Bab 1

"Mereka hanya merekrut perempuan-perempuan cantik yang nggak punya otak."

Perkataan itu menggema, terdengar meremehkan.

Selama sepuluh tahun bekerja, pontang-panting melompat dari satu agensi ke agensi lain, baru kali ini aku merasa direndahkan di hari pertama bekerja.

Tapi itu tidak mengherankan, sebab yang berkata adalah Gun Saliba, seorang celebrity Chef yang terkenal perfeksionis. Miris karena dari semua hal, pria itu terdengar masih sama, suaranya menggelegar, otoriter dan tidak bisa dibantah, meski belum resmi bertemu, aku sudah bisa membayangkan wajah Gun yang terdiri dari tiga J: judes, julid, jumawa.

"Siapa lagi kali ini yang kalian bawa Ed? Saya nggak membutuhkan manajer, yang saya butuhkan adalah asisten yang bisa bekerja."

"Bapak berniat menggantikan posisi saya?" Seorang pria yang dipanggil Ed itu terdengar menyahut. Aku merasa salut, meski sedari tadi sudah dibentak, suara laki-laki itu tetap tenang, tidak terpancing sang atasan.

Gun mendengus. "Kamu lihat saya memiliki asisten di kitchen sekarang?"

"Kalau itu, kami akan segera merekrutkan-"

"I said right now, did you not hear me?"

Mau tidak mau, aku kembali memejamkan mata, bukan aku yang dibentak, tapi aku ikut berjengit, tanpa sadar ludahku tertelan, pahit. Bagaimana Mba Niken berharap aku akan menjinakkan laki-laki semengerikan ini?

"Tolong Mit, lo tau kan dia tuh terkenal rewel, selama ini nggak ada yang betah jadi manajernya, tapi Pak Punjab suka banget sama dia. Bagi dia, Gun itu ATM berjalan, program Dapur Ceria yang tayang tiap hari selalu tembus rating dua digit, trending X, FYP TokTik, mana mau dia melepas Gun gitu aja, makanya apapun yang dia minta pasti diturutin, dan sekarang Pak Punjab mau lo yang jadi manajer dia."

Itulah yang dikatakan Mba Niken pagi tadi, sesaat setelah aku memperkenalkan diri sebagai pegawai baru di Lumeno Entertainment, anak perusahaan dari LO Group, yang menaungi para selebritis papan atas Ibu kota.

Masalahnya, kenapa harus aku?

Di antara semua orang, kenapa justru aku yang terpilih untuk menjadi manajernya?

"Program dia yang weekend, King Chef mulai berjalan, dan lo tau tanggapan pemirsa juga nggak main-main, hari pertama tayang aja, ratusan iklan langsung masuk, dia butuh orang buat handle jadwalnya dengan teratur."

Benar, program tersebut memang viral, ditayangkan di segmen siaran day time dengan kode rating SU, bertajuk survival show, bahkan Hiro dan Naga yang tidak pernah menonton TV saja sampai tertarik. Setiap sore di hari weekend mereka sudah standby di living room apartemen kecil kami, duduk di sofa dengan semangkuk popcorn untuk menyaksikan tayangan tersebut. Sesuatu yang membuatku meringis tiap memperhatikan euforia itu.

Sialan.

"Tenang Mit, ada bayaran yang sepadan buat pengabdian lo, gajinya sesuai rating acara, jadi bisa dipastiin lo bakal dibayar berkali-kali lipat dibandingkan manajer lain di agensi ini." Seolah tahu aku akan menolak, Mba Niken kembali menjelaskan, membuatku akhirnya tidak memiliki pilihan.

Aku membutuhkan uang, sebagai single parent yang harus menghidupi baik diri sendiri maupun dua orang bocil, aku harus menjadi palu gada, ibaratnya semua jenis pekerjaan apapun pasti akan aku ambil asalkan ada duitnya, yang penting halal dan tidak minta-minta.

Pantang untukku mengharap belas kasihan orang lain, lebih baik aku bekerja siang malam, kepala di kaki, kaki di kepala kalau perlu daripada harus mengharap uluran tangan dermawan.

"Nah, sekarang tolong banget ya, terima pekerjaan dari Pak Punjab ini, atau mungkin lo bakalan didepak lagi."

Dan di sinilah aku akhirnya, berdiri di balik pintu yang bertuliskan Chef Only, sebuah ruang kekuasaan milik seseorang yang sebentar lagi akan menjadi atasanku.

"Di mana manajer sialan itu sekarang? Baru hari pertama dia bahkan sudah terlambat, kamu yakin dia kompeten?"

"Dari portofolionya perempuan itu cukup meyakinkan, dan dia sudah di sini, silakan masuk." Pintu kemudian mengayun terbuka.

Jantungku berdegup kencang, ketika perlahan melangkah memasuki ruangan tersebut. Gun sedang duduk di kursi kebesarannya, membelakangi kami sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.

"Siang Pak, saya-"

"Berhenti basa-basi busuk perkenalan, katakan apa kelebihan kamu?"

Kutelan ludah susah payah, ini adalah pertanyaan yang mudah. Harusnya aku bisa menjawab lancar, tapi karena tidak siap dengan pertanyaan itu, otakku mendadak beku.

Tak kunjung mendapat sahutan, Gun terdengar mendengus. "Kamu nggak memiliki kelebihan? Untuk apa mereka merekrut kamu kalau begitu?"

"Saya cekatan, disiplin dan berkemauan keras, Pak," balasku akhirnya.

"Nah, sekarang saya tahu apa kekurangan kamu." Suara itu terdengar mengejek. "Kamu pandai berbohong. Dari mana kamu mengklaim cekatan kalau menjawab pertanyaan saya saja kamu gagu?"

Ga-gu?

Astaga.

Aku hanya terlambat menjawab beberapa detik saja, dia langsung menyimpulkan dengan kejam. Jelas aku tidak terima!

"Bapak nggak bisa asal berkomentar hanya dari satu sudut pandang, sedangkan Bapak belum pernah bekerja bersama saya."

"Jadi kamu menganggap diri kamu kompeten?

"Sebaik yang Bapak harapkan."

"Bagaimana jika saya kecewa?"

"Bapak bisa mengganti saya dengan yang lain."

"Kamu tahu saya nggak memiliki waktu?"

"Kalau begitu saya pastikan waktu Bapak nggak akan terbuang sia-sia."

"Kepercayaan diri kamu pasti-" Dia berputar di kursi, dan kalimatnya langsung berhenti. Wajahnya yang semula judes mendadak berubah terkejut. "Kamu?"

"Perkenalkan Pak, saya Paramita Ruhi manajer baru Bapak."

Matanya tajam, lurus, tepat memandangku. Meski sering melihatnya dari layar kaca, Gun tampak lebih matang dan lebar saat dilihat secara kasatmata.

Dia mengenakan sebuah uniform khas chef berupa double breasted jacket bernuansa putih, bahunya tampak luas, sudut-sudut rahangnya keras, usia telah membuat Gun jauh lebih dewasa, tapi yang paling menarik dari semua itu adalah sepasang matanya yang menatap tajam.

Persis seperti yang kuingat.

"Kamu yakin nggak salah orang Ed?" tanyanya pada sang asisten seolah meminta konfirmasi.

"Benar Pak, dia manajer baru Bapak."

Aku tahu ini adalah ide yang buruk, aku tahu bertemu lagi seperti ini pasti membuat Gun murka, tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi.

Sambil menguatkan mental, aku berusaha bersikap tenang. "Mohon kerja samanya Pak."

"Apa yang membuat kamu berpikir saya menerimanya?"

Aku menelan ludah saat laki-laki itu perlahan berdiri, menyadari betapa kontrasnya perbedaan tubuh kami, Gun yang menjulang tampak seperti raksasa bagiku yang mini. Langkahnya yang lebar mendekat, aku menahan napas saat aroma parfumnya memeluk indera penciumanku.

"Saya rasa Bapak nggak memiliki pilihan, saya dikirim langsung oleh Pak Punjab untuk menjadi manajer Bapak." Aku menjawab, setengah mati menahan diri untuk tidak mundur.

"Dan kalau saya menolak?"

"Bapak bisa sampaikan sendiri keputusan tersebut pada Pak Punjab."

"Apa kamu berani mengambil risiko tanpa libur jika menjadi manajer saya?"

"Termasuk cuti?" tanyaku, pandangan terangkat, dan seketika menyesali keputusan tersebut karena tatapan Gun sangat menusuk.

"Saya nggak suka jika manajer saya bepergian ketika sedang saya butuhkan."

Tunggu dulu, dalam kesepakatan seharusnya tidak seperti ini, dan setiap pekerja berhak menerima libur. Tapi di bawah tatapan Gun yang mengintimidasi aku merasa sulit memutuskan.

"Gimana?" tanyanya mendesak.

"Saya perlu memikirkannya, Pak."

"Bukannya kamu bilang, bahwa kamu dikirim ke sini oleh Pak Punjab, berarti sekarang kamu menolak perintah beliau?"

Perangkap, bisa-bisanya dia membalikkan keadaan!

Aku megap-megap. "Itu..."

Lesung pipi Gun terbit. "Saya menemukan kekurangan kamu yang kedua, kamu sangat plin-plan."

Diejek begitu, wajahku seketika terasa panas. Gun mundur selangkah lalu menggidikkan kepala pada asistennya. "Suruh seseorang membawa dia pergi, dia belum memenuhi kualifikasi untuk menjadi manajer saya."

Mataku langsung melebar. "Nggak bisa gitu dong, Pak!" Dua pria berbadan besar dengan seragam hitam rapi memasuki ruangan, aku dengan cepat berseru. "Saya ... saya menerimanya."

Jemari Gun terangkat, praktis menghentikan gerakan sang pengawal yang sudah berada di kanan dan kiri, siap menyeretku keluar.

"Saya terima tawaran Bapak, nggak ada libur kan? Nggak masalah, saya bisa Pak," kataku mengulangi dengan lebih percaya diri.

"Kamu yakin?"

Aku mengangguk.

"Bagus," sahutnya sambil kembali duduk di kursi. "Tapi kamu harus tahu bahwa saya nggak mentolerir keterlambatan, dan satu kesalahan kecil saja, silakan kamu langsung angkat kaki."

"Baik Pak."

Kemudian tangannya terulur, sejenak aku hanya memandangi tangan itu. Tangan yang kekar dengan gurat-gurat kehidupan. Lalu perlahan aku pun maju dan mengulurkan tanganku, begitu mungil di jabatan tangannya.

Kontak itu hanya berlangsung sepersekian detik, tapi hawa panasnya seperti menempel di telapak tanganku lalu merayap naik menuju wajahku. Sebelum semakin malu, aku segera menarik tanganku kembali.

Senyum Gun melebar. "Selamat menjadi manajer saya, Mita."

Inilah seorang mantan yang lebih baik dilupakan.

***

Bab 2

Aku menarik oksigen sebanyak-banyaknya setelah pamit undur diri dari ruangan Gun, sadar bahwa sedari tadi telah menahan diri.

"Gimana Mit?" Mba Niken menyongsong di depan pintu ganda kantin khusus karyawan ketika aku baru kembali, lalu terduduk lemas di kursi. "Dia nerima lo kan?"

Boleh tidak aku kabur saja? Laki-laki itu sengaja menjebakku!

Lima tahun kami tidak pernah bertemu, dan tiba-tiba berhadapan dengan Gun seperti ini, jelas membawa pengaruh buruk bagi mental.

Karena aku diam saja, Mba Niken mengguncang lenganku dengan heboh. "Mita, ngomong dong, sumpah lo bikin gue takut, dia nggak ngapa-ngapain lo di sana kan?"

"Mba, lo sengaja jadiin gue tumbal ya?"

Dia meringis tidak enak hati, sayang belum sempat menjawab sebuah suara mendayu nan merdu sudah mendahuluinya.

"Hai Mit, apa kabar?"

Punggungku langsung tegak, siaga.

Seorang perempuan dalam balutan bodycon dress merah menyala masuk dalam sudut penglihatanku, wajahnya yang cantik terpoles makeup tebal tampak tersenyum ceria.

Dia adalah Zara, sepupu sekaligus sainganku sebagai manajer di agensi terdahulu, kami sebenarnya bersaing secara sehat, sampai aku menemukan bukti bahwa Zara bermain api dengan Roy Dihan, seorang celebrity chef yang sedang naik daun sekaligus mantan atasanku.

Dan kini, Zara praktis menggantikan posisiku sebagai manajer Roy, awalnya aku merasa kalut karena laki-laki itu lebih memilih Zara daripada aku, tapi mengingat bagaimana reputasi Zara selama ini, terlepas dari hubungan terlarang mereka, Zara memang pantas mendapatkannya. Dia bisa diandalkan, memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni.

Sejak masa sekolah, aku dan Zara memang sering dibanding-bandingkan, Zara yang berprestasi secara akademis praktis jadi kebanggaan keluarga, sementara aku yang dianggap tidak sepandai dirinya kerap dipandang sebelah mata.

Itulah sebabnya aku selalu giat belajar agar mendapat beasiswa dan membuktikan pada keluarga bahwa aku bisa. Terlebih karena aku yatim dan Mama sibuk bekerja, jadi selama masa sekolah aku tinggal bersama orang tua Zara.

Sayangnya cara kerja dunia memang tidak adil, Zara yang cantik, pintar dan bertubuh proporsional bisa mendapat pekerjaan dengan mudah.

"Lo ada salam loh, dari Roy, dia bilang kenapa lo buru-buru resign dan nggak ambil pesangon?"

"Salam balik, semoga sukses sama program barunya." Sebagai mantan manajer, aku tetap menjawab tulus.

Alis Zara yang tersulam rapi terangkat. "Oh, pasti sukses kok, kan Roy lagi trending saat ini, lo nggak lihat FYP isinya dia semua?"

Tentu saja.

Selain Gun Saliba, nama Roy tengah digandrungi banyak orang, terlebih di kalangan gen-Z yang mengidolakan chef tampan. Bedanya jika Gun punya persona misterius yang mulutnya pedas, Roy memiliki keistimewaan senyum lebar yang menggoda.

Persaingan keduanya sudah menjadi rahasia umum, ditambah fakta bahwa agensi yang menaungi mereka pun adalah rival abadi dan berada di satu gedung yang sama.

Itu sebabnya meski aku sudah tidak bekerja bersama Roy, aku masih berpapasan dengan Zara karena kantin Lumeno Ent, dan Mahadewa Corp, berada di area yang sama.

"Rating pas dia jadi bintang tamu di King Chef aja langsung melejit," kata Zara tertawa jumawa. "Padahal cuma bintang tamu loh, apalagi kalau jadi juri chef resmi, bisa-bisa yang lain jadi nggak tersorot."

Mba Niken mendengus.

"By the way gue dengar lo jadi manajernya Juna Iskandar ya?" tanyanya mengabaikan dengusan itu lalu meringis. "Bukannya cowok itu pakai narkoba dan harus hiatus? Terus apa yang bakal lo kerjain? Bantu ngurus kasusnya?"

"Itu cuma rumor, belum terbukti benar," jawabku menahan Mba Niken untuk bicara. Berita tentang aku yang menjadi manajer Gun pasti belum tersebar dan aku tidak ingin repot-repot mengoreski kekeliruan Zara.

"Tapi dia lagi dalam pengawasan polisi," katanya berdecak, lalu menatapku kasihan. "Seandainya Roy bisa punya dua manajer, gue pasti mau berbagi tugas sama lo. Jadi lo nggak perlu resgin segala."

Sayangnya aku lebih memilih mundur teratur meski akhirnya harus masuk ke lubang buaya bernama Gun Saliba.

"Gue juga bakalan sibuk beberapa minggu ini buat persiapan tunangan."

Kurasa bukan hanya aku yang terkejut, Mba Niken di sampingku pun ikut menatap dengan mata membola.

"Oh? Lo belum tahu ya?" tambah Zara, kembali tertawa manja. "Gue sama Roy memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius."

Tangannya kemudian mengorek sling bag untuk meraih undangan, tapi karena terlalu semangat, sikunya tanpa sengaja menyundul gelas berisi mango punch milik Mba Niken yang tersedia di meja. Benda itu langsung ambruk dan isinya tumpah mengenai sebagian kemeja dan rokku. Aku seketika berdiri sambil memekik tertahan.

"Eh, maaf, maaf, gue nggak sengaja," serunya buru-buru menarik beberapa lembar tisu.

Karena masih terkejut, tanpa sadar aku menepis tangan Zara yang akan menyentuh kemejaku.

"Lo nggak terima kah karena gue nggak sengaja?" seru Zara cukup keras untuk didengar penghuni kantin. "Maaf..."

"Bukan gitu Zar, tapi ini lengket banget," balasaku tidak ingin dituduh sembarangan.

"Oke, gue tau lo masih marah karena posisi lo digantiin sama gue, tapi Roy nggak mungkin lama-lama tanpa manajer, gue cuma nurut perintah atasan."

Sialan, mata-mata itu kini memandangku dengan tatapan memicing, seolah menghakimi. Beberapa orang bahkan terang-terangan berbisik.

"Kenapa dia yang marah padahal dia yang mengundurkan diri?"

"Mungkin karena Roy memang udah mau mendepak dia."

"Kasian banget."

"Katanya kerjaannya kurang bagus, ya nggak heran kalau posisinya langsung digantiin Zara, bulan ini aja Zara dapet predikat Manager Of The Month."

Wajahku terasa panas.

"Sorry Zar." Kuputuskan untuk pergi, menatap Mba Niken sebelum pamit undur diri dan bergegas mencari toilet untuk menyeka kemeja.

Koridor gedung Lumeno Ent, lumayan panjang dan cukup berkelok-kelok, sebagai pegawai baru yang belum familier pada tempat ini, aku merasa kesulitan menemukan bilik toilet dan malah masuk makin ke dalam koridor yang benar-benar tampak asing.

Kubuka salah satu pintu yang bertuliskan VIP, niatku ingin bertanya tentang letak toilet pada seseorang di dalam, tapi yang kutemukan justru ruangan luas yang kosong. Aku baru akan berbalik pergi saat tiba-tiba sebuah tangan besar dari belakang punggung sudah lebih dulu mencengkeram tenggorokanku lalu berbisik di telingaku.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

***

Bab 3

Suaranya rendah dan berat, dari aroma musk tubuhnya secara insting aku langsung tahu milik siapa, namun aku kesulitan untuk menggeliat karena cengkeramannya yang seakan ingin meremukkan kepalaku.

"Pak!" sebutku serak dan ngeri.

"Kamu sengaja mengikuti saya?"

"B-bukan." Kucoba-coba untuk meraba jemarinya agar terlepas tapi lengan Gun yang bebas malah membelit perutku, aku praktis tidak bisa bergerak.

"Jawab," bisiknya mendesak.

"Sa-saya cari toilet, Pak."

"Apa ini kekurangan kamu yang ketiga? Berpura-pura, padahal kamu penguntit?" serang Gun tanpa ampun. "Atau kamu sudah nggak sabar bekerja bersama saya?"

"Pak, bisa lepasin dulu nggak, saya nggak bisa napas," kataku megap-megap.

Gun mendengus, kupikir dia tidak akan menuruti permintaanku begitu saja, tapi perlahan dia mengurai pelukan, dan cengkeramannya mengendur, aku langsung mengambil dua langkah menghindar lalu terbatuk-batuk heboh, sambil berbalik menatapnya, kuraba-raba leher, memastikan kepalaku masih utuh.

"Apa yang terjadi?" tanyanya, baru menyadari kemejaku yang basah, aku buru-buru menutupinya, karena pakaian berbahan chiffon itu kini menempel di kulitku hingga tembus pandang, Gun seketika mendengus. "Tenang saja, saya nggak akan napsu melihat kamu. Semuanya serba kecil dan rata."

Mataku melotot.

Apakah dia lupa apa saja yang dulu pernah kami lakukan? Apakah dia lupa bagaimana dulu dia sangat memujaku? Apakah dia lupa bahwa kami...

"Pakai ini." Sebuah bathrobe terlempar, refleks aku segera menangkapnya. Lalu merentangkan benda itu, mengernyit ketika melihat ukurannya yang dua kali lipat lebih besar, jika menggunakannya aku akan terlihat seperti jadoo. Jelas ini milik Gun.

"Nggak usah Pak," tolakku segera.

"Nggak mungkin kamu berkeliaran di sini dengan pakaian seperti itu."

"Saya cuma butuh toilet."

"Jadi kamu ingin mempertontonkan tubuh kamu?"

"Kalau Bapak nggak mau pinjamin saya toilet, saya permisi, Pak." Kesal karena tuduhan sepihaknya, aku memilih untuk melangkah pergi, namun belum mencapai pintu, Gun kembali bersuara.

"Tunggu." Aku membeku. "Saya nggak melihat ada cincin di jari manis kamu."

"Apa?" Aku sontak menoleh, terkejut.

"Pernikahan kamu nggak berhasil?"

"Itu bukan urusan Bapak."

"Saya perlu tahu dengan siapa saya bekerja, dan bagaimana statusnya."

"Bapak bisa mengetahuinya dari resume profil saya, nanti akan saya kirim secepatnya."

"Jadi benar?"

Ketegangan terasa di dadaku dengan degup jantung yang bertalu-talu ketika tatapan kami beradu. Bisa kutemukan sebuah pertanyaan mendesak di dalam sana, tak sanggup mempertahankan kontak mata, aku melengos, menarik embuskan oksigen sebanyak-banyaknya.

"Saya rasa, saya sudah mengganggu waktu Bapak, permisi." Berusaha tegar aku memilih untuk mengabaikannya dan berjalan ke pintu.

Tapi tentu saja terlalu naif jika berpikir Gun akan menyerah dengan mudah karena dari balik bahu kudengar dia berkata. "Jangan pikir kamu bisa menghindar begitu saja, Mita."

Aku menahan diri untuk tidak mengumpat.

"Saya ingin menambahkan satu aturan dari kesepakatan kerja sama kita."

Apa sebenarnya yang dia inginkan?

"Utamakan sopan santun, ketuk pintu setiap kali kamu ingin memasuki ruangan saya, hanya karena kamu manajer, bukan berarti kamu bisa keluar masuk tanpa izin, paham?"

Ya ampun, aku tahu ini ruangan dia saja tidak! Tapi bisa dimengerti, ruangan ini tampak rapi, tertata, kinclong persis seperti pemiliknya.

"Baik Pak." Tak ingin menambah masalah aku mengangguk saja, lalu bernapas lega ketika berhasil keluar dari sana.

Pertanyaan Gun membuatku takut, kuremas handuk di tangan lalu sadar bathrobenya masih kugenggam. Sial, aku tidak mungkin mengembalikannya karena tidak ingin berhadapan dengan laki-laki itu lagi hari ini.

Terpaksa aku menggunakan handuk itu, jika dipakai Gun mungkin hanya sebatas dengkul, tapi ketika dipakai olehku, panjangnya nyaris mencapai mata kaki, membalut seperti jubah.

Sambil merapikan debar jantung yang berantakan, aku menyusuri koridor yang sepi, begitu melewati kantin, Zara sudah menjadi pusat perhatian, dikerubungi oleh karyawan yang memberi selamat.

Sebentar lagi berita pertunangannya dengan Roy pasti akan trending di kalangan netizen

***

"Siapa yang mulai duluan?"

Hiro menunjuk Naga, begitu pun sebaliknya, aku mendengus.

Apakah ini hari basah-basahan nasional? Karena bukan hanya aku yang terkena tumpahan air, tapi kedua anakku juga. Bedanya air mereka bercampur tanah, mengotori pakaian sampai membuat wajah mereka cemang-cemong.

"Mama tanya sekali lagi ya, siapa di antara kalian yang duluan melempar lumpur?"

Keduanya menunjuk diri sendiri. Bagus, tadi mereka saling menyalahkan, kini mereka saling melindungi.

"Jadi kalian nggak ada yang mau ngaku?"

"Aku suka main lumpur." Hiro menyahut datar.

Naga segera menimpali. "Aku juga, Ma."

"Ini bukan masalah main lumpurnya, tapi kalian bikin semua kotor," kataku capek. "Bukannya Mama udah pesan jangan bertingkah, dan jangan bikin Mba Susi repot?"

"Tempat itu bau, aku nggak kuat, lebih enak main di luar, kami bisa tanam jagung." Sebagai yang lebih tua meski hanya beda lima menit, Hiro menjelaskan. Aku melotot tidak percaya dengan penuturan frontalnya.

"Bau?"

"Ikan asin." Naga dengan senang hati menambahkan. "Mereka masak itu untuk maksi." Maksudnya adalah makan siang.

Aku baru menjemput mereka di day care, karena seharian bekerja dan tidak ada yang mengurus, terpaksa dua bocah ini dititipkan di sana. Tapi ibu mana yang tidak shock jika mendadak disuguhkan pemandangan mengenaskan.

"Dengar," kataku, berjongkok, untuk menjajari tubuh mungil mereka. Lalu menatap kedua anak kembarku bolak-balik. "Kalian nggak boleh menghakimi apa yang dikonsumsi orang lain, dan kalian juga nggak boleh menghina makanan. Gimana kalau itu lauk kesukaan Mba Susi? Dia berhak makan apapun yang dia suka."

"Tapi udah ada larangan nggak boleh membawa makanan beraroma menyengat." Jemari montok Hiro menunjuk peraturan yang menempel di dinding. "Bau itu bisa tersimpan di filter AC yang lama dan bisa mempengaruhi aroma ruangan."

Aku meringis.

"Iya Ma, cara supaya baunya hilang kompartemen AC harus dibersihkan dan diganti dengan filter udara yang baru," imbuh Naga semangat.

Baiklah, aku tidak akan marah dengan alasan mereka meski terdengar menyebalkan, tapi aku tidak ingin diajarkan cara membersihkan AC oleh anak berusia empat tahun.

"Ya sudah, Mama mau temuin Mba Susi, kalian bersih-bersih, mandi dulu sebelum pulang, oke?"

"Aku lebih suka langsung pergi." Hiro memberikan pendapat.

"Aku juga." Naga setuju.

Kuabaikan penolakan mereka dengan membiarkan keduanya digiring ke kamar mandi oleh Mba Fiona, lalu melangkah lebih ke dalam untuk bertemu Mba Susi.

Beliau adalah wanita paruh baya berusia empat puluh tahun bertubuh tambun dan kacamata, suaranya yang ceriwis langsung menyambut begitu melihat kedatanganku.

"Gimana Mba Mita?" tanyanya mendadak tidak ramah. "Sudah lihat Hiro dan Naga?"

"Sudah Mba, saya minta maaf mewakili mereka ya," kataku tak enak hati. "Saya pasti akan mengajari mereka di rumah supaya lebih sopan dan menjaga perilaku."

"Itu tindakan yang bagus. Yah, saya tahu Mba sibuk kerja dan mungkin nggak sempat mendidik mereka, makanya mereka jadi liar."

Aku meringis kecut. "Makasih untuk pengertiannya, Mba. Besok saya pastikan mereka sudah lebih nurut dan nggak membuat masalah."

"Gini Mba..." Mba Susi berdeham, lalu membetulkan letak kacamatanya. "Saya pikir sebaiknya Mba nggak usah bawa mereka ke sini lagi."

"Gimana Mba?"

"Sejujurnya saya kualahan, kemarin mereka memecahkan selusin gelas untuk melakukan penelitian terhadap sinar matahari atau apa, saya nggak paham, sekarang mereka mencangkul tanah di belakang rumah. Saya nggak tau apa yang akan mereka lakukan besok."

"Mohon keringanannya, Mba."

"Tolong pengertiannya juga Mba, anak yang dititipkan di sini ada banyak dan saya nggak bisa hanya mengawasi mereka. Lagipula Hiro dan Naga sudah terlalu dewasa buat dititipkan di sini."

"Tapi Mba-"

"Makasih Mba Mita."

Tidak ada negosiasi, Mba Susi langsung melengos untuk menyapa Bunda lain yang menjempat anaknya.

Aku mendesah, dengan lesu berjalan menuju mobil, menunggu sampai Hiro dan Naga melompat masuk ke kursi penumpang, sudah rapi dan wangi.

"Kita diusir?" tanya Hiro, benar-benar membuatku melotot.

"Kamu nguping?"

"Baguslah aku malas di tempat ini."

"Apa itu berarti besok kita bakalan di apartemen sama Mama?" tanya Naga antusias, tidak menyadari situasi yang terjadi.

Aku mendengus. "Nggak, sekarang kalian akan Mama tinggalin di panti asuhan."

Keduanya merengek protes.

Sial, bagaimana aku akan menjaga anak-anak sementara aku pun harus bekerja dan tidak ada libur?

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED