Renee malam itu berencana lembur, tetapi Michela tiba-tiba menariknya bangkit.
"Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana?" Renee tak terlalu berminat.
"Katanya malam ini di tepi sungai ada pertunjukan kembang api. Aku temani kamu nonton."
"Ngaku saja deh, kamu sendiri yang ingin nonton, 'kan?"
"Sama saja! Ayo, jangan banyak alasan."
Renee membereskan barang-barangnya dan menggeleng pasrah. "Aku akhirnya paham kenapa setelah tiga tahun, studio ini masih belum berjaya."
"Eh, jangan begitu dong! Kerja itu cuma buat hiburan, hidup yang penting dinikmatin. Lagian, manusia hidup cuma beberapa puluh tahun, ya harus dijalanin dengan senang dong."
"Ya, ya, kamu benar banget." Renee mengangguk mengiakan.
Sebenarnya dia cukup iri pada Michela. Meskipun kondisi keluarganya biasa saja, dia punya orang tua dan kakak yang sayang padanya, tidak pernah dipaksa melakukan hal yang dia tidak mau. Jika sedang semangat, dia akan kerja. Jika sedang malas, dia tinggal bersantai di rumah. Yang penting uangnya cukup untuk hidup. Selama tidak menikah, kualitas hidupnya tidak akan berubah.
Bagi Renee, hidup yang sesederhana dan sebahagia itu adalah sesuatu yang hanya bisa diimpikan.
Dalam hidupnya hanya ada ayah yang sakit-sakitan, ibu dan adik yang egois serta licik, juga suami dan anak yang tidak mencintainya.
Karena hati penuh tekanan, bahkan kembang api pun terasa hambar di matanya. Michela terus menjelaskan kalau pertunjukan malam ini spektakuler, gabungan kembang api dan drone yang menciptakan formasi megah di langit. Sorak-sorai di sekeliling pun menggema tak henti. Namun, Renee tetap merasa kembang api hanya sekejap. Seindah apa pun, tetap akan hilang.
Hanya saja, demi tidak merusak suasana hati Michela, dia berusaha menampilkan ekspresi kagum dan ikut bersorak.
Ketika pertunjukan mencapai puncak, tiba-tiba terdengar suara kecil dan lembut di belakangnya. "Kembang api ... cantik .... Mama Nissa cantik!"
Suara itu tenggelam di antara teriakan orang banyak, tetapi Renee langsung mengenalinya. Itu suara Renji, anaknya.
Tanpa sadar, dia menoleh. Benar saja, Arvin sedang menggendong Renji, berdiri di antara kerumunan bersama Nissa. Tiga sosok itu tampak seperti keluarga kecil yang sempurna, begitu bahagia, seindah kembang api di langit.
Nissa menggenggam tangan kecil Renji sambil tersenyum lembut. "Ternyata Renji suka sekali kembang api ya? Kamu harus berterima kasih pada Papa, karena Papa yang bawa kita nonton kembang api malam ini."
"Terima kasih, Papa!" Renji mencium pipi Arvin dengan semangat. Arvin tertawa ringan.
Sudah seminggu tidak bertemu, anak kecil itu tampak semakin gemuk. Kelihatannya Nissa memang merawatnya dengan baik.
Renee berdiri empat atau lima baris orang di belakang mereka, cukup jauh sampai mereka tidak menyadari kehadirannya.
Awalnya dia berniat pura-pura tidak melihat, tetapi saat hendak menoleh, tanpa sengaja dia beradu pandang dengan Arvin.
Kembang api di langit meledak terang, menerangi seluruh tepi sungai. Di bawah cahaya itu, tatapan mereka saling bertaut dan semua emosi di mata masing-masing tak bisa lagi disembunyikan.
Arvin dingin seperti biasanya, sementara Renee tampak begitu rapuh dan kacau. Waktu seakan-akan berhenti.
Kembang api terus bermekaran di langit. Renji tertawa bahagia, Nissa juga tersenyum lebar, seolah-olah dunia hanya milik mereka bertiga.
Renee baru tersadar ketika Michela menarik lengannya keras-keras. "Tunggu aku di sini! Aku mau ke sana buat motong tangan perempuan itu!"
Renee mengikuti arah pandangnya, melihat Nissa menggandeng tangan Renji dengan lembut. Mereka begitu akrab layaknya ibu dan anak.
"Jangan gila," kata Renee segera sambil menahan Michela. "Bukannya kamu sendiri yang suruh aku lepasin si berengsek itu dan fokus kerja? Nah, sekarang aku sudah lepas, malah kamu yang nggak bisa lepas?"
Michela terdiam, tak bisa membalas.
"Sudahlah, nonton kembang api saja." Renee membalikkan tubuh temannya, memaksanya tetap di tempat.
Mereka melanjutkan menonton kembang api. Hanya saja, setelah kejadian kecil tadi, Renee semakin kehilangan minat untuk menikmatinya.
Dia teringat pada pertunjukan kembang api di tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali, dia pernah memberanikan diri bertanya pada Arvin apakah mereka bisa membawa Renji ke tepi sungai untuk menonton kembang api. Namun, Arvin selalu menolak dengan alasan Renji masih terlalu kecil.
Malam ini, dia justru datang bersama Nissa dan Renji.
Jadi, ternyata bukan karena Renji terlalu kecil, melainkan karena Arvin memang tidak ingin datang bersamanya.
Hatinya yang sudah remuk, kini tenggelam semakin dalam. Tekadnya untuk bercerai pun semakin kuat.
Kembang api berakhir, kerumunan mulai bubar. Renee menggandeng lengan Michela, berjalan ke arah yang berlawanan dari Arvin.
Awalnya dia berpikir bisa menghindari mereka, tak disangka malah berpapasan di pinggir jalan.
Renee tertegun sejenak. Secara refleks, dia menatap ke arah Arvin. Arvin pun sedang menatapnya dan matanya memancarkan ketidaksenangan.
Renee tidak mengerti. Dia yang membawa kekasih barunya menonton kembang api, tetapi malah terlihat tak senang?
Arvin memang selalu sulit ditebak. Renee juga sudah tidak ingin menebak lagi.
"Pak Arvin, kebetulan sekali," sapanya sambil tersenyum tipis.
Arvin mengeratkan pelukannya pada Renji, lalu menatapnya dengan dingin. "Ngambek sampai anak sendiri pun nggak mau diurus lagi ya?"
Renee menatap Renji. Anak kecil itu merasakan tatapan ibunya. Alis mungilnya berkerut, lalu dia spontan bersandar ke pelukan Nissa.
"Nggak mau Mama ... mau Mama Nissa." Wajah mungilnya penuh keseriusan, tanpa sedikit pun rasa takut membuat mamanya sedih.
"Renji, nggak boleh bicara begitu. Mama itu yang paling sayang sama kamu, tahu?" Nissa segera meraih tubuh mungil itu, lalu membujuk dengan lembut, "Renji anak baik, biarkan Mama gendong sebentar ya?"
"Nggak mau Mama ...." Renji justru semakin menempel di pelukan Nissa. Nissa tidak bisa membujuknya lagi, jadi akhirnya hanya menatap Renee sambil tersenyum sopan.
"Bu Renee, jangan salah paham. Mungkin Renji sudah terlalu lama nggak bertemu denganmu."
"Nggak apa-apa." Renee perlahan menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu berkata dengan nada datar, "Kalau Renji nggak mau sama aku, aku pulang saja dulu."
"Tunggu." Arvin menahan pergelangan tangannya, menatap wajah sampingnya. "Kita pulang bersama."
Pulang bersama? Ke mana? Ke rumah lama Keluarga Suryana? Atau ke rumah mereka yang dulu? Ke mana pun itu, Renee tidak ingin bersamanya lagi.
Dia berusaha menarik tangannya, sedikit demi sedikit, hingga lolos dari genggaman Arvin. "Nggak usah, kamu antar saja Bu Nissa dan Renji pulang."
Setelah berkata begitu, dia berbalik dan pergi.
"Kamu belum puas bikin masalah?" Arvin melangkah cepat hendak menarik lengannya lagi.
"Pak Arvin!" Michela segera berdiri di depannya tanpa basa-basi. "Tolong jaga sikap. Renee sekarang bukan lagi istrimu. Silakan pulang dengan pelacur dan anak kesayanganmu, jangan ganggu dia lagi."
Tatapan Arvin langsung menjadi suram. Nissa yang di sampingnya pun naik pitam.
"Kamu bilang siapa pelacur?"
"Siapa pun yang merebut suami orang." Michela menyapunya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. "Kenapa? Kamu ini guru les yang katanya mulia itu, mau mengakui sendiri?"
"Kamu ...." Nissa nyaris tak bisa menahan diri. Namun, dia segera menekan emosinya, menggigit bibir seolah-olah menahan tangis.
"Kamu salah paham. Aku ini cuma guru privat Renji."
"Oh, guru privat?" Michela menatapnya, lalu melirik Arvin, dan tanpa sopan meludah ke arah mereka berdua. "Cih!"
Wajah Arvin semakin kelam. Dia tidak ingin membuang waktu berdebat dengan Michela.
Suara beratnya terdengar di belakang Renee yang sudah menjauh. "Renee, kamu nggak ngerti bahasa manusia ya? Ikut aku pulang."
Renee sebenarnya bisa mendengar dengan jelas kata-kata Arvin, tetapi kali ini suaranya seolah-olah kabur di telinganya.
Dia menatapnya, lalu perlahan melepas alat bantu dengar dari telinganya, tepat di depan wajah pria itu. Gerakan kecil itu langsung membuat Arvin terdiam. Wajah tampannya yang biasanya dingin, kini meredup di bawah cahaya malam.
Arvin tahu betul arti dari tindakan itu. Renee memang tidak pernah berani bersikap keras padanya,
tetapi dia pernah melihat cara Renee memutus percakapan dengan orang lain, yaitu dengan sengaja melepas alat bantu dengar di depan mereka.
Itu artinya apa? Itu berarti dia menyuruh pihak lawan untuk diam.
Tak pernah terpikir olehnya, bahwa suatu hari Renee akan melakukan hal yang sama padanya.
Cahaya lampu jalan membuat bayangan tubuh Renee tampak ramping dan rapuh. Michela memeluk bahunya dengan lembut. "Renee, dunia ini bukan cuma ada Arvin dan Renji. Masih banyak hal indah lainnya, seperti kembang api malam ini."
Michela berbicara di dekat telinganya. Renee berusaha mendengar, lalu tersenyum pahit. "Aku tahu."
Keesokan harinya setelah pertunjukan kembang api, Renee menerima pesan dari Rosa. Renji demam.
Hatinya langsung mencelos. Dia buru-buru menelepon untuk menanyakan keadaan Renji.
Rosa menjelaskan bahwa si kecil baik-baik saja di siang hari, tetapi malamnya tiba-tiba demam tinggi.
"Gurunya di mana? Nggak menemaninya?"
"Eh ... ada kok."
Renee terdiam. Beberapa detik kemudian, suaranya kembali tenang. "Baiklah, tolong jaga Renji dengan baik ya. Terima kasih."
"Nyonya ... nggak mau datang jenguk?"
Wajar kalau Rosa terkejut. Biasanya kalau Renji sakit sedikit saja, Renee akan panik setengah mati,
menangis dan memohon agar Arvin membawanya pulang ke rumah lama Keluarga Suryana untuk melihat anaknya.
"Nggak perlu. Aku bukan dokter. Lagi pula, dia sudah dijaga kalian semua, 'kan?" sahut Renee pelan, menahan rasa getir di dadanya.
Di seberang, Rosa menggenggam ponselnya erat-erat, lalu melirik ke arah Arvin yang sedang duduk di sofa. "Tuan, Nyonya bilang ...."
"Aku dengar semuanya," sela Arvin.
Dia menekan puntung rokok di asbak, wajahnya tampak muram. Setelah bangkit, dia hanya meninggalkan satu perintah, "Panggilkan dokter keluarga. Pastikan Renji dijaga dengan baik."
"Baik, Tuan." Rosa menatap punggung pria itu yang menjauh. Entah kenapa, menurutnya akhir-akhir ini bukan hanya Renee yang berubah, tetapi Arvin juga. Sama-sama menjadi aneh.
Setelah menutup telepon, Renee menatap ke luar jendela. Langit sudah gelap. Dia merapikan meja kerjanya, lalu mengambil tas untuk pulang.
Saat sedang menunggu bus, sebuah mobil Bentley hitam berhenti perlahan di depannya. Dari jendela yang turun setengah, muncul wajah tampan Nathan dengan senyuman hangatnya.
"Bu Renee, kebetulan sekali. Biar aku antar kamu pulang."
Renee sempat tertegun, lalu dia cepat-cepat menggeleng. "Nggak perlu, terima kasih. Aku tunggu bus saja."
"Bu Renee, kita saling kenal ya?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Karena kamu terus menghindariku."
Renee terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Gedung Grup Gumarang memang bersebelahan dengan tempat kerjanya. Dalam seminggu ini saja, mereka sudah bertemu tiga kali. Setiap kali bertemu, Renee berpura-pura tidak melihat, lalu buru-buru menghindar. Ternyata Nathan menyadarinya.
"Kalau terus begini, aku bisa salah paham lho. Aku bisa pikir kamu habis melakukan sesuatu yang bikin aku marah."
Ucapan itu sukses membuat Renee naik ke mobil. Untuk pertama kalinya, dia duduk begitu dekat dengan pria yang dulu hampir menjadi suaminya.
Renee menggenggam sabuk pengamannya erat-erat. Tubuhnya kaku karena gugup.
Nathan melihatnya tegang, jadi tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Jangan khawatir, aku cuma bercanda. Aku dengar kamu kerja di bidang desain busana ya? Aku sebenarnya ingin bicara sedikit soal kerja sama."
"Kerja sama?" Begitu tahu itu urusan pekerjaan, Renee diam-diam merasa lega. Namun, masih dengan nada waspada, dia bertanya, "Aku ini cuma desainer pemula, baru masuk kerja. Kerja sama seperti apa yang kamu maksud?"
"Justru desainer pemula itu yang paling menarik," jawab Nathan dengan tulus. Kedua tangannya menggenggam setir. "Kami butuh orang yang punya ide baru."