Bab 1

Jakarta di penghujung senja. Rona keunguan di ufuk barat telah hilang sempurna tergantikan hitam pekat yang menggelayuti langit. Pukul 19.00, dan suasana di salah satu hotel berbintang lima ini makin hidup, terutama di ballroom mewah yang sedang digunakan oleh salah satu keluarga konglomerat di negara ini.

Elaina menatap hotel di depannya. Orang-orang berlalu-lalang dan berpasangan dengan pakaian terbaik mereka. Senyum manis tersungging di wajah, saling bergandengan dengan pasangan atau anak. Elaina menatap mereka penuh iri dengan hati menggelegak penu kecemburuan karena marah.

Sejenak di dalam taxi yang membawanya ke hotel, ia mengurut pelipisnya. Meneguk Vodka Martini yang sengaja dibawanya, jangan tanyakan bagaimana caranya ia bisa mendapatkan minuman itu dalam jumlah banyak. Jangan tanyakan juga berapa sloki yang telah ia habiskan sebelum sampai di tempat ini, karena minuman beralkohol yang akan membantunya melewati semua ini. Ia butuh keberanian untuk berteriak dan memaki, dan Vodka adalah supportter baik.

Elaina tidak pernah menyangka, kalau ia akan sampai ke tahap ini. Datang ke pesta pernikahan hanya untuk merusaknya. Ia adalah tipe orang yang selalu menghargai orang lain, jadi untuk kali ini tolong pahami bahwa ia benar-benar membutuhkan minuman itu untuk berubah menjadi sosok yang lain. Orang tuanya mendidiknya untuk jadi manusia yang tidak menyakiti manusia Iain. Sayangnya, ia disakiti lebih dulu dan keinginannya hanya satu, membalas dendam.

“Nona, sudah hampir setengah jam kita di sini.” Sopir taxi menoleh, bertanya dengan tatapan bingung.

Sejak tadi mereka hanya saling diam tanpa ada obrolan apapun. Penampilan Elaina yang sedikit kacau, dan botol minuman di tangannya, membuat sopir taxi memaklumi kondisi orang yang sedang patah hati. Namun setelah sampai di tujuan dan penumpangnya hanya diam memandang ke arah lobi hotel, akhirnya sopir taxi ini memberanikan diri untuk bertanya.

Elaina meneguk ludah, lalu mengangguk. Menatap argo taxi dan sedikit menghela napas karena banyaknya uang yang harus dikeluarkan. Ia merogoh ke dalam tas kecil yang ia bawa, mengambil uang dan membayar serta menerima kembalian tanpa banyak kata.

Sebelum turun dari taxi ia meneguk sekali lagi dari botolnya, dan keluar dengan sedikit terhuyung. Pandangannya sedikit mengabur dikuasai alkohol, tapi pikirannya masih bekerja dengan baik. Ia menyeret gaun kuning sepanjang sepanjang jalan. Tidak peduli dengan ujungnya yang kotor. Satu tangan memegang gaun, tangan yang lain memegang botol minuman. Tas hitam kecil berayun di bahunya.

Saat menyeberangi jalan depan Iobi, ia hampir tertabuste houderk mobil. Untung saja refleks pengendara sangat bagus. Elaina terhuyung sebentar, sebelum menegakkan diri dan melangkah cepat ke arah lobi. Toleransinya terhadap alkohol memang tidak tinggi tetapi tidak juga bisa dikatakan rendah.

Pengendara mobil yang hampir menabuste houderk Elaina, menatap gadis itu tak berkedip. Rasa kaget masih menguasainya karena gadis itu menyeberang tanpa melihat jalan. Kalau saja refleks-nya tidak bagus, entah apa yang akan terjadi

“Kenapa dia terburu-buru sekali?” Pria dengan kaca mata frameless, bergumam dan menatap arah Iobi. Ia kembali menghidupkan kendaraannya dan berhenti di parkiran valet.

Elaina menyeberangi Iobi, mengantri di depan lift dengan banyak orang Iainnya sambil memandangi marmer lobi. Ia menyerbu masuk saat lift terbuka, membiarkan dirinya terdesak di dalam. Celoteh orang-orang hanya didengar sepintas. Otaknya kini terlalu sibuk dengan pikiran dan rasa sakit hatinya, serta mencoba mempertahankan kesadarannya agar tidak hilang sampai saat pembalasan dendam.

Lift membuka, ia memiringkan tubuh untuk mencari celah jalan keluar di antara banyaknya orang dalam lift itu. Tiba di depan ballroom, ada banyak orang di lorong. Menggunakan undangan yang dipinjam dari seorang teman, ia memasuki ballroom dengan mudah. Berdiri di dekat pintu masuk dan terbelalak.

Di pelaminan yang megah, sepasang pengantin sedang menerima ucapan selamat dari para undangan. Musik mengalun dari orchestra di ujung ruangan. Ia mengenali orang-orang yang ada di pelaminan, pengantin pria, dan orang tuanya.

Ia mengusap dadanya yang sesak, menahan air mata yang hendak jatuh. Membuang botol ke tempat sampah, ia mengusap mata dan mengangkat ujung gaunnya. Melangkah dengan cepat menuju pelaminan. la menyambar kertas Iebar dan mengkilat dari meja prasmanan. Itu adalah brosur catering, meletakkannya di atas kepala untuk menutupi wajah lalu mengantri bersama tamu undangan yang lain.

Satu langkah ke depan, dadanya seperti digedor. Seribu umpatan terekam di dalam dada dan harus ia sembur keluar. Hingga lima antrian lagi di depan MC pernikahan mengajak bicara pasangan pengantin. Para tamu yang ingin bersalaman harus menunggu.

“Wah, bisakah pengantin pria yang berbahagia ini bercerita, sudah lama kalian menjalin hubungan dan bagaimana akhirnya memutuskan untuk menikah?”

Pengantin pria mengambil mikrofon, tersenyum pada istrinya yang bergaun putih dan mulai bicara. “Kami menjalin hubungan kurang lebih enam bulan lalu. Merasa cocok satu sama lain, dan aku melamamya bulan lalu.”

Elaina mengepal saat mendengarnya.

“Kisah cinta yang hebat. Apakah kalian langsung klik satu sama Iain dari pertama bertemu?”

Lagi-Iagi si pengantin pria yang menjawab. “Iya, Ivanka adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Tidak pernah ada wanita yang aku cintai, seperti Ivanka.”

“BOHOOONG!!!”

Elaina yang sudah tidak sabar menahan geram, keluar dari barisan. Membuang kertas undangan ke samping dan menunjuk pengantin pria dengan marah.

“Fidell, sialan kamu! Berani-beraninya bohong!”

Pengantin pria terperangah, sementara istrinya menatap bingung. “Siapa dia, Sayang?”

“Bukan siapa-siapa,” jawab Fidell dengan panik. Berusaha menenangkan istrinya.

Elaina melangkah maju, beberapa orang berusaha menghalangi dan ia tidak peduli. Vodka membuatnya kuat untuk menahan malu, meskipun sakit hatinya menggelegak.

“Terus aja bilang menyangkal. Kita pacaran tiga tahun. Orang tuamu juga kenal akuu!” Elaina menunjuk kedua orang tua disamping Fidell. “Baru dua hari kamu putusin aku secara sepihak, kamu udah nikah! Nama kamu saja yang bagus artinya, ‘kesetian’. Tapi cih… tingkahmu sama sekali nggak setia! Bajingan!”

“Fidell!” Sang papa berteriak.

Fidell menggeleng lalu berteriak memanggil para penjaga. Tangannya melambai untuk mengusir Elaina, dan dua pria berusaha memegang tangan Elaina, tapi ditepiskan.

“Wanita gila! Kita udah putus dari lama. Kenapa kamu masih nggak terima?”

“Udah lama? Baru dua hari lalu. ‘Buaya Darat’ sialan!” Elaina mengambil sepatu dan melemparkannya ke arah Fidell. Meleset, lemparannya mengenai pelaminan dan jatuh di karpet tepat di samping pengantin wanita.

“Kalau kamu mau kawin! Bilang terus terang. Jangan pakai alasan nggak masuk akal!”

Jeritan Elaina menarik perhatian banyak orang. Para tamu undangan mendekat, untuk melihat apa yang terjadi. Tapi, Elaina tidak peduli. la ingin seluruh dunia tahu, apa yang sudah dilakukan Fidell padanya. la tidak masalah kalau memang harus putus hubungan, tapi tidak begini caranya.

Fidell meninggalkan istrinya, menghampiri Elaina dengan wajah memerah. la memberi tanda dan dua pria penjaga kini menyergap Elaina, memegang tangannya dengan erat. Tidak peduli kalau wanita itu meronta dan berteriak. la berdiri di depan Elaina dan menatap tajam.

“Berani-beraninya kamu mempermalukanku!”

Elaina mengangkat dagu dan tertawa lirih. “Aku hanya ingin istrimu tahu, pria macam apa yang dinikahinya. Kamu ingat gaun yang aku pakai ini? Gaun yang sama waktu kamu melamarku tahun lalu dan kita resmi bertunangan. Sialan!”

“Oh, kamu sakit hati karena aku memutuskanmu?”

Elaina berdecak, meronta tapi kedua penjaga mencengkeram pergelangan tangannya. “Sakit hati? Bukan putus yang bikin aku sakit tapi karena kamu menduakanku. Bisa-bisanya kamu memacariku dan dia bersamaan. Sialan kamu, Fidell!”

Fidell tersenyum sinis, mengusap jas pengantin dan rambutnya, menatap Elaina dengan pandangan bosan.

“Harusnya kamu intropeksi diri, kenapa aku memilih Ivanka. Pria mana yang akan menikah dengan wanita macam kamu?”

Kalimat barusan bagaikan air garam yang Fidell siramkan ke atas luka di hatinya, dan ini semakin membuat kilat amarah di mata Eliana bersinar. Satu hal yang Fidell abai, Eliana tidak akan melepaskannya dengan mudah sebelum sakit hatinya terbalaskan.

Bab 2

“Harusnya kamu intropeksi diri, kenapa aku memilih Ivanka. Pria mana yang akan menikah dengan wanita macam kamu?”

Kalimat itu terus terngiang di telinga Eliana. Elaina meledak, berteriak tapi Fidell memberi tanda pada penjaga untuk menyeretnya turun dari pelaminan. Walaupun seorang wanita namun dua penjaga yang menyeretnya membutuhkan tenaga extra untuk menyeret tubuh ramping Eliana. Wanita marah dan Vodka, sebuah kombinasi yang cukup merepotkan kaum pria.

“Jangan kamu pikir masalah ini akan selesai, Fidell. Kamu harus terima pembalasankuuu!”

Fidell kembali ke sisi istrinya, mengawasi Elaina yang diseret keluar dari ballroom. Matanya tidak lepas memperhatikan tubuh mantan tunangannya itu diseret keluar dengan paksa, hingga menghilang di balik kerumunan tamu undangan yang hadir. Diam-diam ia merasa lega karena gadis itu berhasil diamankan, setidaknya untuk mala mini ia terbebas dari keributan.

la tidak menyangka kalau Elaina berani datang ke tempat ini. Bukankah tamu yang datang harus menggunakan barcode undangan? Siapa yang memberinya? Fidell menatap para tamu dengan kritis, mencoba menduga siapa yang telah membantu wanita itu masuk ke dalam ballroom ini. Dirinya kembali memasang senyuman di wajahh saat merasakan sentuhan istrinya di pinggang.

“Iya, Sayang.”

Ivanka menyipit, wajahnya terlihat kesal dari balik riasan yang dipakainya. Riasan yang tadinya membuat wajahnya bersinar Bahagia, kini seolah meredup, tergantikan aura curiga dan emosi. Menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Kedatangan Elaina yang mengamuk, membuat mood-nya yang semula bagus menjadi hancur.

“Fidell, jangan berani-berani kamu bermain gila di belakangku,” desisnya mengancam.

Fidell meraih tangan sang istri dan mengecupnya.

“Mana berani aku? Kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai. Aku dan wanita itu memang pernah dekat, tapi dulu sekali. Setelah itu dia seolah terobsesi denganku. Bukankah disampingku ada orang tuaku? Kenapa kamu nggak tanya mereka biar percaya?”

Ivanka ingin membantah dan bertanya langsung pada kedua mertuanya, tapi ia memilih untuk menutup mulut karena saat ini tamu sudah mengular untuk memberi selamat. Sementara ini ia akan menyimpan rasa ingin tahunya pada wanita yang baru saja datang untuk merusak pestanya. la tidak akan tinggal diam dengan wanita itu. Elaina harus mendapatkan balasan karena sudah membuatnya malu.

Selama beberapa bulan, pesta pernikahan ini sudah ia rencanakan dengan sangat matang dan hati-hati. Mengundang ribuan orang, ia ingin menciptakan rasa kagum sekaligus iri pada para undangan yang datang. Ia ingin pernikahannya menjadi moment yang diingat dan disorot oleh media dan menjadi perbincangan di kalangan elit.

Tidak semua orang bisa mewujudkan pesta pernikahan impian. Masalah terbesar adalah biaya. Sebagai anak pengusaha batu bara, ia punya segalanya untuk digunakan, uang dan juga kekuasaan. Kalau Elaina berani mengacau di sini, berarti gadis itu mencari masalah dengannya.

la mengusap lengan sang mama dan berbisik lirih. “Maa, minta orang awasi gadis gila itu. Jangan sampai mengacau lagi”

Sang mama mengangguk. “Tenang saja, papamu sudah mengaturnya. Kurang ajar sekali Fidell mengundang gadis itu kemari.”

“Maa, Fidell nggak undang dia. Nggak tahu dapat undangan dari mana.”

“Kalau begitu, biar para penjaga yang mengatasinya.”

Ivanka mengangguk, dendam dan kemarahan menyala di hati. Ivanka mengubah ekpresi wajahnya dari kesal menjadi penuh senyum saat kembali berjabatan dengan para tamu. Ini adalah harinya, dan tidak ada seorang pun yang berhak merusaknya. Tidak juga seorang Eliana.

Tiga pria berseragam mencengkeram lengan Elaina. Tidak peduli meski gadis itu berteriak kesakitan. Mereka mendapatkan perintah untuk membuang gadis ini jauh-jauh dari tempat pesta, dan itu yang sedang mereka lakukan.

“Kurang ajar kalian! Lepaskan lenganku!”

Elaina berteriak, menyadari kalau kepalanya pusing dan perutnya mual. la sudah datang ke tempat ini dengan penuh keberanian, berusaha menegakan apa yang disebutnya keadilan bagi dirinya. Namun, pada akhirnya tetap saja kalah. Para penjaga itu membawanya turun dengan lift menyeret paksa dirinya keluar dan melemparkannya ke lobi.

“Dilarang masuk!” teriak salah seorang dari mereka.

Elaina terhempas ke marmer yang keras dengan satu sepatu di kaki kiri, dan kaki kanannya bertelanjang kaki. la mengernyit, merasakan tulang pinggulnya nyeri, akibat benturan tubuhnya dengan marmer sungguh tidak main-main. Eliana memang tidak kurus, namun lapisan lemak di bawah kulitnya juga tidak bisa dikatakan tebal.

la tersentak, saat sebuah lengan yang kokoh terulur untuk membantunya berdiri. Lengan dengan balutan tuxedo hitam pekat, serta aroma musk yang terkesan maskulin, membuat otaknya yang berada di bawah pengaruh Vodka Martini jadi semakin oleng.

“Kalian kasar sekali dengan wanita!”

Elaina menatap sosok yang bicara, seorang pria tinggi dengan jambang tipis membingkai rahang tegasnya, serta memakai kacamata frameless yang menambah penampilannya terlihat sangat manly. Pria itu menunduk, mengusap lembut siku Elaina yang sukses memberikan sengatan listrik statis pada tubuh Eliana.

“Kamu nggak apa-apa?”

Elaina meneguk ludah. “Nggak apa-apa, terima kasih.”

“Tunggu di sini.”

Pria itu memberi perintah pada Elaina yang terdiam. Maju beberapa langkah pria itu berkata tenang pada penjaga. “Kalian naik, biar aku yang urus wanita ini.”

“Siapa kamu?” Satu penjaga bertanya dengan keras. Nada bicaranya masih sama seperti saat ia mengusir dan menyeret Eliana.

Pria itu tersenyum, mengambil kartu nama dari dompet. Saat melihatnya, ketiga pria saling pandang, mengangguk sesaat lalu berbalik dan masuk ke dalam lift.

Elaina mendengkus, menenteng satu sepatu dan menuju ke mesin penjual minuman. Sambil mengernyit ia merogoh koin dalam dompet, dan memasukkannya ke mesin. Memencet bir. Tiga kaleng menggelinding keluar. la mengambil semua, duduk didekat mesin dan tidak peduli pada pandangan orang-orang yang berlalu lalang.

Membuka kaleng pertama dan menandaskannya. Kaleng kedua menyusul habis, dan saat kaleng ketiga baru dibuka, pria berkacamata berjongkok di sampingnya.

“Kamu mau mabuk-mabukan di sini?”

Elaina menggeleng. “Nggak, mau pulang.”

“Pulang kemana? Ayo, aku antar.”

“Kamu antar?” Elaina bertanya bingung.

Pria itu mengangguk. “Iya. Ayo, bangun, awas sepatumu.”

Elaina berdiri sempoyongan. “Sepatu, mana sepatuku?”

“Hanya ada satu.”

“Ya, satu lagi aku pakai buat lempar muka Fidell. Pria sialan! Kurang ajar!”

“Awas langkah!”

Elaina tidak bisa berpikir jernih, tentang siapa yang menggandengnya dan akan kemana dibawa pergi. la hanya ingin keluar dari hotel, menjauh dari orang-orang yang membencinya.

“Fidell, suatu saat aku akan membunuhmu.”

“Ah, tapi membunuh itu dosa.”

Elaina mengangguk. “Benar, membunuh itu dosa. Dan aku bisa di penjara.”

Pria berkacamata frameless itu tersenyum lirih, memanggil petugas parkir. “Tunggu sebentar. Mobil lagi diambil.”

Elaina terkikik, saat tiba di teras hotel menatap pria di sebelahnya. Sangat tinggi, tegap, dan tampan meskipun dagunya tertutup rambut tipis. la mendekat, lalu merangkul leher pria itu.

“Kamu tampan.”

Pria itu menunduk, sepasang labium yang merekah terlihat dekat sekali dengan bibirnya.

“Kamu mabuk,” bisiknya.

Elaina menggeleng. “Nggak, aku sadar.”

“Kamu sadar? Apa kamu tahu sedang memelukku di keramaian?” Pria itu mengulurkan tangan untuk mendekap pinggang Elaina saat serombongan orang lewat dan hampir menabuste houderknya.

Elaina menghela napas, menghirup aroma maskulin dari tubuh pria yang memeluknya. Diraupnya aroma itu dengan rakus, seolah angin yang berhembus akan segera menghapusnya. Tidak masuk akal, tapi anehnya menenangkan. Untuk pertamakalinya Eliana mengakui jika aroma maskulin ini membuatnya tenang sekalipun mereka tidak saling kenal.

“Elaina....”

Pria itu memanggil namanya. Elaina tersenyum.

“Aku suka suaramu.”

Tangan pria itu mengusap pinggangnya. “Aku suka semua tentangmu. Sebelum kita ditangkap security karena melakukan tindakan asusila di sini, lebih baik kalau kita pergi sekarang. Ayo, ke rumahku.”

“Ke rumahmu?”

“Iya, awas kepala.”

Elaina tidak menolak saat dibantu masuk ke mobil. Pikirannya keruh, tidak lagi bisa membedakan mana yang seharusnya boleh dilakukan dan mana yang tidak. Seorang gadis ikut bersama pria yang tidak dikenal adalah hal bahaya, anehnya Elaina tidak memerdulikan itu. Otaknya hanya berisi rasa marah, kesal dan kesedihan karena pengkhianatan Fidell.

Bab 3

Sepasang anak manusia berjalan menyusuri basement, setelah mobil terparkir. Menaiki lift menuju lobi utama apertemen.

“Hei, Pak. Apartemenmu bagus.” Elaina tertawa saat melintasi lobi yang luas.

“Hanya pinjaman,” jawab pria itu.

“Tapi, aku suka.” Elaina mengembangkan lengan, berjalan sempoyongan di depan pria itu. la tidak peduli mau dibawa ke mana dan ini tempat apa. Otaknya buram, jangan untuk berpikir untuk membuat langkahnya tetap tegap saja ia kepayahan.

Pria itu tersenyum. “Kamu suka?”

Elaina mengangguk. “Sangat!”

Seorang petugas keamanan menyapa pria itu dan menatap Elaina sekilas, tapi membiarkan mereka masuk ke dalam lift penghuni. Elaina berusaha merebut bir yang tersisa, berhasil mendapatkannya dan menandaskan isinya.

“Aah, enaak.”

Hanya mereka berdua saja yang berada di dalam lift itu. Pria itu tertawa geli tapi membiarkan Elaina mabuk sambil bernyanyi. Lift membuka di lantai 20, pria itu memapah Elaina keluar dan masuk ke dalam unit nomor 205. Saat pintu terbuka, Elaina memekik.

“Waah, apartemen yang bagus.” Elaina tertawa, menari di ruang tamu. Pria itu masuk dan Elaina kembali menabuste houderknya.

“Kamu keren.”

“Aku keren?”

“Sangat, rumahmu keren.”

“Rumah pinjaman.”

“Hehehe. Siapa namamu?”

“Alister.”

“Nama yang keren.”

Elaina menggumamkan kalimat-kalimat tidak jelas, melepaskan diri dari pelukan Alister dan kali ini bernyanyi dengan suaranya yang untungnya tidak sumbang. Lagu yang didendangkan adalah lagu patah hati. Elaina berteriak, menangis, dan memaki Fidell. Sengat tipikal Wanita yang sedang patah hati.

Alister meninggalkannya sendiri di ruang tamu. la masuk ke kamar untuk melepas kacamata dan berganti pakaian. Saat keluar, ia dibuat kaget dengan penampilan Elaina. Gadis itu membuka pakaiannya dan kini hanya memakai celana dalam serta buste houder.

“Apa aku kurang cantik?” Elaina kembali memeluk Alister, mengusapkan tubuhnya pada tubuh pria itu.

Alister menghela napas. “Kamu sangat cantik.”

“Aku kurang sexy?” tanya Elaina setengah merengek.

“Nggak, kamu sangat sexy.”

“Kalau begitu, aku kurang kaya.”

Elaina menarik leher Alister, mengusap labium dan berjinjit. “Ehm, bibirmu enak.” Mengecup perlahan.

la tidak tahu, keberanian macam apa yang didapatkannya sekarang, mengecup seorang pria yang tidak dikenalnya. Yang ia inginkan sekarang hanya melampiaskan perasaan kesal dan sedihnya. la terus mengecup, mendesak labium Alister hingga terbuka dan melumatnya perlahan.

Alister dengan perlahan mengusap pinggangnya, membiarkan Elaina melumat bibirnya. Meskipun hasratnya naik tapi ia harus menahan diri. Gadis yang sekarang berada di dalam pelukannya, sedang tidak sadar saat mencumbunya. la tidak boleh lepas kendali. Masalahnya, Elaina kini makin berani.

“Ayo, cium aku,” bisik gadis itu.

“Kamu mau dicium?” bisiknya.

“Iyaa, cium aku. Sampai lupa semua masalah.”

Alister tersenyum. “Melupakan masalah dengan ciuman? Boleh juga idemu.”

Elaina tidak menolak saat Alister meremas pinggangnya. la berjinjit, berusaha untuk melumat labium Alister dan memekik saat pria itu mengangkatnya dan membawanya ke sofa. Mereka berciuman semakin intens saat Elaina berada di atas tubuh Alister. la tidak peduli kalau pria itu menggerayanginya. la bahkan siap merelakan tubuhnya.

“Kamu hangat,” bisik Elaina dengan jemari mengusap dada Alister. “Dadamu kokoh, bahumu lebar, aku suka.” Tanpa ragu menggigit bahu Alister dan melihat pria itu terkesiap.

“Lebih enak kalau kita melakukannya dalam keadaan sadar, Elaina,” ucap Alister.

Elaina menggeleng. “Aku sudah enak sekarang. Ayo, kita ciuman lagi.”

Alister mengusap dagu Elaina dan mengecup bibirnya perlahan. Saat melihat gadis itu mendesah, ia mencoba untuk memagut dan tidak tahan untuk melumat karena respon Elaina yang mendamba. la menjulurkan lidah, mengusap lidah gadis itu. Mengulum labium atas dan bawah, dan membiarkan Elaina membalas ciumannya. Ia sedikit meringis saat Elaina mendesakkan tubuh di atas pangkuannya ke pangkal paha, kejantanannya menegang. Alister memaki dalam hati, berharap tidak lupa diri. Masalahnya adalah, dada Elaina sangat menggiurkan.

Terbungkus buste houder putih, dengan kulit yang basah karena keringat, Alister bisa melihat kalau dada itu sedang menegang. la membayangkan, bagaimana rasanya mengusap dada itu saat Elaina mengulurkan tangan ke belakang tubuh dan membuka ikatan buste houder. Dalam sekejap, benda itu meluncur turun ke lantai. Elaina tersenyum, kembali melumat labium Alister.

“Pak, sentuh aku,” bisik Elaina dengan suara serak.

“Sentuh di mana?” tanya Alister.

“Semuanya. Ayo, Pak!”

Alister ingin menolak saat Elaina membawa tangannya ke dada gadis itu. Namun, begitu jemarinya menyentuh permukaan kulit yang halus dengan ujung yang tegak menantang, ia lupa diri. la meremas lembut, Elaina menggigit labium. la mengusap ujung dada yang tegak, mendekatkan lidahnya. la menyapu cepat, kedua puncak dada yang menegang dan mendengar Elaina mendesah.

“Kenapa kamu ingin melakukan ini?” bisiknya serak.

Elaina menggeleng. “Mau saja.”

Tidak ada alasan sempurna yang bisa ditemukan, Elaina hanya ingin membuktikan kalau dirinya masih menarik bagi pria. Harga diri dan kepercayaan dirinya hancur karena Fidell. la merasa sangat tidak diinginkan, dan bersama pria tampan yang tidak dikenanya, hanya ingin membuktikan kalau dirinya cukup menggoda.

Alister mendekatkan bibirnya ke dada, melakukan apa yang sejak tadi ada dalam pikirannya dan mendengar Elaina terengah makin keras. Jemari gadis itu mengusap rambut dan membenamkan kepalanya di antara belahan dadanya. Erangan, desahan, dan suara-suara khas lainnya terdengar keras di ruang tamu.

Elaina merasa tubuhnya terbakar gairah, mendesakkan area intimnya ke pangkal paha Alister. la memejam dan menggigit labium, merasakan pria itu sedang memberikan kesenangan di bagian atas tubuhnya. Rasanya sungguh aneh, tapi menyenangkan. la mengusap dada Alister, berusaha membuka kaosnya dan saat benda itu berhasil dipisahkan dari Alister, Elaina memekik.

“Wow, banyak bulu,” desahnya tidak jelas.

Mengusap bulu-bulu halus di dada Alister, merata hingga nyaris ke perut. la membelai, menyukai sensasi di antara jarinya. Menemukan puncak dada yang menegak, ia membelai dan membuat bagian tubuh itu makin keras. Mengeluarkan segala keberanian, ia menunduk dan memberikan perlakuan yang sama seperti yang Alister lakukan. Tidak hanya itu, berusaha mengisapnya seperti yang dilakukan Alister padanya.

“Elaina, kamu sedang apa?” tanya Alister dengan suara parau.

“Melakukan hal yang sama,” jawab Elaina.

Bibirnya terus mengisap dan tangannya mengusap dada. Selesai melakukan itu, ia menegakkan tubuh dan kembali melumat labium Alister.

Alister memaki dalam hati, tidak dapat menahan hasrat yang bergolak. la pria normal, ada seorang gadis setengah telanjang yang sedang mencumbunya, tidak heran kalau gairahnya terpancing. la mengangkat Elaina dari atas tubuhnya, membaringkannya ke sofa dan dengan cepat melucuti celana dalamnya. Gadis itu tidak menolak, berbaring di sofa dengan mata tersaput gairah. Satu tangannya secara refleks menutupi area intim yang terbuka.

“Pak, mau apa?” tanya Elaina.

Alister tersenyum. “Kamu maunya apa, Elaina?”

Elaina menggigit labium, Menggeleng keras. “Aku nggak tahu.”

Alister mengangkat tangan gadis itu dari area pribadi dan telunjuknya mengusap permukaannnya. “Bagaimana kalau begini? Kamu suka?”

Elaina terbelalak tapi mengangguk. “lya, Pak.”

“Begini?” Kali ini Alister mendekat, mengusap dengan dua jari dan gadis itu lagi-lagi mengangguk.

Alister menahan senyum, karena napasnya pun memburu. la mengusap mahkota Elaina, dengan lembut dan perlahan. Jarinya bergerak memutar, sedikit coba-coba berusaha untuk masuk dan Elaina menjepitnya.

“Buka pahamu,” perintahnya.

Gadis itu menurutinya. Membuka paha lebih lebar dan ia berusaha memasukkan satu jari ke sana. Saat melihat apa yang dilakukannya membuat Elaina terbelalak, ia mengubah posisi.

“Siapkan dirimu, boleh berteriak kalau kamu mau. Bebas Elaina.”

Awalnya Elaina tidak tahu, kenapa harus berteriak tapi saat Alister memosisikan dirinya di tengah lalu menunduk untuk memberikan sensasi lain di bawah tubuhnya, ia menegang. Satu kecupan, berubah menjadi ciuman dan lidah pria itu mendadak menyapunya. Elaina terengah, baru pertama kali merasakan sensasi seperti ini. Tidak menyangka kalau lidah bisa demikian dahsyat di tubuhnya.

“Aah.”

Suaranya terdengar berat, ia berusaha menjepit kepala Alister tapi tangan pria itu menahan pahanya untuk tetap membuka. Berbagai perasaan menghantam Elaina, campuran antara gairah dan juga menginginkan. la tidak peduli dengan apa pun lagi, siap memberikan seluruh tubuhnya pada Alister.

Mendesah, mengerang, dan pahanya basah bukan hanya oleh keringat tapi juga cairah dari dalam tubuhnya. Saat Alister mengangkat kepalanya, ia tersengal. Matanya buram dan tubuhnya lemas karena gairah.

“Kamu hangat,” bisik Alister sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

Elaina tersenyum, mengangkat tangan untuk mengusap wajah Alister. “Kamu lihai, membuat tubuhku berdebar-debar.”

“Kamu menyukainya?”

“Sangat. Tapi, sekarang aku mengantuk.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED