***
Bisnis merupakan bagian paling penting bagi seorang CEO betul, bukan? Bagi mereka waktu adalah uang. Mereka melakukan apa saja demi meraih banyak keuntungan. Salah satu CEO gigih yang bersemangat mencari pundi-pundi rupiah itu telah berdiri di hadapan pekerja teh di daratan Sumatra, mengamati ketekunan mereka.
"Pak Alaric, boleh aku katakan sesuatu?"
Seorang pria tua renta berujar sopan kepada CEO yang bernama Alaric itu. Betapa beruntungnya pria itu bisa bertatapan muka dengan Alaric, pemilik perkebunan teh nan luas, nyaris menyamai setengah kota kecil. Perkebunan teh itu sudah menghidupi banyak kepala keluarga di desa terpencil Sumatra.
"Apa yang ingin kaubicarakan? Katakan segera lalu kembali bekerja. Aku menggaji dirimu bukan untuk bermalas-malasan."
Aura kesombongan tak lepas dari sosok Alaric. Bapak tua yang berbicara merasa ngeri mendengar nada ketus atasannya itu. Dia memandangi gadis yang tak jauh dari mereka. Dari sekian banyak orang, hanya ada hitungan perempuan muda yang mau bekerja di bawah sinar matahari. Salah satunya merupakan cewek muda yang tengah dipandangi sang pria tua.
"Cucuku Ashila. Bisakah Bapak Alaric berikan dia posisi pekerjaan di bagian kantor? Dia terlalu muda untuk bekerja keras di lapangan."
Bapak tua menaruh harapan besar pada kemurahan hati Alaric. Dia ingin cucunya merasa lebih nyaman, menikmati pekerjaan sesuai usianya. Bagi pria tua itu, kegiatan memetik daun teh hanyalah diperuntukkan khusus lansia atau pasutri, bukannya perawan cantik yang jadi primadona desa.
Alaric menengok ke arah Ashila. Gadis itu tengah tersenyum. Sulit sekali menemukan pekerja seperti itu, terlihat gembira saat memetik daun teh. Dia adalah gadis ceria asal desa. Senyumnya begitu merekah sampai membuat pria kaya raya itu membuka kacamata yang melindungi matanya. Ashila bak bidadari namun Alaric tidak akan mengakui itu di hadapan kakek tua.
Selain memesona, Alaric merasa wajah gadis desa itu mengingatkannya akan sosok wanita yang pernah mengisi hari-harinya. Pria itu seakan menemukan sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
"Sekarang pergilah bekerja. Aku akan pertimbangkan permintaanmu."
Setelah sang atasan katakan itu, bapak tua mengucapkan banyak terima kasih. Dia bergegas kembali bekerja. Alaric melangkah angkuh meninggalkan perkebunan teh. Dia mengunjungi kantor utama perkebunan teh itu.
Alaric memerintahkan anak buahnya bernama Farhan untuk mencari tahu soal Ashila. Bal seorang intel professional, hanya butuh beberapa jam saja bagi Farhan untuk membawakan berkas mengenai gadis desa beserta informasi penting lain ia dapatkan dari warga sekitar.
"Ashila tinggal bersama kakeknya. Dia gadis usia 23 tahun. Dia lulusan SMA. Beberapa warga bilang dia berprestasi. Hanya saja, kakeknya tidak sanggup membiayai pendidikan Ashila."
Alaric hanya mengangguk seiring informasi tentang Ashila menggema di telinganya. Dia membaca biodata gadis desa dengan seksama. Wajah imut gadis tersebut sangat memukau. Alaric tidak bisa berkedip memandanginya. Ingatannya tentang masa lalu seketika terputar, saat wanita bertubuh jangkung dengan rambut bergelombang membuatkan pria itu kopi susu hangat.
“Kopi hitamnya sudah siap disedu, Mas”
Begitu kata wanita itu. Suaranya lembut seperti alunan bunyi seruling nan merdu. Wajah putihnya bersinar seakan muka halus itu berhasil menyerap setengah dari sinar rembulan. Semua pria tak akan menolak mempersunting wanita sepertinya. Paras dan tindakan sama-sama bagusnya.
Farhan melanjutkan, "Kakek Ashila punya banyak hutang. Tante Ashila banyak membebani orang tuanya sehingga gadis polos itu harus bekerja keras demi melunasi uang kakeknya."
Farhan menunjukkan simpati. Bagaimana pun juga Ashila terlalu cantik untuk sekadar kerja di kebun teh. Gadis itu semestinya bekerja sebagai resepsionis hotel atau teller bank lokal. Melihat gadis itu di tengah perkebunan teh membuat ajudan Alaric membayangkan Maudy Ayunda tengah bekerja kebun. Tentu itu membuat setiap orang tidak tega.
“Apa Pak Alaric dengarkan penjelasan saya?”
Alaric tengah mematung mengamati foto Ashila. Dia terlalu serius sampai Farhan berpikir sedang bicara dengan mannequin, lihatlah dugaan sang suruhan benar adanya. Pria itu harus mengulang perkataannya agar sang CEO bisa mencermati informasi yang disampaikan olehnya.
"Lunasi hutang kakeknya. Setelah itu bawa Ashila kepadaku."
Alaric memerintah sembari memegang dagunya. Sekali lagi, wajah Ashila tidak bisa lepas dari pikirannya. Ada bayangan gadis yang sama terukir di kepalanya. Terbesit di hati CEO tampan itu untuk dapatkan gadis desa.
***
Di tempat lain, Ashila sudah selesai memetik daun teh. Dia mencapai targetnya hari ini. Dia merasa cukup lega karena berhasil melewati tantangan. Gadis itu pulang sembari menampilkan semringah seperti biasanya. Di rumah, sang kakek tengah tertidur. Gadis desa nan cantik itu membuatkan makan malam. Dia yakin kakeknya kelaparan sampai tak sadar tertidur. Pria tua tersebut selalu melakukan hal yang sama berkali-kali. Entah apa yang akan terjadi kalau sang cucu tak ada mengurusinya.
Ashila membuat perkedel jagung serta memasak ikan mas kesukaan kakeknya. Waktu sang kakek bangun, gadis itu memperhatikan ada seberkas kebahagiaan di wajah lelaki tua itu. Ashila menanyakan apa yang tengah membuat kakeknya tampak sangat bahagia.
"Kamu tidak akan bekerja keras lagi. Kamu akan segera dapatkan posisi di kantor. Kakek sudah bicara dengan Pak Alaric mengenai hal itu."
Ashila termangu. Apakah benar dia akan dapatkan posisi bagus? Setahu gadis itu hanya orang-orang tertentu yang bisa dapatkan posisi bagus. Mereka harus dekat dengan kepala desa agar bisa capai kedudukan di bagian kantor. Dunia pekerjaan selalu begitu, lebih mengutamakan orang yang mereka kenal. Mengandalkan kemampuan saja tidak cukup.
"Ashila tidak terlalu berharap, Kek. Ashila sudah bersyukur bisa kerja di bagian lapangan. Lagipula Ashila masih sanggup mencapai target lapangan."
Sudah kesenangan terbesar Ashila bisa tinggal bersama sang kakek. Kendati hanya di sebuah desa terpencil, di tetap merasa begitu bahagia. Gadis itu sama sekali tidak berpikir menikmati kehidupan di kota besar. Dia tumbuh di desa dan akan selalu nyaman berada di sana.
"Kamu terlalu cantik untuk jadi pekerja kasar, Nak. Kamu layak dapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Sang kakek selalu membanggakan betapa cantik cucunya. Sayang sekali, orang tua Ashila belum sempat melihat anak mereka tumbuh menjadi gadis dewasa, menjadi kembang desa yang dipuja semua pria.
Ashila punya bibir lembut berwarna merah jambu, bibirnya alami tanpa gincu. Rambutnya bergelombang begitu indah dipandang mata, kulitnya sawo matang, bersih dan berwarna kekuningan saat sinar mentari menerpa wajah itu.
"Kecantikan wajah akan pudar, Kek. Lebih baik memelihara kecantikan hati yang kekal wujudnya."
Ashila menyantap hidangan buatannya dengan perasaan tenang. Dia tidak mesti memikirkan dengan cara apa dia harus bayar hutang kakeknya bulan ini sebab hari ini dia berhasil capai target. Momen kakek dan cucu itu begitu meneduhkan. Mereka selalu mendukung dalam suka maupun duka yang menghampiri kehidupan mereka.
Ashila dan sang kakek telah selesai makan ketika Farhan datang dan memberitahu soal Alaric yang telah membayar hutang-hutang mereka. Farhan meminta Ashila ikut dengannya untuk bicara dengan tuan CEO. Tanpa menunggu lama, sang gadis mengikuti permintaan Farhan.
***
Ruang kerja Alaric dibuat mewah walaupun perusahaan milik pria itu berada di desa terpencil. Di ruangan itu ada foto anak gadis kecil berusia sekitar 3 tahunan. Ashila mengamati gambar itu dan baru menyadari bila CEO di hadapannya adalah seorang pria yang punya anak.
"Gadis yang cantik, bukan?"
Alaric memecah keheningan. Dia melihat Ashila yang sejak tadi menatap fokus gambar gadis kecil di dinding. Alaric ikut menyaksikan gambar perempuan imut yang menempel di tembok tersebut. Dia berdiri di belakang Ashila, membuat sang gadis gugup.
"Dia memang cantik, Pak. Ibunya pasti juga cantik."
Alaric mengernyit waktu mendengar kalimat Ashila seakan tidak mau kupingnya panas menyimak pujian mengenai wanita masa lalu Alaric. Seakan perempuan tersebut tidak sangat penting bagi Alaric atau mungkin kehadiran wanita itu terlalu penting sampai sulit dilupakan.
"Apa kau sudah tahu tujuanmu kubawa ke sini?"
Alaric mengalihkan topik. Dia tidak sabar memberitahu Ashila mengenai niatnya. Pria itu memperhatikan perasaan gugup yang ditampilkan oleh sang gadis. "Bapak sudah bayar hutang kakekku. Itu artinya kami berutang pada Pak Alaric. Apa yang harus kami lakukan agar bisa melunasi hutang kami? Apakah kontrak kerja kami diperpanjang?"
Alaric memberikan salinan surat perjanjian ke Ashila. Di dalam sana tertulis kalau Ashila mesti ikut Alaric ke Jakarta. Tugas Ashila adalah merawat gadis mungil Alaric. "Aku tetap ingin bekerja di desa. Apakah aku harus ikut dengan Bapak?"
Ashila hanya memiliki sang kakek. Dia tidak mungkin meninggalkan kakeknya sendirian di Sumatra. Alaric tak memaksa Ashila menandatangani surat perjanjian tersebut sekarang. Dia meminta Ashila membicarakannya dulu dengan sang kakek. Gadis desa sungguh dilema. Dia pamit pulang sembari membawa surat perjanjian dari Pak Alaric. Apa yang bakal dikatakan kakeknya.
***
Semua orang punya pilihan dalam hidupnya. Benar, bukan? Namun tampaknya kasus Ashila berbeda dari yang umum terjadi. Ashila merasa pilihan hidupnya sudah ditakdirkan. Alaric telah melunasi hutang kakeknya dan sebagai gantinya Ashila harus meninggalkan desa, menjadi penjaga anak di kota besar.
Ashila yang dulu riang kini berjalan lesu seakan tenaganya baru saja disedot monster menakutkan, mungkin monster berdarah dingin. Secara harfiah Alaric bukan orang menakutkan berdasarkan visual. Dia adalah pria tampan dengan tubuh tinggi tegap laksana model Eropa, matanya agak coklat kemerahan persis seperti pria blasteran.
"Posisi apa yang ditawarkan Pak Alaric?"
Kakek Ashila terlihat bersemangat, membuat sang gadis desa tidak mampu memberitahukan mengenai apa yang sudah Alaric inginkan padanya. Bohong pun bukanlah pilihan tepat bagi gadis itu. Selama ini, dia tak pernah berbicara bohong kepada kakeknya. Akhirnya dia mengatakan sebagian informasi kepada kakeknya.
"Dia memintaku kerja di Jakarta, Kek. Ashila tidak bisa pergi ke sana. Desa inilah dunia milik Ashila."
Sulit bagi Ashila meninggalkan desa tempat dia tumbuh dewasa. Di satu sisi, dia tak akan tega menjauh dari orang yang merawatnya sejak kecil, memberinya makanan dan kehidupan bahagia. Di sisi lainnya, dia mesti meninggalkan desa untuk lunasi hutang kakeknya.
"Itu sangat bagus, Nak. Segera tanda tangani kontraknya. Jangan tunggu lama-lama. Kesempatan tidak datang dua kali maka bila kesempatan itu datang segera gunakan kesempatan itu dengan baik."
Ashila belum bilang apa-apa soal jenis pekerjaannya di masa depan. Apakah kakeknya akan se-antusias ini kalau tahu dia bekerja sebagai penjaga balita? Sang kakek terlalu bahagia sehingga gadis itu tak sempat beritahu yang sebenarnya.
Ashila belum tanda tangani kontrak kerja. Dia masih bimbang. Dia pamit masuk ke kamar. Dia butuh waktu sendirian, merenungi apa yang akan dilakukannya di masa mendatang, atau sekadar membayangkan seperti apa kehidupan di kota. Semakin dipikirkan, semakin intuisi gadis itu memintanya pergi demi menebus hutang kakeknya. Lagipula ini penawaran yang cukup bagus, kerjaan barunya pun tak terlalu berat dikerjakan.
Malam hari, Ashila keluar rumah bertemu pujaan hati. Dia akan memberitahu soal kepergiannya dari desa. Keputusan gadis itu telah bulat. Dia akan menandatangani kontrak kerja dengan Alaric. Takdir membawanya ke sana dan dia tak bisa menolak semua itu.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut Ashila. Rambutnya tergerai, menari-nari di udara. Suhu udara dingin. Langit menggelap, hanya ada hitungan bintang yang menerangi hamparan bumi. Suara jangkrik bak alunan musik desa, menghiasi malam dengan desahan manjanya.
Ashila duduk di jembatan sendirian. Hanya ada pelita raksasa berukuran sepetiga meter yang membuat suasana malam jadi oranye. Pelita itu terbuat dari bambu kemudian bagian atasnya ditambahkan kain tebal. Bermodalkan minyak, pelita itu akan menyala sampai pagi, menerangi jalan warga setiap kali mau menyeberang.
"Maaf aku terlambat, Shil."
Seorang lelaki dengan senyum menawan duduk di samping Ashila. Dia memegang tangan gadis itu, seperti pasangan kekasih lainnya. Sang pria memandangi langit malam seolah ada gambaran kekasihnya di atas sana.
"Tidak apa-apa, Salim."
Ashila mendongak ke arah langit seperti yang lelaki bernama Salim lakukan. Setiap malam mereka bertemu, membicarakan hari-hari mereka yang sibuk bekerja. Kehidupan ekonomi membuat keduanya harus merelakan siang hari mereka dengan mencari nafkah. Mereka bukanlah orang kaya yang bisa dengan mudahnya habiskan uang berapa pun yang mereka inginkan. Meraih sesuatu, mereka harus banting tulang.
"Aku mau memberitahukan sesuatu, Salim. Beberapa hari ke depan aku tidak akan di desa ini lagi. Aku mau ke Jakarta."
Ashila mengumumkan. Ini berat bagi gadis itu. Dia dan Salim pacaran sudah tiga tahun lamanya. Mereka merencanakan pernikahan satu atau dua tahun ke depan. Tampaknya rencana itu tidak akan terwujud. Ada hal besar lebih penting yang harus dilakukan oleh sang gadis desa. Membuat kakeknya tenang tanpa ada kendala hutang.
"Apa maksudmu, Shil? Apa kamu bercanda? Aku sudah tabung uang untuk menikahi dirimu. Kumohon, jangan putuskan ini terlalu cepat, Shil."
Salim menggenggam tangan kekasihnya, menunjukkan kebesaran cinta di matanya. "Aku harus kerja di Jakarta. Kalau kamu mencintaiku. Kamu pasti akan menungguku, Salim. Tunggulah setahun lalu aku pulang ke desa. Kamu bisa 'kan lakukan itu?"
Ashila memberikan pengertian. Dia mengira bahwa Salim akan bersabar menanti kepulangannya, berharap sang kekasih mau memahami situasi yang tengah dihadapinya. Ternyata dugaan di gadis tak seperti yang dibayangkan.
"Tidak bisa," kata Salim, "kalau kamu pergi, aku akan menikahi perempuan lain. Aku tidak tahan hidup sendiri, Ashila. Kamu yang harus mengerti aku bukan sebaliknya. Akulah yang cukup bersabar selama ini."
Salim melepaskan pegangan tangan Ashila. Dia beringsut bangkit, meninggalkan sang gadis sendirian. Masa pacaran mereka hanyalah hitungan waktu semata. Kini sang pria pergi tanpa mau mengerti keputusan Ashila.
Ashila terluka. Dia menahan tangis. Inilah perjuangan awal bagi gadis itu. Memulai sesuatu berarti mengakhiri yang lainnya. Dia harus siap hadapi kenyataan di masa depan. Salim telah pergi. Memang tidak mudah melupakannya namun dia yakin perlahan-lahan akan berhasil menyembuhkan luka di hatinya.
Ashila merenung, mengamati lintasan air sungai yang melaju kencang, menggiring bebatuan kecil mengikuti kemana arus air membawanya pergi. Memandangi batu itu, gadis desa berpikir tentang analogi kehidupannya. Dia persis seperti batu itu. Diam di tempat dan memperbolehkan takdir menggiringnya ke tempat lain.
"Tidak baik merenung sendirian!"
Suara seorang lelaki terdengar. Ashila menengok dan melihat pria berjas hitam berdiri di ujung jembatan. Alaric... Pria itu berjalan mendekatinya dengan langkah seorang pemimpin. Aura kepemimpinan selalu hadir dalam diri lelaki itu. Kematangan berpikir mungkin erat kaitan dengan kematangan usia pria kaya itu.
"Apa yang Pak Alaric lakukan di sini? Bukankah ini bukan jam kerja?"
Sangat mustahil membayangkan pria dengan pakaian kantoran rapi bisa duduk di jembatan desa kecil. Semua orang seharusnya sudah istirahat. Ashila mengucek matanya untuk sekadar memastikan apakah matanya tidak salah melihat. Alaric nyata, kini lelaki itu duduk di sampingnya.
"Aku baru saja memastikan apakah perkebunan teh dalam suasana yang baik. Aku sangat mengapresiasi penduduk desa ini. Kalian tidak mencuri apapun di perkebunan teh meskipun kalian punya peluang melakukannya. Aku senang bekerja sama dengan penduduk desa."
Alaric membuat Ashila lupa mengenai Salim. Membahas tentang perkebunan teh membuat pikiran gadis itu berbelok ke sana. "Perusahaan Pak Alaric menghidupi banyak orang. Mereka tidak akan melakukan hal curang."
Alaric mengangguk. Dia menanyakan perihal keputusan Ashila. Apakah gadis itu menerima tawarannya atau justru menolak. Sang gadis desa mengatakan sepakat dengan perjanjian dari sang atasan. Dia menambahkan akan membawa surat perjanjiannya esok hari.
***
Pada akhirnya pria kaya akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Gadis miskin macam Ashila hanya perlu mengikuti kemana takdir membawanya. Dia sepakat atas kerja sama yang ditawarkan Alaric. Dengan berat hati, dia meninggalkan sang kakek. Sedih, tentu saja. Siapa yang tak sedu meninggalkan orang terkasih.
Di Jakarta, Ashila sangat kagum menyaksikan rumah mewah bak sebuah istana yang kini terpampang di depan matanya. Dia tak pernah lihat rumah sebagus itu di desa. Ada kolam renang raksasa di halaman depan, taman yang penuh dengan bunga, serta rumah tingkat tiga, memanjang dan megah. Rumah itu lebih cocok dihuni oleh seluruh warga kampung.
"Apa aku juga akan bersihkan rumah sebesar ini?"
Kalau Ashila bertugas bersihkan rumah maka ia tak akan punya waktu istirahat. Lihatlah bangunan itu, terlalu luas untuk disebut sebagai rumah. Dia hanya punya dua tangan, tak akan mampu membuat segala sesuatu bersih dalam sekejap. Alaric tertawa saat mendengarkan pertanyaan sang gadis desa.
"Kenapa tertawa?"
Ashila selalu memberikan tatapan polos dan itu membuat Alaric terpukau setiap kali menyaksikan mimik wajah gadis itu. Pria kaya raya itu mengambil ponsel, mengetikkan sesuatu lalu dalam semenit menunjuk ke arah rumah.
Ashila bisa melihat deretan pelayan di rumah itu. Dia menghitung dalam hati, kurang lebih ada 30 lebih pelayan. Dia menyadari betapa kaya tuan Alaric. Pria itu bisa beli apa saja yang dia mau. "Tugasmu hanya jaga putriku, Angel. Dia agak nakal, aku harap kamu betah merawatnya."
Ashila belum punya pengalaman menjaga anak namun akan mencoba mendapatkan hati Angel. Alaric memberitahu kalau putrinya agak nakal. Gadis desa merasa gamang apakah mampu melewati tantangan, dan menaklukkan hati Angel. Dia tidak mau dipecat di hari pertama karena tak becus menjaga anak atasannya.
"Aku akan berusaha menjaga Angel sebisaku."
"Angel akan memperlakukanmu dengan istimewa saat kau berhasil meluluhkan hatinya."
Setelah bicara begitu, Alaric mengajak Ashila berkenalan dengan para pelayan rumah. Sang gadis desa tidak mampu menghafal semua nama-nama pelayan itu. Dia hanya tahu dua nama yaitu Marni dan Ica. Gadis desa merasa kepintarannya di sekolah dulu kini tak berarti, dia bahkan sangat sulit membedakan 30 lebih pelayan rumah bosnya.
Hari pertama Ashila tidak terlalu baik, bisa dikatakan sangat buruk. Angel berpura-pura menerima gadis itu. Dia membuat pengasuh barunya hilang akal. Anak itu tidak mau tidur awal. Dia mengajak gadis desa main boneka sampai suasana agak larut.
Ketika semua orang mulai terlelap, Angel membuang bonekanya keluar jendela. "Maukah kau ambilkan aku boneka milikku?" Tatapan Angel polos, memelas meminta bantuan Ashila.
Sebagai seorang pelayan, Gadis desa tidak bisa menolak. Dia nekat keluar kamar dan mencari keberadaan boneka milik Angel. Sialnya adalah pintu sudah terkunci saat Ashila hendak masuk. Dia mengintip, melihat siapa yang sedang mengerjainya. Ternyata itu perbuatan Angel.
Ashila menghela napas panjang. Dia mesti bersabar menjalani kehidupan barunya. Kelihatannya mungkin mudah namun ini amat sulit dari yang dibayangkannya, lebih keras dari bekerja di lapangan.
Ashila pasrah. Dia memaklumi tindakan anak majikannya. Angel hanyalah anak-anak. Perbuatannya memang menyebalkan namun dia tetaplah anak-anak, belum bisa bedakan mana yang baik dan buruk. Dia hanya mau bersenang-senang.
Tidak ada jalan masuk, Ashila putuskan untuk bermalam di luar rumah. Dia termenung, memikirkan kehidupan kakeknya di Sumatra. Apa yang tengah dilakukan kakeknya? Mungkin sang kakek sudah tidur nyenyak di sana.
"Aku akan lakukan apa saja agar kakek bisa hidup tenang."
Ashila telah mengorbankan perasaannya, merelakan Salim menikahi wanita lain demi membayar hutang-hutang sang kakek. Gadis desa mau tak mau beradaptasi dengan lingkungan baru, bersahabat dengan Angel yang nakal. Hanya itulah cara meluluhkan hati Angel.
Ashila berbaring di luar rumah, menjadikan boneka beruang milik Angel sebagai bantal. Untungnya boneka itu empuk sehingga dia bisa tidur nyaman meski berada di luar rumah. Keesokan paginya, Alaric mendapati sang pengasuh di luar rumah. Dia membangunkan gadis desa dengan menggoyangkan tubuhnya. Ashila minta maaf karena tidur di jalan keluar rumah.
"Tidak apa-apa. Apa ini perbuatan Angel?"
"Iya. Tapi kumohon jangan marahi dia. Aku yakin Angel masih merasa asing bagiku. Aku yakin lama-lama dia akan menerima keberadaanku."
Alaric tidak membalas, terpaku pada kemuliaan hati gadis desa. Ashila bahkan tak meminta keadilan saat dia harus mendapatkan itu. Dia terlalu baik sampai melupakan perbuatan tidak baik anak tunggal Alaric. "Aku minta maaf soal Angel. Kenakalannya disebabkan karena jarang menghabiskan waktu dengan aku maupun ibunya. Dia kesepian sehingga menciptakan kesenangannya sendiri."
"Aku mengerti. Aku sama seperti Angel. Aku bahkan tidak bisa melihat orang tuaku sampai remaja. Kurasa aku mampu mengatasi Angel."
Kendati bicara begitu, Ashila tak bisa menapik kalau sulit baginya mengambil hati Angel. Anak itu terlalu cerdik sebagai anak-anak. Waktu gadis desa membawakan sarapan pagi, wajah Angel kusut seakan ada kesalahan yang diperbuat oleh Ashila.
"Ayo makan!"
Ashila tersenyum pada anak dari atasannya. Dia berharap senyumannya mampu melelehkan hati Angel yang beku. Tampaknya Angel anak yang berbeda. Dia memperlihatkan ekspresi tak suka pada Gadis desa.
"Aku tidak mau makan!" tegas Angel.
Anak itu fokus memandangi layar TV yang tengah memutar film kartun kesukaannya. Ashila mengelus dada, lagi-lagi dia menanamkan kesabaran dalam dirinya. Berbagai cara telah dilakukan Ashila agar sang tuan putri bersedia sarapan pagi tetapi hasilnya nihil.
Ashila mencoba persuasif. Dia menanyakan beberapa pertanyaan yang memancing Angel mengungkapkan isi hatinya. Gadis desa berpikir kalau sepatutnya dia mengetahui pendapat putri kecil itu.
"Kau tidak akan merebut Daddy 'kan? Daddy milikku. Apa kau pacar Daddy?"
Ashila tersentak ketika telinganya mendengarkan celotehan ringan Angel. Dia paham perasaan anak itu. Ketika kita memiliki lebih sedikit orang tersayang maka rasa takut kehilangan yang kita rasakan akan semakin besar. Setidaknya begitulah perasaan Angel. Dia hanya punya ayahnya dan tak mau orang lain merebut sang ayah dari kehidupannya.
"Aku tidak akan mencuri Daddy-mu. Aku di sini hanya bekerja. Aku bukan pacar ayahmu."
Ashila memberitahu kebenarannya. Angel mengernyit seakan tak percaya ujaran sang gadis desa. Terpaksa dia bohong, dan memberitahu kalau dia punya pacar bernama Salim. Sesungguhnya Salim hanya mantan, tetapi hanya berbohong satu-satunya yang bisa dilakukan Ashila.
Keputusan Ashila tepat. Angel sepertinya luluh dengan penjelasan gadis desa. Anak itu antusias dan bersedia menyantap sarapan yang dibawa oleh Ashila. Ini awal baik, Gadis desa berharap hari-hari selanjutnya lebih mudah dari hari ini.