"Jangan egois, Kim Liu. Kalau ibumu pergi, kamu yang akan menyesal," hardik Paman Shin dengan rahang mengeras.
Liu hanya bisa menutup telinga dengan kedua tangannya, ia benar-benar sudah menangis kali ini. Tangis yang sedari tadi ditahannya di dalam ruangan.
"Teganya Paman berkata tentang kematian ibu di hadapanku di saat ibu masih bernafas di dalam sana? Pantaskah Paman menyebut diri Paman sebagai seorang adik ipar? Paman dan Bibi ternyata sama saja," cerca Liu kesal.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kakak iparku. Jangan munafik, semua orang tahu bahwa waktunya tak lama lagi."
Liu terdiam. Benar, waktu ibunya memang tak lama lagi. Ibunya sudah berkali-kali kritis, minggu ini saja sudah empat kali ia dipanggil karena ibunya kejang-kejang. Dokter bahkan sudah meminta para keluarga untuk bersiap merelakannya.
Ia pun segera beranjak, meninggalkan paman egois yang sekarang sibuk dengan ponselnya. Liu menemui sang ibu lagi yang kini sudah tertidur pulas di kamar rumah sakitnya. Entah tertidur lelap atau memang sedang tak sadarkan diri karena menahan sakit, Liu tak tahu.
“Ibu, kenapa ibu setega ini?” lirihnya.
“Aku sudah cukup tersiksa selama ini, Bu. Tidak cukupkah dengan menjadikanku boneka selama dua puluh lima tahun ini? Kenapa sesulit ini permintaanmu? Ibu tidak pernah memberikanku pilihan, aku selalu hidup dalam hukum mutlak yang ibu buat sendiri.”
Digenggamnya tangan sang ibu yang masih tepasang infus. Liu baru sadar, tangan itu sudah kurus kering seperti tulang yang terbalut kulit saja. Tumor otak yang ibunya derita memang terlambat didiagnosis karena ibunya sibuk bekerja, begitupun dirinya. Rasa sesal tiba-tiba menyeruak di dadanya, membuatnya kembali bimbang dan dilema dengan permintaan terakhir sang ibu.
“Ibu... aku harus apa?” bisik Liu sambil mencium tangan ibunya.
Ia sebetulnya kesal, tapi ia juga mencintai ibunya lebih dari apapun di dunia ini. Karena ibunyalah satu-satunya keluarga dekat yang ia punya. Ayah Liu sudah meninggal saat ia berusia tiga tahun. Ibunya tak pernah suka jika Liu membicarakan sang ayah.
Sejak kecil, Liu tak pernah berkata tidak pada ibunya, ia terbiasa . Mulai dari memilih tempat bersekolah, mengikuti sembilan jenis les diuar pelajaran, memilih jurusan hukum saat berkuliah, hingga memilih pekerjaan sebagai seorang pengacara, semuanya diatur oleh sang ibu. Liu hanyalah boneka hidup.
Keluarga besar yang cukup dekat dengan sang ibu hanyalah Paman dan Bibi Shin yang menurut Liu hanya memanfaatkan kesempatan di balik dilema perjodohannya. Pasalnya, menurut Bibi Shin, lelaki yang akan dijodohkan dengannya adalah seorang anak konglomerat primadona seluruh negeri. Tapi, Liu tak peduli. Kata “menikah” bahkan tak ada di kamus hidupnya.
“Bibi dan Paman Shin pasti berniat menguras harta laki-laki malang itu,” gumam Liu.
---
“Maaf, Bibi Shin, tapi aku sudah katakan kalau aku menolak perjodohan ini. Aku mohon, pulanglah,” protes Liu pada sang bibi yang baru saja memberikan nomor telepon laki-laki yang akan dijodohkan dengannya pada selembar kertas.
“Bodoh, dia bisa menjamin hidupmu dan bahkan hingga anak cucumu tujuh turunan sekalipun. Kamu munafik sekali, Liu.”
Bibi Shin memelankan suaranya saat seorang perawat menatap mereka dengan tatapan sinis.
“Aku tidak tertarik,” jawab Liu yang kini menyandarkan kepalanya di sisi ranjang sang ibu.
“Dia bukan sembarang orang, Liu. Julukannya adalah ‘CEO 1 Miliar Won’ dari TJ Gr-“
“Aku tidak tertarik,” potong Liu lagi, kembali menarik perhatian perawat yang kini menyuruh mereka untuk tenang dengan gerakan tangan.
Bibi Shin mendecih kesal, ia meraih tangan Liu dengan paksa dan menyerahkan selembar kertas itu di tangannya. Kim Liu bersikap masa bodoh, dirematnya kertas itu yang langsung ia kantongi di saku jaketnya.
“Oke, sudah aku terima, kan? Sekarang lebih baik Bibi pulang, restoran pasti ramai.”
Restoran itu adalah milik ibu Liu, namun dikelola oleh paman dan bibinya sejak ang ibu jatuh sakit. Sedangkan Liu sendiri sibuk bekerja menjadi seorang pengacara publik yang hari-harinya dipenuhi dengan kasus-kasus para klien.
“Kak Hyesu, jangan khawatir. Akan aku pastikan Kim Liu menikah dengan pria itu,” bisik Bibi Shin di telinga ibu Liu yang masih terpejam.
“Aku pergi dulu, pulanglah jika kamu lelah. Ibumu akan aman bersama mereka,” tambah Bibi Shin sambil menunjuk para perawat yang berjaga di sudut ruangan.
Kim Liu hanya mengangguk dengan malas, lalu membiarkan sang bibi menghilang dari pintu dengan perasaan lega.
“Akhirnya pulang juga. Persetan dengan harta, aku tidak peduli.”
“CEO 1 Miliar Won? Apa maksudnya? Cih, kekanak-kanakan sekali.”
“Benarkah dia anak sahabat Ibu? Berapa usianya? Tidakkah dia sudah tua jika memiliki jabatan setinggi itu? Ibu benar-benar mau menjualku, ya?” tanya Liu berturut-turut pada ibunya meskipun tahu sang ibu tak akan mendengarnya.
---
Hari demi hari berlalu sangat berat bagi Liu. Minggu itu sendiri ada dua berkas kasus yang dilimpahkan padanya. Pengacara publik memang cukup berbeda dengan pengacara swasta yang bekerja di firma-firma hukum mandiri. Pada dasarnya, pengacara publik bekerja di pengadilan negeri untuk negara, dan digaji oleh negara. Para klien tak mengeluarkan sepeserpun untuk pengacara publik mereka.
Kasus yang dilimpahkan pada Liu pun cukup rumit, klien pertama yang harus ia tangani adalah seorang pemulung tua miskin yang dilaporkan atas tuduhan pencurian barang bekas oleh tetangganya sendiri.
“Ah, kenapa Pimpinan Jang melimpahkan kasus seperti ini lagi? Dia kan sudah tahu kalau aku selalu lemah dengan klien orang tua,” gumamnya, terindera oleh Jang Doyeon, sahabat sesama pengacara publik di pengadilan.
“Karena dia tahu, kamu pasti akan bersungguh-sungguh mencari keadilan untuknya,” komentar Doyeon.
“Ketahuilah, aku sejujurnya benci terlahir seperti ini. Terlalu baik hati, naif, sok menegakkan keadilan, tidak bisa berkata tidak pada orang lain, benar-benar tidak sebanding dengan tenaga yang sudah aku kerahkan,” ungkap Liu.
“Munafik, setelah ini kamu juga akan berlari kesana kemari mengumpulkan bukti, lihat saja. Setelah aku baca kasusnya, sepertinya pemulung itu justru korban di sini. Semangat menegakkan keadilan, Kim Liu,” imbuh Doyeon sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada untuk menyemangati sang sahabat.
“Oh iya, bagaimana keadaan ibumu? Aku dengar, kamu berencana mengambil cuti?” tanya perempuan berambut pendek itu.
“Setelah dua kasus ini selesai, aku akan cuti dan merawat ibuku. Untuk sementara, ada perawat yang menunggunya di rumah sakit.”
“Benarkah? Setahuku hanya orang-orang kaya yang bisa menyewa perawat secara pribadi untuk menunggu pasien di rumah sakit. Mereka tidak murah, seperti kita, hahaha.”
“Mungkin berbeda kebijakan saja. Mmm, Doyeon, apakah kamu tahu sesuatu tentang ‘CEO 1 Miliar Won’?”
“Apa? Kamu tidak tahu siapa itu ‘CEO 1 Miliar Won’? Dia adalah men-“
Belum sempat Doyeon menyelesaikan kalimatnya, telepon Liu berdering menghentikan bicaranya. Tertera di layar ponsel itu, nama rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Ia pun memengangkatnya dengan hati bergetar, sungguh tak siap dengan apapun yang akan didengarnya.
“Halo? Dengan Saudara Kim Liu?” suara perempuan dari seberang telepon.
“I-iya, ada apa?” jawab Liu dengan terbata.
“Ibu Kim Hyesu terus-terusan mencari anda, Saudara Kim Liu. Mohon untuk menemuinya segera.”
Kim Liu menghela nafas panjang, ia lega karena bukan hal yang ditakutkannya yang terjadi.
“Baik, saya ke sana sekarang juga,” pungkasnya kemudian.
----
Siapa yang baru saja ibu temui? Aku tidak bodoh, ibu pasti sudah termakan omongan orang lain. Siapa? Paman dan Bibi Shin lagi?” tanya Liu bertubi-tubi saat ibunya kembali mengutarakan rencana perjodohannya.
“Aku sebentar lagi mati, Liu. Kamu akan hidup bahagia bersama lelaki ini. Dia akan membiayai seluruh hidupmu, aku akan mati dengan tenang,” lirih ibunya pilu.
Air mata ibunya jatuh, membasahi bantal polos berwana hijau tosca. Kim Liu tak berdaya melihatnya. Rasa kesal, sedih, muak, bercampur jadi satu.
“Sejak kapan ibu menjadi gila harta seperti ini? Sungguh bukan ibu sekali. Aku mohon untuk sekali ini saja, biarkan aku membangkang,” pinta Liu, memeluk ibunya.
“Aku, hanya tidak ingin kamu sebatang kara di dunia ini, Liu,” bisik sang ibu tepat di telinganya.
“Dia akan menjagamu,” tambahnya.
“Siapa?” Kalimat terakhir ibunya membuat Liu langsung menoleh, entah kenapa ia merasa seperti ibunya sedang menyembunyikan sesuatu, yang tak ia tahu itu apa.
“Sahabat ibu? Atau anaknya yang ibu jodohkan denganku? Siapa?”
“Hubungi saja nomor yang diberikan bibimu, Ibu mohon. Dia orang yang baik, Ibu jamin itu,” ucap ibunya terakhir kali sebelum kembali memejamkan mata. Liu hanya menghela nafas mendengarnya, sampai sebuah suara berisik di luar kamar menyita perhatian Liu.
“Baik, Tuan. Berhati-hatilah di perjalanan.” Begitulah sayup-sayup suara yang berhasil Liu dengar.
Liu segera beranjak dari duduknya, berniat memeriksa ke luar ruangan. Namun tangan sang ibu lebih dulu menghentikannya, membuatnya mau tak mau terduduk lagi. Liu tiba-tiba teringat perkataan Dayeon beberapa saat lalu, ia melihat ke sekeliling kamar ibunya lagi. Ia baru sadar bahwa ruangan itu benar-benar tak terlihat seperti ruangan biasa.
Kamar itu dilengkapi dengan TV besar dan kulkas berisi penuh makanan di sudut ruang. Ada sofa besar di tengah-tengahnya, yang di pisahkan dengan tirai tepat di samping kasur pasien. Dan yang paling penting, ada meja perawat yang berjaga 24 jam penuh di depan pintu kamar.
Liu hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Benarkah biaya rumah sakit ibunya yang ia bayarkan betul-betul sudah mengcover semua fasilitas itu?. Lamunan Liu buyar saat genggaman tangan ibunya tiba-tiba mengencang. Ya, ibunya kejang lagi.
“SUSTER... TOLONG...!” teriak Liu panik.
Dilihatnya ke arah meja jaga perawat yang kosong, “Argh... sialan.”
Dengan tangan bergetar, ia memencet tombol emergency di atas kasur berkali-kali. Hanya butuh waktu kurang dari lima detik sampai tiga orang perawat masuk dan menyuruhnya keluar. Ia masih bisa mendengar suara monitor yang seakan memekik di telinganya.
“Vitalnya lemah sekali, segera lakukan tindakan!” perintah salah satu perawat yang masih terdengar oleh Liu tepat sebelum pintu itu tertutup.
Kini ia hanya bisa menangis, seperti kemarin-kemarin saat ibunya kambuh seperti sekarang. Kaki Liu lemas, ia terduduk di lantai koridor rumah sakit yang sepi, semakin menangis histeris saat memori tentang perjuangan ibu yang membesarkannya seorang diri kembali terlintas.
Tanpa sengaja, tangan Liu meremas kantong jaketnya. Ia pun merogoh saku itu dan mengeluarkan kertas notes kecil yang sudah tak berbentuk. Dibukanya rematan kertas itu, menunjukkan sebuah nomor telepon lengkap dengan sebuah nama yang tertulis disana, berbunyi ‘Jung Jisung’.
Tanpa basa-basi, Liu segera mengambil ponselnya dan menelepon nomor itu. Entah apa yang sedang ada di pikirannya, emosi nampak benar-benar menguasainya sekarang. Selang beberapa detik, panggilan itu pun bersambut.
Liu tak menunggu jawaban dari seberang, ia langsung menyerbunya dengan semua sumpah serapah yang ingin ia ungkapkan.
“LAKI-LAKI SIALAN! SEMUA INI KARENAMU!”
“KENAPA KAMU DIAM SAJA DENGAN SEMUA OMONG KOSONG INI?”
“KENAPA KAMU TIDAK MELAKUKAN APAPUN?”
“KENAPA?”
“KENAPA HANYA AKU YANG TIDAK PUNYA PILIHAN?”
“KENAPA... KENAPA KALIAN MENYIKSAKU...?!”
Tangis Liu semakin menjadi setelah ia memekik di kalimat terakhirnya. Liu kembali melanjutan tangis itu hingga perlahan mereda tanpa menutup telepon yang masih tersambung.
“Sudah puas mengutukku, Kim Liu?” ucap lelaki dari ujung telepon itu, terdengar tenang sekali.
Mata Liu terbelalak mendengarnya, seakan baru dihantam realita akan hal bodoh apa yang baru saja ia lakukan. Baru saja Liu hendak bersuara, seorang perawat tiba-tiba keluar dari kamar ibunya.
“Ibu anda sudah melewati masa kritis, tapi maaf, sebaiknya anda tidak mengganggu istirahatnya terlebih dahulu. Kami akan menjaganya,” kata perawat itu sebelum menghilang lagi di balik pintu.
Liu lega, kaki lemasnya seakan bisa menapak lagi. Namun begitu Liu melihat ponselnya, panggilan telepon itu ternyata sudah dimatikan.
“Sialan, berani-beraninya dia menutup teleponku lebih dulu,” sungut Liu dengan menyedot ingus di sisa tangisnya.
Saat Liu hendak pergi, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menghentikannya.
“Le Pre Michel lt.3, 21.00” bunyi pesan itu.
“Apa-apaan ini? Apa dia baru saja mememerintahku?” gerutu Liu kesal.
“Lihat saja nanti malam, habislah kau,” imbuhnya.
---
Liu mondar-mandir di depan cermin kamarnya, sedang menimang apakah ia benar-benar akan pergi menemui laki-laki yang ia panggil CEO sialan itu malam ini. Ia pun tak bisa menelepon teman-temannya untuk meminta pendapat, karena perjodohannya yang dirahasiakan.
“Arrrghh....” teriaknya sambil mengacak-acak rambut.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan, ia pun segera mandi dan bersiap-siap. Akhirnya Liu pun memutuskan untuk datang. Ia akan memastikan nasibnya di rencana perjodohan yang sedang membelitnya.
Pukul sembilan tepat, Liu tiba di restoran Le Pre Michel seperti yang dijanjikan. Setelah melakukan pengecekan sigkat di luar gedung, ia pun dipersilakan masuk. Liu hanya pernah melihat review restoran itu dari internet saja, karena rumornya, harga makanan di sana sangat tidak masuk akal. Diluar dugaan, restoran mewah itu ternyata sepi sekali, Liu bahkan belum berpapasan dengan satu pun pelanggan selama perjalanannya ke lantai tiga.
“Kenapa ini? Apa prosentase orang kaya di Korea sudah menipis?” kelakarnya dalam hati.
Keluar dari lift, seorang laki-laki pelayan menyambut dengan membungkuk 90 derajat di depannya. Liu yang kikuk hanya berdehem kaku dan ikut membungkuk.
“Silakan ikuti saya, Nyonya,” ucap pelayan itu, yang kemudian berjalan mendahului.
Liu hanya menurut, matanya tak berhenti melihat-lihat ke sekeliling. Ia tahu restoran itu mewah, tapi sepertinya kata mewah di internet dan di kamusnya sangatlah berbeda. Karena restoran itu terlihat seperti cuplikan kastil negeri dongeng.
“Mmm, maaf. Apakah restoran ini memang sepi?” tanya Liu pada sang pelayan.
“Tidak, Nyonya. Tuan Jung Jisung menyewanya.”
“Apa? Dia menyewa satu lantai ini hanya untuk bertemu denganku?” tanya Liu tak percaya.
Pelayan itu menghentikan langkahnya, lantas berbalik menghadap Liu.
“Tidak, Nyonya. Tuan Jung Jisung menyewa seluruh gedung,” entengnya, membuat Liu membelalakkan mata seketika.
Sang pelayan kemudian menunjuk sopan ke arah meja nomor satu, mempersilakan Liu untuk mendahuluinya. Terlihat seorang laki-laki yang duduk menunggu di sana, sangat menawan bahkan dari kejauhan.
“Silakan.” Pelayan itu mempersilakan.
“Hah? Oh iya, terimakasih.” Jawab Liu kikuk.
Otak Liu masih sibuk memikirkan maslaah sewa menyewa gedung yang memusingkannya. Ia pun berjalan pelan menuju laki-laki asing yang ternyata tengah memejamkan matanya sambil melipat tangan di depan dada.
“Ekhm.” Liu berdehem, seketika membuat sosok di depannya membuka mata. Mata mereka pun bertemu, membuat kontak mata selama beberapa detik sampai diputus oleh Liu.
“Dia tidak mempersilakanku duduk? Laki-laki macam apa ini?”
“Kamu telat sepuluh menit, Kim Liu,” ucap lelaki itu, dingin.
“Apa? Laki-laki macam apa kamu Jung Jisung?”
----
Hening, hanya ada alunan musik klasik lirih yang mengiringi. Liu duduk terdiam sambil menatap meja selama beberapa saat. Saat ia mendongakkan kepala, matanya bertemu dengan mata Jisung yang juga tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
“Kamu tinggal sendiri? Rumahmu dimana?”
“Naik apa kamu ke tempat kerja? Bus kota? Taksi? Mobil pribadi?”
“Apa kamu punya teman dekat? Berapa? Berikan aku informasi tentang mereka.”
“Apakah kam-“
“Stop!” sergah Liu usai mendengarkan rentetan pertanyaan dari Jisung, ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Pertama, anda sangat tidak sopan sudah mengunakan bahasa non formal pada saya yang jelas-jelas baru pertama kali anda temui. Kedua, saya bukan google yang bisa menjawab pertanyaan beruntun itu sekaligus. Ketiga, untuk apa saya memberitahukan informasi-informasi pribadi saya? Jangan harap,” lanjut Liu yang sedang berusaha menahan kesal.
Jisung hanya menatap gadis di depannya dengan dingin, senyum miring terukir di wajahnya usai mendengar tiga protes dari Liu. Kesan pertamanya setelah bertemu dengan Liu adalah, gadis kasar, ceroboh, bodoh, dan... sedikit lucu. Tapi hanya sedikit saja, pikirnya.
“Ternyata semua laporan dari sekretaris Choi benar,” lirih Jisung.
“Apa? Jadi kamu sudah mengintaiku? Oke, sekarang aku tidak akan menggunakan bahasa formal denganmu, karena kamu juga begitu. Jadi, jawab pertanyaanku,” seru Liu yang mendengar gumam Jisung.
“Pertama, aku tiga tahun lebih tua darimu. Lagi pula, kamu yang lebih dulu berbicara menggunakan bahasa non formal tadi di telepon,” skak mat Jisung untuk Liu.
“Wah, kamu bahkan sudah memeriksa latar belakangku sampai tahu kalau aku lebih muda tiga tahun?” protes Liu, berusaha mengalihkan pembicaraan dari kebodohannya tadi siang.
“Kedua, aku kira seorang pengacara sudah terbiasa dengan bom pertanyaan seperti itu. Bukankah kalian sering melakukannya di persidangan? Tapi kamu boleh menjawabnya dengan pelan jika tak mampu,” lanjut Jisung yang terdengar sangat memprovokasi di telinga Liu.
“Sial, sekarang dia bahkan membawa-bawa kompetensiku sebagai pengacara? Konyol.”
“Ketiga, aku memang harus bertanya semua tentang kamu. Aku harus mengetahui latar belakang calon istriku, bukan?"
“Ca-calon istri?”
Mata Liu terbelalak menatap Jisung, tak percaya dengan apa yag baru saja ia dengar.
“Kamu tidak menentang perjodohan ini? Kenapa?” tanya Liu penasaran.
“Aku lapar, sebaiknya kita makan dulu,” potong Jisung, yang langsung sukses mendapatkan tatapan kesal dari Liu untuk yang kesepuluh kali malam itu.
Jisung mengangkat tangan kanannya ke udara, membuat Liu bertanya-tanya. Namun hanya dalam hitungan detik, dua pelayan restoran datang membawa menu yang nampaknya memang sudah dipesan terlebih dahulu sebelumnya.
“Makanan macam apa ini?” batin Liu.
Menu itu adalah Fleur Burger yang menggunakan pattie daging wagyu dengan topping truffle dan foie grass. Siapapun yang melihatnya pasti sudah menduga bahwa itu adalah makanan mahal.
Liu penasaran setengah mati dengan harganya. Liu pun menebak-nebak ria dalam hati, kira-kira makanan di depannya itu seharga dengan berapa bulan gajinya sebagai pengacara.
“Memang hanya orang kaya yang makan burger dengan pisau dan garpu. Apa mereka tidak tahu betapa nikmatnya melahap satu gigit besar burger dengan dua tangan?” batin Liu lagi yang agak kesusahan mengiris makanannya.
“Aku bukannya tidak menentang perjodohan ini, tapi aku memang tidak punya alasan untuk menolaknya,” jawab Jisung usai memasukkan satu suap ke mulutnya.
“Kalau begitu, jadikan saja aku alasannya. Bilang saja aku terlalu bodoh dan miskin untuk menjadi istrimu,” tawar Liu.
“Tapi kan itu kenyataan, dan aku tidak masalah dengannya,” komentar Jisung dengan polosnya.
“Apa? Apa dia baru saja membenarkan kebodohan dan kemiskinanku? CEO sialan.”
Liu benar-benar kehilangan kata-kata, ia menyelesaikan makanannya tanpa bersuara sedikitpun. Sedangkan Jisung, ia diam bukan karena bersikap dingin. Dia hanya tidak terbiasa, karena memang tidak pernah punya teman makan untuk diajak berbicara.
Usai menyelesaikan menu mahal itu, pelayan datang lagi dengan satu botol wine berlabel Domaine de la Romanee Conti tahun 1990. Sang pelayan menuangkannya dengan hati-hati untuk Jisung dan Liu.
Lagi-lagi Liu terkejut dibuatnya. Pasalnya, ia tahu berapa harga wine di depannya itu. Bukan, bukan karena ia pernah mengicipinya, tapi karena ia pernah menangani klien yang merupakan tersangka kasus pencurian wine mahal di bar. Dan harga wine dengan nama sulit itu adalah 25 juta won, setara dengan sepuluh bulan gajinya sebelum dipotong tagihan kartu kredit.
“Aku tidak berniat menolak perjodohan ini. Oke, apa ada pertanyaan lagi sebelum aku yang balik bertanya?” Jisung mengawali.
Liu terdiam mendengarnya. Daripada kesal, saat ini kesedihanlah menguasai hatinya.
“Apa pendapatku benar-benar tidak penting sampai kalian mengabaikanku? Ternyata, sejak awal aku memang tidak punya pilihan. Iya, kan?” komentar Liu.
“Selama dua puluh delapan tahun aku hidup, aku belum pernah mengingkari satu pun janji yang keluar dari mulutku. Dan malam ini aku berjanji, aku tidak akan ikut campur dengan hidupmu jika kita menikah. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau,” ucap Jisung tenang, ia meneguk habis wine di gelasnya.
“Aku terima syarat apapun darimu selama itu tak saling merugikan. Lagi pula, kamu juga tidak merugi disini, kan? Aku yakin kamu juga tidak mau mengecewakan ibumu. Menikah sekarang atau nanti, tak ada bedanya. Aku juga tidak berminat mengusik pekerjaanmu,” lanjutnya.
Liu kembali membisu. Semua yang diucap Jisung memang benar, tapi justru itu yang membuatnya lebih kesal. Setelah beberapa saat berdebat dengan otak dan hatinya, ia pun mengiyakan tawaran Jung Jisung.
“Oke, dengan satu-mmm dengan beberapa syarat,” tawar Liu.
“Katakan saja.”
“Pertama, aku tidak mau identitasku disebar. Kamu mungkin orang terkenal, tapi tidak denganku, aku tidak ingin dikenali publik.”
“Baik, syarat diterima.”
“Kedua, jangan sentuh kehidupan pribadiku. Baik pekerjaan, pertemanan, dan semua kehidupan sosialku dengan orang lain.”
“Baik, syarat diterima.”
“Ketiga, jangan melakukan kontak fisik apapun tanpa persetujuanku.”
“Baik, syarat diterima.”
“Terakhir, jangan mencintaiku.”
Jisung terdiam sebentar, sedikit tak menyangka dengan syarat terakhir dari Liu.
“Baik, mmm... syarat diterima.”
Liu bernafas lega, setidaknya ia bisa sedikit mengendalikan lelaki itu, pikirnya. Ternyata pandangan tentang perjodohannya bisa berubah hanya dalam waktu beberapa jam saja, benar-benar tidak berpendirian.
“Sekarang giliranmu, apa saja syaratmu?” tanya Liu, ia bahkan mengeluarkan ponsel untuk bersiap mencatat ucapan Jisung.
“Oh, syaratku hanya satu. Kamu harus tinggal bersamaku,” enteng Jisung.
Entah untuk yang keberapa kalinya malam itu, mata Liu dibuat terbelalak lagi oleh seorang Jung Jisung.
“O-oke, baiklah. Tapi selalu ingat syarat dariku, oke? Kita tidak berbagi ranjang, kan?” panik Liu.
“Tidak, tentu saja.”
“Baik, sekarang apa yang ingin kamu tahu tentang latar belakangku?”
Jisung kemudian bertanya satu persatu hal tentang latar belakang calon istrinya. Liu menjawab dengan patuh, meskipun kadang ada beberapa pertanyan yang tak masuk akal seperti jam berapa biasanya ia tidur dan parfum apa yang biasanya ia gunakan.
“Apa yang kamu lakukan? Cepat catat semua jawabanku,” saran Liu.
“Aku menyelesaikan sekolah menengah di usia sepuluh tahun, dan mendapat gelar doktor di usia dua puluh satu tahun. Semua ini benar-benar bukan apa-apa, aku sudah menghafalnya,” pamer Jisung.
“Lihat ini, dia baru saja menyombongkan kepintarannya, bukan? Sungguh si sombong yang menyebalkan. Kenapa julukannya CEO 1 Miliar Won? CEO Angkuh nan Sombong terdengar lebih cocok untuknya.”
“Oke, terserah, aku tidak peduli. Tapi kenapa kamu harus mewawancaraiku seperti ini? Lakukan saja seperti caramu kemarin-kemarin. Menggali latar belakangku lewat anak buahmu, bukankah itu lebih mudah?”
“Sudah, aku hanya ingin membandingkan jawabanmu dengan laporan dari sekretarisku saja. Dengan begitu, aku bisa menilai hasil kerjanya, bukan?”
Jawaban Jisung membuat suasana hening sesaat, lelaki itu kembali meneguk wine terakhirnya.
“Dasar CEO brengsek,” serang Liu kemudian, membuat Jisung tersedak wine mahalnya.
----