Bab 1

“Jadi mengapa kamu ke sini? Bukankah aku sudah bilang kalau tidak boleh ke sini?” teriak wanita tua itu dengan marah dan wajah memerah.

Halimah menundukkan pandangannya dan mulai menangis. Tangannya memilin-milin ujung bajunya.

“Tidak usah menangis! Hentikan tangismu itu! Apa maumu?” teriak wanita tua itu. Halimah semakin menundukkan pandangannya. Wanita tua itu mendecakkan lidahnya kesal, dia mendekati gadis bertubuh kecil itu. Wanita tua memegang dagu Halimah dengan tangannya yang berkuku panjang dan kotor itu.

“Kamu cari mati, ya, datang ke sini? Apa sajennya kurang kemarin?” bisik wanita tua itu dengan geram. Halimah mendongak dan melihat ke arah wanita tua itu dengan pandangan takut, dia segera menunduk lagi. Halimah mundur sedikit, berusaha menghindari wanita tua itu.

“Jawa, Limah! Mengapa kamu diam aja?” teriak wanita tua itu dengan kemarahan yang menggelora, dia mencengekeram dagu Halimah. Halimah menjerti kesakitan.

“Abdi kambuh lagi, Nyai. Aku di suruh memanggil nyai ke rumah Pak Slamet,” jawab Halimah pelan. Wanita tua itu terkejut dan perlahan melepaskan cengkeramannya pada dagu Halimah, dia mundur perlahan.

“Kenapa tidak bilang dari tadi?” bisik wanita tua itu. Halimah menunduk lagi.

“Aku takut karena Nyai Barinah sudah berteriak-teriak seperti tadi,” jawab Halimah dengan melirik kesal pada wanita tua bertubuh bungkuk dan berwajah bocel-bocel itu.

“Ya, sudah, aku akan segera ke sana. Pulanglah dulu. Maafkan aku, ya, Limah,” kata Nyai Barinah. Halimah mengangguk dan segera melesat meninggalkan rumah Nyai Barinah. Halimah lupa jalan yang dilaluinya tadi licin dan berbatu terjal, sehingga dia beberapa kali jatuh dan membuat bajunya kotor penuh lumpur. Tubuhnya sakit sekali dan ada beberapa bagian tubuhnya yang berdarah dan membuatnya menangis tersedu.

***

Halimah sampai di rumah Pak Slamet setengah jam kemudian. Badannya kotor dan sakit semua. Dia mengetuk pintu dapur dengan keras dan terburu-buru.

“Mbok Nem, bukakan pintunya!” teriak Halimah. Sunyi, tidak ada yang membukakan pintu, “MBok Nem! Pak Tatang!” teriak Halimah lagi. Setelah beberapa waktu akhirnya ada suara langkah kaki membukakan pintu dapur.

“Limah?”

“Iya, Mbok! Bukakan pintu, Mbok!” teriak Halimah lagi.

“Iya! Iya! Sabar, Mah!” gerutu Mbok Nem. Dan tak lama kemudian pintu dapur itu terbuka. Mbok Nem sangat terkejut melihat kondisi Halimah yang agak memrihatinkan.

“Kamu kenapa, Mah? Apa Nyai Barinah ngamuk lagi?” tanya Mbok Nem dan buru-buru meminta Halimah masuk ke dalam rumah Pak Slamet, “kok, ya, nyuruh surup-surup (senja) begini, ya? Kan bahaya! Nanti kalau Buto Ijonya itu keluar gimana coba? Kamu nggak papa, Mah?” tanya Mbok Nem sambil berusaha membersihkan wajah dan rambut Halimah yang kusut masai. Halimah hanya bisa menangis kesakitan.

“Mandi dulu saja, ya? Nanti setelah itu kuobati semuanya,” kata Mbok Nem. Halimah mengangguk, dia berjalan tertatih menuju kamarnya. Di dalam kamar dia segera mandi, berganti baju dan kemudian melakukan suatu tindakan yang dilarang oleh pak Slamet selama Halimah tinggal di rumah itu, yaitu salat. Dengan buru-buru Halimah salat Magrib dengan sprei yang dijadikannya mukena dan setelah selesai dia segera melipat spreinya lagi dan memasukkannya ke dalam lemari.

“Limah! Sudah belum ganti bajunya? Lama sekali!” teriak Mbok Nem sambil menggedor kamar Halimah. Halimah buru-buru menyembunyikan sajadah di dalam lemarinya dan membukakan pintu kamarnya.

“Kebiasaan kalau mandi lama banget! Mbok, ya kalau mandi itu yang cepet, sat set gitu lo!” gerutu Mbok Nem lagi. Dia mencebik sambil memeriksa tubuh Halimah yang memar, lebam dan berdarah. Halimah mengaduh kesakitan ketika Mbok Nem menotol-notol luka di tubuhnya dengan minyak ramuan kunyit dan daun sirih yang bisa digunakan sebagai antibiotika dan sekaligus juga penghilang rasa sakit.

“Kalau ini sudah selesai, langsung mbantu aku menyiapkan makan malam, ya? Katanya Nyai Barinah akan datang selepas maghrib,” kata Mbok Nem. Halimah mengangguk.

“Matur nuwun wis gelem nggon omahe Nyai Barinah, ya? (Terima kasih sudah mau ke rumah Nyai Barinah, ya?)” kata Mbok Nem sambil mengelus rambut Halimah. Halimah mengangguk sambil tersenyum haru karena melihat bulir-bulir air mata yang hendak menetes di pipi Mbok Nem, yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.

“Ayo, sekarang bantu aku, ya?” kata Mbok Nem memecah kesunyin dan keharuan itu. Halimah mengangguk dan buru-buru mengikuti Mbok Nem menuju ke dapur.

***

Halimah selalu terpesona dengan menu makanan keluarga Pak Slamet. Mbok Nem selalu disuruh masak makanan dalam jumlah yang banyak dan menunya juga selalu enak sekali menurut Halimah. Seperti malam itu, dia membantu menyiapkan makan malam yang sangat ‘wah’, ada rendang daging, ada pecel, ada sayur asem, ada tempe bacem, tahu bacem, ayam goreng, dan sayur sop daging. Hmm … Halimah hampir saja mengambil sebuah tahu bacem yang nampak sangat enak, berwarna kecoklatan dan berkilauan tertimpa cahaya lampu dan perut Halimah berkeriut menahan lapar. Dia hanya bisa menelan ludah membayangkan betapa lezatnya makanan yang disajikan malam itu.

Tetapi tetap saja rasa heran menyeruak dalam hati Halimah. Bukankah keluarga Pak Slamet hanya empat orang? Ada Pak Slamet, Bu Slamet, Abdi dan kakak perempuannya yang bernama Siti Hayati, mungkin hari ini ada Nyai Barinah, yang pastinya akan makan malam di rumah Pak Slamet. Tetapi sebanyak apapun makanan dan lauk yang dimasak dan disajikan di meja makan, tetap saja semuanya habis tuntas tak tersisa.

Kadang Halimah ikut membereskan meja makan setiap selesai makan malam dan selalu saja tidak ada setetespun kuah, sebutirpun nasi atau secuilpun lauk yang tersisa. Aneh sekali!

“Nggak usah mikir aneh-aneh!” desis seseorang di belakang Halimah. Halimah terlonjak kaget, dia menoleh ke belakang dan melihat Bu Slamet berdiri sambil tersenyum di belakangnya. Halimah langsung menunduk dan Bu Slamet meninggalkan Halimah begitu saja, membuat Halimah semakin ketakutan, karena menyadari bahwa langkah Bu Slamet tak berbunyi sama sekali, begitu mengerikan.

***

Dari dapur Halimah mendengar suara denting sendok dan piring yang beradu di ruang makan, dan anehnya, dia juga mendengar suara dengus-dengus aneh dari ruang itu, seperti suara orang yang kelelahan setelah berlari. Halimah sangat tidak nyaman mendengar dengusan itu. Dia juga sangat penasaran. Akhirnya Halimah mengintip melalui sebuah lubang kecil yang terdapat di bagian atas tengah pintu yang memisahkan antara dapur dengan ruang makan dan … dan Halimah melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu ….

Halimah membeliak tak percaya. Dia mundur dan segera berlari ke kamarnya. Napasnya memburu, jantungnya berdetak kencang. Halimah mencoba menenangkan diri ketika mendengar teriakan Abdi.

“Halimah salat di rumah kita, Pak! Halimah salat di rumah kita!

****

Bab 2

Halimah membeliak ketakutan ketika mendengar teriakan Abdi. Tubuhnya gemetaran, bagaimana Abdi tahu kalau dia salat di rumah Pak Slamet. Halimah mulai panas dingin, dia tahu bahwa dia dalam masalah besar dan kemungkinan besar dia akan diusir dari rumah ini atau lebih buruk lagi, sepertinya dia akan dibunuh oleh mahluk mengerikan yang dilihatnya di ruang makan tadi.

Halimah bergidik. Dia mengingat kepala ular dengan tubuh manusia yang duduk mengelilingi meja makan itu. Ular-ular itu makan dengan rakus semua hidangan yang ada di depan mereka dan setelah itu mereka menjulur-julurkan lidahnya, seakan merasa sangat puas.

Halimah nyaris muntah membayangkan pemandangan yang mengerikan itu lagi. Dia bergidik dan kemudian tersadar ketika mendengar gedoran di pintu kamarnya.

"Aku tahu kamu di sana, Limah! Keluarlah! Aku tahu kamu salat dan mengaji di dalam sana, kan?" teriak Abdi dengan penuh kemarahan.

Kemudian terdengar suara-suara lain di belakang suara Abdi.

"Tidak mungkin Halimah salat, Mas Abdi. Kalau dia salat Mbok Nem pasti yang pertama tahu!" seru Mbok Nem.

"Iya, Mas Abdi. Pastilah Mas Abdi salah duga! Halimah itu pengikutku nomor satu. Dia tidak akan berani salat atau mengaji di sini," kata Nyai Barinah.

Jantung Halimah berderak-derak tak percaya mendengar pembelaan Mbok Nem dan Nyai Barinah, dia berhutang banyak pada kedua orang itu.

"Apa benar, Mbok?" tanya Abdi lugu.

"Njih, benar, Mas Abdi. Mbok Nem jamin," jawab Mbok Nem mantap.

"Kalau Mbok Nem bohong, Mbok Nem sendiri yang akan kumakan!" desis Abdi, anehnya desisan itu disertai dengusan-dengusan napas pendek dan terburu-buru, persis seperti kuda.

Ular dan kuda? Hiih! Mahluk apa itu? Tetapi Halimah tetap menahan diri. Dia bertahan dan berdiam di dalam kamarnya dengan sabar. Dia sudah sangat bersyukur karena masih dibela oleh Mbok Nem dan Nyai Barinah. Halimah terdiam. Kenapa mereka berdua membela dirinya? Untuk apa?

****

Desa Mangunrejo mulai ramai. Setelah subuh, orang-orang mulai bergerak, ada yang ke pasar, ada yang ke sawah, ada yang berolahraga dan ada juga yang mulai membersihkan rumah mereka. Termasuk Halimah.

Halimah bertugas menyapu halaman depan rumah Pak Slamet yang sangat luas itu. Halaman depan yang dijadikan kebun dan taman kecil yang penuh dengan tanaman sayuran dan tanaman bunga. Halimah sangat menyukai pekerjaannya itu. Menyapu, menyiangi rumput, membersihkan sampah-sampah daun kering dan bunga atau bagian tanaman yang sudah layu. Halimah mengerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh dan sukacita, dia terlalu menyukai pekerjaannya itu.

Pekerjaan yang cukup menenangkan dan tidak membutuhkan banyak bantuan orang lain, dan biasanya setelah selesai Halimah akan membantu tukang kebun yang bernama Pak Ritno untuk merawat tanaman yang ada di halaman depan itu. Rasanya semua perasaan Halimah tercurah ketika dia merawat tanaman-tanaman itu dan semua rasa sedih, marah, risau Halimah pun hilang setelah merawat semua tanaman itu.

Tetapi pagi ini, setelah Halimah selesai menyapu dan bersiap hendak membantu Pak Ritno, Mbok Nem sudah memanggil Halimah.

"Limah! Bantu aku memasak, ya?" seru Mbok Nem. Halimah membeliak tak percaya, tumben sekali Mbok Nem memintanya membantu di dapur. Halimah mengangguk dan bergegas ke dapur.

"Mbantu masak, ya, Mah? Mulai hari ini setelah nyopu dan bersih-bersih halaman kamu langsung ke dapur, ya, Ndhuk," kata Mbok Nem, "kata Bu Slamet, dia suka melihat kamu membantu di dapur. Kamu cekatan," lanjut Mbok Nem.

Halimah tersipu malu dia mengangguk dan segera membantu apa saja yang diminta Mbok Nem. Setelah semua siap, Mbok Nem memintanya masuk ke dalam ruang makan.

"Bantu aku, ya?" bisik Mbok Nem. Halimah menjengit. Dia belum pernah masuk ke dalam ruang makan yang sudah berisi anggota keluarga Pak Slamet yang duduk mengelilingi sebuah meja di tengah ruangan itu. Mereka bersiap untuk sarapan. Mereka memandang ke arah Halimah dengan pandangan aneh. Abdi nampak gemas pada Halimah. Dia tersenyum mengejek dan mencibir Halimah. Halimah diam saja.

Mbok Nem dengan sigap membagikan piring dan sendok dan kemudian ... kemudian terjadi keanehan ketika tiba-tiba terdengar suara desisan yang pertama. Halimah menoleh dan melihat leher Pak Slamet memanjang dan kepala Pak Slamet berubah menjadi kepala ular.

Halimah mundur ketakutan, dia hendak berlari ke dapur, tetapi pintunya dikunci, sehingga Halimah bisa melihat perubahan kepala semua anggota keluarga Pak Slamet menjadi kepala ular yang nyaris identik.

Pak Slamet memandang Halimah dengan matanya yang berpupil panjang dan beriris kehijauan itu. Dia mendesis, seakan tersenyum pada Halimah.

"Tugasmu sekarang bertambah satu, Limah! Kamu harus menyuapi mereka masing-masing satu-satu sendok dari semua makanan yang ada di atas meja ini, ya?" kata Mbok Nem, wajah Limah kebingungan dan juga ketakutan. Menyuapi ular?

"Kuberi contoh dulu, ya?" kata Mbok Nem. Halimah mengangguk dan mundur. Dia melihat Mbok Nem mengambil sesendok nasi dan seiris telur dadar, kemudian dia menyuapkan makanan itu ke mulut Pak Slamet. Pak Slamet menelan makanan itu dengan sukacita. Kemudian Mbok Nem mengambil sesendok sayur sop dan menyuapkannya lagi pada Pak Slamet. Mbok Nem mengulangi semua proses panjang itu pada Pak Slamet, sehingga semua jenis makanan di meja telah disuapkan pada Pak Slamet. Kemudian secara tiba-tiba Pak Slamet mengangkat mangkuk sop yang disediakan di depannya dan memakan sop itu dalam satu tegukan, dia juga mengambil semua makanan yang disediakan di depannya dan memakannya dalam satu kali telan.

Halimah mundur ketakutan. Pemandangan yang sangat mengerikan itu seakan-akan menari-nari di pelupuk matanya. Mbok Nem segera mengejar Halimah yang hendak melarikan diri lagi.

"Kamu tahu tugasmu, kan? Kita akan bersama-sama menyuapi mereka dan kemudian membiarkan mereka pergi dengan aman, tenang dan tidak akan ada korban," bisik Mbok Nem.

Halimah pucat pasi, dia menggelengkan kepalanya.

"Aku nggak mau, Mbok!" seru Halimah tertahan. Mbok Nem tertawa.

"Kalau kamu keluar dari ruangan ini sebelum kamu melaksanakan tugasmu, maka kamu akan mati dan menjadi budak mereka selamanya!" desis Mbok Nem, dan seketika kepala Mbok Nem juga berubah menjadi ular seperti kepala Pak Slamet dan keluarganya.

Halimah memekik tertahan. Dia begitu takut melihat Mbok Nem berubah menjadi begitu mengerikan, dia lemas, tetapi Halimah tidak bisa pingsan dan akhirnya dia mematuhi perintah Mbok Nem dan melakukan semua yang disuruh Mbok Nem dengan tangan dan tubuh gemetaran. Setelah semua ritual itu selesai, anehnya kepala mereka semua berubah menjadi kepala manusia lagi dan tersenyum manis pada Halimah.

"Mbok Nem, nanti yang nyuapin aku makan siang dan makan malam Halimah lagi, ya! Kalau bisa setiap hari!" teriak Abdi pada Mbok Nem.

Halimah membeliak tak percaya, wajahnya pucat pasi. Mbok Nem dan abdi tertawa puas dan meninggalkan Halimah sendirian di ruang makan yang temaram itu.

****

Bab 3

Bau anyir itu datang lagi. Kali ini lebih hebat dibandingkan beberapa hari yang lalu. Halimah menutup hidungnya, tetapi bau anyir darah dan bau menyerupai bau bangkai binatang itu tetap mengendap di dalam kamar tidurnya.

Sejak kemarin dia sudah mencari sumber bau itu. Dia sudah minta tolong Mbok Nem untuk mencarikan sumber bau itu, tetapi mereka tidak menemukan binatang apapun yang mati di kamar Halimah ataupun di samping kamar Halimah. Mbok Nem juga sudah meminta tolong semua pegawai di rumah Pak Slamet, tetapi tidak ada yang menemukan sumber bau itu.

Dan Halimah yang harus menanggung semuanya. Dia harus menahan diri untuk tidak muntah ketika mencium bau yang seakan mengambang di udara itu. Dan Halimah juga harus menerima kenyataan bahwa dia harus menyuapi keluarga Pak Slamet setiap waktu makan.

Halimah menyusut air matanya. Dia begitu rindu pekerjaannya yang dulu. Pekerjaan yang sederhana dan tidak menegangkan seperti pekerjaannya sekarang. Halimah rindu menyapu halaman dan kemudian membantu membersihkan halaman depan dan halaman belakang rumah Pak Slamet. Ah, mungkin Halimah bisa menanyakan hal itu pada Mbok Nem, sehingga dia bisa mendapatkan pekerjaannya yang dulu. Tetapi mungkin sementara ini Halimah harus bersabar dulu.

****

Pagi itu gerimis turun tanpa suara. Halimah terbangun karena mendengar suara aneh di depan pintu kamarnya. Suara gesekan sesuatu dengan lantai. Jantung Halimah berdebar kencang. Apa yang menggesek lantai? Apakah kulit, kain atau ... atau sisik?

Halimah menjengit. Tentu saja sisik! Secara refleks Halimah beristighfar. Dan terdengar suara jeritan tepat di depan kamar Halimah.

"Aduuuh! Panas!" Dan terdengar suara gesekan sisik dengan lantai dengan terburu-buru, seakan siapapun di depan kamar Halimah sedang bergerak dengan cepat. Halimah tersengal, dan kemudian dia beristighfar terus tenpa henti. Dia bahkan membaca doa sebisanya dan anehnya kemudian Halimah merasa sangat mengantuk dan dia bangun kesiangan. Itu pun karena pintu kamarnya diketuk dengan keras oleh Mbok Nem.

"Limah! Halimah!" teriak Mbok Nem dari luar kamar Halimah, "ayo bangun! Kamu harus bekerja!" teriak Mbok Nem.

Halimah terlonjak saking kagetnya, dia melihat jam dinding di kamarnya, dan Halimah sangat terkejut ketika melihat jarum panjang di angka enam dan jarum pendek terletak di antara angka enam dan tujuh. Jam setengah tujuh! Halimah langsung bangun.

"Iya, Mbok. Halimah ganti baju dulu, ya," kata Halimah dan bergegas ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian, Halimah sudah berada di depan pintu ruang makan, ketika mahluk-mahluk mengerikan di depannya itu, muntah satu persatu. Mereka muntah darah ketika melihat Halimah, bahkan sebelum Halimah masuk ke dalam ruang makan itu.

"Pak, sudah kubilang, Pak! Halimah salat dan mengaji lagi di rumah ini! Dan kita tidak akan kuat!" teriak Abdi, yang kemudian muntah darah banyak sekali dari mulut ularnya.

Halimah mundur, dia sangat ketakutan sekaligus jijik melihat manusia berkepala ular dan berkaki kuda itu muntah darah. Tetapi entah kenapa Halimah juga merasa lega dan berharap keluarga Pak Slamet akan segera mati. Halimah berjanji akan terus mengaji dan salat di dalam kamarnya.

Tiba-tiba Halimah merasakan embusan angis dingin di tengkuknya. Halimah merinding dan bergidik. Dia menoleh ke belakang, tetapi di belakangnya tidak ada siapa-siapa. Halimah tambah bergidik dan kemudian segera berlari ke kamarnya.

****

Jarak antara ruang makan dengan kamar Halimah hanya sepelemparan batu saja, tetapi anehnya Halimah merasakan perjalanannya kali ini sangat panjang. Halimah tidak sampai-sampai di kamarnya. Halimah merasa dia tidak bisa melangkahkan kakinya dengan leluasa, seperti ada beban yang menahan gerakan kakinya.

Halimah melihat ke bawah, ke arah kakinya dan melihat beberapa tangan penuh darah yang memegangi kakinya. Halimah berteriak tertahan. Tangan-tangan itu tidak tampak nyata, hampir seperti transparan, tetapi efek yang dirasakan Halimah nyata. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia menangis terisak ketakutan, karena sekarang kakinya sama sekali tidak bisa digunakan untuk melangkah sama sekali.

"Kembali ke ruang makan! Selesaikan tugasmu!" Terdengar bisikan di belakang tengkuk Halimah. Halimah menjengit, dia menggelengkan kepalanya.

"Tidak mau! Bukankah mereka muntah ketika melihatku?" jawab Halimah dengan berani, dia tidak memedulikan sosok yang tidak dilihatnya, tetapi bisa didengar suaranya itu.

"Kurang ajar!" Pipi Halimah terasa begitu pedas ketika entah apa menampar pipinya, berulang kali. Halimah rebah ke lantai. Dia merasakan ada gelitikan-gelitikan aneh di punggungnya dan menyadari bahwa dia menjatuhi tangan-tangan kecil penuh darah yang mencengkeram tangannya tadi.

Halimah segera bangun dengan penuh ketakutan dan melihat tangan-tangan ... oh, tidak, bukan tangan, tetapi tepatnya telapak tangan - telapak tangan kecil bergerak dengan cepat, merangkak bersembunyi ke tempat yang gelap, seakan telapak tangan kecil itu ketakutan setelah tertimpa tubuh Halimah.

Halimah menciut ketakutan melihat telapak tangan - telapak tangan yang bergerak kian ke mari. Halimah semakin risau dan khawatir. Dia ingin segera pergi dari rumah menyeramkan itu.

Belum habis rasa takut dan terkejut Halimah, tiba-tiba saja Halimah merasakan tangannya ditarik oleh mahluk tak kasat mata yang menyeretnya kembali ke arah ruang makan.

"Selesaikan tugasmu, maka kamu kuperbolehkan pergi dari rumah ini!" desis sosok itu.

Halimah berteriak kesakitan dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mahluk yang entah seperti apa wujudnya itu. Tetapi sayang Halimah tidak bisa melawan kekuatan mahluk itu, dan dia menyerah pasrah dibawa kembali ke ruang makan.

Ketika memasuki ruang makan Halimah langsung muntah. Bau anyir dan pemandangan yang sangat menjijikkan menyambutnya. Halimah melihat darah yang begitu banyak, yang membuat lantai di ruang makan itu banjir darah.

"Tugasmu sangat mudah. Berikan obat yang ada di meja pada mereka semua, dan setelah itu aku akan mengantarkanmu keluar dari rumah ini," kata sosok tak kasat mata itu.

Halimah menelan ludah. Dia melihat lautan darah di depannya, dengan bau dan warna darah yang luar biasa menjijikkannya. Tetapi ketika Halimah mendengar janji bahwa dia akan keluar dari rumah itu, Halimah pun membulatkan tekadnya, dia pun berjalan perlahan melewati darah yang berwarna merah dan ... oh, bau anyir ini! Halimah sangat akrab dengan bau anyir ini! Bau ini adalah bau yang selalu menyiksanya setiap hari di kamarnya. Halimah terdiam. Dia membeku di tengah jalan dan muncullah tekad baru di dalam hatinya, tekad untuk segera melepaskan diri dari bau anyir ini dan pergi dari rumah ini, kemudian Halimah segera mengambil empat butir kapsul berwarna hitam itu dengan cepat.

Halimah segera menghampiri Pak Slamet dan menjejalkan kapsul warna hitam itu pada mulut ular Pak Slamet. Halimah bergidik ketika melihat lidah menjulur-julur dari mulut ular itu setelah obat itu masuk ke dalam mulut ular Pak Slamet. Halimah segera beranjak ke tubuh Bu Slamet, Abdi dan sang anak perempuan mereka yang tergolek tak berdaya.

Ketika Halimah selesai menjejalkan kapsul itu ke mulut sang anak perempuan yang bernama Siti Hayati, tiba-tiba saja mata Siti Hayati terbuka lebar, membuat Halimah terpekik tertahan dan kemudian melonjak ketika mendengar suara tawa di belakangnya. Halimah menoleh dan melihat Pak Slamet, Bu Slamet dan Abdi sudah berdiri tegak di belakang Halimah. Mereka bertiga sudah berwujud manusia lagi.

"Kalau kamu ingin selamat, cepat lari lewat pintu itu, sebelum tubuh Siti Hayati bangun!" seru Abdi.

Halimah membeliak tak percaya. Dia melihat ke arah Siti Hayati yang mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Halimah mulai ragu.

"Kalau kamu tidak mau pergi, ya, kamu akan di sini selamanya bersama kami ...." Bu Slamet terkikik panjang, membuat Siti Hayati menggeliatkan tubuhnya.

Halimah tersengal, dia berada di antara rasa takut dan rasa tidak percaya. Tetapi akhirnya dia memilih untuk percaya. Halimah mulai berlari ke arah pintu yang secara ajaib muncul di depannya. Halimah berlari melewati lautan darah yang terciprat ke mana-mana ketika dia berlari.

Ketika Halimah keluar dari pintu itu, Halimah mendengar teriakan frustasi Siti Hayati dan tawa histeris Abdi.

Kenapa Abdi tertawa? Apa dia menertawakan Siti Hayati yang tidak berhasil menangkapnya?

"Bukan! Bukan karena Siti Hayati tidak berhasil mendapatkanmu! Tetapi karena aku, Limah!"

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED