"Aku ingin keponakanmu Alena Geraldine, bisa kau berikan dia pada ku?" tutur seorang pria berparas tampan dengan senyum sinis menatap pria paruh baya dihadapannya.
Sambil menyilangkan tangannya, pria itu menatap dengan senyum sinisnya. Ia sangat yakin jika pria paruh baya dihadapannya itu pasti tidak akan menolak keinginannya.
"Tuan Azam, maaf Alena hanyalah gadis biasa, bagaiman jika putriku Nara dia—" ucap pria paruh baya itu, mencoba memberi jawaban pada pria bernama Azam namun langsung dipotong.
"Pak Hendro! Aku tidak butuh putrimu, yang aku inginkan adalah keponakan mu!" bentak pria bernama Azam itu dengan tatapan pembunuhnya.
Seketika pria paruh baya bermana Hendro itupun tertunduk takut. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Tubuhnya gemetar seketika ketika melihat sorot kemarahan yang ditampilkan oleh Tuan muda itu.
"Maaf Tuan saya hanya—" pria paruh baya itu mencoba kembali membuka suara akan tetapi, perkataannya lagi-lagi dihentikan oleh Azam.
"Aku tidak akan mengulangi lagi perkataan ku! Dan aku berharap Anda paham apa yang aku minta!" tegas Azam kini berkata tepat di depan wajah Hendro dengan tatapan tajamnya yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
"Ba-baik Tuan Azam," jawab Hendro terbata dengan tubuh yang semakin bergetar hebat.
"Bagus! Aku tunggu besok sore di rumah ku, jika kau tidak membawa keponakan mu itu. Maka bersiaplah, karena bukan hanya perusahaan mu yang hancur tapi kau juga akan aku hancurkan!" Azam tersenyum miring, seraya kembali keposisi dudunya.
"Zen, siapkan pernikahan ku besok sore!" ucapnya lagi kini pada sang asisten.
"Baik Tuan," jawab Zen patuh.
"Sampai bertemu besok sore Pak Hendro." Azam kembali berkata disertai dengan senyum denvilnya yang hanya dijawab dengan anggukan ketakutan dari pria paruh baya itu.
Pria berparas tampan itu pun bangkit dan berlalu. Meninggalkan pria paruh baya yang kini tengah ketakutan.
"Ya Tuhan bagaimana ini, kenapa dia malah meminta gadis bodoh itu!" tutur Hendro kesal mengapa yang dipilih oleh Azam adalah keponakannya dan bukan putrinya.
Sementara, di dalam mobil Azam tersenyum penuh kemenangan. Karena sebentar lagi balas dendamnya akan segera dimulai.
"Jonatan tunggu saja!" ucapnya dengan sorot mata penuh kebencian saat menyebut nama Jonatan.
Hendro pulang dengan wajah lesunya. Angan-angannya mendapatkan menantu kaya raya ternyata hanya mimpi semata.
Hendro yang semula begitu bersemangat setelah Zen tiba-tiba menelponya dan mengabarkan jika Azam ingin melamar salah satu gadis yang ada di rumahnya. Hendro sudah begitu percaya diri, jika gadis yang Azam inginkan adalah Nara sang putri.
Nyatanya kini pria paruh baya itu menelan kecewa. Karena ternyata gadis yang Azam inginkan adalah keponakannya.
Kini, Hendro tengah berkumpul bersama anak istri dan Alena keponakannya. Pria paruh baya itu harus segera memberi tahu Alena, tentang keinginan sang tuan muda. Hendro tak ingin Alena mengecewakannya sebab ia tahu jika Alena sudah memiliki kekasih.
Hendro tak ingin mempertaruhkan perusahaannya jika sampai Alena mengacaukan rencana Azam. Ancaman Azam tak pernah main-main dan Hendro tak ingin menyesal nantinya.
"Alena besok sore kau harus menikah dengan Tuan Azam," ujar Hendro tegas pada sang keponakan.
"Aku tidak mau Paman, aku sudah punya kekasih kami akan—" Alena mendongak terkejut, dengan nada sedikit meninggi.
Gadis itu, mencoba menolak keinginan sang paman namun langsung dipotong oleh sang paman.
"Cukup Alena! Saat ini kamu tidak dalam posisi untuk memilih!" bentak Hendro tak bisa dibantah.
"Tapi Pah! Nara lebih baik dari Alena mengapa bukan Nara saja yang menikah dengan Tuan muda!" ucap Marta istri Hendro yang juga terkejut akan keinginan sang tuan muda.
"Iya Pah, kenapa malah gadis kampung ini sih!" ketus Nara yang terlihat begitu kecewa.
"Mau ku juga seperti itu tapi, Tuan muda itu hanya menginginkan Alena!" Hendro menjabak rambutnya frustasi, karena pria itu juga menginginkan hal yang sama.
Pria itu juga sebenarnya ingin sekali putrinya yang dipilih oleh Azam. Namun, apa boleh buat Azam hanya menginginkan Alena.
"Besok sore Alena harus dibawa kerumah Azam, pria itu sudah mempersiapkan pernikahan mereka akan menikah sore itu juga," ucap Hendro tak terbantahkan.
Seketika Alena terduduk lemas, bagaimana bisa ia menikah dengan orang lain. Sementara, ada pria lain yang ia cintai.
"Untuk mengantisipasi, sekrang aku harus mengurungmu." Hendro kembali berucap seraya menarik tangan Alena pergi menuju kamar gadis itu.
"Paman lepaskan! Aku tidak mau menikah dengan pria itu!" Alena berteriak histeris seraya menggedor pintu meminta sang paman mengurungkan niatnya.
Sungguh gadis itu tidak ingin dinikahkan apalagi dengan pria yang samasekali tidak ia kenal. Impiannya bersama sang kekasih akan segera mereka wujudkan begitu sang kekasih pulang dari luar negeri.
"Persetan dengan cinta mu itu! Perusahaan ku lebih penting dari apapun!" Hendro berkata seraya menatap tajam Alena kemudian melempar gadis itu masuk kedalam kamarnya. Tak lupa Hendro mengunci kamar Alena agar gadis itu tidak bisa melarikan diri.
"Paman buka pintunya! Paman tolong buka pintunya!" Alena berteriak seraya menangis histeris. Tak ada lagi yang bisa Alena lakukan, dirinya tak berdaya melawan sang paman.
* * * *
Keesokan harinya, sore yang begitu ditunggu oleh Azam kini datang juga. Pria itu sudah terlihat begitu rapi dengan setelan jas berwarna putih yang terlihat begitu gagah.
Senyumnya tersungging akan tetapi bukan senyum kebahagiaan seperti layaknya pasangan pengantin. Senyum yang Azam tampilkan justru senyum sinis layaknya iblis.
Sementara, di kediaman keluarga Hendro. Alena juga sudah terlihat cantik dengan balutan kebaya putih yang terlihat begitu anggun.
Berbeda dengan Azam, Alena justru terlihat murung dengan mata juga terlihat sembab. Untungnya penata rias begitu pandai menutupinya sehingga Alena tetap terlihat cantik meski sebenarnya keadaannya sangat kacau.
"Kau begitu cantik Nona, pengantin pria pasti sangat terpukau melihat kecantikan mu," ujar penata rias memuji kecantikan Alena.
"Terima kasih." Alena memaksakan senyumnya menjawab perkataan sang penata rias.
'Harusnya momen ini menjadi hal yang membahagiakan untuk ku, jika saja mempelai pria itu adalah kamu Kak Jonatan' Alena membatin sesak, saat tersadar jika dirinya sebentar lagi akan menjadi milik pria lain.
"Bagaiman Zen, mereka sudah siap?" tanya Azam pada sang asisten lewat sambungan telepon. Sang asisten rupanya kini sudah berada dikediaman Hendro guna menjemput Alena.
"Sudah Tuan, saya akan segera kembali bersama mempelai wanita." Zen menjawab seraya melirik anggota keluarga Hendro yang telah siap.
"Bagus cepat bawa mereka, jangan buat aku menunggumu terlalu lama Zen." Azam berkata untuk terakhir kalinya memerintahkan Zen untuk segera bergegas.
"Cepat Tuan muda sudah menunggu," ucap Zen dengan nada dingin memerintahkan Hendro dan keluarganya untuk segera naik ke mobil.
Tak ingin membuang waktu Zen, langsung mengemudikan mobilnya. 40 menit kemudian Zen dan keluarga Hendro kini sudah sampai di kediaman Azam.
Satu persatu anggota keluarga Hendro keluar dari dalam mobil. Mereka semua menatap takjub pada bangunan megah bak istana itu.
Marta dan Nara kemudian menatap sinis penuh kebencian kearah Alena. Kebencian mereka kini telah diliputi rasa iri yang semakin mendarah daging.
"Lihat Mah, betapa beruntungnya gadis kampung itu. Harunya ini semua menjadi milikku, harusnya aku yang ada diposisi ini bukan dia." Nara berbisik pada sang Mamah seraya terus menatap Alena.
"Ayo cepat masuk Tuan muda sudah menunggu." Teguran bernada dingin terdengar dari Zen sang asisten. Mengintruksi rombongan keluarga Hendro untuk segera masuk.
Alena hanya mengguk kecil seraya mengikuti langkah paman, Bibi dan juga Nara masuk kedalam rumah megah itu. Alena, melangkah perlahan dengan wajah yang terus ia tundukan.
Sungguh sedari tadi gadis itu hanya terdiam seakan raganya tak memiliki jiwa. Hari ini dirinya akan benar-benar kehilangan segala mimpi dan cinta yang telah ia bina bersama sang kekasih.
"Sudah sampai, mari kita langsung mulai prosesi ijab Kabulnya, aku sudah menunggu lama untuk ini," ujar Azam yang sudah duduk disamping penghulu.
Pria itu menatap kearah Alena dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nona Alena silahkan." Zen menarik kursi untuk Alena mempersilahkan gadis itu untuk duduk disamping Azam.
Alena berjalan perlahan dengan wajah yang masih ia tundukan. Alena kini duduk disamping Azam namun, gadis itu sama sekali tak berani menatap wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
"Bisa kita mulai?" tanya Azam pada penghulu yang diangguki oleh pria paruh baya itu.
"Mari Tuan Azam, ikuti saya." Pak penghulu kemudian menjabat tangan Azam untuk memulai ijab kabul.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Perkataan Pak penghulu yang disambut kata "sah" dari para saksi menegaskan jika Azam telah selesai mengikrarkan ijab kabul. Artinya Alena kini telah resmi menjadi istri sah dari seorang Azam Dirgantara.
Azam menatap Alena yang duduk disampingnya kemudian mengulurkan tangannya kehadapan wanita itu. Alena sempat terdiam kaget mendapati perlakuan Azam.
Detik berikutnya gadis itu meraih tangan Azam. Mencium punggung tangan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Tiba-tiba saja air mata Alena meluncur tak tertahankan. Bayangan wajah sang kekasih begitu nyata dimatanya.
Sungguh, Alena tak tahu bagaimana reaksi sang kekasih. Saat dia tahu jika dirinya sudah menikah.
"Jangan menangis aku tidak suka melihat air mata!" bisik Azam pada Alena seketika membuat wanita berparas cantik itu tersentak kaget.
"Ma-af" Alena tergagap, kemudian dengan cepat menghapus air matanya.
"Baik Tuan Azam, Nona Alena, silahkan tanda tangani buku nikahnya," ujar pak penghulu seraya menyodorkan buku nikah kehadapan Azam dan Alena.
Setelah menandatangani buku nikah, Azam pun langsung mengakhiri acara pernikahannya. Pria itu tak ingin berlama-lama larut dalam acara pernikahannya.
"Terima kasih Pak Hendro, besok Anda bisa datang ke kantor." Azam menjabat tangan Hendro seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Baik Nak Azam besok saya—" ujar pak Hendro dengan senyum sumringah. Namun, sayangnya Azam dengan cepat memotong perkataannya.
"Tetap panggil saya Tuan muda, dan jangan berpikir setelah saya menikahi keponakan Anda, Anda bisa memanggil saya seenaknya. Heh, tidak ada yang berubah kecuali kerjasama kita mengerti." Azam berkata penuh penekanan mengasakan jika tidak ada yang berubah dari hubungannya dengan Hendro.
"I-iya Tuan muda maafkan saya," gagap Hendro seraya menunduk malu.
Sungguh pria paruh baya itu tak menyangka jika sang tuan muda masih saja sulit untuk ia jangkauan. Meski saat ini Alena keponakannya sudah menjadi istri Azam.
"Zen suruh Pak Aryo mengantar mereka pulang," titah Azam pada Zen untuk meminta Aryo supir pribadi di rumahnya untuk mengantar Hendro dan keluarganya pulang.
"Baik Tuan muda," jawab Zen kemudian menghubungi nomer Arya sang sopir pribadi untuk mengantar Hendro dan keluarganya.
Hendro dan keluarganya pun kembali kekediaman mereka, meninggalkan Alena di rumah Azam. Isak tangis pun kembali pecah saat Alena mengantar paman, bibi dan sepupunya masuk kedalam mobil.
Azam menatap Alena yang terlihat begitu sedih. Namun, sayangnya tatapan Azam bukanlah tatapan iba.
Pria itu justru mencibir dalam hati, melihat kesedihan Alena saat keluarga Hendro meninggalkan kediamannya. Pria berparas tampan itu paham dan tahu betul hubungan Alena dengan keluarga Hendro.
Tak ada perhatian apalagi kasih sayang untuk Alena selama gadis itu tinggal disana. Azam begitu heran mengapa Alena begitu sedih, padahal orang-orang itu tak ada yang menyayanginya.
"Ikut aku!" Azam tak tahan lagi melihat Alena yang terus berdiri menatap mobil yang membawa keluarga Hendro, meski mobil itu sudah tak terlihat.
Azam menyeret tangan Alena. Membawa gadis itu kelantai atas tempat dimana kamarnya berada.
"Akhh!" teriak Alena ketika tubuhnya dilempar kasar oleh Azam keatas ranjang.
"Berhenti menangis! Sudah kubilang aku tidak suka tangisanmu!" Azam berkata seraya mencengangkan dagu Alena.
Tatapan pria itu begitu tajam dan menakutkan. Sementara, Alena hanya bisa terdiam dan seketika menghentikan tangisnya.
"Dasar tidak berguna!" Azam berkata dengan kesal seraya menghempaskan wajah Alena.
Pria itu kemudian melangkah dengan wajah penuh kekesalan. Meninggalkan Alena sendiri di kamarnya.
Sepeninggal Azam, Alena kembali terisak meratapi jalan hidupnya. Bayang-bayang kenangan dan janji-janji yang ia ucapkan bersama Jonatan sang kekasih terus saja berputar. Alena tak menyangka jika hidupnya akan berubah begitu drastis hanya dalam hitungan jam.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan pintu terdengar memecah kesedihan Alena. Tangisnya segera ia hentikan, kemudian bangkit melangkah membuka pintu.
"Non, maaf saya mengantarkan pakaian untuk Non Alena, dan kata Tuan Azam ... Non diminta untuk segera membersihkan diri dan mengganti pakaian," ujar wanita paruh baya yang merupakan pimpinan asisten rumah tangga dikediaman Azam.
"Terima kasih Bu." Alena berucap seraya tersenyum tipis.
"Panggil saya Mbok Nani Non, kalau Non perlu apa-apa jangan sungkan minta aja sama Mbok ya," ujar wanita paruh baya itu lagi seraya menggenggam tangan Alena.
Asisten rumah tangga bersama Nani itu begitu iba melihat Alena. Mbok Nani sudah tahu jika pernikahan yang terjadi saat ini adalah pernikahan paksa.
"Sekali lagi terima kasih Mbok Nani." Air mata Alena kembali meluncur saat mendengar kata-kata dari Mbok Nani.
Alena seakan memiliki dukungan meski wanita paruh baya yang berdiri dihadapannya itu hanyalah seorang asisten rumah tangga. Sejak kedua orang tuanya meningal Alena belum pernah mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya kecuali dari Jonatan sang kekasih.
"Ya sudah Non cepat bersih-bersih abis itu turun buat makan malam," ujar Mbok Nani lembut, seraya pergi meninggalkan Alena.
Alena kemudian bergegas membersihkan diri. Selang beberapa menit kemudian wanita berparas cantik itu sudah terlhat freh.
Alena kemudian melangkah turun menuju ruang makan. Di ruang makan, sudah berdiri beberapa pelayan yang siap melayaninya.
Dengan ragu Alena mendudukan dirinya di kursi meja makan. Namun, wanita itu tak langsung menyendok hidangan dihadapannya.
"Silakan Non," ujar Mbok Nani seraya menyendok kan nasi ke dalam piring Alena.
"Sudah cukup Mbok, terima kasih biar saya saja." Alena berkata dengan senyum canggungnya. Sungguh ia tak bisa dilayani, apalagi oleh orang yang lebih tua darinya.
"Baik Non, makan yang banyak ya, jika ada makanan yang ingin Non makan bilang saja nanti si mbok buatkan," ujar mbok Nani membalas senyum Alena. Alena mengangguk kemudian memulai acara makannya.
Setelah selesai makan, Alena kemudian melangkah kembali ke kamar Azam. Wanita itu duduk di pinggir ranjang tak tahu harus melakukan apa.
Alena pun meraih ponselnya yang terletak diatas nakas. Dengan iseng Alena membuka galeri fotonya.
Alena melihat kembali foto-foto dirinya bersama Jonatan. Senyum tipisnya mengembang saat melihat salah satu foto, dimana ia dan Jonatan tengah duduk disebuah ayunan.
"Permisi Non, apa Non Alena sudah tidur?" tanya mbok Nani dari luar.
"Belum Mbok, sebentar." Alena menaruh kembali ponselnya kemudian bergegas membuka pintu.
"Ada apa Mbok?" tanya Alena begitu ia membuka pintu.
"Ini Non, dari Tuan, katanya sebentar lagi Tuan akan segera pulang. Tuan meminta Non, untuk pakai ini." Mbok Nani berujar seraya menyerahkan peper bag itu pada Alena.
"Apa ini Mbok?" ucap Alena penuh tanda tanya.
"Ndak tahu Non, em ... Ya sudah si Mbok tinggal dulu ya Non." Mbok Nani mengelus tangan Alena setelah itu wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan kamar Alena.
Alena tersenyum tipis, kemudian kembali masuk kedalam kamarnya. Wanita berparas cantik itu langsung mengeluarkan isi paper bag itu.
Alangkah terkejutnya Alena ketika wanita itu melihat sebuah lingerie berwarna hitam yang terlihat begitu transparan. Matanya melotot dengan mulut yang menganga, Alena benar-benar tak percaya jika Azam menyuruhnya memakai lingerie tipis itu.
"Tidak! Tidak! Aku tidak akan pernah memakai ini apalagi dihadapannya," gumam Alena menolak perintah Azam.
Alena tak sudi memamerkan lekuk tubuhnya pada pria asing. Meski Azam kini adalah suaminya, Alena tak mungkin semudah itu melakukannya.
Apalagi saat ini dirinya terus mengingat wajah Jonatan. Rasanya Alena tak sanggup bahkan sekedar duduk bersebelahan dengan Azam pun rasanya begitu enggan Alena lakukan.
Azam melangkah tegap menuju lantai dua kamarnya. Pria itu tersenyum devil membayangkan penampilan Alena yang mengenakan lingerie yang telah ia kirimkan beberapa jam lalu.
Pria itu rupanya telah memiliki rencana untuk bersenang-senang dengan wanita yang sangat dicintai oleh adik tirinya itu. Azam bahkan sudah tak sabar membayangkan bagaimana reaksi Jonatan.
Saat adik tirinya itu melihat wanita yang ia cintai kini telah resmi menjadi kakak iparnya. Membayangkan wajah Jonatan yang patah hati dan hancur adalah pemandangan terindah bagi Azam.
Sementara di dalam kamar, Alena sedari tadi hanya duduk terdiam. Sorot mata tajamnya terus tertuju pada lingerie tipis berwarna hitam yang ada di pangkuannya dengan hati yang begitu dongkol.
Wanita itu benar-benar tak sudi menuruti keinginan Azam untuk memakai pakaian itu. Alena meremas lingerie itu dengan tatapan penuh kekesalan.
"Jangan harap aku mau memakai pakaian sampah ini!" geram Alena seraya melempar lingerie ditangannya.
Azam membuka pintu kamarnya dan bertepatan dengan itu. Lingerie yang dilemparkan Alena pun mendarat tepat di bawah kaki Azam.
Saat pria itu membuka pintu kamarnya. Tatapan Azam langsung terpusat pada seonggok baju di bawah kakinya.
Pria itu mengambil lingerie itu, kemudian menatap tajam Alena yang tengah duduk dipinggir ranjang. Alena tersentak kaget ketika mendapati sosok Azam yang kini berdiri tepat dihadapannya.
Seketika amarah dalam diri Alena yang semula membuncah kini seketika mereda. Berganti dengan tatapan takut, kala melihat wajah Azam yang kini, terlihat bak iblis menakutkan.
"Kau belum memakainya?!" Azam melangkah mendekati Alena dengan tatapan tajamnya.
"A-aku, aku tidak mau," ujar Alena mencoba memberanikan diri menolak keinginan Azam.
Mendengar kata-kata penolakan dari Alena, Azam pun semakin kesal. Bisa-bisanya ada orang yang berani menentang keinginannya.
"Kau benarani menentang ku!" Azam berucap seraya mencengkeram dagu Alena membuat wanita itu meringis kesakitan.
"A-aku aku tidak mau, kita baru bertemu dan aku belum—" ujar Alena mencoba memberi alasan namun, langsung dipotong oleh Azam.
"Persetan dengan alasanmu! Yang jelas kita sudah menikah dan aku berhak melakukan apapun pada mu!" Azam begitu emosi, pria itu benar-benar tak menyangka jika Alena memiliki nyali untuk menolak keinginannya.
"Pakai sekarang! Atau kau akan menerima akibatnya," tegas Azam seraya menghempaskan tubuh Alena dan melempar lingerie kewajah Alena.
"Aku tidak mau! Walau kau membunuhku, aku tetap tidak sudi memakainya." Alena mencoba melawan seakan tak ada rasa takut dalam dirinya. Tentu saja, harga dirinya mengalahkan rasa takutnya.
"Heh, kau pikir aku akan membunuhmu? Hahaha kau lihat ini!" Azam kembali mendekat pada Alena.
Pria itu merogoh saku celananya kemudian memperlihatkan vidio Jonatan yang tengah berkuliah. Dalam Vidio tersebut, terlihat ada anak buah Azam yang diam-diam tengah mengarahkan pistolnya ke arah Jonatan.
Alena seketika melotot kaget melihat video tersebut. Sungguh wanita itu tak menyangka jika Azam mengenal Jonatan.
"Kenapa? Kau pasti bertanya mengapa aku bisa tahu tentang kekasihmu ini hem," ujar Azam tertawa tipis menatap wajah Alena yang terlihat pucat.
"Jangan ganggu dia!" Alena berucap sambil terisak sesak. Sungguh Alena tak mengerti dengan jalan pikiran pria dihadapannya ini. Siapa sebenarnya Azam, bahkan pria ini tahu tantang Jonatan.
"Heh, kau tahu anak buahku selalu mengikuti kekasihmu itu, oh iya apa kau ingin bulan madu ke London? Ya mungkin aku akan mengijinkan mu bertemu dengannya sebentar," ucap Azam dengan nada mengejek.
"Jangan! Aku mohon." Alena semakin terisak sesak. Rupanya pria itu tak main-main, bahkan ia tahu dimana Jonatan menempuh pendidikannya.
"Bagus kalau begitu, jadi tunggu apa lagi? Cepat pakai!" Bentak Azam seketika membuat Alena tersentak.
Alena kini hanya bisa pasrah, wanita berparas cantik itu hanya bisa menuruti perintah Azam kali ini. Dengan langkah pelan Alena masuk kedalam kamar mandi.
Sementara Azam, pria itu tersenyum penuh kemenangan melihat Alena yang akhirnya menuruti keinginannya. Azam sudah menduga jika dengan cara inilah dirinya bisa mengendalikan Alena.
Di kamar mandi, Alena kini sudah mengganti pakaiannya. Wanita itu terus menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Tangannya terus ia silahkan kebagian dada dan bawah tubuhnya. Alena benar-benar tak sanggup jika harus keluar dengan menggunakan pakaian itu. Tapi ia lebih tak sanggup lagi jika Azam benar-benar menyakiti Jonatan.
"Apa kau akan tidur di kamar mandi! Kau sudah membuang waktu ku Alena!" Azam berteriak tak sabar.
Kesabarannya sungguh diuji kali ini, bagaimana tidak. Alena sudah berada di kamar mandi selama 25 menit. Sungguh seumur hidupnya Azam belum pernah dibuat menunggu.
Alena tak menjawab, wanita itu perlahan membuka pintu kamar mandi. Dengan langkah ragu-ragu akhirnya Alena keluar dari kamar mandi.
Alena tertunduk, tangannya masih setia menyilang menutupi dua area sensitifnya. Sementara Azam, pria itu menelan silvanya melihat penampilan Alena.
Tiba-tiba terbersit ide dalam pikirannya. Pria itu tersenyum seraya mendekat kearah Alena yang setia berdiri di depan kamar mandi. Azam meraih ponselnya, mengklik aplikasi berlogo vidio kemudian mengarahkan kamera ke arah Alena.
"Kau sangat cantik istriku, malam ini akan menjadi malam panjang kita hem," ujar Azam begitu fulgar seraya mengambil vidio Alena.
"Hentikan!" Alena mendongak menatap Azam dengan tatapan penuh air mata.
"Jangan memerintahku!" bentak Azam geram melihat kelakuan Alena yang terus menentangnya.
"Tolong jangan lakukan ini." Alena memohon dengan tubuh yang kini terduduk tak berdaya.
Sungguh, Alena tak sanggup jika harus dipermalukan seperti ini. Alena tidak menyangka jika dirinya akan diperlakukan sedemikian hina oleh pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
"Sebenarnya apa maksudmu menikahi ku? Apa salahku?" ucapnya lagi seraya terisak.
"Apa maksudku?" Azam berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Alena.
"Heh, kau memang tidak memiliki kesalahan pada ku tapi, Nyonya Reina ibunda dari kekasihmu memiliki kesalahan yang tidak bisa aku maafkan. Dan aku ingin membuat putra kesayangannya itu menderita, dan kau lah alat untuk membuat anak manja itu hancur!" tutur Azam dengan senyum liciknya.
Mendengar alasan Azam, Alena menghentikan tangisnya. Wanita itu menatap penuh tanda tanya pada pria dihadapannya itu.
"Kau masih belum mengerti? Baiklah akan ku ceritakan sebuah cerita padamu." Azam kembali bangkit dan melangkah menuju sofa.
Pria itu mendudukan dirinya di atas sofa seraya meraih rokok di kantong jasnya. Azam meraih pemantik kemudian dengan santai menyalakan rokok ditangannya.
"Kau tahu, Tuan Abraham Dirgantara dia adalah Ayahku. Keluarga kami adalah keluarga yang bahagia namun, semenjak kehadiran sekertarisnya yang bernama Reina. Hubungan Ayah dan Ibu menjadi rusak." Azam bercerita dengan tenang seraya menyesap rokok ditangannya.
"Kau tahu, Ayah bahkan menceraikan Ibuku saat aku berusia 13 tahun. Ayah lebih memilih Reina janda beranak satu itu! Setiap malam Ibuku terus menangis Ia akhirnya memilih bunuh diri karena tak tahan melihat laki-laki yang sangat dicintai mencintai wanita lain!" ujar Azam kini mulai meninggi.
Emosinya seketika membuncah kala mengingat kembali kenangan pahit saat sang ibu disakiti oleh ayahnya. Bayang-bayang tangisan sang ibu terus membayangi pikirannya.
Apalagi saat ia mengingat sang ibu yang memilih bunuh diri. Karena tak tahan ditinggalkan oleh orang yang ia cintai.
"Tapi itu tidak ada hubungannya dengan ku dan Kak Jonatan, baik aku dan Kak Jonatan tidak tahu menahu tentang ini semua kau tidak adil!" Alena menggeleng heran mendengar alasan Azam, seketika Alena pun turut emosi.
Wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikiran Azam. Alena benar-benar tak mengerti mengapa Azam menyangkut pautkan dirinya dan Jonatan untuk hal yang tidak mereka ketahui.
"Aku tidak perduli! Yang aku inginkan adalah melihat Reina hancur! Aku ingin melihat wanita itu menangisi kehancuran putranya, seperti aku yang menyaksikan kehancuran Ibuku dulu." Tanpa aba-aba Azam langsung menarik dan menggendong tubuh Alena layaknya karung beras.
"Lepaskan!" teriak Alena sambil terus memberontak memukul punggung Azam.
"Akhh!" Alena memekik ketika tubuhnya dihempaskan di atas ranjang.
"Aku ingin melihat raut wajah Jonatan ketika melihat wanita yang begitu dicintai berada dibawah kendaliku!" ucap Azam mengungkung tubuh Alena.
"Tidak! Jangan lakukan ini!" Alena berteriak histeris ketika Azam mulai merobek pakaian yang ia kenakan.