Bab 1

Suara tepuk tangan yang sangat meriah, terdengar di segala penjuru cafe. Hari ini ada grand opening salah satu cafe di Ibukota. Dan mengundang penyanyi lokal yang terkenal pula dikalangan remaja. Tentu saja hal itu langsung mengundang banyak penonton, terutama para remaja. Begitu juga dengan perempuan yang memiliki nama lengkap Tiffany Lenora Amora. 

Perempuan itu datang ke cafe baru ini bersama dengan kedua temannya. Selain untuk menikmati makanan yang ada di cafe ini. Tiffany juga tidak mau kalah dengan penampilan solo dari lelaki yang memiliki nama lengkap, Bara Cavero Danendra. Laki-laki yang memiliki wajah tampan, kulit cerah dan juga senyum manis. Pandai bermain gitar, dan memiliki sifat yang begitu menjengkelkan. 

Ya menjengkelkan, karena Tiffany harus satu sekolah bersama dengan Bara. Laki-laki itu cukup terkenal di sekolahnya, banyak perempuan yang menginginkan untuk menjadi kekasihnya. Sayangnya, tak ada satu perempuan pun yang mampu memenangkan hati Bara. Walaupun jadi fansnya, Tiffany juga tidak tahu perempuan mana yang masuk kriteria Bara kali ini. 

Dia sangat menyukai laki-laki itu. Lihatlah, walaupun hanya menggunakan kaos oblong berwarna putih, dengan kalung peluru yang panjang. Dia terlihat sangat tampan dan juga keren. Kalau saja Tiffany bisa, ingin rasanya dia mendekati Bara dan mengajaknya berkenalan secara dekat. Siapa tau kan, Tiffany bisa membuat laki-laki itu jatuh cinta dengannya. 

"Udah kali Tif lihatnya." kekeh Ambar salah satu teman Tiffany. 

Perempuan itu hanya mampu tersenyum kecil dan mengangguk. "Sayang banget kalau sampai di anggurin. Cakep sih, anak orang." 

"Kalau nggak anak orang, mau anak siapa Tif. Anak kamu apa?" sahut Shella tertawa kecil, dan menikmati kenyang gorengnya. 

Ya tidak begitu juga konsepnya. Jika Bara anaknya terus Bapaknya siapa? Kan Tiffany juga pengennya Bara yang jadi bapaknya, masalah anak nanti deh bisa bercocok tanam berdua sampai subuh. Tiffany yakin selama satu bulan langsung hamil, anak kembar lima sangking banyaknya. 

Tiffany terkekeh kecil, dia pun memainkan pipet minimnya dan sesekali menatap Bara yang dikerumuni banyak orang. Udah cakep, anak orang kaya, tapi masih aja mau mandiri cari duit sendiri.

"Bisa jadi ya hobby salah satunya." celetuk Shella mengusap dagunya. 

"Sok tau deh." dengus Tiffany. 

"Nggak lagi amnesia kan, kalau Shella itu tetangga Bara, Tiffany Lenora!!" sahut Ambar gemas. 

Karena lupa akan hal itu Tiffany menepuk jidatnya sendiri. Tentu saja Shella tahu segala hal tentang Bara. Rumah Shella tepat di depan rumah Bara, di perumahan elit yang sangat terkenal. Banyak artis dan juga pejabat tinggi yang memiliki rumah disana. Termasuk shella, Ayahnya bekerja di salah satu partai di Ibukota. 

"Ya ampun Shella, aku lupa." pekik Tiffany pura-pura. 

Shella hanya menggelengkan kepalanya kecil, melihat reaksi Tiffany yang menurutnya sangat konyol itu. Dia juga meminta semua orang untuk segera menghabiskan makanan mereka. Shella tidak ingin pulang malam lagi, jika ayahnya terus saja marah-marah pada Shella karena pulang malam. Sedangkan Ambar dan juga Tiffany, mereka memiliki jam malam sendiri. Sampai jam sepuluh malam mereka harus sudah sampai di rumah. 

Jika Shella dan Ambar lebih sibuk dengan makanan yang mereka nikmati. Tiffany malah lebih sibuk melihat Bara yang tertawa kencang bersama dengan temannya. Hingga tak sengaja pandangan mereka sempat berpadu beberapa detik, sebelum Tiffany menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak lebih kencang, nafasnya memburu, dadanya sesak seolah dia membutuhkan tabung oksigen yang bisa dibawa kemanapun. 

"Tif kenapa sih? Ayo buruan makan, bapaknya Shella keburu marah." ucap Ambar. 

"Nggak papa, ini juga lagi makan." jawab Tiffany asal dan memakan makanannya. 

-Listen to My Heart- 

Singkat cerita. Setelah kejadian di cafe tiga bulan yang lalu. Tiffany kembali dipertemukan oleh Bara di taman kota. Waktu itu Tiffany lagi pengen banget beli kembang gula. Dia meminta salah satu sopir papanya, untuk mengantar Tiffany ke taman kota. Hanya untuk membeli kembang gula. Tak disangka Tiffany malah bertemu dengan Bara yang waktu itu dikejar para fansnya. 

Bara menarik tangan Tiffany dan mengajaknya bersembunyi di balik semak-semak. Awalnya Tiffany juga tidak tahu jika itu adalah Bara. Saat laki-laki itu membuka masker dan tudung jaketnya, barulah Tiffany tahu jika itu adalah Bara idolanya. 

Sesak nafas, dan rasa ingin berteriak Tiffany rasakan waktu itu. Tapi dia memilih diam tanpa mengatakan apapun saat Bara membekap mulutnya. Oh shit!! Selama satu minggu bahkan Tiffany rasanya malas untuk membasuh mukanya saat bangun tidur. Malas untuk gosok gigi, karena takut aroma tangan Bara hilang dari mulutnya. Tapi karena bau jigong yang tak sedap itu, akhirnya Tiffany membasuh muka dan bibirnya saat sore hari. 

Dan sekarang hubungan mereka cukup dekat. Seperti sore ini Bara mengajak Tiffany ke salah satu studio milik temannya. Katanya, hari ini dia akan latihan bernyanyi sebelum manggung untuk esok.

Benar-benar laki-laki idaman bukan!! 

Duduk di sofa berwarna merah, Tiffany menatap Bara yang mengambil sebuah gitar dan mulai memainkannya. Sudah seperti konser pribadi, yang dihadiri tamu VVIP. 

Sambil menunggu Bara selesai latihan, perempuan itu memilih berjalan-jalan di studio milik teman Bara ini. Banyak sekali figuran dan tulisan-tulisan di studio ini. Sampai akhirnya Tiffany melihat satu kupu-kupu yang sudah mati. 

Kupu-kupu itu memiliki warna biru muda dan hitam. Dari warnanya saja sangat cantik, membuat Tiffany langsung jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Sedangkan Tiffany juga tahu, sebelum menjadi kupu-kupu, hewan itu berasal dari ulat yang sangat menjijikkan. Entah kenapa jadinya lebih cantik daripada burung merpati. 

"Suka?" 

Tiffany terjingkat kaget dia pun langsung menoleh menatap Bara, yang entah sejak kapan berada di belakangnya. Sedangkan Tiffany ingat betul jika Bara sedan ruangan yang kedap suara. 

"Kamu.., kok ada disini?" tanya Tiffany kaget.

Bara tersenyum, "Tadi melihat kamu pergi aku panik. Takutnya kamu nyasar." 

Tiffany tertawa kecil, mana mungkin juga dia nyasar di studio yang ukurannya saja bahkan bisa dihitung dengan jengkal jari. Yang ada Tiffany tadi hanya bosan saja, jika Bara harus bernyanyi di balik kaca. Sedangkan Tiffany hanya mampu duduk dan merasa bosan.

Tiffany kembali duduk di sofa merah, dengan pandangan ke arah kupu-kupu. Seolah tahu arah pandangan Tiffany, Bara mengambil spidol yang ada diatas meja dan menarik tangan Tiffany. 

"Eh mau ngapain!!" pekik Tiffany kaget. 

Dia berusaha menarik tangannya tapi yang ada Bara malah menahan tangan Tiffany. Kalau dibilang tangan yang beruntung, tentu saja iya. Bahkan saat ini Tiffany sangat iri dengan tangan kirinya yang ditarik oleh Bara. Bukan perkara Bara melukis sesuatu di tangan Tiffany. Tapi karena tangan kiri tanpa sengaja bisa menyentuh dada bidang Bara, yang dibalut kaos hitam dan sedikit basah. Ruangan ini memiliki pendingin ruangan, tapi nyatanya Tiffany masih merasakan hawa panas yang luar biasa. 

Dan sekarang dunia dan hidupnya semakin panas, saat tangan kirinya menyentuh dada bidang Bara. Apa iya Tiffany tidak akan menyentuh air sedikitpun dengan tangan kirinya? 

"Aku harap kupu-kupu ini adalah lambang hubungan kita. Keindahan, kesetiaan, kebebasan dan juga cinta kita." 

Tiffany mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap Bara dengan kebingungan. Apa maksud dari ucapan Bara, dan hubungan apa yang Bara maksud? 

-Listen to My Heart-

Bab 2

Merentangkan kedua tangannya dengan mengepal, Tiffany baru saja membuka kedua secara perlahan. Jam menunjukkan pukul delapan pagi, dan yang jelas Tiffany hanya tidur beberapa jam saja. Selain menjadi mahasiswa akhir Tiffany juga salah satu penulis populer di platform online yang lagi booming. Ceritanya yang berbeda dari lain, dengan judul yang pasaran membuat semua membacanya merasa kesal. Ya, kesal!! Karena mereka terlalu mendalami cerita buatan Tiffany.

"Selamat pagi dunia tipu-tipu." ucap Tiffany tersenyum begitu manis.

Menyibakkan selimut abu-abu miliknya, Tiffany segera pergi ke kamar mandi. Dia ada kelas siang hari ini, jangan sampai terlambat hanya karena kurang tidur.

Sekitar tiga puluh menit, Tiffany baru saja selesai mandi. Dia mengambil kaos putih dan kemeja flanel berwarna coklat, Tiffany sudah siap untuk pergi ke kampus. Tapi karena jamnya masih sangat lama, wanita itu membuka sedikit laptop kesayangannya dan mulai update chapter cerita selanjutnya. Biasalah, pembaca selalu saja spam komentar dan meminta Tiffany untuk rutin update bab atau mungkin cerita baru.

"Nggak tau apa kadang aku tulisnya juga otodidak." kekeh Tiffany.

Melirik jam dinding dan memiliki banyak waktu. Tiffany langsung memperbarui chapter ceritanya satu bab. Tiffany ini perempuan yang suka sekali menggantungkan ceritanya. Dan membuat banyak pembaca yang mendadak mengamuk dan juga mengumpat. Hal itu malah membuat Tiffany cekikikan dan bahagia.

Tanpa sadar jika Leonardo ayah dari Tiffany sejak tadi melihat satu-satunya putri kesayangannya yang lebih sibuk dengan benda lipat di depannya. Pria paruh baya itu mendekat dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut.

“Kamu nggak ke kampus apa? Ini sudah jam sembilan loh. Lupa ya kalau ada kelas pagi.” Ucap Leon.

Tiffany mendongak, mengclose semua datanya dan menutup laptopnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. “Ingat dong Pah. Alarm punya aku itu suara Papa loh.” kekeh nya sambil memeluk sang ayah.

“Terus kenapa nggak berangkat?”

“Masih ada setengah jam lagi Pah, habis gini berangkat kok.”

“Ya sudah Papa mau sarapan dulu.”

Tiffany mengangguk dia pun mengambil benda pipihnya dan melihat sebuah notifikasi youtube di ponselnya. Sebuah notif dari Anemone adalah menjadi hal utama dalam kebahagiaan Tiffany.

“Masih pagi disini dan sudah ada notif?

Anemone adalah salah satu band yang digandrungi oleh Tiffany sejak empat tahun terakhir ini. Apalagi personil bandnya ada Bara Cavero kekasih Tiffany.

Dulu Bara itu solo karir. Dia pandai bermain alat musik dan memiliki suara yang begitu merdu. Bahkan Tiffany masih ingat, jika Bara meminta untuk menemaninya latihan di studio milik temannya. Kalau tidak di tempat dimana hanya ada dirinya dan juga Tiffany saja. Hubungan mereka juga tertutup sejak dulu, walaupun suka manggung sana sini. Bara selalu menjaga hati dan matanya untuk tidak melirik perempuan lainnya. Sampai akhirnya saat Bara manggung di salah satu mall terbesar di Ibukota. Salah satu MC meminta Bara untuk memainkan alat musik drummer.

Tentu saja itu sangat mudah bagi Bara, selain pintar gitar dia juga pintar memukul dan tidak bisa diragukan kembali. Awalnya semua terlihat baik-baik saja, semua berjalan dengan normal dan sesuai harapan. Sampai akhirnya acara selesai, salah satu laki-laki bernama Ksatria Elang Hadinata, yang biasa disapa dengan nama Elang untuk bergabung bersamanya.

Bara sama sekali tidak berminat waktu itu, dia sangat menikmati karirnya. Banyak yang mengenal dirinya, itu sudah lebih dari cukup. Tapi semakin kesini, Bara sadar jika dia memiliki grup band yang banyak personilnya, karirnya akan semakin melonjak dan bagus.

Dan akhirnya Bara pun memutuskan untuk bergabung dengan Anemone. Ternyata setelah Bara bergabung dan personil lengkap. Band yang digawangi oleh empat personil itu dibawa ke luar negeri, untuk melakukan tour perkenalan lagu dan juga band mereka. Katanya sih, banyak lika-liku yang dirasakan Bara di awal.

Banyak latihan, jarang istirahat dengan cukup. Terkadang Bara juga sampai telat makan. Ditambah pula Manajer mereka melarang semua personil untuk berpacaran atau menikah selama masih kontrak. Karena menurut Manajer mereka, itu akan mengganggu kepopuleran mereka. Itu sebabnya sampai saat ini Bara dan Tiffany benar-benar merahasiakan hubungan mereka. Bahkan mereka juga jarang sekali memberi kabar, kecuali Tiffany yang masih suka mengirim pesan pada Bara. Walaupun dia tahu laki-laki itu tidak akan membalas pesan Tiffany.

Jam menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Kelas akan dimulai setengah jam lagi. Jika dia terlambat, yang ada Tiffany pasti tidak akan bisa masuk ke kelas dan mengulang minggu depan.

Mencari keberadaan Papanya dan juga mengecup pipi kiri Papanya, Tiffany pun segera pergi ke kampusnya.

"Berangkat ya Pah. Nanti aku pulang sedikit terlambat, ada acara sama Jessica mau pergi ngopi bentar." pamit Tiffany merangkul bahu Leon.

"Hmm, beliin Papa donat ya, tanpa matca."

"Siap Bosku…,"

-Chasing You-

Kelas berakhir sepuluh menit yang lalu, tapi Tiffany tak kunjung keluar ruangan untuk kelas terakhirnya. Dia masih sibuk dengan ponselnya dan menatap satu buah lagu baru yang dirilis oleh Anemone.

Senyumnya tak pernah luntur saat melihat banyak sekali perubahan di laki-laki itu. Dan sekarang Tiffany sangat merindukan suara emas Bara. Semenjak dinobatkan jika dia adalah drummer, Bara jarang sekali untuk bernyanyi. Tapi tidak masalah performa nya tidak main-main.

"Senyum terus. Biar gila beneran." cibir Jessica yang baru saja masuk ke dalam kelas Tiffany.

Bukannya menjawab, wanita itu langsung menunjukkan video baru Anemone pada Jessica. Tentu saja hal itu langsung membuat perempuan itu jengah.

Jessica adalah salah satu teman Tiffany, yang mengetahui hal ini. Dia adalah saksi bisu dimana Bara mengungkapkan perasaannya di depan Tiffany dengan begitu romantis. Ya, romantis jika banyak orang. Sayangnya hanya bertiga.

Waktu itu Bara, Tiffany dan juga Jessica sedang menonton film di salah satu bioskop yang ada. Jessica pikir bioskop ini hampir saja tutup, karena memang sepi pengunjung. Ternyata Bara yang menyewanya untuk beberapa jam kedepan, untuk menikmati film teenlit.

Awalnya semuanya terlihat baik-baik saja. Terlihat biasalah menurut Jessica. Lampu dimatikan, layar lebar dinyalakan dan juga ada minuman dan popcorn. Tapi yang membuat Jessica aneh waktu itu, salah satu staf memberikan Bara seikat bunga yang cukup besar. Lalu laki-laki itu berdiri dari duduknya dan menarik Tiffany tepat di depan layar lebar bioskop itu.

Tiffany yang memang masih polos-polos pada umumnya, menurut saja. Orang dia itu paling fans sama Bara. Diminta nyebur sumur juga pasti mau.

Dan disanalah Bara mengungkapkan perasaannya pada Tiffany. Jika merasa nyaman, dan juga menyukai Tiffany selama ini. Cuma Bara tidak bisa mengungkapkan semuanya saat itu, dia hanya takut jika dia mengatakan semua perasaan nya Tiffany akan menolaknya.

Dan nyatanya Tiffany malah menerimanya tanpa berpikir dua kali. Saat hubungan mereka berjalan baru beberapa jam saja, baru lah Bara berkata jujur jika dia ingin pergi ke luar negeri bersama dengan band barunya. Dan dia akan meninggalkan Tiffany untuk beberapa tahun kedepan. Bara juga berjanji jika dia akan segera pulang dan menemui Tiffany. Dia akan kembali pada Tiffany. Dia pergi hanya untuk mencari sesuap nasi dan ingin membahagiakan Tiffany dengan kerja kerasnya, tanpa harus meminta pada kedua orang tuanya.

Dari situ Tiffany yang tidak mau berpisah pun, akhirnya mengangguk. Apalagi ini demi masa depan mereka, yang dimana Tiffany harus mendukung keputusan Bara apapun yang terjadi.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai akhirnya Tiffany sering melihat dan mendengar, banyak skandal yang Bara alami. Dan semua itu berhubungan dengan para perempuan.

Tiffany yang sudah tidak bisa kontak dengan Bara, hanya bisa pasrah. Dia tidak tahu harus berbuat apalagi, keadaannya yang memaksa dia untuk tetap bertahan di tempat yang masih sama.

"Dia lagi. Kamu nggak bosen apa lihat dia terus!! Aku aja bosen, Tif." komentar Jessica.

Mana mungkin Tiffany bosan, yang ada dia malah tambah cinta sama Bara.

"Gila!! Skandal dia banyak banget dan semua itu berhubungan dengan perempuan. Kamu disini setia nungguin dia. Tapi dia aja nggak bisa setia nungguin kamu."

"Tapi dia udah janji mau balik ke aku Jes."

"Susah jelasin ke kamu Tif. Jawaban kamu pasti bakalan sama, kalau Bara nggak mungkin tega nyakitin kamu. Jadi intinya aku capek buat kamu ngerti terus."

"Yaudah kita ngopi aja." lerai Tiffany dan mematikan ponselnya.

"Yaudah ayo!!" dengus Jessica menarik tangan Tiffany kasar.

Terkadang Jessica berpikir kenapa ada manusia sebodoh Tiffany di dunia ini. Dia yang sudah tahu jika laki-laki yang dicintainya banyak sekali menyakitinya.

-To Be Continued-

Bab 3

"Papa…, Tiffany pulang!!"

Perempuan itu membuka pintu rumahnya dengan begitu lebar dan berteriak. Sehingga membuat pria tua yang sedang menikmati televisinya sampai menoleh. Pria itu tersenyum kecil dan langsung melambaikan tangannya pada anak perempuannya.

Satu kotak donat dia letakkan di depan Leon. Lalu membukanya dan menghitung isi donat. Tanpa ada matcha seperti apa yang Leon katakan, sebelum Tiffany pergi.

Pria itu langsung mengambil donat kesukaan nya. Tapi dengan cepat Tiffany langsung memukul tangan Leon dengan pelan.

"Papa mau makan donatnya, kenapa nggak boleh?" ucap Leon bingung.

"Papa lupa ya, ambilin donatnya buat Mbak Asih?"

Seketika itu juga Leon menepuk jidatnya lupa. Dia pun meminta Tiffany untuk mengambil piring kecil, dan mengambil dua donat untuk Mbak Asih. Kalau masalah donat Leon suka lupa dengan orang sekitarnya termasuk Tiffany.

Melihat hal itu Tiffany hanya mampu tertawa kecil. Biarkan pria itu menikmati donatnya sampai habis. Jika nanti giginya sakit, Tiffany hanya perlu mengajak Leon pergi ke dokter gigi dan mencabut giginya.

"Enak nggak Pah donatnya? Ini aku beli di toko lain, bukan yang langganan Papa.” kata Tiffany.

"Dimana?" jawab Leon dengan mulut penuhnya.

Karena hari ini ada grand opening salah satu cafe baru, dekat dengan perempatan lampu merah, dekat kampus Tiffany. Akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke cafe baru itu. Untuk mencoba donat dan juga minuman yang ada. Masalah tempat tidak ada yang kurang, bagus dan masa kini. Cuman tidak ada panggung kecil untuk live musik. Biasanya kalau cafe begini suka sekali memanggil satu band atau penyanyi lokal. Atau tidak penyanyi yang ada di YokTube untuk memeriahkan cafe baru mereka. Tapi nyatanya cafe tadi hanya menawarkan harga donat dengan isinya dua belas donat, diskon lima puluh persen. Mantap nggak tuh!! Dan karena Tiffany tipe orang yang tidak bisa jauh-jauh dari diskon. Ya tentu saja Tiffany tidak mau menyia-nyiakan diskon itu. Untung saja tadi saat membelinya cafe tidak begitu ramai.

Leon mencicipi rasa donat itu dengan teliti. Donat yang empuk dan sedikit memiliki bau amis. Mungkin adonannya kurang lama, itu sebabnya berbau amis. Kalau masalah rasa menurut Leon ini sangat enak, dan manisnya juga pas.

"Syukur deh kalau Papa suka. Aku pikir Papa nggak bakalan suka." ucap Tiffany.

"Hmm, kamu nggak makan Tif? Jangan sampai donat sebanyak ini Papa yang habisin ya." kekeh Leoan.

Dengan tertawa kecil Tiffany mengambil satu donat rasa strawberry dan memakannya. Sesekali menatap ponselnya yang tidak ada notif satu pun.

Dengan iseng Tiffany membuka room chat dirinya dan juga Bara. Membaca pesan akhir yang perempuan itu kirimnya satu minggu yang lalu.

Ya satu minggu yang lalu, Tiffany mengirim pesan pada Bara. Dia hanya menceritakan apa yang terjadi dalam satu hari itu. Dan respon Bara hanya membacanya saja, tanpa mau membalas pesan itu. Tiffany tahu jika laki-laki itu selalu membaca pesannya. Dan bahkan Tiffany juga bisa membayangkan bagaimana reaksi Bara membaca pesannya. Tersenyum begitu manis dan bahkan jika ada hal lucu, Bara pasti tertawa terbahak sambil memegangi perutnya.

Menyadari putrinya sejak tadi tersenyum terus, Leon langsung menatap Tiffany dengan alis yang berkerut.

"Kamu kenapa kok ketawa?" kata Leon bingung.

"Hmm, apa?"

Leon menunjuk Tiffany dengan tertawa kecil. Dia jadi berpikir jika anak perempuannya itu sedang jatuh cinta. Tentu saja Tiffany langsung menolaknya, mengelak jika dia tidak sedang jatuh cinta. Tiffany hanya senang melihat notif band kesukaannya pagi tadi. Bukan berarti Tiffany sedang jatuh cinta kan?

"Masih mau ngelak? Papa itu kenal betul siapa kamu." ledek Leon.

"Idih, Papa apaan sih. Siapa juga yang jatuh cinta. Papa itu sok tauuuuu…,"

Leon menarik bibir Tiffany yang memanjang dan tertawa kecil. Dari gelagatnya saja Leon tahu nika anak perempuannya ini sedang jatuh cinta.

Oke, baiklah!! Jika Leon memaksa itu tandanya Tiffany harus berkata jujur kan?

"Papa pengen tahu siapa yang udah buat aku jatuh cinta?" tanya Tiffany memainkan alisnya.

"Siapa?"

Tiffany mengambil ponselnya dan membuka salah satu apk berwarna merah. Mencari foto Bara yang terlihat sangat polos dan tampan. Lalu dia tunjukan pada Leon yang ternyata sudah menunggunya.

Pria tua itu mengerutkan keningnya dalam, menatap foto yang ditunjukan Tiffany padanya. Kaos putih dengan kalung peluru, rambut berwarna blonde dan juga dua mutiara di gigi taringnya.

"Dia siapa?" tanya Leon bingung. "Papa nggak pernah lihat? Yakin pacar kamu?" ujarnya.

Tiffany mengangguk, "Iya lah Pah. Ini namanya Bara Cavero, dia pacar aku."

Lagi-lagi alis Leon mengerut dalam. Dia menepis ponsel itu dan menggeleng. "Halusinasi mulu kerjaan kamu!!" cibir Leon dan membuat Tiffany mendelik sempurna.

"Papa kok ngatain sih!!" seru Tiffany kesal. "Papa….," teriak Tiffany saat melihat Leon pergi dari hadapannya.

-Chasing Yout-

Kamar adalah tempat paling nyaman untuk Tiffany, terkadang dia paling suka lama-lamaan di kamar apalagi kamar ini dia sendiri yang mendesain setelah menjadi penulis. Ya kamar yang dulunya memiliki dinding kosong sekarang terisi penuh dengan apa yang Tiffany inginkan.

Tempat tidur tanpa ranjang dan juga karpet bulu berwarna cream. Bukannya Tiffany tidak suka tempat tidur yang tinggi. Dia itu kalau tidur suka ngigau, suka ngelindur. Dia hanya takut jatuh dan gegar otak. Belum lagi tempat belajar di dekat jendela dengan minimalis. Di atas tempat meja itu terdapat banyak barang, terutama laptop dan juga tablet pembuatan cover. Tempat pensil dari kayu dan juga bunga kering. Lampu gantung di ujungnya dan juga bufet kecil di samping meja belajar ini. Belum lagi Tiffany menambahkan Fuddate Mesh Board yang menggantung di depan meja belajar. Itu Tiffany pasang dan untuk mengoleksi foto Bara, sticky note dan juga memo. Di atasnya juga ada satu gantungan rak yang isinya hanya kotak kecil berwarna merah.

Diujung kamar sisi kiri dekat dengan pintu kamar mandi dan lemari panjang. Disana ada satu cermin persegi panjang yang berdiri begitu elegant. Dengan kayu panjang tempat handuk , meja kecil yang ada hiasan pohon kaktus dan juga alat make up lainnya yang dimasukkan ke dalam kotak makeup. jadi lebih simple walaupun barangnya banyak.

Tidak hanya itu, Tiffany juga membuat wall decor pada dinding mulusnya. Saat ini dinding itu memiliki banyak sekali foto dirinya, dan juga foto Bara yang berbentuk hati. Selain itu, Tiffany juga menambahkan gantungan bunga hias, lampu led dan juga poster. Tak lupa juga dengan neon letters bertulisan enjoy my spirit.

Oh iya, Tiffany juga menggunakan gorden minimalis polos berwarna krem semi transparan, atau biasa disebut dengan gorden vitrase. Di samping gorden dan jendela di sisi yang berlawanan dengan meja belajar. Disana ada satu bufet kecil yang isinya hanya light word box. Ini adalah sebuah lampu sekaligus quotes penyemangat untuk Tiffany, dan bahkan perempuan itu bisa membacanya setiap hari. Light word box ini terbuat dari kaca dan kayu, yang memancarkan lampu dari dalam. Bunga kering dan juga beberapa barang unik juga berada disana, termasuk pengharum ruangan yang wajib berada di kamarnya ini.

“Besok kayaknya aku harus beli tapestry biar dinding atas light word box nggak kosong,” gumam Tiffany sambil mengusap dagunya. Lalu pandangannya terarah pada meja belajarnya dimana laptopnya sudah waktunya disentuh. “Baiklah, my mind bersahabatlah denganku untuk malam ini.” kekehnya.

-To Be Continued-

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED