"Apa idenya?" tanya Carissa ingin tahu.
"Pergilah dari rumah dan kejar mimpimu," bisik Hanna dengan senyum jahat.
"Pergi dari rumah," lirih gadis bermata cokelat itu.
"Ya, dengan begitu kau akan bebas dari perjodohan."
"Bila aku jadi kau, aku pasti sudah kabur ke luar kota dari pada menikah dengan pria tua." Sera menimpali.
Carissa masih memikirkan ide konyol yang disarankan Hanna dan Sera. Haruskah dia pergi dari rumah? Benarkah apa yang disampaikan oleh kedua orang itu?
Kedua anak beranak itu saling melempar senyum licik.
*
Tanpa pikir panjang Carissa pun sudah bersiap untuk kabur dari rumah, dia menyiapkan berbagai keperluan yang mungkin dia butuhkan di luar kota sana. Tidak disangka, Carissa begitu mudahnya percaya dengan rencana busuk Ibu dan anak itu, bukannya mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.
Menjelang sore Carissa sudah berada di sebuah halte, menunggu bus yang akan membawanya ke kota. Dua puluh menit kemudian, bus yang ditunggunya tiba, Carissa masuk ke dalam bus diikuti beberapa orang yang juga hendak menuju ke kota yang sama.
Setelah empat jam perjalanan bus itu berhenti di sebuah terminal induk. Semua penumpang bergegas turun, begitu pula dengan Carissa. Gadis itu celingukan terasa asing dengan tempat yang baru saja diinjaknya. Gadis yang kini beranjak sembilan belas tahun itu mulai melangkahkan kaki mengikuti rombongan orang yang tadi turun bersamanya dari bus.
Namun, Carissa kebingungan setelah beberapa orang yang dia ikuti mulai memisahkan diri masing-masing. Akhirnya Carissa memutuskan berjalan keluar dari terminal dan mulai berjalan di trotoar. Dia akan mencari penginapan terlebih dahulu untuk bermalam dan mengistirahatkan tubuhnya. Untungnya dia memiliki tabungan lebih, jadi dia tak perlu takut untuk membayar sewa hotel.
Tanpa disadarinya ada dua orang asing yang sejak dari terminal tadi tengah mengincarnya. Kedua orang itu hingga tadi masih mengikuti di belakangnya, yang satunya mengikuti dengan sepeda motor yang lainnya berjalan kaki di belakang Carissa.
Saat dirasa sudah berada cukup jauh dari terminal dan tempat agak sepi, kedua orang yang berniat jahat itu mulai melakukan aksinya. Tanpa aba-aba pria bertopi kupluk hitam yang berjalan di belakang Carissa langsung menjambret ransel yang dikenakan gadis itu.
"Jambreet ...!" teriak Carissa spontan.
"Jambreet! Tolong!" Carissa berlari mengejar mengikuti pria asing itu. Beberapa orang yang mendengar ikut membantu Carissa mengejar pencuri itu, tapi sayang mereka kalah cepat.
Carissa seperti kehabisan napas, dia berjongkok dengan napas naik turun. Air matanya meleleh di pipinya yang mulus. Ranselnya. Semua miliknya ada di ransel itu. Kini semua raib dicuri orang tak berkemanusiaan.
Beberapa orang yang membantu mengejar kedua pencuri itu datang dengan tangan kosong. Mereka menyesal tidak berhasil mengejar pencuri tersebut.
"Lapor polisi aja bagaimana?" saran salah seorang yang membantunya tadi yang diangguki dengan yang lainnya.
Akhirnya salah seorang dari mereka mengantar Carissa ke kantor polisi terdekat. Setelah melapor kejadian yang dialaminya, polisi akan segera menyelidiki kasusnya secepatnya.
Keluar dari kantor polisi, gadis itu bingung hendak kemana. Pria yang mengantarnya tadi, sudah keluar lebih dulu tanpa menunggunya selesai memberi laporan.
Carissa berjalan keluar dari area kantor kepolisian. Dia lapar, perutnya sudah keroncongan minta diisi. Bahkan saat ini dia tidak punya apa-apa lagi. Kemudian dia teringat tadi menyimpan uang kembalian dari kondektur di saku celananya. Wajahnya sedikit berbinar setelah menemukan uang di saku celananya, tidak banyak memang, hanya dua puluh ribu. Gegas Carissa mencari sebuah warung untuk membeli roti.
Senja telah berganti gelap, pertanda malam mulai merangkak naik. Lampu-lampu jalan mulai menyala, beberapa toko yang dilewatinya pun mulai tutup. Ada sebuah warung di ujung sana, Carissa mulai berjalan cepat, takut bila warung tersebut akan tutup juga.
Sesampainya di warung yang di tuju, ada beberapa orang laki-laki yang sedang mengobrol, dan memperhatikan gerak-gerik Carissa saat dia baru datang.
Carissa mengambil dua bungkus roti dan sebotol air mineral. Gadis itu mulai memakan rotinya perlahan, roti itu terasa mengganjal di tenggorokan dan sulit untuk ditelan. Tidak terasa air mata kembali meluncur turun di pipinya, mengingat betapa bodohnya dia menuruti keinginan Hanna dan Sera.
Lebih buruknya lagi, dia lupa tidak berpamitan dengan Mbok Wati. Andai wanita yang telah lama mengurusnya itu tahu, pastilah dia akan kitamelarang Carissa pergi. Dia benar-benar menyesali perbuatannya yang tanpa berpikir dua kali.
*
Di lain tempat
Lucas sudah berada di rumah dan siap untuk membahas keinginan Carissa untuk bekerja di restoran mereka, seperti yang diungkapkan Hanna tadi pagi.
"Kemana anak-anak?" tanya Lucas begitu duduk di ruang kerjanya.
"Um, Sera sedang di kamarnya ... kalau Carissa aku tidak melihatnya sejak siang tadi," ucap Hanna berbohong.
"Panggil Carissa," titah Lucas. Hanna segera keluar dari ruang kerja.
Hanna berjalan ke arah kamar puterinya, nampak Sera sedang melakukan Video Call dengan seorang laki-laki di ujung sana. Hanna hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku puterinya yang berani melakukan VC dengan pakaian terbuka.
"Mama ngapain di sini sih, ganggu aja!" omel Sera ketus.
"Mama cuma lagi ngulur waktu aja sekalian nyari alasan kenapa Carissa 'gak ada di kamarnya," ucap Hanna.
Sera mendengkus lalu mematikan sambungan video call-nya.
"Bilang aja kalo dia kabur, gitu aja kok, ribet," balas Sera seraya mengenakan pakaiannya. "Terus, kita pura-pura enggak tau apa-apa," sambung gadis yang mewarnai rambutnya dengan warna cokelat itu.
Hanna melangkah keluar dari kamar Sera lalu kembali menuju ke ruang kerja Lucas, suaminya.
"Pa ... Papa." Hanna masuk ke ruang kerja Lucas dengan wajah yang sengaja dibuat bingung.
"Ada apa, Ma?" tanya Lucas. "Kenapa Mama seperti orang bingung begitu?" tanyanya lagi.
"Mama enggak lihat Rissa di kamarnya, Pa," lapor Hanna.
"Mungkin dia di dapur bantuin si Mbok, biasanya begitu 'kan," ucap Lucas tenang.
"Tapi di dapur juga enggak ada, Pa. Mama udah cari ke sana tadi."
Lucas bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya diikuti dengan Hanna di belakangnya. Mereka melangkah menuju kamar Carissa, setibanya di sana, kamar itu kosong dan tampak rapi. Kembali mereka menuju arah dapur, terlihat Mbok Wati sedang menyiapkan makan malam sendirian.
"Mbok, tidak lihat Rissa?" tanya Lucas.
"Non Rissa? Tidak Tuan, sejak tadi siang simbok belum melihatnya. Apa Non Rissa sakit?" tanya Mbok Wati penasaran.
Lucas menggeleng.
"Kemana Non Rissa, Tuan?" tanya simbok kemudian. Wajahnya yang sudah mulai dihiasi keriput berubah sendu.
"Tidak tahu, Mbok. Biar saya cari dulu di sekitar sini," balas Lucas seraya melangkah menjauh dari dapur.
Wanita tua itu memiliki firasat buruk pada gadis yang sejak lahir sudah tinggal bersamanya itu. Pasalnya selama ini, bila gadis itu hendak keluar rumah pasti tidak pernah lupa untuk selalu berpamitan. Walaupun hanya sekadar keluar sebentar untuk ke warung di ujung jalan.
"Semoga Non Rissa baik-baik saja," lirihnya.
"Lekas pergi dari hadapanku!" usir pria itu dingin seraya melempar lembaran uang di atas ranjang yang berantakan.
Wanita yang baru saja menjajakan jasanya itu memunguti lembaran uang berwarna merah yang berhamburan di ranjang dengan senyum kecut. Apa pelayanannya kurang memuaskan atau pria itu yang tidak tahu caranya bermain, atau memang mood pria itu yang sedang tidak bagus? batin wanita penjaja napsu itu berkecamuk.
"Shit! Bodoh!" Entah sudah berapa kali umpatan yang terlontar dari bibir pria berkulit cokelat itu seharian ini.
Drrtt ... drrtt.
Pria itu mengambil ponsel yang tergeletak di nakas samping ranjang.
"Hmm."
"Kapan balik?" sapa suara di seberang sana.
"Sebentar lagi."
"Gimana kerjaan?"
"Sialan emang si Revan! Ngurus kerjaan gak ada yang becus!" makinya. Orang di sebarang sana tertawa cekikikan tanpa dosa.
"Ya, udah, mending lo balik sekarang mumpung belum malam, Yan," saran pria di seberang sana. "Eh, gimana cewek yang gue pesenin tadi hah?" tanyanya lagi.
"Gak ada kesan sama sekali," jawab pria itu datar.
"Hahaha ... sorry, sorry. Lain kali gue cariin yang lebih hot deh."
"Gak perlu. Ya, udah gue mau turun buat check out, sampe ketemu di rumah tiga jam lagi," tutup Bian yang bernama asli Fabian Airlangga Wijaya.
Satu minggu yang lalu Revano, adiknya, ditugaskan mengurus proyek yang berada di luar kota. Setelah beberapa hari kerja ternyata Revan melakukan banyak kesalahan beserta anak buahnya, sehingga banyak proyek yang rusak mesti harus diubah dan diganti lagi.
Akan tetapi, si pembuat masalah enggan kembali untuk memperbaikinya, lebih memilih terbang ke Singapore untuk liburan tanpa merasa bersalah. Itu sebabnya Bian yang ditugaskan sang Ayah untuk mengambil alih proyek tersebut.
***
Carissa menyusuri pinggir jalanan aspal yang ramai dengan kendaraan, entah sudah pukul berapa saat ini dia tidak tahu, pastinya sudah lewat pukul 21.00. Ke mana tujuannya pun dia tidak tahu, uang yang di saku celananya hanya tersisa sepuluh ribu. Ada pula kalung di lehernya dan dua cicin yang melingkar di jari manis dan tengahnya. Dia harus menemukan tempat untuk menjualnya agar bisa menyewa tempat untuk beristirahat walau untuk semalam saja.
Jalanan yang dilalui Carissa saat ini terlihat lengang, sepertinya dia memasuki daerah perumahan kosong yang terbengkalai. Tiba-tiba ada dua orang yang menaiki sepeda motor berhenti menghalangi langkah gadis itu. Seketika jantungnya berdegup dengan cepat, firasatnya tidak baik.
Salah seorang turun dari sepeda motor dan satu lainnya memarkir kendaraan di balik pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Carissa gegas mengambil langkah seribu. Namun nahas, pria berkumis lebat itu mencekal tangannya kencang lalu menyeretnya. Carissa ingat mereka adalah orang yang tadi berada di warung.
"Tidaak! Lepaaskan ...!" teriak gadis itu mencoba meronta.
"Kita senang-senang dulu manis," ucap pria berkumis lebat itu dengan senyum memuakkan.
"Bro, cepet bawa sini!" panggil temannya tidak sabar.
"Toloong!"
"Sstt ... jangan berteriak!" Kembali pria itu menarik tangan Carissa kasar.
Carissa susah payah melawan dengan kekuatan yang dia miliki, tapi dibanding kekuatannya dengan dua laki-laki dirinya bukanlah tandingannya.
Kedua pria itu berhasil membawa Carisaa masuk ke dalam rumah kosong yang tak terawat. Gadis itu semakin meronta, kakinya menendang-nendang kedua pria itu.
"Toloong!" Carissa kembali berteriak sekuat tenaganya. Karena kesal akhirnya salah satu pria itu membekap mulut gadis itu, agar tidak lagi menimbulkan suara berisik.
"Ini ambil," kata pria satunya menyerahkan tali untuk mengikat tangan Carisaa.
Carisaa masih memberontak, wajahnya sudah basah dibanjiri oleh peluh dan air mata. Batinnya berteriak, mengapa kejadian buruk selalu menimpanya. Dalam hatinya dia berjanji bila ada seorang yang menyelamatkannya dari kedua manusia laknat ini, dia berjanji akan memenuhi keinginan apa pun orang itu. Itu janjinya.
Gadis itu sudah tak memberontak lagi, dirinya telah pasrah dengan keadaan. Ketika kedua orang itu mulai melucuti pakaian yang dikenakannya. Dua pasang mata itu menatap lapar pada tubuh yang tergeletak lemah tak berdaya di atas lantai kotor itu. Tangan pria bertato itu membelai dada gadis itu dengan gemas. Sedangkan pria berkumis lebat sibuk membuka celana jeansnya untuk segera mengekseskusi Carissa.
"Ehem! Boleh bergabung?" Terdengar suara berat di belakang mereka.
Tadi ketika Bian meninggalkan hotel tempatnya menginap dia melewati jalan lain menuju proyek dan tak sengaja melihat seorang wanita yang diseret oleh kedua pria tersebut ke rumah kosong terbengkalai. Alih-alih tak ingin ikut campur, rasa iba dalam dirinya pun memberontak tidak tinggal diam.
Kedua orang itu terkejut dengan kehadiran seorang yang tiba-tiba muncul tanpa diduga. Mereka menghampiri orang asing tersebut dengan membawa balok kayu yang tergeletak di lantai kotor itu.
"Ngapain lu, b*ngsat!" hardik pria yang memiliki tato di lengannya.
Bian melirik gadis yang tergeletak lemah di lantai, tubuh atas gadis itu sudah terekspos. Bian meludah jijik menatap kedua orang yang kelaparan akan napsunya.
"Kalian sampah!" desisnya tajam.
"Lo kagak usah ikut campur, S*tan!" bentak pria berkumis lebat.
Pria bertato di lengan mulai melayangkan balok kayu ke arah Bian, dengan mudah pria itu mengelak dan mulai mengambil kuda-kuda untuk melawan balik. Tidak sia-sia latihan muaythai yang sejak dulu dia geluti, kini berguna juga.
Kembali pria berkumis lebat melakukan serangan, sebuah pukulan mengenai bahu Bian kala sedang menghajar pria bertato itu.
"Shit!"
Dengan gerak cepat, Bian melayangkan tendangan ke arah perut lawannya satu persatu. Berjalan menyasar pria bertato dan menindihi tubuhnya dan mulai kesetanan menghajar wajah pria itu hingga tak sadarkan diri. Setelah itu, Bian bangkit mencari pria berkumis lebat yang kini berdiri terpojok.
Kepala Bian meliuk ke kiri dan kanan seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Lo ngebunuh temen gua b*ngsat?!" teriak marah pria berkumis lebat.
"Ya, dan lo selanjutnya!" ujar Bian dengan tatapan siap membunuh.
Bian melangkah perlahan ke arah pria itu yang mulai ketakutan. Diliriknya teman yang tak sadarkan diri di bawah sana, wajahnya sudah tak berbentuk lagi akibat dihajar pria asing ini.
"Lo punya dua pilihan. Lo bisa pergi dari sini secepatnya atau lo mau berakhir seperti temen lo itu," tawar Bian.
Pria berkumis lebat itu bimbang, entah dia ingin melawan atau meninggalkan temannya di sini. Tanpa pikir panjang pria berkumis lebat memilih lari keluar, saat hendak menghidupkan motornya dia lupa bahwa kunci motor itu dipegang oleh temannya yang tak sadarkan diri di dalam. Akhirnya pria itu lari terbirit-birit meninggalkan lokasi dan membiarkan temannya di sana.
Bian menghampiri gadis yang terkulai lemah di lantai, tangan gadis itu terikat ke atas sebuah palang. Gejolak kelelakiannya tiba-tiba melonjak naik begitu menatap bagian atas tubuh gadis itu yang polos tanpa busana. Gundukan kembar milik gadis itu menantang seakan minta diremas.
Pria dengan tinggi 180 cm itu membungkuk lalu menyapu anak-anak rambut gadis itu yang menutupi wajahnya. Cantik. Tatapan mereka menyatu bola mata cokelat gadis itu seolah menghipnotisnya. Bian melepas sumpalan di mulut gadis itu dan membuka ikatan tangannya.
Pria itu melepas kemejanya lalu memberikan kepada gadis itu untuk dipakainya. Baju gadis itu sudah terkoyak begitu juga dengan pakaian dalamnya.
Carissa masih belum bersuara akibat syok yang dialaminya, gadis itu menatap ngeri pada pria yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya terikat. Dengan terpaksa Bian mengangkat gadis itu meninggalkan lokasi laknat tersebut dan membiarkan tubuh pria bertato itu di sana sendiri.