Jakarta, 14 Maret 2022
"Oh, ya ampun. Gue telat!"
Seorang gadis bertubuh molek menyibak selimut, dia loncat dari tempat tidur.
"Aduh, sakit," pekiknya dengan meringis, karena tergesa dia menabrak kursi nakas. "Dasar kayu bodoh, beraninya nabrak gue!" omelnya dengan memukul meja itu. "Anjir malah tangan gue yang sakit," gerutunya kesal. Lalu dia berlari pergi ke kamar mandi. Gadis ceroboh itu, bernama Shintia. Dia bekerja di perusahaan terbesar di Indonesia. Acsimid company.
***
"Telat lagi, lo? Gak mandi lagi?" Belum sempat Sintia mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya sang teman sudah menyambutnya dengan ocehan.
"Ya gitu deh." Shintia mengangkat bahu, acuh tak acuh.
"Astaga, Shin!" Nola menepuk jidatnya. "Elu tau kan, hari ini akan datang CEO baru. Anak-anak yang lain dandan abis-abisan. Eh, elu malah nggak mandi. Parah lo ya." Nola menggeleng lemah.
"Terus gue peduli gitu?"
"Ya mau sampai kapan elu terus seperti ini. Move on dong. Semua udah berakhir dan coba deh elu memulai hidup baru. Buka hati agar dapat pengganti. Ya, kali aja kalau elu dandan sekarang tuh CEO baru suka sama elu gitu."
Shintia mengorek kupingnya yang terasa gatal dia sudah bosan mendengar ceramah sahabatnya Nola. Meminta dia move on, menjodohkan, menyuruh berdandan agar banyak pria yang suka. Namun, semua itu dianggap angin lalu. Bagi Shintia hanya ada satu cinta meskipun pria yang sangat dicintai berada di masa lalu tapi semua tak bisa mengurangi perasaannya yang dalam.
"Shin! Elu dengar gue kan!" Nola kesal karena diabaikan. Namun, Shintia tak menjawab. Dia menyimpan tas di loker dan menggeser kursi kerja, menekan tombol monitor.
"Eh, vangke. Elu denger gue kan?" Nola mendorong bahu Shintia.
"Iya, bawel!"
"Terus kenapa gue diabaikan?"
"Ya elu, gue baru datang bukan disuguhi kopi malah dimarahi. Nih ya, mau gue mandi atau kagak tetap aja cantik, yang penting kan wangi."
"Iya yang suka banyak tapi elunya gak mau mulu percuma!"
"Udah gak usah bahas aneh-aneh. Sekarang buruan bikinin gue kopi."
"Gue buatin lu kopi?" Nola menunjuk dirinya dengan jari.
"Iya. Sana gih," jawab Shintia.
"Ogaaaah!" tolak Nola.
"Kalau nggak mau berbaik hati sama gue, sekarang elu kerja sono! Jangan ngoceh mulu, dimarahi Pak Felix, nangis kejer lo."
"Gak usah rusak mood gue dengan bawa-bawa nama si tua itu pagi-pagi deh."
"Jangan gitu sama pacar, Nol," goda Shintia.
"Bacot lu!" Nola melempar bolpoin ke arah temannya. Bukan marah Shintia justru tertawa geli melihat wajah temannya yang kesal.
Suasana menjadi hening dalam beberapa saat, mereka sibuk memeriksa laporan pengeluaran barang dari operator gudang. Kening Shintia mengerut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan monitor memastikan penglihatannya tidak salah.
"Napa lo, Shin?" tanya Noli.
Shintia tak menjawab, dia masih fokus dengan semua laporan yang ada di layar monitor. Tangannya dengan lincah menekan mouse, membuka setiap file. Nola menyadari itu. Dia menyodorkan sebuah buku agenda pada Shintia.
"Shin, lo lihat ini deh."
"Apa sih? Gue lagi pusing nih," jawabnya tanpa menoleh.
"Gue tahu, makanya elu lihat dulu buku ini."
Bukan menjawab Shintia justru berbicara sendiri. "Perasaan gue kasih rincian harga nggak gini deh, kok sekarang beda ya? Apa gue lupa?"
"Nah, Lo pasti aneh kan? Makanya lihat buku ini juga." Nola melemparkan agenda itu ke atas meja Shintia. Gadis cantik dan molek itu menerima buku itu.
"Kenapa?"
"Lo lihat catatan pengambilan material Eva 10, deh."
"Iya. Kenapa dengan Eva 10?"
"Lu perhatikan, disini catatan operator saat mengambil material Eva 10 di siang hari. Satu operator 6 bag. Dan, lu lihat saat sif malam, satu operator ngabisin 10 bag. Aneh gak sih?" Jari Nola menunjuk sebuah catatan pengambilan barang yang tertulis di buku.
"Lembur kali dia? Atau mungkin mesin mereka lancar. Jadi dapat banyak barang, otomatis ngabisin material banyak kan?"
"Gue udah selidiki ini. Gue lihat laporan wip. Semua barang yang dihasilkan di bawah target. Lalu kemana material mereka?"
"Banyak reject kali. Coba cek laporan Q.C."
"Normal. Gue udah email leader QC. Gue juga udah nanya manager maintenance dan gak ada mesin rusak yang mengakibatkan banyak reject. Gue tanya admin produksi, target mereka normal. Antara sif satu dan sif dua pendapatan setara."
Mendengar penjelasan Nola Shintia mengetuk-ngetuk jari di atas meja "Harusnya mereka sama-sama ambil enam kan? Lalu empat lagi ke mana? Siapa yang ambil material saat malam? Dan, elu udah tanya penjaga gudang sif malam?" cecar Shintia.
"Gak masuk dia. Katanya semalam izin. Pak Satpam yang ambil."
"Hah! Kok bisa? Bahaya ini sih? Kita bisa dituduh curang."
"Kita harus segera urus ini. Daripada kita kena masalah. Lo tahu gak, CEO baru akan memecat siapa pun yang main curang."
"Lah kita nggak curang, Nol."
"Terus semua bukti ngarah ke divisi kita."
"Kalau gitu, coba hubungi Pak Felix."
"Justru gue curiga dia ada di balik ini dan kita jadi kambing hitamnya."
Shintia tak menjawab, dia membolak-balik buku data pengambilan barang manual, kemudian dia mencocokkan dengan yang ada di layar. Shintia melempar buku itu ke meja kerja dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia memijat pelipisnya dengan menghembuskan napas lelah.
"Gue udah beberapa kali bilang hal ini ke Pak Felix. Tapi dia bilang banyak reject dan alasan lainnya yang masuk akal. Hingga kemarin gue baru selidiki semua pada masing-masing departemen inilah hasilnya," lanjut Noli.
"Gue juga masih pusing, gue lihat rincian harga barang yang diorder. Semua tidak masuk akal. Satu gunting aja harganya lima juta."
"Apa?" Mata Noli terbelalak.
"Lo nulis harga segitu? Parah lo korupsi ya?"
"Elu nyangka gitu kan? Apalagi orang lain?" keluh Shintia.
"Jangan bilang ini dilakukan Pak Felix?"
Shintia mengangguk. "Gue harus gimana sekarang?"
"Harusnya kita curiga saat Pak Felix minta kita untuk liburan dan ambil cuti secara bersamaan," sesal Nola. Shintia hanya mengangguk. Mereka menoleh saling bertatapan dan menghembuskan napas kasar.
"Nah, elu coba cek agenda dan struk belanja yang ada di dokumen manual. Itu jadi bukti."
"Elu lupa, semua berkas ada di ruangan Pak Felix?"
"Anjirlah tuh orang." Shintia mengusap wajah dengan kasar.
"Dengan cara apa pun kita harus ambil berkas itu, Nol," ucap Shintia bersemangat. Tapi kemudian dia menghembuskan napas lelah, "tapi gue bingung caranya gimana?"
"Elu goda dia aja, kasih deh tuh bongkahan gunung lu yang besar, pasti dia kasih apa yang lo mau," cicit Noli dan mendapat pukulan keras di kepala.
Ketukan pintu kaca menghentikan ocehan kotor Nola. Keduanya tampak pucat saat seseorang meminta mereka untuk segera bersiap-siap, karena hari ini sang CEO baru akan datang.
"Mati kita, Shin."
Shintia tak mengindahkan ucapan Nola. Dia segera beranjak tanpa merapikan setelah kerjanya. Berbeda dengan Nola yang tiba-tiba sibuk merapikan riasan. Padahal tadi Nola tampak suram.
"Elu kenapa dah? Buruan ayo!"
"Kali aja Pak CEO maafin gue karena lihat muka gue yang cantik."
Shintia hanya merotasikan mata, jengah, bisa-bisanya dalam kondisi seperti ini gadis itu masih sempat-sempatnya dandan.
Semua petinggi perusahaan bersiap menyambut sang CEO. Mereka berdiri berjajar saling berhadapan, pria yang akan mereka temui adalah orang hebat yang akan memimpin perusahaan. Semua orang sibuk merapikan baju yang sama sekali tidak berantakan, disini hanya Shintia yang berdandan apa adanya.
"Dia datang, dia datang," ucap seorang manajer keuangan. Perempuan yang terkenal cantik dan selalu mengenakan lipstik merah.
"Jantung aku nih, maraton."
"Katanya dia ganteng lho, terus masih single."
"Oh ya? Tahu gitu gue pake bedak dari nyai ronggeng biar bisa mikat hati tuh Pak CEO."
"Jaman sekarang masih aja percaya pelet."
Shintia tak mengindahkan ocehan semua orang, dia hanya diam sejak tadi. Entah kenapa jantungnya berdebar, hatinya mencelos merasakan rasa yang telah lama ia tekan.
"Ya Tuhan, kenapa hatiku begini? Seperti akan bertemu dengan orang yang sangat berarti? Apakah karena rasa takut?" Shintia terus bertanya pada dirinya sendiri.
Hingga seorang pria yang ditunggu mulai memasuki ruangan, dia tak melihat wajah pria itu karena hanya sepatu yang mengkilap yang semakin berjalan mendekat. Ruangan terasa sesak, suasana semakin mencekam karena kabar burung yang didengar pria itu sangat kejam dan tidak memiliki tolet bagi yang melakukan kesalahan.
"Selamat pagi, Pak," sapa seorang general manager.
Tidak ada Jawa dari pria itu, hingga langkahnya terhenti dan barulah membuka suara.
"Burhanuddin, Tuan meminta Anda untuk merapikan barang-barang secepatnya." Yang berbicara adalah Hans sekretaris sang CEO.
Semua tercengang, dia adalah manager keuangan. Entah apa sebabnya dan pria bernama Burhanuddin itu tidak terima tiba-tiba dipecat tanpa alasan.
"Kenapa saya dipecat, Pak? Apa salah saya?"
"Perlu saya bicara disini atau Anda menemui saya nanti?"
"Baik, Pak. Saya akan menemui Anda."
Mereka kembali melangkah,
"Kamu juga dipecat, Felix!" ucap Hans, sang sekretaris.
"Tunggu dulu, Pak. Saya bisa jelaskan. Saya punya bukti yang menyatakan saya tidak bersalah. Jika ada kekeliruan maka itu salah Shintia dan Nola."
Mendengar namanya disebut Shintia mengangkat wajah begitu juga Nola. Shintia menatap Felix dengan tajam tanpa melihat ke arah sang CEO dan sekretarisnya. Sedangkan Nola dia terpaku melihat ketampanan sang CEO.
"Bapak itu kenapa melimpahkan kesalahan pada kami? Jelas-jelas Bapak—"
"Diam, kamu Shintia! Kamu sebaiknya mengaku saja."
"Mengaku apa? Saya tidak melakukan apa pun."
"Kamu berani mengangkat, hah!" Felix kesal, kedua matanya membola.
"Pak dengarkan saya." Shintia memberanikan diri menatap Hans dan CEO itu. Namun, saat menyadari orang yang ada di sana adalah orang yang menguasai hatinya sejak lama. Bibir Shintia terkatup saat melihat pria yang kini berdiri sejak tadi melihat ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu," gumamnya. Shintia diam, dia lupa apa yang dikatakan. Saat ini matanya berkaca-kaca menatap seseorang yang selama dua tahun membuat hidupnya hancur, selama dua tahun sangat dirindukan, dia berjalan melangkah dan hendak menyentuh wajah pria itu sebelum teriakan seseorang membuatnya sadar.
"Kamu mau merayu hah?" Itu suara Felix, Shintia tersadar dan dia kehilangan semangat untuk membela diri.
"Hans selesaikan urusan ini," ucap sang CEO dengan berjalan melewati Shintia begitu saja. Hati Shintia merasa sangat nyeri diabaikan pria yang dulu selalu memperlakukan dia dengan baik.
"Dasar wanita murahan!"
"Dia kira dengan cara menggoda akan meloloskan dia dari kesalahan. Menjijikan!"
Shintia mengabaikan semua makian itu, dia berlari meninggalkan tempat itu dengan menangis. Felix merasa puas, dia diuntungkan dengan keadaan ini. Meskipun tak mengerti apa yang membuat Shintia bersikap tak biasanya.
Shintia memutuskan untuk menenanhkan diri terlebih dahulu dan pergi ke toilet. Lama berdiam diri di dalam bilik kamar mandi, menumpahkan rasa sedih yang menyayat hati. Shintia masih setia berada di sana. Dia memejamkan mata dan air mata kembali terurai menghapus semua riasan wajah. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dengan mata yang terpejam.
"Kenapa kamu hadir di saat aku mulai menata hidupku kembali, Mas?"
"Lihatlah kamu sekarang, aku semakin mustahil menggapaimu."
"Aku menyadari itu tapi sampai detik ini aku masih belum bisa melupakan semua. Sungguh, semua rasa itu tidak pernah berubah."
Tubuh Shintia berangsur turun hingga dia berjongkok dan membenamkan wajah di kedua lututnya. Dia menangis tergugu mengabaikan masalah yang terjadi padanya. Tidak peduli dia yang akan kehilangan pekerjaan, dia kini hanya tenggelam dalam bayangan masa lalu yang indah dan berakhir memilukan.
***
"Elu dari mana aja sih? Bisa-bisanya ya elu pergi tanpa bilang. Sekarang lo lihat, si FX sialan itu minta kita beresin tempat kerja. Noh, si Dinda dan Caca akan gantikan posisi kita? Anjir banget tuh aki-aki. Demi obsesinya ingin kerja dengan para selingkuhan dia menyingkirkan kita. Ah, asu, tai banget dah tuh aki-aki." Nola mengeluarkan semua sumpah serapahnya. Dia benar-benar sangat kesal.
"Kita mggak bisa diam aja, elu setuju kan, Shin? Elu selalu semangat memberantas kejahatan. Ayo kita berjuang!" Nola mengangkat satu tangan penuh semangat.
"Kalau kita dipecat kita nyari kerjaan lain aja deh," sahut Shintia asal.
"Apa lo bilang? Waras gak lo? Kita ini gak salah, kalau kita pergi kita bawa nama buruk. Perusahaan mana yang mau terima." Nola mencengkram kedua bahu Shintia, dia mengguncang dengan sangat hebat. Membuat tubuh Shintia maju ke depan dan ke belakang dengan cepat.
"Ya apa ajalah, jual kembang kek, jadi pengamen kek, yang penting gak usah kerja disini." Shintia kembali menangis.
Noli menyadari bahwa sahabatnya kini sedang tidak baik-baik saja. Perlahan tangannya mulai turun dari bahu. Dia menuntun Shintia untuk duduk di kursi.
"Minum dulu, Shin." Noli menyodorkan botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya.
Shintia menerima botol air mineral itu dan meneguknya hingga habis setengah. Entah kenapa dia merasa haus.
"Elu kenapa?" tanyanya lembut. Suara nyaring dan keras itu telah lenyap.
Shintia mengangkat wajah dan menatap Noli dengan pandangan yang sendu. "Gue harus pergi dari perusahaan ini, Nol. Harus."
"Kenapa? Ada apa coba elu cerita deh."
Bukan menjawab Shintia menelungkupkan wajahnya di kedua tangan yang dilipat di atas meja. Nola tahu bahwa sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Dia mengusap pucuk kepala Shintia. Apalagi saat melihat sendiri sikap sahabatnya pada CEO. Nola yakin pasti ada sesuatu yang dia tidak tahu.
"Elu beneran memanipulasi data?" tanya Nola, Shintia menggeleng.
"Lalu kenapa elu nangis dan ingin pergi. Bukankah kita sudah sepakat akan membongkar kasus ini. Ayolah, Shin. Gue beneran nggak mau keluar dari perusahaan ini. Berjuang yuk, ungkap semua. Elu kan biasanya paling bersemangat."
Shintia kembali mengangkat wajah, "Gue gak bisa, gak bisa!"
"Kalau elu kek gini terus, semua menganggap kita salah. Elu nangis karena apa sih? Kenapa elu juga tadi bersikap aneh pada CEO? Elu gak niat goda dia kan?"
"CEO itu mantanku," lirihnya.
"Apa! Jadi dia yang bikin elu mau bunuh diri? Dia yang bikin idup lu ancur? Benar-benar ya! Dia itu pria kejam tahu nggak! Pak Burhan dipecat, dia begitu saja percaya pada ucapan si Felix elu juga gue kira mau melawan dengan heroik eh malah mewek."
"Gue gak bisa menahan diri, Nol. Gue kangen dia, gue pengen meluk dia, gue pengen—"
"Pengin apa lu? Bercinta gitu? Ingat, dia mencampakkan elu saat ha—"
Shintia segera membekap mulut sahabatnya dia tak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Please, Nol."
Nola menghembuskan napas kasar saat Shintia melepaskan bekapannya.
"Tapi bukannya mantan elu namanya Rayon ya? Sedang CEO kita namanya Pak Arya, elu salah orang kali. Lagi halu kali lu," cicit Noli.
Shintia menghembuskan napas lelah, dia sedikit ragu untuk bercerita dalam keadaan seperti ini. Namun, jika tidak. Dia yakin sahabatnya ini akan terus mendesaknya.
"Elu salah kan ya?"
"Nama aslinya Arya Surya Artha. Gue tahu nama itu saat kita akan menikah dulu. Lima tahun lalu, dia menghindari perjodohan dan pergi ke Jakarta, hingga akhirnya bertemu dengan gue. Dia mengenalkan diri sebagai Rayon orang biasa."
"Jadi dia benar si Rayon? Ya ampun. Dunia sempit ya m, Shin. Sekarang rencana elu apa?"
"Entahlah. Gue bingung."
"Mending lu Pepet dia lagi, Shin. Jelaskan ke dia apa yang terjadi dulu. Kali aja dia ngerti dan kalian balikan."
"Tapi gimana dengan ibunya? Gue udah janji, Nol."
"Shin. Elu masih cinta dia kan? Elu gak mau nikah sama orang lain kan?" cecar Nola. Shintia mengangguk mengiakan.
"Dengan begitu, harusnya elu bisa lebih agresif sekarang. Pertahankan cinta Lo yang besar itu. Jangan malah nyerah dan menjauh. Tidak, ini bukan Shintia yang gue kenal!"
"Tapi gue takut dia benci. Tadi aja dia menghindar dari gue."
"Ya wajarlah. Lu lupa dia siapa? Emang mau lu apa, saat elu mau nyentuh rahang dia kalian ciuman di depan semua karyawan gitu?"
"Ya nggak sih, cuma—"
"Cuma apa? Elu mau ditarik dia ke toilet dan kalian bercinta seperti yang sering elu ceritakan ke gue kalau hubungan elu dan dia erotis? Lihat dia elu pengen ya?"
"Gak usah bahas deh, yang penting elu tahu kan, kenapa gue bersikukuh pengen pergi dari perusahaan ini? Gue gak mau lihat dia lagi, Nol. Nggak!"
"Oke, oke gue ngerti. Emang sebegitu berhasratnya ya lo lihat muka dia?" Nola tak berhenti menggoda.
"Diam!" bentak Shintia.
"Oke, oke, sorry. Gini deh, gue sekarang tahu kenapa elu gak mau sama dia. Pasti karena ingat keperkasaan dia di ranjang."
"Noli!" bentak Shintia. Bukan takut, Nola justru terkekeh geli.
"Padahal, gue udah mau gaet. Tapi gak jadi deh. Gue sama sekretarisnya aja."
"Terserah, yang penting gue mau berkemas dan meninggalkan perusahaan ini."
"Eit, tunggu dulu. Gak semudah itu, Rosalinda. Sebelum elu pergi, kita harus lurusin masalah ini. Kita nggak bisa dipecat secara tidak hormat!"
"Dengan cara apa? Kita nggak punya bukti. Felix itu sangat licik."
Nola diam lalu dia tersenyum menyeringai. "Gue ada ide." Noli menjentikan tangannya.
"Apa? Jangan aneh deh, gue lagi gak mood."
"Sini gue bisikin." Noli menarik kuping Shintia dan mulai berbicara dengan sangat pelan.
"Nggak, gue gak mau!" Shintia mendorong tubuh Noli. "Gak sudi gue!"
"Ya cuma itu cara satu-satunya, Shin. Tolong gue dah, gue umur udah berapa? Mau jadi apa gue kalau dipecat dari sini."
"Ngamen bareng gue lah."
"Ogah! Elu sih enak punya suara bagus. Lah gue, bisa dilempari batu kalau nyanyi. Please ya, Shin. Gue pastikan nggak sampai elu ehem gue udah selesai ambil semuanya. Please demi persahabatan kita." Noli mengatupkan kedua tangan di dada. Shintia tetap menggelengkan kepala. Hingga di luluh saat Noli mengatakan bahwa ibunya di desa sedang sakit dan adik-adiknya butuh biaya.
Shintia menghembuskan napas kasar, dia teringat sahabatnya yang dulu menjadi wanita malam hanya karena membiayai keluarga. Dia tak ingin itu terjadi pada Nola.
"Oke, gue mau!"
"Yeah. Kita beraksi secepatnya. Anggap aja saat elu ehem-ehem bayangin wajah Rayon."
"Nola! Gue gibeng Lo!"
***
Felix kini sedang duduk di ruangannya. Dia sangat senang karena semua rencananya untuk menyingkirkan Shinta dan Noli berhasil. Dia akan mengganti dengan Dinda dan Caca, perempuan muda yang bisa dia kendalikan.
"Nggak sia-sia gue kasih mereka cuti dan tiket liburan gratis. Dasar bodoh dengan polos mereka mau aja. Percaya begitu saja," gumamnya dengan tersenyum menyeringai.
"Tapi kenapa HRD belum email sih?"
Sejak tadi dia menunggu email dari HRD untuk memberikan sebuah putusan pemecatan kedua bawahannya. Dia memijat pelipisnya, merasa sangat khawatir karena kedua perempuan itu memiliki citra yang baik. Mereka sudah menjadi admin gudang dua tahun lebih, tidak ada catatan buruk kecuali hari ini.
"Aku nggak boleh khawatir, sikap Shintia jelas-jelas seperti orang yang bersalah nanti. Padahal, aku takut kalau dia tadi membongkar semua. Tapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Baguslah."
"Salah sendiri kamu sok jual mahal, Shintia. Rasakan akibatnya. Coba saja kalau kamu nurut. Semua ini nggak akan terjadi. Aku bisa pastikan kamu akan bertekuk lutut di hadapanku. Lihat saja nanti."
***
Di tempat yang berbeda, seorang pimpinan yang tak banyak bicara kini duduk di kursi kebesaran dengan mengetuk-ngetuk jari di atas meja. Pandangannya kosong ke depan. Hans sang sekretaris duduk di sofa dengan memangku laptopnya. Dia fokus pada pekerjaan.
"Tentang kasus di gudang, aku merasa ada yang janggal. Pertama, sikap Felix dia seperti tahu hal ini akan terjadi dan menjadikan kedua bawahannya kambing hitam. Itu asumsiku. Bagaimana menurutmu?" tanyanya. Jika saat berdua mereka sangat santai karena memang bersahabat.
"Aku nggak nyangka, bisa bertemu lagi dengannya," ucap pria yang sejak tadi hanya melamun.
"Kamu bicara apa? Bertemu dengan siapa? Ini kita lagi bahas apa sih?" Hans tampak kesal, dia seperti melihat orang lain dari diri sahabatnya. Pria yang begitu serius jika bekerja kini tampak seperti ayam sakit. Nguyung sejak tadi.
"Dia kenapa kejam banget, ninggalin aku yang sedang sakit."
"Astaga!" Hans mengusap wajahnya dengan kasar. "Gak waras banget sih."
"Fokus, Ya. Fokus!"
"Gimana mau fokus, sampai detik ini aku gak bisa melupakan dia. Padahal, dia begitu jahat. Dia rela pergi demi pria kaya. Apa dia nggak tahu kalau aku lebih kaya?"
Amarah menguasai Arya. Dia menyapu bekas-bekas yang ada di atas meja hingga jatuh ke lantai dan berserakan.
"Arya, kuasai dirimu!" bentak Hans.
"Pecat admin gudang itu, sekarang!"
"Tidak bisa, aku harus menyelidiki in karena semua terasa janggal!"
"Aku bilang pecat ya, pecat!"
"Tenangkan dirimu, Arya. Kamu harus bisa menguasai diri. Bersikap profesional!"
"Aku tidak ingin melihat mereka. Terutama Shintia!"
"Shintia?" ulang Hans. "jangan bilang dia mantanmu itu?"