"Cepat cari kerja dan jangan malas-malasan di rumah, Alice. Kamu baru
saja dipecat karena menendang anak bosmu dan sekarang kamu enakenakan nonton dan makan seenaknya!" Seorang wanita paruh baya
mengomel dengan membawa kemoceng di tangannya.
"Nanti dulu, Ma. Aku masih ingin istirahat. Lagian anak bos songong
banget, bagaimana aku tidak emosi jika dia memegang pantatku.
Bayangkan, pantatku dipegang dan dia tidak mau minta maaf, sungguh
kurang ajar sekali!" Gadis yang bernama Alice itu bercerita dengan penuh
emosi.
"Berhenti mengeluh dan mencari pekerjaan! Aku tidak mau terus menerus
memberimu uang aku ini sudah tua tolong mengerti!" Wanita paruh baya
tadi terlihat kesal saat mengatakan itu.
Alice Handerson berwajah cantik, berkulit mulus berambut panjang. Sudah
banyak lelaki yang jatuh hati pada Alice. Namun, semua berujung
penolakan saat tahu ke mana arah pandang mereka. Dada Alice, dada Alice
memang tergolong idaman para pria tidak kecil dan tidak besar layaknya
artis yang menggunakan alat bantu pembesar payudara.
Alice sangat tidak menyukai lelaki yang seperti itu. Dia menyukai lelaki
yang mencintainya apa adanya bukan ada apanya. Pasti wanita mana pun
juga menginginkan yang seperti itu.
"Baiklah, Mama. Aku akan mencari pekerjaan sekarang." Alice akhirnya
mengalah dan meninggalkan tempat terenak miliknya.
"Ayahmu bilang Royal Garden membuka lowong pekerjaan, datang saja ke
sana siapa tahu kamu diterima. Royal Garden termasuk perusahaan besar
yang sudah bertaraf internasional gaji di sana juga besar kalau diterima di
sana kamu pasti juga bisa masuk di perusahaan ayahmu." Orang itu berujar
dengan santai dan membersihkan debu-debu yang ada di sana.
Alice melirik ibunya dengan kesal. Alice bukanlah anak orang yang tidak
berkecukupan bisa dibilang dia hidup serba berkecukupan. Namun,
keluarganya tidak mau memberi uang setelah Alice selesai lulus kuliah,
diharuskan untuk mencari kerja sendiri dan mencari uang sendiri.
Ayah Alice Patter Henderson pembisnis ulung yang sudah puluhan tahun
berkecimpung di dunia bisnis. Namanya bukan hanya isapan jempol
semata, nama Patter sudah melambung tinggi selama beberapa dekade ini.
Patter memang seorang pembisnis. Namun, dia menolak dengan tegas awak
media mengetahui mengenai tentang masalah pribadi entah itu istri, rumah,
anak, keluarga, dan segalanya dia menolak membuka suara tentang itu.
Sedangkan ibu Alice adalah Resti Adiwangsa ibu rumah tangga yang tegas
dan pemilih dalam segala hal. Sikapnya yang seperti itu tidak jarang
membuat Alice dan ibunya bertengkar karena berbeda pendapat.
Alice berganti pakaian dan siap-siap untuk mencari pekerjaan ke tempat di
mana yang dibicarakan oleh ibunya tadi. Dia hanya mampu berharap bahwa
mereka akan berbaik hati memberikan dirinya pekerjaan dan bisa bekerja
dengan giat untuk menumpuk pundi-pundi uang yang akan memenuhi kartu
kreditnya.
"Aku berangkat dulu, Mama. Jangan lupa bersihkan rumahnya dengan
benar." Alice berucap dengan santai dan berlalu pergi.
"Dasar anak durhaka! Bukannya membantu ibunya membersihkan malah
menyuruh orang tua untuk membersihkan rumah dengan bersih!" Suara
teriakan dari Resti membuat Alice menyunggingkan senyum saat
mendengar itu.
Berjalan menjauh untuk mencari kendaraan umum yang seharusnya masih
ada di jam sembilan ini. Alice hari ini hanya perlu menyerahkan surat
lamaran kerja dan menunggu interview lalu pengumuman diterima atau
tidak.
Setelah menyerahkan surat lamaran akhirnya Alice bisa berdiam sejenak
sebelum gilirannya untuk melakukan interview.
Alice memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar untuk berbenah diri.
"Perusahaan besar memang beda yang perusahaan biasa." Alice memoles
pelembab bibir.
Gerakan Alice terhenti saat mendengar bisik-bisik dari kamar mandi yang
tengah tertutup.
"Pelan-pelan, ughh, sakitt," bisikan dari dalam kamar mandi membuat
Alice membeku.
Alice mendekati pintu yang tertutup itu dengan pelan.
"Aku sudah pelan. Salahkan dirimu yang terlalu membuatku lupa diri,"
sahut suara seorang laki-laki.
Alice menutup mulutnya tidak percaya. Dia meninggalkan tempat kejadian
dengan pelan-pelan agar tidak ada yang menyadari keberadaannya.
"Apa yang baru saja aku dengar? Ini kantor bukan tempat berbuat mesum
seperti itu. Menjijikkan, andai aku punya keberanian aku akan melempari
mereka dengan tai kuda!" umpat Alice saat dia sudah menjauh dari toilet.
Benar-benar kantor yang panas, sehingga membuat Alice ingin segera
melempari sebuah kotoran kepada orang yang berbuat mesum seperti itu.
Meski Alice tidak melihat secara langsung dia juga bukan anak polos yang
tidak tahu apa sedang terjadi di dalam kamar mandi tadi.
"Aku heran. Bagaimana bisa perusahaan bobrok seperti ini mendapat gelar
bagus. Pegawainya saja sudah mencoreng nama baik perusahaan!"
Alice kembali ke tempat semula dengan wajah kesal yang terlihat begitu
kentara. Interview kali ini untuk bagian pemasaran dan sekretaris, itu
sebabnya begitu banyak yang hadir.
Alice memperhatikan banyaknya wanita modis yang datang untuk melamar
pekerjaan kali ini. Lelaki juga tidak kalah banyak, memang pekerjaan di
Royal Garden gaji tidak bisa dibilang rendah justru bisa dibilang sangat
tinggi untuk karyawan biasa.
Memang bisa dibilang keahlian Alice sudah cukup memadai untuk bisa
masuk ke perusahaan ini. Namun, jika secara baju maka Alice kalah total
jika dibandingkan dengan wanita yang lain. Menggunakan pakaian yang
serba tertutup. Jas perempuan menyembunyikan lekukan tubuh, rok di
bawah lutut, rambut yang diikat dengan rapi, benar-benar kalah dengan para
wanita yang berpakaian terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuh dengan
jelas.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Alice mendapat giliran.
Dengan penuh percaya diri Alice melewati banyaknya peserta kali ini.
Di lain tempat seorang lelaki sedang merapikan baju miliknya dan duduk di
kursi dengan penuh wibawa. Dengan wajah datar dia menekan angka di
telepon dan terhubung dengan seseorang yang dihubungi.
"Bagaimana dengan interview hari ini?"
"Semua berjalan dengan lancar, Tuan Garham. Kami sudah menemukan
siapa yang pantas untuk menjadi sekretaris Anda."
"Bagus, hubungi besok. Suruh datang ke sini ada hal yang ingin aku
tanyakan kepadanya."
"Baik!"
Sambungan itu terputus sedangkan lelaki itu segera berdiri di tengah
ruangan. Memperhatikan sekitar.
"Sekretaris baru, ya. Ah, aku nanti harus membuatnya berada di bawahku
sampai aku bosan. Tidak, dia pasti wanita yang agresif dan akan segera
menerkamku saat aku menawarkan kasur. Benar, kasur. Aku harus
menyuruh beberapa orang untuk mengganti kasur di ruangan pribadiku."
Lelaki itu bermonolog kepada dirinya sendiri.
Alex Garham, pimpinan dari perusahaan Royal Garden. Reputasinya
sebagai lelaki yang suka berganti wanita sudah bukan rahasia lagi di
kalangan pekerja Royal Garden.
Seluruh wanita akan melemparkan diri dengan suka rela saat dia meminta
untuk berada di atas kasur sebagai penghangat kasur entah itu sekali atau
berkali-kali. Namun, sejauh ini dia hanya akan menggunakan sekali
selebihnya dia tidak akan menggunakan untuk kedua kalinya.
Alice sedang selonjoran dan memainkan ponselnya sebelum panggilan yang
mendadak datang membuatnya hampir melempar ponsel karena kaget.
"Nomor tidak dikenal?" Alice dengan ragu mengangkat panggilan yang
masuk.
"Halo."
"Saya perwakilan dari Royal Garden. Anda bisa datang ke perusahaan
untuk bertanda tangan kontrak." Suara seorang wanita mengalun merdu di
telinga Alice.
Sejenak Alice tertegun mencoba untuk mencerna apa yang dimaksud oleh
orang di balik sambungan telepon itu.
"Jadi? Maksudmu aku diterima secepat itu?!" Alice meninggikan suaranya
saat mengatakan di akhir kalimat dan melupakan kesopanan dalam
berbicara formal.
"Benar, Anda harus datang untuk menandatangani kontrak dan
persyaratannya."
Alice terlihat antusias dan mengangguk dengan cepat meski ia tahu bahwa
orang di sana tidak akan melihat. Seperti orang bodoh, tetapi Alice tidak
peduli lagi dengan pendapat orang mengenai tindakannya seperti kali ini.
Alice segera mengambil baju formal miliknya dan bergegas untuk pergi
menuju Royal Garden. Memang membutuhkan perjuangan ekstra di saat
seperti ini, mengingat ini sudah hampir siang hari.
"Menyebalkan sekali. Tahu begini aku menggunakan mobil saja tadi.
Busnya juga belum sampai juga," gumam Alice kesal.
Ini sudah kesekian kalinya Alice mengembuskan napas berat karena bus
yang dia tunggu tidak kunjung datang.
"Kenapa memilih menggunakan bus jika kamu memiliki mobil pribadi?"
tanya seseorang yang sedari tadi terlihat sibuk dengan koran di tangannya.
Alice menoleh. Lelaki yang duduk di sampingnya melipat koran yang
sedari tadi dia baca. Melihat itu Alice menatap kakinya yang mengenakan
sepatu hak tinggi.
"Karena Mama bilang menggunakan mobil pribadi setiap saat dapat
menyebabkan kemacetan terus menerus. Itu sebabnya aku menggunakan
bus, lagian juga aku keluar tidak buru-buru jika tidak buru-buru
menggunakan bus lebih baik untuk mengurangi kemacetan."
Senyum kecil terbit di wajah lelaki itu. "Andai semua orang berpikir
sepertimu pasti kemacetan mengular akan berkurang. Namaku adalah
Alden, namamu?" Lelaki itu mengulurkan tangan saat mengatakan itu.
"Alice." Alice menerima uluran tangan itu.
Tangan yang kekar juga mulus tidak ada goresan sama sekali di tangannya.
"Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti," ujar Alden saat melihat
bus yang sudah mendekat.
"Uhm, pasti. Terima kasih sudah menemaniku berbicara." Alice melepas
tangannya lebih dulu dan berdiri untuk naik bus yang sudah mulai berhenti.
Dengan segera Alice naik bus saat pintu sudah dibuka. Alden merapikan
barang-barangnya dan ikut masuk ke dalam bus. Tidak ada pembicaraan di
antara mereka sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya Alice berhenti di
pemberhentian bus di dekat tempat kerjanya.
"Aku duluan, ya." Alice berpamitan kepada Alden saat dia hendak turun.
"Baiklah, hati-hati."
Alice mengangguk dan keluar lalu berjalan ke menjauh dari sana. Alden
memperhatikan Alice yang terus berjalan. Melihat pakaian formal yang
digunakan oleh Alice dia dapat memastikan bahwa wanita itu akan pergi
untuk bekerja.
Bus yang dikendarai Alden terus melewati Alice yang hendak berbelok
menuju Royal Garden. Alden tersenyum samar saat mengetahui di mana
tempat Alice bekerja.
Alice memasuki pintu masuk perusahaan dan menghubungi seseorang yang
telah memberitahunya tentang terpilihnya dia saat ini.
"Saya sudah berada di perusahaan, jadi, saya harus ke mana?"
"Baiklah, tunggu sebentar, saya akan ke bawah dan menjemput Anda."
Panggilan pun terputus. Alice segera menunggu di sofa yang ada di sana.
Memperhatikan setiap detail lobi yang ada di sana, tidak lama seorang
wanita cantik datang menghampiri Alice.
"Nona Alice?" Merasa namanya dipanggil Alice mendongak dan
menemukan wanita itu.
Seketika Alice terkesiap karena wanita itu begitu cantik. Melihat reaksi dari
Alice dia tersenyum dan mendekatinya.
"Mari, Nona. Kita akan menandatangani surat perjanjian dan kontrak yang
ada." Wanita berucap dengan sopan dan berjalan duluan.
Mendengar perkataan dari wanita tadi Alice mengikuti ke mana wanita itu
akan membawanya. Mereka sampai di sebuah ruangan yang tidak ada
penghuninya.
Wanita itu mengambil sebuah dokumen dari dalam laci dan memberikan
kepada Alice.
"Ini dokumen kontrak dan persyaratan. Mohon dibaca dan ditandatangani.
Ah, sangat tidak sopan bila saya tidak mengenalkan diri lebih dulu. Nama
saya Diana, saya sekretaris GM di sini, Tuan Garham yang meminta saya
untuk mengurus Anda. Untuk minggu pertama Anda akan saya bimbing,
lalu minggu kedua dan seterusnya Anda bisa bekerja sendiri." Wanita
bernama Diana itu menjelaskan dan memperkenalkan diri.
Alice mengangguk dan membaca surat kontrak yang diajukan oleh
perusahaan, ada banyak poin di poin terakhir Alice mengerutkan kening.
"Tidak boleh melawan perkataan presdir? Jika keluar sebelum masa kontrak
berakhir maka akan dikenakan denda senilai satu miliar, lalu jika
perusahaan mengeluarkan secara sepihak tanpa ada kesalahan yang
dilakukan akan menerima uang ganti rugi senilai satu miliar?" Alice
bergumam kebingungan dengan poin terakhir yang berada di sana.
"Ini, maksudnya bagaimana?" Alice benar-benar kebingungan dengan
kontrak nomor terakhir.
"Perusahaan Royal Garden adalah perusahaan yang akan memberikan uang
ganti rugi jika perusahaan membuat kesalahan, lalu jika pegawai
mengundurkan diri sebelum kontrak berakhir maka dia juga harus
memberikan uang ganti rugi. Sangat menarik, bukan?" Diana menjelaskan
maksud dari poin yang tidak dimengerti oleh Alice.
"Aku tahu. Aku tahu semua itu, apa ini tidak termasuk berlebihan?
Membayar satu miliar untuk ganti rugi jika mengundurkan diri, apa ini
tidak terlalu berat?"
"Tentu saja tidak. Kontrak kerja selama lima tahun, lalu gaji perbulan juga
begitu mahal setiap beberapa bulan sekali jika performa kerja bagus maka
akan mendapat kenaikan gaji. Tuan Garham adalah orang yang sangat
menyukai pekerjaan yang sempurna, itu sebabnya semua akan berlomba
untuk mendapat kenaikan gaji."
Alice terlihat berpikir sejenak. Memang benar gaji yang ditawarkan oleh
perusahaan Royal Garden sangat tinggi dibanding perusahaan yang lain.
Setelah memikirkan apa yang terjadi Alice pun segera menandatangani
surat kontrak yang telah dia baca dengan seksama.
"Sudah." Alice selesai membubuhkan tanda tangan miliknya.
Setelah bertanda tangan maka dia tidak bisa lagi mundur dari perusahaan ini
untuk lima tahun ke depan. Lima tahun mungkin akan terasa cepat jika
pekerjaan yang dia kerjakan tidaklah menyulitkan dirinya.
"Nona Alice, selamat Anda diterima sebagai sekretaris Tuan Garham.
Beliau ingin bertemu dengan Anda untuk menanyakan banyak hal."
Orang yang dipanggil Alice itu mengerutkan kening saat mendengar bahwa
presdir ingin bertemu dengannya. Apa dia melakukan kesalahan jika
memang dia melakukan kesalahan maka kesalahan apa? Apa sesuatu yang
tidak bisa diperbaiki lagi?
"Bertemu dengan saya? Apa saya sudah mulai bekerja hari ini? Atau saya
melakukan sebuah kesalahan?" Alice kebingungan.
"Tidak, beliau hanya ingin bertemu dengan Anda untuk menanyakan
sesuatu." Diana berbicara kepada Alice dengan tersenyum hangat saat
mengatakan itu.
Alice dan Diana sampai di depan pintu yang terdapat tulisan ruangan
presdir.
"Tuan, Nona Alice sudah datang."
"Suruh dia masuk!" Datar dan dingin yang masuk ke dalam gendang telinga
Alice.
Pintu dibuka oleh Diana, kesan pertama yang Alice lihat adalah ruangan
yang rapi dan banyaknya dokumen tertumpuk di meja, seseorang berada di
kursi dan membelakangi mereka.
Orang itu memutar kursi kebanggaannya dan menatap Alice dari atas
hingga bawah.
"Berapa usiamu?"
"Dua puluh tiga tahun, Tuan." Alice menjawab dengan sopan dan lembut.
"Silakan duduk. Diana silakan keluar, ada hal yang ingin saya bicarakan
secara pribadi dengan Nona Alice."
"Baik, Tuan." Diana berpamitan dan mengundurkan diri dengan perlahan.
Di dalam ruangan yang besar dan sunyi itu hanya tinggal mereka berdua.
Alex masih meneliti penampilan orang yang duduk di depannya.
"Saya adalah Alex Garham. Pemilik dari Royal Garden, selamat bergabung
dengan kami dan bekerjalah dengan giat."
Mendengar sambutan ramah dari Alex, Alice tersenyum dengan penuh
semangat.
"Terima kasih, Tuan Garham. Saya adalah Alice Handerson, mohon
bimbingannya." Alice berucap dengan ramah dan senyum hangat.
"Alice Handerson, ya. Baiklah ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan
dan ingin tahu."
"Baik."
Alice begitu tegang dia takut jika orang di depannya akan bertanya-tanya
tentang alasan dia dikeluarkan dari perusahaan sebelumnya.
"Apa kau seorang perawan?"
Alice melongo tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh
presdir kali ini.
"Maaf?"
Melihat ekspresi dari Alice, Alex bisa memastikan bahwa wanita di
depannya mungkin seorang yang polos.
"Tidak ada. Melihat dari ekspresimu, sepertinya kau seorang perawan."
Alex tersenyum miring saat mengatakan itu.
"Tuan, apa semua itu penting?" Alice mulai tidak nyaman dengan
pembahasan kali ini.
Bagaimana mungkin ada perusahaan yang menanyakan hal yang sevulgar
itu kepada bawahannya seperti kali ini.
"Tidak juga. Mau kamu seorang perawan atau bukan aku sangat
menyukaimu, jadi, ada beberapa hal yang kuinginkan darimu." Alex mulai
berbicara dengan santai dan tidak seformal tadi.
"Maaf, Tuan. Apa yang ingin Anda inginkan?"
"Tidak berat hanya pekerjaan ringan sebelum besok mulai bekerja.
Sebenarnya hari ini juga termasuk hari kerjamu, karena kamu baru saja
diterima, jadi, mulai besok kamu bisa bekerja dengan normal. Kali ini
hanya pekerjaan kecil saja."
Mendengar itu Alice kembali tenang walau hanya sesaat. "Baik. Terima
kasih, Tuan."
"Coba buka bajumu. Aku ingin melihat ukuran dada dan celana dalammu."
Wajah Alice memerah saat itu juga. Dia malu juga marah di saat bersamaan,
bagaimana bisa ada presdir gila dan mesum tidak terkira seperti itu?
"Tuan, Anda jangan membuat saya kehilangan kesabaran." Alice berucap
dengan dingin saat mendengar perkataan vulgar itu.
Alex berdiri dan meninggalkan kursi kebanggaannya dan menghampiri
Alice. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Alice.
Wajah Alice memerah seketika saat jarak di antara mereka begitu dekat.
Menghindar pun tidak akan bisa karena posisinya saat ini tengah duduk di
kursi sedangkan Alex dia berdiri di samping kursi.
Tangan Alex bergerak menuju dada Alice dan meremasnya pelan. Hampir
saja Alice berteriak jika saja Alex tidak buru-buru menutup mulut Alice
dengan tangannya.
Hanya meremas sebentar dan melepas bungkamnya kepada Alice.
"Berengsek! Apa yang kau lakukan?! Aku akan melaporkanmu kepada
polisi atas tuduhan pelecehan seksual!" Alice berdiri dengan wajah merah
dan penuh amarah.
"34C cukup besar untuk ukuran wanita sepertimu. Setidaknya cukup untuk
aku remas selama kontrakmu dengan perusahaan." Alex berucap dengan
santai dan menulis sesuatu di kertas.
"Kau! Bajingan sialan! Tangan kotormu itu sudah hafal dengan ukuran dada
seorang wanita hanya dengan menyentuhnya saja! Kau benar-benar seorang
bajingan, sangat menyesal aku bekerja di tempat seperti ini. Aku akan
mengundurkan diri dan menyebarkan bahwa CEO dari Royal Garden
adalah orang yang tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab, selain itu
Anda juga seorang yang mesum! Pasti sudah ratusan wanita yang sudah
Anda pegang dengan tangan menjijikkanmu itu!" Alice berucap dengan
berapi-api dan penuh dengan emosi ia.
Setelah mengatakan itu Alice segera meninggalkan tempat tadi berniat
untuk pergi. Bagaimana bisa dia mendapat pelecehan di hari dia
menandatangi kontrak. Sangat menyesal bagi dirinya bisa mengenal orang
mesum akut seperti Alex Garham.
"Silakan jika ingin mengundurkan diri di luar sana masih banyak orang
yang mengantri untuk bekerja di sini. Jangan lupakan untuk membayar
uang ganti rugi sebanyak dua kali lipat jika kamu ingin melaporkan
tindakanku tadi ke polisi." Datar dan dingin yang keluar dari mulut alex.
Nada bicara pertama kali yang didengar oleh Alice tadi. Alice
menghentikan langkahnya saat itu juga. Dua kali lipat katanya?
Bagaikan tersambar petir mendengar uang ganti rugi sebanyak itu, ia
berbalik dan melotot tak percaya. "Dua kali lipat? Apa Anda sudah gila? Di
kontrak hanya terdapat uang ganti rugi seharga satu miliar kenapa menjadi
dua kali lipat?!" Alice berbalik dan menggembrakk meja milik Alex.
"Yang membuat peraturan adalah aku, yang berkuasa di sini adalah aku.
Jika kamu keberatan silakan membayar uang ganti rugi seperti yang aku
sebutkan. Dilarang melawan perkataan presdir, jika melawan maka akan
mendapat hukuman sendiri. Bukannya di kontrak bekerja sudah ada
perjanjian itu?"
Alice mengangkat tangannya yang mengebrak meja tadi. Dia menggigit
bibirnya untuk melampiaskan perasaan marah yang melingkupi dirinya.
"Baik. Saya akan mulai bekerja besok. Saya harap Anda bisa berbuat sopan
kepada saya dan tidak membuat saya marah lagi. Sampai bertemu besok,
Tuan Garham." Alice membungkukkan badan dan berpamitan pergi.
Emosi terpendam masih bergelora di dalam dada Alice bagaimana tidak
emosi jika diperlakukan dengan tidak sopan seperti itu. Dia datang ke sana
untuk bekerja bukan untuk menjadi jalang.
Sedangkan di dalam ruangan ruangannya Alex menatap tangan kirinya yang
meremas dada Alice. Senyum puas terpasang di wajahnya saat itu juga.
"Wanita yang menarik. Menjaga diri dan suci, sangat cocok untuk masuk
sebagai kandidat orang yang kuat berada di sisiku. Alice Handerson, jangan
salahkan aku jika aku tertarik kepadamu, Kucing Liar!"
Alex segera memeriksa dokumen yang belum sempat dia periksa selama
perbincangannya dengan Alice tadi.
Menjadi seorang CEO bukan berarti dirinya bisa bermalas-malasan seperti
tadi. Dia hanya ingin bermain barang sejenak untuk meringankan beban
pikiran yang mengganggunya.
Sedangkan Alice dia menggerutu sepanjang perjalanan menuju lantai
bawah, meratapi nasibnya yang tidak beruntung bertemu dengan bos kurang
ajar seperti Alex.
Aku akan mengingatnya seumur hidup apa yang telah dilakukan oleh si
Anjing Liar itu. Setelah kontrak ini berakhir aku akan segera
mengundurkan diri dan mencari pekerjaan yang lain! batin Alice dengan
penuh amarah