Pernikahan adalah Impian semua perempuan di dunia, namun tidak bagi Amanda, sejak pernikahannya dengan seorang CEO bernama Antonio Wiradijaya, CEO dari Axel Company sekaligus cucu dari Billionaire Dikta Wiradijaya hidup Manda, biasa dia disapa juga berubah.
Manda tidak bisa bebas lagi melakukan apa yang menjadi kesukaannya karena Antonio selalu mengancamnya untuk menjaga nama baik keluarganya, padahal pernikahan mereka sengaja disembunyikan dari khalayak ramai itu semua karena status Manda yang hanyalah anak yang besar dari panti asuhan. Antonio berusaha menutupi sosok sang istri dari khalayak ramai.
Flashback On~
3 Minggu pasca pernikahannya, Antonio bahkan terus bersikap acuh bahkan terkesan tidak pernah menganggap keberadaan Manda.
Ucapan ucapan Antonio terus membekas dalam ingatan Amanda, "Aku menikahimu, karena mengikuti kemauan kedua orangtuaku.. kamu bisa memiliki status sebagai istriku, tapi aku tidak akan membiarkan kamu masuk ke dalam hidupku, ke dalam hatiku bahkan menyentuh tubuhku," Antonio.
Sebuah penolakan telak diberikan oleh Antonio yang kini berstatus sebagai suaminya, hati istri mana yang tidak akan terluka jika diperlakukan seperti itu.
Namun Manda sadar bahwa statusnya yang bahkan tidak tau siapa orang tua kandungnya dan hanya terlahir di sebuah panti asuhan adalah jurang pemisah antara dirinya dengan keluarga sang suami Antonio Wiradijaya.
Flashback
Kehidupan Amanda Viona tidaklah seindah wajahnya, terlahir di panti asuhan tanpa tau siapa keluarganya, asal usulnya dan bahkan berapa tanggal lahirnya pun Manda tidak tau.
Tuhan.. dimanapun kedua orangtuaku sekarang, baik masih hidup atau sudah tidak ada... aku hanya ingin mengucapkan, aku benar benar merindukan mereka~Doa Manda dalam hatinya.
"Kenapa ini gadis kecilnya Kak Dean kok ngelamun sendirian aja sih?" goda Dean tiba tiba menghampiri Manda.
Manda kecil pun cukup terkejut dengan kehadiran sosok Dean, sosok Kakak yang dia miliki selama di panti asuhan.
"Manda cuma doa sama Tuhan kak.. kalau Manda kangen sama Mama Papa Manda," ucap polos Manda yang membuat hati Dean yang memang lebih tua beberapa tahun dari Manda itu cukup tersentuh.
"Sudah jangan sedih lagi yah... Kak Dean janji, Kak Dean akan selalu jaga kamu disini.. Kakak gak akan pernah tinggalin kamu," ujae Dean.
Meskipun bukan terlahir sebagai Kakak Adik kandung namun rasa sayang Dean pada Manda tidak diragukan lagi, Dean selalu menjaga Manda, selalu berusaha membuat Manda tersenyum.
Manda pun merasa bersyukur atas kehadiran Dean di hidupnya.
Hari berganti hari mereka terus lewati bersama sampai pada titik dimana janji yang Dean buat ternyata tidak bisa dia tepati. Dean menjadi salah satu anak panti asuhan yang beruntung karena di adopsi oleh keluarga kaya raya yang memang mengharapkan seorang anak lelaki.
Perpisahan tak ayal harus mereka alami karena Dean harus mengikuti keluarga barunya yang menginginkan dirinya untuk melanjutkan studi di luar negri.
"Apa kabarnya Kak Dean ya sekarang? apa dia masih mengingatku?" gumam Manda.
"Oy! Manda..." tegur Eta saat melihat saudara iparnya sedang melamun.
Suara Eta jelas saja membuat lamunan Manda tentang Dean buyar. "Ehh kamu! ada apa Ta?" tanya Manda. .
"Kok kamu bengong.. mikirin apa sih? tadi Antonio telepon katanya mau jemput kamu," ucap Eta menjelaskan.
Dia bahkan tidak sudi berbicara dengan aku istrinya sendiri, lalu apa benar ini disebut sebuah pernikahan~batin Manda sedih.
"Ah iyah.. ya sudah makasih ya udah kasih tau aku," jawab Manda dengan tersenyum.
"Ya sudah.. aku pulang duluan ya, paling sebentar lagi Antonio tiba, kamu coba hubungi dia aja," ucap Eta.
Bagaimana mau hubungi, tiap aku kirim pesan aja gak pernah dibalas~pikir Manda.
"Baik.. kamu tenang aja, ya sudah kamu hati hati dijalan ya, salam buat Mama Papa dan semuanya," seru Manda lagi.
"Oke oke," balas Manda. Mereka pun saling berpelukan sebelum berpisah satu sama lain.
Kini Manda menunggu jemputan dari sang suami Antonio, tentunya Antonio melakukan ini demi Mamanya bukan karena kemauannya sendiri untuk menjemput sang istri.
Setelah beberapa minggu mereka resmi menikah, Antonio dengan terpaksa membawa Manda sang Istri pindah ke rumah pribadinya karena dia tidak ingin terus berlaku baik dengan Manda di depan keluarganya, itu alasan sebenarnya bukan karena kewajiban dia sebagai suami untuk membangun rumah tangganya sendiri dengan Amanda.
"Permisi Mbak Manda!" sapa salah seorang pegawai di butik Eta.
"Ahh, iya ada apa?"
"Pak Antonio sudah menunggu di depan," serunya.
Dan dengan cepat Manda langsung berlari ke bawah untuk menemui Antonio.
Meskipun memegang jabatan sebagai CEO Axel Company namun Antonio lebih senang membawa mobilnya sendiri, terkadang dengan Ramon, dia akan menggunakan supir jika ada keperluan mendadak atau urusan bisnis saja.
Manda yang sudah melihat mobil sang suami tiba tiba diam terpaku di tempatnya, seperti biasa Manda takut untuk mendekati Antonio.
Tin
(Suara klakson mobil mengagetkan dirinya)
"Sampai kapan kamu mau terus berdiri disana hah?" tegur Antonio memanggil Manda.
"Ahh! Iya, maafkan aku," jawab Manda sambil berlari kecil menuju mobil. Manda membuka pintu depan mobil namun begitu terkejutnya dirinya saat melihat seorang wanita cantik sudah menempati posisi itu. Manda tidak melihat karena kaca mobil sang suami sangatlah gelap.
"Owh! ma---aaaf, maafkan saya," seru Manda kikuk dan malu, semu rasa bercampur aduk saat itu.
"Tidak apa apa Ka, biar saya duduk di belakang,* balas sang wanita yang diketahui sebagai salah satu rekan kerja Antonio.
"Biarkan dia duduk di belakang," ucap Antonio memutuskan pergerakan tangan sang wanita yang bernama Devina itu. "Masuklah cepat!" ucap Antonio ketus kepada Manda. Manda pun akhirnya duduk di belakang.
Segera setelah Amanda masuk mobil, Antonio pun melajukan mobilnya, meskipun fokus pandangannya di depan jalan namun sesekali Antonio berusaha melihat belakang melalui kaca, dia terus memperhatikan Manda yang memalingkan wajahnya keluar.
Sementara Manda, pikiran dan hatinya entah berada di mana, pandangannya tampak kosong menatap luar kaca mobil yang terus berjalan.
Dia menjemputku, lalu membawa wanita lain bahkan dia bersikap manis kepada wanita lain tapi membentak istrinya di hadapan wanita lain, apa aku benar benar tidak ada harganya Antonio di matamu~batin Amanda.
Suasana canggung pun tampak berasa sekali di dalam mobil.
"Kamu mau saya drop di apartemen atau?"
"Iya, saya di depan lobby apartemen aja," balas Devina.
Jadi mereka sering pergi bersama? Manda, Manda... ada hak apa kamu cemburu? kamu bukan siapa siapa Antonio, sadar diri Manda~kekeh Manda dalam hatinya.
Buruknya suasana hati Manda membuat Manda memilih untuk menggunakan earphone dan mendengarkan lagu daripada harus mendengar sang suami berbicara lembut dengan wanita lain, sampai tanpa sadar matanya pun ikut terpejam karena rasa kantuknya.
"Antonio, turunkan aku di depan lobby saja, suamiku sudah menunggu di depan," ujar Devina lembut.
"Ricko di bawah?" tanya Antonio.
"Iyah, kebetulan kita akan pergi dinner bersama," balas Devina tersipu malu. "Atau kamu mungkin mau double date, ajaklah istrimu.. aku rasa dia cemburu denganku," bisik Devina pelan.
Namun Antonio tidak menghiraukannya.
"Oke.. sudah sampai, terima kasih tumpangannya," ucap Devina. "Ka, saya turun dulu," seru Devina.
Namun merasa tidak mendapat jawaban dari Manda, Devina dan Antonio pun menoleh ke belakang. "Sepertinya istrimu kelelahan... lelah hati menghadapimu Antonio," goda Devina terkekeh.
"Turunlah... salam untuk Ricko, kapan kapan aku akan mampir ke tempat kalian," ucap Antonio.
Devina pun hanya terkekeh melihat Antonio, sang partner bisnis sekaligus rekannya itu.
Sementara Antonio terus menatap ke kursi belakang melihat sosok wanita yang sudah dinikahinya itu. Tak lama, Antonio pun memilih terus melajukan mobilnya menuju rumah pribadinya.
"Dia pikir aku supirnya," cebik Antonio setelah menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah mewahnya. Meskipun ingin membangunkan Amanda namun saat melihat Manda sudah tertidur pulas niatnya pun dia batalkan. Dengan terpaksa, Antonio membopong tubuh istrinya masuk ke dalam rumah dan sampai ke kamar Manda lalu meletakan tubuh Manda dengan hati hati di ranjangnya.
"Kamu bahkan membuatku layaknya bawahanmu nona," sindir Antonio kembali saat tubuh Manda sama sekali tidak bergerak saat dirinya menaruh di atas ranjangnya.
Saat Antonio akan meninggalkan kamar Manda, tanpa sengaja saat itu juga dirinya mendengar seruan lembut yang keluar dari mulut kecil Manda, "Kalian jahat.. kenapa kalian meninggalkanku hiks.. Mama, Papa... Kakak Dean jangan tinggalkan aku hiks...kenapa tidak ada yang menyayangiku hiks." Manda berbicara dalam tidurnya.
Seketika tubuh Antonio membeku mendengarnya, tangisan lirih yang keluar dari bibir Manda seolah menyadarkannya tentang rasanya bersyukur atas apa yang dia punya sekarang.
Namun Antonio bukanlah tipe pria yang bisa mengekspresikan emosinya, dia hanga menatap Manda yang masih tertidur itu lalu perlahan meninggalkan Manda sendiri dan balik ke kamarnya.
Setelah kembali ke kamarnya, seperti biasa rutinitas Antonio, dia akan mandi dan berendam dengan air hangat untuk membuat tubuhnya terasa rileks kembali setelah itu Antonio pun akan berdiam di kamarnya sambil menunggu jam makan malam. Sementara Manda masih tertidur pulas sampai mendekati waktu jam makan malam.
Antonio lebih dulu turun ke bawah, derap langkah kakinya membawa Antonio langsung menuju ke ruang makan, namun begitu sampai di ruang makan dirinya sama sekali tidak menemukan sosok Manda sang istri, Antonio hanya menemukan bibi yang bekerja di sana sedang menyiapkan makanan di atas meja makan dan menatanya.
"Selamat malam Den," sapa sang bibi.
"Malam Bi.. apa ini bibi yang masak semuanya?" tanya Antonio.
"Iyah Den, non Manda masih belum turun daritadi, bibi udah bolak balik panggil ke kamarnya tapi gak dijawab Den," balas sang bibi melaporkan informasi tentang Manda pada Antonio.
Apa dia masih tidur? huh, benar benar seperti kebo gadis itu~batin Antonio.
"Ya sudah biarkan saja bi, nanti juga kalau lapar dia akan turun dan mencari makan," ucap Antonio.
"Baik Den, kalau gitu bibi tinggal ke belakang dulu Den yah Den," seru sang Bibi sambil berpamitan pada Antonio.
"Terima kasih yah bi," balas Antonio.
Antonio pun memilih duduk di bangkunya,
Meskipun perutnya terasa lapar namun Antonio seperti tidak berselera makan malam itu, apalagi makan hanya seorang diri. Meksipun hubungannya dengan Manda tidak seperti suami istri pada umumnya namun tanpa sadar kehadiran Manda di sisi Antonio sudah membuat banyak perubahan di dalam kehidupan Antonio.
"Hooamm."
Manda coba meregangkan tubuhnya. "Ahh sudah malam rupanya," seru Manda saat melihat jam di kamarnya. "Oiyah, apa bibi sudah masak belum yah? apa Antonio sudah makan?" gumamnya sebelum akhirnya dia tersadar. "Cih! Manda, sadar.. kamu gak ada artinya, jangan bertingkah sebagai seorang istri Manda.. sadar diri!" ucapnya pada diri sendiri.
Tanpa sadar bulir bulir airmata mengalir turun membasahi pipinya, belum hilang bekas mata sembabnya akibat mimpinya kini mata Manda seolah kran air yang tak pernah kering untuk meneteskan airmata.
"Kenapa aku harus menangis? ya ampun Manda jangan cengeng," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Sementara Antonio menghabiskan 30 menit waktu makannya hanya dengan menatap deretan menu makanan yang ada di hadapannya, hati kecil Antonio mengharapkan Manda untuk turun dan menemaninya makan..
"Dia pasti sudah selesai makan? aku haus sekali, mana air habis lagi," gumam Manda melihat ceret dikamarnya yang kosong. "Sudah jam begini, aku yakin dia pasti sudah selesai.. jadi aku turun saja."
Manda pun melangkahkan kakinya menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat Antonio masih duduk di bangku kebesarannya, Manda tidak bisa menghindar lagi karena Antonio juga sudah melihatnya.
Astaga! kenapa dia masih disini~batin Manda.
Turun juga kamu kan~batin Antonio
"M-mmaalam," seru Manda kikuk.
"Hemm! aku kira kamu akan bangun besok pagi," sindir Antonio cuek.
"Oh.. maaf, aku, aku cuma mau ambil air minum," jawab Manda. Dengan cepat Manda melewati belakang Antonio dan segera membuka kulkas untuk mengisi ceretnya yang kosong.
"Mau kemana?" skak Antonio
"Aku udah selesai, mau balik ke kamar."
"Duduk dan cepat makan!" perintah Antonio.
"Aku gak lapar jadi kamu makan aja, permisi."
"Amanda Wiradijaya, berhenti aku bilang!"
Selalu begini, kenapa aku harus selalu patuh padanya~decak Manda kesal.
"I--iiyah, iyah."
Manda pun mengambil tempatnya di sisi Antonio.
"Apa kamu ingin Mama memarahiku karena tidak memberimu makan hah? tubuh kurus seperti itu masih susah makan," kembali cemooh Antonio.
Namun Manda hanya menundukkan kepalanya selain karena takut dia juga tidak ingin Antonio melihat wajahnya terutama matanya yang sembab dan bengkak.
"Angkat kepalamu, kamu pikir bagus sikapmu seperti ini!"
"Iyah.. ya sudah, makanlah," jawab Manda sambil mengangkat wajahnya. Manda pun mulai menaruh nasi dan lauk ke dalam piringnya sementara Antonio terus fokus menatap wajah Manda.
"Devina!" Ucap Antonio.
"Apa? Devina? apa maksudnya?" tanya Manda.
Namun dengan sikap cuek dan asalnya Antonio berbicara sambil makan dan tetap tidak memandang Manda. "Wanita yang di mobil namanya Devina, dia mantan pacar Ramon, dia rekan kerjaku, suaminya juga mantan rekan bisnisku."
Dia kenapa? apa dia sedang menjelaskan semuanya? tapi untuk apa?~pikir Manda heran.
"Aku mengerti," balas Manda singkat dan kembali melanjutkan makannya.
"Lalu?" tanya Antonio ambigu.
Jelas saja pertanyaan Antonio membuat Manda bingung, Manda pun menatap Antonio yang ternyata juga sedang menatapnya.
Hati Antonio berdesir hebat saat dari dekat bisa menatap wajah Manda terutama menatap matanya yang seolah bisa menyihirnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Tiba tiba Antonio tersedak, wajahnya menjadi merah. Manda pun ikut panik lantas memukul mukul punggung belakang Antonio.
"Kamu kenapa? Astaga, Antonio!" Manda terus memukul punggung Antonio, lalu Antonio berdiri dan menarik kedua tangan Manda kemudian dia lingkarkan tangan Manda sampai menyentuh perut dan ulu hati Antonio, Antonio membantu menekan kedua tangan Manda yang terkepal dan terus membawa Manda untuk memeluknya erat dan ternyata berhasil.
Uhuk! Uhuk!
"Kamu ini membuatku takut Antonio," seru Manda khawatir.
Tubuh Antonio terkulai lemas kembali sambil terduduk, Manda dengan lembutnya terus mengusap punggung belakang Antonio dengan lembut. Usapan lembut Manda begitu menenangkan Antonio.
Tanpa sadar Antonio memeluk tubuh Manda yang berdiri di hadapannya, Antonio pun menenggelamkan wajahnya di perut Manda, sementara Manda terus mengusap punggung belakang Antonio.
"Makanya kalau makan jangan ngelamun.. kalah sama anak kecil kamu," cibir Manda.
Sindiran halus dari Manda berhasil tertangkah oleh telinga Antonio, wajah Antonio yang sedang berada di depan perut Manda pun membuat dengan leluasa bisa mengigit Manda.
"Akkkhh! Antonio!" pekik Manda sambil mendorong tubuh Antonio.
"Itu karena kamu sudah menghinaku," balas Antonio.
"Kenapa kamu menggigitku..." lirih Manda sambil memegang perutnya. "Aku akan bilang Mama, liat saja nanti."
Ancam Manda sambil berlalu meninggalkan Antonio.
"Cih! gadis itu beraninya main lapor ke Mama, menyebalkan," gumam Antonio.
Minggu demi minggu dilewati dalam pernikahan mereka. Baik Antonio maupun Manda sama-sama memainkan peran mereka ketika berada di depan keluarga Wiradijaya. Mereka sepakat harus bersikap baik dan bersahabat saat di depan keluarga Antonio. Meskipun tidak jarang pertengkaran juga kerap terjadi mewarnai pernikahan mereka.
Kepergian Antonio ke London adalah contohnya. Dia sengaja agar bisa menghindari Manda, dengan mengambil dalih perjalanan bisnis bersama Ramon, sepupunya. Antonio juga tidak meninggalkan pesan apa pun kepada Manda. Sementara Manda sibuk mengasihani diri sendiri yang seakan tidak pernah dihargai oleh sang suami.
Nadine yang mengetahui bahwa Antonio sedang berada di luar negeri pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meracuni pikiran Manda dan memprovokasi dengan membuatnya cemburu.
Namun, rencana Nadine justru berubah 100 derajat saat melihat Roger, pria yang dulu tulus mencintainya sedang bersama dengan Manda. Dengan liciknya, Nadine pun mengabadikan pertemuan dua orang itu dan mengirimnya ke Antonio.
Tak ayal, melihat sang sahabat sedang berduaan dengan sang istri, Antonio pun naik pitam dan emosi. Emosi itu justru hanya ditujukan kepada Manda. Dengan mengambil penerbangan terakhir, Antonio pun bergegas menuju Indonesia.
Antonio sampai di rumahnya tepat jam 6 pagi dan saat yang bersamaan Manda sedang membuat sarapan di dapur untuk diri sendiri. Hati yang diliputi emosi membuat Antonio sampai memaki sang istri dalam hatinya.
Kamu sepertinya senang kalau aku tidak di rumah. Ternyata wajah malaikat yang sering dibanggakan mama itu hanya topengmu saja. Aku nggak akan membiarkan gadis sepertimu menjerat sahabatku, batin Antonio.
“Argh!” pekik Manda. Dia terkejut saat berbalik badan menemukan sang suami sudah berdiri di dekatnya.
Namun, pertengkaran terakhir mereka akhirnya membuat Manda sadar bahwa di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa. Manda pun berusaha bersikap cuek dan tidak ingin meladeni Antonio.
Melihat sikap Manda yang cuek, Antonio berusaha memancing situasi. “Buatkan aku sarapan!”
Perkataan Antonio justru hanya membuat Manda kesal. Dia tidak ingin meladeni Antonio karena sadar bahwa mereka akan berujung pada pertengkaran lagi. Pilihan Manda jatuh kepada menghindar, mencoba tidak berada di satu tempat yang sama dengan suaminya itu.
“Aku sudah selesai. Kamu bisa membuat sarapanmu sendiri,” ucap Manda, lalu berjalan melewati Antonio setelah mematikan kompor dan memindahkan makanan ke dalam piringnya.
Manda tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya saat itu. Antonio menarik paksa tangan Manda, lalu mengambil piring Manda dan melemparnya ke lantai hingga suara pecahan kaca terdengar.
“Antonio!”
“Kenapa kamu tidak mau melayani suamimu sendiri?” sindir Antonio ketus.
Manda pun tidak terima dengan perlakuan kasar itu. “Ingat, Antonio! Kamu yang sudah membuat jarak di antara kita dan pernikahan ini kita lakukan untuk mama, bukan? Pada akhirnya kita berdua akan bercerai ....”
Emosi Antonio yang seakan terus naik kembali terpancing, “Bercerai? Apa kamu begitu menginginkannya, Amanda?” tanya Antonio. Wajahnya menyiratkan emosi dan amarah yang sudah tidak terbendung lagi. Bahkan, Manda pun dibuat takut olehnya.
Astaga! Ada apa dengannya? Kenapa ekspresinya seperti ini? batin Manda ketakutan.
“A-aku mau ke kamar.” Manda memilih untuk menghindar secepat mungkin, tetapi gerakannya kalah cepat.
Antonio kembali menarik paksa tangan Manda dan menciumnya dengan kasar. Salah satu tangannya menahan belakang kepala Manda dan tangan satunya lagi memegang pinggang Manda dengan erat.
“Eemmpphh ... emphh ....” Manda terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tetapi Antonio semakin kasar memainkan bibir dan lidahnya bersamaan. Mata Manda sampai terbuka lebar dibuatnya. “Eemmpphh ....”
Namun, Manda bukanlah gadis bodoh yang lemah dan dengan cerdik dia menggunakan kakinya untuk menendang tulang kaki Antonio. Ternyata caranya berhasil membuat Antonio mau melepaskan dirinya.
“Akh!” pekik Antonio.
Manda berusaha mengambil udara yang banyak. “Kamu nggak seharusnya melakukan ini, Antonio!” seru Manda dengan nafas terengah-engah. “Aku akan mengurus perceraian kita sekarang juga,” ucap Manda sambil menahan tangis. Manda kembali berusaha lari, tetapi amarah Antonio kembali memuncak ketika Manda kembali menyebut kata ‘cerai’.
Antonio menangkap Manda dari belakang dan memeluknya dengan erat. “Kamu ingin bercerai, Manda? Baiklah. Aku akan turuti kemauanmu, tapi nanti. Setelah aku membuatmu hamil terlebih dahulu, baru kita bercerai,” bisik Antonio penuh ancaman sinis di telinga Manda.
Kedua mata Manda terbuka lebar mendengar ancaman Antonio. “Apa? Tidak! Antonio ... jangan ... aku mohon ... jangan lakukan itu. Kamu nggak boleh melakukan itu!”
“Aku bebas melakukan apa saja, karena kamu adalah istriku.” Antonio yang sudah kesetanan itu tidak mendengar permohonan dan jerit tangis istrinya. Dia membawa Manda ke kamar dan mengunci pintu.
Manda berusaha terus memohon pada sang suami. “Antonio ... jangan lakukan ini. Kamu sendiri yang bilang, pernikahan kita tidak seharusnya terjadi. Aku mohon ... ini tidaklah benar, Antonio.” Manda kembali memohon pada Antonio yang sudah membaringkannya di atas ranjang.
Sesaat Antonio tersadar, tetapi saat dering ponselnya berbunyi dan menampilkan nama ‘Roger’ membuat pandangannya menjadi buram. Dia dengan cepat berjalan mendekati ranjang dan menindih tubuh Manda.
“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan menceraikanmu. Jadi, berhenti mengatakan tentang kata cerai!” teriak Antonio.
“Tapi di antara kita tidak ada hubungan apa-apa, Antonio. Hiks ....” Meskipun dalam posisi tertekan, Manda berusaha menyadarkan, bahwa semua ini adalah permintaan Antonio pada awalnya. “Kita harus bercerai.”
“Akh! Antonio, jangan lakukan itu!” teriak Manda saat Antonio kembali mencium seluruh wajahnya dengan kasar. Bahkan, tangan Antonio sudah tidak terkendali ke mana-mana menjamah seluruh tubuhnya.
“Akh, Antonio. Tidak ... tidak ... aku mohon ... jangan lakukan ini. Sadarlah, Antonio. Jangan ... hiks ....” Kembali teriak Manda saat Antonio membuka paksa piama tidurnya dan dengan kesetanan Antonio sudah membuka baju juga, “Antonio, jangan ... kamu akan menyesal nanti ... hiks ....” Jerit tangis Manda seolah tidak dapat didengar oleh Antonio.
“Akh! Antonio ... aku mohon jangan ... jangan lakukan ini,” lirih Manda, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada saat Antonio terus menjamah, menggigit, dan menyesap seluruh tubuhnya dengan beringas. Manda terus menangis menahan rasa sakit yang diberikan Antonio pada fisiknya.
“Akh!” erang keduanya bersamaan saat kedua tubuh mereka menyatu dan kini mereka pun sudah resmi menjadi suami istri yang sah.
“Kamu mengambil apa yang bukan seharusnya kamu ambil, Antonio!” seru Manda.
Rasa sakit pada tubuh Manda tidak terbayar dengan rasa sakit hatinya. Kedua tangannya masih terkepal kuat menahan rasa sakit bersamaan. Kehadirannya ditolak oleh Antonio, diacuhkan, dan sering tidak dianggap oleh suaminya sendiri. Tetapi Antonio justru mengambil mahkotanya secara paksa.
“Kamu jahat, Antonio ... hiks ... hiks ... kamu sendiri yang menolak kehadiranku. Kamu yang menciptakan jarak di antara kita ... hiks ... tapi ... tapi kamu ....”
Antonio pun tersadar dan hanya bisa menciumi seluruh wajah Manda seraya mengucapkan kata maaf. “Maafkan ... maafkan aku, Manda.”