"mas Reevaaannn." teriak Tasya dari atas kamarnya membuat Revan terkejut mendengar teriakan dari isterinya.
"sebentar sayang." teriak juga Revan berlari-larian melewati mamahnya lalu menaiki tangganya terburu-buru.
"tuh anak kenapa sih." tanya Nayla pada suaminya.
"isterinya teriak manggil Revan mah." jawab papahnya.
"pah, udah tahu belum."
"belum tau lah mah, orang mamah belum kasih tahu papah." Suaminya Bingung dengan ucapan isterinya belum saja dikasih tahu sudah menanyakan sudah tahu belum.
"oh, iya. lupa mamah hehe." Nayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"pasti mereka berdua lagi bicarain Tasya." batin Dita menatap raut wajah mereka berdua.
"pah, katanya mereka berdua udah melakukan hubungan suami isteri." Nayla menjelaskan kepada suaminya mengenai anak dan menantunya.
"yah bagus donk biar kita cepat dapat cucunya, bukannya mamah ngebet pengen banget dapat cucu kan." ujar suaminya.
"iya pah, aku juga pengen cepat-cepat punya cucu dari anakku sendiri dari pada cucu haram." Nayla menyindir Dita matanya melirik mereka berdua, Risa menundukkan kepalanya ia sangat sedih dengan ucapan Neneknya. kapan Risa dianggap sebagai cucunya mengapa dirinya tidak pernah dianggap apa salah dirinya? pikir Risa.
"sayang lanjutin makanannya yah, kamu mau berangkat ke sekolah kan." Dita mencoba menenangkan anaknya agar tetap tenang tangannya pun mengusap puncak kepalanya.
"iya, mah." menganggukkan kepalanya.
Disisi lain Revan memasuki ke dalam kamar ia melihat isterinya yang sedang terbaring tak berdaya mungkin efek semalam, tubuhnya pun masih diselimuti ia berniat ingin mandi tapi tubuhnya masih tidak kuat jalan apa lagi bagian bawahnya masih sakit akibat semalam suaminya mainnya kasar banget.
"hey, kamu kenapa sayang." Revan mendekat ke arah kasur mengusap rambut isterinya yang sedang terbaring tak berdaya.
"masih tanya aku kenapa? gara-gara kamu mainnya kasar." mencibirkan bibir nya karena kezel.
"jangan guru donk bibirnya jadi pengen nagih kan." melihat isterinya seperti itu jadi pengen nambah lagi seperti semalam.
"ihh bukannya bantuin aku malah mau lagi." gerutu Tasya agak sedikit kezel.
"maaf sayang, habisnya kamu bikin ketagihan sih." Revan mencubit kedua pipinya dengan gemes.
"kamu curang udah rapih aja, sedangkan isteri kamu lagi kesakitan." lirih Tasya melihat penampilan suaminya yang sudah rapih.
"maaf yang, tadi aku mau bangunin kamu tapi aku lihat kamu jadi nggak tega banguninnya sayang." jelas Revan.
"kamu mau ngapain biar aku bantu?" Revan jadi merasa bersalah karena ulahnya isterinya jadi seperti ini.
"aku mau ke mandi mas."
"akhhhhhhh mas turunin aku, aku malu selimutnya ke buka." teriak Tasya yang sudah digendong sampai ke kamar mandi manaruhnya di bathub.
"ngapain malu, aku sudah lihat semuanya sayang."
"sudah sana mas keluar." usir Tasya melihat suaminya masih di dalam kamar mandi.
"sebentar, aku mandiin kamu dulu" tawaran Revan menggodanya.
"ihh keluar mas Revaaannnn." teriak Tasya sambil melemparkan salah satu benda mengenai suaminya.
"tapi sayang aku pengen nambah lagi."
"nggak ada nambah-nambahan pergi sanaaa." Tasya menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
"iya sayang ini aku mau keluar juga." Revan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan isterinya seperti anak kecil menggemaskan jadi makin cinta deh.
Revan keluar dari kamarnya menunggu Tasya diruang makan semua orang melihat dirinya yang masih tertawa-tawa sendiri.
"kamu kenapa?" tanya papahnya heran melihat anaknya tertawa-tawa sendiri.
"nggak pah, tadi cuma jahilin isteri ku aja hehehe." Dita menatapnya tidak suka dengan Revan yang terlihat bahagia bersama Tasya.
"ihhh awas aja Tasyaaa." batin Dita.
"kamu apa kan menantu mamah." tanya Nayla kepada anaknya jangan sampai terjadi apa-apa dengan menantu kesayangannya.
"nggak mah, tadi aku cuma bantuin isteri ku aja kok." jelas Revan agar tidak dikepung oleh mamahnya.
"awas aja sampai kamu kasar sama menantu kesayangan mamah." ancam Nayla.
"siap mah."
"ihh tante nayla kenapa sih jadi makin sayang sama si Tasya sih." batin Dita sedikit agak kezel.
"hey kamu sudah siap berangkat ke sekolah yah." tanya Revan melihat anaknya sudah rapih dengan pakaian sekolahnya.
"iya pah hehe." Risa menjawabnya dengan tersenyum.
"kamu mau berangkat sama siapa?" tanya Revan.
"Risa berangkat sama mas aja, boleh kan mas?" jawab Dita
"hmm... boleh-boleh saja." menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, Nayla menatap Dita tidak suka jika anaknya mengantarkan anak haram itu ke sekolah.
"yeeyy aku berangkat sama ayah." sorak Risa gembira. lalu Revan duduk di sebelah Risa sambil menyantap makanan buatan mamahnya.
"mas, kamu mau berangkat ke kantor yah." Tasya sudah selesai membersihkan badannya ia melihat suaminya sudah mau berangkat sepertinya.
"iya sayang, kenapa?" Tasya mendekati Revan lalu duduk di sebelahnya.
"mas kamu dirumah aja yah." permintaan Tasya memeluk lengan suaminya ia sengaja membuat Dita cemburu bakar api, Dita melihatnya pun jadi makin kezel.
"tapi sayang, aku lagi banyak kerjaan dikantor, lagi pula aku juga mau nganter Risa ke sekolah." Revan ingin menuruti permintaan isterinya tapi dikantor sedang banyak kerjaan.
"mampus lu." Dita menatap sinis ke arahnya.
"yaudah pergi aja sana." usir Tasya beranjak dari kursi makan lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
"sudah lah kamu ikuti saya permintaan isterimu." saran papahnya agar tidak bertengkar kembali.
"tapi pah, dikantor lagi banyak kerjaan." tolak Revan.
"turuti permintaan Tasya apa susahnya sih." gerutu Nayla sedikit agak kezel melihat kelakuan anaknya yang tidak menuruti kemauan isterinya.
"tapi mah, Risa gimana." Revan juga Bingung bagaimana dengan anaknya ia hanya tidak mau membuat Risa sakit hati.
"aku gapapa kok yah, aku dianter supir aja."
"noh, kamu dengar sendiri."
"maaf yah sayang ayah nggak sempat anter kamu ke sekolah, lain waktu besok pasti ayah ante kamu."
"iihh kenapa mas Revan memilih Tasya sih dibandingkan Risa." batin Dita melihatnya pun kesel.
"iya yah gapapa kok, aku berangkat dulu yah." Risa mencium tangan ayahnya dan semua orang juga berbeda dengan Nayla yang tidak mau bersalaman setelah itu berangkat ke sekolah dianter oleh supirnya.
"Mah, aku ke kamar dulu mau bujuk isteriku."
"sudah sana bujuk isterimu." perintah Nayla lalu Revan pun ke kamarnya.
Revan menaiki tangga berjalan menuju kamarnya sampai didepan pintu tangannya perlahan membuka pintu itu agar tidak mengganggu isterinya.
sampai didalam Revan melihat isterinya dalam keadaan posisi meringkuk seperti bayi yang sedang tidur, perlahan-lahan mendekati kasur.
"sayang" panggil Revan
"sayang" masih tidak ada sahutan dari isterinya.
"sayang, aku nurutin kemauan kamu nggak jadi ke kantor." Revan mengusap puncak kepala isterinya dengan lembut dan masih tidak ada jawaban darinya.
"sayang kamu mau apa lagi?" tanya Revan.
"pergi sana, urusin saja pekerjaan mu." usir Tasya menutupi wajahnya dengan menyelimuti semua bagian tubuhnya
"ihh sayang kok gitu sih, aku udah bela-belain nggak ke kantor demi kamu loh." Revan mencoba membuka selimut isterinya yang ditutup dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"alah, palingan juga disuruh mamah." sindir Tasya tubuhnya masih terbalut dengn selimutnya.
"nggak yang, aku nggak ke kantor demi kamu loh." bujuk Revan.
"sudah sana pergi, aku mau lanjut tidur aja."
"loh kok gitu sih sayang, aku bela-belain buat kamu tadi aja aku berangkat ke kantor." jelas Revan.
"tinggal ke kantor aja apa susahnya." gerutu Tasya.
"yaudah aku mau jalan-jalan aja deh sama Dita dari pada kembali ke kantor." Revan sengaja membuat Tasya cemburu agar berada dirumahnya tidak sia-sia juga, baru saja melangkah kakinya keluar Tasya memanggilnya.
"Dasar cowok isterinya lagi kesakitan malah jalan sama cewek lain, emang yah cowok kaya gitu udah mainin cewek malah cari mangsa lagi." Revan merasa tersinggung dengan ucapan isterinya, kakinya melangkah mundur mendekati arah kasur.
"sayang kan aku cuma bercanda sama kamu." Revan ikut terbaring disebelah sambil memeluk istrinya dengan erat.
"udah sana jalan-jalan aja sama si Mak lampir itu." usir Tasya.
""hey, aku cuma bercanda sayang." Revan mengusap rambutnya dengan lembut ia heran mengapa isterinya jadi manja gini mungkin sedang kesakitan jadinya perlu dimanja.
"yang" panggil Revan tidak ada sahutan dari Tasya, Revan melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas mungkin dirinya sedang kecapean. Revan membuka selimutnya yang ditutupi kepalanya agar tidak pengap.
"selamat tidur, aku sayang kamu." Revan mencium dahi Tasya lalu turun ke bawah ke arah bibirnya, hanya cium saja tidak lebih.
setelah Tasya tertidur Revan keluar dari kamarnya ia sungguh bete dirumah tidak ada kerjaan, lebih baik dirinya menonton TV saja dari pada gabut.
saat sedang menonton TV Revan berbaring di sofa kemudian datang si Mak lampir tau lah siapa orangnya kalo bukan si Dita lagi.
"mas kamu mau kopi nggak?" tawaran Dita untuk Revan ini kesempatan mendekatinya karena Tasya sedang tidur.
"boleh" tanpa menoleh ke arah Dita.
"aku buat dulu." lalu Revan mengangguk saja kemudian Dita kembali ke dapur untuk membuatkan minuman, setelah itu memberikan minuman itu kepada Revan.
"ini mas kopinya." Dita memberikan minuman kepada Revan.
"terima kasih"
"sama-sama mas." Dita duduk disebelahnya, Revan mencoba mundur posisi duduknya tapi Dita malah semakin dekat alhasil mereka saling berdekatan.
"bisa jauhan nggak."
"kenapa mas? biasanya kan kamu nggak nolak, apa karena Tasya melarang kamu untuk dekat dengan aku lagi." jelas Dita.
"Bukan" tanpa menatap Dita disampingnya.
"terus kenapa? tumben banget kamu begini mas." Dita memeluk lengan Revan dengan erat tapi Revan melepaskan pelukan itu agar isterinya tidak melihat dirinya berdua-duaan dengan wanita lain.
"saya lagi nggak mau diganggu, lebih baik kamu pergi dari sini sana." usir Revan.
"ihh kezel banget sih." batin Dita menghentakkan kedua kakinya lalu bangkit dari sofa.
"kamu kenapa?" Revan melihat Dita menghentakkan kedua kakinya dilantai.
"gapapa mas hehe." Dita hanya menjawab dengan cengengesan saja.
Siang hari Tasya terbangun dari tidurnya ia melihat disamping sudah tidak ada suaminya apa mungkin Revan kembali ke kantor lagi.
"Mas Revan mana yah." gumam Tasya beranjak dari tempat tidur kakinya melangkah ke arah keluar kamarnya.
"mas" panggil Tasya melihat suaminya sedang menonton TV.
"kamu sudah bangun." tanya Revan saat Tasya sudah berada didepannya.
"sudah mas."
"sini temenin mas nonton TV." Revan menarik pergelangan tangan isterinya agar duduk disebelah sofa yang ia tempati.
"mas, sudah jemput Risa belum." tanya Tasya sedari tadi belum juga bertemu dengan Risa.
"sudah tadi."
"kamu enggak ke kantor?" tanya Tasya sambil memakan cemilan yang ada dimeja.
"Hari ini aku mau dirumah, mau manjain isteri dulu." ucap Revan memeluk isterinya dengan erat, lalu mengecup leher jenjang milik Tasya.
"jangan aneh-aneh deh, malu takut diliat orang." Tasya menjauhkan kepala Revan dari lehernya agar tidak terjadi apa-apa.
"kita honeymoon yuk." ajak Revan pada Tasya.
"Gak mau, dirumah aja kan bisa." Jawab Tasya meneguk salivanya gugup dengan ajakkan Revan.
Dirumah saja Revan sudah seperti orang kesetanan, apalagi mereka cuma berdua disuatu tempat. Tasya yakin badannya langsung habis setelah digarap Revan semalaman.
"Ayolah, kita belum pernah honeymoon loh." Bujuk Revan menggoyang-goyangkan lengan Tasya seperti anak kecil.
Tasya menggeleng melihat cara Revan membujuknya. Kalau didepan Tasya sekarang Revan bertingkah seperti anak kecil.
Coba saja ketika mereka diluar, semua yang menatap Revan bisa saja langsung buta matanya karena tak kuat menatap tajamnya bola mata Revan. "Ayolah, aku pengen punya anak sama kamu, kalau dirumah diganggu orang rumah. Apa lagi ada Risa pasti terganggu.
"Revan terus membujuknya sampai Tasya menuruti keinginannya. "Tadi malam bisa tuh, empat jam malah." Jawab Tasya meledek Revan.
"Ya bisa tapi enggak enak sembunyi-sembunyi, kamu enggak bisa jerit-jerit kan tadi malam? Aku juga pengen coba dimeja makan, dikolam renang, diruang TV, di... Awww...aw... Aw... Ampun yank, ampunnnn..." Teriak Revan mengadu kesakitan berlari menghindari cubitan dari Tasya.
"Dasar mesummm...." teriak Tasya mengejar Revan.
"ihh kok mereka malah kejar-kejaran sih." Dibalik dinding tembok rumahnya Dita merasa kezel kenapa mereka berdua malah kejar-kejaran, kenapa enggak bertengkar saja pikirnya.
Revan tertawa melihat Tasya yang memulai kelelahan mengejarnya, Revan menghampiri Tasya.
"Ayolah, mau ya... ya... ya... Biar Risa punya adik." bujuk Revan lagi.
"ihhh ngapain sih mereka honeymoon segala, bisa-bisa Tasya hamil jadi hilang kan kesempatan gue." gerutu Dita menghentakkan kedua kakinya.
"Ternyata semalaman kamu ketawa misterius karena ini ya?" Tasya menatap Revan menyipitkan kedua matanya.
"Hehehe..." tawa Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayolah yank...."
"Mau nggak ya?" ledek Tasya, dirinya melihat Dita dibalik dinding tembok seperti sedang membuntutinya Tasya senyum-senyum sendiri ia punya ide untuk mengerjainya agar Dita semakin kezel kepada dirinya.
"kalau kamu enggak mau, jangan salahin aku kalau aku cari mommy baru sama adik buat Risa nih. kalo enggak aku nikah lagi sama Dita."
"ganti mommy baru aja noh, kalo bisa nikah sama gue." Dita setuju dengan ucapan Revan ia masih berada ditempat sembunyinya.
"kok ngancemnya gitu!" Tasya terpancing mendengar perkataan Revan.
"Yasudah sana cari istri baru! kalo perlu nikah saja sama mbak Dita." Tasya pergi dengan mata berkaca-kaca, namun Revan menahan pergelangan tangan Tasya.
Niat Revan hanya ingin menggoda Tasya, tapi mungkin sudah keterlaluan dengan perkataannya sampai membuat Tasya menangis.
"maaf... maaf... Aku cuma mau godain kamu aja yank, enggak beneran kok." Revan membawa Tasya kepelukkannya. "Makanya kamu mau ya." bujuk Revan lagi.
"Oke, aku mau bulan madu." setuju Tasya sudah berhenti menangis, ia melirik Dita dengan wajah kezelnya karena dirinya menerima ajakkan Revan.
"ihh kok diterima sih ajakkannya." Dita melototkan kedua matanya tidak percaya dengan itu.
"Bener? Yess..." Revan melompat kesenangan. Akhirnya dia bisa bebas berduaan dengan Tasya tanpa gangguan orang rumah.
"Tapi ada syaratnya." lanjut Tasya membuat Revan yang senang kembali lemas.
"Enggak mau ah, pake syarat segala."
"Masa kamu mau enaknya aja sih, tadi senang sekarang lemes gitu. Jadi enggak nih ajak aku Honeymoon" sebel Tasya.
"Ya jadi, tapi syaratnya jangan susah-susah yah." jawab REvan cepat
"Syaratnya bawa Risa juga tapi jangan ajak mbak Dita yah." Tasya melirik Dita sudah semakin kezel sedari tadi.
"Kurang ajar si Tasya, ngancam gue nggak di ajak lagi." batin Dita
"loh kok bawa Risa sih, enggak enak donk nanti diganggu." kezel Revan karena isterinya membawa anak kecil.
"Iya deh enggak jadi dibawa." terpaksa Tasya menuruti peintahnya, padahal dirinya ingin liburan bersama Risa disana.
"kamu mau liburannya kapan." tanya Revan memeluk istrinya dari belakang tubuhnya.
"Hmm... kamu maunya kapan." sambil berpikir satu tangan berada di dagunya.
"Besok gimana?"
"Cepat banget Mas." Tasya measa itu sangat kecepatan mengapa suaminya terburu-buru banget sih.
"Karena aku enggak tahan yank." Revan menaruh kepalanya dipuncak leher milik Tasya, tapi Tasya menghindarinya.
"Ihh mas lepas malu dilihat orang rumah." Tasya takut jika kedua orang tua Revan melihat mereka berdua.
"Enak yah berdua-duaan sampai enggak liat kondisinya." Tiba saja mamahnya datang langsung menjewer telinga milik Revan.
"Awhh... sakit mah." Tasya tertawa ngakak melihat suaminya dijewer oleh mamahnya sendirinya.
"kamu yah kalo mau bermesra-mesraan enggak liat tempat dulu." Nayla semakin kuat menjewer anaknya sampai telinganya memerah.
"Ampunnn mahhh... ampunnn... Yank tolongin aku" Revan meminta tolong kepada istrinya agar mamahnya melepaskan jeweran itu.
"Maaf mas aku enggak bisa hehe..." canda Tasya membuat Revan kezel.
"Awas aja kamu yank, aku akan menghukum kamu nanti malam." teriak Revan
"eh ehh jngan donk mas aku cuma bercanda, ok aku bakal bujuk mamah." terpaksa Tasya membujuk mamah mertuanya agar tidak dihukum oleh suaminya.
"mah tolong lepasin suamiku yah." dengan nada bermohon hanya pura-pura saja hehehe.
"enggak, biarin aja dia mamah hukum."
"noh kan mamah aja enggak mau lepasin." Tasya menaha tawanya melihat suaminya dihukum.
"Mah please, tolong lepasin aku sakit tahu mah..." mohon ampun Revan
"Enggak akan mamah lepasin sebelum kamu janji enggak akan lakukakan tadi lagi." perjanjian agar anaknya tidak melanggar perjanjian itu.
"Iya, Mah. aku janji enggak akan ngulangin lagi." Revan mengacungkan dua jarinya, mamahnya pun melepaskan jewerannya.
"Mamah dengar-dengar kalian mau Honeymoon yah?" tanya Nayla dengan penasaran apa yang diengarnya tadi benar atau tidak.
"Iya Mah, Mas Revan ngajak aku Honeymoon." ucap Tasya yang sebenarnya.
"Bagus donk nanti mamah bisa punya anak dari kalian dari pada anak haram itu." Nayla membanding-bandingkan dengan Risa.
"Mah. jangan sebut dia anak haram lagi aku enggak suka." Revan tidak suka mendengar ucapan mamahnya yang menyebutkan anaknya menjadi anak haram.
"kamu enggak usah belain dia." omel Nayla.
Tanpa mereka sadari Risa mendengar ucapan mereka bertiga dari kejauhan.
"Aku takut jika tante cantik punya anak pasti aku enggak dianggap dikeluarga Ayah." lirih Risa dari kejauhan.
"sudah-sudah jangan bertengkar lagi yah." Tasya sengaja memisahkan mereka berdua agar tidak terjadi pertengkaran lagi.
"Mamah duluan yang mulai yank." adu Revan.
"sudah mas kita ke kamar aja yah." ajak Tasya untuk menghindari suaminya dari mamahnya.
"Mah, kita pamit ke kamar dulu yah." Tasya menarik pergelngan tangan suaminya untuk pergi ke kamar Nayla pun hanya mengangguk saja.