Beberapa gelas jatuh dari atas nampan setelah seorang pelayan menubruk tak sengaja pada seorang pria yang tiba-tiba berdiri ketika ia sedang berjalan. Tepat saat pelayan perempuan itu melewatinya, si pria yang berpenampilan bak seorang eksekutif muda mendadak bangun dari duduknya dengan suasana hati yang terlihat kesal.
“What the ...!” umpat si pria dengan wajah penuh emosi. Sempat ia menarik kemeja si pelayan, reaksi spontan atas kemarahannya.
Namun, seolah menyadari keberadaannya di area umum, umpatan kasar itu tidak ‘tulus’ terucap, dan lelaki itu pun kembali melepaskan kemeja pelayan itu dari cengkeramannya.
“M-maaf, Tuan. M-maaf!” ucap si pelayan dengan suara bergetar.
Wajahnya cemas dan takut saat ia melakukan kesalahan yang sebetulnya tidak disengaja. Meski pria itu yang salah karena tidak melihat dan langsung berdiri, tetapi pelayan itu sadar jika dirinya-lah yang harus meminta maaf.
“Apakah kamu buta?” hardiknya dengan wajah memerah penuh emosi serta tangan menunjuk si pelayan yang saat ini semakin ketakutan.
Tubuh pelayan itu gemetaran. Ia sadar dirinya sedang dalam masalah sekarang. Bagaimana tidak jika ia harus berurusan dengan seseorang yang semua orang di kafe tempatnya bekerja mengenal dan tahu siapa dirinya.
Pria yang pakaiannya basah oleh pelayan bernama Zia itu adalah Sagara Pratama, seorang pengusaha muda yang terkenal akan sikapnya yang dingin dan angkuh.
Sagara adalah pelanggan tetap di kafe tersebut. Ia kerap datang ke tempat itu saat hendak bertemu dengan klien atau sekedar untuk menikmati makanan dan minuman.
Sagara bukanlah pengusaha muda biasa. Wajahnya yang tampan bak seorang model, tubuhnya yang bagus dengan tinggi dan berat proporsional, menjadikannya sebagai sosok lelaki yang banyak diincar bagi banyak wanita-wanita kalangan atas.
Namun, tidak sedikit juga yang takut akan sosok lelaki itu. Sebab bagi mereka yang tahu, Sagara bukanlah seorang lelaki yang mudah atau harus didekati. Ia adalah seseorang yang menyeramkan, yang bisa melakukan apapun sesuai keinginannya. Bahkan, bukan hal aneh jika sosok Sagara memiliki banyak musuh yang tak terlihat. Sebab pada kenyataannya sosok Sagara yang terkenal di banyak kalangan tersebut —baik itu bisnis bersih atau kotor— mampu melakukan tindakan keji seperti menculik atau membunuh musuh-musuhnya yang diketahui sengaja mencari masalah dengannya.
Sagara tidak akan segan memberi hukuman bagi orang-orang yang melakukan kesalahan. Baik itu karyawannya di kantor, para pengawalnya sendiri, atau bahkan orang lain yang tidak ada hubungan sama sekali dengannya, termasuk rekan bisnis yang tiba-tiba berkhianat.
Hal itulah yang membuat sosok pengusaha itu ditakuti semua orang, pun bagi Zia yang saat ini menundukkan kepala ketakutan. Selentingan kabar mengenai siapa Sagara, sudah ia ketahui sejak pertama kali dirinya bekerja.
Seorang laki-laki lain yang juga bersama sang pengusaha, mencoba mencegah Zia yang tiba-tiba ingin mengelap pakaian lelaki itu dengan tisu. Sebab menurutnya apa yang Zia lakukan adalah hal yang sia-sia.
Benar dugaannya, ketika Zia akan mengeringkan pakaian Sagara yang basah karena tumpahan minuman yang dibawa, lelaki itu menolak. Menepis tangan Zia dengan kencang, membuat gadis itu kaget.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Sagara menatap Zia yang terus menunduk.
“S-saya mencoba mengeringkan pakaian Anda, Tuan,” ucap Zia masih dengan suara bergetar.
“Kau ini gila atau apa? Pakaian mahal seperti ini mau dikeringkan dengan selembar tisu? Cih!”
“M-maaf, Tuan.”
Zia terus saja menunduk —reaksi dari rasa takut dan malu sebab suasana kafe yang mulai terdengar gaduh dengan beberapa pengunjung yang kasak kusuk memperhatikan sebuah ‘drama’ yang terjadi antara dirinya dengan si pengusaha.
“Ada apa ini, Zia?” tanya seseorang yang datang di tengah keributan.
Lelaki paruh baya dengan penampilannya yang mirip seperti Sagara —kemeja dipadu dasi serta sebuah jas melengkapi penampilannya— datang dari arah belakang Zia dan kini berdiri di sebelah anak buahnya itu.
“P-pak Deri, i-itu Pak, saya enggak sengaja menjatuhkan gelas-gelas ini dan mengenai T-Tuan Sagara,” ujar Zia dengan suara bergetar ketakutan.
Lelaki paruh baya itu langsung mengerti. Sempat terlihat kedua matanya yang membola, sedetik kemudian ia mencoba bersikap tenang dan biasa.
“Maafkan karyawan kami, Tuan Sagara. Kami akan membantu Anda dengan me-laundry pakaian Anda yang kotor sebagai kompensasi kesalahan yang sudah karyawan kami lakukan.”
“Tidak perlu. Mood saya sudah buruk sebelum karyawan kamu buat kesalahan. Sekarang mood saya semakin rusak karenanya.”
Ya, Sagara yang rencananya sore itu hendak melakukan sebuah proyek akuisisi perusahaan dengan seorang rekan bisnis, seketika marah dan kesal setelah mendengar berita yang asisten pribadi sekaligus pengawal setianya sampaikan.
Rencana proyek akuisisi itu gagal sebab alasan yang belum Sagara ketahui alasannya. Kini kekesalan pengusaha itu semakin bertumpuk oleh kecerobohan seorang pelayan yang sudah membuat kemeja mahalnya terkena tumpahan jus.
“Sekali lagi maafkan kami, Tuan. Jadi, apa kiranya yang bisa kami lakukan sebagai permintaan maaf kami kepada Anda?”
Sang manajer kafe tentu akan berbuat apapun demi kata maaf yang diberikan oleh salah satu pelanggan setianya itu, termasuk jika harus memecat Zia saat itu juga meski ia tidak akan tega melakukannya.
Sagara diam sebentar, lalu ia pun menjawab tawaran manajer kafe tersebut.
“Berikan saya minuman terbaik di tempat ini!”
Sang manajer tahu jika minuman terbaik yang Sagara maksud adalah minuman beralkohol untuk lelaki itu nikmati sampai mabuk.
“Gratis!” Sagara menekankan.
“Baik, Tuan. Segera kami siapkan.”
Saat sang manajer akan berbalik bersama Zia, lelaki bernama Sagara itu kembali bicara.
“Dan pelayan itu yang harus menyiapkan dan membawakannya untuk saya!” tunjuk pria itu lagi menatap tajam Zia yang seketika mengkerut demi melihat kemarahan yang Sagara tampakkan.
“Saya mengerti, Tuan,” sahut manajer tersebut.
Sagara lalu mengusir dua orang itu dengan mengibaskan tangan. Ia sendiri kembali duduk, lalu melihat hasil ‘karya’ si pelayan di bajunya.
“Shit!” umpat Sagara saat melihat kemeja putihnya yang kotor.
“Dasar pelayan ceroboh!”
Rasa kesal itu masih bergelayut di hati Sagara, dan hal itu tak lepas dari sepasang mata sang pengawal pribadi, yang sejak tadi hanya diam dan berusaha menenangkan tuannya agar keributan yang terjadi tidak bertambah parah. Sebab jujur saja melihat ekspresi dan ketakutan yang tampak pada gesture tubuh Zia, sang pengawal merasa kasihan dan sedikit iba.
Dia adalah Ardan, seorang asisten pribadi yang memenuhi segala urusan keperluan Sagara, termasuk urusan pekerjaan di kantor atau di rumah.
***
Sagara sudah mulai mabuk setelah dua botol minuman yang pihak kafe sediakan untuknya habis dalam waktu sekejap. Namun, ia masih bisa menguasai diri ketika memutuskan pulang meninggalkan kafe.
Saat Sagara hendak masuk ke dalam mobil, bertepatan dengan munculnya Zia dari arah pintu belakang kafe, yang sepertinya akan pulang ke rumahnya.
Sagara yang masih setengah sadar, rupanya masih menyimpan rasa kesal dan emosi pada Zia. Alhasil, ia pun meminta pengawalnya untuk ‘menculik’ gadis itu untuk ikut bersamanya.
Dua orang pengawal yang Sagara perintahkan ‘menculik’ Zia lalu menghampiri gadis itu. Sedikit perlawanan, tetapi akhirnya Zia bisa dibawa masuk ke dalam mobil yang sama di mana Sagara sudah ada di dalamnya.
“Ada apa ini, Tuan?” tanya Zia saat melihat sosok Sagara ada di depannya.
Kembali rasa cemas dan takut menghampiri perasaan gadis itu. Mengapa ia harus ikut bersama Sagara? Apakah kesalahannya tadi belum termaafkan olehnya?
Jawaban atas pertanyaan Zia terbayar saat ia dibawa masuk ke dalam kamar Sagara di rumahnya yang besar dan megah. Ia yang belum tahu maksud dari lelaki itu membawanya ke dalam mobil, sedikit demi sedikit paham apa yang tengah menimpanya.
Sagara yang sudah dalam keadaan mabuk langsung menyergapnya setelah seorang pengawal bertubuh besar membawa dan memaksanya masuk ke dalam sebuah kamar yang besar nan luas.
“Tuan, apa yang Anda lakukan?” Zia tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya melakukan aksi pemberontakan semampunya dengan menahan serangan serta sergapan Sagara ketika lelaki itu mendorong dengan tenaganya yang sangat kuat.
Sagara sama sekali tidak merespon ucapan Zia, ia terus berusaha mendekap gadis itu ke dalam pelukannya supaya diam.
“Tidak! Tolong lepaskan saya, Tuan!” pinta Zia dengan segala daya dan upaya yang ia miliki.
“Hei, Wanita! Kau itu sudah membuat hariku bertambah buruk tahu!” hardik Sagara akhirnya setelah tidak juga membuat Zia diam.
“Maafkan saya, Tuan. Maaf karena kesalahan saya membuat Anda kesal dan marah. Tapi, tolong lepaskan saya sekarang. Saya akan melakukan apapun supaya kesalahan saya diampuni.”
Zia masih berusaha bicara dan memohon di tengah aksi Sagara yang kini sudah membuatnya terjatuh ke atas ranjang. Serangan itu tidak juga berhenti, bahkan Sagara berhasil membuat pakaian atas Zia robek karena ia tarik paksa. Hingga akhirnya lelaki itu berhasil menempelkan bibirnya di atas bibir sang gadis, lalu memagutnya kasar setelah juga meninggalkan jejak di tubuh gadis itu yang menyisakan warna kemerahan di beberapa titik.
Zia jelas melawan seiring air mata yang mulai menggenang. Ia takut memikirkan akan aksi Sagara selanjutnya.
Beberapa waktu berlalu dengan Zia yang terus melawan dan mencoba mengelak demi menghindari serangan Sagara, membuat tenaganya pun terkuras habis.
Satu titik di mana waktu seolah berputar menurut gadis itu, adalah saat Sagara berhasil menarik lepas pakaian atasnya. Air mata itu akhirnya mengalir juga di kedua pipinya.
***
Di sebuah gang kecil dengan beberapa bangunan tinggi menjulang di sekitarnya, tampak Zia berjalan dengan langkah terseok-seok. Wajahnya sembab setelah menangis bersamaan dengan peluh membanjiri seluruh wajah. Bayangan akan kelakuan Sagara terhadapnya yang baru terjadi, menyisakan luka batin dan fisik pada raganya.
Pada akhirnya ia bersyukur karena bisa keluar dari rumah Sagara. Rumah megah milik pengusaha yang terkenal dengan sikap sadis dalam menghadapi musuh-musuh bisnisnya, adalah tempat yang sama sekali tidak pernah Zia pikirkan jika ia akan berada di dalamnya.
Ia masih ingat, beberapa waktu lalu usahanya yang ingin keluar dari bangunan mewah tersebut sempat terhenti ketika dua orang penjaga mencegahnya pergi.
“Anda mau kemana, Nona?” tanya salah seorang penjaga kepadanya.
Meski jiwanya masih terguncang dengan tubuh gemetar ketakutan sebab baru bisa melewati hal terburuk dalam hidupnya, Zia mencoba bersikap tenang ketika akan menjawab pertanyaan sang penjaga.
“Tuan Sagara sudah tertidur dan saya sudah diminta untuk pergi dari sini, Tuan!”
Penjaga itu terlihat sedikit ragu, tetapi tak ada sosok Ardan yang biasanya akan berwenang terhadap siapa pun orang yang masuk dan keluar dari rumah besar tersebut, yang akhirnya membuat kedua penjaga itu membiarkan Zia pergi.
“Terima kasih, Tuan!” ucap Zia.
Gadis itu lalu melanjutkan langkahnya untuk segera keluar area perumahan di mana Sagara tinggal, dan mencari tumpangan menuju ke rumah.
Beberapa saat kemudian, Zia sudah berada di depan kontrakannya yang mungil dan sederhana, setelah sebelumnya ojek motor yang ia dapatkan di jalan besar menurunkannya di gang kecil menuju rumah.
Zia yang tengah mencoba mencari kunci rumah dalam tas selempang yang berfungsi sebagai tas kerja, tiba-tiba terperanjat kaget saat kunci yang berhasil ia ambil terjatuh ke lantai.
Tubuh Zia yang masih gemetaran meski ia sudah berhasil keluar dari kediaman Sagara, sepertinya belum membuat fokusnya kembali. Pasti ia masih trauma demi mengingat itu semua.
“Ya Tuhan, kuatkanlah hamba!” gumam Zia yang masih belum bisa membuka pintu rumahnya.
Di tengah usahanya yang belum berhasil memutar kunci, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Sosok Lena, sang kawan, muncul dengan wajah heran menatap Zia.
“Zia! Ada apa dengan kamu?” tanya Lena khawatir.
“Ah, ehm, a-aku baik-baik aja.” Dengan suara terbata, Zia berbohong.
Perlahan Zia masuk ke dalam rumah. Sedikit kesulitan melangkah, membuat Lena segera menangkapnya saat Zia hampir terjatuh.
“Zi, kamu enggak baik-baik aja. Ada apa ini?”
Siapa pun yang melihat kondisi Zia —sedikit berantakan dengan wajah sembab dan keringat yang membuat penampilannya kacau, pasti khawatir. Tak terkecuali Lena yang sudah tinggal bersamanya di rumah kontrakan sederhana itu, tentu merasa cemas akan kondisi sang kawan.
“Sungguh, aku baik-baik aja. Aku sedikit kecapean setelah melayani sebuah acara pesta dadakan di kafe tadi.” Lagi, Zia berbohong.
Lena tak serta merta percaya, tetapi melihat kesungguhan jawaban yang Zia ucapkan, membuat perempuan itu tak lagi bertanya.
“Ya udah kalo gitu. Tapi, apa ada yang bisa aku bantu untuk membuatmu sedikit lebih baik?” tanya Lena menawarkan diri.
“Ehm, tidak. Terima kasih. Aku permisi ke kamar mandi dulu,” ucap Zia yang sudah ingin buru-buru membersihkan diri.
Namun, saat ia hendak melanjutkan langkah, Lena kembali memanggil.
“Ngomong-ngomong, Zi, bagaimana uang kuliah yang harus kamu bayar segera, apakah kamu sudah mendapatkan sisa kekurangannya?”
Zia urung masuk ke kamar mandi, ia memilih berbalik demi menjawab pertanyaan Lena.
“Sudah. Uang yang aku dapatkan dari menari di kelab sudah bisa menutupi kekurangan biaya kuliahku.”
“ Ah, syukurlah.” Lena tampak lega. “Maafkan aku karena tidak bisa membantumu. Sebab kamu tahu, aku sendiri ...!”
“Sudahlah, Len, kamu enggak perlu merasa tidak enak. Kamu pikirkan saja keluargamu, aku tahu mereka lebih membutuhkan kamu dibanding aku. Justru aku ingin berterima kasih karena kamu sudah memberiku pekerjaan tambahan sebagai penari,” ujar Zia tersenyum.
Tampak wajah Lena semakin lega, terlihat dari ekspresinya yang sedikit ceria.
“Ya sudah, aku mau bersih-bersih dulu, yah?” sahut Zia.
“Ah, eh, iya. Ya udah sana!”
Zia kemudian melanjutkan langkah, berusaha bergerak cepat menuju kamar mandi.
Ya, selain bekerja sebagai seorang pelayan di kafe, sudah sejak sepekan kemarin Zia menjadi penari tiang di salah satu kelab malam ibukota. Ia mendapat tawaran dari Lena yang sudah lebih dulu menari di sana.
“Lumayan, Zi, bisa buat tambah-tambah bayar kuliah dan hidup sehari-hari. Lagipula Cuma dua hari dalam sepekan, weekend aja. Aku yakin kamu akan dengan mudah dapat uang banyak, secara kamu emang pintar nari,” ujar Lena waktu itu.
“Tapi, aku enggak berani.”
“Enggak berani kenapa? Takut ada yang kenal sama kamu?” kekeh Lena seperti mengejek.
“Kamu tahu aku enggak punya banyak teman, mana mungkin aku memikirkan hal itu. Aku Cuma takut kalau ada lelaki iseng yang megang-megang tubuh aku pas lagi nari!”
“Peraturan kelab-nya enggak izinin begitu. Aku udah ngalamin sendiri, Zi. Kalau pun ada yang mau ‘make’ para penari yang disuka, mereka akan nemuin kita di belakang stage bukan pas lagi manggung.”
Pada akhirnya Zia pun menerima tawaran Lena. Dua kali dalam sepekan di waktu weekend, Zia akan menunjukkan kepandaiannya menari.
“Ish!”
Kembali pada Zia yang tiba-tiba mendesis menahan perih. Di depan kaca kamar mandi saat akan melepas seluruh pakaian yang sudah lembab oleh keringat, ia melihat pantulan tubuhnya.
Perlahan Zia menyentuh dadanya yang polos. Banyak tanda kemerahan bekas kecupan juga gigitan kecil di sana. Hal itu langsung membuat air mata kembali jatuh ke pipinya.
“Lelaki brengsek!” gumam Zia sembari memukul cermin di depannya, yang langsung pecah berkeping-keping. Ia tentu tidak berani teriak sebab tak ingin kawannya —Lena, mendengar.
Namun, bunyi pecahan kaca yang terjatuh, ternyata membuat Lena menggedor pintu kamar mandi.
“Zi! Zia! Ada apa? Kenapa aku mendengar suara pecahan kaca di dalam?” Terdengar gadis itu begitu khawatir. “Sungguh kamu baik-baik saja?”
“Iya, Lena. Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak sengaja menyenggol cerminnya sampai jatuh!” teriak Zia membalas.
Lena tahu Zia berbohong, tetapi ada apa sebenarnya dengan kawannya itu. Jujur saja ia tidak bisa tenang. Ia merasakan bahwa sesuatu yang tidak baik tengah Zia alami.
Lena memang tidak tahu bila saat ini Zia, teman satu kontrakannya yang sudah tinggal bersamanya lebih dari tiga tahun itu, tengah trauma akan kejadian yang baru saja menimpanya. Dirinya kembali teringat akan setiap sentuhan kasar yang Sagara lalukan terhadapnya tadi di rumahnya.
Masih tergambar jelas di pelupuk mata Zia seringai menakutkan di wajah Sagara yang tampan, yang sangat melukai hati dan perasaannya.
Zia masih ingat dirinya ketakutan saat berada di dalam kamar lelaki itu.
“Tolong!”
“Tolong!”
Hanya kata itu yang bisa ia teriakan. Namun, tak ada siapa pun yang membantu, membuatnya benar-benar sendirian.
Mengingat itu semua membuat tubuh Zia seketika jatuh ke lantai kamar mandi. Di bawah kucuran air keran yang mengalir deras, Zia berusaha menghilangkan setiap sentuhan lelaki itu di tubuhnya. Saat hidung dan bibir Sagara menempel serta mencumbu leher hingga payudaranya, membuat gadis itu berharap air itu bisa membersihkan tubuhnya kembali.
“Tidak! Ini sangat menjijikan!” lirih Zia berkata sembari terus menggosokkan sebuah sponge di seluruh permukaan kulit.
Sudah tidak terhitung berapa banyak air mata yang keluar seiring kucuran air yang membasahi seluruh tubuhnya.
Zia yang tadi sudah pasrah karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, bersyukur karena Tuhan masih menyelamatkannya dari laki-laki ‘jahat’ seperti Sagara.
Aksi di mana mahkota miliknya yang hampir direnggut paksa, Tuhan selamatkan dengan rubuhnya Sagara karena efek alkohol yang memenuhi tubuh dan menghilangkan kesadaran lelaki itu. Ia bersyukur karena Tuhan masih melindunginya dari ‘hukuman’ yang Sagara berikan hanya karena masalah sepele —menurutnya.
“Lelaki brengsek! Apakah ia harus melakukan itu hanya karena tumpahan jus?” gumam Zia yang masih belum mengerti.
Ia terus menangis di bawah kucuran air keran hingga kulitnya terasa keriput sebab terlalu lama terkena air.
Setelah Zia merasa kondisinya sudah lebih baik, ia pun segera menghentikan aktifitasnya. Ia melangkah keluar dengan handuk membelit tubuh. Namun, ia cukup terkejut ketika mendapati Lena yang ternyata masih menunggunya di depan pintu.
“Sungguh aku baik-baik saja, Len!”
Keesokan pagi, Sagara yang masih tertelungkup —posisi yang sama seperti saat Zia meninggalkan kamarnya, perlahan membuka kedua mata sebelum memutuskan untuk beranjak.
Saat sudah duduk, ia merasakan kepalanya pusing dan berat, bahkan bau alkohol tercium ketika menguap. Lantas, ia pun mencoba mengingat atas apa yang terjadi dengannya.
Tampak kamar yang berantakan ketika ia mengedarkan pandangan ke seluruh area. Ada pecahan beling dan bingkai kaca berserakan di atas lantai.
“Sial!” umpatnya sembari bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang masih ada di tubuh.
Sagara bisa langsung mengingat peristiwa yang membuatnya berada dalam pengaruh alkohol sehingga terkapar di atas kasurnya sampai pagi. Ia pun kemudian memanggil Ardan —sang pengawal setia, untuk ia ajukan pertanyaan.
Ketika lelaki bertubuh tegap itu muncul, Sagara yang hendak ke kamar mandi, urung melangkah dan memilih duduk di sofa sembari menenggak air mineral dalam botol.
“Kemana gadis itu?” tanya Sagara to the point.
Ardan yang berdiri tepat di depan sang tuan, tampak menunduk sebelum bicara.
“Maaf, Tuan, menurut informasi yang saya dapatkan dari pengawal depan, pelayan kafe itu sudah pergi sejak semalam.”
“Apa? Bagaimana bisa!” seru Sagara terkejut.
“Menurut mereka Anda sudah menyuruh pergi.”
“Para pengawal bodoh! Bagaimana mereka bisa percaya dengan ucapan perempuan itu?” teriaknya kesal.
Seketika Ardan merasa bersalah kepada Sagara karena tidak ada saat gadis itu pergi. Setelah berhasil membawa paksa gadis itu ke kamar sang tuan, pengawal itu memang langsung pergi karena harus mengurus satu pekerjaan. Tapi, ia sama sekali tidak menduga jika Zia bisa dengan mudah bebas melewati pengawal yang banyak berjaga di setiap sudut rumah.
Kembali umpatan demi umpatan Sagara lontarkan tanpa rem. Beberapa pengawal dan penjaga yang berjaga semalam, akhirnya harus menerima hukuman dari Sagara melalui tangan Ardan. Hal itu ia lakukan saat sarapan pagi di ruang makan rumahnya.
Namun, sejenak kemudian Sagara seperti tersadar, untuk apa ia memikirkan perempuan itu?
“Aku yang bodoh. Kenapa aku malah kepikiran pelayan itu!” gumamnya kesal.
Seolah ingin melupakan apa yang terjadi semalam, Sagara pun meminta agar kamarnya segera dibersihkan, rapi seperti semula.
Tanpa bertanya lebih jauh, Ardan langsung memerintahkan dua orang pelayan merapihkan dan membereskan kamar sang tuan yang berantakan sisa semalam.
Sagara yang sudah bersiap pergi ke kantor, terlihat tidak baik. Mood-nya yang hancur sejak kemarin, sepertinya belum terobati hingga sekarang. Bahkan, semakin kesal karena tiba-tiba ia terus teringat sosok Zia, si pelayan yang berhasil lolos dari kediamannya.
***
Di tempat lain, Lena yang sudah siap dengan sarapan paginya bersama Zia, tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi sang kawan yang mendadak demam.
“Ya Tuhan, Zia. Badan kamu panas banget!” seru Lena khawatir.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Zia ketika Lena membangunkannya. Gadis itu hanya melenguh dengan suara lemah dan lirih.
“Zia, kenapa tiba-tiba kamu sakit kaya gini,” gumam Lena mulai mencari handuk kecil dan baskom yang kemudian ia isi dengan air hangat.
Lena akan gunakan handuk itu untuk mengompres kening Zia supaya suhu panasnya turun.
“Ya Tuhan, Zi. Ada apa sebenarnya dengan kamu?” gumam Lena pelan. Ia kembali teringat dengan Zia yang semalam pulang dalam kondisi yang menurutnya sudah tidak baik.
Di setiap uluran dan aksi kedua tangan Lena lakukan, perempuan itu terus membayangkan kondisi Zia yang saat ini terbaring lemah.
“Selama ini meski hidupmu penuh dengan penderitaan, jarang sekali kamu sakit seperti ini.” Lena yang sudah mengenal lama Zia pastinya tahu bagaimana keadaan gadis itu sebenarnya.
“Ah, sakit sekali!” Tiba-tiba Zia terbangun.
“Zia, apa yang kamu rasain?“
Perlahan Zia membuka mata. Ia melihat sosok Lena yang duduk di samping kasurnya.
“Kepala aku pusing, Len.” Kedua mata Zia kembali terpejam. Ia seperti tengah merasakan kesakitan yang luar biasa.
“Kita ke dokter aja yah, Zi? Aku khawatir lihat kamu panas kaya gini.”
Zia tampak menggeleng, “Enggak, Len. Aku enggak mau ke dokter.”
“Kenapa?”
Tidak menjawab, Zia hanya kembali menggeleng.
“Tapi, badan kamu panas banget ini.”
“Aku minum obat penurun panas dan pereda nyeri aja, kamu punya ‘kan?”
“Ada.”
Lena segera beranjak. Ia lalu mengambil wadah obat yang ada di atas lemari pakaiannya.
“Tapi, kamu harus makan dulu, Zi,” ujar Lena setelah kembali dari kamarnya.
Zia hanya sanggup mengangguk. Tak kuat bangun, ia dibantu Lena menaikkan bantalan kepalanya sedikit lebih tinggi.
“Sarapan bubur, yah? Kebetulan tadi pas banget ada yang lewat depan kontrakan,” ucap Lena dengan sebuah mangkok di tangannya.
“Iya!” jawab Zia mengangguk. “Aku bisa sendiri, Len. Makasih!” lanjut Zia ketika Lena hendak menyuapinya.
Akhirnya Lena pun memberikan mangkok berisi bubur itu kepada Zia.
“Ya udah, kamu habiskan buburnya dulu, setelah itu diminum obatnya. Aku mau siap-siap!”
“Masih mau nyamperin lelaki gila itu?” tanya Zia tiba-tiba. Dalam keadaan sakit, Zia sepertinya masih tak rela dengan ‘aktifitas terlarang’ yang kawannya itu akan lakukan.
“Orang gila itu yang udah kasih aku duit bulanan, Zi,” sahut Lena tersenyum pilu.
Sama-sama membayangkan aktifitas Lena selain bekerja di kafe dan kelab malam, membuat suasana di antara dua perempuan itu mendadak hening. Tak ada yang bersuara sebab Zia dan Lena tenggelam dalam pikiran masing-masing.
***
“Kenapa aku harus memikirkan perempuan itu?” gumam Sagara kesal saat dirinya sudah berada di dalam sebuah kelab malam, selepas ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya yang sama sekali tidak bisa fokus ia kerjakan.
Sosok pelayan yang tak lain adalah Zia, sudah membuat harinya terganggu. Aroma tubuh gadis itu seperti memenuhi pikirannya. Bayangan akan tubuh yang semalam ia cumbu masih jelas tergambar di benaknya, membuat Sagara frustrasi dibuatnya.
Akhirnya sebuah kelab malam di mana transaksi seperti narkoba, seks dan segala kesenangan dunia lainnya yang sebagian orang menilai negatif, adalah tujuan pengusaha itu. Sebuah kelab malam langganan Sagara yang juga banyak didatangi kalangan kelas atas atau jet set demi mencari kesenangan, ketenangan, atau kepenatan dunia.
Namun, meski fungsi kelab malam tersebut terkesan hina, menjijikkan, dan kotor, tetapi kelab malam itu menjadi tempat paling dicari bagi banyak pria yang mengincar lembah basah wanita dan begitu pun sebaliknya.
Uniknya, bagi seluruh karyawan —baik dari pelayan, bartender, juga para penari yang tampil di kelab, mereka diwajibkan untuk menandatangani sebuah surat perjanjian rahasia, di mana tak boleh ada satu orang pun yang membocorkan hal-hal yang terjadi di dalam kelab malam tersebut ke luar.
Hal lain yang membuat kelab malam itu ‘terhormat’, dan Sagara pun ketahui, yakni bolehnya para penari tiang menolak untuk tidak ‘dibooking’ oleh pengunjung yang ingin melakukan one night stand —terkecuali penari striptis yang selalu membuat nafsu serta syahwat para lelaki naik karena aksi dan penampilannya, yang tak pernah mau menolak untuk dibawa mencari kamar.
Sagara yang masih menunggu minuman yang bartender siapkan, tiba-tiba didatangi seorang wanita berpakaian sangat seksi —yang menampilkan lekukan tubuh serta belahan dadanya— datang dan membuat mood lelaki itu bertambah buruk.
“Apakah Anda butuh teman, Tuan?”
Sagara diam saja tidak menjawab. Ia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran wanita itu yang perlahan mulai bersikap agresif padanya. Tampak ia bergerak semakin genit dengan sengaja menggesek-gesekkan buah dadanya yang hampir tumpah dari bra-nya ke lengan Sagara.
Namun, saat wanita itu baru menjulurkan tangan hendak menyentuh wajah Sagara, lelaki itu langsung sigap bergerak.
“Kalau Anda mau, ah ...!” Wanita itu memekik kaget.
“Jangan macam-macam!” ancam Sagara. “Pergi dari hadapanku sekarang!” perintah Sagara dengan wajah emosi.
Wanita itu jelas ketakutan. Sorot mata Sagara terlihat menakutkan dengan kedua mata yang memerah karena marah. Lalu, ia pun memutuskan untuk pergi dari lelaki itu secepatnya.
“Ini minuman Anda, Tuan!” ucap seorang bartender sembari meletakkan gelas berisi minuman di depan Sagara.
“Makasih, Fredy!” jawab Sagara masih terlihat kesal.
“Harap maklum, Tuan, PSK baru,” ucap sang bartender merujuk pada wanita yang tadi sempat mengganggu Sagara.
Tak ada respon dari Sagara, membuat sang bartender mencoba mengalihkan suasana sang pengusaha yang sepertinya sedang tidak baik.
“Malam ini Anda datang sendirian, Tuan? Tidak bersama Tuan Marko?” tanya sang bartender.
“Hem, kemana lagi perginya Marko kalau bukan kamar hotel atau apartemen. Cuma dua tempat itu ‘kan yang akan menjadi ujung terakhir para lelaki brengsek seperti dirinya bila sudah bersama dengan wanita?” kekeh Sagara sembari menenggak minuman ke dalam kerongkongannya.
Ya, Marko memang sahabatnya yang sangat suka perempuan. Meski begitu, lelaki itu sangat pemilih saat bermain dengan wanita-wanita penjaja lembah basah tersebut.
“Ngomong-ngomong, aku dengar ada penari baru di sini, apakah betul?” tanya Sagara mencoba melupakan pembahasan tentang Marko dengan memilih menyaksikan empat orang penari tiang yang menjadi sajian utama di kelab malam tersebut setiap weekend.
“Ya, itu memang benar. Tapi, dari mana Anda tahu, Tuan Sagara? Seingat saya sudah lama Anda tidak berkunjung ke sini.”
“Hem, ada saja selentingan kabar yang aku dengar,” sahut Sagara cuek.
Fredy terlihat mengangguk.
“Yang mana orangnya? Sepertinya aku tidak melihat sosok penari baru itu di sana?” tanya Sagara sembari menunjuk sosok para penari tiang yang sedang beratraksi di panggung.
Meski para penari memakai topeng di setiap aksinya, tetapi Sagara bisa mengenali para wanita seksi tersebut. Menurutnya dari keempat penari yang tampil, semua adalah para penari yang sudah biasa beraksi.
“Orangnya tidak tampil malam ini, Tuan.”
“Kenapa?”
“Menurut kabar yang saya dengar, katanya sedang sakit.”
“Ehm, kapan biasanya jadwal penari itu tampil? Apakah besok?”
“Sama seperti yang lainnya, Tuan, hanya setiap weekend. Tapi, saya tidak tahu apakah besok ia akan datang atau tidak,” jelas Fredy memberi tahu.
“Mungkin kamu bisa hubungi Ardan kalau penari itu datang,” ucap Sagara sembari melirik sang pengawal yang duduk di sampingnya.
“Tapi ...?”