“Apa yang kuinginkan?”
Aku ingin... Dunia dilanda bencana besar. Bukan bencana alam maksudku. Aku tidak bisa menjadi pahlawan saat terjadi bencana alam. Aku ingin sebuah bencana seperti serangan asteroid, serangan makhluk luar angkasa atau monster raksasa yang menyerang bumi.
Kemudian, aku ingin menjadi pahlawannya. Seorang super-hero yang menyelamatkan bumi.
Aku berjalan memasuki sebuah warnet dan melewati kasirnya sambil berkata, “Paket lima jam.” Paket lima jam adalah paket khusus ‘penambah nafsu hidupku’ yang berharga jauh lebih murah daripada pemakaian per jam. Aku mendekati komputer bernomor 05 yang selalu kupakai saat berada di tempat ini dan menekan tombol untuk menyalakannya.
Hari gini masih nge-rental internet? Saat laptop berharga murah dan koneksi internet melalui wifi jauh lebih murah?
“Heeehh,” desahku dengan bibir tersungging sombong. Orang yang mengatakan itu berada di level yang berbeda denganku. Mereka masih cupu. Aku sendiri memiliki PC, laptop dan juga wifi. Tapi, aku selalu menyukai warnet. Ada sesuatu yang berbeda di sini. Seperti orang-orang yang lebih senang berkumpul untuk menonton pertandingan bola bersama teman-teman di kafe daripada menonton sendirian di rumah.
Mereka yang belum pernah memasuki warnet harusnya memasukinya setidaknya sekali seumur hidup. Aku menjamin mereka akan ketagihan seperti diriku. Tempat ini sangat menyenangkan. Komputer di hadapanku menyala dan aku segera menghubungkannya pada jaringan internet. Program penghitung waktu otomatis warnet ini menyala di sudut layar dan mulai menghitung waktu penggunaan.
Aku melirik pada sekeliling di mana gadis-gadis muda lewat depanku. Seorang berambut panjang dengan hidung mancung dan bibir merah muda terlihat sangat menarik hati. Langkah kakinya bak model, dari kampung yang sedang melakukan cat walk.
Bukan... bukan itu yang membuat warnet menyenangkan. Yang tadi hanyalah intermezzo, sebuah kesenangan seorang pria muda dengan tubuh yang sehat. Tanganku memegang mouse komputer dan mulai menggerakkannya. Kesenangan bermain di warnet adalah...
“BIPP.”
Layar komputer di depanku mendadak gelap total. Suara desah kesal para pemain terdengar sahut menyahut dari sekeliling penjuru warnet.
Mati listrik.
Wajahku berubah jelek dan segera beranjak dari kursi. Tempat ini tidak memiliki generator listrik. Dan..., lupakan mengenai kesenangan dalam bermain di warnet yang ingin kujelaskan. Aku sedang tidak mood untuk menceritakannya.
Aku keluar dari tempat itu dan melihat beberapa pria mulai menghidupkan sepeda motor mereka. Oh, aku tidak memiliki sepeda motor. Bukan berarti aku miskin dan tidak mampu membelinya, aku memiliki yang lebih baik daripada itu. Aku melihat pada mobil-mobil pribadi yang berjejer parkir di depan warnet. Mobil Land Cruise, mobil Mercedes, mobil biru yang tampak mahal dan tak kukenal mereknya dan mobil Harrier. Bibirku membentuk sebuah senyuman.
Bukan, bukan... jangan melihat ke arah sana. Bergeserlah sedikit. Aku tidak memiliki satu mobil, tapi ratusan.
Mataku bergerak menuju pada jalan besar di depan warnet. Sebuah mobil berwarna kuning dengan seorang supir di depannya berhenti dan menatap ke arahku.
Mobilku.
“Ikut dek?” tanya supir itu menatapku sambil mengembalikan uang pecahan pada penumpang yang baru turun.
Aku menggelengkan kepalaku, belum berencana untuk pulang. Mobil kuning dengan empat atau lima penumpang di dalamnya kembali bergerak menelusuri rute perjalanannya. Yah, itu mobilku. Di mana saja aku ingin mereka berhenti, mereka akan berhenti dan mengantarkanku.
Asalkan aku memiliki uang untuk membayarnya.
Bukankah memiliki mobil pribadi juga harus membayar uang bahan bakar penggeraknya? Begitu juga menaiki mobil angkutan kota. Lupakan tentang sepeda motor, mobil pribadi atau mobil angkot. Bukankah sejak lahir kita sudah memiliki kedua kaki yang mengantarkan kita untuk bergerak ke mana saja?
Aku suka berjalan.
Lima menit kemudian...
Aku berjalan dengan keringat yang bercucuran, panas terik matahari menyerangku tiada ampun, badanku terasa gerah dan debu jalanan terbang begitu tinggi. Pakaianku terasa basah. Orang-orang berkata jika polusi di kota semakin hari semakin buruk. Akan tetapi, tetap saja orang-orang dari desa, dari tempat yang berudara bersih malah sibuk pindah ke kota.
Sebuah perilaku yang para ahli psikologi katakan sebagai kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri atau perilaku bunuh diri. Kembali pada harapanku agar dunia menghadapi bencana. Aku ingin menjadi pahlawan di saat semua orang tidak lagi mampu mencegah bencana itu. Dunia di ujung kehancuran. Orang-orang akan mencariku sambil bersujud memohon-mohon. Semua orang di seluruh penjuru dunia, anak-anak, orang muda, orang tua, pria, wanita, mereka akan memanggil namaku beramai-ramai dan kemudian aku akan muncul untuk menyelamatkan mereka semua.
Setelah itu para gadis-gadis cantik dan seksi akan menyerahkan diri mereka padaku. Tunggu... ada yang salah di sini. Aku ada seorang pahlawan yang penuh kemurahan hati. Tidak perlu semua gadis-gadis untuk datang menyerahkan diri mereka padaku.
Cukup seorang saja.
Aku memasuki gedung universitas dan menatap seorang gadis yang sedang duduk bersama tiga orang pria dan dua orang wanita lainnya. Seorang gadis berambut panjang, memiliki wajah bagaikan bidadari, badan berlekuk seperti milik para model hollywood dan pakaian yang terlihat mewah. Aku yakin pakaiannya berasal dari merek-merek luar negeri. Sama seperti sepatunya yang kudengar harganya melebihi harga sepeda motor yang ingin kubeli, ... mungkin seimbang dengan harga mobil impianku.
Claudia..
Yah... jika aku menyelamatkan dunia, cukup dia seorang yang ku harapakan menyerahkan dirinya padaku. Dia boleh berlari kepadaku dan memelukku. Aku akan bermurah hati membiarkannya melakukan itu. Aku melirik ke arah Claudia dan kawan-kawannya.
Jika kalian ingin tahu kedua pria yang sering berada di dekatnya? Jake dan Agus, mereka adalah para penerus perusahaan besar. Berwajah tampan dan berbadan atletis. Mereka punya mobil, bukan cuma satu, tapi banyak dan bahkan memiliki rumah sendiri dengan tabungan yang tidak memiliki batas. Kudengar mereka seorang saja memiliki 30 asuransi yang melindungi mereka. Saat mereka lulus kuliah, sudah ada perusahaan yang siap menampung mereka.
Dunia tidak seindah apa yang kita pikirkan. Bukankah selalu begitu?
Dulu, saat aku masih kecil dan tidak mengetahui banyak hal alias bodoh, guruku mengajari saat manusia makan, maka makanan itu akan turun melewati kerongkongan. Dan saat manusia bernapas, udara akan memasuki tenggorokan. Padahal aku hanya memiliki satu leher. Guruku mengatakan ada sebuah katup yang dengan sendirinya membuka dan menutup agar makanan tidak memasuki saluran pernapasan.
Dulu, aku berpikir jika dapat membiarkan makanan memasuki saluran pernapasan, aku mungkin saja menjadi manusia super seperti superman. Tapi, kini aku sadar, jika itu terjadi, aku akan tersedak dan lebih parahnya, jika makanan memasuki paru-paru, aku akan mengalami infeksi paru-paru dan mati.
Dulu saat aku kecil, aku berpikir jika dunia masih punya banyak misteri. Tapi, ternyata dunia tidak memiliki misteri apa pun. Semuanya membosankan.
Hidup juga membosankan. Karena jalur pilihan di mana masa depanmu akan tertuju cuma sedikit. Pada saat kamu kaya, berbakat dan berwajah tampan, pilihannya mungkin ada dua, kaya dan kaya. Sulit menjadi miskin saat kamu sudah memiliki segala-galanya. Terutama saat kamu memiliki tabungan deposito dalam jumlah sangat besar dan bunga bulanannya sudah cukup membiayai kehidupanmu.
Saat kamu miskin, tidak berbakat dan berwajah jelek, pilihanmu juga dua, miskin atau sengsara. Orang tuaku bekerja sebagai seorang guru pegawai negeri di desa. Tentu saja gajinya sudah dapat dihitung.
Bakatku?
Aku melihat pada seorang mahasiswa yang sedang memainkan gitar. Pernah, dulu aku ingin memainkan gitar, aku membeli gitar, mencari guru dan setelah sebulan berlatih, aku berhasil mempelajarinya.
Mempelajari jika aku tidak berbakat bermain gitar.
Begitu juga saat aku berlatih menyanyi. Cuma sebulan dan aku tidak berbakat. Begitu juga olah raga, bela diri dan memasak. Semuanya cuma beberapa minggu hingga sebulan paling lama. Aku tidak berbakat.
Aku juga tidak pintar.
Jika ada istilah Jack of all trade, king of none, yang artinya ‘bisa melakukan semuanya, tapi tidak ada yang ahli’. Aku adalah none of all trade, alias tidak bisa melakukan apa pun juga.
Dan wajahku serta tubuhku...?
Biarkan aku berpikir. Aku sadar jika para pembaca—terutama para wanita—cenderung menyukai kisah di mana para tokoh prianya yang berwajah ganteng, bertubuh atletis, charming, kaya dan berbakat pada banyak hal. Aku jelas sudah mengatakan jika aku miskin dan tidak berbakat. Jika aku mengatakan diriku jelek, penuh jerawat dan buncit. Mungkin para pembaca akan melempar buku ini, menutup atau membakarnya.
Dan memaki penulisnya.
Jadi biarkan aku menyimpan wajah ku yang sebenarnya dan mulai saat ini anggaplah wajah ku tampan, tubuhku atletis, punya senyum yang dapat mempesona wanita mana pun. Bayangkan Tom Cruise atau salah seorang model pria tertampan yang engkau tahu. Tambahkan sebuah kebaikan hati laksana malaikat, maka itu adalah diriku.
Bukankah semua ciptaan Tuhan itu indah adanya. Janganlah menjadi seseorang yang menilai segala sesuatu dari tampak luar saja. Jika kalian menilai, aku ini tampan dan baik hati. Maaf, tapi ini demi kelangsungan hidup cerita ini.
Melanjutkan perjalanan yang membosankan ini, rencanaku hari ini adalah bolos dari beberapa mata pelajaran kuliah dan nongkrong di warnet. Hal ini gagal karena listrik padam, membuatku terpaksa mengikuti pelajaran kuliah yang membosankan. Aku memasuki ruangan kelas dan karena masih semester satu, aku tidak banyak mengenal orang-orang di dalamnya.
Aku mengambil kursi di bagian belakang dan duduk untuk memusatkan segala kemampuanku untuk mengikuti pelajaran. Aku adalah mahasiswa, tugasku adalah belajar dan orang tuaku membiayaiku untuk itu. Aku tidak akan mempermalukan orang tuaku, bangsa dan negaraku. Aku menatap ke arah papan tulis. Aku yakin, saat manusia memusatkan pikirannya dengan sepenuh hati, pikiran itu bahkan dapat menembus benda terkeras sekali pun.
...
Empat jam kemudian.
Aku terbangun di atas meja kuliah dan melihat seluruh ruangan sudah gelap. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Aku melihat jam dinding di depan ruangan yang bersinar dalam gelap dan mendapati pelajaran sudah selesai dua jam yang lalu. Aku bahkan tidak ingat melihat dosennya masuk. Aku menghapus bekas air liur dari sudut bibirku dan bangun.
“Hoaammmm....” Kedua tangan terentang ke atas. Tubuhku terasa nyaman dan segar. Tidur di tempat kuliah memang menyenangkan. Kemarin malam, aku bermain game hingga subuh. Pantas saja mataku mengantuk.
Aku mengambil tas ranselku dan berjalan keluar dari universitas. Langit sudah gelap saat aku keluar, lampu-lampu jalanan sudah menyala. Aku melihat di depan universitas dan tampak penuh keramaian orang. Sekali melihat, aku tahu apa yang sedang terjadi.
Balapan mobil. Hobi orang kaya, karena orang miskin tidak punya mobil. Kakiku melangkah ke depan gerbang dan berjongkok bersama banyak orang yang sedang asyik menunggu mobil balapan untuk kembali. Seperti biasanya, selalu dua buah mobil dipacu untuk mengelilingi universitas yang sangat luas ini. Aku menguap sekali dan melihat sekelililing. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan, berbaur dengan orang-orang ini. Aku berdiri, hendak menyeberangi jalanan untuk menuju ke warnet dan bermain game online.
“Hei teman, mobilnya akan segera lewat,” sahut seorang pria menarik tanganku dan menghentikanku untuk menyeberang. Aku melihat ke arahnya dan mundur kembali.
“Aku tidak melihat lampu mobil mereka,” protesku.
“Mobil mereka melaju sangat kencang, sebaiknya kamu menunggu sampai mereka lewat.”
Aku mendesah protes, tapi juga melakukannya. Aku menunggu. Tak lama berselang, dua buah mobil berdampingan melaju dengan cepat melewatiku. Suara anginnya terdengar sangat keras. Kakiku melangkah dan menyeberang jalanan sambil melihat lampu belakang kedua mobil tersebut, tampaknya mereka melaju bersamaan. Sulit menentukan siapa yang menang.
“Awaaasssss!!!!!”
Telingaku menangkap suara jeritan peringatan. Saat itu juga badan ku terasa dihajar oleh sebuah benda keras berkecepatan tinggi. Kejadiannya sangat cepat. Jika diurutkan perlahan-lahan, pertama-tama, aku merasa bagian pinggang ke bawahku dihajar dengan cepat. Kepala dan bahuku kemudian menghantam sebuah benda yang mengeluarkan suara pecah, seperti kaca.
Kemudian terdengar suara decit rem mobil yang begitu tinggi, mungkin lebih tepatnya suara ban mobil yang terpaku tidak berputar dan terseret berjalan pada aspal jalanan. Aku merasakan tubuhku masih menempel pada mobil saat benda itu mendadak bergerak liar dan menabrak sebuah tembok sehingga menjepit ku.
Aku mengetahui itu tembok karena tubuh bagian belakangku menghantam pada sebuah benda keras dan kepalaku terayun ke belakang. Ikut menghajar tembok. Aku merasa bagian bawah tubuhku remuk.
***
Orang-orang di sekitar gerbang universitas segera berlari mendekati sebuah mobil yang baru saja menabrak dinding tembok. Seorang pria terlihat terjepit di antara bagian depan mobil yang sudah ringsek dan bagian tembok yang sudah terlihat retak.
Pria yang terjepit di antara kedua benda itu berlumuran darah dan badan bagian atasnya sudah mengarah ke sisi yang tidak sewajarnya dari bagian bawah tubuhnya.
“Apakah dia sudah mati?” tanya sebuah suara dari orang-orang yang mengerumuninya.
“Tidak mungkin dia bisa selamat dalam keadaan separah ini,” kata orang yang lain.
“Tewas seketika,” kata yang lainnya.
Seorang pengemudi mobil langsung keluar dengan kepalanya yang berdarah dan berkata, “Aku tidak tahu. Dia mendadak keluar dari jalan. Bukan salah ku.”
***
Aku terbangun dan mendapati diriku sedang berada di atas kasur di dalam sebuah kamar. Aku melihat sekeliling dan menyadarinya sebagai kamar kostku yang berantakan dan berserakan sampah, rencananya ingin kubuang tapi kelupaan terus menerus.
“Mimpi buruk,” kataku kembali tidur. “Benar-benar mimpi buruk.”
“Tok, tok, tok...,” terdengar suara pintu kamar kost ku diketuk.
Alis ku segera tertarik ke atas. Aku tinggal di dalam sebuah gedung bertingkat dua dan setiap tingkatnya berisi 10 buah kamar sewaan berukuran 4 x 4 meter dengan sebuah kamar mandi di dalam kamar masing-masing. Sejak tiga bulan lalu aku tinggal di tempat ini, belum pernah ada sejarahnya orang mengetuk pintu kamar ku.
Pikiran ku segera membayangkan siapa yang mencari ku. Bibir ku tersungging sebuah senyuman, mungkin saja gadis cantik yang tinggal sekitar dua kamar dariku. Atau, seorang janda muda cantik yang tinggal empat kamar dariku. Lupakan penghuni pria lainnya.
“Aku datang,” teriakku dengan cepat, segera bangun dan masuk ke kamar mandi untuk merapikan rambut ku, mencuci muka dan memamerkan senyum terbaik ku di depan cermin. Aku benar-benar penuh pesona.
Saat aku membuka pintu, aku melihat seorang tua yang sedang menatap ku dengan tatapan keras. Pria itu memakai jas hitam dan tampak seperti orang-orang yang berusaha memperlihatkan kekuasaannya.
“Siapa?" tanyaku tidak mengenalnya.
“Pemilik tempat ini,” kata pria itu.
Seluruh tubuhku menjadi lemas dan dengan cepat berkata, “Maaf, uang sewa bulanannya belum dikirim oleh orang tuaku dari desa. Mohon bersabar.”
Aku tidak mengenal pria itu. Biasanya aku membayar pada istrinya.
Pria tua itu menatap ku dengan tajam, “Berhentilah berbohong. Aku tahu orang tuamu sudah mengirimkan uang sewa bulanan padamu. Dan kamu menghabiskannya untuk bermain di warnet.”
“Ughh...” perkataannya dengan tepat menghujam ke jantungku. Kebenaran yang selama ini ku penjarakan melarikan diri.
“Sudah giliranmu di sidang,” kata pria tua itu. “Ikuti aku,” dia sudah mulai bergerak.
“Aku? Di sidang?” Seingat ku, aku belum mencapai semester akhir. Aku buru-buru keluar dari pintu untuk mengejar pria yang sudah berjalan semakin jauh. Selangkah aku melangkah keluar dari kamar ku, mendadak aku sudah berada di sebuah tempat baru. Sebuah ruangan yang mirip ruang pengadilan.
Di tempat aku berdiri, terlihat dikelilingi pagar dari kayu yang cantik dengan ketinggian sepinggang. Di samping kananku, sekitar enam langkah dariku tepatnya, terlihat seorang wanita cantik yang bersinar bagaikan malaikat.
Oh~~ aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.
“Jaga pikiranmu anak muda!”
Aku segera melihat ke sebelah kiri ku dengan jarak yang sama sekitar enam langkah dariku, pria tua itu berdiri di sana memandang ku dengan tatapan menegur.
Oh~~ aku membencinya sejak pandangan pertama.
“Kamu tidak boleh membenci,” kata sebuah suara halus dan merdu.
Aku melirik ke arah gadis cantik yang kuberi julukan ‘malaikat’. Dia sedang tersenyum begitu indah padaku. Apakah mereka semua dapat membaca pikiran ku?
“Tok...tok...tok...” terdengar suara keras. Suara palu dari kayu yang memukul meja. Aku melihat di depanku terlihat seorang pria dengan wajah bijaksana yang sedang menatap ku.
“Segera mulai sidangnya,” kata pria di depanku tampak seperti hakim.
“Hakim yang terhormat, namaku Albertliner Louice Von Banden. Jaksa Penuntut pada sidang kasus kali ini.” Pria tua di samping kiriku mendadak hilang dan terlihat berada di depan, di antara aku dan hakim.
“Pria ini bernama Richard Aditya. Seorang dari desa dan baru saja meninggal karena ditabrak oleh mobil.”
Di samping kiri dinding ruangan, mendadak bersinar dan terlihat seperti layar televisi yang menampilkan gambar sebuah mobil mewah menabrak tembok. Aku melihat sesosok tubuh berlumuran darah terjepit di antara mobil yang ringsek dan tembok yang retak.
“Pasti mati seketika,” bisik ku melihat keadaan menyeramkan itu.
“Dia mati seketika,” kata Albert. “Dan itu adalah dirimu.” Dia menatap ku dengan tatapan menegur.
“Hakim yang terhormat.” Albert melanjutkan. “Pria ini sejak kecil sering mencuri.”
“Aku tidak pernah mencuri!” protes ku.
Albert tersenyum dan layar di depanku berganti menjadi sebuah pemandangan di desa dan terfokus pada sebuah kandang ayam. Seorang anak kecil terlihat melirik ke kiri kanan dan tersenyum jahat. Dia membuka pintu kandang dan masuk ke dalamnya untuk mengambil dua buah telur ayam kampung di antara ayam-ayam.
Itu jelas diriku! Tapi aku ingat saat mengambilnya untuk melihat ke semua arah dan memastikan tidak ada yang melihatnya. Apalagi merekamnya.
“Richard melakukan pencurian terencana ini pada ayam peliharaan kakeknya selama bertahun-tahun.”
“Keberatan.” Aku protes dan mencoba meniru adegan film-film persidangan.
“Itu adalah telur ayam kakek ku sendiri. Lagi pula aku memakan telur-telur itu agar membuat otak ku menjadi pintar dan bisa membuat kakek ku bangga, memiliki seorang cucu yang pintar dan bijaksana.”
Albert mendengus. “Itu tetap tergolong pencurian karena kakekmu tidak mengetahuinya. Meski dia mengetahuinya dan memaafkan perbuatan cucunya, itu adalah urusannya.”
“Dan kamu.” Albert menatap ku tajam. “Kamu tidak hanya memakan, tapi terkadang menjual telur itu untuk mendapatkan uang jajan.”
Aku menatapnya dengan kagum. Dia mengetahuinya.
“Mengenai kepintaran, kamu selalu berada di peringkat pertama dalam kelas ... tapi urutan dari belakang. Hingga kakekmu malu bertemu dengan tetangga yang menjulukimu orang paling bodoh satu desa.”
Aku.... Aku... tak mampu berkata-kata. Aku kalah telak.
Albert kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Sejak kecil, Richard sudah melakukan hal-hal jahat. Dia suka mengganggu anak-anak tetangga yang lebih lemah darinya dan takut pada mereka yang lebih besar dan kuat darinya.”
“Bukankah itu cerdas?” bisik ku lirih. Aku tidak akan mencari gara-gara pada orang yang lebih kuat dan menyakiti diriku sendiri.
“Dia juga suka mengganggu binatang-binatang. Memukul anak anjing, menangkap ikan-ikan kecil dan menangkap serangga.”
“Cuma sesekali!”
“Dia juga jarang beribadah.”
“Cuma sesekali!” protes ku lagi. Albert menatap ku dengan tajam. Nyaliku segera menciut dan melanjutkan.
“Cuma sesekali beribadah maksudku.”
“Dia juga pernah mencuri permen dari warung-warung di desa.”
“Cuma sesekali!” protes ku lagi. Kembali Albert menatap ku.
“Cuma sesekali saat pemiliknya tidak melihat ku.”
“Dia memiliki keinginan berbuat jahat yang tinggi dan selain itu, dia juga tidak dapat menahan hasratnya.” Pada layar terlihat seorang anak perempuan dengan pakaian sekolah dasar yang cantik. “Dia menyukai anak di bawah umur. Sesuatu yang dilarang secara hukum.”
“Begitu juga diriku,” protes ku yang hampir muntah darah. “Saat itu aku juga masih anak-anak dan murid sekolah dasar. Apakah salah menyukai seorang yang menjadi teman sekelasmu?”
Aku melihat pada ‘malaikat’ cantik. Dia menatap ku dengan pandangan jijik yang sangat menyakiti hatiku. “Percayalah, sekarang aku lebih menyukai gadis-gadis cantik dewasa bertubuh montok, berdada besar dan seksi.”
Wajah malaikat itu tidak berubah dan tetap menatap ku seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.
“Aku percaya,” kata sebuah suara.
Aku melihat ke arah suara dan tidak percaya jika Albert yang mengatakannya.
“Di mulai dari usia puber, Richard mulai mengumpulkan gambar-gambar seksi dan membeli buku-buku porno. Saat dirinya pindah dari desa ke kota, dia mulai mengakses situs-situs porno dan terlarang.”
Layar di depanku memperlihatkan wajah mesum ku yang sedang melihat gambar-gambar porno dengan tingkah yang sangat memalukan.
“Ihhh...” jerit malaikat sambil menutup matanya.
Aku muntah darah. Derita ku sungguh hebat. Aku dipermalukan habis-habisan di depan gadis cantik. Aku menatap Albert tanpa ada sepercik pun keinginan melawannya lagi. Biarlah dia membuka semua aibku. Aku sudah pasrah, hatiku sudah bisa menerima semuanya.
“Saat dia lulus sekolah tingkat atas dan ingin melanjutkan kuliahnya, dia mendapatkan beasiswa murid berprestasi dari universitas negeri di Jakarta yang terkenal elit.”
Perkataan itu membangkitkan semangat juangku di depan ‘malaikat’. Aku segera berkacak pinggang, membusungkan dadaku dan berkata, “Itu semua karena aku pintar dan berprestasi sehingga bisa mendapatkan beasiswa dari sekolah yang terkenal elit. Padahal universitas itu hanya mengabulkan beasiswa untuk lima orang dari 5.000 pemohonnya setiap tahun.”
Albert mendengus, “Itu karena yang menjadi rektor universitas adalah pamanmu, abang kandung dari ibumu. Kalian melakukan praktek Nepotisme dan merusak masa depan pemohon lain yang jauh lebih berprestasi dan pintar darimu. Mereka yang jauh lebih mungkin memajukan kehidupan orang banyak, bangsa dan negara daripada dirimu.”