Bab 1

"Bagaimana keadaan, Nona?" Salah satu pelayan berambut merah sebahu bertanya cemas di samping ranjang merah.

Pelayan di sebelahnya yang berambut coklat tua panjang di kuncir kuda—mengorek lubang hidungnya ceroboh, "Sana, Nona tidak akan mati hanya karena kepalanya terbentur puluhan anak tangga dari lantai dua."

Sana tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir, mata hitamnya bercucuran air mata kesedihan, "Naya! Nona juga manusia! Dia pasti merasakan sakit! Nona Sally yang malang!"

Perempuan bergaun hitam terbaring lemah di atas ranjang, setengah dari wajah mungilnya tertutupi oleh perban, rambut hitam segelap bayangan tergerai acak-acakan.

Dokter menutup tas berisi obat dan alat-alat medisnya. Pria baruh baya itu berdiri, "Nona Sallyana baik-baik saja, tidak ada luka serius. Beliau bisa bangun sore hari ini, tolong panggil saya lagi ketika Nona sudah sadar."

"Baik, Dokter! Terima kasih! Terima kasih!" Sana berseru, menurunkan tubuhnya, bersujud di lantai sebagai tanda terima kasih murni. "Kami berhutang budi pada Dokter karena telah menyelamatkan Nona kami!"

"Tidak, tidak. Saya tidak membantu banyak, beruntung Nona Sally mempunyai sihir kuat yang juga berguna sebagai pelindung diri sendiri ketika di landa bahaya. Saya permisi."

Selepas dokter keluar dari kamar. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berwajah rupawan datang memasuki ruangan, rambut hitam seperti milik perempuan di atas ranjang terikat menjadi kuncir kuda di belakang.

Pria paruh baya tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Baron Fedelian, Duke Fedelian. "Ceritakan bagaimana putriku bisa terjatuh dari dari lantai dua?"

Naya menundukkan kepalanya hormat, "Kami tidak tahu pasti, pelayan sedang sibuk mengurus kebun karena pesta ulang tahun Nona Muda akan di adakan minggu depan. Begitu mendengar jeritan Nona Muda, semua orang bergegas datang, lalu ketika kami sampai, Nona sudah tidak sadarkan diri."

Duke Fedelian mengambil salah satu telapak tangan putrinya, di usia lebih dari tiga puluh tahun, aura kharisma dari sosoknya tidak pernah luntur. Menjadikannya seorang Ayah yang sempurna, "Putriku, cepatlah bangun."

Perempuan di atas ranjang, Sallyana Fedelian, menggerakkan kelopak mata. Tirai bulu mata hitam panjang nan lentik bergetar, lima detik berlalu. Iris semerah darah yang terlihat mempesona terbuka.

Sallyana menginvasi ruangan dimana dia berada sekarang. Menatap pria paruh baya yang sedang memegang tangannya, beralih ke samping dan menemukan dua perempuan muda berusia dua puluh tahunan berbaju pelayan.

Wait.

Tunggu sebentar!

Pause!

Tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh Sallyana baru saja di rasuki oleh jiwa yang seharusnya mati dari dunia lain. Jiwa itu adalah Juwita Chou, gadis cantik berdarah China-Indonesia.

Juwita Chou berencana pulang ke China setelah menyelesaikan pendidikan di Indonesia. Tetapi di tengah perjalanan, mobilnya di tabrak oleh truk sialan! Mendorong mobil yang di gunakan Juwita Chou terhantam keras pada pohon raksasa pinggir jalan!

Atas nama keadilan!

Juwita Chou bertekad ingin mengebiri bapak-bapak supir truk yang telah membuat dia meninggal di usia muda sebelum bisa merasakan nikmatnya menikah dengan pria tampan!

Juwita meringis kesakitan kala tersadar terdapat luka di bagian dahinya. Bukan luka besar, sih, namun rasanya sangat nyeri seolah otaknya baru saja di pukul menggunakan palu pak tukang.

Sekarang, harus tenang.

Dia mendapatkan berkah hidup kembali.

Yang harus dia lakukan sekarang adalah, mencari tahu dunia apa dia berada sekarang lalu mulai menyusun rencana untuk bertahan hidup!

Juwita memegangi sisi kepalanya, bertanya ingin tahu, "Kalian siapa? Aku dimana? Aku siapa?"

Aku siapa? Aku siapa?

Aku menjadi siapa di dunia baru ini?

Pertanyaan dari Juwita berubah menjadi sambaran petir bagi Baron, Sana, dan Naya!

"PANGGIL DOKTER ITU LAGI! PUTRIKU SAKIT PARAH!" Baron sontak berdiri, berteriak tidak sabar pada seluruh pelayan di depan ruang kamar.

Bab 2

Kekaisaran Elda dikisahkan menganut Dewi Cahaya- Dewi Sylvit sebagai satu-satunya kepercayaan masyarakat secara turun-temurun.

Setiap bayi yang lahir diberkahi oleh Dewi Cahaya yaitu mendapatkan kekuatan sihir.

Sihir digolongkan menjadi tiga bagian;

Sihir Hitam, Sihir Cahaya, dan Sihir Medis.

Sihir Cahaya adalah berkah paling umum di kalangan bayi-bayi mungil. Setelah mendapat berkah kekuatan sihir, anak-anak perlu mengasah sihir mereka kemudian pada usia remaja mulai membangkitkan kekuatan dan membuat kontrak dengan binatang roh suci.

Namun, tidak semua anak bisa lolos seleksi menjadi seorang penyihir. Sebab selama ratusan tahun, hanya segelintir orang yang bisa membangkitkan kekuatan sihir di usia kedewasaan.

Begitu gagal membangkitkan kekuatan sihir cahaya, maka seluruh sihir di tubuhnya akan hilang dan seseorang yang telah kehilangan sihir tidak ada bedanya dengan manusia biasa lemah.

Setiap generasi menerbitkan dua hingga lima suksesor handal yang lalu akan di teruskan ke Istana Kekaisaran, ditugaskan sebagai Penasihat Negara dan Pelindung Negara di perbatasan.

Semua orang tua berharap anak mereka berhasil menjadi suksesor penyihir cahaya. Sedangkan beberapa orang tua yang mendapatkan kenyataan bahwa anak mereka mendapat berkah Sihir Hitam pun tidak bisa berbuat lebih, mereka menahan kesedihan di dalam, merawat bayi mereka sebaik mungkin.

Karena Sihir Hitam di berikan pada anak berkepribadian buruk, kejam, dan bengis di masa depan. Kekaisaran menetapkan aturan, seluruh bayi dengan berkah Sihir Hitam harus di bunuh demi menjaga masa depan Kekaisaran Elda.

Kini tersisa satu jenis sihir, yaitu Sihir Medis.

Sihir Medis ini sendiri merupakan sihir paling langka. Di katakan, setiap darahnya adalah obat, setiap nafasnya adalah kehidupan bagi semua orang, dan setiap langkahnya adalah kebaikan menuju surga.

Orang yang diberkahi Sihir Medis di agungkan dan di hargai, disebut-sebut sebagai malaikat turun ke bumi.

Nahas, Kerajaan Elda tidak pernah mendapatkan berkah untuk mempunyai bayi berkekuatan Sihir Medis langka di idamkan banyak orang.

Juwita berhenti membaca buku sejarah usang yang baru saja dia ambil dari salah satu rak lemari buku raksasa. Bibir mungilnya menghela nafas kesal, "Huh! Jadi kenapa tubuh anak ini masih hidup?!"

Sallyana Fedelian merupakan anak di berkahi Sihir Hitam.

Kelahirannya menyebabkan kematian bagi sang Ibu. Sejak kecil semua orang telah menyebut dia Iblis. Bahkan kakak kandungnya pun ikut-ikutan merundung Sallyana asli setiap hari hingga adiknya benar-benar berubah menjadi seorang Iblis sungguhan sesuai keinginan semua orang.

Usai Sallyana berubah menjadi Iblis sesuai keinginan semua orang. Kebencian pada sosoknya malah bertambah.

Dari alur novel "The Medis Girl's" yang sedang dia jalani sekarang. Sallyana tidak dibunuh meskipun di tubuhnya terdapat konstitusi sihir gelap berkat kesetiaan keluarga Fedelian dari generasi Kaisar Pertama.

Keluarga Fedelian dihormati oleh anggota kerajaan. Kesetiaan mereka tidak bisa di ukir dengan kalimat semata-mata.

Kaisar mengampuni nyawa Sallyana, di lanjutkan mengampuni semua perilaku buruk Sallyana pun karena alasan kesetiaan keluarga Fedelian kepada Keluarga Kerajaan sejak Kerajaan Elda di bangun.

Kekuatan militer di bawah keluarga Fedelian tidak kalah kuat dengan keluarga Kerajaan. Kaisar harus banyak mempertimbangkan poin-poin penting jika berani menyinggung perasaan Baron atau konflik internal bisa memicu keruntuhan Kekaisaran Elda.

"Nona Sallyana, anda belum makan makan apapun sejak pagi. Saya membawa makanan kesukaan Nona, bolehkah saya masuk?"

Juwita mendongak menatap pintu raksasa tertutup. Wajah mungilnya ini mirip dengan wajah miliknya di kehidupan sebelum meninggal dunia. Paras cantik menawan, hidung bangir terpahat indah, sepasang mata bundar jernih, setiap bagian dari wajahnya di pastikan ; sempurna.

Buruknya. Wajah Sallyana Fedelian rusak setengah, mengharuskan Sally selalu menggunakan perban agar tidak terlihat orang. Pemilik tubuh ini marah karena di berkahi wajah buruk, sisi kiri wajahnya terdapat luka bekas seolah pernah terbakar oleh api.

Gen dari mendiang Ibu Sally tidak dapat di ragukan, Ibunya berasal dari Wilayah Timur. Di kenal cantik, lembut, dan penyayang. Lalu Baron Fedelian, di masa muda, Ayahnya ini termasuk jajaran tiga pemuda tampan Kekaisaran Elda.

Kakak laki-lakinya Zeron Fedelian, di anugerahi paras rupawan. Mampu menarik tali kewarasan anak-anak perempuan. Satu lirikan darinya termasuk bencana yang meriuhkan gerombolan betina buas.

Zeron membenci Sallyana. Kehadiran adiknya mengakibatkan Ibu meninggal dunia. Zeron juga tidak ingin mempunyai adik Iblis jahat, sudah jahat, jelek lagi.

Beruntung Sally mewarisi mata merah Baron, salah satu ciri khas keturunan Fedelian selain rambut hitam segelap tinta. Di Kekaisaran Elda, orang berambut hitam dengan kornea mata merah tidak bisa di temukan kecuali keturunan Fedelian.

Sana mengetuk pintu sekali lagi. Cemas tak kunjung mendengar suara Sally dari dalam ruangan. Kecelakaan kemarin siang membekas di hati Sana, hati Sana sering gelisah ketika tidak melihat Sally berada di sekitarnya. "Nona?"

"Masuk, Sana."

Pintu berlapis emas terbuka, Sana berjalan ceria mendekati rak lemari paling pojok. Duduk di atas lantai, meletakkan nampan berisi makanan di atas pangkuannya. "Nona ingin makan sendiri atau saya suapi?"

Juwita-ah bukan, sekarang dia harus membiasakan menyebut dirinya sendiri Sallyana. "Aku mau makan sendiri saja."

"Baik." Sana menuruti perintah. Memindahkan nampan ke atas pangkuan Sally. Ia membenarkan posisi duduk, menunggu seperti anak anjing sedang melihat majikannya makan.

Sana adalah pelayan pribadi dari Sallyana asli, penulis membentuk karakter Sana sebagai perempuan baik hati, penyayang, setia, pemaaf. Pokoknya semua hal baik di masukan ke dalam karakter Sana.

Di akhir hayat Sally, Sana meminum racun untuk menyusul Nona Muda. Gadis bodoh yang lugu ini, benar-benar buta karena sebaik itu pada perempuan sejahat Sallyana asli.

"Sana," Sally memanggil nyaris mencicit.

Jika ingin hidup aman di masa depan, dia harus mengumpulkan anak buah setia! Walaupun Sana tidak akan berkhianat dengan karakter malaikatnya, tetap saja, dia khawatir!

Sana menegang, spontan menggelung lengan bajunya sampai batas siku. Menyodorkan lengan putih kurus ke depan, "Nona, silahkan pukul. Jangan memendam kemarahan, itu tidak baik."

Betul. Sallyana asli sering melampiaskan amarah pada Sana. Cara melampiaskan amarah Sallyana asli biasanya mencambuk lengan Sana atau menggores kulit Sana menggunakan pisau dapur.

Hati Sally mendingin. Mana mungkin dia pernah menyukai karakter Sallyana asli ketika dia membaca novel? Entahlah. Sally memeluk lengan Sana, wajah mungilnya merengut sedih, "Aku merasa asing setelah bangun dari pingsan kemarin. Kamu orang yang sangat baik padaku. Jika aku mempunyai salah di masa lalu, bisakah kamu memaafkan aku?"

Sana mengangkat tangan kanannya, menutup mulut terkejut. Mata hitamnya berair, "Nona ... Tidak, saya tidak apa-apa. Nona adalah orang yang baik. Semua orang di luar sana adalah orang jahat, mereka mendorong Nona sampai di kondisi terburuk. Saya tidak akan pernah marah pada Nona, saya selalu memaafkan anda selama ini tanpa anda memintanya."

Bagus! Anjing kecilnya memang mudah di bujuk!

Sally menitikkan air mata sebening kristal, "Terima kasih. Tolong jaga aku di masa depan, aku ingin selalu bersama Sana." Imbuhnya. Memperdalam akting mendramatisir.

Oh, ngomong-ngomong, Sally belum memberitahu darimana dia sadar kalau dia masuk ke dalam dunia novel berjudul The Medis Girl's, kan?

Sally tahu hal itu tepat di saat Zeron datang ke kamar untuk menjenguk. Mengecek apakah adiknya masih hidup atau sudah mati.

Kata-kata Zeron membekas di dalam Ingatannya. "Sallyana Fedelian. Aku jijik harus mengakuimu sebagai adik, tapi sebagai penerus keluarga Fedelian. Nama keluarga penting bagiku, berhenti berbuat ulah atau aku tidak akan segan mengulurkan tangan mencekik lehermu."

Demi Tuhan!

Dari semua novel koleksinya sebelum meninggal, mengapa The Medis Girl's tempat dia hidup kembali?!

Apalagi dia berada di tubuh antagonis bengis yang akan mati di mutilasi lima tokoh utama pria karena membunuh Gadis Medis- Archina Marshmell.

Tunangan Sallyana mencintai Gadis Medis- si Archi. Raimon Arazil jatuh cinta pada kebaikan hati Archina. Semua hal berkaitan tentang Archi tidak bisa di bandingkan dengan sampah tidak tahu diri Sallyana Fedelian.

Dalam novel The Medis Girl's, terdapat lima tokoh utama pria a.k.a budak cinta. Mulai dari Zeron, Raimon, Putra Mahkota, Penasihat Kekaisaran, dan terakhir adalah kakak angkat Sallyana.

Semua tokoh utama pria jatuh cinta pada tokoh utama wanita. Archina bagaikan bidadari cantik menyilaukan di antara semua gadis yang ada di dunia.

Mungkin upilnya lebih berharga daripada kehadiran Sallyana di mata lima tokoh utama pria.

Sally menerima pelukan Sana secara terbuka. Memeluk tubuh kurus ringkih, alisnya mengerut tidak nyaman. Dia harus membesarkan anak anjing kecil ini dengan benar di masa depan.

Tunggulah dunia novel! Mari kita lihat, bisakah takdir kematian dari penulis berlaku untuknya yang bukan jiwa asli Sallyana?

Sally ingin berjuang demi hidupnya! Dia akan menendang semua bokong tokoh utama pria, menjadi kaya, lalu hidup bahagia bersama Sana!

Bab 3

Satu minggu lagi pesta ulang tahun kedewasaan Sally di adakan. Para Bangsawan sebenarnya tidak sudi membuang waktu untuk menghadiri pesta dari Iblis jahat. Kalau bukan karena nama belakangnya adalah Fedelian, Sally yakin Sallyana asli sudah di giling menjadi serpihan daging manusia oleh orang-orang.

Mengingat dia bukan Sallyana asli, maka dia harus merubah pemandangan orang terhadapnya lebih dulu. Sally berjalan menyusuri lorong rumah lantai dua, sialan, rumah ini selebar istana kerajaan. Mau pergi ke kamar jalan kaki rasanya seolah sedang berjalan dari kompleknya ke komplek sebelah.

Maid di Mansion Fedelian mengetahui insiden kecelakaan Nona Muda mereka. Para pembantu bernafas lega mengetahui kebenaran bahwa Nona kehilangan ingatan akibat kepalanya terhantuk anak tangga berulang kali.

Hal terbaik adalah Nona Muda tidak lagi membuat ulah. Nona Muda berubah menjadi kucing kecil jinak penurut. Sering berdiam diri di perpustakaan menghabiskan waktu dengan membaca.

Baron Fedelian mendengar semua kegiatan Sally dua hari terakhir. Ayah beranak tiga itu akhirnya bisa tersenyum lepas, "Putriku berubah menjadi baik. Bukankah ini hal bagus?"

Kepala Pelayan menyentuh dada kirinya, menunduk sambil menjawab sopan, "Duke benar. Namun ada sesuatu yang membuat saya khawatir."

"Katakan padaku."

"Nona menjadi pendiam, hanya berbicara bersama Sana. Jarang keluar melihat lingkungan luar. Seolah mengunci diri sendiri dari banyak orang. Memang sifat Nona berubah jinak, tetapi kita tidak bisa membiarkan Nona menyendiri."

"Benar, aku tidak memikirkan hal ini. Kalau begitu, adakan makan malam keluarga hari ini. Biarkan Jake kembali ke rumah, jangan sampai Zeron tidak ikut makan nanti malam."

"Semua akan saya urus dengan baik. Duke bisa tenang mengurus sisa pekerjaan."

Kepala Pelayan- Rezef Bahail keluar dari ruangan kerja resmi Duke. Kalian mungkin berpikir Rezef adalah pria tua, maka kalian salah. Rezef seumuran dengan Zeron. Ayahnya sakit keras dan harus pensiun dari pekerjaan. Mewajibkan dia bekerja menjadi Kepala Pelayan lebih awal.

Ketika berbelok ke lorong menuju area dapur, Rezef tidak sengaja melihat Sally sedang membaca buku sambil berjalan. Dari awal, dia mempunyai kesan buruk terhadapnya, walau begitu, sebagai pelayan. Rezef tidak bisa melampaui batas.

"Nona Muda."

"Oh?" Sally berhenti membaca buku. Menelisik pria tinggi di depannya. Rambut hijau rapi, bola mata sehijau daun mangga muda, paras tampan baby face. "Kau... Rezef Bahail?"

Rezef sedikit terkejut, tersenyum formal, "Benar, saya merasa tersanjung anda mengingat nama saya."

Sally menutup buku di tangannya, kemudian memeluknya. Mendongak mengamati setiap sisi wajah Rezef, dunia ini terlalu memanjakan. Pria berstatus pelayan saja mempunyai paras setampan malaikat!

Rasa sakit karena tidak bisa menikahi pria tampan di kehidupan sebelumnya mendadak hilang. Eyang! Cicitmu sangat ingin membuka Harem!

"Karena Rezef tampan, aku jadi mudah mengingatnya." Sally membalas ngawur. Dia ingin akrab dengan semua jenis ketampanan. Kecuali ketampanan kepala babi seperti Zeron contohnya di ikuti empat tokoh utama pria.

Rezef tertawa kecil.

Tawanya membuat jantung dan ginjal Sally ketar-ketir tidak karuan. Silau! Silau!

"Nona Muda memang berubah setelah kehilangan ingatan. Saya harap anda lekas mendapatkan ingatan anda kembali."

"Terima kasih atas harapan baik dari Rezef."

Kepala Pelayan muda tersebut tersenyum semakin dalam. Di masa lalu, Sallyana jarang memanggil namanya. Di mata Sallyana, Rezef dan keluarganya tidak lebih dari anjing peliharaan Baron Fedelian. Jadi sebagai putri bungsu Baron, dia bersikap kurang ajar.

Sally harus meminta maaf. Kepala Pelayan ini tipikal anjing amat setia dan di jamin tidak akan pernah berpikiran menggigit tangan yang telah memberinya makan. "Em... Rezef?"

Rezef terpaksa mendorong keinginan pergi secepatnya ke dapur untuk memerintahkan koki memasak hidangan lebih banyak malam ini. "Ya, Nona? Ada yang bisa saya lakukan untuk anda?"

"Tidak, tidak, bukan itu." Sally menggantung di tengah jalan kemudian melanjutkan berbicara lembut, "Aku minta maaf."

Pria itu mematung. Mata hijaunya yang enak di pandang melebar tak percaya. Rezef terbatuk, "Nona, kenapa anda meminta maaf?"

"Aku mendengar cerita dari Sana tentang masa laluku. Bukankah aku pernah menyakitimu dengan kata-kata burukku? Karena itu aku ingin meminta maaf, aku tidak memaksamu memaafkan aku. Jadi jangan merasa terpaksa atau terbebani, titip salam pada Tuan Bahail, semoga lekas sembuh. Jangan sungkan mencari aku jika Rezef membutuhkan bantuan."

"B-baik. Terima kasih atas kemurahan hati anda. Saya hampir lupa memberitahu tahu ini, nanti malam akan di adakan makan malam resmi keluarga. Duke berharap Nona semakin dekat dengan kakak-kakak anda."

Sally menangis darah dalam diam. Ayah, kau serius tidak ingin membuang anakmu ini ke dua harimau lapar?

Buru-buru merubah ekspresi menyedihkan diwajahnya. Sally tersenyum ceria, mata lebarnya menyipit terlihat khas orang wilayah timur. "Oke, sampai jumpa Rezef."

***

Ruangan kamar temaram cahaya nampak remang-remang di bawah bayangan malam. Seorang gadis duduk di atas lingkaran sihir aneh yang baru saja dia gambar memakai darahnya sendiri.

Sally melantunkan mantra sihir sesuai di buku panduan kuno yang dia temukan pagi tadi di perpustakaan. Sebelumya dia yakin buku ini tidak ada di sana, namun karena buku ini tiba-tiba hadir seolah menunggu untuk dia ambil. Dengan senang hati Sally membawanya ke kamar.

Sihir di dalam tubuhnya adalah sihir hitam, lalu buku kuno tersebut merupakan buku khusus berisi sihir mengenai bangsa Iblis yang sudah lama punah di bantai oleh Dewi Cahaya.

Cahaya dan udara melonjak keluar dari lingkaran sihir, Sally menyatukan kedua tangan di depan dada. Fokus mengucapkan mantra berulang kali, tidak lupa mengatur energi spiritual yang bergolak di dalam darahnya.

Menurut alur novel, Sally tidak pernah membangkitkan kekuatan apapun semasa hidup. Tetapi sekarang alur novel banyak berubah akibat ulahnya. Persetan dengan alur bedebah yang menakdirkan dia mati muda!

Sekarang buku kuno sihir hitam hadir, Sally perlu membangkitkan kekuatan Iblis apapun konsekuensinya. Sally harus menjadi kuat demi dirinya sendiri. Selagi dia kuat, maka tidak akan ada yang bisa melukainya.

Lingkaran asap hitam mengelilingi tubuh Sally. Aroma darah kematian menyembur keluar dari tubuh Sally. Kelopak matanya terbuka, menunjukan pupil semerah darah bersinar terang di dalam ruangan.

Bayangan hitam muncul tepat di depannya. "Kau yang membangkitkan aku?"

Sally mendongak, meluruskan pandangan pada bayangan hitam yang membentuk tubuh seorang pria gagah tinggi. "Siapa kamu?"

Bayangan hitam menekuk salah satu kakinya ke lantai, "Saya memberi salam kepada Nyonya."

Sally terkejut. Ia melepas tautan kedua tangannya. Merangkak seperti bayi mendekati bayangan hitam, kepalanya meneleng ke samping. "Nyonya? Aku Tuanmu?"

"Ya."

"Spesies apa kau ini?"

"Iblis."

Bibir mungil Sally mencebik. "Aku tahu kau Iblis. Mana mungkin aku memanggil binatang suci dengan sihir hitamku. Eh, di buku menjelaskan jika sihir hitam tidak bisa membuat kontrak dengan binatang melainkan hanya bisa membuat kontrak dengan Iblis. Tapi Iblis sudah lama punah, darimana kau datang? Dan jenis tingkatan apa kau ini?"

"Anda melahirkan kembali jiwa saya. Semua Iblis musnah di bantai oleh Dewi Cahaya, saya sebagai Iblis setengah Dewa tidak bisa musnah total. Jiwa saya masih berkeliaran menunggu Tuan yang bisa membantu saya bangkit."

"Setengah Iblis? Tunggu dulu, bukannya Iblis tidak boleh menjalin hubungan dengan Tuhan? Mungkinkah Raja Iblis menjebak salah satu Dewi tercantik lalu melakukan ehem-ehem dan terbentuklah dirimu?"

"Benar."

"Lantas siapa Ibumu?"

"Dewi Cahaya."

Sally menjatuhkan rahang ke bawah. "Oke, oke. Mari bahasa hal penting, hal terbaik apakah yang bisa kau lakukan untukku?"

Bayangan hitam terdiam. Lalu membuka bibirnya, berkata, "Saya bisa memuaskan anda."

Sally membuka mulutnya lebar-lebar, spontan memeluk tubuhnya. Dia masih perawan! Kalaupun ingin menciptakan pengalaman liar bersama seorang pria, dia tidak akan memilih seorang Iblis! Kesuciannya hanya untuk sang suami!

"Aku sangat jelek! Kau akan muak jika menyentuh aku, belum lagi di tubuhku terdapat tato kutukan tidak jelas. Dan benar, aku Tuanmu! Hempas semua pikiran kotor dari kepalamu!"

Veen terdiam. Tugas dari Iblis adalah memuaskan semua keinginan sang Tuan tanpa terkecuali. Tidak tahu alur kata-kata Sally, Veen hanya bisa menjawab datar, "Anda perempuan tercantik di dunia ini."

"Aku tahu kau tidak punya mata. Tapi kau terlalu muji."

"Saya bisa melihat."

"Matamu ... bagaimana bisa melihat tanpa menggunakan mata?"

"Semua indra di tubuh saya masih lengkap, hanya saja membutuhkan beberapa waktu untuk bisa kembali ke bentuk manusia non-transparan. Meskipun saya terlihat bagaikan bayangan tidak berindra, saya sebenarnya mempunyai mata juga."

Di saat Sally mangut-mangut menerima informasi. Tanpa gadis itu sadari, bayangan hitam bergerak memudar menjadi kabut tebal yang memutari tubuhnya.

"Woy! Apa yang sedang kau lakukan? Bukankah aku sudah bilang jangan lecehkan aku?! Sialan! Dasar Iblis!"

Teriakan Sally sangat keras terdengar sampai ke luar. Sana menunggu cemas di depan pintu. Kedua tangannya menempel pada pegangan emas, siap mendorong kapan saja saat di panggil oleh Sally.

Naya berlari mendekati Sana, bertanya heran, "Gangguan jiwa Nona kumat?"

Sana menggeleng, sesaat kemudian mengangguk, kemudian menggeleng lagi. Dia tidak bisa berpikir jernih. "Aku tidak tahu! Aku tidak tahu! Nona melarang aku masuk ke dalam sebelum di panggil! Nona berteriak seolah berbicara dengan seseorang yang mencoba menyakitinya! Aku sangat takut!"

"Bodoh! Kau seharusnya mendorong pintu itu!" Naya berteriak berang. Mengambil ancang-ancang, menggosokkan kaki ke lantai sebelum berlari kencang membentur pintu.

Duak!

Tubuh Naya terpental jauh menabrak dinding. Mulutnya mengeluarkan tegukan darah. Organ internal di dalam tubuhnya serasa hancur menjadi ribuan kepingan kecil.

Maid lain bergegas berdatangan satu-persatu. Mereka sedang mempersiapkan hidangan untuk makan malam keluarga satu jam mendatang.

Kebisingan di sekitar kamar Nona Muda menarik perhatian semua orang.

Maid berambut abu-abu berteriak ketakutan, "Lihat asap hitam itu! Asap hitam keluar dari celah bawah pintu!" Dia terjatuh ketakutan. Sihir Hitam adalah hal tabu mengerikan di Kekaisaran Elda karena Kekaisaran sendiri menganut Sihir Cahaya. Kebalikan dari Sihir Hitam.

Sana menutup mulutnya menangis, kedua tangannya menggedor pintu kamar brutal. "NONA! NONA! ANDA MENDENGAR SAYA TIDAK?! TOLONG BUKA PINTUNYA! TOLONG BUKA PINTUNYA!"

Aria membantu Naya berdiri. Ikut bergidik ngeri melihat pemandangan asap hitam keluar dari celah pintu Nona Muda mereka.

Naya bersuara lemah, "Cepat panggil, Duke! Nona bisa saja terluka di dalam!"

"Kau harus di obati sesegera mungkin!"

"Aku masih bisa menahannya! Keselamatan Nona sangat penting!"

"Baiklah, aku pergi dulu!"

Aria berlari menuju ruangan kerja Duke, di tengah jalan dia berpapasan dengan Zeron dan Jake. Maid itu memberitahu keduanya tentang kondisi misterius Sallyana. Baru kemudian melanjutkan berlari ke ruang kerja Duke.

Sesampainya di sekitar kamar Sallyana lagi, Aria berjalan mundur menemani Naya. Menatap cemas pada kamar tertutup yang masih mengeluarkan asap hitam berbau darah menyengat.

Baron ketakutan, "Sallyana!" Ia mengeluarkan cahaya dari kedua tangannya, di ikuti Zeron dan Jake dari belakang.

Mereka bertiga berusaha mendobrak pintu dengan memanfaatkan reaksi tolak-menolak antara Sihir Hitam dan Sihir Cahaya. Pintu setebal apapun tidak bisa menahannya.

Di dalam kamar, bayangan hitam tak henti-hentinya memutari tubuh lemah Sallyana. Seakan tidak memahami rasa sakit dari Tuan barunya.

"Cukup.... Sakit... Hentikan..." Sally merintih putus asa. Rasa sakit ini melebihi rasa sakit ketika dia mengalami kecelakaan di kehidupan sebelumnya.

"Ini terasa sakit karena jiwa anda bukan dari dunia ini."

Deg!

Sally meremat kepala sekuat tenaga, perban putih yang semula melilit wajahnya, terjatuh ke atas lantai. Sisi buruk rupa miliknya perlahan menghilang, kulit kering di wajahnya mengelupas dan terjatuh menjadi tetesan cairan hitam.

"Ini bukan kutukan melainkan segel. Selama ini di tubuh anda tidak terdapat reaksi sihir karena kekuatan anda tersegel. Rasa sakit dari pembukaan segel lebih menyakitkan karena jiwa anda bukan pemilik asli tubuh ini. Saya tidak peduli siapa anda sebenarnya karena sekarang kontrak telah terjadi antara jiwa saya dan jiwa anda."

Lima menit berlalu bagaikan lima tahun. Sally kehabisan nafas, tubuhnya terkulai lemas tidak sadarkan diri. Lingkaran sihir hitam di lantai menghilang di telan asap.

Pintu terdobrak, bahkan salah satu pintu berakhir copot dari tempatnya tak kuasa menahan dua kekuatan saling menolak.

"Putriku!" Baron berlari mendekati putrinya di dekat ranjang.

Sana berlari masuk menyalakan cahaya di ruangan. Mendadak seluruh ruangan terlihat bercahaya.

Zeron bersandar di dinding dengan malas, menatap punggung Ayahnya dari belakang. Tidak cemas sama sekali, malah berharap bisa melihat adiknya mati.

Lalu Jake? Dia tidak menampilkan ekspresi apapun. Wajahnya sedatar papan tulis sekolah.

Baron takjub menatap wajah duplikat dari istrinya. Sesaat dia berpikir di dalam pelukannya adalah perempuan yang paling dia cintai di dunia ini.

Sana merosot di dekat Baron, membelalak memandang perempuan menakjubkan di pangkuan Duke. "Nona... Nona... Apakah dia Nona? Duke, kulit Nona lebih bersih, wajah Nona juga sembuh..." Lirihnya terharu.

Sally membuka kelopak mata, tersenyum menyenangkan, "Ayah... Aku baik-baik saja."

Ya! Dia harus baik-baik saja! Sekarang dia punya kekuatan, jangan lupakan bayangan Iblis yang telah menjadi anak buahnya! Hahaha!

Kalimat "Halo, Selamat Datang Tokoh Utama Pria." Seakan-akan muncul di atas kepala kecil Sally. Dia sebentar lagi pasti bisa menendang pantat siapapun di antara lima tokoh utama pria yang berani membully-nya!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED