Bab 1

“Hentikan ini kak!” teriakan pilu itu keluar dari mulut perempuan berusia 19 tahun itu. Tubuhnya yang telah ditelanjangi oleh laki-laki laknat itu terikat di dinding dengan posisi X. Gadis itu hanya bisa menatap ke lantai, matanya meneteskan air keputusasaan.

“Diam dan nikmati saja. Kecuali kamu ingin video ini tersebar,” balas laki-laki itu dengan tenang. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan tubuh gadis itu. Ponselnya dengan tenang merekam penampilan perempuan yang seharusnya dia sebut sebagai adik ipar itu.

“Kenapa kakak lakukan ini?” ucap perempuan itu lemah.

Laki-laki itu hanya tersenyum, video terus merekam. Senyumannya melukiskan kesinisan yang nyata. Matanya seakan menyimpan hasrat.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu. Dia mengakhiri rekaman itu.

“Ah. Jangan berlagak bodoh,” jawab laki-laki itu. Dia tersenyum dan berdiri dari kursi itu.

“Aku tahu kakakmu dari awal tidaklah suci. Saat aku menerima pernikahan itu, aku hanya menerimanya karena melihatmu bersamanya. Jaringanku memberitahu bahwasanya kamu adalah adiknya,” balas laki-laki itu santai.

“Jadi… kakak selama ini hanya…,” ucapan itu keluar dengan terbata-bata dari mulut perempuan itu. Laki-laki itu tersenyum

“Menurutmu kenapa aku mempersilahkan kamu datang?” tanya laki-laki itu dengan santai, “sampai aku bersedia membiayai pesantrenmu dan membangun ulang rumah keluargamu. Kamu pikir aku melakukan itu tanpa alasan terselubung?”

“Lalu… kakakku…,” ucapan tertahan itu dibalas dengan senyuman sinis laki-laki itu.

“Oh. Kamu mengira dia mati karena komplikasi penyakit saja? Aku yang meracuninya,” balasnya santai.

“Iblis!” teriak perempuan itu.

“Oh, aku iblis tentu saja. Iblis yang tampan dengan kuasa besar,” balas laki-laki itu dengan senyumannya. Dia lalu menatap tubuh perempuan itu.

“Sudah cukup percakapannya,” komentar laki-laki itu, “saatnya kita bermain.”

Bab 2

“Turut berduka cita atas kematian istrimu, Azhar,” ucapan bela sungkawa itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang usianya memasuki angka 27. Orang akan mengira dia berusia tiga puluhan dengan penampilannya, namun usianya jauh lebih muda.

“Terima kasih, Arrow,” balas laki-laki yang diberi ucapan itu. Seorang laki-laki yang meneteskan air melihat pusara sang istri. Azhar mencoba tersenyum, meskipun pemandangan di depannya ini membuat pilu baginya.

“Maaf aku baru datang. Ada urusan perusahaan,” balas laki-laki yang dipanggil Arrow itu. Hanya tiga orang yang masih ada di sana: Azhar, Arrow, dan seorang perempuan dengan pakaian gamis panjang berwarna putih. Jilbab putih menutupi kepalanya.

“Aku permisi dulu,” ucap Arrow berpamitan. Azhar menganggukkan kepalanya. Laki-laki yang baginya sudah seperti teman akrab itu pun pergi dari pemakaman. Azhar lalu melihat kepada perempuan bergamis putih itu.

“Kamu ikut aku pulang,” ucap Azhar kepada perempuan itu, “Citra,” lanjutnya memanggil nama perempuan itu. Perempuan bernama Citra itu menganggukkan kepalanya.

“Baik kak,” ucap perempuan yang disapa Citra. Mereka berdua pun pergi dari pemakaman. Mobil hitam Azhar masih berada di area pemakaman. Hari ini adalah hari yang sepi. Tidak ada orang selain para penjual bunga untuk diuntaikan pada makam orang terkasih.

“Bahkan langit pun bersedih,” komentar Azhar seraya menatap ke langit yang berselimutkan gulungan hitam. Dia menghembuskan nafas berat.

“Kenapa harus seperti ini? Aku sudah mendapatkan semuanya, tetapi, justru aku kehilangan yang berharga,” keluhnya pelan. Tepukan di pundak kiri Azhar membuatnya menoleh kepada sang penepuk.

“Jangan bersedih, Kakak. Kakakku sudah tenang di sana,” balas Citra menyemangati laki-laki yang menjadi suami dari kakaknya selama setahun terakhir. Azhar menganggukkan kepala, namun mengisyaratkan agar Citra melepaskan tangannya yang menyentuh pundak kirinya.

“Terima kasih,” ucap Azhar. Mereka pun berjalan masuk ke mobil Azhar. Perjalanan kembali ke rumah menjadi sangat suram. Tidak ada patah kata antara dua insan itu, hingga mereka dekat dengan area perumahan.

“Apakah kamu mau ku antar pulang ke rumah keluargamu saja?” tanya Azhar kepada Citra. Perempuan yang sempat merenung itu terlihat terkejut. Namun, dia segera menetralkan reaksinya.

“Boleh Kak. Pakaian saya masih di sana pula,” jawab Citra. Azhar menghembuskan nafas berat.

“Baiklah. Akan saya antarkan,” ucap Azhar. Dia pun memutar arah menuju rumah mertuanya yang sekarang sepi. Entah siapa yang membencinya, hingga menyingkirkan orang-orang yang berharga baginya satu per satu. Ayah dan ibunya wafat karena penyakit kanker stadium 4, dengan ayahnya duluan. Kakak tunggal dan Adik-Adik di keluarganya mati keracunan, namun dia tidak bisa mengungkap dalang dibalik pembunuhan mereka.

“Semenjak Kakak berada di puncak, keluarga Kakak mulai tersingkir satu per satu,” ucap Citra pelan, namun Azhar mendengarnya meski samar. Azhar menghembuskan nafas berat.

“Seminggu lalu, aku menghadiri resepsi pernikahan. Seminggu kemudian, aku menghadiri pemakaman. Kehidupan itu memang lucu,” komentar Azhar terhadap kalimat Citra. Perempuan itu terkejut mendengarnya.

“Oh. Aku lupa bilang, salah satu anak buah di perusahaanku resepsi minggu lalu. Namanya Shad,” jelas Azhar kepada Citra. Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya.

“Kita sampai,” komentar Azhar kala mereka tiba di depan rumah itu.

“Kamu masih mau tinggal di sini? Aku menawarkanmu untuk tinggal di rumahku,” tanya Azhar seraya memberikan penawaran. Citra tampak ragu.

“Tapi, apakah-” kalimat Citra langsung dipotong oleh Azhar.

“Kamu tahu sendiri rumahku tidak terlalu dekat dengan rumah lain. Selain itu, orang-orang tidak akan berprasangka macam-macam. Selama ini, kamu juga sering mampir kan?” tanya Azhar lagi. Citra menganggukkan kepalanya pelan.

“Kalau begitu, saya urus pakaian-pakaian saya dulu. Saya juga sekaligus kunci rumah,” jawab Citra. Dia pun pergi keluar dari mobil Azhar. Sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya.

“Selamat siang Pak Bos Azhar. Turut berduka cita. Untuk rencana kerjasama dengan perusahaan itu bagaimana?” tanya seseorang di seberang.

“Harst. Kerjasamanya akan tetap berjalan. Aku minta kamu urus berkasnya. Aku akan periksa nanti saat aku ke kantor,” jawab Azhar.

“Siap Pak Bos,” balas orang yang disebut sebagai Harst itu. Azhar mematikan telepon.

“Menyusahkan saja. Perusahaan panah itu terus mengganggu rencanaku. Sudah beberapa perusahaan kecil potensial dia rebut dariku,” keluh Azhar seraya membuka sebuah daftar perusahaan yang dia kejar. Beberapa sudah dia ambil, sementara sisanya dia coret karena pesaing utamanya telah melakukan akuisisi total.

“Aku akan kalah jika bersaing dengan dia. Di lokal, dia tidak terlalu mentereng dibandingkan aku maupun para CEO top lainnya. Namun, resources yang dia punya lebih banyak dari kami semua digabungkan. Si laknat itu,” gumam Azhar ketus. Dia menutup daftar itu.

“Setidaknya pergerakannya menjadi sulit di Indonesia. Jujur, aku tidak mengerti kenapa dia masih berani berada di dalam zona perang yang membahayakan dirinya sendiri,” pikir Azhar heran. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh rivalnya dengan terus berada di Indonesia secara fisik?

Azhar membuka sebuah aplikasi rahasia. Dia mencoba melacak dimana rivalnya itu berada.

“Apa yang diinginkan oleh rivalku ini?” gumamnya seraya melihat pergerakan rivalnya yang mengarah ke sebuah bandara. Terbesit untuk melakukan sebuah kecelakaan insidental, namun dia tahu itu bukanlah ide bagus saat ini.

“Dia tahu dia bermanfaat bagiku meski menjadi ancaman. Apa yang sebenarnya dia inginkan?” gumam Azhar lagi. Suara Citra yang mengetuk pintu depan mobil membuat Azhar tersadar dari pemikirannya.

“Sebentar,” komentar Azhar seraya membuka bagasi mobil dari tempat kemudi. Citra memasukkan pakaiannya ke bagasi. Azhar tetap menunggu dengan tenang.

Sebuah telepon masuk, dia melihat nomornya dari anak buahnya yang baru mengadakan resepsi. Apakah ada informasi menarik?

“Assalamu’alaikum Pak Azhar. Turut berduka cita pak,” ucap suara di seberang. Azhar hanya menghembuskan nafas berat.

“Terima kasih, Shad. Bagaimana kondisi di lab?” tanya Azhar kepada orang di seberang.

“Baik pak. Namun, Rahima sampai sekarang masih absen dari shift jaga,” jawab Shad. Azhar hanya geleng-geleng kepala.

“Begitu ya. Aku yakin Arrow menjaga adik Soul dengan baik,” komentar Azhar dengan tenang, “aku putus dulu,” lanjutnya. Azhar menutup telepon itu. Citra sudah selesai dengan bagasinya, dan dia kembali duduk di kursi baris tengah mobil.

“Sudah selesai Kak,” ucap Citra kala dia sudah duduk dengan sempurna. Bagasi mobil telah dia tutup.

“Baiklah. Kita berangkat,” komentar Azhar dingin. Mobil itu pun melaju pergi dari rumah keluarga mertua Azhar.

Mereka tiba di rumah itu kala jam menunjukkan angka 5 sore. Semua sudah lelah. Azhar langsung ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat, begitu pula Citra memakai salah satu kamar kosong di rumah itu. Para pelayan di rumah itu tampak kehilangan, namun mereka berusaha tegar karena tidak ingin majikan mereka terus bersedih.

Saat malam, beberapa pelayan telah menyiapkan makan malam. Azhar mengajak Citra untuk makan malam. Makanan malam itu terlihat mewah, dan Citra selalu sulit untuk memahami kemewahan itu.

Namun, saat mereka selesai makan, Citra tiba-tiba ambruk, mengejutkan Azhar. Dia panik dan memanggil beberapa pelayan untuk membersihkan tempat makan dan membawa Citra ke kamar perempuan itu. Baru saja dia kehilangan istri, sekarang dia akan kehilangan sisa keluarganya yang terakhir? Dari keluarga dirinya dan Halima, istrinya, tinggal Citra yang hidup.

Sementara dokter pribadi mencoba memastikan Citra baik-baik saja, Azhar datang ke kamar Citra untuk memeriksa.

“Bagaimana, Dok?” tanya Azhar memastikan.

“Kondisi beliau baik-baik saja. Sepertinya efek obat penidur,” jawab sang dokter. Azhar tampak terperangah. Obat tidur!?

“Begitu ya dok,” ucap Azhar pelan. Sang dokter menganggukkan kepala beliau. Laki-laki sepuh itu lalu izin keluar.

“Kenapa semua keluargaku terancam seperti ini?” ucap laki-laki itu sedih. Dia melihat ke arah pintu yang terbuka, lalu berjalan ke pintu itu dan menutupnya. Wajah teduhnya menghilang, bergantikan sebuah kesinisan.

“Akhirnya, mari kita mulai.”

Bab 3

Citra membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat tubuhnya sekarang diikat di dinding. Parahnya lagi, tubuhnya sekarang telanjang!

“Huh? Apa ini!?” teriak Citra terkejut. Dia melihat ke seberang, dan tampaklah laki-laki yang selama ini dia kenal sebagai suami dari kakaknya yang wafat.

“Apa yang Kakak lakukan!?” balas Citra. Azhar hanya tersenyum dari tempat dia duduk. Laki-laki itu mendekati perempuan yang selama ini dikenal sebagai adik iparnya.

“Kamu cantik,” komentar Azhar seraya memutari sekitar tubuh Citra. Dia lalu menyentuh payudara perempuan itu. Citra merasa ini salah, namun, sentuhan itu membuat sesuatu dalam dirinya terpanggil.

“Hentikan ini kak!” teriakan pilu itu keluar dari mulut perempuan berusia 19 tahun itu. Gadis itu hanya bisa menatap ke lantai, matanya meneteskan air keputusasaan.

“Diam dan nikmati saja. Kecuali kamu ingin video ini tersebar,” balas Azhar dengan tenang. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan tubuh gadis itu. Ponselnya dengan tenang merekam penampilan perempuan yang seharusnya dia sebut sebagai adik ipar itu.

“Kenapa kakak lakukan ini?” ucap Citra dengan nada lemah.

Laki-laki itu hanya tersenyum, video terus merekam. Senyumannya melukiskan kesinisan yang nyata. Matanya seakan menyimpan hasrat.

“Kenapa?” tanya Azhar. Dia mengakhiri rekaman itu.

“Ah. Jangan berlagak bodoh, Citra,” jawab laki-laki itu. Dia tersenyum dan berdiri dari kursi itu.

“Aku tahu Halima dari awal tidaklah suci. Saat aku menerima pernikahan itu, aku hanya menerimanya karena melihatmu bersamanya. Jaringanku memberitahu bahwasanya kamu adalah adiknya,” balas laki-laki itu santai.

“Jadi… kakak selama ini hanya…,” ucapan itu keluar dengan terbata-bata dari mulut perempuan itu. Laki-laki itu tersenyum. Rasanya, sebuah pisau menyayat hati perempuan itu.

“Menurutmu kenapa aku mempersilahkan kamu datang?” tanya laki-laki itu dengan santai, “sampai aku bersedia membiayai pesantrenmu dan membangun ulang rumah keluargamu. Kamu pikir aku melakukan itu tanpa alasan terselubung?”

“Lalu… kakakku…,” ucapan tertahan itu dibalas dengan senyuman sinis laki-laki itu.

“Oh. Kamu mengira dia mati karena komplikasi penyakit saja? Aku yang meracuninya,” balasnya santai.

“Iblis!” teriak perempuan itu.

“Oh, aku iblis tentu saja. Iblis yang tampan dengan kuasa besar,” balas laki-laki itu dengan senyumannya. Dia lalu menatap tubuh perempuan itu. Dia lalu menambahkan kalimat yang mengejutkan Citra.

“Dan kamu akan meneriakkan namaku berulang kali malam ini,” ucapnya dengan senyuman sinis. Citra merasakan ketakutan menyelimuti tubuhnya.

“Sudah cukup percakapannya,” komentar laki-laki itu, “saatnya kita bermain.”

Azhar mencium bibir ranum Citra. Dengan cepat, Azhar membuat Citra kewalahan dengan permainan lidahnya. Perempuan itu hanya bisa terengah-engah oleh buaian Azhar. Azhar melepaskan ciuman itu. Air mata berlinang dari mata Citra.

“Jangan sedih begitu dong,” komentar Azhar. Dia menyentuh bagian intim Citra, yang membuat perempuan itu menggeliat secara refleks. Citra mencoba melawan.

“Hentikan kak!” pinta Citra tersedu-sedu. Dia tidak percaya bahwasanya suami dari kakaknya sendiri adalah jelmaan iblis.

“Ayolah, tubuhmu menikmatinya,” balas Azhar santai. Dia lalu menjilati klitoris Citra. Citra menahan diri untuk tidak mendesah, namun tubuhnya membangkang.

“Aaahhh! Kak Azhar!” lenguhnya. Azhar tersenyum puas dan terus menjilati klitoris perempuan itu. Meskipun otak Citra menentang, tubuhnya mendukung. Dia mulai menggelinjang kenikmatan. Azhar dengan mudah menemukan titik sentuhan paling efektif di tubuh Citra yang membuat perempuan itu cepat naik gairah.

“Kak! Aku mau kencing!” teriak Citra dan dia pun mengeluarkan cairan dari tubuhnya dalam jumlah banyak, yang dilahap oleh Azhar. Azhar tersenyum puas. Citra merasa hina.

“Lihat, tubuhmu menikmatinya,” komentar Azhar. Citra menggelengkan kepala. Dia tidak ingin semua ini berakhir menjadi dosa seumur hidupnya.

“Kamu sepertinya kehausan,” komentar Azhar lagi seraya memberikan segelas air kepada Citra. Ingin Citra menolak, namun Azhar memaksanya menenggak segelas air itu. Dia lalu mengambil remote yang berada di meja di kamar itu. Posisi dinding dimana Citra terikat pun berubah dari vertikal menjadi horizontal. Selain itu, ruangan ini ternyata terhubung dengan kamar Azhar.

“Nah. Sekarang enaknya gimana ya?” Azhar tampak berpiikir. Dia lalu mendapatkan ide. Azhar menyentuh klitoris Citra dengan dua jarinya. Tubuh Citra kali ini merespons lebih kuat dari sebelumnya. Selain itu, bagi Citra, otaknya sudah kesulitan memproses rasa nikmat yang dia rasakan.

“Ahhh! Terus Kak!” teriak Citra dengan nafsu membara. Azhar tersenyum puas.

“Begitu dong,” komentar Azhar yang kemudian memainkan kedua payudara Citra secara bergantian, sekaligus memberikan sentuhan jarinya ke klitoris perempuan itu. Desahan berulang keluar dari mulut Citra.

“Ahhh! Ahhh! Ahhh! Mantap Kak! Teruskan Kak!”

“Kak! Aku mau keluar!”

Azhar berhenti memberikan sentuhan tangannya dan memasukkan mulutnya ke depan klitoris Citra. Dia menerima semburan cairan tubuh Citra. Senyuman terukir di wajah Azhar.

“Sekarang, gantian kamu puasin aku,” balas Azhar seraya membuka pakaiannya. Kontol kebanggaan laki-laki itu mencuat tegak dan panjang. Citra tampak terkejut dengan ukuran kontol yang dimiliki Azhar.

“Sekarang, kamu masukkan kontol ini ke mulutmu!” perintah Azhar. Citra, tidak memiliki pilihan, dan dengan kemampuan berpikirnya terhambat, mengikuti perintah yang diberikan Azhar. Azhar melepaskan dua tangan Citra, sehingga bagian tubuh atasnya bisa bergerak. Otak Citra sudah tidak bisa lagi berproses untuk melawan sehingga dia malah membuat sepongan yang luar biasa kepada kontol Azhar.

“Ahhh! Mantap Citra! Terus! Terus! Sepongannya mantap!” desah Azhar dengan puas. Citra menelan kontol kakak iparnya itu layaknya permen. Dia jilat berulang kali. Sementara tangan Azhar terus bergerilya memuaskan Citra dengan memainkan kedua payudara gadis itu.

Setelah beberapa menit, Azhar akhirnya menyemburkan air maninya ke mulut Citra. Citra tampak terkejut, dan sekarang mulutnya dipenuh sperma Azhar.

“Telan!” perintah Azhar. Citra pun menelan air yang terasa asin itu. Selanjutnya, Azhar meletakkan kontolnya di antara kedua payudara Citra dan menggeseknya. Citra tampak menikmati sentuhan itu.

“Ahhhh! Kak Azhar!” teriak Citra. Mulai kembali terbangun oleh kalimat sensual dari Citra, Azhar pun beralih menggesekkan kontolnya di vagina Citra yang basah, membuat perempuan itu bersuara sensual berulang kali.

“Ah Ah Ah!” Desahan berulang itu terus keluar dari mulut Citra.

“Gimana?” tanya Azhar terus menggesekkan kontolnya di vagina Citra. Citra terus mendesah nikmat. Azhar tidak sabar untuk segera merebut keperawanan gadis ini.

“Masukkan kak!” perintah Citra. Pengaruh minuman yang diberikan Azhar telah mengambil kendali sepenuhnya. Azhar tersenyum puas. Dia sudah menunggu momen ini. Dia pun mulai menancapkan kontolnya ke dalam tubuh Citra. Citra pun berteriak kesakitan.

“Sakit Kak!”

“Sabar Sayang, kita akan capai surga bersama,” ucap Azhar seraya mulai bergerak pelan masuk dan keluar. Citra yang kesakitan pun perlahan berubah menjadi kenikmatan baginya. Desahan sakit berubah menjadi desahan nafsu yang membara.

“Masukkan lebih dalam Kak!” pinta Citra. Azhar tersenyum dan semakin kuat menghujamkan kontolnya ke dalam vagina Citra.

“Mau kencing Kak!” teriak Citra.

“Bersama-sama Sayang!” balas Azhar.

“Kak Azhar! Aku keluar!”

“Citra! Keluar bersama-sama!”

Dan Azhar pun mengeluarkan benih spermanya dalam tubuh Citra. Mereka pun melakukan itu untuk beberapa ronde, sebelum akhirnya terlelap dengan Azhar berada di atas tubuh Citra.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED