Adinda POV:
Permadi kembali mendekatiku, tangannya merangkul bahuku. Aroma masakan dari dapur mulai tercium samar. Dia menarikku ke pelukannya. Aku membiarkannya, tubuhku terasa kaku.
"Sayang, ada berita bagus!" katanya riang, suaranya bergema di dadaku. "Zara hamil! Dan itu belum semua, dia juga dinominasikan untuk penghargaan musik internasional!"
Jantungku terasa seperti ditusuk jarum es. Hamil? Zara hamil? Dan dinominasikan penghargaan? Aku menelan ludah, berusaha mati-matian agar tidak menunjukkan reaksinya.
"Kekasihnya akan mengadakan pesta besar untuk merayakannya. Aku sudah minta dia untuk tidak terlalu lelah," lanjutnya. "Kita harus ikut merayakannya nanti malam. Kau mau ikut, kan?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap kosong ke depan. Pesta? Merayakan kehamilan Zara dengan lagu-lagu yang aku ciptakan?
Permadi merasakan tubuhku yang menegang. Dia menghela napas. "Mungkin kau sebaiknya di rumah saja. Aku tahu kau tidak suka bertemu Zara."
Aku terkejut. "Zara dinominasikan? Penghargaan apa?" tanyaku, suaraku nyaris tidak terdengar.
Permadi menatapku dengan lembut. "Penghargaan Musik Nasional. Bukankah kau juga mendaftar untuk itu?"
Aku mengangkat pandanganku. "Aku sudah mengirim demo laguku. Bagaimana hasilnya?"
Permadi tersenyum, tangannya membelai pipiku. Matanya begitu lembut, begitu menenangkan. Seperti dulu, saat dia pertama kali menyatakan cintanya padaku.
"Sayang, aku sudah putuskan untuk membatalkan pendaftaranmu," katanya, suaranya melirih.
Aku menatapnya, tidak percaya. "Apa katamu?"
"Aku membatalkannya. Aku hanya ingin fokus dengan keluarga kita sekarang. Kita sudah tujuh tahun menikah, sudah saatnya kita punya anak, bukan?" jawabnya, matanya berbinar.
Aku menunduk, senyum pahit mengembang di bibirku. Anak? Aku menutup mata, mencoba menahan air mata yang mendesak.
Tujuh tahun. Sejak awal pernikahan, aku selalu ingin punya anak. Setiap kali aku mengutarakan keinginanku, Permadi selalu menolaknya. "Kita masih muda, sayang. Ayo nikmati masa berdua dulu," katanya. Atau, "Aku belum siap. Karier adalah prioritas."
Dan sekarang? Dia menggunakan alasan anak untuk membatalkan pendaftaranku? Alasan yang sama yang dia tolak dariku selama bertahun-tahun?
Aku membuka mata, menatap ke sekeliling. Permadi hanya tidak ingin aku bersaing dengan Zara. Dia tidak ingin aku meraih panggung yang sama, tidak ingin aku menyaingi adik angkatku yang rapuh itu. Zara adalah segalanya baginya. Dia akan mengorbankan apa pun demi Zara. Bahkan, menggunakan alasan kehadiran anak, yang dulu dia tolak.
Rasa sakit itu begitu nyata. Perih seperti sayatan pisau tumpul yang mengoyak-ngoyak jiwaku. Aku tahu, ikatan kami sudah lama rapuh. Tapi malam ini, aku melihatnya dengan jelas.
Permadi hanya ingin menjaga Zara. Aku hanyalah bayangan di hidupnya. Aku hanyalah pengarang hantu yang harus tetap tersembunyi.
Dia tidak pernah mencintaiku seperti yang aku bayangkan. Cinta yang dia miliki, perhatian yang dia berikan, semuanya untuk Zara. Aku tidak lebih dari sebuah pelengkap, sebuah penipuan yang sempurna.
Adinda POV:
Permadi melihatku terdiam. Dia menunduk, bibirnya mendekat ke telingaku. Bisikannya terasa seperti hembusan angin dingin.
"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku salah karena tidak berdiskusi dulu denganmu." Suaranya terdengar menyesal, penuh kelembutan yang memuakkan. "Jangan marah, ya?"
Aku tidak bergerak. Dia semakin mendekapku.
"Ini kan peringatan tujuh tahun pernikahan kita. Aku akan menebus semuanya. Aku akan memberikan kejutan terbesar untukmu," janjinya, suaranya meyakinkan. "Aku sangat mencintaimu, Adinda. Aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu."
Kata-kata itu. Kata-kata itu. Dulu, aku akan tersipu mendengarnya. Kini, aku tahu itu semua adalah kebohongan. Kebahagiaan siapa yang dia maksud? Kebahagiaan Zara.
Dia akan melakukan apa pun agar Zara bahagia. Aku hanyalah korban dari skenario rumitnya.
Aku menahan gejolak emosi di dadaku. Membalasnya dengan senyum. Senyum yang penuh kepalsuan.
"Tentu saja aku tidak marah, Permadi. Kita sudah tujuh tahun bersama, kan?" kataku, suaraku bergetar sedikit. "Untuk peringatan pernikahan kita nanti, aku juga punya kejutan besar untukmu."
Aku menatap matanya. "Kau harus datang, lho. Apa pun yang terjadi, kau harus datang."
Permadi tersenyum lega. Dia tidak menyadari apa-apa. Dia senang aku tidak marah karena pendaftaranku dibatalkan. Dia senang aku setuju untuk merayakan peringatan pernikahan kami.
Dia mencium keningku, penuh kasih sayang yang palsu. "Aku tidak sabar menunggu kejutanmu, sayang. Pasti akan sangat spesial."
Aku mengangguk. "Ya, akan sangat spesial. Aku yakin kau akan sangat menyukainya."
Kau akan sangat menyukainya, Permadi. Kau akan kehilangan aku dan mendapatkan kebebasanmu.
Permadi bangkit, meninggalkan aku sendirian di ruang tamu. Dia kembali ke dapur, melanjutkan membuat sup ayam yang katanya untukku.
Aku bangkit, berjalan ke meja kopi. Mataku terpaku pada cincin kawinku yang tergeletak di sana. Aku ingin menangis, tapi air mataku sudah mengering.
Aku mengambil cincin itu. Permadi yang dulu memakaikannya di jariku, dengan janji-janji manis yang kini terasa hampa. Aku membalik cincin itu perlahan.
Sebuah ukiran kecil tersembunyi di bagian dalamnya. Di sana, tertulis nama yang bukan namaku. Nama Zara Yuliana.
Dunia di sekelilingku terasa runtuh. Bukan karena cincin itu, tapi karena kebenaran yang kejam. Permadi tidak pernah mencintaiku. Tidak pernah. Seluruh pernikahan ini, seluruh tujuh tahun ini, adalah sebuah sandiwara besar. Dia mencintai Zara. Dari awal sampai sekarang.
Semua kebaikan, semua ucapan cinta, semua janji-janji itu, semuanya adalah topeng. Aku hanya dimanfaatkan, diperalat. Hatiku hancur, bukan karena patah hati, tapi karena kesadaran yang mengerikan. Aku adalah bodoh, buta, dan naif.
Aku tertawa hampa. Tawa yang pahit, mengiris udara dingin di ruangan ini.