"Nah, selesai. Kau bisa melihat hasilnya sekarang," ucap penata rias pada seorang gadis yang sedari tadi tak henti mengukir senyum di wajahnya.
"Wow, kau sangat cantik Embun."
Wanita berusia 29 tahun itu mendekati adik iparnya, membantu Embun bangun dari kursi.
"Kau membuatku malu, Kak," cicit Embun.
"Aku berani bersumpah, dan aku tidak bohong. Kau memang sangat cantik, Sayang."
Gadis bernama Embun itu menatap pantulannya di depan cermin. Riasan flawless membingkai wajahnya yang berbentuk oval. Sapuan make up tipis namun semakin mempercantik wajahnya yang dihiasi bulu mata lentik. Manik mata kecokelatan bak kacang almond itu terus memendarkan binar kebahagiaan.
"Aku sangat gugup Kak," bisik Embun pada wanita yang belum lama ini menjadi kakak iparnya. Kedua tangannya saling memilin saking gugupnya.
"Wajar, Kakak juga dulu begitu. Usahakan untuk rileks dan tetap tenang."
Embun mengangguk, lagi-lagi melemparkan senyum sekedar mengurangi kegugupannya.
"Maaf, saya masih harus merapikan ini dulu, Nona." Penata rias meraih wedding vail yang tersemat di balik rambut Embun.
Calon pengantin itu sedikit membungkuk membiarkan penata rias melakukan tugasnya dengan leluasa.
"Apa kau tidak merasa jika riasannya terlalu tipis?" Bella, kakak ipar Embun bertanya pada penata rias.
"Tidak Nona, wajah Nona Embun sudah sangat cantik dan saya hanya perlu memolesnya dengan sedikit riasan tipis."
Bella mengangguk. Jika dilihat, riasan seperti itu memang cocok untuk gadis seusia Embun.
"Aura kecantikannya begitu terlihat tanpa perlu memolesnya dengan make up tebal Nona," kata penata rias itu lagi.
Kakak ipar Embun mengangguk setuju dengan pendapat penata rias lalu berkata, "Kau boleh pergi." Sambil mengibaskan tangannya.
Wanita itu membimbing Embun untuk duduk kembali. "Tunggu sampai kakakmu datang menjemputmu."
"Baik, Kak."
Bibir tipis berpoles gincu merah itu terus merekah membingkai senyum, Embun tak sabar menantikan proses pergantian statusnya menjadi seorang istri. Sudah sejak lama dia memendam perasaan cintanya pada Putra, lelaki yang merupakan teman dekat kakaknya.
Dulu, setiap pulang sekolah, diam-diam Embun akan mencuri pandang pada lelaki itu. Cinta monyet, orang menyebutnya demikian akan tetapi makin hari perasaannya pada Putra semakin bertambah dan tak ada yang berbeda sampai Embun menginjak usia dewasa.
Tibalah hari ini, hari yang setiap malam begitu dimimpikan oleh Embun. Harapannya untuk menjadi Nyonya Putra Arifin Wicaksana akan terlaksana dalam hitungan jam. Embun tak sabar untuk melihat pengantin prianya, calon suaminya. Debaran jantungnya menggila setiap kali ia teringat pada lelaki itu.
Daun pintu terbuka lebar seiring dengan munculnya sosok gagah yang berdiri menjulang di ambang pintu.
"Ya Tuhan, Sayang. Kau sangat cantik."
Satria tertegun melihat penampilan adiknya yang jauh berbeda dengan kesehariannya. Balutan gaun pengantin mewah dengan taburan Swarovski menambah kesan elegan. Embun terlihat jauh lebih dewasa dari usia yang sebenarnya.
"Hei, simpan air matamu itu. Ini adalah hari bahagia adikmu, jadi jangan coba-coba untuk merusaknya dengan menangis." Bella menghampiri suaminya, memeluknya sebentar.
"Apa ini benar Embun adikku yang manja itu?" Embun mencebik mendengar penuturan kakaknya, keduanya berpelukan.
"Kakak sampai tidak mengenalimu. Ternyata kau sangat cantik dan sudah besar sekarang, sudah mau jadi istri orang," Lanjut Satria.
"Kakak."
Sama seperti Satria, Embun pun tak kuasa menahan haru yang merebak di dadanya. Satria mengurai pelukan itu lalu membingkai wajah adik kesayangannya, satu-satunya keluarga yang ia punya semenjak kepergian kedua orang tuanya.
"Jangan menangis. Ini hari bahagiamu dan kamu sudah begitu lama menantikannya, bukan begitu?" Satria mengecup dahi adiknya.
Embun mengangguk, cairan bening yang ia tahan sedari tadi menerobos paksa hingga bergulir di pipinya. Satria menyeka dengan ibu jarinya.
"Calon suamimu sudah menunggumu di depan, sebaiknya kita cepat keluar sebelum dia semakin bosan menunggu." Satria menggoda adiknya.
Wajah yang semula diliputi mendung itu berubah menjadi secerah mentari pagi. Satria memberikan tangannya untuk diapit sang adik.
Penata rias datang untuk merapikan kembali gaun dan penampilan Embun, lalu kakak beradik itu keluar melewati karpet merah yang membentang panjang dengan mempelai pria di ujung yang berbeda.
Bella melangkah mengekori suami dan adik iparnya sambil sesekali membetulkan ekor gaun pengantin Embun yang menyapu lantai.
"Kakak bahagia bisa melepasmu bersama pria yang kamu cintai, Embun," ucap Satria setengah berbisik. Langkah kaki keduanya selaras dengan musik pengiring yang mengalun merdu memenuhi gedung resepsi.
"Terima kasih Kak, hanya itu yang bisa aku katakan padamu. Kau adalah kakak terbaik di dunia. Kau adalah pahlawanku, Kak." Embun menjawab dengan berbisik juga tanpa mengalihkan pandangannya.
Tubuh mungil itu bergetar hebat melihat pria dengan setelan tuxedo dan korsase bunga yang terselip di saku jasnya, tengah berdiri menantinya di ujung karpet. Langkah mereka kian dekat, seiring dengan debaran jantung Embun yang bertalu dua kali lebih cepat dari biasanya.
Langkah mereka perlahan terhenti tepat di hadapan Putra. Satria memberikan tangan Embun pada calon mempelai pria yang tak lain adalah sahabat karibnya.
"Aku serahkan tanggung jawabku padamu. Cintai dan jaga dia seperti kita menjaga persahabatan kita selama ini," pesan Satria pada calon suami Embun.
"Tentu." Putra menjawab singkat.
"Jangan segan untuk menegurnya jika dia salah, bimbing dia agar menjadi istri yang baik dan kembalikan dia padaku dengan cara yang baik jika kamu sudah tidak mencintainya lagi suatu hari nanti."
Momen seperti ini terasa begitu mengharukan. Embun menatap kakaknya dengan tatapan bangga karena pria itu sudah menjaganya dengan baik selama ini.
"Aku akan selalu menjaganya."
Putra menggantikan Satria mengapit Embun, keduanya berjalan menghadap pemuka agama yang telah bersiap di depan mimbar.
Pemuka agama pun memulai jalannya upacara pernikahan. Masing-masing calon pengantin mengucap janji suci pernikahan, dilanjutkan dengan pertukaran cincin.
Tangan Embun bergetar sampai-sampai cincin yang hendak dia sematkan di jari manis Putra hampir terjatuh. Sesekali ia memberanikan diri melirik ke arah lelaki itu. Sama sekali tak ada yang berubah, wajah itu tetap tenang sedalam lautan. Ekspresi wajah yang dingin dan datar, hingga Embun tak dapat meraba perasaan pria yang baru saja resmi menjadi suaminya.
Tepuk tangan meriah para tamu undangan mengembalikan kesadaran Embun akan lamunan panjangnya. Para tamu bersorak menginginkan wedding kiss.
Embun menatap ragu suaminya, selama ini Putra yang dia kenal adalah sosok pria yang tak suka mengumbar kemesraan. Jangankan berciuman, jalan berdua sambil berpegangan tangan saja sangat jarang mereka lakukan. Ciuman pun hanya sebatas di kening.
Putra seakan tak terpengaruh sama sekali meski para hadirin mendesaknya untuk segera melakukan wedding kiss. Dan tebakan Embun benar, Putra mendekatkan wajahnya dengan hanya mengecup keningnya sekilas. Embun kecewa, tapi ia berpikir jika Putra akan menjadi suami yang hangat ketika mereka hanya sedang berdua saja. Ia tahu betul tabiat Putra yang tak suka mengumbar kemesraan di depan orang-orang.
Sorak pengunjung yang kecewa lantaran tak mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan hanya ciuman di kening. Apa bagusnya acara pernikahan tanpa wedding kiss seperti yang dilakukan kebanyakan pasangan pengantin baru, pikir para tamu undangan.
Setelah pelemparan buket bunga, pembaca acara pun mempersilakan para tamu undangan untuk menikmati jamuan. Putra mengajak Embun duduk di pelaminan, beristirahat sebentar sebelum mereka diserang antrean panjang para tamu yang datang untuk memberikan restu.
"Kau mau minum?" Kalimat pertama yang meluncur dari bibir Putra setelah sekian lama kebungkamannya.
Embun mengangguk menerima botol dengan sedotan yang disodorkan Putra.
"Terima kasih, Kak."
Bibir lelaki itu melekuk tipis, bukan sebuah senyuman akan tetapi lebih mirip seperti sebuah seringai dan Embun terbiasa dengan hal itu. Lelaki yang kini resmi menjadi suaminya memang tipikal orang yang irit bicara dan jarang tersenyum.
"Hanya untuk air minum saja kau sampai berterima kasih."
"Salah satunya."
Putra diam menunggu kelanjutan dari ucapan Embun.
"Ya, aku berterima kasih karena Kakak sudah memberiku minum, tapi itu hanya salah satu alasanku berterima kasih. Alasan utamaku berterima kasih adalah karena Kakak telah menikahiku. Terima kasih mau menikah denganku, Kak." Embun memperjelas ucapannya.
"Aku kira apa." Menjawab dengan datar.
"Aku tahu ini pasti akan terasa aneh karena kita hanya berpacaran sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah," Lanjut Embun.
"Kita sudah sepakat untuk menjalaninya Embun. Kita masih sama-sama belajar untuk menjalani peran kita masing-masing," ujar Putra.
"Ya, Kakak benar."
Percakapan keduanya terputus saat Putra meminta izin pergi ke kamar kecil, Embun melanjutkan perbincangan dengan kerabat suaminya.
Putra berkali-kali menyentak napas panjang seolah sedang mengeluarkan beban yang terasa menghimpit dadanya. Ia berjalan pelan menuju kamar kecil bukan lantaran untuk menuntaskan hajatnya, tapi agar bisa sejenak menyingkir dari acara itu.
"Put!"
Panggilan seseorang menghentikan langkah Putra, pria itu berbalik menoleh ke arah sumber suara. Putra tersenyum kecut pada gadis yang saat ini tengah berjalan ke arahnya.
"Selamat." Gadis itu mengulurkan tangannya. Cukup lama telapak tangan itu menggantung di udara karena Putra tak kunjung menjabatnya.
Putra menarik tangan gadis itu dan membawanya sedikit menyingkir di lorong yang sepi. Tanpa aba-aba ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, dan tak lama setelahnya terdengar isak tangis lirih.
"Maafkan aku. Aku memang pengecut," lirih Putra penuh sesal.
"Jangan salahkan dirimu karena nyatanya aku pun tak sanggup, Put. Aku nggak bisa hidup tanpamu."
"Jangan menangis. Meskipun aku menikahinya tapi bukan berarti hati dan cinta ini menjadi miliknya. Hanya kamu seorang yang aku cintai, Giska." Putra berujar.
Wanita bernama Giska itu terus menangis tersedu, membuat tuxedo yang membalut dada bidang Putra menjadi basah karenanya.
"Ternyata aku nggak bisa hidup tanpa kamu Put. Ini terlalu menyedihkan," lirih Giska terisak.
"Aku juga. Aku tersiksa tapi aku nggak bisa mencegah pernikahan ini. Bertahanlah hanya untuk satu tahun, aku akan menceraikannya setelah setahun usia pernikahan kami. Aku janji untuk tidak menyentuhnya demi menjaga cintaku padamu. Dan setelah itu kita bisa menikah dan hidup bahagia bersama selamanya, Giska." Janji Putra terdengar manis di telinga wanita itu, sorot matanya tajam menunjukkan betapa ia tak sedang berbohong.
"Aku ragu. Dia cantik dan masih begitu muda, aku yakin dengan kepribadinya yang menyenangkan dia akan dengan mudah mencuri hatimu."
"Tidak Giska! Hal seperti itu tidak akan terjadi, percayalah. Dia sama sekali bukan tipeku. Dia manja, kekanak-kanakan dan selalu memaksakan kehendaknya. Jangankan cinta, aku bahkan sama sekali tidak menyukainya. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, yang aku harapkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Bukan gadis manja seperti Embun," ucap Putra berusaha meyakinkan hati kekasihnya.
"Apa kamu bicara jujur?" Giska menarik diri dari pelukan lelaki itu, menelisik raut wajah Putra, mencoba mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi di balik tatapan pria itu. Sialnya, apa yang baru saja diucapkan Putra justru membuat Giska serasa terbang ke langit luas. Membuatnya begitu meyakini apa yang telah dijanjikan Putra padanya.
"Tentu saja. Aku nggak mungkin bohong sama kamu."
"Janji kalau kamu tidak akan menyentuh Embun dan akan bercerai setelah satu tahun pernikahan kalian?"
"Janji." Putra menjawab dengan penuh kemantapan hati.
"Aku takut Satria akan marah saat tahu kita ada main di belakang adiknya."
"Aku akan mencari cara agar bisa bercerai tanpa merusak persahabatan kami." Putra kembali berjanji.
Sementara itu di balik lorong yang sama tanpa sepengetahuan mereka telah berdiri seorang gadis. Gadis dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, gadis yang baru beberapa saat lalu resmi melepas status lajangnya dan bertekad untuk mengabdi dengan sepenuh hati menjadi seorang istri.
Baru saja ia menyemai impiannya yang begitu indah bersama pria yang sangat dicintainya, haruskah sepahit empedu balasannya?
Cukup lama Embun menghabiskan waktunya dengan menangis di kamar mandi. Baskoro, ayah mertuanya memintanya untuk menyusul Putra lantaran ada kerabat jauh yang datang dari luar negeri demi bisa menghadiri acara pernikahan tersebut. Embun melangkah dengan hati berbunga menyusul suaminya, tapi ternyata hanya luka yang dia dapatkan dari percakapan suaminya bersama wanita lain yang berhasil Embun dengar.
Saat mendengar pengakuan cinta suaminya untuk perempuan lain, saat mendengar bahwa tak ada satu pun hal dari dirinya yang mampu memikat hati Putra, saat itulah Embun merasa dunianya hancur seketika.
"Kenapa harus perempuan itu, kak? Kenapa harus Kak Giska? Dia juga sudah aku anggap seperti kakakku sendiri," Lirih gadis itu, pilu.
Embun berdiri di depan cermin. Kristal bening terus berjatuhan di pipinya, tak peduli jika riasannya sampai rusak karena terlalu lama menangis. Embun merasa tak hanya hatinya yang sakit, sekujur tubuhnya juga remuk redam terlebih saat Putra dengan jelas mengatakan tak ada sedikit pun rasa di hati lelaki itu untuknya.
Bayangkan saja, hanya dalam hitungan menit setelah janji suci pernikahan diucapkan dan Embun sudah dihadapkan dengan kenyataan pahit seperti ini. Wanita mana yang akan sanggup menahan lara di dadanya mengetahui fakta kalau suaminya mencintai perempuan lain. Tak ada yang lebih menyakitkan dari ini.
Puas menikmati kesedihannya seorang diri, Embun pun membasuh wajahnya dan kembali ke pelaminan. Ia harus berakting untuk terlihat bahagia sekali pun fakta yang baru saja dia ketahui sudah menghancurkan hati dan impiannya.
Semua sudah terjadi dan akan sangat terlambat jika Embun harus mundur. Untuk saat ini dia tak ingin memikirkan apa pun selain menikmati lakonnya agar tak ada seorang pun yang tahu badai yang baru saja menghantam rumah tangga yang bahkan baru dibentuk.
"Embun, Sayang. Dari mana saja kamu? Mertuamu menyuruhmu untuk memanggil suamimu, kenapa malah kamu lama sekali padahal Putra sudah kembali sejak tadi."
Bella menghadang Embun dan langsung menyuruhnya berdiri di dekat pria yang baru saja menikahi adik iparnya.
"Maaf Kak, tadi perutku agak mulas. Aku benar-benar gugup tadi sampai aku merasa nggak karuan." Embun berdalih.
"Ya sudah. Bersiaplah karena sebentar lagi para tamu akan memberikan restu untuk kalian," Kata Bella sebelum kembali ke tempatnya.
Sementara itu tatapan Satria terus tertambat pada wajah sang adik. Lelaki itu menaruh curiga karena Embun berada cukup lama di kamar mandi dan kembali dengan wajah sembab seperti itu. Akan tetapi Satria berusaha menahan diri untuk tak banyak bertanya mengingat situasinya sedang tidak mendukung saat ini.
Embun meraih tangan para tamu undangan yang berbaris memberikan selamat dan doa restu padanya. Perhatiannya terus tertuju pada tamu undangan yang bergantian menyalaminya, tanpa sedikit pun menatap ke arah Putra.
"Kamu dari mana saja?" Bisik Putra tanpa mengalihkan pandangannya. Bibirnya terus membingkai senyum tipis yang terkesan dipaksakan kala menyambut tamu undangan.
"Dari kamar kecil, Kak." Embun menjawab dengan setengah berbisik juga.
Jika teringat kata-kata yang dilontarkan suaminya di belakang tadi, seperti anak panah beracun yang menghujam jantung Embun. Sakit tak terperi, tapi berkali-kali wanita itu berusaha menguatkan hati untuk tetap tegar.
Sesekali Embun memijit tengkuknya, setelah berjam-jam lamanya berdiri menerima tamu Embun merasa letih. Satria mendekati adiknya saat tamu tak lagi seramai tadi.
"Minum dulu, Mbun," Ujar sang kakak menyodorkan sebotol minuman dingin.
"Terima kasih Kak." Embun menyedot cairan dalam botol itu hingga tersisa setengahnya.
"Apa ini?" Satria menatap tajam adiknya, menyentuh pipi Embun yang masih basah dan sembab.
"Maksud Kakak apa?" Embun gelagapan.
"Jangan bohong sama Kakak. Kakak tahu kamu nggak ahli bohong." Tatapan kakak lelaki Embun itu meredup.
"Beneran aku nggak ngerti apa maksud Kakak," Sanggah Embun.
"Kamu habis nangis? Apa perlu Kakak perjelas maksud Kakak?" Satria mencecar adiknya, dia tahu ada yang sedang Embun sembunyikan darinya.
Embun tersenyum. Ya, senyum yang sejak tadi ia paksakan untuk menyembunyikan luka hatinya.
"Wajar aku nangis Kak, aku terharu karena akhirnya impianku bisa menikah dengan Kak Putra pada akhirnya terwujud. Tanya sama Kak Bella, dulu dia juga menangis waktu kalian menikah." Embun mencari alasan agar Satria tak curiga padanya.
"Benar hanya karena itu?" Embun mengangguk. "Kenapa Kakak merasa seperti ada yang sedang kamu sembunyikan dari Kakak," Imbuh Satria. Tatapannya terus memindai manik mata Embun, menelisik kejujuran dari ucapan adik satu-satunya itu.
Embun tergelak. Sungguh akting yang sempurna. Embun hampir saja menangis jika tak teringat untuk menjaga perasaan kakaknya. Takdir cintanya sungguh menyedihkan, dan Embun mentertawakan kemalangannya.
"Memang Kakak cenayang apa yang tahu perasaan orang tanpa orang itu menceritakannya pada Kakak? Ada-ada saja." Embun menggeleng.
"Syukurlah. Kakak hanya khawatir." Diusapnya kepala Embun.
"Aku baik-baik saja, Kak." Embun memeluk kakaknya, mencoba mengusir kegelisahan dalam diri pria itu sementara dalam hatinya terus terjadi peperangan batin.
'Maafkan aku, kak. Sungguh aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya tidak ingin kamu kecewa.' Embun membatin.
Embun memejamkan matanya menghalau genangan yang sudah terkumpul di pelupuk matanya agar tak jatuh dan menambah kecurigaan Satria.
Gadis berusia 20 tahun itu membuka mata dan terkejut bukan main saat melihat perempuan yang dicintai suaminya sedang menaiki anak tangga menuju ke arahnya.
"Sayang, mau sampai kapan kamu akan memeluk adikmu seperti itu? Dia sudah menikah sekarang, aku takut suaminya cemburu padamu," Ucap Bella menggoda suaminya dan melirik Putra.
Satria reflek melepas pelukannya dan tersenyum lebar menanggapi ucapan sang istri. Keduanya baru menikah lima bulan yang lalu setelah cukup lama menjalin hubungan sejak bangku sekolah menengah atas.
"Embun."
Yang dipanggil menoleh, Embun gegas memutus pandangannya saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan Giska. Ya, Giska. Wanita yang baru ia ketahui statusnya sebagai kekasih dari suaminya.
Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku harapkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak.
Ucapan itu terus terngiang di telinga Embun, seperti kaset rusak yang setiap kali dapat ia dengar setiap saat, setiap dia menatap sepasang kekasih yang selama ini membohonginya dengan menyembunyikan hubungan mereka di belakangnya.
"Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut bahagia," Tutur Giska seraya memeluk Embun.
"Terima kasih, Kak." Embun menepuk pelan punggung perempuan yang juga merupakan sahabat kakaknya itu.
Pelukan keduanya pun terlepas, Giska bergantian memberikan ucapan selamat pada Putra.
"Selamat atas pernikahanmu. Aku do'akan semoga pernikahan kalian langgeng dan segera mendapatkan momongan."
"Terima kasih," Balas Putra.
Embun tak melepaskan pandangannya pada sepasang kekasih yang sedang reuni itu. Mereka seperti sedang mengungkapkan salam perpisahan.
'Seharusnya bukan do'a itu yang kamu berikan pada kekasihmu kak. Harusnya kamu mendoakan agar selamanya Kak Putra tidak pernah mencintaiku agar kalian bisa menikah dan hidup bahagia selamanya,' batin Embun.
Ingin rasanya Embun memberikan tepuk tangannya pada sepasang aktor yang sedang berakting itu. Baik Putra maupun Giska, keduanya benar-benar mengecoh keluarga dan teman mereka. Berpura-pura tak terjadi sesuatu di antara mereka padahal nyatanya diam-diam keduanya menjalin hubungan di belakang tanpa seorang pun tahu.
Embun merasa beruntung sekaligus menyesal di waktu yang bersamaan setelah mengetahui suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain.
Namun, satu hal yang sangat ia sayangkan. Mengapa Tuhan membongkar kebenaran itu di saat Embun telah resmi menikah dengan Putra. Seandainya saja dia mengetahui hal itu sejak lama, maka pernikahan ini tak mungkin akan terjadi.
Embun berjalan dengan Putra yang mengekor di belakangnya memegangi ekor gaunnya yang menjuntai panjang. Setelah seharian berdiri di pelaminan akhirnya acara berakhir sudah, membuatnya lega karena tak harus berpura-pura tersenyum di depan orang. Wajahnya sampai terasa sangat kaku sekarang, dan Embun ingin cepat-cepat istirahat.
"Kamu saja duluan yang mandi, aku mau cek ponsel karena pasti ada banyak pesan masuk yang harus aku balas," Kata Putra, sesampainya mereka di kamar hotel.
'Termasuk pesan dari kekasihmu itu kan, kak? Ya, kamu memang harus membalasnya karena aku yakin kamu nggak akan bisa tidur dengan nyenyak sebelum menenangkan hati kekasihmu itu.'
Embun mengangguk, ia kesusahan membawa gaunnya dan melepasnya di kamar mandi.
"Sia-sia saja perawatan yang aku lakukan. Tahu begini aku nggak akan ambil paket perawatan lengkap sekujur badan kemarin. Lumayan uangnya kan bisa ditabung daripada dibuang percuma," Monolog Embun sambil melucuti helaian kain di tubuhnya dan mempercepat ritual mandinya.
Embun yakin saat ini suaminya itu sedang asyik berbalas pesan dengan Giska, kekasihnya.
[Aku tidak akan menyentuhnya, percayalah padaku.]
Send.
Bibir Putra melekuk indah mendapati balasan pesan dari sang kekasih.
[Lakukan saja jika kamu berani, maka aku akan benar-benar pergi dari kehidupanmu.] bunyi pesan yang dikirimkan Giska untuknya.
[Dan aku nggak nyakin kamu akan sanggup melakukan itu. Jangan tidur terlalu malam, kamu harus kembali ke rumah sakit besok pagi.]
[Aku tidak yakin malam ini bisa tidur.] Giska dengan cepat kembali mengetikkan balasan.
[Kenapa? Membayangkanku ya? Tenang saja, berapa kali aku bilang kalau aku nggak akan menyentuh bocah manja itu. Percaya sama aku.]
[Aku ada di balkon kamar di lantai yang sama dengan kamar yang kamu tempati.]
[Tunggu aku. Aku akan ke sana setelah mandi dan memastikan Embun tidur.]
Putra gegas mematikan ponselnya saat mendengar pintu kamar mandi berderit.
"Aku sudah selesai, Kak. Gantian kamu."
"Iya." Putra bangkit dari duduknya.
Saat lelaki itu telah sampai di depan pintu kamar mandi, Putra berbalik badan dan berkata, "Jangan menungguku, aku tahu kamu lelah jadi tidurlah lebih dulu," Pesannya pada Embun.
Embun menjawab dengan sebuah anggukan dan gegas membanting tubuhnya di atas pembaringan yang membuat kelopak bunga mawar merah yang dihias membentuk hati di atas seprai menjadi berhamburan.
"Sungguh membuang uang untuk hal yang sia-sia. Dekorasi kamarnya terlalu cantik padahal tidak akan terjadi sesuatu yang indah di antara aku dan suamiku," Gumam Embun.
Tak lama berselang Putra keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, air yang berjatuhan dari rambutnya yang setengah basah menerpa dada bidangnya, membuat pria itu terlihat maskulin.
Buru-buru Embun memejamkan mata berpura-pura tidur. Dengan ekor matanya yang sedikit terbuka dapat Embun lihat suaminya itu tengah berhias di depan cermin.
'Apa dia juga berdandan saat akan pergi tidur?' Embun membatin.
Putra tak hanya mengoles pomede di rambutnya tapi juga menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.
Jantung Embun kembali menghentak kencang saat melihat Putra berjalan ke arahnya. Setiap detik terasa lambat berjalan, Embun menantikan apa yang akan dilakukan suaminya itu padanya.
Embun masih berpura-pura tidur saat Putra membetulkan letak selimut yang menutup tubuhnya. Lama ia menunggu, tapi apa yang dia bayangkan tak terjadi. Tak ada kecupan di kening atau apa pun pergerakan Putra.
Hingga detik berikutnya Embun dipaksa kembali menelan kepahitan saat mendengar suara pintu yang terbuka dan dengan cepat menutup kembali. Gadis itu membuka matanya menyadari suaminya pergi meninggalkannya seorang diri.
Jika bukan penghinaan, lalu apa namanya saat seorang suami pergi meninggalkan istri tepat di malam pertama mereka demi menemui wanita lain?
Embun meyakini kalau suaminya pasti pergi menemui Giska. Wanita itu bangun perlahan, meremas selimutnya hingga ujung kukunya menembus kulit menyisakan noda merah tapi tak ia hiraukan. Sakit yang dia rasakan di hatinya jauh lebih perih ketimbang hanya tangannya yang tergores kuku.
Kejam sekali perbuatan pria itu padanya.
Putra mengayunkan langkahnya mantap menuju tempat di mana dia bisa menemui pujaan hatinya. Lelah rasanya jika harus berpura-pura di depan Embun, tapi Putra jelas tak memiliki pilihan lain. Tak mengapa jika sekarang dia masih harus menyembunyikan hubungannya dengan Giska dari orang-orang terdekatnya, hanya satu tahun dan setelah itu Putra akan bisa memiliki Giska seutuhnya.
Kedua sudut bibir Putra melekuk indah membentuk senyuman membingkai parasnya yang rupawan. Menjadi dokter bedah di usianya yang masih terbilang muda, karirnya cukup cemerlang ditunjang dengan penampilannya yang menawan. Banyak wanita yang tunduk dan bahkan terang-terangan mengejarnya dan meminta untuk dijadikan kekasihnya. Tak hanya dari kalangan perawat saja, masih banyak wanita yang rela mengantre cintanya termasuk Embun.
Namun, dari sekian banyak wanita yang singgah di kehidupannya, Putra tak bisa berpaling dari satu gadis. Giska Amanda merupakan dokter spesialis kandungan, dan hanya pada wanita itu saja Putra menyerahkan seluruh hati dan cintanya.
"Jangan terlalu banyak minum, bukankah kamu harus ke rumah sakit besok pagi-pagi sekali?"
Putra mengambil alih gelas kristal berkaki yang berisi cairan merah pekat dengan aroma khas itu dari tangan kekasihnya. Giska langsung memeluk Putra dan lelaki itu pun menyambutnya tak kalah hangat.
"Aku pikir kamu nggak jadi datang."
"Tentu saja aku datang," Balas Putra. Tatapannya terlihat dipenuhi cinta kala manik matanya bertemu dengan iris mata sang pujaan hati.
"Bagaimana dengan Embun? Apa dia sudah tidur? Kamu benar-benar memastikannya kalau dia sudah tidur kan?" Gurat kecemasan begitu kentara di wajah Giska.
"Tenanglah. Aku nggak mungkin ada di sini sekarang kalau Embun belum tidur."
"Syukurlah. Aku sangat mencintaimu Put." Giska makin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga. Sabar ya, hanya satu tahun dan setelah itu kita bisa menikah dan hidup bahagia selamanya."
Satu kecupan mendarat di kening Giska, setiap perlakuan Putra pada wanita itu sangat luwes karena memang mereka sering menghabiskan waktu berdua tanpa sepengetahuan orang-orang terdekat mereka. Berciuman adalah hal yang wajar mereka lakukan selama ini.
Putra menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibir Giska saat wanita itu berusaha menciumnya.
"Kenapa?" Giska bertanya dengan raut wajah sedih.
"Takut ada yang lihat. Ingat, kita sedang di mana sekarang." Putra menyahut.
"Dan aku nggak peduli."
Giska menyambar bibir sang kekasih. Ciuman yang begitu mendalam seakan mereka telah lama tak melakukannya. Putra menyambutnya dengan senang hati, senyuman di wajahnya tak mampu membohongi bahwa pria itu sangat bahagia.
Dari sudut lain, Embun menyaksikan semuanya dengan perasaan sakit yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat melihat suaminya berciuman mesra dengan perempuan lain sementara dengan dirinya sebagai istri sah saja lelaki itu sampai menolak melakukan wedding kiss.
Semua pembicaraan sepasang kekasih itu terekam jelas dalam benak Embun, tentu saja Embun mendengar semuanya karena dia berada di sana untuk waktu yang lama. Embun langsung membuntuti Putra tak lama setelah pria itu meninggalkan kamar mereka.
'Ternyata benar dugaanku, kamu pergi menemuinya, kak.' Embun mengepalkan tangannya.
Kedua kaki Embun seakan tertanam di bumi hingga Embun tak sanggup berlalu dari tempat terkutuk itu. Dari tempatnya berdiri, Embun dapat leluasa mengawasi gaya berpacaran sepasang muda mudi yang sedang dimabuk cinta itu.
Perlahan tautan dua bibir itu terlepas, Putra menempelkan keningnya pada kening Giska, keduanya berebut menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi pasokan udara dalam rongga dada yang mulai menipis.
Putra mengusap bibir lembab Giska dengan ibu jarinya, mengecup singkat bibir itu lagi sebelum akhirnya pelukan keduanya terlerai.
"Embun itu sangat cantik," Kata Giska usai momen romantis itu berakhir.
"Kenapa? Kamu takut aku tergoda? Ya nggak bakalan lah. Dia itu cuma gadis manja, dia nggak sebanding dengan kamu jadi hilangkan ketakutan yang ada dalam diri kamu. Sebenarnya itu hanya rasa takut yang kamu ciptakan sendiri."
"Aku takut kamu sampai jatuh cinta padanya, Put."
"Mustahil. Sudah sejak lama kita pacaran, dan selama ini aku setia sama kamu."
"Tapi nyatanya kamu menikah dengan Embun," Jawab Giska, sinis.
"Kamu tahu betul kalau aku terpaksa melakukannya. Hanya setahun, dan setelahnya kita bisa menikah dan hidup bersama. Tolong bersabarlah. Aku pasti akan menceraikannya."
"Tetap saja aku takut. Aku takut kamu berbalik menjadi jatuh cinta padanya dan melupakan janjimu untuk menceraikannya."
"Omong kosong! Sampai kapan pun aku nggak akan pernah jatuh cinta pada Embun, harus berapa kali aku bilang kalau dia itu bukan tipeku," Tukas Putra.
"Bagaimana seandainya hal itu terjadi?"
"Nggak mungkin, Sayang. Kamu percaya sama aku." Putra merengkuh tubuh kekasihnya untuk menenangkan wanita itu.
"Aku serius sama kamu, dan aku nggak mungkin ada di sini untuk menemui kamu kalau memang aku nggak beneran cinta sama kamu. Mau minta bukti apa lagi?" Putra menggeram frustasi.
"Iya aku percaya," Cicit Giska, suaranya hampir tenggelam karena wanita itu tengah menyandarkan kepalanya di dada Putra.
"Sekarang sebaiknya kamu masuk kamar! Udara dingin nggak baik untuk kesehatan dan kamu berdiri di sini dengan gaun setipis itu. Kamu bisa masuk angin nanti." Putra melepas jaketnya dan membalutkannya di tubuh Giska.
"Enggak mau. Aku masih ingin di sini sama kamu," Tolak Giska.
"Jangan konyol. Keluarga dan teman dekat kita bahkan menginap di sini, aku nggak mau sampai ada orang yang tahu hubungan kita. Bisa berantakan rencana kita dan aku nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai Satria mengetahui diam-diam aku selingkuh di belakang adiknya. Kira-kira apa yang akan Satria lakukan sama kita? Karir kita menjadi taruhannya." Putra berusaha memberikan pengertian pada sang kekasih.
"Kita bisa bertemu lagi sepuasmu begitu aku kembali bekerja, oke?" Lelaki itu terus membujuk Giska.
Giska mengangguk. Gadis itu membiarkan Putra mencium keningnya lalu dengan langkah yang berat Giska pun kembali ke kamarnya.
Melihat suaminya sudah selesai melepas rindu dengan kekasihnya, Embun pun berlari menuju kamarnya. Aktingnya tak boleh sampai diketahui orang, dia harus tetap berpura-pura tidak mengetahui skandal cinta terlarang antara suaminya dengan Giska.
Tubuh mungil gadis itu hampir terpelanting saat Embun tersandung karpet di dekat ranjang. Embun menyingkap selimut dan menenggelamkan diri di bawahnya, berpura-pura tidur agar suaminya tak curiga. Debaran jantung Embun menghentak kuat saat mendengar bunyi daun pintu terbuka, lalu tak lama berselang dapat Embun rasakan pergerakan di ranjang dan ruang kosong di sampingnya menjadi terisi.
Putra mengusap wajah Embun yang masih terlihat seperti anak remaja. "Kamu sangat cantik, jujur aku akui itu, tapi sayang kamu bukan seleraku." Pria itu berbisik.
Putra membenahi letak selimutnya dan memaksa matanya untuk terpejam karena tak sabar menunggu hari berubah menjadi pagi.
'Aku akan pastikan kamu menarik kembali ucapanmu kak. Akan aku buat kamu jatuh cinta dan tergila-gila padaku suatu saat nanti dan kamu dapat melupakan Giska untuk selamanya. Aku bersumpah,' batin Embun.
Raut wajah Embun terlihat damai, tapi siapa yang menyangka kalau dalam hati perempuan itu tengah terjadi badai.
Sinar matahari yang menerpa wajah Putra membuat lelaki itu merasa silau dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Putra terperanjat saat menyadari posisinya saat ini, dia sedang memeluk Embun dengan kaki menyilang di atas tubuh perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Dengan cepat Putra menjauhkan tubuhnya begitu kesadarannya telah terkumpul. Embun yang merasa terusik pun terbangun, matanya terasa berat dengan sisa kantuk yang masih menyergapnya. Embun tak bisa tidur semalaman karena berusaha mencari jalan keluar untuk permasalahan yang sedang dia hadapi saat ini.
"Kakak sudah bangun?"
"Hm." Menjawab dengan deheman singkat dan gegas masuk ke kamar mandi.
'Ini belum apa-apa kak, lihat apa yang bisa aku lakukan pada kalian nanti.' Embun membatin.
Begitu selesai membersihkan diri, sepasang pengantin baru itu pun turun ke lantai dasar untuk sarapan bersama. Di meja panjang itu hampir semua kursi telah terisi penuh. Embun menghentikan langkahnya saat melihat kedua mertuanya tengah berbincang, pun dengan Satria dan kakak iparnya. Beberapa kerabat juga turut hadir dalam acara sarapan bersama itu, tak terkecuali Giska.
Embun melirik suaminya sesaat, dan ternyata benar dugaannya. Suaminya tengah melempar senyumnya pada gadis berbalut dress selutut warna kuning cerah yang sedang duduk menatap balas kekasihnya penuh cinta. Sungguh, melihatnya membuat Embun ingin muntah, tapi gadis itu tak mau menggagalkan rencananya.
"Sayang, ke mari!" Widya melambaikan tangan pada menantu kesayangannya.
Embun tersenyum dan melanjutkan langkahnya kemudian duduk di dekat ibu mertuanya.
"Maaf Ma, kami bangun kesiangan," Cicit Embun malu. Meskipun sama sekali tak terjadi apa-apa antara dirinya dan sang suami, Embun sengaja melebih-lebihkan ucapannya untuk memanas-manasi Giska.
Embun tersenyum miris saat melihat suami dan selingkuhannya saling bertatapan, seolah Putra sedang menghibur kekasihnya dan berkata semuanya tidak seperti yang sedang Giska dibayangkan.
"Iya Sayang. Kami paham, kami juga pernah muda." Ayah mertua Embun menyahut sambil menyenggol bahu istrinya.
Tawa orang-orang pun pecah bersamaan, terkecuali Giska yang sedari tadi terus menekuk wajahnya.
"Kalian benar-benar pasangan yang romantis, Mama senang akhirnya kamu menjadi menantu Mama." Widya mengusap punggung tangan menantunya.
"Terima kasih Ma, Embun juga bahagia karena akhirnya Embun punya ibu."
"Mama berharap kalian cepat dikasih momongan ya biar Mama nggak kesepian lagi."
"Uhuk ... Uhuk."
Semua orang menoleh, menatap ke arah Putra yang tampak panik menyodorkan segelas air untuk Giska.
"Pelan-pelan saja makannya, bisa kan?"
Suara Putra pelan tapi penuh penekanan, menunjukkan betapa dia sangat mencemaskan Giska. Semua orang saling berpandangan.
"Biasa saja Put, yang istri kamu kan Embun tapi kenapa kelihatannya kamu khawatir sekali sama Giska," Seloroh Satria. Kakak Embun itu melihat ada kejanggalan dalam diri Putra dan Giska. Satria memergoki keduanya beberapa kali saling mencuri pandang.
"Sorry. Kebiasaan pas masih lajang terbawa. Kita kan sahabatan dari masih SMA jadi kadang reflek gitu. Kamu kayak nggak kenal aku saja, Sat." Putra menyahut, suaranya terdengar sedikit bergetar karena gugup.
Mendadak lelaki itu diliputi ketakutan. Bagaimana jika orang sampai mengetahui hubungan gelapnya dengan Giska, karirnya bisa hancur dan Satria pasti tidak akan pernah memaafkan kesalahannya.
"Tapi masalahnya status kamu sudah berbeda sekarang, kamu harus bisa menjaga perasaan istri kamu."
Bella mengusap bahu suaminya saat Satria hendak membuka mulut untuk menasehati Putra lagi.
"Iya, maaf ya Mbun."
Embun mengangguk pelan. "Sudah, sebaiknya kita lanjutkan makannya."
Tak mau situasinya memanas, Embun mengalihkan pembicaraan. Wajahnya setenang lautan, akan tetapi dalam hati sebenarnya Embun bersorak menang karena secara tak langsung ia sudah bisa memberikan pelajaran pada suaminya.
"Permisi ke toilet sebentar." Giska bangun dari kursinya.
Semua orang kembali melanjutkan obrolan mereka, lalu selang beberapa menit kemudian Putra pun berpamitan ke kamar kecil.
Satria menatap adiknya menangkap ada yang tak beres, tapi lagi-lagi Embun berusaha menyangkalnya. Embun masih ingin mencoba mendapatkan hati suaminya, dan Embun tak mau kakaknya terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
"Gis. Giska tunggu!" Putra setengah berlari mengejar kekasihnya.
"Giska!"
Tubuh Giska berbalik dan menabrak dada Putra saat lelaki itu berhasil meraih pergelangan tangannya.
"Kamu tuh kenapa sih?"
"Kamu yang kenapa?" Membalas ucapan Putra dengan ketus. "Apa perlunya kamu mencemaskan aku seperti tadi? Dengan kamu bersikap seperti itu yang ada orang justru akan curiga sama kita. Aku nggak mau hubungan kita berakhir, paham nggak sih kamu?"
"Iya, maaf. Hal itu terjadi begitu saja dan aku nggak menyadarinya."
Giska membisu, tatapannya tertuju pada rambut Putra yang masih setengah basah, lalu teringat kalau rambut Embun juga basah seakan membenarkan asumsinya.
"Apa yang kamu pikirkan, hah? Aku dan Embun nggak melakukan apa-apa semalam," Kata Putra, ia tersenyum geli karena tahu Giska pasti telah terpengaruh ucapan ibunya yang mengatakan ingin segera memiliki cucu.
"Jangan marah, nanti cantiknya luntur lho." Putra mencubit gemas pucuk hidung sang kekasih.
Emosi yang sempat Giska rasakan pun lenyap dalam sekejap. Sepasang kekasih itu tertawa lepas.
Sementara itu di meja makan, Satria menunggu dengan gelisah. Putra adalah sahabat karibnya yang sekarang sudah menjadi adik iparnya saat ini, menyadari adik iparnya pergi ke kamar mandi dan tak kunjung kembali membuatnya tergerak untuk menyusul.
"Mau ke mana Kak?" Tegur Embun melihat kakaknya meninggalkan kursi.
"Ke kamar kecil, perut Kakak agak kurang nyaman," Dalih Satria.
Embun yang paham tujuan kakaknya pun segera menyusul Satria. Biar bagaimanapun juga Satria tak boleh menggagalkan rencana yang sudah Embun susun dengan matang. Embun tak mau suaminya sampai terpergok sedang selingkuh.
Embun kesulitan mengejar kakaknya yang sudah semakin dekat dengan kamar kecil.
"Kak, tunggu Kak!" Embun berusaha mencegah kakaknya, mengulur waktu agar apa yang dia takutkan tak sampai terjadi.
"Kakak, tunggu!" Teriak Embun lagi.
Mendengar suara Embun membuat pelukan Putra dan Giska terlepas. Sepasang sejoli itu saling bertatapan, derap langkah kaki yang kian dekat membuat keduanya panik.
"Satria, Put. Ada Satria. Itu suara Embun memanggil kakaknya kan?" Tanya Giska ketakutan. Wajahnya seputih kapas, bibirnya membiru seakan tak teraliri darah sama sekali.
"Kau benar. Cepat kembali ke kamar mandi!" Putra menarik tangan Giska. Mereka berlari ke kamar mandi tapi kemudian tiba-tiba saja terdengar teriakan yang memekakkan telinga.
"Hei!"
Tubuh Putra dan Giska membeku di tempatnya, mereka kenal betul pemilik suara yang baru saja meneriaki mereka. Tautan tangan mereka pun terlepas.
"Apa kita ketahuan sekarang? Apa hubungan kita akan berakhir?" Bisik Giska lirih dan sarat akan keputusasaan. Bahkan untuk sekedar membalikkan badannya saja ia merasa tak sanggup.
Begitu juga dengan Putra. Seluruh saraf di tubuhnya seperti lumpuh, titik peluh dingin merembes di pelipisnya. Tamat sudah hidup dan karirnya karena Putra tahu apa yang akan dilakukan Satria setelah ini.