kalinya melihat sisi Arka yang rapuh.

Suara rendahnya perlahan mengikuti alunan gitar. Bukan sekadar bernyanyi, tapi lebih mirip melampiaskan isi hati yang tidak pernah bisa ia katakan.

Alya terpaku. Ini... ini Arka yang sebenarnya?

Namun, saat ia terlalu hanyut dalam momen itu, sebuah ranting kering tak sengaja ia injak. Krak!

Arka langsung berhenti. Kepalanya menoleh cepat, tatapannya menusuk ke arah pepohonan.

Alya panik, bersembunyi di balik batang pohon dengan napas tersengal. Suasana hening beberapa detik, hingga suara Arka terdengar pelan, nyaris berbisik tapi jelas menusuk.

"Aku tahu ada yang ngikutin aku..."

Alya menutup mulut dengan tangannya, tubuhnya gemetar.

Cowok itu berdiri, matanya menyapu sekitar taman. Seolah berbicara langsung padanya, ia melanjutkan.

"Kalau itu kamu... keluar sekarang!"

Napas Alya semakin cepat. Ia berdiri mematung di balik pohon, berharap Arka menyerah dan kembali duduk. Tapi tatapan cowok itu tidak beranjak dari arah persembunyiannya.

"Aku hitung sampai tiga," suara Arka terdengar jelas, rendah, dan penuh tekanan.

"Kalau nggak keluar, aku bakal nyari sendiri."

Alya menelan ludah.

Ya ampun, gimana ini?!

"...Satu."

Jantung Alya berdentum keras.

"...Dua."

Tangannya berkeringat, lututnya lemas.

"...Tiga."

Sebelum Arka sempat melangkah, dia akhirnya menyerah. Keluar perlahan dari balik pohon, wajahnya pucat, tangan meremas ujung jaket.

"E... e-eh... aku cuma kebetulan lewat," katanya gugup, suara bergetar.

Arka menatapnya tajam. "Lewat? Jam segini? Di taman yang sepi?"

Alya tersenyum kaku, mencoba berbohong. "Iya, hehe... aku kan habis dari minimarket..."

Tatapan Arka makin menusuk. Ia melangkah mendekat, hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah saja.

"Jangan bohong."

Alya terdiam. Matanya refleks menunduk.

Dan saat itu, Arka melihat sesuatu menyembul dari tas Alya sampul hitam yang begitu familiar.

Dalam sekejap, tangannya terulur dan meraih benda itu. Alya mencoba menahan, tapi tenaga Arka terlalu kuat. Diary itu pun berpindah ke tangannya.

Arka menatap sampul hitam itu lama sekali, lalu mengalihkan pandangan ke Alya. Ekspresinya sulit ditebak antara marah, terkejut, dan... kecewa.

"Jadi... kamu yang selama ini..." suaranya pelan, tapi penuh tekanan.

"Kamu udah baca ini?"

Alya membeku. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya.

Dan di detik itu juga, ia sadar, rahasia Arka sudah terlanjur ia sentuh... dan sekarang tidak ada jalan kembali.

Arka menatap diary hitam di tangannya lama sekali. Angin malam meniup rambutnya yang sedikit berantakan, tapi sorot matanya tetap tajam.

Alya berdiri kaku, tubuhnya gemetar. Ia sudah siap kalau Arka akan marah, membentak, atau bahkan langsung pergi. Tapi yang

membuatnya makin panik Arka justru tersenyum tipis. Senyum yang dingin.

"Jadi kamu udah baca semua?" Tanyanya pelan.

Alya menunduk. "Maaf... aku nggak sengaja..."

Arka tertawa lirih, bukan tawa bahagia, melainkan seperti mengejek. "Nggak sengaja? Kamu buka, kamu baca, kamu simpan... tapi itu semua nggak sengaja?"

Alya menggigit bibirnya. Kata-kata itu menusuk seperti pisau.

Cowok itu melangkah mendekat, hingga jarak mereka tinggal satu langkah. Alya bisa merasakan aura dingin dari tubuhnya.

"Tahu nggak, kamu..." Arka berbisik, suaranya tenang tapi membuat bulu kuduk merinding.

"Lebih baik kamu dengar gosip buruk tentang aku, daripada kamu tahu kebenaran langsung dariku."

Alya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku cuma penasaran. Aku nggak akan cerita ke siapa pun, sumpah."

Arka menunduk, menatap langsung ke dalam matanya. Untuk sesaat, Alya bisa melihat sesuatu, rasa sakit, rapuh, tapi tersembunyi.

Lalu senyum itu kembali muncul.

"Kalau gitu..." ia mengulurkan diary hitam itu ke tangan Alya, membuat gadis itu terperangah.

"Teruskan baca. Tapi siap-siap, ya. Karena setiap halaman yang kamu buka... kamu bakal makin susah tidur."

Alya terdiam. Tangannya gemetar saat menerima kembali diary itu.

Arka berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Sementara Alya berdiri terpaku di bawah lampu taman, dengan jantung berdegup kencang dan sebuah pertanyaan besar di kepalanya.

Rahasia apa yang dia sembunyiin?

**

Suara bel istirahat menggema, disusul riuh murid-murid yang buru-buru keluar kelas. SMA Negeri 6 Surabaya siang itu terasa penuh energi. Dari koridor lantai dua, Alya bisa melihat lapangan basket yang ramai dipenuhi siswa, sebagian duduk di tangga sambil menikmati jajanan kantin.

Alya melangkah pelan, menenteng buku catatannya. Ia berusaha menghindar dari kerumunan, tapi tetap bisa mendengar suara-suara heboh cewek-cewek yang membicarakan Arka.

"Astaga, Arka makin keren aja kalau pakai seragam gitu!"

"Besok ada tanding basket antar SMA kan? Duh, nggak sabar nonton dia main lagi."

Alya hanya menarik napas, pura-pura tidak mendengar. Hatinya berdebar karena diary itu masih ada di tasnya, tersimpan rapi dalam plastik bening. Sejak membaca beberapa hal rahasia di dalamnya, ia merasa canggung setiap kali melihat Arka.

Sampai akhirnya suara langkah cepat menghentikannya.

"Alya."

Suara berat itu membuat tubuh Alya menegang. Ia menoleh, dan benar saja, Arka berdiri tak jauh darinya, masih dengan wajah datar yang sulit ditebak. Seragam putih abu-abunya sedikit berantakan, kancing atas tidak tertutup, dan rambutnya berkilau terkena sinar matahari yang masuk dari jendela.

Jantung Alya seketika berdegup kencang.

"Aku... aku mau ke kantin," ucap Alya cepat, mencoba menghindar.

Tapi Arka mengangkat tangannya, menghentikan langkahnya. "Bisa kita ngobrol bentar? Di belakang perpus."

Alya menelan ludah. Belakang perpustakaan adalah tempat yang jarang dilewati orang saat istirahat. Suasana sepi di sana... hanya ada pohon flamboyan besar yang menaungi bangku semen. Mau gak mau, Alya mengikuti.

Sesampainya di sana, suasana benar-benar kontras dengan riuhnya sekolah. Hanya suara burung dan angin yang terdengar. Arka bersandar di tembok, menatap Alya dengan mata teduh namun menusuk.

"Diary itu... kamu masih simpan, kan?" Tanyanya lirih.

Alya mengangguk pelan. "Iya. Aku... aku nggak cerita ke siapa-siapa."

Arka menatapnya lama. Senyum samar muncul di bibirnya, tapi justru membuat Alya makin gelisah.

"Bagus. Tetap begitu. Karena kalau ada orang lain yang tahu isinya..." Arka berhenti sejenak, menunduk, lalu melanjutkan dengan suara rendah. "...hidup aku bisa berantakan."

Alya menegang. Kata-kata itu seperti menambah beban di pundaknya. Ia ingin bertanya, ingin tahu lebih dalam, tapi bibirnya kelu.

Lalu, tanpa diduga, Arka menatapnya lagi kali ini lebih dalam.

"Kamu satu-satunya orang yang aku percaya buat nyimpan rahasia ini, Alya."

Ucapan itu membuat dada Alya terasa sesak. Bagaimana bisa cowok paling populer di SMA 6, yang punya segalanya, justru menaruh rahasia terbesar hidupnya pada seorang gadis biasa sepertinya?

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya Alya merasa... dia bukan lagi gadis tak terlihat di sekolah ini.

Malam itu, kipas angin di kamar Alya berputar lambat. Buku-buku berserakan di meja belajar, namun pikirannya tak bisa fokus ke pelajaran. Diary itu yang sejak siang tadi ia sembunyikan di laci seolah berteriak minta dibuka.

Dengan jantung berdebar, Alya menarik napas dalam-dalam lalu membuka halaman berikutnya. Tulisan tangan Arka yang rapi tapi sedikit tergesa membuatnya semakin penasaran.

"Kadang aku malas pulang ke rumah. Bukan karena rumahku kecil, tapi karena di balik tembok itu terlalu banyak rahasia. Ayahku bukan sosok yang sempurna seperti yang dilihat orang. Semua orang mengira dia seorang diplomat sukses, padahal... terlilit hutang rentenir."

Alya membekap mulutnya. Matanya membesar, membaca kalimat demi kalimat.

"Aku juga masih dihantui masa lalu. SMP kelas 3, aku hampir dikeluarkan sekolah karena ikut tawuran. Hanya karena ayahku 'membayar' pihak sekolah, namaku aman. Tapi rasa malu itu masih ada. Kadang aku pengin semua orang tahu siapa aku sebenarnya... tapi aku takut semua akan pergi kalau mereka tahu kebenarannya."

Tangannya bergetar. Alya buru-buru menutup diary itu, lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran kacau.

"Ya Tuhan... jadi selama ini..." Bisiknya lirih.

Ia merasa sesak. Besok di sekolah, ia harus bertemu Arka, menatap mata cowok yang selama ini terlihat sempurna. Tapi kini, setelah tahu rahasianya, Alya merasa memikul beban berat.

Suaranya bergetar sendiri, seolah ingin menolak kenyataan itu.

"Kenapa aku? Kenapa aku yang harus tahu semua ini...?"

Di luar, suara klakson motor lewat di jalan raya Surabaya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar Alya, waktu terasa berhenti. Diary itu membuatnya terjebak di antara dua pilihan, menjaga rahasia atau menghancurkan segalanya.

*****

Bab 3

Pagi itu Surabaya terasa lebih panas dari biasanya. Matahari belum terlalu tinggi, tapi halaman SMA Negeri 6 sudah ramai dengan suara motor, obrolan, dan langkah kaki para siswa.

Alya berjalan pelan melewati gerbang sekolah. Seragam putih abu-abunya rapi, tapi wajahnya tampak gelisah. Tasnya terasa lebih berat hanya karena ada benda terlarang "Diary Arka" yang masih ia bawa.

Begitu masuk halaman, ia langsung melihat kerumunan di dekat lapangan basket. Seperti biasa, Arka jadi pusat perhatian. Ia berdiri dengan santai, jaket tim basket SMA 6 tergantung di bahu, dikelilingi beberapa teman cowok dan cewek yang sibuk menyapanya.

Alya spontan menunduk. Jantungnya memukul keras, seakan semua tulisan yang ia baca semalam ikut berdengung di telinganya.

"Aku capek jadi boneka... aku takut semua akan pergi kalau mereka tahu kebenarannya."

Kalimat itu membuat setiap langkahnya terasa berat.

"Al...! Tungguin aku, dong!" Suara sahabatnya, Intan, memecah lamunan. Cewek berambut kuncir dua itu menghampiri sambil membawa segelas es teh plastik dari kantin.

"Kok pucat gitu sih? Belum sarapan,ya?"

Alya tersenyum hambar. "Udah, kok."

Mereka lalu berjalan bareng ke arah kelas. Tapi belum sempat duduk, suara riuh kembali terdengar. Arka masuk barengan dengan Alya. Semua pasang mata langsung menoleh.

Arka melangkah santai, matanya sekilas menyapu ruangan. Sampai akhirnya... berhenti tepat di bangku Alya.

Tatapan itu. Bukan tatapan marah. Bukan juga dingin seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda, seakan Arka tahu Alya sedang menanggung beban besar.

Alya buru-buru menunduk, pura-pura sibuk membuka buku catatan. Tapi ia bisa merasakan jantungnya makin kencang, pipinya memanas.

"Kenapa tatapan dia berat banget, sih..." Gumam Alya pelan, nyaris tak terdengar.

Intan yang duduk di sebelahnya malah nyengir. "Al, jangan-jangan kamu mulai naksir sama Arka?"

Alya langsung terbatuk, hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Sembarangan kamu, Tan! Aku, aku nggak mungkin..."

Tapi di dalam hati, Alya tahu rasa yang muncul bukan sekadar kagum. Yang membuatnya gelisah bukan hanya rahasia Arka... tapi juga perasaan aneh yang perlahan tumbuh setiap kali tatapan itu tertuju padanya.

Perpustakaan sore itu sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sibuk menyalin catatan, sementara Alya duduk di pojok ruangan, tepat di meja dekat jendela besar yang menghadap taman. Cahaya matahari sore menembus kaca, membuat bayangan bukunya terlihat panjang.

Alya mencoba fokus membaca novel, tapi matanya tak benar-benar menatap huruf-huruf di halaman. Yang ada hanyalah rasa gelisah. Sejak menemukan diary itu, hidupnya seperti tak pernah tenang lagi.

Tiba-tiba...bruk! kursi di depannya ditarik seseorang. Alya terlonjak. Saat menoleh, jantungnya serasa berhenti berdetak.

Cowok itu duduk santai, tapi sorot matanya menusuk. Wajah dinginnya tampak semakin serius di balik cahaya redup sore. Dia tidak membuka buku, tidak menyalin catatan, hanya menatap Alya.

Dengan suara rendah dan datar, Arka berkata,

"Kamu pasti udah baca semua diary aku?"

Darah Alya seakan mengalir deras ke kepalanya. Nafasnya tercekat. Tangannya refleks menutup novel yang bahkan dari tadi tak ia baca.

"Ak..." Alya mencoba bicara, tapi lidahnya kelu.

Arka menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku cuma mau tahu satu hal..." Matanya menyipit, menatap lurus menembus mata Alya.

"...setelah kamu baca semuanya, apa yang kamu pikirin tentang aku?"

Hening.

Detik itu, Alya serasa lumpuh. Kata-kata Arka menghantam dadanya lebih kuat dari teriakan guru piket. Dia bisa saja bilang tidak baca, tapi jelas bohong. Dia bisa saja jujur, tapi... apakah Arka siap mendengar jawabannya?

Jantung Alya berpacu tak karuan. Ruangan terasa semakin sempit, seolah hanya ada mereka berdua di dalam perpus yang sunyi.

Alya menggenggam erat novel di tangannya. Rasanya jantung mau copot setiap detik Arka menatapnya begitu dalam. Pertanyaan itu... bukan pertanyaan biasa.

Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Aku..." suaranya pelan, hampir tak terdengar. "...aku nggak nyangka, Arka."

Alis Arka sedikit terangkat, ekspresinya masih dingin, tapi ada sesuatu yang samar, seperti menunggu jawaban lebih jauh.

"Aku kira kamu itu cowok sempurna. Populer, selalu tenang, dingin, kayak... nggak pernah punya masalah," Alya melanjutkan, kali ini suaranya lebih jelas. Ia memberanikan diri menatap balik ke mata Arka.

"Tapi setelah baca diary itu, aku sadar... kamu juga rapuh. Sama kayak kita semua."

Hening sejenak.

Arka menatapnya lama. Tatapan yang sulit ditebak antara lega, marah, atau mungkin... tersentuh. Jemarinya mengetuk pelan meja kayu di antara mereka, seolah sedang berpikir keras.

"Jadi..." Arka berkata akhirnya, suaranya rendah. "...kamu nggak cerita ke siapa pun?"

Alya cepat-cepat menggeleng. "Enggak! Demi apa pun, aku nggak bakal nyebarin."

Arka masih diam. Sorot matanya begitu menusuk, tapi kali ini berbeda. Ada sedikit kehangatan yang terselip di balik dinginnya.

Sampai akhirnya, dia tersenyum miring, senyum tipis yang jarang sekali terlihat dari Arka.

"Baiklah. Mulai sekarang, kamu satu-satunya orang yang tahu sisi lain aku. Anggap aja... kamu partner rahasiaku."

Deg.

Ucapan itu membuat dada Alya bergetar aneh. Partner rahasia? Itu kedengarannya gila, sekaligus... spesial.

Sebelum Alya sempat merespon, bel tanda pulang sekolah berbunyi keras. Arka bangkit lebih dulu, menyampirkan tas di bahu, lalu berjalan menjauh. Namun, sesaat sebelum pintu perpustakaan, dia berhenti dan menoleh sebentar.

"Jangan bikin aku nyesel percaya sama kamu, Alya."

Dan cowok itu pun pergi, meninggalkan Alya yang kini hanya bisa duduk terpaku, wajahnya panas dan hatinya berdebar tak karuan.

**

Keesokan harinya, perpustakaan kembali jadi tempat pelarian Alya. Dia duduk di pojokan favoritnya, mencoba fokus membaca novel, tapi otaknya malah penuh dengan kata-kata Arka kemarin. "Anggap aja... kamu partner rahasiaku."

Deg, detak jantungnya berdegup. Bahkan mengingatnya saja sudah bikin wajah Alya panas.

Ada suara langkah pelan terdengar mendekat. Alya menoleh dan... benar saja, Arka berdiri di sana dengan tatapan dinginnya yang khas.

"Kamu selalu di sini, ya?" Tanyanya datar.

Alya terdiam, lalu mengangguk kikuk. "E... iya. Tempat favoritku."

Arka menarik kursi, duduk tepat di hadapannya. Ada keheningan canggung beberapa detik, sampai akhirnya cowok itu membuka suara.

"Ada sesuatu yang belum pernah aku bilang ke siapa pun..."

Alya menahan napas. Hatinya langsung berdegup kencang.

"Semua orang mikir aku cowok paling santai, nggak peduli, nggak pernah panik. Tapi kenyataannya..." Arka berhenti sejenak, menatap meja seolah mencari keberanian. "...aku sering ngerasa sendirian. Bahkan di tengah keramaian sekalipun."

Kata-kata itu membuat Alya terenyuh. Ia melihat sisi Arka yang sama sekali berbeda dari bayangan banyak orang.

"Aku ngerti..." bisik Alya. "Kesepian itu kadang lebih berat daripada masalah apa pun."

Untuk pertama kalinya, Arka benar-benar menatap cewek itu dengan mata yang tak lagi dingin, tapi penuh luka.

Namun sebelum percakapan mereka semakin dalam, terdengar suara lirih dari balik rak buku.

"Hei, itu Arka kan? Sama siapa tuh? Alya?"

Alya terkejut. Jantungnya meloncat. Ada yang menguping!

Arka langsung berdiri, matanya menyipit, seolah tahu dirinya sedang jadi sorotan. Dia meraih tangan Alya, membuat gadis itu kaget setengah mati.

"Udah, ikut aku sekarang."

Dengan langkah cepat, Arka menarik Alya keluar dari perpustakaan, meninggalkan bisikan-bisikan penasaran yang semakin lama semakin ramai.

Gossip Alya dua berdua dengan Arka cepat berhembus. Baru masuk pintu gerbang sekolah, matanya sudah menangkap tatapan aneh dari beberapa murid. Ada yang bisik-bisik, ada pula yang sengaja pura-pura menatap buku tapi ujung bibirnya menyeringai.

Alya berusaha cuek, tapi langkahnya terasa semakin berat saat melewati koridor kelas.

"Eh, itu kan Alya... yang kemarin bareng Arka di perpus?" Bisik seorang siswi dengan nada menggoda.

"Seriusan? Nggak nyangka Arka deket sama dia," sahut yang lain, jelas-jelas tidak berusaha mengecilkan suara.

Alya menunduk. Pipinya panas. Rasanya ingin langsung menghilang dari muka bumi.

Begitu masuk kelas, ternyata suasana tak jauh berbeda. Beberapa teman sekelas menatap penuh rasa ingin tahu. Ada yang tersenyum jail, ada yang mengangkat alis, seakan-akan menunggu Alya menjelaskan sendiri.

"Alya..." suara ringan memanggil. Ternyata itu Intan, sahabat dekatnya. "Kamu... beneran kemarin sama Arka di perpus? Semua orang ngomongin lho."

Alya langsung membeku. Lidahnya kelu. Ia ingin bilang tidak, tapi bayangan tatapan Arka kemarin, tatapan yang penuh rahasia dan luka membuatnya memilih diam.

Diamnya itu justru jadi bahan gosip paling panas. Siangnya, di kantin sekolah, Arka masuk dengan langkah santai. Seisi ruangan otomatis menoleh. Semua tatapan segera beralih ke satu titik Alya yang duduk bersama Intan.

Jantung Alya hampir copot.

"Jangan ke sini... jangan ke sini..." doanya dalam hati.

Namun kenyataan berkata lain. Arka berjalan lurus, berhenti tepat di depan meja Alya, lalu berkata dengan suara datar tapi cukup keras untuk didengar banyak orang.

"Kamu udah makan?"

Suasana kantin langsung riuh. Semua orang tercengang, ada yang hampir tersedak, ada pula yang langsung bisik-bisik panik.

Alya terpaku. Dunianya terasa berhenti.

Arka hanya menatapnya sebentar, lalu tanpa menunggu jawaban, dia menarik kursi dan duduk di samping Alya.

Seisi kantin pecah. Mereka enggak nyangka kalo Arka yang jadi idola di sekolah, banyak cewek yang jatuh cinta, malah milih Alya gadis kutu buku perpus. Ada geng cewek yang sakit hati, mereka punya rencana jahat yang bakal bully Alya.

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED