Bab 1

Meninggalnya kakak Rio

Hari ini hari pertamaku pulang ke Indonesia, dari 6 tahun sebelumnya aku menghabiskan hidupku di Amerika.

Tidak ada penyambutan untukku, bahkan yang ada hanya seorang supir pribadi keluarga yang datang menjemputku ke bandara.

Apa aku sudah tidak diharapkan atau mereka tidak menginginkan kedatanganku? seribu pertanyaan muncul di benakku, hingga akhirnya aku sampai di depan rumah.

Ada apa ini? Kenapa banyak karangan bunga berjajar di depan rumahku? Apa yang terjadi kenapa begitu ramai orang yang datang dengan menggunakan serba hitam? Apa terjadi sesuatu? pikirku yang mulai lari masuk kedalam rumah.

Sebuah Peti Mayat tengah terletak di ruangan tengah. Aku berlari ke arah peti tersebut melihat sosok orang yang aku sayangi tengah terbaring kaku.

Badanku hampir rapuh. Beruntung papi cepat menangkapku dari belakang.

" Apa yang terjadi papi? kenapa kak Andri, tertidur di peti itu! Kenapa dia meninggalkan Rio! Papi," ucapku yang membuat seketika pelayat menjadi sedih.

"Sabar Rio! Biarkan kakakmu tenang biarkan dia pergi, ikhlaskan dia," gumam papi yang membuatku memeluk erat sosok yang penting di hidupku.

"Kak Andri ...." teriakku memecah sehingga Papi, mengangkat badanku yang tengah memeluk tubuh yang tidak bernyawa itu lagi.

" Jangan tinggalkan Rio kak," rengekku seperti anak kecil, menangis tersedu mungkin ini untuk pertama kali nya air mata ku jatuh.

Aku pernah kehilangan mamaku yang meninggalkanku sejak usia 15 tahun karena mami selingkuh dan memilih lelaki itu dari pada kami anak nya.

Para pelayat pun mulai meninggalkan makam tempat terakhir peristirahatan kak Andri.

Aku masih memandangi batu nisan nya berharap sosok kakakku ini bangun lagi, hingga aku terbayang bagaimana dia menjaga dan melindungiku, saat mami ketahuan selingkuh papi marah besar terjadi keributan besar di rumah.

Kak Andri datang meletakkan headset di telingaku, memutar kan lagu yang berirama bahagia. kak Andri juga menghidupkan musik dengan begitu kencang, berjoget bahagia di kamarku, walau sebenarnya dia tengah sedih karena aku sesekali memergoki kak Andre menghapus air mata di wajah nya.

Kak Andri tetap melempar senyum seakan tidak ada masalah yang terjadi ikut bernyanyi seraya berjoget, dan itu dia lakukan sampai aku sudah benar-benar tertidur.

Setelah aku tertidur kak Andri, menemui papi dan mami" Stop! hentikan keributan kalian hanya akan membuat aku dan Rio sakit hati! Apa kalian bisa menjaga perasaan kami?" tanya Andri begitu marah terhadap kedua orangtuanya, yang tengah berselisih itu.

" Jika yang terbaik diantara kalian pisah maka berpisahlah dengan cara baik," ucap Andri dengan mata berbinar.

" Nak maaf kan mami!" sahut mami nya seraya memeluk Andri.

" Pergi sana! kamu tidak pantas dianggap mami, kamu menghancurkan keluargamu, jangan pernah menemuiku dan Rio, kami tidak Sudi punya mami seperti mu lagi" pungkas Andri menatap rasa marah, ke arah maminya yang telah mengkhianati sang papi, mami seperti apa itu!" batin Andri Kesal dengan berjalan ke arah kamarnya.

Klek

"Kamu belum tidur?" sahut Andri menatap Rio yang duduk di atas ranjangnya! Andri, mencoba menyembunyikan kesedihannya lagi tapi seolah percuma karena Rio, telah mendengar semuanya.

" Maaf kan kakak Rio! Kakak akan menjaga dan selalu melindungimu," ucap Andri yang berjalan ke arah Rio, memeluk Rio dan menenangkannya dalam dekapannya, hanya itu yang bisa dilakukan andri. dalam menenangkan Rio

yang terlihat sangat terpukul. Hingga di balik badan Andri. Rio, meneteskan air matanya, bukan keluarga seperti ini yang aku mau" batin Rio sedih dalam hatinya.

Hingga akhirnya Rio tersadar dari sekilas khayalan, bayangan tentang sang kakak, setelah dia melihat dan membuka mata, akan sosok tubuh yang ada di sampingnya kini. sosok seorang kakak yang tidak bernyawa lagi.

" Kakak! bangun jangan tinggalkan Rio" masih ucap Rio, yang mendekap lebih erat tiang nisan yang bertuliskan nama Andri.

" Biarkan kakakmu beristirahat dengan tenang nak," ucap papi, hingga matahari pun pergi suasana mulai gelap, angin berhembus kencang, gemuruh sesekali memekik. "Nampak nya mau hujan" sahut papi yang menarik paksa badanku masuk kedalam mobil.

Aku meninggalkan tubuh yang tidak bernyawa itu berselimut tanah, berteman sepi, ku pandangi pusarannya hingga hujan pun turun menemani nya.

Inginku keluar dan memayunginya. Aku takut sosok tubuh itu sakit, tapi berkali-kali papi menyadarkanku" biarkan kakakmu beristirahat dengan tenang"

Mobil yang membawaku pergi jauh, pusara itu jauh tertinggal di belakang. Aku sengaja pulang tidak memberi kabar denganmu kak! Aku ingin memberi kejutan aku bawakan kamu cemilan kesukaanmu, dan beberapa aksesoris yang selalu kamu koleksi. Kak kenapa kamu harus pergi kak.

Setelah sampai di rumah aku berlari ke arah kamarnya, aku pandangi fotonya dan fotoku. Aku melihat sosok wajah tampan yang mempesona dengan wajah selalu ceria, seakan tidak takut akan mati hingga kematian itu datang sendiri menjemputmu.

Ayo kak! Bangun jangan tinggalkan aku. Aku peluk erat foto nya di dadaku seraya membaringkan badan di kasur milik nya. Aku pandangi semua peninggalan nya.

" Coba lihat dek kakak punya apa?"

"Apa kak! Sini Rio, mau lihat"

" Ini PS terbaru"

"Aku mau kak"

" Kita main bersama ya! yang kalah harus nurutin yang menang"

" Ok siapa takut"

" Ya aku kalah" ucap Rio

" Jadi kakak menang nih, kakak mau kamu sayang terus dengan kakak walau nanti nya adikku ini punya pacar" sahut Andri seraya melempar gurauan dengan Rio.

" Ah kali ini kakak kalah"

" Ya kakak kalah, jadi apa yang kamu mau?"

" Kerjakan tugas Rio"

" Curang, padahal kakak sengaja mengalah agar kamu jangan sedih" canda Andri.

" Yey, mana ada jika kalah ya ngaku kalah kak"

" Iya lah, adik kakak ini hebat"

" Kak Rio, ingin sekolah di Amerika, apa boleh? meninggalkan kakak jika tetap disini Rio, sering teringat mami kak"

" Iya! Tidak apa nanti kakak bilang ke papa ya biar mengurus keberangkatanmu"

" Aku sayang dengan kakak"

" Kamu hati-hati ya Rio! Pintar jaga diri dan ingat tuh kemampuan kamu dalam fighting di Tingkat kan. Besok jika kita ketemu kakak ingin melatih kekuatanmu"

" Siap bos, Kak Rio! Jalan dulu"

Semua bayangan itu seketika muncul di benakku seakan berat melepasmu kak! Ayo kak bangun! Jangan tinggalkan Rio" sahut Rio. bersorak kencang dengan mata yang masih tertutup mulut yang ngigo manggil nama Andri.

" Seperti nya dia demam pak" sahut asisten rumah tangga Rio. yang diperintahkan oleh sang papi membangunkan Rio. Hendak sarapan pagi namun sang bibi kaget melihat Rio, yang tengah mengigau. memanggil nama sang kakak. dengan rasa kuatir sang bibi mendekatkan telapak tangannya di kening Rio mendapati jika sang tuan muda tengah demam.

" Panggil dokter Hendra"

Perintah papi Rio. yang sepertinya cemas akan keadaan sang anak, dengan kondisi badan yang panas, mulut yang mengigau. Menambah rasa kuatir menatap Rio dengan rasa sedih.

Papi Rio yang masih duduk di sebelah Rio. Menatap ke arah sang istri melihat sang istri muda hanya diam menatap Rio, tanpa mencoba berbuat sesuatu.

Seakan kesal sang papi memarahi sang istri yang mematung seperti orang tidak tahu apa-apa.

"Apa yang kamu lihat mi? Pergi ambilkan air hangat Kompress dia."

Sang Mami tiri membalas tatapan sang suami dengan rasa ketidaksenangan. Dengan langkah kaki yang seakan lesu sang mami berjalan ke arah dapur meninggalkan Rio dan sang suami di dalam kamar yang berukuran besar dengan ranjang yang luas. Kamar yang sudah lama ditinggalkan Rio. dia berharap jika kedatangannya ke Indonesia. agar bisa tidur sekamar lagi dengan sang kakak.

Bab 2

Bab 2

Menyembunyikan kebenaran

" Bagaimana perkembangan kasus nya apa mereka bisa dihukum," sahut papi Rio terhadap Arman, ajudan kepercayaan Bang sander. Seorang mantan mafia yang kini menjalani hidup nya sebagai pengusaha sukses bekerja dalam segala bisnis.

" Tidak bisa bang semua bukti tetap mengarah ke Andri, sebagai dalang awal terjadi bentrokan mereka hanya melakukan pembelaan diri hingga akhirnya Andri, tewas dalam pertarungan" sahut Arman, ajudan bang sander. Menjelaskan perkara kejadian yang dia kumpulkan dari lokasi kejadian, sebagai seorang ayah. dia tidak bisa menerima kenyataan jika anaknya harus mati dengan keadaan seperti itu. membuat emosinya memupuk, hingga dia hendak melakukan balas dendam.

" Siapa pelaku nya! Apa mereka tidak bisa ditemui aku harus membalas dendam akan kematian Andri?" tanya bang sander, yang merasa tidak senang. dengan tatapan penuh kebencian dendam mencari tahu penyebab kematian Andri, anak tertuanya yang semestinya menjadi pewaris kekayaannya.

Mulai melakukan perbincangan diantara keduanya, untuk melakukan balas dendam yang akan diserahkan ke Rio.

" Pelakunya tiga mafia kakak beradik yang biasa disebut three Brother! tapi bukannya mereka bersahabat bang. antara tiga mafia dan Andri, setahuku mereka sangat dekat?"

Seperti ada kejanggalan yang terjadi pada kematian Andri, atau seseorang tengah menutupinya, pikiran keduanya seakan bergelut di dalam otak masing-masing, saling menatap dan menaruh prasangka buruk yang belum tentu terjadi. tapi jika masalah ini di diamkan tidak adil rasanya, membuat mereka tetap meyakini apa yang dikatakan saksi bahwa geng mafia three brother. pelaku utamanya seperti yang diceritakan oleh orang dan pihak kepolisian, yang tidak bisa melawan geng tersebut. Membuat sang polisi seolah menutup mata.

"Rio, tidak perlu tahu kebenaran nya! kamu harus membuat cerita seolah Andri tidak bersalah!" ucap bang Sander, seorang mantan mafia yang kini beralih menjadi seorang pengusaha sukses. dia memiliki cabang perusahaan di setiap daerah. Perkataan bang sander, itu pun dijawab oleh Anggukan kepala sang ajudan, yang sudah bekerja dengan nya bertahun-tahun lamanya.

***

Sudah tiga hari berlalu Rio masih menunjukkan raut wajah sedih. seolah tidak memiliki penyemangat hidup padahal hari ini hari pertama nya kuliah"

Aku sengaja pindah kuliah kesini kak agar aku bisa dekat denganmu! Aku rindu denganmu, tapi kenapa kamu harus pergi!" sahut Rio yang masih memeluk erat foto Andri, dengan bersandar di dinding ranjang milik nya.

"Tok tok KK ...." suara orang menggedor pintu Rio dari luar

" Apa papi boleh masuk nak?" sahut papi nya dari balik pintu kamarnya, tanpa meminta persetujuan pemilik papi nya tetap masuk dan duduk di sebelah Rio yang masih berduka itu.

" Nak ini yang sudah membunuh kakakmu," sahut papi nya dengan menunjukkan foto three Brother itu.

" Apa papi?" tanya Rio dengan nada emosi

Rio terkejut akan perkataan sang papi, membuat dia seolah marah. mencerminkan rasa kesal di wajahnya merasa tidak yakin akan apa yang dikatakan sang papi, Rio paham betul akan sifat sang kakak dia tidak menyukai keributan dan orang nya sangat mudah bergaul.

" Kamu harus balas dendam kakakmu untuk mereka Rio!"

Spontan raut wajah Rio yang tengah emosi itu seketika berubah dengan tatapan kebencian emosi nya kini seperti membara, aku akan menuntut balas dengan apa yang sudah terjadi denganmu kak! Aku janji aku tak akan membiarkan mereka tertawa senang berjalan di luran Kak, aku akan membuat mereka membayar semua ini," gumam Rio yang kini telah berdiri dan memiliki tujuan hidup kembali.

" Kamu tidak akan bisa mengalahkan mereka, jadi mulai lah dari hati" ucap papi Rio dengan menunjukkan foto Kikan adik dari ketiga yang telah membunuh kakak nya itu.

" Bermain cantik nak, dengan itu kamu bisa merobohkan mereka dan menurut informasi yang papi dapat mereka menjaga ketat adik nya, tidak ada satu pria yang berani mendekati adik nya, dan mulai lah melakukan pendekatan hati," lirih papi Rio seraya meletakkan tangan nya di dada Rio, yang membuat Rio seakan paham betul apa yang harus ia lakukan, agar balas dendam nya tercapai.

"Baik lah kak, aku akan membalas dendam mu," ujar Rio

Rio mulai berjalan menyusuri kampus karena hari ini, hari pertama nya di kampus sedikit rasa canggung dia menemui sang rektor sahabat sang papi, membawa Rio ke dalam kelas yang kini tengah mendapat materi dari sang dosen.

Tanpa basa-basi Rio yang sudah berkenalan terlebih dahulu dengan sang dosen memilih duduk di sebelah gadis yang tentu ia kenal.

" Jangan duduk disitu!" pinta sang dosen menatap Rio, yang paham betul akan apa yang terjadi jika seseorang duduk di sebelah Kikan, gadis cantik yang tak ada satupun pria berani mendekati nya.

Rio memandang sang dosen sebelum dia berjalan ke sebelah Kikan. Lalu melempar senyum ke arah sang dosen tanpa berbicara. Dia kembali melangkahkan kakinya menuju arah meja Kikan, tanpa memperdulikan omongan sang dosen.

yang membuat sang dosen seakan, menggelengkan kepalanya menatap ke arah Rio.

" Apa aku boleh duduk di sebelahmu" tanya Rio dengan ramah

" Kamu bisa duduk disitu!" jawab sang gadis dengan angkuh menatap Rio sekilas, lalu membuang pandangannya ke arah lain.

" Nama ku Rio, namamu Kikan kan?" gumam Rio, yang lebih memilih duduk di samping sang gadis.

" Maaf ...." kata Kinkan sederhana seraya pergi pindah ke sebelah kursi yang kosong, dia tidak ingin lagi ada korban, kemarahan kakaknya yang tidak mengizinkan Kikan didekati cowok manapun.

" Aku tidak rabies dan aku juga tidak akan menggigitmu!" tambah Rio yang memilih pindah lagi ke samping Kikan.

" Bukan itu, kamu hanya akan membahayakan dirimu, jika duduk di sebelahku!" bisik Kinkan yang tidak ingin sang dosen mendengar nya.

" Ah aku tidak peduli aku hanya ingin berteman denganmu" balas Rio menatap Kikan dengan serius, yang membuat Kikan berdecak kesal ke arah Rio, orang yang baru dia kenal tapi sudah cukup berani terhadap Kikan.

Kelas pun usai, Kikan terlebih dahulu berlari ke arah sang kakak bungsu, yang sudah menunggunya di parkiran dengan mobil sportnya.

" Apa ada seseorang yang mengganggumu hari ini Kin?" tanya kak Ando yang selalu mengucapkan itu hampir tiap hari. " Ah sungguh membosankan padahal usiaku kini sudah memasuki dewasa aku bukan anak kecil lagi kak stop selalu Menggangguku. Aku juga ingin seperti mereka kak bahagia memiliki pasangan aku juga ingin dicintai kak" sahut Kikan seakan protes.

" Apa cinta kami tiga kurang denganmu Kin? Kami menjagamu siang malam melindungimu bahkan nyamuk sekalipun tidak berani menyentuhmu! Apa perhatian kami kurang kami memenuhi semua kebutuhanmu, semenjak papi dan mami meninggal dalam kecelakaan usiamu masih 15 tahun hingga kini kamu dewasa kami menjagamu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Apa itu masih kurang adik ku sayang," ucap Ando seraya menjepit hidung Kikan.

" Ah, kak! bukan kasih sayang seperti itu yang Kikan butuh. Sekarang usiaku sudah memasuki 22 tahun kak, tidak seorang pun cowok yang boleh mendekat denganku! Aku juga ingin merasakan pacaran kak dicintai dan disayangi kak. Kenapa kakak selalu menghukum mereka yang menyukaiku kak, padahal itu bukan salah mereka hati mereka yang membuat mereka menyukaiku kak,"

" Apa kamu lihat diantara kami bertiga ada yang menjalin kasih dengan wanita lain ha?" tegas Ando.

" Tidak tapi kakak dengan yang lain menjadikan wanita mainan kakak. Apa kakak pikir Kikan tidak tahu dengan pekerjaan kakak yang suka gonta-ganti cewek bermain?"

" Karena itu kami melindungimu Kin! Tidak ada satu pria pun yang boleh mempermainkanmu, hingga kelak kami yang memutuskan pria yang mana yang cocok denganmu, kamu jangan mencoba membantah kami jika masih menginginkan kuliahmu berlanjut atau kamu mau aku bilang dengan kak Andi agar menghukummu tidak boleh keluar"

" Ah kak Ando! Jahat tidak seperti kak Andra yang selalu mengerti denganku, kak Andi dengan kak Ando Terlalu mengekangku," ucap Kikan yang buru-buru berlari masuk ke dalam meluapkan kesedihan nya, memeluk tubuh Andra yang baru selesai mengenakan pakaiannya itu.

Andi kakak Kikan yang tertua dan Ando, kakak Kikan no dua sementara Andra, kakak Kikan no tiga. Kikan lebih dekat dengan Andra Karena cara Andra dalam menjaga Kikan berbeda.

Andra sering menghibur Kikan jika Kikan sedih, bagi Kikan Andra bagai seorang ibu yang bisa membuat hatinya tenang.

" Kamu kenapa dek" tanya Andra yang melepas pelukan Kikan dan menatap wajah Kikan.

" Kikan sudah dewasa Kak! Kinkan pengen punya kawan cowok seperti kawan Kikan yang lain kak! Kenapa Kikan masih diperlakukan anak kecil terus?" tanya Kikan meluapkan kesedihannya, dan kembali memeluk Andra menenangkan dirinya di pelukan Andra.

" Oh, jadi adik Kakak ini sudah merasa dewasa sekarang!" sahut Andra menggoda dan mencubit pipi Kikan yang membuat Kikan sedikit melempar senyum ke arah Andra.

" Sana makan dulu! Itu bibi masakin makanan kesukaanmu tuh jangan mikir cowok terus sekolah yang benar nanti tiba masa nya juga kamu akan mendapatkan jodoh. Apalagi adik kakak ini sosok gadis yang cantik untung saja ini Kikan adik kakak, jika tidak sudah kakak pacari ni Kikan." sahut Andra, menggoda Kikan hingga Kikan merasa tenang, sementara kedua kakaknya itu hanya menatap tingkah Andra dan Kikan, seolah mereka sangat paham jika Kikan ada masalah dia selalu berlari ke Andra. dibandingkan ke Andi dan ando yang menurutnya terlalu berlebihan dalam mengawasi dan menjaga Kikan.

" Ah kakak mah, sama saja dengan kak Andi dan kak Ando. Kikan malas lebih baik Kikan makan," ucap Kikan dengan menjulurkan lidahnya seolah mengejek ke arah Andra yang duduk di ruang santai bersama Andi dan Ando. membuat mereka hanya tersenyum melihat gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan cantik.

Bab 3

Bab 3

Mengungkapkan jati diri

Seperti biasa kampus akan heboh jika kedatangan Kikan, apalagi jika Kikan diantar oleh tiga cowok yang berbadan kekar, cool. Ah menggoda kata perfek pas untuk ketiga kakak Kikan, yang terkenal amat gagah dan berwibawa wajar jika para cewek kampus banyak melirik ketiga kakak nya Kikan.

"Hai Kin! Kapan dong kamu kenalkan aku dengan kakakmu kak Andi yang Ando, juga tidak apa!" sahut sahabat Kikan yang langsung menghampiri Kikan yang baru sampai di parkiran kampus, melihat ke arah tiga cowok yang masih menatap adiknya hingga masuk ke dalam kelas itu.

Mereka selalu memastikan adiknya aman sampai dalam kelas.

" Kamu seperti bidadari yang dikelilingi cowok-cowok tampan. Ah ... nasibmu bagus sekali sih Kin!" sahut Nita sahabat Kikan yang sangat mengidolakan kakak Kikan. Mereka bersahabat sejak lama hingga kini tapi kedekatan kedua hanya batas dalam kampus saja karena Kikan tidak diberi kebebasan dengan sang kakaknya.

" Bagus apaan, hidupku bak di neraka" balas Kikan menatap ke arah Nita. yang membuat Nita hanya terdiam ke arah Kikan. Bagaimana bisa seorang gadis hanya boleh pergi jika ke kampus saja.

Kikan yang sudah masuk kedalam kelas itu dia menatap seorang cowok yang tengah duduk di kursinya selama ini tidak ada satu pria atau yang lainnya berani menduduki kursi Kikan, dengan tatapan kemarahan Kikan berdiri di sebelah Rio, yang terdiam menatap kedatangannya.

Bagaimana bisa dia tidak takut duduk di kursiku! Apa mereka tidak berkata tentang aku? Atau karena dia murid baru yang belum mengenalku. Seakan tidak ada tanggapan dari Rio yang melihat aku berdiri di sampingnya.

"Maaf, disini kursiku! Apa kamu bisa pindah dari situ?"

" Kamu bicara denganku?" sahut Rio dengan gaya melirik kiri kanan belakang lalu menunjuk dirinya sendiri "Di kursi ini tidak ada namamu?" tanya Rio.

" Udah Rio, jangan nyari gara-gara dengan nya nanti kakaknya bikin keonaran di kampus," bisik Toni yang masih sahabat Rio.

" Kamu anak baru sudah belagu," ucap Kikan dengan jengkel menatap ke arah Rio, yang masih memilih duduk dan tidak beranjak dari kursi itu.

" Kalau bukan karena aku 10 tahun kemarin kamu tidak akan seperti ini! Entah apa yang terjadi denganmu kalau aku tidak menolongmu dari anak-anak nakal itu," ucap Rio memandang Kikan, lalu memilih pindah ke kursi lain.

" Apa maksudmu kamu?" ucap Kikan yang mengingat 10 tahun silam saat dia diganggu beberapa anak nakal saat menunggu kakaknya menjemputnya.

" Apa ha, kenapa? Kamu ingin bilang iya aku ingat makasih! Gitu, maaf. Aku tidak menerima ucapan makasih lagi," ucap Rio seperti anak kecil yang tengah mengejek sahabat nya. Kikan pun berlari ke arah Rio memeluk Rio.

"Akhirnya ku menemukanmu!" ucap Kikan, dengan sangat senang ditambah senyum bahagia terpancar dari wajah cantiknya memeluk Rio. Seseorang yang di tunggu-tunggunya dari dulu sosok pria yang selalu menemani mimpinya, pahlawan kecil baginya itu.

" Ah aku kecewa denganmu Kikan! Kamu bisa melupakan superhero mu waktu kecil aku. Ahh ...." Ledek Rio melempar wajah lesu, seakan sedang membuat Kikan merasa bersalah.

" Maaf! dulu kamu tuh gendut, hitam, pendek. Apa lagi ya! Ingusan," ucap Kikan melempar canda, yang dibalas senyum tipis dari wajah Rio yang kini memandang sosok wajah yang anggun berdiri di hadapannya.

" Oh ya! Bagaimana dengan dirimu, cengeng. Apa-apa main ngadu dikit-dikit kakak, dikit-dikit kakak lagi. Apa tidak bisa kamu berubah gitu, pergi kuliah diantar pulang dijemput ada cowok mendekat masuk rumah sakit! Bilang tu dengan kakakmu wajahmu dioperasi bikin jelek, kayak apa gitu ya! Terserah lah, yang jelas buat sejelek-jelek nya agar jangan ada pria yang menyukaimu, dan kalau tidak nih suruh kakak mu untuk mengurungmu di rumah saja agar jangan ada cowok yang jadi korban wajah cantikmu," ucap Rio, mengungkapkan apa yang dikatakan para sahabat nya tadi sebelum jadwal kuliah dimulai.

" Ah, kamu bisa-bisanya protes denganku, kalau berani tuh dengan tiga " A" ucap Kikan, yang masih belum bisa melepas tatapannya dari wajah Rio, seakan tidak percaya sosok yang pernah menolongnya dulu tumbuh menjadi pria yang tampan.

" Tiga A maksudnya?" tanya Rio heran terhadap Kikan.

" Tiga A itu,( Andi, Ando dan Andra) ucap Kikan dengan melepas tawa yang di balas dengan tawa Rio.

" Maafkan aku Rio, sudah tidak mengenali mu tadi"

Rasa bersalah timbul di hati Kikan, karena tidak mengenali sosok yang pernah ditemui 10 silam lalu yang membuat Kikan selalu terngiang akan masa kecilnya itu.

"Boleh, dengan satu syarat, nanti sehabis kuliah izinkan aku yang mengantarmu pulang, aku ingin membawamu jalan ke suatu tempat,"

" Kamu mau mati Rio? Ah ... kakakku tidak akan membiarkan aku jalan dengan cowok mana pun apalagi kamu sukur- sukur kakak tidak lagi mengikuti sampai kelas biasanya dia duduk di sebelahku sampai kelas habis. Apalagi jika dia lihat aku dekat atau ngobrol dengan cowok. habis riwayatmu Rio! Apa kamu sudah ingin mati?" tanya Kikan yang takut akan kakaknya, yang selalu marah jika tahu seseorang tengah mendekatinya, memandang Rio yang kini duduk disebelahnya, hari ini sukses Rio bisa menciptakan pelangi di wajah Kikan, yang terlihat selalu tegang dan tidak memiliki gairah untuk menjalani hari bahagia.

"Jika matinya denganmu, aku mau?" gumam Rio yang seakan ingin menghibur Kikan dengan rayuan recehnya, yang membuat Kikan menatap sinis ke arah Rio. Merasa apa yang dikatakan Rio itu hal basi. Jika langsung berhadapan dengan sang kakak nya juga ujungnya kabur belum melawan dengan menatap tiga A itu saja mereka seperti akan kencing berdiri, akibat rasa takutnya. Bagaimana bisa seorang Rio, orang yang baru dia kenal lagi berani berkata seperti itu seolah dia memiliki nyawa cadangan dengan menantang tiga A.

" Ah ... kamu gila! Apa kabar kamu kemana saja selama ini! Waktu itu aku mencarimu untuk mengucapkan terimakasih tapi aku lihat kamu sudah dijemput, "

" Aku selalu ada di hatimu!" Rayu Rio, lagi ingin melakukan pendekatan Kikan, yang kini duduk disebelah Rio merasa sedikit bahagia dan bersemangat mengikuti kelas, dan sesekali kikan melirik Rio yang tengah serius menghayati materi yang diberikan oleh sang dosen.

Selain fokus untuk misinya balas dendam, Rio juga merupakan mahasiswa yang pintar, potensi untuk menjadi seorang pemimpin tentu terlihat dari postur Rio. Kelas pun usai, Rio menarik tangan Kikan hendak keluar.

" Jangan Rio, aku tidak ingin kakakku memukulmu! Atau menjauhkanku denganmu, please!" ucap Kikan. yang memainkan kedua tangannya.

"Kita bisa bertemu lagi besok aku senang sudah mengenalmu! nanti jika saatnya aku akan memperkenalkanmu kepadanya!" tambah Kikan berjalan meninggalkan Rio.

" Ah, mungkin ini belum waktunya membuat Kikan jatuh hati denganku, jika saat itu tiba akan aku pasti kan kakakmu mati di tanganku. Kini dia harus mendapat hukuman setimpal dengan apa yang telah dia buat dengan kakakku" batin Rio dalam hatinya yang keluar dari kelas memandangi kakak Kikan datang menjemput Kikan. Yang masuk kedalam mobil sang kakak menatap tajam dengan rasa kebencian ke arah mereka.

" Kamu kenapa Rio? kamu suka dengan Kikan, jangan deh jika kamu mau aku bisa menolongmu mencari gadis yang jauh lebih cantik daripada Kikan, tapi jangan Kikan. Tidak ada satu pria pun di kampus ini yang berani mendekati Kikan bahkan jika kedapatan ngobrol sekalipun dengan Kikan. Akan dapat serangan dugem mentah dari kakak nya nyerah deh," ucap Toni yang melihat Rio begitu serius menatap Kikan. Hingga mobil Kikan berjalan di kejauhan.

" Oh ya! Terimakasih ide nya. tapi aku cuman menginginkannya! Apa kamu berniat menolongku!" ucap Rio yang kembali menatap Toni.

" Aku masih ingin lanjut kuliah dengan tenang, maaf ya bro aku belum ada niat masuk rumah sakit aku ingin fokus, fokus ...." ucap Toni seraya berjalan dengan menunjukkan dua tangan nya ke mata nya lalu membuangnya ke arah Rio. " fokus" sahut Toni lagi dengan berjalan mundur hingga toni pun pergi meninggalkan Rio.

Rio hanya melemparkan senyum dengan kekonyolan sahabatnya yang tidak ingin Rio mendekati Kikan.

" Ah, aku tidak akan mundur Kikan, sampai kamu benar- benar jatuh cinta denganku" ucap Rio yang memilih pergi ke makam sang kakak.

"Kak! Rio janji akan segera membalas dendam kakak, akan Rio buat mereka kehilangan adik mereka untuk selamanya, aku akan menghancurkan mereka satu-persatu kak! Kakak yang tenang ya! Aku tidak akan membiarkan mereka bebas dan bahagia kak" ucap Rio yang menangis nisan sang kakak

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED