Bab 2

Leon yang semula berdiri dengan penuh keyakinan di ruang makan itu perlahan mencairkan suasana yang sempat menegang. Ia melirik ke arah Lara yang masih terdiam, lalu tersenyum tipis, mencoba memberikan rasa tenang dan mulai duduk kembali.

"Tapi tenang saja, semuanya," ujar Leon, suaranya terdengar lembut namun tetap berwibawa. "Saya tidak akan memaksa Lara untuk menjawab sekarang. Mungkin dia juga kaget dengan pengakuan saya barusan. Saya hanya ingin kalian tahu keseriusan niat saya."

Pak Darma mengangguk pelan, sementara Tante Vina tersenyum kecil meski terlihat sedikit terkejut. Cantika hanya duduk diam dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Leon melanjutkan, "Saya juga ingin meyakinkan, ini tidak akan memengaruhi profesionalisme saya di kantor. Bapak dan Tante tidak perlu khawatir."

Ia berdiri dari kursinya, menghela napas panjang sebelum melirik jam di pergelangan tangannya. "Mohon izin saya harus melanjutkan perjalanan ke kantor. Terima kasih sudah mengizinkan saya mampir pagi ini."

Pak Darma berdiri, menjabat tangan Leon. "Baik, Leon. Saya menghargai keberanianmu. Kami akan memikirkannya. Hati-hati di jalan."

Leon menundukkan kepala hormat. "Terima kasih, Pak. Dan maaf kalau hari ini saya tidak bisa berangkat bersama Cantika seperti biasa."

Cantika hanya mengangguk kecil, terlihat masih terkejut dengan perkembangan situasi.

Sebelum melangkah keluar, Leon menatap Lara sejenak. "Lara, saya harap kamu tidak terlalu terbebani. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan."

Lara hanya mampu mengangguk pelan, masih bingung dengan perasaannya sendiri.

Leon akhirnya berpamitan dan keluar dari rumah itu, menyusuri jalan menuju mobilnya. Pagi yang ia rencanakan untuk menjadi awal dari sebuah langkah besar terasa lebih berat dari yang ia bayangkan.

Leon Sebastian Winata, nama itu kini begitu akrab di lingkungan perusahaan Marten Energy. Bukan hanya karena statusnya sebagai kepala divisi keuangan yang cerdas dan kompeten, tetapi juga karena karisma yang ia miliki. Dengan postur tegap, sorot mata tajam, dan sikap penuh percaya diri, Leon selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Namun, di balik pesonanya yang memukau, ada cerita yang tak banyak orang tahu. Leon bukan hanya seorang profesional muda yang sukses, tetapi juga seseorang yang membawa luka masa lalu.

Leon duduk di balik kemudi mobilnya, menatap lurus ke jalan yang membentang di depannya. Di balik wajahnya yang tenang, pikirannya berputar dengan rencana yang telah ia susun selama bertahun-tahun. Ucapannya tadi pagi di depan orang tua Lara terulang kembali di benaknya-pernyataan bahwa ia ingin menikahi Lara.

"Hanya satu langkah lagi," gumam Leon, suaranya nyaris tenggelam di tengah deru mesin mobil. "Pernikahan ini hanyalah formalitas. Aku tidak punya pilihan lain jika ingin masuk lebih dalam."

Ia menarik napas panjang, kedua tangannya menggenggam setir dengan erat. Di matanya, nama besar Marten Energy-dulunya MW Energy-seolah menari-nari, mengingatkan kembali akan tragedi besar yang telah mengubah hidupnya. Kebakaran itu. Kehilangan itu. Kemudian, kecelakaan misterius yang merenggut nyawa kedua orang tuanya sehari setelah tragedi itu terjadi.

Leon mengepalkan tangan, menahan emosi yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan. "Aku tidak akan berhenti sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan kalau mereka terlibat...," suaranya menggantung, dingin dan penuh tekad.

Ia melirik ke kursi penumpang kosong di sampingnya, seolah membayangkan Lara duduk di sana. "Maafkan aku, Lara," bisiknya lirih, nyaris seperti ucapan pada dirinya sendiri. "Kamu hanya bagian dari rencana ini. Aku tahu ini tidak adil, tapi aku harus melakukannya. Ini satu-satunya cara."

Leon kembali fokus ke jalan. Gedung tinggi Marten Energy mulai terlihat di kejauhan, berdiri megah seperti simbol kekuasaan yang selama ini ia incar. Ia memantapkan hatinya. Bagi orang lain, ia adalah Direktur Keuangan yang berdedikasi dan ambisius. Namun, di balik itu semua, Leon tahu bahwa langkah yang ia ambil bukan hanya soal karier, ini soal membongkar kebenaran, menuntaskan dendam, dan mengambil kembali apa yang menjadi hak keluarganya.

"Ini bukan soal cinta atau keluarga," Leon berkata lagi, nadanya lebih dingin. "Ini soal kebenaran dan keadilan."

Dan dengan itu, ia menginjak pedal gas lebih dalam, mengantar dirinya semakin dekat pada tujuan akhir yang telah ia tunggu selama bertahun-tahun.

Disisi lain Cantika, yang biasanya ceria dan penuh percaya diri, tertegun mendengar pengakuan Leon tadi pagi. Kata-kata Leon masih menggema di benaknya, membuatnya tak mampu berkata-kata. Kepergian Leon pun hanya ia pandangi dengan diam, tanpa mampu memberikan reaksi. Pagi yang biasanya diisi canda dan tawa bersama Lara berubah menjadi penuh kecanggungan.

Sebagai adik tiri Lara, Cantika adalah sosok yang energik dan selalu mampu menarik perhatian. Ia merupakan anak dari pernikahan kedua Darma, ayah Lara, setelah ibu Lara meninggal ketika Lara masih berusia tiga tahun. Meski memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, Cantika dan Lara tumbuh bersama sebagai saudara, meskipun hubungan mereka tak selalu mulus.

Cantika dikenal dengan kecantikannya yang manis, senyumnya yang menawan, kepribadian yang ramah dan kecerdasannya yang luar biasa. Namun, di balik semua itu, Cantika menyimpan ambisi besar untuk membuktikan dirinya sebagai bagian dari keluarga Ariatama Marten yang terpandang.

Lara yang biasanya merasa seperti bayangan di tengah keluarganya sendiri sejak ibunya meninggal, posisinya di keluarga maupun perusahaan seakan-akan tersisih, berbeda dengan Cantika yang begitu mudah mendapatkan segalanya, pagi ini dia merasa berbeda dan lebih unggul dari Cantika.

Di perjalanan menuju kantor, Lara menatap ayahnya yang berada di depan, sosok yang ia kagumi sepenuhnya ayah yang mencintai dua anaknya dan senantiasa mengajarkan kedisiplinan dan kesederhanaan kepada anak-anaknya. Pak Darma adalah Direktur Utama perusahaan yang didirikan oleh Ariatama Marten Komisaris Utama yang masih mengawasi jalannya bisnis, dan pasangan Winata, mendiang ibu dan ayah Leon, Sebastian Winata. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1990, sebelum kelahiran Leon di tahun 1996, sebuah fakta yang terasa ironi mengingat tragedi yang terjadi di tahun 1998, ketika kedua orang tua Leon tewas dalam kecelakaan selang sehari setelah kebakaran yang misterius kantor lama. Kecelakaan itu meninggalkan Leon menjadi yatim piatu di usia dua tahun.

Mobil melaju pelan keluar dari kompleks perumahan mewah. Lara duduk di kursi belakang bersama ayahnya, Darma, sementara sopir keluarga mereka mengendalikan kemudi dengan santai namun teratur. Pandangan Lara terus tertuju pada rumah besar di sebelah rumahnya-milik kakeknya, Ariatama Maarten.

"Rumah itu megah banget ya, Mbak," ujar sopir, mencoba mencairkan suasana yang hening. "Setiap lewat sini, saya selalu mikir, kira-kira butuh berapa lama ya bangun rumah sebesar itu?"

Lara tersenyum tipis. "Bukan cuma soal waktu, Pak. Tapi rumah itu... kayak punya ceritanya sendiri."

"Cerita apa tuh, Mbak? Kalau saya sih cuma bisa lihat dari luar aja, kagum. Kayaknya orang di rumah itu kerja keras banget ya."

"Kerja keras, iya," jawab Lara pelan. "Tapi di balik itu, ada banyak hal yang nggak semua orang tahu. Kakekku, misalnya, bukan cuma kepala keluarga. Dia seperti pusat segalanya. Semua keputusan penting pasti lewat dia dulu."

"Bener juga ya," sopir itu tertawa kecil. "Nggak heran tiap pagi mobil beliau selalu yang paling duluan keluar. Itu aja barusan udah lewat."

Lara mengangguk, matanya masih tertuju ke arah mobil sedan hitam yang tadi melaju keluar dari gerbang rumah besar itu. "Iya, Kakek selalu disiplin. Semua orang di keluarga ini kayaknya nggak bisa santai."

Darma, yang duduk di sebelahnya, menimpali singkat, "Itu kebiasaan yang harus dijaga, Lara."

Sopir tertawa lagi. "Tapi nggak semua orang kan bisa kayak Kakek Mbak. Saya lihat Mbak Monic barusan juga lewat. Wah, kalau itu, auranya beda. Kayak orang yang selalu pengen menonjol."

Lara tersenyum kecil. "Monic memang suka jadi pusat perhatian. Dia ambisius, percaya diri, dan... agak ribet."

"Kalau ribet, Mbak Lara juga ribet nggak?" sopir bercanda, membuat Lara tertawa kecil.

"Enggak, saya nggak seribet Monic," jawab Lara dengan nada bercanda juga. "Tapi Monic itu pintar. Dia selalu tahu gimana caranya bikin orang lain setuju sama dia."

Mobil kembali melaju, melewati rumah lain. Sebuah mobil putih keluar dari garasi rumah itu.

"Lho, itu kayaknya mobil Mbak Syifa, ya?" tanya sopir.

"Iya," Lara menjawab. "Syifa beda lagi. Kalau Monic seperti api, Syifa itu lebih tenang. Tapi jangan salah, dia juga nggak kalah berbahaya."

"Berbahaya gimana, Mbak?" Sopir itu melirik melalui kaca spion, penasaran.

"Syifa itu orangnya anggun, tenang, tapi dia selalu punya rencana. Kalau Monic pakai kekuatan langsung, Syifa lebih seperti main catur. Geraknya pelan, tapi pasti."

"Wah, keren juga ya keluarga Mbak Lara ini," ujar sopir sambil mengangguk-angguk. "Berarti Mbak Lara ini seperti apa dong? Api atau air?"

Lara tertawa kecil. "Mungkin aku cuma angin. Ada, tapi nggak terlalu kelihatan."

Darma hanya tersenyum tipis mendengar percakapan mereka. "Yang penting, Lara tahu perannya di keluarga ini."

Sopir kembali berbicara, "Tapi ya, Mbak, saya nggak bisa bayangin jadi bagian dari keluarga sebesar ini. Rasanya kayak hidup di bawah tekanan terus."

Lara menghela napas pelan. "Kadang memang terasa seperti itu. Semua orang selalu terlihat sibuk dan disiplin, tapi di balik itu semua... ada banyak yang nggak pernah terlihat."

"Rahasia, ya?" Sopir menebak sambil tersenyum.

Lara mengangguk pelan, lalu memandang jauh ke depan. "Rahasia yang mungkin nggak semua orang perlu tahu."

Setelah percakapan ringan itu, suasana di dalam mobil kembali sunyi. Hanya suara deru mesin dan gesekan ban dengan jalan yang terdengar. Lara mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memandangi gedung-gedung tinggi yang mulai tampak di kejauhan sebari bertanya dalam hatinya, "apa sebenarnya tujuan Leon masuk ke Perusahaan Keluargaku, dan sekarang mencoba masuk kedalam Keluargaku, apakah untuk mencari tahu hal yang sebenarnya begitu menyakitinya dimasa lalu atau membalas dendam untuk itu semua ditambah lagi ada kekecewaan dan kemarahannya pada Cantika." Namun, pikirannya juga melayang jauh ke masa lalu ke saat pertama kali ia mengenal Leon lebih dari sekadar hubungan profesional.

Bab 3

Lara mengingat dengan jelas awal mula kedekatannya dengan Leon, pria yang kini menjadi Direktur Keuangan di Marten Energy. Sebagai manajer perencanaan keuangan, interaksi profesional mereka seharusnya biasa saja. Namun, semuanya mulai berubah ketika Leon menunjukkan ketertarikannya pada Cantika, adik tirinya.

Pada saat itu suasana kantor pagi itu terasa tenang, dengan hanya suara keyboard dan percakapan pelan antar karyawan yang mengisi ruangan. Lara sedang serius menatap layar komputer ketika ia merasakan sentuhan ringan di pundaknya.

"Permisi," terdengar suara yang dalam dan formal. Lara menoleh dan mendapati Leon berdiri di belakangnya. Sontak, ia menahan napas sesaat, jantungnya berdebar lebih cepat. Dengan sedikit gugup, ia bergeser ke samping untuk memberi jalan.

"Silakan, Pa Leon," ucapnya dengan sopan.

Leon membalas dengan anggukan kecil, senyum sekilas di wajahnya sebelum ia melangkah melewatinya menuju ruang kerjanya yang berdinding kaca. Setelah kepergian Leon, Lara menghela napas panjang, mencoba meredakan debaran di dadanya. Dari mejanya, ia bisa melihat Leon yang langsung duduk dan mulai bekerja dengan sikap yang begitu fokus. Lara terpaku sejenak, memandangi bagaimana pria yang diam-diam ia kagumi itu berbicara serius dengan beberapa anggota timnya, menunjukkan dedikasi yang membuatnya tampak semakin mengagumkan.

Panggilan dari Leon untuk menghadap ke ruangannya datang lebih cepat dari yang ia kira. Lara menyiapkan laporan yang diminta dan memasuki ruang kaca Leon dengan sikap tenang, meskipun di dalam hati ia tak bisa menutupi kegugupannya.

"Silakan duduk, Lara," kata Leon, menyapanya dengan nada ramah yang sedikit mengejutkan.

Lara duduk dengan rapi dan menyerahkan laporan yang ia bawa. Leon mulai membuka pembicaraan dengan komentar singkat tentang pekerjaannya, sesekali menanyakan detail yang membuatnya terkesan karena Leon mendengarkan setiap kata yang ia katakan dengan penuh perhatian.

Setelah selesai membahas laporan, Leon bersandar dan, tanpa diduga, menanyakan sesuatu yang lebih personal.

"Jadi kalian kalau berangkat ke kantor kamu bareng ayahmu, dan Cantika bawa mobil sendiri?" katanya, menatap Lara dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Lara terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, namun ia segera menjawab dengan bahasa formal.

"Iya, Pak. Gaji dan pendapatan saya belum cukup untuk membeli mobil, dan saya juga lebih nyaman jika bersama dengan ayah," jawabnya, mencoba menjaga nada yang profesional.

Leon mengangguk pelan, masih memperhatikannya dengan tatapan yang penuh minat. "Bisa dimengerti," katanya singkat, sebelum kembali mengarahkan pembicaraan ke hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Lara hanya tersenyum, tak ingin menanggapi lebih dalam tentang hal ini. Namun, bagi Lara, pertanyaan tadi menyisakan tanda tanya. Perhatian Leon terhadap keluarganya, meskipun sekilas, membuatnya merasa ada sesuatu yang lain di balik sikap ramah pria itu. Ia tahu Leon mungkin hanya berbasa-basi, ia tak bisa menahan diri untuk merasa lebih dekat padanya. Namun, ia juga menyadari bahwa ini mungkin hanya perasaan sesaat, karena perhatian Leon sebenarnya mungkin bukan untuknya, melainkan untuk Cantika.

Hari itu jam kantor telah usai, Lara bergegas membereskan mejanya dan seperti biasa di keruangan Ayahnya untuk mengajak ayahnya pulang bersama. Setelah mengetuk pintu dan masuk ke ruangan ayahnya, Lara mendapati dua pria yang paling ia sayangi berada di sana, ayahnya, Pak Darma, dan paman Jeri, yang tidak lain adalah asisten ayahnya.

Lara masuk dan menyapa kedua pria yang sangat ia sayangi dengan senyum hangat. Ia meraih tangan pamannya, Paman Jeri, dan menyalaminya penuh hormat. Pria paruh baya itu tersenyum lembut, mengangguk kecil, seolah memahami betapa Lara menempatkannya di hati sebagai sosok panutan kedua setelah ayahnya.

"Paman Jeri, bagaimana kabarnya?" Lara bertanya, sambil tersenyum.

"Baik, Lara. Selalu senang melihat keponakan kesayangan paman," jawab Jeri sambil membalas senyuman Lara. "Kamu semakin sibuk saja, ya, di divisi yang baru?"

Lara tertawa kecil. "Sedikit, tapi masih bisa ditangani, kok, Paman."

Setelah percakapan hangat sejenak, Pak Darma mengangguk, isyarat bahwa ia punya tugas penting untuk Lara. "Lara, ada sesuatu yang ayah ingin kamu lakukan," katanya sambil menyerahkan sebuah file berwarna cokelat yang terkesan begitu rahasia.

Lara menerima file itu dengan ekspresi serius, menunggu instruksi lebih lanjut.

"Antarkan file ini kepada Cantika," Pak Darma berkata pelan namun tegas. "Dia sedang menunggu di ruangannya. Tapi ingat, file ini harus kamu berikan langsung ke tangannya, jangan sampai diketahui siapa pun."

Lara mengangguk, memahami pentingnya pesan itu. Setelah mengucapkan pamit kepada ayah dan pamannya, ia melangkah keluar, menyembunyikan file itu di tasnya dengan hati-hati.

Lara melangkah keluar dari ruangan ayahnya dengan hati-hati, menghela napas panjang setelah menutup pintu di belakangnya. Kantor sudah begitu sepi, menyisakan ketenangan malam yang anehnya terasa berat di udara. Hanya ada gemerisik langkahnya sendiri yang terdengar, setiap bunyi sepatu yang mengenai lantai marmer memantul, mengisi ruang kosong di sekitar. Penerangan yang mulai diredupkan membuat bayangannya sendiri tampak memanjang di sepanjang lorong.

Lara mempercepat langkahnya menuju lift, mengeratkan genggaman pada tas berisi file yang ayahnya percayakan padanya. Setiap instruksi ayahnya kembali berputar di kepalanya. File ini penting, harus sampai ke tangan Cantika secara langsung dan tanpa diketahui siapa pun.

Sesampainya di lift, Lara menekan tombol dan menunggu pintu terbuka. Ia menyandarkan bahu pada dinding di sebelah lift, mencoba menenangkan diri sambil memandang ke arah koridor yang gelap dan sunyi. Suasana kantor yang biasanya ramai kini terasa begitu berbeda di malam hari-seperti dunia lain yang menunggu untuk mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi.

Saat pintu lift akhirnya terbuka, Lara melangkah masuk dan menekan tombol lantai tujuan, lantai di mana Cantika menunggu. Ia merasa lega, setidaknya hanya perlu menuruni beberapa lantai lagi dan ia bisa menyerahkan file ini sebelum pulang. Namun, begitu lift bergerak, lift berhenti lebih awal dari yang seharusnya.

"Kok berhenti disini, siapa yang dari divisiku belum pulang ya" gumam Lara sempat bingung mengapa pintu lift terbuka di lantai yang bukan tujuannya. Pintu itu perlahan membuka, dan di sana, berdiri seseorang yang tak pernah ia duga akan ditemuinya dalam situasi seperti ini.

"Pa Leon."

Lara seketika merasa kaget, pandangannya terpaku pada sosok pria yang berdiri di depan lift dengan ekspresi tak terbaca. Leon memandangnya, sejenak menurunkan pandangan ke arah tasnya, sebelum kemudian mengangkat alis tipis dengan senyuman"Oh, permisi, ini mau turun kan," Leon berkata dengan nada rendah yang tenang namun cukup untuk membuat Lara merasakan gelombang kegugupan yang tidak biasa.

Lara berusaha menelan ludah, mencoba tersenyum meski ia tahu pipinya mungkin sudah memerah. "Iya, Pak... silakan masuk," jawabnya, suaranya sedikit bergetar.

Leon melangkah masuk ke dalam lift, dan pintu menutup perlahan, menyisakan mereka berdua dalam ruang kecil yang tiba-tiba terasa semakin menyempit. Aroma maskulin dan segar khas Leon membuatnya semakin gugup, seakan menutupi setiap sudut lift yang sunyi.

Lara berdiri sedikit kaku, mencoba menjaga jarak tanpa terlihat canggung, namun jantungnya masih berdegup kencang. Ia mencuri pandang ke arah Leon yang berdiri tenang di sisinya, matanya terfokus pada angka-angka di atas pintu lift yang menunjukkan lantai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED