Bab 1

"nggak, bukannya tadi kamu membela dia kan" Tasya heran kenapa suaminya jadi lembut seperti ini bukannya tadi memarahi dirinya.

"aku membela dia karena kamu salah kan" jelas Revan

"emang yah, kamu itu nggak akan pernah membela isterimu sendiri" Tasya memlingkan wajahnya tanpa melihat raut wajah suaminya.

"iya, deh. aku percaya sama kamu" Revan pasrah karena dia tidak mau memperpanjang masalahnya.

"kamu percaya sama aku, biar aku nggak marah lagi sama kamu kan" Tasya menuduh suaminya.

"iya, ehh nggak deh."

"ihh tuh kan benar kamu jahat." Tasya memukul dada bidang suaminya dengan kedua tangannya.

"nggak sayang, aku hanya bercanda kok." Revan memberhentikan Tasya untuk tidak memukulinya lagi, jika tidak bisa-bisa tubuhnya membiru akibat pukulannya.

"ihh kok mereka berdua malah damai sih, gagal kan jadinya." gerutu Dita dengan menghentakkan kedua kakinya dilantai.

"serius, kamu nggak bohong kan."

"nggak, aku serius sayang."

"iya aku maafin."

"makasih" Revan memeluk Tasya untuk ucapan terimakasihnya.

Nayla sudah selesai masaknya ia pun menghidangkan makanan diatas meja makan, disana semuanya sudah berkumpul menunggu masakan dirinya.

"horee, akhirnya makan juga." sorak gembira Risa sudah menunggu makanannya sejak tadi.

"sini aku bantuin mah." Tasya beranjak dari kursi makan untuk membantu mertuanya menghidangkan makanan.

"kamu memang menantu idaman sayang." sindir Nayla melirik Dita sedikit kezel.

"aku nggak salah pilih isteri kan mah." dengan bangganya Revan memamerkan isterinya.

"caper banget sih jadi orang." batin Dita sedikit agak kesel melihat Tasya selalu caper ke mertuanya.

"Mas, kamu mau makan apa?" Dita tidak tinggal diam ia masih merebut hati Revan kembali dengan menawarkannya makanan.

"Revan sudah punya isteri, buat apa kalo ada isterinya tapi diambilkan wanita lain. seharusnya mikir donk." sudah beberapa kali Nayla menyindirnya tetap saja tidak mempan mungkin hatinya terbuat dari batu. Tasya hanya menahan tawanya memangnya enak disindir mertuanya Mulu.

"ya gapapa donk Dita itu juga kan sahabatnya Revan, sekaligus mantan istrinya kan." papahnya Revan tidak membela siapa-siapa, wajar saja jika sahabat anaknya dekat dengan Revan. papahnya belum tahu saja jika Dita masih menyukainya hampir belum move-on.

"papah kok jadi membela dia sih?" tanya Nayla pada suaminya,. sedangkan Risa hanya diam saja dan hanya melihat pertengkaran dirumah ini.

"aseek juga nih bertengkar." Dita menahan senyumnya ia sangat senang melihat pertengkarannya.

"papah nggak bela siapa-siapa, bukannya itu wajar." jawab papahnya Revan, anaknya pun jadi pusing harus membela siapa.

"terserah papah, mamah pusing dengarnya." Nayla menutup pembicaraannya lalu mereka semua pun melanjutkan makanannya.

setelah semua selesai makan Dita berniat membantu Nayla untuk mencuci semua piring bekas makan tadi, tapi Nayla tidak menanggapinya karena ia sangat benci.

Tasya pun membantu mertuanya membawa semua piring ke dapur untuk dicucikan, tapi mertuanya menolaknya karena sudah banyak merepotkan menantunya.

"sudah biar mamah saja yang cuci piringnya." tolak Nayla.

"Tapi mah..."

Tasya pun tidak bisa melawan perkataan mertuanya. "sudah kamu temenin suamimu saja, kamu sudah banyak membantu mamah dari pagi."

"yasudah aku ke temani suamiku mah." lalu Nayla mengangguk kemudian Tasya pun menemani suaminya yang sedang mengerjakan tugas kantornya dilaptop.

"Tante kok ngizinin Tasya sih, kalo diizinin nanti ngelunjak loh Tan." Dita mengompori Nayla untuk membenci Tasya agar mereka berdua tidak akrab lagi.

"kamu siapa? ngatur-ngatur saya."

"saya bukannya ngatur Tante tapi cuma ngingetin Tante aja."

"udah deh kamu cuci piring yang benar aja, cuci piring itu pakai tangan bukan mulut." Dita tidak melawan ucapan Nayla ia hanya diam dan melanjutkan aktivasinya.

Tasya mendekati suaminya yang sedang sibuk dengan laptop miliknya, sepertinya ia sedang sibuk dirinya jadi takut menggangunya.

"hmm... mas lagi sibuk yah?" tanya Tasya dengan hati-hati berbicara agar suaminya tidak marah.

"iya nih lagi banyak tugas." mata milik Revan sedang fokus dengan laptop tanpa melihat istrinya yang sedang bertanya.

"mau aku buatkan kopi nggak mas." tawaran Tasya

"boleh juga tuh." Revan menerima tawarannya, tanpa melihat arah Tasya, matanya masih fokus ke arah laptop miliknya.

Tasya berjalan memasuki dapur matanya melihat Dita yang sedang mencuci piring, ia pun berniat menjahilinya.

"Semangat mbak cuci piringnya."Tasya basa-basi menyamangati Dita agar lrbih semangat lagi mencuci piringnya.

"kamu mengejek saya yah." Dita merasa bahwa Tasya mengejek dirinya.

"apa sih mbak, saya hanya menyemangati mbak loh." Tasya berbicara sembari membuatkan kopi untuk suaminya.

"Alah kamu itu sebenarnya mengejek saya kan." sindir Dita tangannya masih fokus dengan kegiatannya.

"nggak boleh Su'udzon loh mbak." Tasya menuangkan air panas ke dalam gelasnya.

"kamu itu bikin saya emosi mulu dari tadi" Dita melirik arah mata Tasya menatapnya dengan sinis, membuat Tasya menahan tawanya karena sudah membawa Dita menjadi emosi.

"sabar mbak." Dita mengambil salah satu benda yaitu sendok ia ingin melempari benda itu tapi Tasya menghindarinya.

"jangan emosian mulu mbak nanti mas Revan jadi nggak suka sama mbak." teriak Tasya berlari-lari sembari membawa kopi buatannya sendiri.

"Tasyaaaaa" teriak Dita dengan suara keras sampai terdengar dikamar Revan.

"wahahaahh" sampai dikamar Tasya melepaskan tawanya yang tadi sempat menahan tawanya saat didekat dengan Dita didapur

"kamu kenapa lari-larian seperti itu?" tanya Revan melihat isterinya berlari-larian sambil membawa kopi untuk dirinya

"ini loh mas, tadi aku menyemangatin mbak Dita tapi dia malah marah gitu terus aku difitnah katanya aku ngejek dia padahal kan nggak." Tasya mendekati suaminya memberikan sebuah kopi, lalu menceritakan kejadian tadi didapur.

"hmm..." hanya itu jawaban dari Revan.

"cuek amat sih mas, aku cerita panjang lebar juga." sindir Tasya sedari tadi dicuekin oleh suaminya, Tasya duduk di sebelah Revan.

"kamu tidur duluan saja." tegur Revan matanya tidak pernah berhenti menatap laptop.

"nggak seru ah' kamu mas fokus sama laptop mulu dari pada isterimu." Tasya terus menyindirnya sama sekali Revan tidak peka dengannya.

"maafin aku sayang." Revan menaruh sebuah laptop miliknya di atas meja, kemudian memeluk isterinya dari belakang.

"lepasin" Tasya menolak perlukan dari suaminya.

"apa sih sayang, aku pengen peluk kamu dulu sebentar." Revan tidak mau melepaskan pelukannya.

"urusin aja laptop kamu sana." protes Tasya

"kamu cemburu sama laptop yang." Revan tertawa-tawa melihat isterinya cemburu hanya dengan benda mati saja

"ehm... mas kamu mau punya anak nggak" tanya Tasya menanyakan tentang persoalan anak.

"mau lah pasti sayang, ayah mana sih yang nggak mau punya keturunannya. tapi kan sayang kita udah punya Risa." Revan masih memeluk isterinya dengan nyaman.

"ihh, emangnya kamu nggak mau yah punya anak dari aku."

"bukan begitu maksud ku yang." Revan membalikkan tubuh Tasya menghadap dirinya.

"udah lah kamu mah memang nggak mau punya anak dari aku." sindir Tasya.

"hey, aku malah senang punya anak dari darah dagingku sendiri."

"serius."

"iya, tapi memangnya kamu sudah siap begituan sama aku." reflek Revan berbicara begitu dengan tangan mengkodenya.

"ihh mesum banget sih kamu mas." Tasya memukul dada bidang suaminya dengan pukulan keras.

"loh aku serius." Revan memberhentikan pukulan itu dengan menahan kedua tangannya.

"tapi nggak gitu juga kali." cibir Tasya.

"kamu mau sekarang." kode keras Revan untuk Tasya.

"apanya?" Tasya terbengong dengan ucapan suaminya.

"itunya loh."

"apanya sih." pura-pura tidak peka wkwkk.

"ihh kamu nggak peka deh."

"iya deh aku mau."

"ayo terobos langsung." Revan mendekati isterinya dengan wajah semakin dekat tapi Tasya menahan tubuhnya untuk menghentikan itu semua.

"kenapa?"

"sholat sunnah dulu mas." Tasya mengingatkan suaminya untuk sholat sunnah terlebih dahulu.

"oh iya aku lupa." pura-pura pikun hahhaha.

"pikirannya itu mulu sih."

"namanya juga lelaki enggak bisa nahan Hawa nafsu yang." mereka berdua pun mengambil wudhu kemudian melakukan sunnah

"ayo yang terobos." Revan langsung membuka baju kokonya sedangkan Tasya sengaja merapikan mukenanya dengan lama agar suaminya tidak Sabaran awokkkk

"Ayo yang, kamu sengaja yah dilamain." Revan tahu jika isterinya sengaja melamakan pergerakkannya.

"sabar mas." akhirnya Tasya selesai juga merapikan mukenanya, Revan yang tidak Sabaran langsung mendorong isterinya ke kasur. Revan berada di atas tubuhnya, ia melihat bibir isterinya yang begitu indah perlahan-lahan mendekati wajahnya. lalu melakukan hubungan suami isteri.

Pagi hari yang cerah ini Revan terbangun dari tidurnya sambil mengucek kedua matanya, ia melihat isterinya masih terbaring tertidur dengan nyaman mungkin isterinya terlalu kecapean. biasanya shubuh Tasya sudah bangun tapi matahari pun sudah bersinar belum terbangun juga.

"sepertinya kamu terlalu kecapean, sampai nyaman begini." Revan mengusap rambut isterinya dengan lembut.

Revan beranjak dari kasur untuk membersihkan tubuhnya memasuki kamar mandi. saat selesai mandi pun Tasya belum terbangun dari tidurnya, niatnya ingin membangunkan isterinya untuk membuatkan sarapan pagi tapi hatinya tidak tega melihat wajah Tasya terlalu lelah.

langkah kakinya berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan tapi namanya sudah menyiapkan makanan untuk semuanya, ia juga Heran mengapa jam segini Tasya belum keluar dari kamarnya juga.

biasanya jam segini Tasya sudah sibuk membantu mertuanya memasak, Nayla melihat Revan yang sudah berpakaian rapi dengan berpakaian kantornya.

"tumben baru bangun jam segini." tanya Nayla melihat anaknya baru bangun jam segini biasanya Tasya bangunin suaminya pasti banget.

"iyah mah, tadi malam aku kecapean mah."

"isterimu mana tumben jam segini belum keluar dari kamarnya."

"isteriku kayanya kecapean mah."

"kecapean kenapa, bukannya semalam mamah cuma nyuruh dia nemenin kamu doank deh." Nayla sempat Bingung mengapa menantunya kecapean juga Padahal dia selalu melarang Tasya untuk tidak terlalu kecapean.

"atau jangan-jangan kamu habis begituan yah." Nayla menuduh anaknya bahwa mereka berdua sudah melakukan itu, Revan hanya menjawabnya dengan cengengesan.

"kamu apain menantu mamah, pasti kamu mainnya kasar yah." Nayla memukuli anaknya, seharusnya mamahnya membela anaknya tapi ini malah membela menantunya.

"ampun mah, aku nggak main kasar kok." Revan mencoba menghindari pukulan dari mamahnya.

"jadi mereka berdua sudah melakukan itu, jangan sampai Tasya mengandung anak Revan." dibalik dinding tembok Dita mendengar percakapan mereka berdua yang sedang bertengkar.

"kamu pasti bohong." lagi-lagi Nayla menuduh anaknya bukan didukung malah memukul.

"nggak mah benaran, kalo nggak percaya tanya aja ke isteri ku sana."

"awas aja sampai melakukan kasar ke menantu mamah." Nayla melanjutkan aktivitasnya menyiapkan makanan diatas meja makan.

"sebenarnya gue ini anaknya bukan sih, kok mamah gue bela menantunya sih." gerutu Revan

Bab 2

"mas Reevaaannn." teriak Tasya dari atas kamarnya membuat Revan terkejut mendengar teriakan dari isterinya.

"sebentar sayang." teriak juga Revan berlari-larian melewati mamahnya lalu menaiki tangganya terburu-buru.

"tuh anak kenapa sih." tanya Nayla pada suaminya.

"isterinya teriak manggil Revan mah." jawab papahnya.

"pah, udah tahu belum."

"belum tau lah mah, orang mamah belum kasih tahu papah." Suaminya Bingung dengan ucapan isterinya belum saja dikasih tahu sudah menanyakan sudah tahu belum.

"oh, iya. lupa mamah hehe." Nayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"pasti mereka berdua lagi bicarain Tasya." batin Dita menatap raut wajah mereka berdua.

"pah, katanya mereka berdua udah melakukan hubungan suami isteri." Nayla menjelaskan kepada suaminya mengenai anak dan menantunya.

"yah bagus donk biar kita cepat dapat cucunya, bukannya mamah ngebet pengen banget dapat cucu kan." ujar suaminya.

"iya pah, aku juga pengen cepat-cepat punya cucu dari anakku sendiri dari pada cucu haram." Nayla menyindir Dita matanya melirik mereka berdua, Risa menundukkan kepalanya ia sangat sedih dengan ucapan Neneknya. kapan Risa dianggap sebagai cucunya mengapa dirinya tidak pernah dianggap apa salah dirinya? pikir Risa.

"sayang lanjutin makanannya yah, kamu mau berangkat ke sekolah kan." Dita mencoba menenangkan anaknya agar tetap tenang tangannya pun mengusap puncak kepalanya.

"iya, mah." menganggukkan kepalanya.

Disisi lain Revan memasuki ke dalam kamar ia melihat isterinya yang sedang terbaring tak berdaya mungkin efek semalam, tubuhnya pun masih diselimuti ia berniat ingin mandi tapi tubuhnya masih tidak kuat jalan apa lagi bagian bawahnya masih sakit akibat semalam suaminya mainnya kasar banget.

"hey, kamu kenapa sayang." Revan mendekat ke arah kasur mengusap rambut isterinya yang sedang terbaring tak berdaya.

"masih tanya aku kenapa? gara-gara kamu mainnya kasar." mencibirkan bibir nya karena kezel.

"jangan guru donk bibirnya jadi pengen nagih kan." melihat isterinya seperti itu jadi pengen nambah lagi seperti semalam.

"ihh bukannya bantuin aku malah mau lagi." gerutu Tasya agak sedikit kezel.

"maaf sayang, habisnya kamu bikin ketagihan sih." Revan mencubit kedua pipinya dengan gemes.

"kamu curang udah rapih aja, sedangkan isteri kamu lagi kesakitan." lirih Tasya melihat penampilan suaminya yang sudah rapih.

"maaf yang, tadi aku mau bangunin kamu tapi aku lihat kamu jadi nggak tega banguninnya sayang." jelas Revan.

"kamu mau ngapain biar aku bantu?" Revan jadi merasa bersalah karena ulahnya isterinya jadi seperti ini.

"aku mau ke mandi mas."

"akhhhhhhh mas turunin aku, aku malu selimutnya ke buka." teriak Tasya yang sudah digendong sampai ke kamar mandi manaruhnya di bathub.

"ngapain malu, aku sudah lihat semuanya sayang."

"sudah sana mas keluar." usir Tasya melihat suaminya masih di dalam kamar mandi.

"sebentar, aku mandiin kamu dulu" tawaran Revan menggodanya.

"ihh keluar mas Revaaannnn." teriak Tasya sambil melemparkan salah satu benda mengenai suaminya.

"tapi sayang aku pengen nambah lagi."

"nggak ada nambah-nambahan pergi sanaaa." Tasya menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

"iya sayang ini aku mau keluar juga." Revan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan isterinya seperti anak kecil menggemaskan jadi makin cinta deh.

Revan keluar dari kamarnya menunggu Tasya diruang makan semua orang melihat dirinya yang masih tertawa-tawa sendiri.

"kamu kenapa?" tanya papahnya heran melihat anaknya tertawa-tawa sendiri.

"nggak pah, tadi cuma jahilin isteri ku aja hehehe." Dita menatapnya tidak suka dengan Revan yang terlihat bahagia bersama Tasya.

"ihhh awas aja Tasyaaa." batin Dita.

"kamu apa kan menantu mamah." tanya Nayla kepada anaknya jangan sampai terjadi apa-apa dengan menantu kesayangannya.

"nggak mah, tadi aku cuma bantuin isteri ku aja kok." jelas Revan agar tidak dikepung oleh mamahnya.

"awas aja sampai kamu kasar sama menantu kesayangan mamah." ancam Nayla.

"siap mah."

"ihh tante nayla kenapa sih jadi makin sayang sama si Tasya sih." batin Dita sedikit agak kezel.

"hey kamu sudah siap berangkat ke sekolah yah." tanya Revan melihat anaknya sudah rapih dengan pakaian sekolahnya.

"iya pah hehe." Risa menjawabnya dengan tersenyum.

"kamu mau berangkat sama siapa?" tanya Revan.

"Risa berangkat sama mas aja, boleh kan mas?" jawab Dita

"hmm... boleh-boleh saja." menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, Nayla menatap Dita tidak suka jika anaknya mengantarkan anak haram itu ke sekolah.

"yeeyy aku berangkat sama ayah." sorak Risa gembira. lalu Revan duduk di sebelah Risa sambil menyantap makanan buatan mamahnya.

"mas, kamu mau berangkat ke kantor yah." Tasya sudah selesai membersihkan badannya ia melihat suaminya sudah mau berangkat sepertinya.

"iya sayang, kenapa?" Tasya mendekati Revan lalu duduk di sebelahnya.

"mas kamu dirumah aja yah." permintaan Tasya memeluk lengan suaminya ia sengaja membuat Dita cemburu bakar api, Dita melihatnya pun jadi makin kezel.

"tapi sayang, aku lagi banyak kerjaan dikantor, lagi pula aku juga mau nganter Risa ke sekolah." Revan ingin menuruti permintaan isterinya tapi dikantor sedang banyak kerjaan.

"mampus lu." Dita menatap sinis ke arahnya.

"yaudah pergi aja sana." usir Tasya beranjak dari kursi makan lalu menaiki tangga menuju kamarnya.

"sudah lah kamu ikuti saya permintaan isterimu." saran papahnya agar tidak bertengkar kembali.

"tapi pah, dikantor lagi banyak kerjaan." tolak Revan.

"turuti permintaan Tasya apa susahnya sih." gerutu Nayla sedikit agak kezel melihat kelakuan anaknya yang tidak menuruti kemauan isterinya.

"tapi mah, Risa gimana." Revan juga Bingung bagaimana dengan anaknya ia hanya tidak mau membuat Risa sakit hati.

"aku gapapa kok yah, aku dianter supir aja."

"noh, kamu dengar sendiri."

"maaf yah sayang ayah nggak sempat anter kamu ke sekolah, lain waktu besok pasti ayah ante kamu."

"iihh kenapa mas Revan memilih Tasya sih dibandingkan Risa." batin Dita melihatnya pun kesel.

"iya yah gapapa kok, aku berangkat dulu yah." Risa mencium tangan ayahnya dan semua orang juga berbeda dengan Nayla yang tidak mau bersalaman setelah itu berangkat ke sekolah dianter oleh supirnya.

"Mah, aku ke kamar dulu mau bujuk isteriku."

"sudah sana bujuk isterimu." perintah Nayla lalu Revan pun ke kamarnya.

Revan menaiki tangga berjalan menuju kamarnya sampai didepan pintu tangannya perlahan membuka pintu itu agar tidak mengganggu isterinya.

sampai didalam Revan melihat isterinya dalam keadaan posisi meringkuk seperti bayi yang sedang tidur, perlahan-lahan mendekati kasur.

"sayang" panggil Revan

"sayang" masih tidak ada sahutan dari isterinya.

"sayang, aku nurutin kemauan kamu nggak jadi ke kantor." Revan mengusap puncak kepala isterinya dengan lembut dan masih tidak ada jawaban darinya.

"sayang kamu mau apa lagi?" tanya Revan.

"pergi sana, urusin saja pekerjaan mu." usir Tasya menutupi wajahnya dengan menyelimuti semua bagian tubuhnya

Bab 3

"ihh sayang kok gitu sih, aku udah bela-belain nggak ke kantor demi kamu loh." Revan mencoba membuka selimut isterinya yang ditutup dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"alah, palingan juga disuruh mamah." sindir Tasya tubuhnya masih terbalut dengn selimutnya.

"nggak yang, aku nggak ke kantor demi kamu loh." bujuk Revan.

"sudah sana pergi, aku mau lanjut tidur aja."

"loh kok gitu sih sayang, aku bela-belain buat kamu tadi aja aku berangkat ke kantor." jelas Revan.

"tinggal ke kantor aja apa susahnya." gerutu Tasya.

"yaudah aku mau jalan-jalan aja deh sama Dita dari pada kembali ke kantor." Revan sengaja membuat Tasya cemburu agar berada dirumahnya tidak sia-sia juga, baru saja melangkah kakinya keluar Tasya memanggilnya.

"Dasar cowok isterinya lagi kesakitan malah jalan sama cewek lain, emang yah cowok kaya gitu udah mainin cewek malah cari mangsa lagi." Revan merasa tersinggung dengan ucapan isterinya, kakinya melangkah mundur mendekati arah kasur.

"sayang kan aku cuma bercanda sama kamu." Revan ikut terbaring disebelah sambil memeluk istrinya dengan erat.

"udah sana jalan-jalan aja sama si Mak lampir itu." usir Tasya.

""hey, aku cuma bercanda sayang." Revan mengusap rambutnya dengan lembut ia heran mengapa isterinya jadi manja gini mungkin sedang kesakitan jadinya perlu dimanja.

"yang" panggil Revan tidak ada sahutan dari Tasya, Revan melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas mungkin dirinya sedang kecapean. Revan membuka selimutnya yang ditutupi kepalanya agar tidak pengap.

"selamat tidur, aku sayang kamu." Revan mencium dahi Tasya lalu turun ke bawah ke arah bibirnya, hanya cium saja tidak lebih.

setelah Tasya tertidur Revan keluar dari kamarnya ia sungguh bete dirumah tidak ada kerjaan, lebih baik dirinya menonton TV saja dari pada gabut.

saat sedang menonton TV Revan berbaring di sofa kemudian datang si Mak lampir tau lah siapa orangnya kalo bukan si Dita lagi.

"mas kamu mau kopi nggak?" tawaran Dita untuk Revan ini kesempatan mendekatinya karena Tasya sedang tidur.

"boleh" tanpa menoleh ke arah Dita.

"aku buat dulu." lalu Revan mengangguk saja kemudian Dita kembali ke dapur untuk membuatkan minuman, setelah itu memberikan minuman itu kepada Revan.

"ini mas kopinya." Dita memberikan minuman kepada Revan.

"terima kasih"

"sama-sama mas." Dita duduk disebelahnya, Revan mencoba mundur posisi duduknya tapi Dita malah semakin dekat alhasil mereka saling berdekatan.

"bisa jauhan nggak."

"kenapa mas? biasanya kan kamu nggak nolak, apa karena Tasya melarang kamu untuk dekat dengan aku lagi." jelas Dita.

"Bukan" tanpa menatap Dita disampingnya.

"terus kenapa? tumben banget kamu begini mas." Dita memeluk lengan Revan dengan erat tapi Revan melepaskan pelukan itu agar isterinya tidak melihat dirinya berdua-duaan dengan wanita lain.

"saya lagi nggak mau diganggu, lebih baik kamu pergi dari sini sana." usir Revan.

"ihh kezel banget sih." batin Dita menghentakkan kedua kakinya lalu bangkit dari sofa.

"kamu kenapa?" Revan melihat Dita menghentakkan kedua kakinya dilantai.

"gapapa mas hehe." Dita hanya menjawab dengan cengengesan saja.

Siang hari Tasya terbangun dari tidurnya ia melihat disamping sudah tidak ada suaminya apa mungkin Revan kembali ke kantor lagi.

"Mas Revan mana yah." gumam Tasya beranjak dari tempat tidur kakinya melangkah ke arah keluar kamarnya.

"mas" panggil Tasya melihat suaminya sedang menonton TV.

"kamu sudah bangun." tanya Revan saat Tasya sudah berada didepannya.

"sudah mas."

"sini temenin mas nonton TV." Revan menarik pergelangan tangan isterinya agar duduk disebelah sofa yang ia tempati.

"mas, sudah jemput Risa belum." tanya Tasya sedari tadi belum juga bertemu dengan Risa.

"sudah tadi."

"kamu enggak ke kantor?" tanya Tasya sambil memakan cemilan yang ada dimeja.

"Hari ini aku mau dirumah, mau manjain isteri dulu." ucap Revan memeluk isterinya dengan erat, lalu mengecup leher jenjang milik Tasya.

"jangan aneh-aneh deh, malu takut diliat orang." Tasya menjauhkan kepala Revan dari lehernya agar tidak terjadi apa-apa.

"kita honeymoon yuk." ajak Revan pada Tasya.

"Gak mau, dirumah aja kan bisa." Jawab Tasya meneguk salivanya gugup dengan ajakkan Revan.

Dirumah saja Revan sudah seperti orang kesetanan, apalagi mereka cuma berdua disuatu tempat. Tasya yakin badannya langsung habis setelah digarap Revan semalaman.

"Ayolah, kita belum pernah honeymoon loh." Bujuk Revan menggoyang-goyangkan lengan Tasya seperti anak kecil.

Tasya menggeleng melihat cara Revan membujuknya. Kalau didepan Tasya sekarang Revan bertingkah seperti anak kecil.

Coba saja ketika mereka diluar, semua yang menatap Revan bisa saja langsung buta matanya karena tak kuat menatap tajamnya bola mata Revan. "Ayolah, aku pengen punya anak sama kamu, kalau dirumah diganggu orang rumah. Apa lagi ada Risa pasti terganggu.

"Revan terus membujuknya sampai Tasya menuruti keinginannya. "Tadi malam bisa tuh, empat jam malah." Jawab Tasya meledek Revan.

"Ya bisa tapi enggak enak sembunyi-sembunyi, kamu enggak bisa jerit-jerit kan tadi malam? Aku juga pengen coba dimeja makan, dikolam renang, diruang TV, di... Awww...aw... Aw... Ampun yank, ampunnnn..." Teriak Revan mengadu kesakitan berlari menghindari cubitan dari Tasya.

"Dasar mesummm...." teriak Tasya mengejar Revan.

"ihh kok mereka malah kejar-kejaran sih." Dibalik dinding tembok rumahnya Dita merasa kezel kenapa mereka berdua malah kejar-kejaran, kenapa enggak bertengkar saja pikirnya.

Revan tertawa melihat Tasya yang memulai kelelahan mengejarnya, Revan menghampiri Tasya.

"Ayolah, mau ya... ya... ya... Biar Risa punya adik." bujuk Revan lagi.

"ihhh ngapain sih mereka honeymoon segala, bisa-bisa Tasya hamil jadi hilang kan kesempatan gue." gerutu Dita menghentakkan kedua kakinya.

"Ternyata semalaman kamu ketawa misterius karena ini ya?" Tasya menatap Revan menyipitkan kedua matanya.

"Hehehe..." tawa Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ayolah yank...."

"Mau nggak ya?" ledek Tasya, dirinya melihat Dita dibalik dinding tembok seperti sedang membuntutinya Tasya senyum-senyum sendiri ia punya ide untuk mengerjainya agar Dita semakin kezel kepada dirinya.

"kalau kamu enggak mau, jangan salahin aku kalau aku cari mommy baru sama adik buat Risa nih. kalo enggak aku nikah lagi sama Dita."

"ganti mommy baru aja noh, kalo bisa nikah sama gue." Dita setuju dengan ucapan Revan ia masih berada ditempat sembunyinya.

"kok ngancemnya gitu!" Tasya terpancing mendengar perkataan Revan.

"Yasudah sana cari istri baru! kalo perlu nikah saja sama mbak Dita." Tasya pergi dengan mata berkaca-kaca, namun Revan menahan pergelangan tangan Tasya.

Niat Revan hanya ingin menggoda Tasya, tapi mungkin sudah keterlaluan dengan perkataannya sampai membuat Tasya menangis.

"maaf... maaf... Aku cuma mau godain kamu aja yank, enggak beneran kok." Revan membawa Tasya kepelukkannya. "Makanya kamu mau ya." bujuk Revan lagi.

"Oke, aku mau bulan madu." setuju Tasya sudah berhenti menangis, ia melirik Dita dengan wajah kezelnya karena dirinya menerima ajakkan Revan.

"ihh kok diterima sih ajakkannya." Dita melototkan kedua matanya tidak percaya dengan itu.

"Bener? Yess..." Revan melompat kesenangan. Akhirnya dia bisa bebas berduaan dengan Tasya tanpa gangguan orang rumah.

"Tapi ada syaratnya." lanjut Tasya membuat Revan yang senang kembali lemas.

"Enggak mau ah, pake syarat segala."

"Masa kamu mau enaknya aja sih, tadi senang sekarang lemes gitu. Jadi enggak nih ajak aku Honeymoon" sebel Tasya.

"Ya jadi, tapi syaratnya jangan susah-susah yah." jawab REvan cepat

"Syaratnya bawa Risa juga tapi jangan ajak mbak Dita yah." Tasya melirik Dita sudah semakin kezel sedari tadi.

"Kurang ajar si Tasya, ngancam gue nggak di ajak lagi." batin Dita

"loh kok bawa Risa sih, enggak enak donk nanti diganggu." kezel Revan karena isterinya membawa anak kecil.

"Iya deh enggak jadi dibawa." terpaksa Tasya menuruti peintahnya, padahal dirinya ingin liburan bersama Risa disana.

"kamu mau liburannya kapan." tanya Revan memeluk istrinya dari belakang tubuhnya.

"Hmm... kamu maunya kapan." sambil berpikir satu tangan berada di dagunya.

"Besok gimana?"

"Cepat banget Mas." Tasya measa itu sangat kecepatan mengapa suaminya terburu-buru banget sih.

"Karena aku enggak tahan yank." Revan menaruh kepalanya dipuncak leher milik Tasya, tapi Tasya menghindarinya.

"Ihh mas lepas malu dilihat orang rumah." Tasya takut jika kedua orang tua Revan melihat mereka berdua.

"Enak yah berdua-duaan sampai enggak liat kondisinya." Tiba saja mamahnya datang langsung menjewer telinga milik Revan.

"Awhh... sakit mah." Tasya tertawa ngakak melihat suaminya dijewer oleh mamahnya sendirinya.

"kamu yah kalo mau bermesra-mesraan enggak liat tempat dulu." Nayla semakin kuat menjewer anaknya sampai telinganya memerah.

"Ampunnn mahhh... ampunnn... Yank tolongin aku" Revan meminta tolong kepada istrinya agar mamahnya melepaskan jeweran itu.

"Maaf mas aku enggak bisa hehe..." canda Tasya membuat Revan kezel.

"Awas aja kamu yank, aku akan menghukum kamu nanti malam." teriak Revan

"eh ehh jngan donk mas aku cuma bercanda, ok aku bakal bujuk mamah." terpaksa Tasya membujuk mamah mertuanya agar tidak dihukum oleh suaminya.

"mah tolong lepasin suamiku yah." dengan nada bermohon hanya pura-pura saja hehehe.

"enggak, biarin aja dia mamah hukum."

"noh kan mamah aja enggak mau lepasin." Tasya menaha tawanya melihat suaminya dihukum.

"Mah please, tolong lepasin aku sakit tahu mah..." mohon ampun Revan

"Enggak akan mamah lepasin sebelum kamu janji enggak akan lakukakan tadi lagi." perjanjian agar anaknya tidak melanggar perjanjian itu.

"Iya, Mah. aku janji enggak akan ngulangin lagi." Revan mengacungkan dua jarinya, mamahnya pun melepaskan jewerannya.

"Mamah dengar-dengar kalian mau Honeymoon yah?" tanya Nayla dengan penasaran apa yang diengarnya tadi benar atau tidak.

"Iya Mah, Mas Revan ngajak aku Honeymoon." ucap Tasya yang sebenarnya.

"Bagus donk nanti mamah bisa punya anak dari kalian dari pada anak haram itu." Nayla membanding-bandingkan dengan Risa.

"Mah. jangan sebut dia anak haram lagi aku enggak suka." Revan tidak suka mendengar ucapan mamahnya yang menyebutkan anaknya menjadi anak haram.

"kamu enggak usah belain dia." omel Nayla.

Tanpa mereka sadari Risa mendengar ucapan mereka bertiga dari kejauhan.

"Aku takut jika tante cantik punya anak pasti aku enggak dianggap dikeluarga Ayah." lirih Risa dari kejauhan.

"sudah-sudah jangan bertengkar lagi yah." Tasya sengaja memisahkan mereka berdua agar tidak terjadi pertengkaran lagi.

"Mamah duluan yang mulai yank." adu Revan.

"sudah mas kita ke kamar aja yah." ajak Tasya untuk menghindari suaminya dari mamahnya.

"Mah, kita pamit ke kamar dulu yah." Tasya menarik pergelngan tangan suaminya untuk pergi ke kamar Nayla pun hanya mengangguk saja.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED