Seorang perempuan muda sedang menatap dirinya didepan cermin. Gaun putih dan indah melekat sempurna pada tubuh rampingnya. Beberapa jepit rambut menghiasi rambut coklat nya. Begitu juga dengan anting, kalung dan gelang yang ikut menghiasi kulit mulusnya. Perempuan itu benar-benar cantik, mungkinkah dia titisan Dewi Aphrodite?
Namun anehnya, bulir-bulir bening keluar dari pelupuk matanya, membasahi pipi yang sudah dipoles bedak dengan baik. Seperti pernikahan pada umumnya, semua orang pasti bahagia pada hari pernikahannya. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan perempuan yang masih saja menatap dirinya di cermin seraya menangis, seakan-akan nasib buruk selalu menimpanya.
"Ayo cepat turun, tidak usah menangis segala! Kau pikir dengan begitu aku kasihan padamu? Tentu saja tidak! Aku tidak peduli sama sekali dengan hari-hari yang akan kau jalani setelah pernikahan ini. Sekarang kau harus turun, karena semua orang sudah menunggu. Jangan mengulur-ulur waktu, aku bisa saja menghabisi orang yang kau sayangi detik ini juga."
Ancam seorang wanita paruh baya. Ternyata, perempuan muda itu akan menikah dengan pria tak ia kenal sama sekali. Pantas saja sedari tadi ia menangis menahan sesuatu.
"Iya bu."
Dia menyeka air matanya pelan, takut jika makeup nya akan luntur.
"Tidak usah panggil aku ibu, karena aku bukanlah ibumu. Karena setelah hari ini kita tidak akan bertemu lagi. Jadi untuk seterusnya, nikmati saja hari-harimu bersama pria lumpuh tak berguna itu."
Satu lagi kenyataan pahit harus perempuan itu terima. Ia tidak menyangka akan menikahi seorang pria lumpuh. Sebenarnya itu bukanlah masalah besar, tetapi belum pernah terpikirkan olehnya akan menikahi pria cacat.
Perempuan itu keluar dari ruang rias. Ia berjalan gontai, tak ada senyum yang terpancar dari bibir ranumnya, hanya tatapan kosong yang tak memiliki arti.
Disana ia sudah ditunggu oleh semua orang, terutama sang ayah dan ibu yang menatap tajam pada nya. Sekilas perempuan itu menghela nafas, rasanya dia ingin kabur dari tempat ini tapi bagaimana caranya? Penjagaan nya sangat ketat, setiap sisi ruangan ini berdiri para bodyguard dan di setiap sudut terdapat kamera pengawas.
Meskipun terkesan sederhana, tapi dilihat dari dekorasinya sudah dapat dipastikan bahwa harga yang dikeluarkan untuk pernikahan ini mencapai milyaran rupiah.
Perempuan itu berjalan menuju altar. Disana ada seorang pria tengah duduk di kursi roda dengan memakai Tuxedo putih lengkap dengan jam tangan dan kacamata hitam nya. Tidak perlu munafik, pria itu benar-benar tampan! Dia bersinar layaknya Dewa Apollo.
Bel gereja berbunyi, pertanda bahwa sudah waktunya dua insan dipersatukan. Setelah prosesi, penyalaan lilin, doa pembuka dan firman Tuhan, pendeta mulai memberkati kedua mempelai dan berkata,
"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya."
"Alfian De Grazino, Maukah engkau menikah dengan Rahel Martinique dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka?"
Pria itu enggan menjawab, namun sedetik kemudian ia menyahut.
"Ya saya mau."
Kemudian pendeta bertanya lagi pada mempelai perempuan.
"Rahel Martinique, bersediakah saudara menikah dengan Alfian De Grazino dan mencintainya seumur hidup baik dalam keadaan suka dan duka?"
"Ya saya bersedia."
Selanjutnya pendeta mempersilahkan kedua mempelai untuk mengucapkan janji suci, dimulai dari mempelai pria.
"Saya Alfian De Grazino mengambil engkau Rachel Martinique menjadi istri saya untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."
Dari cara bicara pria itu, seperti nya ia terpaksa mengucapkan nya. Namun bukan itu yang penting, ia lelah dengan ini semua, ia malu berada di antara banyak orang dalam keadaan fisik yang tidak sempurna.
Giliran sang mempelai wanita untuk mengucapkan janji suci, ia sedikit gugup dan mulai memberanikan diri.
"Di hadapan imam dan para saksi, Saya Rahel Martinique menyatakan dengan tulus dan ikhlas, bahwa Alfian De Grazino mulai sekarang ini menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci ini.”
Perempuan itu berhasil mengucapkan janji nya dengan lancar dan baik, tanpa kekurangan satupun.
Perlu diketahui, tak sedetikpun pria itu melirik ke arah pengantin wanita, padahal mereka sedang mengucapkan janji suci pernikahan. Ia hanya menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi. Hal ini membuat perempuan itu semakin merasa terbuang dan malu karena tak pernah dianggap, ia selalu dijadikan korban oleh keluarganya.
Lalu pendeta mengangkat tangannya ke atas kepala kedua mempelai.
"Demikiah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Setelah pendeta mengatakan itu mereka pun saling memasangkan cincin antara satu sama lain.
Acara pernikahan sudah selesai, pengantin yang tidak saling mengenal itu segera meninggalkan gereja yang menjadi saksi bahwa mereka telah bersatu oleh karena kasih dan telah sah menjadi sepasang suami-istri. Mungkin bukan karena kasih, lebih tepatnya akibat keterpaksaan.
Tidak ada acara makan-makan ataupun sekedar memberi ucapan selamat. Semua orang langsung pula ke kediamannya masing-masing, begitu juga dengan kedua orang tua perempuan itu yang meninggalkan gereja tanpa mengucapkan salam perpisahan. Lagi dan lagi perempuan itu merasa hidupnya tak berharga di mata siapapun. Namun ia selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi semua orang.
Perempuan itu berjalan mengikuti dua pria bertubuh kekar, yang satu suaminya dan satu lagi ia tidak tahu siapa. Mungkin sekretaris pribadi suaminya.
"Maaf nona, anda tidak bisa satu mobil dengan Tuan muda."
Pungkas sekretaris suaminya ketika melihat Rachel ingin masuk ke dalam mobil yang sama dengan suaminya.
"Kenapa?" Rachel menaikkan satu alisnya.
"Maaf nona, tapi Tuan muda tidak ingin satu mobil dengan siapapun, termasuk anda." Perempuan itu terdiam mendengar tuturan dari pria yang berdiri dihadapannya ini. Suaminya saja menolak kehadirannya apalagi keluarga besar nya.
"Lalu bagaimana denganku? Haruskah aku pulang ke rumah orang tuaku?"
"Tidak nona, nanti akan ada bodyguard yang menjemput anda untuk pergi ke mansion Tuan muda."
"Oh, baiklah kalau begitu."
Mengangguk-angguk mengiyakan perkataan sang sekretaris
"Permisi nona."
Sekretaris itu pamit undur diri untuk mengantar Tuan mudanya kembali ke mansion. Saat hendak masuk ke dalam mobil, ia dicegah oleh nona mudanya.
"Eits, kau mau kemana?" Tanya perempuan itu
"Saya ingin mengantar Tuan muda kembali ke mansion nona."
"Bukankah kau tadi bilang kalau dia tidak ingin satu mobil dengan siapapun?"
Sekretaris itu hanya mengangguk, bingung dengan maksud perkataan nona muda nya.
"Lantas mengapa kau berpikir untuk mengantar nya, jika dia sendiri tidak ingin satu mobil dengan siapapun. Biarkan saja dia mengendarai mobil itu sendirian." Ucap perempuan itu sedikit meninggikan nada bicaranya agar didengar oleh suaminya yang sudah berada di dalam mobil.
"Nona muda tolong jaga ucapan anda! Jangan karena anda istri Tuan muda dan nona dari keluarga Grazino anda boleh berbicara seenaknya pada Tuan muda kami."
"Memangnya ucapan ku ada yang salah? Kan kau sendiri yang bilang begitu."
Perempuan itu memasang wajah polos, ia hanya mengatakan pendapat nya meskipun sedikit menyindir sang pemilik mobil.
Tiba-tiba datang mobil berwarna biru bermerek Lamborghini Aventador. Beberapa pria berbaju hitam keluar dari mobil dan langsung menghampirinya.
"Salam nona muda, selamat atas pernikahan nya." Ucap mereka sembari membungkukkan badan.
"Terimakasih banyak." Balas perempuan itu.
"Nona anda akan pulang bersama mereka, dan Tuan muda akan pulang bersama saya." Sebelum masuk ke mobil ia juga membungkuk hormat.
"Silahkan masuk nona muda." Ajak seorang pria paruh baya
"Iya paman."
Perempuan itu tersenyum hangat, baru kali ini ia diperlakukan secara terhormat. Biasanya ia selalu dianggap remeh seperti remahan rengginang.
Salah satu bodyguard membukakan pintu mobil untuk nona mudanya. Saat diperjalanan, perempuan itu menatap ke arah jendela menikmati pemandangan malam yang disuguhkan kota itu. Sungguh ciptaan Tuhan adalah yang terbaik, benar-benar mahakarya yang pantas diabadikan. Perempuan itu mengambil handphone nya lalu mengambil beberapa gambar. Kemudian, ia kembali merebahkan badannya di kursi mobil seraya memejamkan mata. Ia merenungi takdir yang diberikan Tuhan, memang pilihan Tuhan pasti yang terbaik tapi ia masih tidak menyangka akan menikah di usia 22 tahun dan menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Rachel Martinique atau biasa dipanggil dengan sebutan El. Baru dua bulan yang lalu ia menyelesaikan strata satu nya di fakultas kedokteran spesialis bedah. Di usianya yang terbilang cukup muda yaitu 22 tahun, ia mampu menjadi lulusan terbaik di kampus ternama berkat kegigihan dan otak cerdasnya.
Beberapa teman kampusnya ada yang menyarankan supaya Rachel menjadi pengacara atau jaksa penuntut umum saja. Itu dikarenakan rachel pandai bersilat lidah dan mampu membungkam mulut lawannya. Namun Rachel menolak karena masuk dunia hukum bukanlah impiannya, bahkan ia selalu berusaha menjauhi yang namanya hukum ataupun politik.
Rachel tetap pada pendiriannya, menjadi seorang dokter adalah cita-citanya. Saat selesai kuliah, Rachel langsung ditawarkan untuk bekerja di salah satu rumah sakit negeri. Pada waktu itu ia sangat senang, namun semuanya harus sirna lantaran ia dipaksa menikahi pria lumpuh demi melunasi hutang keluarganya.
Rachel diancam, jika dia sampai menolak maka orang-orang yang dia sayangi akan terluka bahkan bisa pergi dari dunia ini. Kejam memang, sampai Rachel pernah berpikir jika dia bukanlah anak kandung kedua orangtuanya.
Rachel selalu diperlakukan tidak adil, dicaci-maki, dan selalu disalahkan atas kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Selama 22 tahun dia hidup tidak sekalipun ia mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Untuk menyelesaikan pendidikannya saja ia harus bekerja paruh waktu, karena orang tuanya angkat tangan atas segala sesuatu yang ia jalani. Padahal keluarga mereka termasuk dalam kategori kalangan atas. Tetapi Rahel harus menanggung penderitaan akibat keserakahan kedua orangtuanya.
Rachel adalah perempuan yang sangat cantik, ia memiliki mata berwarna biru yang dapat memikat kaum adam saat melihatnya. Pipinya yang chubby sungguh menggemaskan, terlebih lagi ukuran tubuhnya yang terbilang mungil menambah kesan imut.
Di kampus ia menjadi salah satu primadona yang dikagumi oleh banyak orang termasuk para dosen muda. Namun hebatnya dia tidak pernah mau menjalin hubungan dengan siapapun, dan parahnya ia tidak pernah dirumorkan dekat dengan pria manapun.
Rahel hanya fokus untuk menyelesaikan pendidikan lalu menggapai mimpi yang ia dambakan selama ini agar ia bisa lolos dari siksaan orang tuanya.
Namun takdir harus berkata lain, Rachel yang notabenenya tidak pernah pacaran sama sekali harus menikah di usia muda.
Karena terlalu lama melamun, Rachel sampai tidak sadar saat mobil yang membawanya berhenti di sebuah bangunan besar nan megah. Mansion itu didesain dengan gaya kebarat-baratan, layaknya kerajaan Eropa. Mansion tersebut berdiri kokoh, suasana disana sangatlah sejuk seperti di pegunungan.
Rachel melihat sudah banyak pelayan berdiri rapi dan berjejeran di sepanjang halaman mansion. "Selamat datang nona muda." Sapa para pelayan serentak. Rachel tersenyum lalu sedikit membungkukkan badannya hormat kepada mereka yang lebih tua.
"Mari nona saya antar ke kamar anda. Tuan muda sudah menunggu." Ajak seorang pria, ia adalah orang yang cekcok dengan Rachel tadi hanya karena perihal mobil
"Iya." Rachel mengikuti langkah kaki pria di depannya. Rachel tak henti-hentinya kagum melihat interior mewah kediaman suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut mansion itu, luas mansion ini empat kali lebih besar dari istana negara.
Rachel membuka mulutnya sendiri, ia masih terkejut dengan apa yang ia lihat. Sebenarnya sekaya apa suaminya itu? Rachel jadi merinding sekaligus penasaran.
Akhirnya mereka sampai di depan kamar suaminya. "Silahkan masuk nona muda."
"Iya, terimakasih sekretaris tralala trilili." Kata Rachel.
"Panggil saja Alex nona." Ujar sekretaris yang bernama Alex itu.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Rachel sudah menaruh kedua tangannya di pinggang, lalu mengangkat dagunya seperti orang mengajak tanding.
"Lebih baik anda memanggil saya dengan apa yang saya ucapkan barusan."
"Memangnya kau mengucapkan apa?" Rachel mendadak amnesia.
"Nona." Alex mundur dua langkah dan mengangkat tangannya ke udara.
"Apa? Kau mau apa?"
"Sebaiknya anda segera masuk, jika tidak ingin melihat Tuan muda mengamuk."
"Dasar sekretaris aneh yang ditanya apa yang dijawab apa." Rachel melangkahkan kakinya memasuki kamar sang suami. Namun sebelum membuka pintu kamar ia berucap, "Terserah ku ingin memanggil mu apa, mulut ini punya ku bukan punyamu jadi kau tidak berhak untuk mengaturku, sekian." Kata terakhir yang dilontarkan Rachel seakan-akan menjadi penegasan bahwa ia takkan merubah panggilan nya pada Alex.
Rachel masuk ke dalam kamar suaminya.
Lagi-lagi dia dibuat terpesona saat melihat kemewahan dan keeleganan kamar itu. Benar-benar menakjubkan, ia sampai tak berkedip.
"Bisa-bisa kau jadi patung karena berdiri disitu. Apa kau mau aku jadikan pajangan di museum, supaya semua orang dapat melihat betapa jeleknya wajahmu itu." Baru saja mereka berbicara tapi Alfian sudah melontarkan kata-kata yang membuat hati Rachel sakit.
Rachel tetap diam dan tak menjawab sepatah katapun. "Cepat baca." Alfian melempar sebuah map tepat di wajah Rahel
Selesai membaca seluruh isi map itu, mata Rachel membulat sempurna. Di kertas itu tertulis jelas surat perjanjian pernikahan antara keduanya.
"Apa maksud dari ini semua Tuan?"
"Kau tidak bisa membaca atau pura-pura tidak tahu. Pakailah otakmu itu agar kau dapat memahami dan mengambil kesimpulan saat kau selesai membaca berkasnya." Sindir Alfian, ia tidak tahu setajam apa mulut perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Namun Rachel memilih diam karena malas berdebat, ia ingin cepat tidur dan rebahan di kasur. Badannya sudah pegal, tak ada tenaga untuk meladeni ucapan suaminya.
"Oh saya tau sekarang, anda mau saya jadi pembantu berkedok istri kan?"
"Aku tidak peduli kau mau menganggap dirimu itu apa. Yang jelas itu bukan urusan ku. Tugas mu adalah merawat dan mengikuti semua kemauan ku."
"Iya iblis." Gumam Rachel
"Apa? Kau berani mengatai ku, dasar perempuan tak tahu untung!"
"Memangnya saya bilang apa Tuan?" Bukannya menjawab, Rachel malah balik bertanya.
"Jangan Berpura-pura bodoh, barusan kau mengatai ku iblis kan!" Pekik Alfian sembari menatap tajam ke arah Rachel. Namun Rachel tak peduli, ia bahkan menjawab perkataan Alfian dengan santai seakan tak ada beban. "Kalau anda merasa ya sudah. Itu masalah anda bukan masalah saya."
Rachel pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket, sekaligus menghapus make up yang menghiasi wajahnya. Rachel tak peduli reaksi Alfian setelah ia berkata demikian.
Matahari bersinar terang membangunkan seorang perempuan yang tertidur lelap. Rachel tidur di sofa yang ada di kamar itu, sedangkan suami lumpuhnya berbaring nyaman di kasur king size.
Rachel menatap suaminya lekat. Pria itu memiliki garis wajah yang bagus, begitu pula postur tubuhnya indah bagaikan pemanah handal dalam sebuah dongeng, tepatnya Robin hood. Alfian hampir mendekati kata sempurna, roti sobek yang jumlahnya delapan membuat wanita manapun tergiur. Meskipun dia jahat dan lumpuh, hal itu tak mengurangi kadar ketampanan nya. Tuhan benar-benar luar biasa, menciptakan orang lumpuh dengan paras yang amat menawan.
Dan jujur saja, Alfian adalah pria tertampan yang pernah Rachel temui dalam hidupnya.
Namun rasa kagum itu berubah menjadi rasa kesal. Rachel tersenyum kecut saat mengingat perlakuan suaminya semalam.
Seharusnya malam penganti mereka menjadi malam yang penuh kenangan dan takkan terlupakan, namun semua itu hanyalah angan-angan yang tidak akan pernah terjadi, jangankan malam pertama sekedar kecupan saja tidak ada, hanya bentakan dan tuduhan tidak benarlah yang diberikan Alfian pada Rachel.
Rachel tidak berharap lebih karena pada dasarnya pernikahan mereka terjadi akibat keterpaksaan dan tuntutan dari keluarga.
Rachel melipat selimut dan merapikan semuanya. Tak lupa ia juga menyiapkan baju ganti untuk suaminya, serta air hangat saat mandi. Rachel melakukan itu semua sesuai surat perjanjian yang ia tandatangani.
Sama seperti keluarganya, Rachel juga tidak diterima kehadirannya oleh sang suami.
Rachel bergegas keluar kamar, ia harus segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Selamat pagi nona muda." Sapa Alex
"Pagi juga sekretaris tralala trilili." Tukas Rachel dengan wajah khas baru bangun tidur
"Jangan memanggil saya dengan sebutan aneh nona, cukup panggil nama saja." Ungkap Alex merasa tak nyaman dipanggil begitu.
Baru kali ini ada orang yang berani memanggil nya dengan tidak menggunakan nama aslinya.
"Semalam kan aku sudah bilang, terserah ku ingin memanggil mu apa. Memangnya ada masalah?" Sanggah Rachel.
Jika diperhatikan semenjak kemarin mereka memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Mulai dari masalah jemputan atau mobil dan panggilan nama, setelah ini hal gila apalagi yang akan mereka perdebatkan.
"Nona, ada tujuan apa anda kemari?"
Alex tidak menghiraukan perkataan nona mudanya, ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal lain.
"Aku bukan mau kesini, tapi ke dapur."
Rachel tahu bahwa Alex sudah mati kamus, oleh sebab itu ia malah balik bertanya. Lagipula siapa yang bisa menang berdebat jika lawannya saja seorang Rachel, yang tak kenal kata diam ataupun kalah.
"Dimana dapur nya? Tunjukkan padaku. Aku mau memasak untuk Tuan singa mu."
"Maaf nona muda, sebaiknya anda tidak usah menyiapkan sarapan untuk Tuan, karena Tuan muda pasti tak akan memakannya, meskipun hanya sesuap."
Alex merasa tak nyaman mengucapkan hal itu, bagaimana jika nanti nona mudanya tersinggung? Pasti akan lebih rumit, pihak satu tidak ingin kata-kata nya dibantah yang satu lagi tak mau kalah.
"Aku akan tetap memasak, kau tinggal tunjukkan saja padaku letak dapur nya. Aku tidak menyuruh mu untuk memasak, apa susah nya?"
Rachel merasa aneh dengan Alex, memang nya salah jika ia memasak? Namun Rachel malah dibuat penasaran perihal Alfian yang tidak mau sarapan. Makhluk macam apa yang tidak mau makan, apakah otaknya masih berfungsi?
"Hei manusia, cepat beritahu aku dimana dapurnya. Kakiku bisa lumutan karena berdiri terlalu lama. Lagipula kenapa dia tidak mau sarapan, dia harus makan supaya dapat asupan energi. Gimana mau sembuh, jika makan saja tidak mau?" Ucap Rachel kesal.
Bukan karena peduli atau ada niat terselebung, tapi jika suaminya ada usaha untuk sembuh maka ia bisa lari dari pernikahan ini.
Alex menghela nafas pelan, nona mudanya bersikukuh untuk terus memasak. Jujur saja, Alex tidak yakin bisa menang adu mulut dari nona mudanya. Karena dari yang Alex perhatikan, menghadapi nona mudanya lebih-lebih seperti orang yang sedang beradu argumen di persidangan. Seakan-akan perkataan Rachel adalah mutlak dan tidak bisa dibantah oleh siapapun.
"Baiklah nona, silahkan ikuti saya."
"Nah gitu dong, coba dari tadi kau memberitahu letak dapurnya, pasti aku sudah selesai memasak sekarang."
Alex mencoba bersabar, ia mengelus dadanya pelan. Baru kali ini ada orang yang berani menguji kesabaran nya, jika Rachel bukan nona mudanya sudah dapat dipastikan kepala Rachel lepas dari tubuhnya. Begitulah Alex, dikenal sebagai orang berdarah dingin dan tak pernah main-main dengan ucapannya. Ia selalu berdiri tegap di belakang Tuan mudanya, bahkan saat Alfian lumpuh pun Alex tetap berada di sisi Alfian dan membantu ia disaat-saat sulit.
Sesampainya di dapur, Rachel melihat para pelayan sudah melakukan tugas merekamasing-masing, bahkan dari antara mereka ada yang terlihat sibuk memotong sayur dan bahan makanan lainnya. Rachel sedikit bingung, sebab mereka memasak makanan dengan jumlah yang terbilang banyak. Entah untuk siapa mereka memasak, tetapi yang jelas penghuni mansion itu hanya suami beserta sekretarisnya. Rachel yakin, kedua makhluk itupun takkan sanggup menghabiskan semua makanan lezat itu.
"Selamat pagi nona muda." Sapa mereka bersamaan menyambut kedatangan istri dari Tuan mereka.
"Pagi juga semuanya."
Senyuman terukir di bibir ranum Rachel. Ia memang mudah akrab dengan semua orang dan tipikal friendly.
"Bu Lin, nona muda ingin memasak. Cepat siapkan peralatan dan bahan-bahan nya. Jangan sampai ada ketinggalan dan pastinya tetap awasi nona muda. Jika terjadi sesuatu pada nona, aku pastikan kau menanggung akibatnya dan menyesal karena telah lalai."
"Baik sekretaris Alex."
"Sudahlah, tidak perlu mengawasi ku. Lagipula aku takkan meledakkan bom di tempat ini. Jangan khawatir, aku masih waras. Aku juga bukan anak kecil yang harus diawasi untuk melakukan setiap hal. Aku akan memasak sendiri, dan biarkan mereka melanjutkan dan menyelesaikan tugas mereka. Jangan membebani mereka, dasar sekretaris aneh. Sebaiknya kamu urus pekerjaan mu saja."
"Mendisiplinkan mereka juga salah satu pekerjaan saya nona. Saya harap anda mengerti."
"Meskipun tampilan ku kampungan, aku masih bisa memahami maksud perkataan mu." Timpal Rachel
"Bagus jika anda mengerti, jadi saya tidak harus mengatakannya dua kali."
"Hei manusia gila binti aneh, mereka ini sedang melakukan tugasnya masing-masing, dan aku rasa mereka sudah cukup disiplin. Tidakkah matamu melihat bahwa mereka telah menyiapkan sarapan? Kurang disiplin apalagi? Aku rasa kehadiran mu disini hanya membuat mereka tertekan batin. Maka dari itu pergilah, jangan menambah beban pikiran mereka. Kalau kau hidup untuk menyusahkan orang lain, lebih baik mati tidak usah hidup."
Rachel berbicara dengan telak membuat alex dan semua bodyguard, beserta para maid terdiam membeku. Ini adalah kali pertama ada orang yang membuat Alex mati kamus dan tidak sanggup menjawab meski hanya sepatah dua kata. Haruskah mereka memberikan nona mudanya piala Oscar, sebagai tanda perempuan paling berani sedunia. Para maid yang berada disana menatap kagum ke arah Rachel, ingin rasanya mereka berteriak seraya mengucapkan selamat kepada Rachel.
Akhirnya Alex menyerah dan membiarkan nona muda nya melakukan apapun di dapur.
Berbeda lagi halnya dengan seorang pria yang baru saja bangun dan sedang duduk untuk mengumpulkan nyawa nya. Bangun dari mimpi dan maju menghadapi kenyataan.
Alfian melirik ke arah ujung kasur, disana sudah tersedia baju gantinya.
"Perempuan bodoh itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik."
Alfian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Ia mengambil tongkat nya agar dapat menggapai kursi roda miliknya yang jaraknya tak jauh dari kasur.
"Arghh kenapa sulit sekali?" Pekik Alfian kesakitan saat kakinya digerakkan.
Sementara tangannya ingin meraih kursi roda itu, namun karena tak sanggup menahan ia terjatuh.
Rachel yang mendengar suara keras, segera lari ke kamar. Dan benar saja, disana ia sudah melihat Alfian yang tergeletak di lantai. Rachel meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja, lalu ia meraih tubuh sang suami.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rachel khawatir
"Lepas, jangan sentuh aku." Alfian mendorong tubuh Rachel dengan kasar. Ia menatap benci perempuan itu. Bukannya sedih atau sakit hati, Rachel malah menggeleng tak percaya melihat kesombongan suaminya. Sudah lumpuh juga tapi merasa sok kuat. Tidakkah harusnya dia bersyukur karena masih ada orang yang peduli padanya?
Rachel berdiri menatap sang suami yang masih berada di lantai. Ia ingin lihat seberapa mampu suaminya ini mencapai kursi roda tanpa ada yang membantu. Sementara itu Alfian masih berusaha meraih kursi rodanya, tapi tidak kesampaian juga.
"Tuan, saya tanya sekali lagi. Apa anda yakin bisa menggapai kursi rodanya atau perlukah saya bantu?"
Rachel menawarkan diri sambil bersiap-siap untuk menolong suaminya.