Bab 1

"Selamat pagi, Pak Harry," sapa Haitsam pada bosnya. Sambil membungkukkan badan, pria itu berperan sebagai seorang bawahan yang senantiasa bersikap santun pada sang atasan.

Haitsam Rahandika berprofesi sebagai asistan pribadi Harry Ekawira di kantor. Sang atasan merupakan seorang pemilik sekaligus direktur utama PT WIRA GROUP (sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor).

Haitsam menyambut kedatangan Harry setelah pria paruh baya itu turun dari mobil. Haitsam lalu mengambil alih membawakan tas kerja Harry--kemudian berjalan memasuki badan kantor dengan posisi berada di belakang Harry.

Pria paruh baya berusia enam puluh tahun itu mengulas senyum simpul untuk para karyawan yang menyapanya ketika berpapasan di lantai lobby. Harry merupakan sosok pemimpin yang murah senyum. Ia pun tidak pernah membeda-bedakan bawahan. Karena dirinya menganggap semua pegawainya adalah keluarga.

Haitsam dan Harry saat ini tengah bergerak menuju ruang kerja Harry yang berada di lantai sebelas.

"Oh iya, Sam, nanti setelah jam makan siang, anak sama menantu saya datang ke sini," ucap Harry di sela-sela langkahnya.

Posisi mereka saat ini telah sampai di depan ruang kerja Harry. Haitsam pun dengan sigap membukakan pintu untuk Harry, kemudian mempersilakan Harry untuk memasuki ruang kerja bernuansa pastel tersebut.

"Oh, ya? Wah, kebetulan sekali, Pak. Pak Ramdan tumben sekali membawa istrinya ke sini? Seumur-umur saya bekerja dengan Bapak, saya belum sekali pun bertemu dengan menantu Bapak." Haitsam terlihat antusias menanggapi cerita atasannya.

Harry mulai melepas jas hitam yang sejak tadi ia kenakan, kemudian memberikannya pada Haitsam. Pria itu pun duduk di kursi hitam empuk berkaki lima--yang merupakan kursi kebesarannya.

Haitsam senantiasa berdiri di samping atasannya. Tugasnya memang seperti ini setiap hari. Lelaki muda yang memiliki lesung pipit di pipi sebelah kiri itu sudah tiga tahun ini bekerja pada Harry.

Awal pertemuan mereka, Haitsam kebetulan pernah menolong lelaki paruh baya itu sewaktu hampir dirampok oleh orang-orang jahat. Dari situlah, Harry langsung tertarik pada Haitsam. Ia percaya kalau Haitsam adalah orang yang baik. Harry lalu berinisiatif mengajak Haitsam bergabung di perusahaannya. Tanpa ia duga sebelumnya, Haitsam dengan senang hati menerima tawarannya.

Boleh dibilang, Haitsam adalah kaki tangan Harry di perusahaan. Ia mengerti betul seluk beluk perusaahan milik Harry. Haitsam adalah orang yang paling dipercayai Harry di kantor ini.

"Selama ini menantu saya itu sibuk kuliah di luar negeri, Sam. Jadi, ya, maklum ketika Ramdan berkunjung ke sini, dia tidak ikut serta. Ramdan sendiri juga tipikal orang yang gila kerja. Mengunjungi saya pun kalau sedang ada urusan saja. Tujuan Ramdan tiba-tiba mengajak istrinya datang ke sini karena ada urusan yang penting, Sam. Sebelumnya saya sudah berdiskusi dengan Ramdan. Kami berdua telah sepakat menunjuk istri Ramdan menjadi penerus perusahaan ini. Saya berniat ingin pensiun, Sam."

Haitsam sempat terkejut ketika Harry bercerita kalau ingin pensiun. Sejauh ini bosnya itu tidak pernah membahas masalah pensiun.

"Maaf, Pak, tadi Bapak bilang kalau Bapak ingin pensiun? Maksudnya ... Bapak ingin berhenti tidak mengurus perusahaan ini lagi?" tanya Haitsam penasaran.

"Ya, saya ingin menikmati hidup di sisa-sisa waktu saya. Saya ini sudah tua, Sam. Masa iya, sudah bangkotan begini, saya masih kerja terus? Berhubung Ramdan fokus mengelola perusahaan yang di Jakarta, mau tidak mau, istrinya-lah yang harus mengurus perusahaan ini," jelas Harry.

Harry tidak mungkin memaksakan diri untuk terus-menerus bekerja di usianya yang sudah tidak muda lagi. Ia sudah ingin beristirahat dan menikmati masa tuanya.

"Jadi begini, Sam, saya punya satu tugas buat kamu. Saya ingin kamu nanti bersedia membimbing menantu saya mengurus perusahaan ini," lanjut Harry.

"Baik, Pak. Saya tentu bersedia," sanggup Haitsam. Sebagai bawahan yang patuh, ia tidak mungkin menolak perintah atasannya.

***

Pukul dua belas lebih sedikit, Haitsam menemani Harry meeting dengan seorang klien di sebuah restoran. Mereka berdua pun sekaligus makan siang bersama dengan klien tersebut.

Sambil menikmati jamuan makan siang, Haitsam gunakan waktu untuk menjelaskan prosedur kontrak kerja dengan kliennya. Boleh dikatakan, Haitsam pun juga merangkap menjadi juru bicara Harry. Lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu adalah orang yang sangat Harry andalkan. Kepiawaian yang Haitsam miliki dalam mengurus perusahaan, nyaris sebanding dengan anak Harry yaitu Ramdan.

"Untuk pembangunannya, apakah bisa kita mulai awal bulan depan, Mas Haitsam?" tanya Dahlan--seorang klien yang siang ini tengah meeting dengan Haitsam dan juga Harry.

"Kami usahakan pasti bisa, Pak. Kami akan mempersiapkan semuanya dengan matang. Bapak tinggal menunggu hasilnya saja," jawab Haitsam mantap.

"Wah, sepertinya Pak Harry benar-benar tidak salah memilih orang sebagai kaki tangan, ya. Bolehkah saya meminjam Mas Haitsam-nya sebentar untuk ikut bergabung dengan perusahaan saya, Pak Harry?" gurau Dahlan. Ia kebetulan teman dekat Harry--dan sedari dulu mereka berdua sudah terbiasa bergurau.

"Eh, tidak bisa, Bos. Haitsam ini anak emasku. Sembarangan saja kamu, mau main pinjam. Kamu pikir Haitsam ini barang pinjaman?" Harry balas bergurau. Hal ini refleks membuat Haitsam tertawa kecil.

"Loh, yang jadi bahan rebutan malah tertawa. Piye to iki? Sepertinya, selain menjadi seorang pengusaha, kita berdua cocok juga untuk menjadi pelawak, ya,  Har?" Lagi, Dahlan makin menjadi-jadi berguraunya.

"Maaf, Pak, saya tertawa bukan karena mengejek, tapi saya merasa terhibur dengan gurauan Bapak. Saya merasa iri dengan persahabatan Pak Dahlan dan juga Pak Harry. Persahabatan dua orang pria hebat yang benar-benar kompak sepanjang waktu," puji Haitsam.

"Hei, jangan asal menilai dulu. Biarpun kami kompak, tapi kami pernah terlibat perseteruan panas, loh, sebelumnya. Saya pernah memusuhi Harry, saat beliau lebih memilih menikahkan Ramdan dengan gadis lain ketimbang dengan putri saya." Dahlan rupanya mulai mengungkit masa lalunya dengan Harry.

"Bukan maksudku tidak mau menikahkan Ramdan dengan Rania, Ferguso. Aku begini karena ada amanah dari mendiang istriku. Jadi begini, sebelum istriku meninggal, dia sudah punya rencana ingin menikahkan Ramdan dengan gadis pilihannya. Aku hanya sebatas menjalankan amanah dari istriku saja," bela Harry. Ia memang semata-mata melakukan semua ini karena ingin mewujudkan impian sang istri--yaitu menikahkan Ramdan dengan gadis pilihan ibunda Ramdan.

"Ya, aku tahu. Aku pun paham. Yang namanya jodoh memang misteri. Ramdan dan Rania sudah pacaran lama, tapi rupanya takdir berkata lain. Ramdan justru berjodoh dengan gadis lain. Itu sama saja Rania menjaga jodoh orang, ya, selama ini?" Gurauan Dahlan kali ini tak sengaja menyinggung perasaan Haitsam.

Ya, Haitsam Rahandika, pernah dalam posisi Rania (anak Dahlan). Lelaki itu dulunya pernah menjalin hubungan dengan Yaya (kekasih di masa lalu). Namun, kenyataan Yaya bukanlah jodohnya.

Yaya lebih memilih menikah dengan pria lain, saat Haitsam tengah mengalami koma lima tahun lalu. Dan sampai detik ini, Haitsam tidak pernah mendengar kabar Yaya lagi. Di manakah gadis itu sekarang? Haitsam selalu yakin, Yaya pasti sudah bahagia dengan pria pilihannya.

Lelaki dengan kemeja abu-abu itu tampak mengusap wajahnya kasar. Ia tak mau larut-larut dalam kepedihan di masa lalu. Haitsam memilih kembali fokus dengan meeting-nya siang ini.

Bab 2

Ramdan memarkirkan roda empatnya di parkiran kantor milik sang ayah. Ia tak datang sendiri. Ada istri tercinta yang senantiasa mendampingi.

"Sebenarnya yang ditunjuk buat nerusin perusahaan Ayah, Mas aja, kan? Aku nggak ikut-ikutan?" tanya Kanaya sembari memerhatikan suaminya melepas sabuk pengaman.

"Nanti biar Ayah aja yang nyampein. Memangnya kenapa, sih, kalau kamu ikut terjun mengurusi usaha Ayah? Kamu keberatan?" Ramdan balik bertanya.

"Aku ngerasa nggak pantes aja, Mas. Takutnya, nanti perusahaan bakalan bangkrut karena punya pemimpin yang nggak berpengalaman kayak aku." Wanita yang mengenakan belted top berwarna peach itu merasa minder saja dengan kemampuannya.

"Udah, nggak perlu minder gitu. Kamu pasti bisa, kok. Ayah nggak akan ngelepasin kamu gitu aja. Mending kita langsung temui Ayah, ya. Ayo turun," ajak Ramdan. Ia lalu membuka pintu mobil, kemudian menghampiri sang istri yang kini baru saja keluar dari mobilnya.

Pria dengan kemeja berwarna hitam itu lantas menggandeng tangan sang istri. Mereka lalu berjalan beriringan memasuki badan kantor. Beberapa karyawan WIRA GROUP yang melihat kehadiran anak beserta menantu pemilik perusahaan itu, lantas menyapa dengan hormat, dan tak lupa memberi senyum teramah.

"Siang Pak Ramdan, Bu Naya."

"Siang." Ramdan dan Kanaya pun membalas sapaan para karyawan dengan ramah pula.

Ada satu karyawan kantor yang ditugaskan untuk menyambut kedatangan putra beserta menantu Harry Ekawira tersebut. Pegawai pria itu langsung menyambut kedatangan Ramdan dan Kanaya dengan hangat. Kemudian mengantarkan mereka ke ruangan Harry. Karena di sana Harry telah menunggu.

"Bapak Harry sudah menunggu di dalam, Pak," kata pegawai tersebut ketika baru saja sampai mengantarkan Ramdan dan Kanaya ke depan ruangan Harry.

"Terimakasih banyak, Pak," jawab Ramdan.

Karyawan tersebut membalas dengan seulas senyum tipis. Kemudian meminta izin untuk undur diri dari hadapan Ramdan dan juga Kanaya.

Ada seorang wanita berusia empat puluh tahunan yang baru saja keluar dari ruangan Harry. Wanita tersebut lantas menyambut kedatangan Ramdan dan Kanaya dengan senyum ramahnya.

"Selamat siang, Pak Ramdan dan juga Bu Kanaya. Pak Harry sudah menunggu di dalam," kata Lany yang merupakan sekretaris Harry.

"Siang, Bu Lany. Akh, perkenalkan ini istri saya. Bu Lany sering dengar tentang istri saya, tapi baru kali ini bisa bertemu, kan? Gimana, Bu, istri saya cantik, kan, Bu?" tanya Ramdan meminta pendapat.

"Bu Kanaya jelas sangat cantik, Pak. Pak Ramdan memang tidak salah memilih seorang istri," gurau Lany.

"Jangan berlebihan begitu dong, Bu, mujinya. Semua wanita terlahir cantik, kok, Bu." Kanaya merasa sungkan dengan pujian yang dilontarkan oleh Lany.

"Kalau begitu kami permisi masuk dulu ya, Bu." Ramdan mengambil alih menyudahi obrolan. Ia kemudian mengetuk pintu ruangan sang ayah.

Saat mendengar instruksi 'masuk' dari ayahnya, Ramdan lantas menekan gagang pintu kemudian membuka pintu tersebut.

"Siang, Yah," sapa Kanaya ramah pada bapak mertuanya.

"Akh, hai, siang, Nak. Ayah sudah menunggu kalian dari tadi." Harry lantas menutup laptopnya. Perhatiannya langsung beralih pada anak dan juga menantunya.

Baik Ramdan dan Kanaya bergantian mencium punggung tangan Harry. Mereka lalu duduk di sofa empuk yang sudah tersedia di seberang meja kerja Harry.

"Kalian sudah makan siang, hem?" tanya Harry berbasa-basi pada anak dan juga menantunya.

"Udah, Yah, tadi sebelum datang ke sini." Kanaya mengambil alih untuk menjawab.

"Ayah senang, kalian bersedia datang ke sini, dan yang paling membuat ayah makin senang, Kanaya bersedia jadi penerus perusahaan ini," ungkap Harry penuh haru.

"Yah, kami pasti senantiasa akan membantu mengurus perusahaan Ayah. Mohon maaf, Ramdan dan Naya jarang mengunjungi Ayah. Ramdan terlalu sibuk dengan perusahaan kita yang di Jakarta. Naya pun selama ini sibuk dengan kuliahnya di luar negeri. Tapi untuk sekarang, Naya selaku perwakilan dari Ramdan, akan senantiasa ada di samping Ayah. Kebetulan Naya udah menyelesaikan pendidikan S2-nya. Jadi sekarang Naya bisa benar-benar fokus mengelola perusahaan ini," tutur Ramdan panjang lebar.

"Oh, tidak masalah, Nak. Ayah pun mengerti dengan keasibukanmu. Oh iya, Nay, kamu sudah siap jadi orang kantoran, kan, sekarang?" tanya Harry dengan nada bergurau.

Kanaya mengulas senyum gugup. Ia sebenarnya belum sekali pun terjun ke dunia perkantoran.

"Naya siap, Yah. Naya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Ayah."

"Duh, ayah terharu sekali memiliki menantu sepertimu. Tapi kami tenang saja, Nak, ayah tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Nanti asisten pribadi sama sekretaris ayah akan membantu kamu selama bekerja di sini. Nanti ayah akan kenalkan kamu dengan mereka," sambung Harry.

"Kalau sama sekretaris Ayah, tadi Naya udah kenalan kok, Yah, di depan. Tinggal sama asisten Ayah aja. Ke mana perginya soulmate-nya Ayah? Masa jam kerja begini masih keluyuran?" Ramdan sudah biasa menyebut Haitsam sebagai soulmate ayahnya, karena hubungan mereka berdua sangat kompak dan tentunya dekat.

"Paling dia lagi ngopi sebentar di pantry, Ram. Dia kan kalau siang-siang belum ngopi, katanya kurang semangat gitu, Ram. Nah, itu sepertinya dia. Masuk." Harry memerintahkan seseorang yang baru saja mengetuk pintu ruangannya untuk bergegas masuk.

"Nah, ini dia orangnya. Sudah selesai ngopinya, Sam? Ini ada yang ingin berkenalan dengan kamu," ucap Harry begitu Haitsam masuk.

Ramdan dan Kanaya refleks menoleh ke belakang. Ramdan menyambut kedatangan Haitsam dengan senyum simpul. Namun, berbeda dengan Kanaya. Wanita itu menatap seorang pria dengan kemeja abu-abu yang tengah melangkah menghampirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kenapa wajah pria itu begitu mirip dengan Iam-nya? Bedanya, pria yang detik ini berada di depan Kanaya tersebut tampak terlihat lebih tampan dan dewasa.

Tak jauh berbeda dengan Haitsam. Di balik wajahnya yang tenang, dalam hati ia tengah bertanya-tanya. Apakah ini seperti mimpi? Ia tiba-tiba dipertemukan lagi dengan seorang wanita yang sangat mirip dengan orang di masa lalunya.

"Siang, Sam." Ramdan menyapa terlebih dahulu.

"S-siang, Pak Ramdan." Haitsam membalas menyapa meski ia merasa sangat gugup saat ini. Tak lupa, ia pun membungkukkan badan sebagai tanda hormat. Ujung matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan mata Kanaya.

'Benar-benar mirip,' batin Haitsam.

"Sam, perkenalkan, ini Kanaya. Selama kamu bekerja di sini, kamu pasti belum pernah bertemu dengan menantu saya yang paling cantik, kan?" Harry memperkenalkan Kanaya pada asisten pribadinya.

Haitsam menatap Kanaya makin dalam. Sesaat, rasa nyeri menjalar pada hatinya. Tadinya, Haitsam sebatas mengira kalau wajah wanita itu hanya sekadar mirip dengan kekasihnya yang dulu. Namun, saat tahu nama mereka berdua sama, Haitsam semakin yakin, Kanaya menantu Harry adalah Yaya(nama panggilan sayang Haitsam pada Kanaya dulu).

Yaya atau Kanaya adalah wanita yang sudah membuat hidup Haitsam rapuh selama lima tahun terakhir ini.

Haitsam mencoba bersikap seprofesional mungkin. Ia lalu membungkukkan badan di hadapan Kanaya sebagai tanda hormat. Tak lupa, senyum simpul senantiasa ia suguhkan pada wanita yang setiap detik ia nanti kabarnya.

"Selamat siang, Bu Kanaya."

Bibir Kanaya bergetar. Dadanya bergemuruh hebat. Bagaimana bisa, seorang kekasih yang dulu sudah ia campakkan, kini malah hadir kembali sebagai asisten pribadi ayah mertuanya? Apa yang kiranya sedang Tuhan rencanakan untuknya?

"Jadi, Nay, Haitsam ini yang nantinya akan membantu dan membimbing kamu selama mengurus perusahaan. Haitsam ini orang kepercayaan ayah di perusahaan." Harry memberi tahu soal tugas Haitsam di sini pada menantunya.

"Oh, begitu ya, Yah? Semoga bisa bekerja sama dengan baik, ya," sahut Kanaya basa-basi. Ia lalu menunduk kemudian menautkan kedua tangannya. Detik ini telapak tangannya terasa dingin dingin dan bergetar.

Posisi Haitsam saat ini tengah berdiri di samping atasannya. Ia tampak dengan saksama mendengarkan percakapan antara Harry dan Ramdan. Sesekali ia curi-curi pandang ke arah Kanaya. Wanita itu terlihat masih menunduk dan diam.

Haitsam dan Kanaya memilih menjadi pendengar setia. Mereka berdua sama sekali tidak ada mood untuk ikut terjun bercengkerama dengan Harry dan Ramdan. Mereka tengah bertengkar dalam kebisuan. Bertanya-tanya dalam hati, kenapa keduanya harus dipertemukan kembali dengan cara seperti ini?

Sedari dulu, Haitsam hanya tahu Kanaya menikah dengan pria kaya. Ia sama sekali tidak menduga kalau pria kaya tersebut adalah Ramdan. Dan, dalam kondisi seperti ini, apakah Haitsam masih pantas mengharapkan Kanaya kembali? Sedangkan, ayah mertua Kanaya adalah orang yang sangat Haitsam hormati. Ia tidak ingin menjadi pengkhianatan untuk Harry. Namun, Haitsam pun tak mau memungkiri, kalau dirinya masih sangat mencintai Kanaya. Bahkan, sedari dulu rasa cinta itu tak pernah berkurang sedikit pun pada Kanaya.

Bab 3

(Lima Tahun yang Lalu)

"Mau sampai kapan kamu menunggu mayat hidup itu bangun? Tinggalkan Haitsam dan menikah dengan Ramdan. Kalian berdua sudah dijodohkan sejak lama, Naya." Adam menatap putrinya lekat-lekat. Sudah puluhan kali ia meminta Kanaya meninggalkan sang kekasih dan menerima lamaran Ramdan.

Mana mungkin bisa Kanaya meninggalkan Haitsam. Sedang pria itu tengah berjuang di antara hidup dan mati.

Haitsam tengah mengalami koma. Sudah berbulan-bulan, lelaki itu terbaring lemah di ruang ICU. Haitsam mengalami kecelakaan motor parah ketika akan menjemput Kanaya di tempat kerja. Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda kalau pria itu akan siuman.

Hubungan Haitsam dan Kanaya sudah berjalan cukup lama. Namun, hubungan yang sudah terbina selama bertahun-tahun pun belum tentu bisa mendapatkan restu dengan mudah. Adam tidak begitu menyukai dengan status keluarga Haitsam yang berasal dari kalangan biasa. Pun mendiang sang istri sudah menjodohkan Kanaya dengan pria bernama Ramdan sedari dulu.

Boleh dibilang, orangtua Kanaya dan Ramdan adalah sahabat dekat. Mereka sudah menjodohkan putra dan putrinya itu sejak lama. Dan mereka memiliki impian kelak suatu saat Ramdan dan Kanaya bisa menikah.

Desakan menikah dari sang ayah sudah Kanaya terima sejak lama. Apalagi setelah Haitsam koma sampai berbulan-bulan, dan belum ada tanda-tanda akan sadar, Adam semakin gencar mendesak Kanaya untuk meninggalkan Haitsam dan segera menerima lamaran Ramdan.

Bagi Adam, untuk apa Kanaya mengharapkan orang yang tengah koma? Pun belum tentu Haitsam akan sadar dan segera menikahi putrinya. Ia lebih setuju Kanaya menikah dengan Ramdan. Apalagi Ramdan jauh lebih mapan dan sukses dari Haitsam.

"Apa kamu lupa dengan pesan ibumu sebelum meninggal? Ibumu ingin sekali kamu menikah dengan pria pilihannya. Jangan jadi anak yang egois, Nak."

"Ayah, kenapa Ibu harus menjodohkan Naya sama Ramdan? Dari dulu Naya udah sama Haitsam, Yah. Apa Ibu nggak sadar kalau keinginan Ibu secara nggak langsung udah nyakitin hati Naya sama Haitsam? Ibu secara nggak langsung udah memisahkan dua orang yang saling mencintai, Yah."

"Naya, kamu berani berbicara seperti itu tentang mendiang ibumu, hah?! Kamu sudah pintar membangkang sekarang, ya?!" Adam naik pitam dengan perkataan lancang putrinya. Ia tak habis pikir kenapa Kanaya begitu mencintai lelaki bernama Haitsam yang notabene hanya seorang karyawan biasa. Sangat jauh berbeda dengan Ramdan yang merupakan anak pemilik perusahaan besar.

Kanaya yang mendapati kemarahan sang ayah lantas terdiam. Nyalinya seketika menciut. Sehari-harinya, gadis itu berperan sebagai anak yang penurut pada orangtuanya. Namun, untuk kali ini, bolehkah Kanaya berperan sebagai anak pembangkang demi memenuhi kebahagiaan masa depannya?

"Dari awal harusnya kamu sadar, Naya. Tiga tahun kamu berhubungan dengan pria miskin itu, apakah kamu pernah melihat Ayah dan Ibu menyambut kedatangannya? Ayah hanya bersikap menghormati dia sebagai temanmu saja. Bahkan, saat dia berani melamarmu langsung, apakah Ayah dan Ibu bersedia? Kami jelas tidak bersedia, Naya. Puluhan kali Ayah melarang kamu berhubungan dengan dia, tapi kamu seolah-olah tuli. Kamu berubah menjadi anak pembangkang karena hasutan dia."

Di mata Adam, Haitsam hanyalah semut kecil yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarganya. Yang ia pandang hanyalah materi. Terlebih, Kanaya adalah anak satu-satunya. Pastinya Adam ingin sang putri mendapatkan suami yang berasal dari keluarga berada dan tentunya terpandang. Tidak seperti Haitsam. Yang orangtua pun sudah tidak ada. Hidup sebatang kara. Dan hanya Kanaya-lah penyemangat hidup Haitsam sampai sejauh ini.

Perdebatan sengit antara bapak dan anak itu berakhir dengan Kanaya memilih mengalah. Ia lantas lari ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, kemudian duduk di pinggiran tempat tidur dengan perasaan hancur, gusar, dan kacau bercampur menjadi satu.

Air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Tetesan pedih itu mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Kanaya menangis sesenggukan seorang diri. Tanpa ada seorang pun yang peduli bahwa ia tengah rapuh saat ini.

Andai musibah itu tidak terjadi. Andai Haitsam tidak terbaring koma. Mungkin ia tidak akan merasa tertekan seperti sekarang ini. Setidaknya, jika Haitsam masih sehat, pria itu senantiasa Kanaya jadikan tempat untuk mengadu, bersandar, dan mencurahkan segala keresahan dalam hatinya. Namun, apa yang bisa ia lakukan dengan tanpa adanya Haitsam saat ini? Gadis itu merasa benar-benar sendiri. Terbelenggu dengan rasa sepi, dan hanya tangisanlah yang senantiasa setia menemani.

Kanaya refleks melirik ponsel miliknya yang sejak tadi terletak di meja nakas. Benda pipih berwarna putih itu terdengar berbunyi nyaring. Ia lalu meraih ponselnya. Mendapati ada panggilan masuk dari Fikri.

Fikri Dirandra adalah sahabat dekat Haitsam. Orang yang ikut  serta merawat Haitsam selagi Kanaya berada di rumah.

"H-halo, Kak."

"Nay, kamu tumben hari ini belum ke rumah sakit? Kamu masih kerja?"

Kanaya memilih untuk bungkam di sela-sela rasa sakit hatinya.

"Nay, kok, diem aja, sih? Kamu baik-baik aja, kan, Nay?"

"Kak." Suara Kanaya terdengar parau. Detik ini ia kembali menangis.

"Nay, kamu kenapa, sih? Kamu kok kedengeran kayak nangis gitu? Kamu nangisin apa? Haitsam pasti akan sadar, nggak perlu ditangisin gitu lah."

"Kakak ...." Kanaya tidak sanggup lagi. Ia malah memecahkan tangisannya. Dadanya benar-benar sesak. Ia harus menyampaikan kabar pahit ini pada Fikri.

"Kamu kenapa, sih, Nay? Kamu kenapa tiba-tiba nangis?"

"Maafin aku, Kak ...."

"Maaf? Maaf untuk apa?"

Gadis dengan t-shirt putih itu memilih menatap langit-langit kamar dengan nanar. Di perdebatan dengan ayahnya tadi, Kanaya memilih kalah. Ia memutuskan untuk memenuhi keinginan sang ayah untuk segera menikah dengan Ramdan.

"Nay, kamu kenapa? Jangan bikin aku panik, dong."

"Aku titip Haitsam, Kak."

"K-kamu ngomong apa, sih? Kamu memangnya mau ke mana?"

"Aku harus nikah sama pria pilihan orang tuaku. Aku nggak punya pilihan lain."

"Hah? Kamu mau nikah sama pria lain?! T-terus, Haitsam gimana?"

Kanaya menarik napas dalam-dalam. Ia pun tidak tahu bagaimana cara mengutarakan beban ini pada Fikri.

"Tolong sampaikan permintaan maafku sama Haitsam, Kak ...." Kanaya menjatuhkan ponsel tanpa sadar. Saat berkata seperti itu, ia seolah-olah tak memiliki tenaga. Ia memilih menangis sejadi-jadinya. Tak memedulikan suara panggilan Fikri berkali-kali di sana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED